Untuk Sebuah Nama (2)

Meeting kali ini memang begitu ringkas. Sales manager tidak bertele-tele dalam menjelaskan masalah. Ia orang lapangan yang kenyang pengalaman puluhan tahun, dan merasa apabila kinerja tim tidak segera diperbaiki tentu akan mengganggu performa kerjanya di perusahaan itu.

Selepas meeting, si perempuan berjilbab ungu itu kembali lagi ke area kerjanya, melaksanakan perintah sang atasan yang sekali lagi gagal ia jalankan. Ia seperti membentur tembok keras yang sulit untuk ditembus. “Bagian pembelian itu benar-benar keras kepala dan tidak mau mendengarkan” keluhnya.

Sekarang ia melihat jam, masih tersisa beberapa menit lagi sebelum jam praktek dokter tutup. Beberapa rekan seprofesi terlihat masih mengantri di depan ruang praktek dokter spesialis Jantung. Kini, setelah menunggu beberapa menit giliran ia memasuki ruang praktek yang sudah tidak asing lagi bagi dirinya.

“selamat sore dokter Burhan..” ia memasuki ruang praktek itu tergesa-gesa seakan memasuki sebuah toko yang hendak tutup.

“iya dok, masih dengan preparat untuk penanganan diabetes pada pasien-pasien hipertensi yang dokter tangani. Bukankah diabetes dan hipertensi itu saling berhubungan, maka dengan penurunan A1C sebesar 1% mampu menurunkan resiko kejadian kardiovaskular hingga sepuluh persen” si rep sudah tidak berpikir lagi untuk berkomunikasi dengan si dokter. Ia hanya ingin agar hari itu ia bisa pulang dengan cepat.

Rupanya si dokter itu bisa mengerti apa yang ada dipikiran gadis tersebut. Ia membiarkannya mengoceh tentang produk yang ia bawakan, kelebihannya dan sejumlah keunggulan dibanding kompetitor. Ia tahu itu, saat tangan si gadis dengan sigap mencari kartu tanda kunjungan, menyerahkan lembar kertas tersebut sambil berharap si dokter mau membubuhkan tanda tangannya. Benar-benar pekerjaan yang aneh pikir si dokter. Hanya mengumpulkan tanda tangan saja dan mereka bisa hidup dengan pendapatan di atas UMR. Meski ia sendiri paham bahwa yang sebenarnya diperebutkan oleh ratusan duta farmasi itu hanyalah bagian kecil dari hirarki sistem pengobatan yang ada dalam pikirannya.

Ketika sang dokter berpikir tentang sebuah kasus hipertensi, maka skema penanganan yang berdasarkan konsesus internasional tiba-tiba terbayang dalam otaknya. Bagaikan papan billboard yang berisikan rumusan besar, diagram dalam otaknya tiba-tiba menampilkan slide baru ketika ia mulai mendiagnosis penyakit pasien. Beberapa alur, berbagai macam kombinasi yang muncul, hingga nama-nama generik dari obat-obatan yang bisa ia gunakan, perlahan-lahan muncul ke permukaan dan mulai menampilkan daftar nama-nama khas yang silih berganti menempati posisi teratas di kepalanya.

Para rep itu seperti SEO yang berusaha meraih tempat teratas dalam page rank di mesin pencari Google. Cara mereka unik, ada yang berpakaian dan berpenampilan ganjil agar wajahnya selalu diingat, ada pula yang mengandalkan sistem marketing ortodoks: konsep, relationship dan sponsor. Dan pada saat itu, entah kenapa bukan merek obat-obatan yang perempuan tadi sampaikan yang melekat dalam otaknya. Tapi beberapa lembar kertas yang sampai padanya beberapa hari yang lalu.

“hmm.. saya rasa saya punya sesuatu buat kamu” kata dr. Burhan seusai membubuhkan tanda tangannya ke lembar kartu kunjungan si rep.

“apa ya dok... apa itu untuk saya..” tutur perempuan berjilbab ungun tersebut penasaran.

Dokter Burhan kemudian mengambil sebuah amplop folio cokelat dari dalam laci meja kerjanya dan menyerahkan benda tersebut kepada perempuan yang duduk dihadapanya.

“apa isi amplop ini?” rasa penasaran si perempuan masih juga belum terpuaskan.
“silahkan buka saja sendiri. Kemarin ada orang yang menitipkan ini kepada saya. Katanya buat kamu”

Gadis berjilbab ungu itu kemudian menarik keluar setumpuk kertas ukuran kuarto yang telah dibundel rapih oleh sebuah penjepit di sudut kiri atas.

=============================


UNTUK SEBUAH NAMA


==============================

sekilas seperti kumpulan naskah sebuah novel yang belum selesai. Tidak ada nama pada kertas-kertas tersebut yang menunjukkan sang penulis.

“ini dari siapa dok?” si perempuan masih juga penasaran.

“anggap saja dari seseorang yang menaruh hati padamu” kata sang dokter tersenyum santun.

Si perempuan kemudian membuka halaman pertama naskah tersebut. Membaca beberapa baris paragraf pertamanya dan terdiam. Pikirannya tiba-tiba teringat kejadian aneh yang ia alami beberapa hari yang lalu. Sebuah kejadian dimana ia menerima sms tanpa diketahui siapa yang mengirimkannya.

“dok, coba katakan amplop ini dari siapa?”

“maaf dik, saya tidak bisa mengatakannya kepadamu” jawab si dokter ringkas.

Dengan mimik tidak puas ia melanjutkan membaca halaman berikutnya.

*
“teetetet, teetetet, teetetet!” bunyi handphone memecah keindahan mimpi.


“ah, sms dari siapa tengah malam begini?”


“Sahur... sahur... bangun!”


Dia melihat tidak percaya, memandang baris-baris pesan di layar handphonenya sebentar dan sedetik kemudian ke jam dinding kecil yang terus berdetik. Tik..tik..tik..
*

matanya kini mulai mengikuti kisah tentang si gadis yang begitu penasaran dengan orang yang mengirimkan sms kepadanya, kemudian kisah itu berlanjut kepada kilasan seorang lelaki yang sepertinya begitu merindukan sang perempuan. Tapi dia tetap tidak tahu, siapa gerangan lelaki tersebut, yang digambarkan sangat putus asa dan memendam rindu. Ia berpikir keras, mencoba membandingkan perempuan yang terdapat dalam lembaran-lembaran  kertas tadi dengan dirinya. Kisah sms tanpa nama, jilbab panjang berwarna ungu seperti yang tengah ia kenakan, dan profesi yang kini juga sedang ia jalani.  Tapi alur cerita kemudian mengisahkan perjalanan si lelaki tanpa nama tadi, dan dokter Burhan.

“jadi orang ini kenal dekat dengan dokter?” kening si perempuan berkerut dalam meminta jawaban.

“bisa dibilang begitu.”

“lalu siapa dok, gerangan orang tersebut...”

“kamu pasti mengenalnya, coba baca sekali lagi di rumah dan ingat-ingat kembali.”

tok..tok..tok..

“maaf dok, ada pasien yang mau berobat” ujar seorang suster sambil membuka pintu kamar praktek.

“well, saya sepertinya saya kedatangan pasien.”

“oh, maaf dok, saya akan membacanya nanti di tempat kos saya” gadis berjilbab ungu itu bangun dan mohon pamit kepada dokter

si dokter hanya tersenyum, dan sebelum perempuan tadi beranjak keluar ia membisikkan sebuah kalimat pendek kepadanya.

“dia memujamu dik..”

memujaku

kata itu terngiang-ngiang di telinganya untuk beberapa saat, dan si perempuan berjilbab ungu kini mendapati dirinya berdiri sendiri di teras rumah sakit yang mulai sepi itu.

Hari semakin senja, waktu berbuka sebentar lagi tiba. Ia langkahkan kakinya ke pelataran parkir di pintu masuk sebelah kanan. Otaknya kosong, hanya kisah perempuan yang ada dalam kumpulan kertas di amplop folio warna cokelat yang tengah ia genggam yang ada di dalam pikirannya. Siapakah perempuan berjilbab ungu yang menyerupai dirinya itu, lalu siapakah lelaki yang begitu dalam mencintainya, dan diantara segala pertanyaan-pertanyaan tadi, siapa sebenarnya yang menulis kisah ini dan menitipkannya ke dokter Burhan untuk diberikan padanya?

“ah, aku benar-benar tidak tahu”.

Untuk Sebuah Nama

Hari semakin siang. Sinar matahari kian lama kian tegak menyinari bumi. Udara pagi yang sejuk sedikit demi sedikit mulai terangkat dari perkampungan padat penduduk itu. Beberapa ibu rumah tangga telah selesai menjemur pakaian basah mereka yang tergantung rapih di atas tali-tali kawat yang melintang di halaman rumah. Jalanan kosong, anak-anak telah pergi ke sekolah mereka masing-masing, menyisakan bocah-bocah berpakaian kumal yang sibuk bermain kelereng.

Benda bulat itu bagaikan sihir bagi bocah-bocah ingusan tadi. Mereka menyentil benda tersebut ke arah kumpulan gundu, memecah belah formasinya kemudian mengikuti sebuah aturan sederhana yang telah lama disepakati oleh kakak-kakak mereka, paman, dan kakek bertahun-tahun yang lampau hingga tidak ada satu pun yang mengerti siapakah gerangan yang menciptakan hukum bermain kelereng pertama kali.

Sentil dan kenai kelereng yang kamu incar, maka kamu akan mendapatkan kelereng tadi.

Apa peduli mereka tentang hukum bermain kelereng. Yang mereka tahu, nikmat rasanya berhasil menyentil benda bulat kaca itu hingga tepat mengenai sasaran, sebuah kelereng berwarna susu yang diam empat kaki dihadapanya. Dan kini bocah berkepala plontos itu sudah bersiap menarik jari telunjuknya melontarkan biji kelereng. Dengan gerakan yang sangat cepat benda mungil tadi terpental beberapa kaki melewati kelereng berwarna susu. Terus terpental-pental di atas jalanan berlapis semen kasar sebelum berhenti terinjak roda sepeda motor yang bergerak pelan di gang kecil tersebut.

“tin..... tinn.... tinn.....”

Kerumunan kecil itu bubar memberi jalan kepada vario merah muda untuk lewat. Di atasnya duduk seorang perempuan muda berpakaian kasual dengan celana panjang hitam. Wajah perempuan itu tersembunyi di balik kaca helmet yang hitam, sedangkan seluruh kepalanya tertutup rapat oleh cangkangnya yang berwarna pink dan bermotifkan bunga. Setelah lewat, kawanan bocah-bocah tadi kembali berkerumun melihat hasil permainan yang tertunda oleh si pengendara motor.

Dari kejauhan, lampu rem motor itu terlihat menyala terang bersiap belok ke arah kiri. Tidak ada yang istimewa darinya, selain kain warna ungu yang menyembul keluar dari balik helmetnya. Dan sedetik kemudian motor tersebut sudah hilang dari pandangan mata para bocah yang telah tenggelam dengan permainan kanak-kanak mereka.

***

Di bulan puasa sepertinya ada aturan tak tertulis di perusahaan yang memperbolehkan karyawan mereka untuk berangkat lebih siang ke tempat kerja. Kesempatan ini dimanfaatkan dengan baik oleh gadis berjilbab ungu itu apalagi ritme dan bentuk pekerjaan yang ia lakukan tidak dibatasi oleh waktu. Biasanya, ia memilih pergi ke rumah sakit ketika waktu dhuha hampir habis, melakukan detailing hingga ashar dan balik lagi ke kos pukul empat sore. Sejam dua jam, sudah cukup baginya untuk rebahan di kasur yang empuk untuk kemudian membersihkan diri dan kembali berangkat kerja usai shalat Maghrib.

Namun kali ini, ia tidak pergi ke rumah sakit untuk detailing. Atasannya mengirimkan sms padanya agar meeting tepat jam 10:30 di HO. Kebetulan jalanan Jakarta hari itu cukup lancar, sehingga dia beruntung sudah sampai di kantornya lima belas menit sebelum waktu meeting tiba. Di ruang berpendingin AC itu, sejumlah koleganya juga telah hadir. Mereka saling bersenda gurau dan melepas kangen setelah hampir sebulan penuh tidak kumpul bersama.

“selamat siang semua” sosok tinggi besar menyeruak masuk ke dalam ruangan rapat tersebut.

“siang pak” sontan mereka menjawab.

“baik, sekarang agenda kita hari ini adalah fokus sales untuk bulan September” sosok tinggi besar itu kini berdiri di tengah ruangan menghadap langsung ke jajaran anak buahnya yang duduk tegak berkonsentrasi.

“sebagaimana diketahui bersama, bulan ini kerja efektif kita hanya tersisa dua belas hari. Minggu keempat akan banyak yang mengambil cuti lebaran, jadi kita usahakan pencapaian maksimal pada minggu ketiga minimal, 70%.” matanya menyapu seisi ruangan itu.

“saya harap kawan-kawan semua sudah membuat estimasi untuk bulan ini” katanya pelan sambil menghampiri meja paling kiri.

semua terdiam.

“mungkin ada yang punya usul agar bulan ini kita bisa achieve 100%?” ujarnya sambil mengetuk-ngetuk badan meja dengan tangan kirinya.

Tok....tok....tok.....

sunyi.

“Ehem...” seseorang memecah keheningan.
“kalau area saya pak, sepertinya akan melakukan stok di awal bulan. Alhamdulillah, kemarin sudah bertemu bagian pembelian dan mereka bilang oke, mau memesan Glibenclamid satu karton.” dengan bangga ia sampaikan laporan singkat itu.

“bagus, bagaimana yang lain?” kini matanya menyapu barisan bangku sebelah kanan, dan berhenti tepat di mata seorang yang bertubuh pendek gempal. Mata mereka bertemu. Si rep yang gelagapan dengan pandangan mata tadi langsung menjawab terbata-bata.

“Eh, anu pak. Di area Menteng, sejumlah outlet juga telah melakukan order awal bulan ini.” mencari pijakan yang tenang, “cuma, memang volumenya masih kecil pak. Setelah saya tanya ke outle-outlet paretto mereka bilang akan memesan pada akhir bulan saja, takut barang bakal menumpuk kalau pesan sekarang kata mereka” was was.

“Berapa outlet yang bicara seperti itu?” menyelidik.

“Tiga pak, tapi itu outlet besar semua” mencoba berargumentasi.

“Begini, Ben” ia mencoba menenangkan suasana, “coba bilang lagi ke bagian pembelian atau pemilik outlet tadi. Cih, koh, sebentar lagi kan lebaran. Banyak orang yang akan mudik. Kebetulan, obat kami bukan obat musiman. Ia harus terus diminum oleh pasien agar gula darahnya tidak naik. Karena akan banyak outlet yang tutup pada lebaran nanti, pasti akan terjadi lonjakan permintaan sebelum lebaran. Jadi, akan lebih baik kalau pesan sekarang agar tidak terjadi gangguan stok.”

“Bagaimana, paham?” menunggu respon.

“Iya pak, akan saya coba” jawabnya mencari aman. Ia sudah tahu bahwa tidak ada gunanya berdebat dengan sales managernya itu. Seorang yang memiliki perwakan tinggi besar dan kaya akan segudang pengalaman lapangan di industri farmasi.

“kalau kamu bagaimana?” dengan gerakan yang tanpa dapat diduga.
“Apa permasalahan dengan bagian pembelian di rumah sakit sudah teratasi?” si bos kini mengalihkan pandangannya ke arah gadis berjilbab ungu yang duduk di pojok ruangan.

Perempuan tersebut sedikit terkejut, sebentar kemudian ia sudah menguasai dirinya kembali “maaf pak, sampai sekarang bu Afifah masih belum mau ditemui. Saya sudah coba bawakan makanan ringan ke kantornya, tapi dia masih tetap menolak”.

Bukan jawaban yang diinginkan. Tapi si bos tahu bahwa yang dihadapi anak buahnya yang masih baru itu, juga bukan persoalan sepele.

“sepertinya persoalan di area kamu itu pelik” mencoba mendapatkan simpati
“tapi, bukannya dahulu kamu pernah berhasil membawa SP dari rumah sakit itu?” ia menggali ingatan lamanya beberapa bulan yang lalu, ketika sang gadis yang dalam tahap akhir probationnya itu, berlari kearahnya dengan senyum kemenangan. Dalam benaknya, ia bisa merasakan luapan kegembiraan dalam diri perempuan berjilbab ungu itu, sesuatu yang membuatnya membubuhkan tanda tangan persetujuan menjadi karyawan tetap perusahaan.

“ehmm...”
“Oh.. iya” si gadis berusaha mengingat kembali saat-saat itu
“waktu itu si mas …” astaga kenapa aku hampir lupa nama orang itu, pikirnya. “dia yang beri saya SP pak.” bayangan tentang pertemuan itu kembali meresap ke dalam otaknya.

“Hubungan mas itu sama bagian pembelian memang baik kok pak.” ia kini mulai teringat wajah orang tersebut.

“Tapi itu dulu pak, sebelum kita ada masalah dengan mereka. Lagi juga si mase sudah lama keluar, jadi saya tidak tahu lagi harus berhubungan dengan siapa.” Dia bertanya-tanya kenapa gerangan  pria yang pernah menolongnya itu keluar dari perusahaan.

Tapi dia tetap tidak menemukan jawaban.

“maaf pak” seseorang yang tampaknya atasan si gadis berusaha meluruskan pembicaraan.
“kemarin saya sudah joint visit dengan rep saya untuk menemui bu Afifah, tapi tidak berhasil. Meskipun demikian, kami sudah melakukan appoitment dengan beliau untuk tanggal 28 bulan ini. Pada pertemuan nanti, kami berharap masalah dengan bagian pembelian bisa teratasi.”

“lain kali, kamu harus lebih tanggap terhadap masalah seperti ini Wid”, sang sales manager memberikan penekanan yang dalam kapada nama area manager itu.

“Saya mendapat masukan dari beberapa dokter senior di sana, bahwa obat kita ditukar dengan obat generik oleh apotik. Kasihan kan mereka sudah merasa meresepkan obat tapi malah ditukar oleh preparat yang lain. Kalau ditunda terus menerus pasti bakal mengganggu hubungan kita dengan para customer” wajahnya semakin serius.

“oke bagaimana yang lain?”

Fitrah, Ibrahim dan Id

Kata fitrah terambil dari akar kata f th r, yang berarti membuka dan menciptakan. Dari kata f th r ini muncul kata futhur, yang berarti retak, cela, atau makan pagi. Dalam Q.S. 67:3 disebutkan bahwa ciptaan Allah berupa langit dan bumi ini begitu sempurna sehingga kita tidak bisa menemukan adanya futhur atau cela di dalamnya. Futhur juga berarti makan pagi, karena pada saat itulah manusia berbuka setelah tidak makan selama tidurnya. Selain futhur, pengertian negatif lain yang bisa kita temukan dari akar kata f th r adalah kata kerja lampau infathara di Q.S. 82:1 yang berarti terbelah dan kata kerja kini yatafththarna pada Q.S. 19:90 yang berarti pecah. Satu-satunya bentukan kata f th r yang berupa kata benda adalah munfathirun di Q.S. 73:18 yang menggambarkan kejadian pada hari kiamat di mana langit pecah berkeping-keping.

Bentuk umum dari kata f th r yang ditemukan dalam al-Quran adalah kata fathara, yang memiliki makna positif menciptakan atau memulai suatu yang baru. Terdapat delapan ayat yang berisi kata tersebut yang secara umum menggambarkan Allah sebagai pencipta alam semesta dan manusia. Yang menarik, dari kata fathara inilah lahir kata fithrata Q.S. 30:30 yang sering kita artikan sebagai fitrah, nature, alamiah. Kita kemudian memaknai fitrah sebagai kecenderungan alamiah manusia yang belum terkontaminasi oleh peradaban. Hadis yang terkenal berkenaan dengan hal tersebut adalah: setiap bayi terlahir menurut fitrah, maka ayah-ayah merekalah yang kemudian menjadikan bayi-bayi tersebut sebagai sebagai Yahudi dan Nasrani. Dengan demikian fitrah dipertentangkan dengan status keberagamaan seseorang yang dari sudut pandang ini sudah jauh melenceng dari kondisi alamiahnya.

Diskusi menarik mengenai fitrah muncul dalam karya fiksi filosofis Ibn Thufayl yang berjudul hayy ibn yaqzhan yang secara harfiah bararti “hidup” anak “kesadaran”. Alkisah, seorang anak yang terbuang dari peradaban hidup dan besar di sebuah pulau terpencil yang tidak berpenghuni. Si anak ini, meskipun tidak mengenal ajaran agama-agama besar dunia, tetapi melalui deduksi akalnya terhadap alam berikut fenomenanya mampu mengambil kesimpulan yang sama dengan ajaran Islam, bahwa Tuhan itu Satu. Tentu saja karya Ibn Thufayl ini layak diperdebatkan, tapi yang sesungguhnya muncul dari diskusi tentang fitrah adalah berkenaan dengan definisi agama menjadi agama langit dan agama bumi.

Banyak yang menyatakan bahwa agama langit itu adalah rumpun agama semit, Yahudi, Kristen dan Islam. Sedangkan agama bumi adalah Hindu dan Buddha. Pembagian ini berdasarkan sumber ajaran kedua jenis agama tersebut di mana yang satu bersumber dari pewahyuan sedang yang lain dari hasil kontemplasi dan pemikiran manusia semata. Pendapat yang muncul dari definisi ini adalah, apabila yang dimaksud fitrah sebagai keadaan alamiah manusia yang belum tercemar suatu pemikiran apapun, maka seharusnya yang patut disebut sebagai agama fitrah adalah agama-agama bumi tadi bukan agama Islam. Dengan alasan bahwa sumber ajaran agama mereka berasal dari kesadaran diri manusia untuk kembali kepada kemurnian diri mereka yang sesungguhnya, sebuah fitrah.

Apabila ditarik lebih jauh kedalam etika, maka konsep fitrah yang diketengahkan oleh para pendukung pemikiran ini, termasuk kedalam domain filsafat naturalisme. Dalam naturalisme, manusia secara lahiriah dan alami mampu mengetahui baik atau buruk tanpa memerlukan pertimbangan apapun selain dirinya sendiri. Penganut naturalisme percaya akan adanya fitrah bawaan dalam diri manusia, human nature, yang menuntun mereka kepada baik dan buruk. Kelak pemikiran ini disangkal oleh filsuf Existensialis Jean-Paul Sartre yang menyatakan bahwa mempercayai adanya fitrah merupakan penyangkalan terhadap tanggung jawab manusia atas pilihan pribadi mereka. Bagi filsuf ini, tidak ada benar dan salah secara objektif, yang ada hanyalah pilihan-pilihan untuk menentukan nilai tersebut. Manusia adalah bebas dan mereka bertanggung jawab terhadap pilihan mereka sendiri.

Sekarang muncul pertanyaan, apakah yang dimaksud fitrah itu sama seperti yang dijabarkan oleh para penganut paham naturalisme ataukah tidak? Apabila kita kembali kepada al-Quran maka dengan jelas kita bisa temukan jawaban paling gamblang mengenai arti kata fitrah.

“maka hadapkanlah wajahmu kepada agama dengan lurus (hanifa), itulah fitrah yang telah Allah ciptakan bagi manusia. Tidak ada perubahan dari ciptaan Allah, itulah agama yang tegak, (qayyim) , akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya” Q.S. (al-Ruum: 30)

Pada ayat di atas, kita kembali menemukan kosa kata baru, hanif. Berasal dari akar kata h n f , hanif sering diartikan sebagai lurus, atau cenderung kepada jalan yang lurus, istaqama. Kata ini ditemukan dalam 12 ayat al-Quran yang secara umum memiliki dua makna: tidak menyekutukan Allah atau syirik dan millata Ibrahim, jalan atau ajaran nabi Ibrahim. Apa sebenarnya ajaran yang dibawa oleh nabi Ibrahim sehingga ketika Allah berbicara tentang fitrah Ia secara eksplisit menunjuknya sebagai contoh orang yang kembali kepada fitrah manusia? Sungguh sangat luas untuk menggambarkan seperti apa sebenarnya perilaku nabi Ibrahim semasa beliau hidup. Di sini saya mencoba meringkas beberapa poin penting dalam perjalanan hidup khalilullah tersebut.

  1. Sebagaimana hayy ibn Yaqzhan, Ibrahim berhasil menemukan Tuhannya melalui deduksi alam semesta. Ia terus bertanya seperti apakah gerangan Allah, dan ia memulainya dari bulan yang lalu ia dialektikakan dengan bintang dan matahari, hingga berakhir pada kesimpulan bahwa Tuhan tidak seperti itu. Tuhan adalah Satu yang menciptakan segalanya. Q.S. (77:74-79)
  2. Setelah menemukan kebenaran beliau kemudian menyeru kepada kaumnya bahwa apa yang mereka percayai tak lain dari pada kebohongan. Ia bahkan harus berargumentasi dengan bapaknya untuk meyakinkan keesaan Allah dan untuk itu rela mempertaruhkan nyawanya sendiri.
  3. Pergulatan keimanan Ibrahim tidak berhenti pada misi kenabiannya saja, ia bahkan harus berhadapan dengan realitas kehidupan keluarga yang sangat rentan. Meski sudah berusia lanjut ia tidak juga dikaruniai anak, dan ketika anak pertamanya lahir, ia masih harus membuktikan kesetiaannya kepada Allah dengan mengorbankan Ismail.
  4. Bersama dengan putranya Ismail, nabi Ibrahim membangun fondasi Ka'bah sebagai  monumen keimanan dan ketakwaanya kepada Allah. Dan di ujung hidupnya ia berwasiat kepada keturunannya agar mengikuti agama yang dipilih oleh Allah, yakni islam, berserah diri hanya kepadaNya.

Bila kita abstraksikan, keempat poin tadi menunjukkan secara ringkas empat titik keimanan: intelektual atau individu, sosial, keluarga dan karya cipta. Dengan kata lain, seorang muslim yang fitri haruslah bisa menunjukkan keimanan dan kesetiannya kepada Allah di keempat area tersebut. Secara intelektual ia harus yakin dan memahami konsep keimanan, kemudian menerapkan pemikirannya tersebut dalam konteks sosial dan keluarganya serta menjadikan diri dan keluarga mereka suri tauladan orang-orang beriman lagi berpasrah diri bagi umat manusia.

Lebih lanjut, sikap keberagamaan yang hanif dan fitri ini tertera dengan jelas dalam doa dan harapan nabi Ibrahim dalam Q.S. (14:35-41). sebuah surat dalam al-Quran yang didedikasikan untuk bapak kaum beriman itu. Maka, tidaklah mengherankan apabila kita menemukan perumpamaan terindah dari keimanan juga berada dalam surat tersebut:

“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan kalimat thayyibah seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit | pohon itu menghasilkan buahnya setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu agar mereka selalu ingat | adapun perumpamaan kalimat khabitsat seperti akar pohon yang buruk, yang akarnya tercerabut dari bumi dan tidak dapat berdiri tegak | Allah meneguhkan orang-orang beriman dengan ucapan yang teguh di dunia dan akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang zalim dan Allah berbuat apa yang Ia kehendaki” Q.S. (Ibrahim : 24-27)

Mayoritas ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kalimat thayyibah dalam ayat di atas adalah kalimat tauhid, la Ilaha illa Allah, tiada Tuhan selain Allah. Adapun kalimat khabitsat tak lain daripada syirik, menduakan Allah.

Selain kata fithrah dan hanif, masih ada satu kata lagi yang mengkaitkan kita dengan Hari Raya Idul Fitri, yakni id. Berasal dari kata a' d , id bermakna kembali. Dalam konteks ini, idul fithri berarti kembali kepada makna Qurani dari fithrah, yaitu hanif dan mengikuti jalan Ibrahim, atau kembali kepada makna positif dari fithrah, awal penciptaan. Karenanya Nabi memerintahkan kita untuk saling memaafkan di hari kemenangan ini dan mengatakan bahwa pada hari idul fitri umat Islam menjadi suci kembali seperti saat pertama mereka dilahirkan ke muka bumi ini. Suci, bersih tanpa noda.

Taqabalallahu minna wa minkum, minal a'idin wal faizin, fi kulli a'm wa antum bikhayrin.

Surat dari Langit (6)

Laki-laki itu terbangun sebentar, hari mulai gelap. Dari iklan-iklan jalanan yang ia lihat, kira-kira bus tersebut sudah mulai memasuki daerah Cirebon. Itu berarti masih sekitar lima jam sebelum sampai ke kota tujuan. Rasa kantuk kembali melanda, membuat kelopak matanya begitu berat untuk ia angkat. Ia pun kembali masuk ke alam bawah sadarnya.

Sekarang dirinya berjalan sendiri menyusuri lorong-lorong terang yang sangat ia kenali. Ruangan bersekat rendah, gemuruh AC yang rusak, mesin fax, sahutan-sahutan para sekretaris yang menerima telepon, kilatan sinar dari mesin fotocopy dan detak jarum jam. Semuanya ia lihat dalam gerak lambat, seakan dunia memelar dan seluruh panca inderanya menjadi sangat sensitif.

“oke, apa yang bisa saya bantu?” suara itu terdengar begitu dekat. Dan kini semua bayang-bayang itu kembali ke wujudnya semula.

“well?” pria dihadapanya kembali bertanya kepadanya untuk kedua kalinya.

Ah, ia tersadar. Ia kini duduk di ruangan sales manager divisi tempat ia bekerja. Orang yang bertanya itu, sama seperti yang ia lihat di Grand Livina sebelumnya. Orang yang ia kenal selama tiga tahun belakangan ini sebagai atasan dari atasannya.

“bagaimana bisa saya membantu anda, bila anda sendiri tidak tahu apa yang akan anda bicarakan kepada saya” lelaki berbaju putih di hadapanya tersenyum lebar. Umurnya sekitar pertengahan empat puluhan, menduduki posisi strategis sebagai manager menengah di perusahaan tersebut. Ia dikenal sebagai pribadi yang tegas terhadap bawahannya, tapi cara bicaranya yang ramah namun penuh perhitungan, membuat mereka respek terhadapnya.

“Jadi?” pria itu kini tertawa.

Si lelaki yang duduk dihadapanya menjadi kikuk. Ia tidak dapat berbicara. Ia tahu dirinya dipanggil bukan tanpa alasan. Hari itu genap sebulan peluncuran perdana produk obatan baru. Kondisi perusahaan cukup kritis, jika produk ini gagal di pasaran, bisa dipastikan ikut mempengaruhi kinerja perusahaan secara keseluruhan. Divisi tempatnya bekerja diberi kepercayaan untuk memasarkan produk tersebut. Dan dalam sebulan pertama ini, setiap karyawan diberikan target tertentu agar proses pemasaran itu berhasil. Sayangnya, harus diakui ia gagal mengawal peluncuran obat baru tersebut di area kerjanya yang selama ini dikenal cukup bagus dalam pemasaran obat-obatan utama.

“aku tahu ini tidak akan berhasil” katanya dalam hati. Ini produk gagal, sudah banyak perusahaan yang bermain di ceruk tersebut. “ini bukan soal bagi-bagi kue yang meskipun kecil tapi memiliki potensi milyaran rupiah. Ini soal blue ocean strategy. Perusahaan telah salah langkah masuk kedalam ceruk yang banyak sekali predatornya” mencoba berteori.

Tapi apalah dia. Ia hanya bawahan di perusahaan tersebut. Dan bukanlah tugas bawahan untuk menilai apakah sebuah produk layak dipasarkan atau tidak. Tugas mereka hanyalah menjalankan planning semaksimal mungkin. Itu saja.

Dan kini ia berada langsung di hadapan bosnya mencoba menjelaskan kenapa planning yang ia buat gagal total. “aku benar-benar berada di ujung tanduk”. Dalam keadaan terjepit itu ia mulai merasakan godaan yang dahulu sempat memasuki pikirannya. Godaan untuk keluar meninggalkan perusahaan tersebut. Godaan untuk benar-benar menyukai gadis berjilbab ungu yang ia kenal. “kalau aku keluar, mungkin akan jauh leluasa berhubungan dengannya. Tidak ada beban pekerjaan yang timbul antara kami berdua, tidak ada hambatan etika lagi yang menghalangi. Aku akan jauh lebih bebas” ujarnya mencoba mencari pembenaran.

“tidak, aku tidak akan menggunakan dirinya sebagai alasan. Seharusnya aku jauh lebih jantan. Ya, aku akan keluar dari perusahaan ini” ia bertekad.

“jadi?” sales manager itu memandang tepat ke arahnya.

“saya mau resign pak” singkat.

Suasana hening. Tidak ada yang bicara di antara mereka, keduanya saling tatap. Tiga tahun. Mereka saling kenal satu sama lain. Bagi sang atasan, anak buah yang kini duduk dihadapanya adalah aset perusahaan yang sangat berharga. Ia mengenali pemuda tersebut sejak pertama ia melamar pekerjaan. “Ada yang berbeda dari dirinya” berusaha mengenang penilaian pertamanya itu. “dia mungkin bukan seseorang yang mampu mencetak rekor sales yang tinggi meski ia punya potensi ke arah sana. Tapi dia itu orang yang sangat jujur. Itu yang aku suka darinya. Kejujuran, betapa susah kita menemukannya saat ini. Itu mengapa aku memilihnya masuk ke bergabung ke dalam divisi ini” ulangnya dalam hati.

“apa sudah kamu pertimbangkan masak-masak” memecah kebekuan.

“sudah pak” mantap.

Sebenarnya, bukan sekali ini si rep meminta keluar dari perusahaan itu. Sebelumnya, sudah dua kali ia mengajukan surat pengunduran dirinya. Kedua surat itu juga telah sampai kepada sales manager tapi dua kali itu pula ia tolak. Ia ingat itu. Makanya ia sampaikan di depan si rep alasannya menolak surat tadi.

“kamu memiliki bakat.” membujuk.

“tapi yang membuat saya respek adalah kejujuran kamu. Sikapmu kemarin yang memulangkan uang transfer yang salah itu, benar-benar membuat saya kagum. Dan suratmu yang mengatakan bahwa itu 'bukan hak saya', baru sekali ini saya temukan selama saya bekerja di perusahaan ini.”

“hanya, kalau kamu memang berkeras demikian, tidak mungkin lagi saya menghalang-halangi niat kamu itu. Cuma, kalau ada sesuatu yang patut saya sampaikan padamu. Tolong jangan setengah-setengah mengerjakan sesuatu. Kalau memang sudah tepat apa yang kau cari, camkanlah untuk bekerja sepenuh hati.”

sepenuh hati.

Kata-kata tersebut terngiang keras di telinganya. Merasuk kedalam pembuluh jantungnya mempengaruhi kesadarannya yang terdalam. Perlahan-lahan, gambaran singkat itu mulai pudar, tapi perasaan dan gagasan yang menaunginya masih bisa ia rasakan. Ia bahkan masih merasakan genggaman erat atasannya tadi sewaktu mereka berpisah untuk terakhir kalinya. “Hubungi saya kalau sudah sukses” bisik sang atasan, dan mimpi itu pun hilang.

***
23:30

Ia kini telah tiba kembali ke kotanya. Udara malam menyekat dingin lehernya yang kaku, hanya temaram cahaya yang menemaninya kala itu. Samar terdengar orang mengaji, lirih. Ramadhan telah membukakan hati dan pikirannya. Tatkala kesempatan terakhir untuk berhubungan dengan perempuan berjilbab ungu itu kandas, tiba-tiba muncul sebuah ide baru yang belum pernah ada di pikirannya selama ini.

“Bos, aku akan bekerja sepenuh hati” katanya berazam.

“aku akan mengirimkan ceritaku, kisahku, ideku, novelku kepadanya.” menatap jauh ke atas langit yang kabur oleh kilau cahaya.

akan aku ceritakan kisah ini padanya.

Surat dari Langit (5)

Sebuah Nissan Grand Livina perak baru saja memasuki gerbang tol Pasar Rebo. Tiga orang penumpangnya tampak sibuk bercakap.

“jadi, akan kemana kita siang hari ini?” tanya seorang yang duduk di bangku depan sebelah kiri yang sepertinya seorang senior.

“Eh, kita akan ke Rumah Sakit Pusat Nasional pak” jawab satunya yang tengah menyetir.

“dan, di sana kita akan menemui?” ia bertanya kepada seorang yang duduk di bangku belakang, bawahannya, si pekerja lapangan, rep .

“dr. Burhan pak.” pria tanpa nama itu menjawab cepat.

“dr. Burhan Kardiolog ya?” matanya memperhatikan laju kendaraan di depannya
“iya, benar” jawab si rep mengkonfirmasi.

“bagaimana penulisannya selama ini?” masih tetap memandang ke depan.

“setelah saya kelola selama tiga tahun, makin lama makin bagus pak. Bulan kemarin beliau bisa menulis hampir setengah peresepan di rumah sakit tersebut” sigap si bawahan

“dia menggunakan apa untuk PJK ?” menilai

“Awalnya standar, ACE , tapi untuk pasien beliau yang komplikasi berat, biasanya langsung dikombinasi dengan obat kita pak” mengemukakan pendapat.

“apa bagian penjualan bermasalah?” selidik

“Eh, sejauh ini lancar-lancar saja” kata si pengemudi mobil yang merupakan atasan langsung dari si rep.

“kerja rep kita di sana bagus kok pak. Memang demand yang dihasilkan masih kecil, tapi terjadi kenaikan yang signifikan untuk 6 bulan terakhir” meyakinkan.

“kalau tidak salah, dahulu kita pernah mensponsori dr. Burhan ke APCC . Tapi itu sudah lama sekali.” mobil itu berhenti untuk membayar bea tol.

“oh.. kemarin saya sponsor beliau ke ASMIHA pak”  argumen si rep.

“Padahal dahulu, dr. Burhan termasuk tipe dokter yang susah. Beliau tidak mau ditemui rep saat praktek. Saya sendiri harus menunggu lama hingga jam prakteknya usai agar dapat bertemu beliau. Tapi sejak kejadian di tempat prakteknya, ia jadi berubah” mengingat-ingat masa lalu.

“wah, berarti sudah lama sekali kejadiannya ya pak” sambung si pengemudi mobil.

“ehem.. saya kira kamu juga waktu itu belum lahir.” menoleh ke belakang. “Lha wong saat itu dia masih jadi co ass di sana” melanjutkan.

“memang kejadian apa sih pak?” atasan si rep kembali bertanya, sambil berusaha menyalip truk di depannya.

“biasa, hanya masalah asmara. dr. Burhan jatuh cinta kepada suster di tempat ia praktek. Tapi karena berbeda derajat, ayahnya yang waktu itu menjabat direktur rumah sakit marah besar. Si suster langsung ia pecat.” kendaraan itu mulai memasuki Cawang.

“tentu saja dr. Burhan menolak keras keputusan ayahnya dan terjadilah perang mulut di antara mereka. Keduanya saling tarik menarik tangan suster tersebut. Dokter Burhan memegang tangan suster tadi agar tetap tinggal, sementara sang ayah menariknya keluar.” masih terus melaju.

“terus bagaimana pak?” tanya atasan si rep sekali lagi, mencoba mengikuti alur jalan yang sedikit berkelok.

“tentu saja ayah dr. burhan menang, si suster akhirnya diusir keluar dari rumah sakit.”

“kasihan betul” jalanan mulai bumpy ketika mobil berjalan di atas jalan layang tol Wiyoto Wiyono.

“dokter Burhan kemudian meminta saya, untuk memberi pekerjaan kepada mantan kekasihnya itu. Kebetulan sekali, kantor sedang buka lowongan untuk reception desk, dan setelah saya bicarakan dengan pak Ardi, bos saya waktu itu, ia pun diterima masuk” ia memandang ke luar jendela melihat gugusan gedung-gedung pendek di Jakarta.

“maksud bapak, orang itu adalah bu...” mulut si rep ternganga.

“iya, benar.” jawabnya penuh senyum tanpa mengalihkan perhatiannya sekalipun dari gedung-gedung tersebut. “Dia itu mantan kekasih dr. Burhan. Sejak itulah dr. Burhan menjadi pengguna loyal obat-obat kita. Mungkin karena balas jasa.”

“wow” seru atasan si rep seakan tidak percaya.

“Tapi karena rep kita mulai jarang menc-cover-nya perlahan dia beralih lagi ke perusahaan farmasi lain” si atasan memberi tekanan yang dalam pada kata rep.

“kalau dia mau kembali, itu benar-benar surprise. Mudah-mudahan beliau tidak melupakan tindakan kita yang dahulu.” mobil tersebut keluar di pintu tol Rawa Mangun.

“Begitulah kalau kamu memiliki kekasih di tempat kerja. Bakal mengganggu pekerjaan kamu” ia berbicara seakan kepada dirinya sendiri.

“bener nih pak?” goda atasan si rep sambil memutar setir ke arah kiri memasuki jalan arteri.

“lah, itu contohnya” si atasan tersenyum simpul, dan Grand Livina itu mulai berjalan kencang melawan sinar mentari yang mulai condong ke Barat.

Surat dari Langit (4)

Sudah lama bus yang ia tumpangi keluar dari terminal Purwokerto. Jam di tangannya menunjukkan pukul 16:25. benar-benar perjalanan yang melelahkan. Dirinya hampir lupa bahwa kini ia masih belum keluar dari wilayah Jawa Tengah. Perjalanan yang panjang rupanya. Bus pertama yang ia tumpangi memang sering berhenti menaik turunkan penumpang, meskipun begitu lajunya lumayan cepat, hingga ia bisa tiba pukul 13:35 di Purwokerto. Namun, kota yang ia tuju itu hanyalah terminal kecil dengan jadwal keberangkatan bus tujuan Jakarta yang sangat jarang. Ia menyesal telah terbujuk rayuan calo yang mengatakan bus akan segera berangkat. Nyatanya, setelah ia selesai shalat ashar pun, bus belum jadi berangkat.

“huh, sial” pikirnya, sambil memandang hamparan perbukitan tandus di ujung sana.

Dan ia sandarkan kepalanya yang basah oleh keringat di jendela bus. Ia buka telepon genggamnya. Ada sms masuk. Ternyata dari perempuan itu.

“siapa pun kamu, terima kasih banyak telah membangunkan saya untuk sahur” ia tersenyum sebentar.
“tapi siapa sih elo sebenarnya. Kalau tidak memberi tahu, tolong jangan bangunkan saya sahur lagi” ia terkejut, elo? begitu kasar balasan yang didapat.

Ia mencoba menyusun balasan sms tersebut. Seandainya kuungkapkan siapa diriku sebenarnya, dia pasti akan mencoba menghentikan kiriman sms saya dengan halus. Bahkan bila saya tidak memberi tahukannya ia juga akan berbuat demikian. “Kupikir lebih baik membiarkan permainan ini tetap beralangsung”. Dan ia pun mengirimkan balasan.

“ting..” sms terkirim.

***

Kurang dari empat ratus kilometer ke arah Barat, sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponsel Nokia hitam. Si empunya, wanita berjilbab ungu membaca isi pesan itu dengan geram.

“siapa orang gila, yang mengirim jawaban seperti ini?” ia mulai gelisah.

Dia tinggalkan antrian menunggu dokter dan bergegas pergi ke bagian belakang rumah sakit. Ia menuju musholla.

“pasti ada di sana” pikirnya.

“ah, itu dia” diambilnya al-Quran lusuh yang tergeletak di rak buku musholla tersebut.

Dia buka indeks al-Quran tadi, mencari angka 51.

“ketemu! Al-Dzariyyat 49” dia baca sekilas ayat tersebut. Tapi dia tidak mengerti. Ia pun mencari-cari terjemahan al-Quran.

Belum sempat ia mencari, sebuah pesan masuk kembali kedalam ponselnya. Kali ini, kemarahannya semakin memuncak.

“kau pikir aku wanita apaan, tidak bisa memiliki firasat yang bagus. Mungkin kau sajalah yang psycho bersembunyi bagaikan pria misterius di balik kitab suci.” mendadak dirinya jatuh terduduk, ia begitu pusing dan ia tutup mukanya dengan kedua tangannya. Emosinya meledak.

“dik,” seorang ibu tua datang menghampiri dan menwarkannya terjemahan al-Quran.

“mungkin adik butuh ini, biar hati menjadi lebih tenang” ibu itu tersenyum.

“terima kasih bu” kemudian tanpa menoleh kembali, ia buka ayat yang ditunjukkan tadi, al-Dzariyyat 49.

“dan dari segala suatu kami ciptakan berpasang-pasangan agar kalian mengingatnya”

“apa sebenarnya yang ia maksud” ia berpikir dalam tak mampu memahami maksud pesan itu. Apa ia ingin menyindir saya, atau dirinya hendak mengatakan bahwa ia pasangan saya? Menyedihkan sekali.

“tidak, aku tidak akan terbawa permainannya. Aku yang menentukan sendiri kemana ini berlanjut”
dan ia kirimkan balasan sms tersebut.

***
pesan balasan pun masuk.

Kali ini si pria benar-benar terpukul. Pesan balasan dari si perempuan benar-benar telah menamparnya keras-keras. Ia telah mengkandaskan dirinya hingga jatuh di atas matras. Aku benar-benar tidak memiliki harapan lagi. Ia menyebutku pengecut. Menutup kesempatan untuk dapat berkomunikasi dengannya.

Tapi tidak, aku bukan pengecut.

“Aku akan bilang bahwa belum saatnya aku ungkapkan diriku padanya.” ia semakin terobsesi.

Ah, tidak. Tapi bukan itu yang hendak aku ungkapkan. Dan ia mulai menulis balasan di handphonenya.

“you know, I do really trust to women hunch.” entah apa dia akan mengerti. “they almost right, so do not hesitate to believe to your heart” menutup kalimatnya.

“Pesan terkirim”

Dirinya benar-benar pasrah.

Dia pejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya ke jendela bus yang bergoyang pelan. “aku telah salah langkah pikirnya. Bahkan, ketika semuanya belum dimulai pun aku sudah benar-benar kalah. Apa yang harus aku lakukan untuk memulainya lagi?” terbayang di kepalanya perkataan kawan akrabnya dulu, “kalau kau benar-benar menyukainya, kau harus mengejarnya kawan”, mengejarnya, sekarang lihat, apa sebenarnya yang aku kejar. Aku bahkan tidak begitu mengerti.

Bus masih terus menyusuri jalan-jalan sempit dengan malasnya. Pria tanpa nama ini mencoba menyusun kembali ingatan-ingatan masa silamnya. Tentang awal ketertarikan itu, percakapan dengan dokter yang membuatnya bingung dan perkataan kawannya yang provokatif, ia kembali mereka-reka saat dimana mereka pertama kali bertemu, bertatapan mata, dan kemudian duduk terdiam saling membisu satu sama lain.

Aku akan selalu mengingatnya.

Surat dari Langit (3)

Sebulan sudah ia tinggal di rumah kakeknya di sebuah kota kecil di selatan pulau Jawa. Ia memang sengaja diutus oleh ayahnya untuk menjenguk keadaan sang nenek yang terkena stroke. Selepas keluar dari pekerjaannnya sebagai Medical Representative, ia memang lebih banyak mengisi waktu kosongnya untuk mempelajari banyak hal. “untuk menebus waktu yang terbuang percuma” katanya. Kini ia mulai menjalin hubungan dengan keluarga jauh yang sudah lama tidak ia kunjungi. Kembali ke kampung halaman sang ayah, barangkali salah satu cara untuk melaksanakan keinginannya. Di sana ia bisa bertemu pengasuhnya semasa kecil dahulu, ke rumah buliknya yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal sang kakek, atau sekedar berjalan-jalan di tengah sawah yang hijau menguning. Tapi, alasan sebenarnya kenapa ia mengasingkan diri karena ia ingin menghapus bayang-bayang perempuan berjilbab ungu itu dari kepalanya.

Sayang seribu sayang, kealamiahan alam membuat dirinya kembali lagi ke hati nurani yang kecil bersembunyi dalam jiwanya. “aku tidak bisa membohongi diriku lagi” ujarnya. “cepat atau lambat aku pasti menghadapinya” katanya dalam hati.

“aku tidak bisa lari dari kenyataan bahwa aku menaruh hati padanya. Oh, betapa terkutuknya aku bila mengingkari hal tersebut”. Dan nyatanya, di antara ras laki-laki, barangkali ia merupakan salah satu jenis yang paling sensitif. Berkali-kali jatuh cinta dan berkali-kali itu pula ia berusaha berkata tidak. “di antara seluruh pekerjaan di dunia ini, tolong jangan libatkan aku dalam persoalan cinta. Aku bukan jenis yang mahir di dalamnya”.

Barangkali, karena penyangkalan yang dalam itu ia terlihat begitu dingin. Kawan-kawan perempuannya pun mengakui hal itu. Dan di dunia yang sudah aneh ini, penolakan akan sesuatu hal sering membuat orang mencap dengan hal yang berlawanan. “huh, apa gila! Bagaimana mungkin saya menyukai laki-laki! Apa mereka sudah gila?” dia tidak tahan dengan desas-desus itu. “aku pria normal, aku mencintai wanita” katanya dengan emosional di hadapan teman-temannya. Lalu isu itu pun hilang. Tapi rasa yang ia pendam itu tak kunjung juga pergi. Ia masih berusaha menyangkal dan menyangkal hingga dirinya merasa begitu sakit. Mungkin kupikir aku harus keluar dari perusahaan ini dan berpisah dari mereka selama-lamanya.

Dan begitulah, hari itu sudah tiga bulan ia menganggur. Dan ketika ayahnya menyuruhnya pergi ke kampung halaman pada bulan kedua, dengan senang hati ia laksanakan perintah tersebut. “Aku akan ber-Ramadhan di sana. Aku akan mendekatkan diri kepada Tuhan pada bulan itu, aku akan meminta petunjuk dariNya.” maka bangunlah ia shalat tahajjud setiap pukul 2 dini hari. “aku akan meminta padaNya” lalu tanpa ia sadari lidahnya selalu menyebut nama wanita itu dalam setiap doa-doanya. Hingga tibalah masa ketika keinginan dirinya yang terdalam sudah tak dapat dibendung. Maka ia kirimkan sms pertama tersebut.

Hari pertama, tanggapan wanita itu begitu jenaka. Ia balik bertanya dengan konyolnya, sambil terus menulis bahwa ia akan tahu siapa sebenarnya si pengirim sms itu. Sungguh tak terperi bahagia di hati sang pria. Jiwanya begitu lega dan semua yang ada di matanya hanyalah kebahagiaan semata. Untuk merayakannya, selepas subuh ia berlarian tanpa alas kaki menuju pematang sawah dan berteriak keras-keras di sana “aku cinta kamu”. Setelah itu kembali ke rumah mengambil sepeda berkeliling desa hingga tengah hari dan jatuh tertidur hingga sore.

Hari kedua, tanggapan yang muncul tidak begitu menarik. Perempuan yang ia sms sepertinya sudah penasaran oleh si pengirim surat elektronik tanpa nama tersebut. Tapi ia masih memberikan rasa terima kasihnya karena telah dibangunkan oleh si pengirim sms.

“siapapun kamu, terima kasih banyak karena membangunkan saya untuk sahur. Semoga Allah memberikan balasan setimpal untukmu”

Ia baca tulisan itu berulang-ulang seakan sebuah surat berharga yang harus dijaga. Tapi rasa bahagia yang seharusnya hadir perlahan mulai hilang. Ia merasakan sebuah jarak yang tak mungkin ia lompati antara ia dan perempuan itu. “Seperti dinding yang tinggi menjulang yang tak bisa aku lewati. Jiwa kami terpisah.”

maka pada subuh itu ia mengutarakan pikirannya kepada bibinya.

“bulik, aku ingin balik ke rumah.” ujarnya setelah mengepak pakaiannya.

“lho, kok cepat sekali. Katanya mau nemenin bulik di sini jaga mbah” kata bibinya yang sibuk mencuci piring bekas sahur

“eh, ada kerjaan yang harus saya lakukan di rumah” mencari alasan.

“kapan mau berangkat? Apa sudah beli tiket kereta?” menaruh gelas-gelas di atas rak piring

“nanti jam 9 pagi ini” sambil menggigit bibir.

“walah, mana ada kereta jam segitu” ia mencuci tangannya di air keran dan mengeringkannya ke atas serbet.

“hmm... saya akan ngeteng naik bus saja” ucapnya singkat.
“pengin menikmati pemandangan saja” menambahkan.

“yo wis, kalau begitu” dia menatap keponakannya itu lekat-lekat, seakan anaknya sendiri.
“nanti tak siapkan oleh-oleh buat orang rumah” berlalu pergi.

9:12

Ia pamit kepada kakek, nenek dan bibinya. Setelah mengikat tali sepatunya erat-erat ia pun pergi ke jalan utama menuju terminal kecil di kota kecil itu.

Surat dari Langit (2)

Keduanya pun kembali lagi ketempat si pria tadi berdoa. Ia masih di sana, melakukan rakaat terakhir dari tahajjudnya. Keduanya masih menunggu. Dan tatkala ia selesai, keduanya berusaha mendengarkan permohonan pria tadi.

***
02:35

Wajah malam benar-benar gelap, hanya menyisakan sedikit cahaya yang masuk melalui kisi-kisi lubang udara di atas kusen kayu. Cahayanya menimpa tumpukan buku lusuh yang bersandar malas di atas rak kayu yang reyot. Di depannya, duduk beralaskan sajadah tua, seorang pria khusyuk berdoa di tengah malam itu.

Ia bermunajat kepada Tuhan tentang kisah dirinya, tentang harapan-harapannya dan tentang keinginannya yang belum tercapai. Ketika akhirnya sampai kepada cintanya, ia berhenti sebentar. Meresapi kesalahan-kesalahannya yang lalu, tentang kebodohannya yang tidak bisa ia percaya. Dan terpenting, tentang perempuan itu. Perempuan yang selalu hadir dalam doa-doanya selama Ramadhan ini.

“aku masih belum bisa melupakannya. Dan aku akan terus berdoa pada Tuhan tentangnya” dan ia pejamkan matanya, membiarkan hatinya merasakan keseluruhan wujudNya.

“sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui apa yang kuucapkan dan yang kusembunyikan. Maka kabulkanlah harapan-harapan dan cintaku yang paling murni dan dalam. Sesungguhnya Engkau tidak pernah mengingkari janji”.

Udara malam menghembus lembut. Membawakan perasaan sejuk yang belum pernah ia rasakan. Dan ia masih menikmati sensasi hawa murni tersebut, yang tidak dingin dan panas tapi membuat segar seluruh akal pikiran dan panca inderanya.

 “Tuhan, terima kasih” pujinya dalam hati.

“dan kini apa yang akan aku lakukan?” tiba-tiba muncul pertanyaan itu dalam hatinya. Matanya kembali terbuka, menyesuaikan dengan gelapnya malam. Semua yang ada di kamar itu hening tanpa suara, hanya kipas angin kecil yang memutar kelelahan mengalirkan udara.

“aku harus menelponnya. Ah, tidak. Bagaimana kalau ia langsung menutup telepon tersebut? Tapi saya lebih takut kalau dia malah menganggap saya kurang ajar dan gila. Buat apa menelpon gadis baik-baik yang tidak ada hubungan apa-apa denganmu di tengah malam seperti ini.”

“apalagi kalau itu hanya telepon iseng saja, tidak memberitahukan apa-apa dan hanya berkata sebentar, 'halo bagaimana kabarmu malam hari ini'. Bodoh! Lalu apa yang harus kuperbuat?”

“baik, aku akan mengirimkannya sms. Itukan tidak kencang, lagi belum tentu ia akan segera bangun, jadi tidak perlu mengganggu bukan. Cuma, apa yang harus aku tulis?” ia bingung bukan main.

“ah tidak, tidak mungkin aku menuliskannya” ia tertawa cekikikan demi teringat salah satu komentar temannya tentang ide menulis “iloveuwouldumarrymeplease..” di atas sebuah sms. Benar-benar cara menembak yang aneh. “menembak, apaan juga tuh?”

“aku harus membuatnya sealami mungkin. Bukankah cinta itu alamiah, tanpa rekayasa, kenapa juga harus memaksa bila bukan waktunya”  ia berkeras.

“akan ku kirimi ia sms”. Ia ambil telpon genggam hitamnya yang tergeletak di samping sajadah. Ia pencet tombol-tombol mungil di atasnya dan mencari nama yang sudah sangat ia hafal.

“akan kubangunkan ia untuk sahur” ujarnya dalam hati sambil menekan tombol send lekas-lekas.

02:59

Bit-bit data yang tak kasat mata dan kecil itu terlempar cepat ke angkasa, melewati dua malaikat yang masih mengamati pria di bawahnya tadi. Dengan kecepatan cahaya, ia terserap ke menara BTS terdekat yang tak henti-hentinya berkelap-kelip sepanjang malam melayani ribuan pesanan akses data, suara dan teks, menjadi saksi pelbagai kehidupan manusia yang kebetulan lewat di dekatnya. Perselingkuhan, rasa cinta, amarah, ultimatum, tak henti-hentinya ia menyaksikan semua bit data itu untuk kemudian melontarkannya lagi jauh ke angkasa sana menembus lapisan teratas awan cumulus, melewati batas atmosfir dan tiba di tangan-tangan cakram satelit Palapa C2. Tapi memang bukan kesana bit-bit data itu menuju. Dengan kecepatan yang nyaris sama, ia kembali terlontar cepat menuju bumi, ke sebuah BTS lain yang siap menampung curahan informasi itu. Lalu bagaikan hamba sahaya yang begitu taat, ia hantarkan sebaris pesan tadi ke sebuah ponsel Nokia hitam yang setengah sadar.

“teetetet, teetetet, teetetet!” bunyi handphone memecah keheningan malam.

“ah, sms dari siapa tengah malam begini?” ujar seorang perempuan yang langsung terjaga mendengar suara tadi. Jilbab yang dipakainya masih acak-acakkan, tapi wajahnya yang manis menutupi kekurangannya tadi.

“Sahur... sahur... bangun!” sebuah surat dari langit.

Dia melihat tidak percaya, memandang baris-baris pesan di layar handphonenya sebentar dan sedetik kemudian ke jam dinding kecil yang terus berdetik. Tik..tik..tik..

03:01.

Surat dari Langit

[mohon maaf, berhubung masih ada riset dan studi yang harus saya lakukan pada bab II, yang berjudul "Gadis Pantai" maka di sini saya posting saja langsung ke bab III. Jadi kalau ada cerita yang seakan melompat, mohon dimaklumi. :-)]

Ada banyak hal yang kita agungkan di dunia ini. Sebagian ada yang menganggap harta bendanya yang membuat dirinya kekal, sebagian lain menganggap bahwa cinta adalah sesuatu yang sukar ditemukan gantinya. Padahal bila mereka mengerti, sesungguhnya cintalah yang jauh lebih dominan. Kau bisa mencintai harta bendamu, wanita, anak-anak dan segala suatu yang ingin kau miliki. Kau bahkan bisa mencintai dirimu.

“apa yang kau temui di malam-malam Ramadhan seperti ini?” ujar seorang malaikat kepada kawannya.

“negeri ini bersenandung doa” jawabnya sambil memandang gemerlap cahaya di hamparan kota di bawahnya.

“kau lihat, apartemen jangkung sebelah sana” sambil menunjuk ke arah jajaran menara apartemen tak beberapa jauh dari jalan layang tol.
“ada wanita setengah baya yang memohon keselamatan anak semata wayangnya yang kini tengah belajar di desa” keduanya pun datang menghampiri.

Seorang perempuan dengan bercucur air mata menengadahkan tangannya tinggi ke langit, wajahnya pucat pasi dan matanya berkaca-kaca. Ia terus menangis mengiba agar keadaannya kini jauh lebih baik. Agar ia mampu bertemu kembali dengan keluarga di rumah. Sementara di kamar sebelah, kedua majikannya tertidur pulas. Mereka tertidur, karena dua jam sebelumnya sibuk menyiksa perempuan tamatan SD ini gara-gara tidak becus menggunakan mesin cuci digital yang tidak ia kuasai.

“Ia ikhlas, benar-benar wanita yang ikhlas, sungguh-sungguh, dan memiliki keinginan yang kuat” menilai.

“tunggu sampai kau lihat yang ini” ia segera mengajak rekannya itu pergi melintasi pekarangan kotor di samping rel kereta api.

“apa maksudmu orang itu?” malaikat tadi menunjuk seorang perempuan yang masih memegang pisau dapur ditangan kanannya.  Daster bermotif bunga-bunga yang ia kenakan tampak kumal sekali, penuh lobang di sana-sini dan sepertinya sudah lama belum dicuci.

“apa ia ingin membunuh seseorang?” penasaran.

“kau salah, ia baru saja membatalkan niatnya untuk membunuh seseorang”

“siapakah gerangan orang yang ingin dia bunuh?”

“suaminya, ia ingin membunuh suaminya yang pemabuk dan sering main perempuan itu.” berusaha menjelaskan.

“Sore tadi, sepulang dari tempat kerjanya ia melihat di matanya sendiri sang suami tengah berasyik masuk dengan seorang wanita di kamar mereka berdua. Ingin ia memarahi, tapi ia begitu takut. Takut akan makian, cacian, pukulan dan tendangan yang sering ia terima. Karena kalut, ia tinggalkan petak sempit itu dan berjalan tak tentu arah sepanjang perkampungan kumuh. Ia hampir gila dan memutuskan untuk mengakhiri nyawa sang suami pada malam ini”.

“tapi kenapa tidak ia lakukan?”

“waktu ia hendak melakukan niatnya itu, bayinya menangis keras. Sebenarnya juga aku yang membuat bayi itu menangis. Aku hanya ingin tahu, apakah ia masih memiliki cinta terhadap keluarganya. Ternyata dugaanku benar, ia memilih menghampiri putrinya lalu menggendong dan menyusui bayi tersebut. Naluri keibuan telah mengalahkan ego kebinatangan yang muncul dalam dirinya. Ia lebih memilih mengorbankan rasa sakit hatinya daripada membiarkan sang anak tumbuh besar tanpa kasih sayang si ibu”.

“sungguh mulia sekali hati perempuan itu” lalu sang malaikat memanjatkan doa kepada Tuhan agar Ia mengampuni kesalahan yang perempuan tersebut perbuat pada hari ini.

“bukankah sudah kubilang, perempuan itu jauh lebih kuat dan tangguh daripada laki-laki” mencoba berteori.

“kenapa kau tidak memperhatikan yang satu ini?” ia kembali membawa kawannya pergi jauh hingga melayang tepat di atas sebuah rumah sederhana.
“apa yang kau lihat?” ia memandang dalam ke bawah rumah itu.

“hanya seorang pria biasa yang sedang melakukan shalat malam. Apa yang istimewa dari dirinya?”

si malaikat tersenyum, “yang ia panjatkan. Itu yang membuatnya istimewa”

“apa sebenarnya yang ia panjatkan dan kenapa hal tersebut istimewa?”

“ia hanya memanjatkan doa untuk seseorang yang benar-benar ia kasihi. Seorang wanita yang hatinya telah beku akan cinta. Ia memohon kepada Tuhan agar ia diberikan kesempatan untuk mencintai wanita itu.”

“kedengarannya seperti cerita cinta yang lalu-lalu” kritik si kawan.

“asal kau tahu, ia sudah memanjatkan doa itu sejak lama. Semenjak Ramadhan tahun lalu, dan meski ia merasakan sejumlah kejatuhan dan kegetiran, ia terus berusaha bangun dan bangkit kembali. Dan terus mengumandangkan harapan-harapannya”.

“Oo..” “lalu siapakah perempuan yang ia begitu puja dan doakan itu?”

Si malaikat membawa rekannya menuju ke pusat kota Jakarta yang padat, ke tengah hamparan rumah-rumah petak yang berhimpitan tidak mau mengalah. Mengitari gang-gang kecil kemudian melayang tipis di dalam sebuah kamar kotak persegi. Sebuah tempat tidur single membujur di sisi kiri kamar itu. Di atasnya, dalam keheningan dan ketenangan terbaring sesosok wanita yang tidur dengan damai. Ia sepertinya begitu lelah sehingga lupa melepas pakaian kerja yang ia kenakan. Di kepalanya masih tergantung dengan rapih jilbab warna ungu yang ujungnya jatuh menutupi dadanya yang kembang kempis pelan tapi dalam.

“kenapa pria itu begitu mencintai perempuan ini?”

“jangan kau tanya aku tentang cinta. Tanyalah pada manusia, merekalah yang diberikan Tuhan anugerah untuk dapat mencinta dan membenci. Menjadi begitu penyayang dan begitu bengis. Menjadi lemah lembut atau gagah berani menerjang karang.”

“aku paham, dan sudah banyak yang kusaksikan dari keagungan daya itu dalam kehidupan manusia.” katanya sambil terus mengamati perempuan itu.
“yang tidak aku mengerti, ungkapan kamu bahwa yang dipanjatkan pria itu adalah sesuatu yang istimewa”.

“oh, rekan malaikatku. Tidakkah kau mengambil pelajaran dari tugas kita pada malam hari ini. Pembantu yang tersiksa oleh majikannya, perempuan yang tersiksa oleh perlakuan keji sang suami, kalau kau lihat, bukankah yang menjadi kunci di sini adalah kaum pria. Seandainya si laki-laki tadi memiliki budi pekerti yang baik, tidak mungkinlah ia berbuat serong dengan wanita lain. Dan ibu muda itu, tentu saja tidak akan berniat membunuh. Ia akan melakukan perbuatan yang baik karenanya dan mmebesarkan keturunan yang baik pula.”

“lalu si anak ini, ketika sudah besar dan menjadi orang kaya, karena contoh dan ajaran dari orang tuanya tentu tidak akan memperlakukan pembantunya dengan keji. Kalau pun ia berbuat salah, maka ia akan membenarkannya dengan sabar, sebagaimana dulu yang diajarkan kepadanya saat kecil. Seperti keburukan, perbuatan baik juga merangsang orang lain berbuat serupa”

“dan kini kau lihat, ada seorang laki-laki yang mencoba menjadi orang baik. Ia ingin mencinta seseorang yang amat ia puja. Tidakkah kau berpikir kawan malaikatku, bahwa ia bisa menjadi kata kunci tadi. Ia bisa memberi dengan sepenuh hati apa yang tidak diberikan oleh mereka yang tidak punya hati. Dan jika ia benar-benar mencintai wanita itu, bukankah ia akan memberi yang terbaik untuknya?”

si malaikat hanya terdiam membisu.

Aku & al-Quran

Entah kenapa, saya kadang tidak tertarik mendengar ceramah dari para penceramah populer. Sebut saja, M. Arifin Ilham, Yusuf Mansyur, Abdullah Gymnastiar, Zainuddin MZ, mamah Dede atau sejumlah penceramah metodik seperti Abu Sangkan. Barangkali karena begitu banyak informasi yang saya cerap yang seringkali bersinggungan dengan cara mereka mengemukakan argumentasi. Satu-satunya pengecualian, itu pun kalau mau disebut demikian, adalah M. Quraish Shihab. Apa yang membuat saya begitu antusias mendengar pengajian beliau?

Terus terang, cara Qurasih Shihab menafsirkan al-Quran sangatlah standar. Beliau selalu memulainya dari segi bahasa yang kemudian ia pertalikan dengan pengetahuannya yang luas terhadap keseluruhan al-Quran ditambah beberapa detil dari hadist dan fiqh. Cara menafsirkannya juga sederhana menggunakan logika dasar dan common sense, tetapi karena al-Quran sendiri memiliki kekayaan kosa kata yang sangat luas, pada akhirnya apa yang beliau sampaikan juga bukan sesuatu yang dangkal. Bahkan boleh dibilang penafsiran beliau adalah sebuah pengantar yang cerdas untuk memahami kedalaman makna al-Quran. 

Sebagai contoh, ketika al-Quran berbicara tentang thagut, secara harfiah berarti melampaui batas, Quraish Shihab berusaha memahami kata tersebut dari sudut pandang psiko-linguistik. Term 'menyembah thagut' biasanya dipahami sebagai menyembah berhala atau yang lebih kontemporer, memuja rezim kediktatoran yang represif dan otoriter. Namun, ketika kita memulangkan kata tadi ke makna harfiahnya, kita akan menemukan arti yang jauh lebih dalam dari kedua tafsir tersebut. Thagut bisa berarti sebuah situasi yang serba hyper, berlebihan dan melampaui batas. Menyembah thagut dengan demikian bisa dimaknai dengan sebuah keadaan untuk memuja segala suatu yang bersifat hyper dan berlebihan. Dalam konteks masyarakat modern, term menyembah thagut bisa berkaitan dengan gejala  hyper-konsumtif, hyper-media, idol kontest, super mega star, bahkan gila kerja. Benar-benar sebuah analisis yang menarik dan fleksibel.

Hal lain yang patut diperbincangkan adalah cara al-Quran menafsirkan teksnya sendiri. Kata munafik misalnya memiliki akar kata serupa dengan kata nafkah. Makna harfiah dari akar kata kedua term tadi adalah nafaqa yang berarti terowongan. Orang yang memberi nafkah itu bagaikan membuat terowongan dalam pundi-pundi uangnya, karena ia membiarkan uang tersebut mengalir bukan disimpan. Adapun orang-orang munafik adalah mereka yang tidak mau mengendapkan kebenaran yang disampaikan kepadanya. Mereka bagaikan orang yang mendengar kebenaran, masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Tidak ada yang berbekas sama sekali.

Dalam hal keimanan, model penafsiran Quraish Shihab bahkan mampu menguak nuansa dari kata tersebut. Misalnya cara beliau menafsirkan kata kafir. Kata ini biasanya dipahami sebagai sebuah domain di luar kata iman. Orang-orang kafir sebagaimana yang kita pahami adalah mereka yang tidak beriman kepada Allah dan Nabi Muhammad. Itu benar, tapi al-Quran juga menggunakan kata tersebut bagi orang yang berbuat dosa, termasuk di dalamnya umat Islam sendiri jika ia berdosa maka orang tersebut juga dinamakan orang kafir. Di lain pihak, kata ini juga dialamatkan kepada entitas di luar Islam yang melakukan agresi kepada komunitas Islam dan bukan kepada mereka yang tidak melakukan agresi meskipun berada di luar komunitas Islam. Keberagaman kata kafir ini tentu sangat berguna untuk menolak klaim kebenaran absolut tanpa harus jatuh sedikit pun kepada relativitas beragama.

Terkadang, cara pikir kita sering terpola kepada konsep digital, benar – salah secara makro. Al-Quran juga menggunakan konsep ini dalam ayat-ayatnya. Yang berbeda, pembagian benar – salah dalam al-Quran itu bersifat kasuistik. Maksudnya, ia memberi penegasan dalam konteks yang berbeda-beda dengan level yang beraneka. Setiap kondisi, baik fisik maupun psikologis, memiliki tuntunannya tersendiri yang jika dibawa ke dalam konteks yang lebih umum membuat kita paham bahwa selalu terdapat nuansa dalam setiap keputusan yang diambil. Dan ustadz Quraish mampu menerangkan hal tersebut dengan gamblang serta dapat menyampaikannya dalam bahasa orang awam.

Pada akhirnya, kenapa saya lebih menyukai gaya pengajian agama model Quraish Shihab adalah karena beliau memegang al-Quran serta membuatnya 'berbicara' kepada kita dan bukan sebaliknya. Sebuah bukti otentik yang tidak mampu saya tolak kebenarannya. Sebuah gugus pikiran yang sampai saat ini masih terus saya pelajari dan saya percaya, serta sebuah mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW dan kitab petunjuk dan rahmat bagi semesta alam.

* gambar al-Quran saya ambil dari  http://navedz.files.wordpress.com

Tanpa Nama (6)

Sementara itu, dari sudut sebuah jendela, sepasang mata terus memperhatikan dua muda-mudi tadi. Jidatnya yang lebar memperlihatkan garis-garis penuh wibawa yang hanya bisa ditandingi oleh kacamata tebal yang membuat keseluruhan wajah dokter berhidung lebar itu tampak seperti patung Buddha yang tenang. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, hanya pandangan mata yang lurus terarah sejak semenit sebelumnya.

Satu menit ketika ia melihat seorang gadis berjilbab ungu hampir saja terjatuh membentur lantai, dan gerakan cepat dari seorang pemuda yang lalu menangkap tubuh itu dan memapahnya ke atas bangku kayu berwarna coklat. Matanya masih tetap menyelidik, ia juga menyaksikan bagaimana si pemuda tersebut memberikan segelas air mineral yang ia beli dari pedagang asongan di seberang jalan. Dari cara ia berlari, membeli air minum dengan tergesa-gesa dan gerak tubuhnya, seakan ia bisa merasakan apa yang ada di dalam benak pemuda tadi. Sebuah perasaan yang dulu pernah menghampirinya, tiga puluh tahun yang lalu.

“Ah, seandainya dia mengerti” gumamnya pelan. Seandainya dia mengerti apa yang datang begitu saja dalam hatimu. Tak perlu jua kau menyesal dengan kebodohan yang mungkin bakal kau lakukan. Ia masih menatap, hingga kedua orang itu menghilang di balik tembok tinggi rumah sakit.

“Ah, cinta”, dan tangannya merogoh masuk kantong jas kerja putihnya yang ia biarkan tersangkut malas di sandaran kursi. Mengeluarkan arloji pipih emas dan membuka isinya. Sebuah foto kumal lusuh, bergambar wanita cantik berseragam putih-putih. Sebuah foto yang tidak pernah ia beri tahu kepada istrinya saat mereka menikah dua puluh tujuh tahun yang lalu. Ia pandang lekat-lekat foto itu dan berusaha menggambar garis-garis pudar dengan telunjuknya. Ia kenal wanita di foto itu sama seperti ia mengenali gadis berjilbab ungu tadi, dan pemuda lugu yang membawakan air yg baru saja datang kepadanya kemarin.

***

Siang itu sama seperti siang-siang hari lainnya di petak kecil kios makanan yang setiap hari menjajakan soto daging dan rawon khas Jawa Timur. Panas dan pengap. Tapi bagi pemuda ini, siang hari itu adalah siang hari yang berbeda. Ia kini duduk berhadapan dengan perempuan yang telah ia nantikan sejak lama. Hanya terpisahkan meja panjang, tempat acar, kecap, garam dan sambal. Gadis di depannya begitu lahap menyantap semangkuk soto yang mengepul hangat membuat peluh menetes pelan dari dahinya yang putih.

Mereka membisu.

Tak ada satu suara pun keluar dari mulut mereka berdua, hanya kelentingan sendok garpu beradu dengan mangkuk. Selebihnya kedua insan itu sibuk dengan makanan mereka masing-masing. Tapi dari dalam diri mereka ada keinginan untuk dapat saling mengenal satu sama lain. Keinginan yang berusaha mereka tutupi dengan mencuri pandang disetiap sendokan dan kunyahan, saat ketika yang lain berusaha mengalihkan pandangannya dan antara lirikan-lirikan yang sayangnya tidak pernah berhasil untuk ditahan.

Mereka masih juga membisu.

Sudah 30 menit, dan kesempatan emas berlalu begitu saja. Si perempuan berdiri, mengucapkan terima kasih sekali lagi dan kemudian pergi tanpa kata-kata.

Semenjak itu, kedua insan tersebut hampir tidak pernah bertemu. Hanya sebuah bangku kayu panjang berwarna cokelat yang kini menjadi saksi. Ketika bayangan wanita itu selalu duduk tertunggu di sana, sementara si lelaki tanpa nama hanya bisa memandang dari balik pintu kaca sosok yang makin hari makin pudar di telan waktu.

“kring...kring...”

Pikirannya melayang ke arah telepon yang tertuju untuknya. Sebuah undangan menonton film bersama rekan kerjanya. Ia pun bergegas pergi dan dua puluh menit kemudian telah hadir di sana. Bioskop Cikini.

Tidak ada yang menarik, pikirnya. Ketika adegan pertama di film yang mereka tonton mulai diputar.
Bahkan tatkala mereka nongkrong di warung makan sebelah bioskop, tak ada satu pun yang benar-benar ia nikmati. Hanya duduk, tertawa, saling membicarakan, sisa dirinya masih merindukan pertemuan dengan gadis berjilbab ungu tersebut.

“kau tahu, gadis manis berjilbab ungu di perusahaan kita” kata temannya membuka pembicaraan.

“anak baru itu sekarang sedang kasmaran dengan detailer dari farmasi lain” ia hisap rokoknya dalam-dalam.

“tapi pacar barunya itu ternyata cuek sekali. Ia bilang, banyak perempuan seperti kamu yang bisa saya dapatkan.” beberapa orang mulai memperhatikan.

tersenyum miris.

“saya yakin hubungan mereka tidak akan bertahan lama” asap mengepul pelan ke atas.
“kau tahu teman...” ia menatap si Tanpa Nama

“sebenarnya dia suka padamu.” hening.

Dia suka padaku?

“iya, apalagi waktu kamu selamatkan dirinya yang hendak terjatuh di rumah sakit itu” kawannya melanjutkan.
“ia cerita itu semua kepada teman-temannya” sambil asyik menikmati batang rokoknya.

ia cerita itu semua. Kepada teman-temannya?

“setidaknya dia memberi tahu kepada saya” memandang lurus ke depan
“tapi kau terlalu dingin kawan” ia utarakan itu sambil menolah kepada si Tanpa Nama.
“ dan kini hatinya beku oleh watakmu yang dingin”

Aku, aku tidak dingin.
Aku, aku ada di sana, setiap minggu.
Aku, aku menunggunya.
Dan ia tidak ada.
Dia tidak ada.

“kalau kau benar-benar menyukainya, mungkin kau harus benar-benar mengejarnya” ia tetap lekat-lekat kawannya itu.

Kau harus mengejarnya kawan.

Tanpa Nama (5)

“yah, kalau dokter bersedia membantu peresepan obat yang saya bawa, itu sudah sangat cukup bagi saya. Saya sangat berterimakasih sekali kepada dokter” manuver terakhir.

“hahaha...” masih seperti yang dulu pikirnya. Masih belum mampu mengungkapkan perasaan. Benar-benar lugu. Ah, seandainya kau tahu seperti apa cinta itu sebenarnya, tak perlu jualah kau malu.

Setelah berjabat tangan erat, laki-laki itu keluar dari tempat praktek dokter. Beberapa kawan seprofesi yang antri menunggu langsung menyerbu masuk ke dalam meminta tanda tangan bukti kunjungan. Siang hari itu, tepat di lorong klinik, untuk pertama kalinya, tiba-tiba ia merasa sendiri di dunia ini.

***

Perempuan itu berlari kecil di sepanjang koridor rumah sakit yang panjang dan sesak oleh ratusan orang yang menunggu giliran berobat. Jam masih menunjukkan pukul 10:52, hari semakin panas. Matanya bergerak menyisir papan petunjuk di atas pintu-pintu rumah sakit itu. Dia tidak sakit, tidak pula datang untuk menjenguk teman dan sahabatnya yang tergeletak tak berdaya di atas ranjang-ranjang kumal dan bau. Hanya satu kata yang ada dalam benaknya, dan kata itu sudah cukup baginya untuk menuntaskan rasa kelam yang selama ini menggelayut di hatinya. Pembelian.

Pekerjaan yang ia lakukan memang bukan jenis pekerjaan yang hanya berdiamdiri berjam-jam di atas kursi empuk. Ini pekerjaan menantang. Sebuah domain di mana kerja keras laki-laki dan perempuan dibayar dengan harga yang sama. Marketing, hampir tidak ada satu perusahaan di dunia yang tidak memiliki divisi ini. Bahkan bisa dikatakan, ia merupakan urat nadi jatuh bangunnya sebuah perusahaan. Dari pekerja lapangan seperti perempuan inilah, mengalir bermiliar-miliar rupiah kedalam kas perusahaan yang kemudian disalurkan kemballi untuk menghidupi ribuan pegawai, ongkos produksi dan dividen bagi para pemegang saham.

“aku harus bisa” katanya dengan keras di dalam hati.

Sebagai pegawai baru ia memang harus membuktikan kerja kerasnya dengan hasil yang membanggakan. Atasannya, seorang laki-laki lembut beranak dua, memang sudah melihat ambisi yang tinggi dalam diri perempuan ini. Ia sengaja memberinya daerah kerja yang lumayan menantang, di sebuah rumah sakit pusat nasional. Meski bergelar rumah sakit pusat nasional, sejak dulu area tersebut memang sangat kering menyumbangkan pemasukkan. Untuk itulah ia merasa sudah tepat memasukkan perempuan fresh graduate ini sebagai pion pertama untuk dia mainkan.

“ah, di mana ya?” matanya masih sibuk mencari. Hampir setengah labirin bangunan besar itu ia jelajahi. Mulai dari department radiologi, kemudian ruang cempaka, dan kata satpam yang ia tanya, tempat pembelian itu hanya sepelemparan mata dari lorong lurus di depan tempat department Kardiologi berada. Ia memang menemukan tempatnya, tapi kata orang yang bertugas, kalau hendak menemui bagian pembelian harus memutar dahulu ke arah luar. Dan ia ikuti nasehat orang tadi.
“kriyuk..” perutnya berbunyi.

Duh, jangan sekarang dong laparnya. Ia hampir saja lupa bahwa dirinya belum makan sejak semalam. Perutnya tanpa terasa sudah merongrong untuk diisi, kini pandangannya pun sudah sedikit kabur, langkahnya mulai tak beraturan, dan tubuhnya terhuyung kedepan tersandung undakan anak tangga.

“aku harus..” ujarnya sembari membulatkan tekad.
“harus...” tapi aku sudah tak kuat lagi.

Tubuh mungil itu doyong ke depan, jilbab ungunya berkibar sepi ditiup angin. Sepersekian detik ia mengira wajahnya akan membentur hamparan ubin dingin di hadapannya, kalau bukanlah sebuah tangan yang memegang erat tubuh itu dari terjatuh, mungkin ia sudah tak sadarkan diri.

Tapi efek dari cengkraman tangan tadi tidak kalah mengagetkan dari tersungkur di atas lantai. Sungguh sebuah keterkejutan yang membuatnya lupa kejadian selanjutnya. Tanpa disadari, ia kini sudah duduk di sebuah kursi kayu panjang bercat cokelat. Kepalanya masih pening dan penglihatannya pun kabur. Samar ia melihat bayangan wajah manusia menggoncang-goncangkan badannya.

“apa kamu baik-baik saja?” tanya suara itu samar

“apa kamu baik-baik saja?” suara itu terdengar lagi. Makin keras, makin jelas hingga ia sadar sepenuhnya di mana ia sekarang berada.

“ah, sukurlah kamu sudah sadar” ujar seorang pria yang berdiri di hadapannya.
Pria itu lalu duduk di sebelahnya, menawarkan segelas air mineral dengan pipet kecil tertancap di atasnya.

“minumlah..”

Ia ambil pemberian laki-laki itu. Air tersebut mulai mengalir membasahi kerongkongannya yang kering, memberikan perasaan segar yang menjadikannya tenang. Kini ia pun mencoba mereka-reka siapa gerangan lelaki tersebut.

Sekilas matanya memandang sepatu boot tua yang sudah mulai terkelupas ujungnya, perlahan naik menyapu celana kerja yang agak lusuh, dan wajah itu.

***

Untuk pertama kalinya ia bisa sedekat ini dengan wanita itu. Dari jarak yang teramat dekat, hingga ia bisa mengenali setiap garis yang terukir di wajahnya, pipinya, bibirnya, hidungnya dan matanya. Mata yang dahulu ia coba perhatikan dari jauh, kini berada tepat di hadapannya. Hanya sejengkal, dan mata itu. Mata itu juga memandang lekat kepadanya. Mereka saling bertatapan mata.

“apa sudah lebih baik”

“eh, iya. Terima kasih mas sudah mau menolong saya”

“sama-sama, saya tadi hanya lewat sini saja. Eh tahu-tahu lihat kamu di depan, saya panggil ternyata kamu tidak dengar. Sewaktu tubuh kamu terhuyung pertama kali, saya khawatir ada yang tidak beres. Langsung saja saya lari. Untung pas sekali tadi. Kamu tidak terluka kan?”
“Tidak. Terima kasih sekali lagi mas” ia berusaha bangkit.

“mau kemana?” tanya si laki-laki khawatir.

“itu, saya mau ke bagian pembelian mau menanyakan SP untuk produk saya mas” sambil mencoba meluruskan postur tubuhnya.

“kamu pegawai baru itu kan?” ia masih memandangi wajah perempuan itu
“lho kok tahu?” agak terkejut.

“ya, saya ada kan waktu perkenalan itu” kini tangannya masuk ke dalam tas besar yang ia bawa. Sedetik kemudian ia tarik secarik kertas putih dengan stampel warna biru yang masih basah.
“40 box Glibenclamid. Wow luar biasa” ujarnya sambil membuka lipatan kertas tadi.

Sambil tersenyum ia mencoba melihat perubahan warna pada wajah perempuan di hadapannya yang kini mulai berwarna merah merona.

“Alhamdulillah!” ujar perempuan itu berbinar ceria. Kini untuk kedua kalinya wajah mereka kembali beradu. Dalam.

Tanpa Nama (4)

Seminggu setelah pertemuan itu, ia selalu memikirkan wanita tadi. Tentang jilbabnya yang terlalu turun ke bawah, tapi menyisakan lekuk tubuh yang terlihat jelas di bawah blaser hitam dan paduan celana bahan yang agak ketat. Tentang pandangan matanya yang penuh ambisi, atau langkah-langkah kakinya yang meski ringan tapi terasa berat. Seperti perpaduan antara keindahan alami dengan luka yang menganga. Luka yang sepertinya hendak ia sembunyikan, ia timbun dalam-dalam sehingga tak seorang pun tahu akan apa yang terjadi padanya.

“Wanita itu penuh misteri” ia tulis kalimat tadi di status Facebook.

“yup, misteri yang hendak dikuak” seorang teman menimpali

“tapi apa ia masih jadi misteri ketika sudah ter'kuak'? :D” komentar yang lain.
“kenapa bro, belum pernah 'menguak' ya? :p”
“Hehehe... secara gitu lho, gw kan msh bujangan :p”
“bujangan beranak tiga! Wakakakakak....”
“ah, ente. Kenapa juga ga kita tanya tuh doi kenapa nulis begitu”
“iya fren, lagi jatuh cinta ya?”

Apa? Jatuh cinta?

“enggak kok, cuma penasaran. Penasaran saja sama seseorang” penasaran, jatuh cinta, penasaran.

“tuh, betul kan. Memang begitu awalnya bro. Tenang kau pasti bakal menaklukkannya”. Menaklukkannya.

Menaklukkan perempuan. Apa benar perempuan itu harus ditaklukkan? Seperti menaklukkan kuda liarkah? Ah, bodohnya aku ini, tentu saja tidak. Mereka lembut, bagaikan mawar yang tengah merekah, yang dipenuhi duri-duri tajam yang siap menggores. Bodoh sekali, kenapa juga aku harus memikirkan dirinya. Absurd.

Tok...tok...tok...

“iya, silahkan masuk” sambut suara dari dalam kamar praktek.

“selamat siang dok. Bagaimana kabar?” penuh semangat.

“Oh, eh kamu.. iya, baik-baik saja terima kasih” kata sosok bertubuh besar dari balik koran yang tengah ia baca.

“kemarin saya sudah resepkan obat mu lho..” tanpa menurunkan koran itu.

“wah, terima kasih sekali. Bagaimana pendapat pasien dokter? Apakah ada keluhan” probing.
“Seandainya ada, dokter jangan sungkan-sungkan menyampaikannya ke saya ya”. Terburu-buru.

“Iya, nanti akan saya sampaikan..” masih tertutup.
“omong-omong hotel dan pendaftaran untuk acara ASMIHA di Ritz sudah diurus bukan?” kali ini ia turunkan koran tersebut dan melipatnya di pojok meja sebelah kiri. Kacamata tebal masih menggantung di atas hidungnya yang lebar. Rautnya serius, tapi postur tubuhnya yang aneh sudah cukup membuat orang melupakan sikap serius tadi. Benar-benar sosok yang memperdaya.

“sip dok!” katanya dengan penuh semangat.
“H.O. Sangat senang dengan kerja sama dokter selama ini. Bahkan, setelah saya rekap hasil penulisan dokter selama setengah tahun, bos saya malah ingin menawarkan event yang jauh lebih besar” ia sampaikan itu dengan sungguh-sungguh.

“O ya?” masih serius.

“Betul dok.” memperkuat pernyataan sebelumnya.
“kalau ECC tahun depan bagaimana?” teori marketing yang ia terima mengajarkannya untuk agresif.

“hmm.. nanti saya pikirkan lagi” diplomatis.

“seandainya dokter berminat, kami akan siapkan tiket PP Jakarta – Munich, plus akomodasi untuk 3 hari 3 malam.” katanya bangga, sambil berusaha menampilkan kesan dapat dipercaya.

Si dokter mengangguk sambil tersenyum lebar. Ia tahu, dirinya jelas lebih berpengalaman dari anak 26-an tahun yang duduk di hadapannya. Pengalaman puluhan tahun, puluhan farmasi, sudah cukup melatih syaraf-syaraf di hatinya untuk tidak langsung percaya dengan berbagai tawaran yang datang. Berhubungan dengan Medical Representative itu seperti bermain layangan, pikirnya. Kadang kau harus kau harus tarik dia kuat-kuat agar tidak mendapatkan janji-janji palsu, atau ketika angin berhembus kencang dan tawaran datang bertubi-tubi, biarkanlah layangan itu terbang tinggi terbawa angin. Berbagai macam fasilitas mewah, kendaraan, renovasi rumah, tiket pesawat terbang, event-event internasional, semuanya akan datang tanpa diminta. Inilah saatnya kau menerima lebih dari yang mereka tawarkan.

“tadi teman kamu ke sini..” tiba-tiba rautnya berubah lembut.

“yang mana dok?” penasaran.

“jilbab panjang, warna ungu. Sepertinya masih baru bergabung ya?” kini, gantian ia yang memperhatikan anak muda tadi.

jilbab ungu, panjang?

“Ooo..” ah, perempuan itu lagi.

“Lumayan manis lho, kayaknya cocok buat kamu.” memancing.
“Ayolah, sudah berapa lama kamu detailing ke saya. Setahun, dua tahun? Belum pernah saya dengar kamu punya pacar. Bukan saya yang bilang lho. Itu teman-teman kamu.” ia benar-benar menguasai suasana hati si pemuda itu.

“Kau tahu, Ika, yang bawa nitrat original itu. Saya kira dia naksir sama kamu. Cuma kamu saja yang memang dingin sama dia.” aku suka sekali melihat bagaimana orang yang tengah dilanda cinta, ujarnya dalam hati sambil tersenyum.

“C'mon, what are you waiting for?” benar-benar dokter cinta.

Ha, yang aku tunggu? Aku tidak menunggu dok, aku mengejar. Aku mengejar dan dia hilang. Hilang begitu saja. Sayang, ia tak sanggup mengutarakan hal itu.

“ah, dokter ini” tertunduk malu.

“Apa saya harus bilang ke SM kamu supaya naik pangkat?” tenang nak, aku tahu yang ada di benakmu.

Pangkat, uang, harta. Godaan itu datang lagi, impian naik kendaraan dinas kantor. Berkeliling kota dengan bangga. Seperti menampar kepala tetangga-tetangganya yang selalu mencemooh. Kendaraan itu baginya selalu membangkitkan rasa sakit hati yang dalam. Rasa yang benar-benar telah ia coba untuk pendam. Kenapa segala suatu harus diukur dengan materi? Ia masih merasa sakit. Begitu sakit, hingga tanpa sadar ia bergumam pelan, revenge is sweet.

“yah, kalau dokter bersedia membantu peresepan obat yang saya bawa, itu s

Tanpa Nama (3)

Beberapa bulan sebelumnya.

“Tingg....” pintu lift terbuka lebar.

Sesosok pria menyeruak di antara kerumunan orang yang berdesak di dalam ruang kubus tersebut. Baju lengan panjang bergaris biru tipis yang ia kenakan sedikit lecek, menampilkan kesan terburu-buru. Rambutnya acak-acakan, dan celana baggy yang ia kenakan tampak kusut seperti belum disetrika. Sambil menenteng tas kerja ia segera ngeloyor ke arah rest room di pojok kanan lantai tersebut.

Semenit kemudian pria ini sudah tampil penuh semangat. Dengan wajah ceria yang tidak dibuat-buat ia masuki ruangan kantor yang sejuk oleh hembusan AC. Disapanya perempuan setengah baya di meja resepsionis yang sibuk merias wajahnya sembunyi-sembunyi, kemudian melewati meja sekretaris sambil melempar sebongkah senyuman yang lebar dan berakhir dibalik pintu kayu di lorong sebelah kiri. Meeting room.

“selamat pagi!” ia menyapa.

Sedianya, ruangan 5 x 10 meter tersebut merupakan ruang serba guna yang sering digunakan karyawan perusahaan ini untuk mengadakan rapat. Di sekeliling, terhampar jajaran meja kayu bergaya modern membentuk huruf U besar. Di belakangnya terlihat deretan kursi-kursi empuk untuk duduk. Kursi-kursi tadi memiliki engsel yang bisa memutar 360 derajat, dilengkapi roda-roda plastik dan senderan punggung yang dapat menyesuaikan dengan postur tubuh. Di tengah ruangan tadi sebuah proyektor digital sibuk memancarkan sinar yang menembakkan partikel-partikel cahaya di atas sebuah kanvas berwarna putih. Kipasnya berdengung pelan, menghisap dalam-dalam semburan udara dingin dari balik pengatur ruangan buatan Korea. Udara di atas juga berdengung.

25 derajat celcius!

Pagi itu, semua kursi telah terisi. Kertas-kertas bertebaran di atas meja memperlihatkan grafik penjualan selama kuartal pertama. Persentase pencapaian, analisis SWOT, laporan dari berbagai kantor cabang, yang isinya mengenai kesuksesan-kesuksesan dalam memasarkan produk, perbandingan dengan produk kompetitor dan angka-angka. Pria tadi kini sudah tenggelam bersama tumpukan kertas yang telah ia persiapkan malam sebelumnya.

“baik teman-teman, sebagai pembuka dari meeting kita pagi hari ini, mari bersama kita dengarkan presentasi pencapaian sales sub area Jakarta I” sambut sales manager.

“iya, saya” kata pria tadi sambil setengah berlari ke depan ruangan.

“terima kasih, pada kesempatan kali ini saya akan mempresentasikan pencapaian sales sub area Jakarta I untuk kuartal pertama tahun 2008”

Semua mata kini tertuju kepada sosok kucel tadi. Satu persatu halaman powerpoint terpampang lebar di atas layar. Bagian pertama memperlihatkan, sub area yang ia tangani. Sebuah area marketing sepanjang jl. H. R. Rasuna Said, dimulai dari menteng dan berakhir di perempatan Mampang, kemudian menyusuri Gatot Soebroto ke arah Timur hingga Pancoran, dan ke arah Barat hingga Jl. Jendral Sudirman. Sebuah pusat niaga dan perkantoran yang merupakan urat nadi bisnis utama di Jakarta. Halaman kedua dengan gamblang memperlihatkan pencapaian sales selama tiga bulan terakhir, dengan garis menanjak di bulan Maret dan Januari, serta kurva yang menurun tajam di Pebruari.

“Kebijakan perusahaan di awal tahun ini, yang menaikkan beberapa harga produk-produk utama, membuat pasar melakukan stok barang di Januari. Hal tersebut menjelaskan jatuhnya permintaan dari pasar pada bulan berikutnya”. Dengan kata-kata lancar yang telah dia hafalkan berkali-kali.

“tapi demand menjadi stabil kembali pada bulan berikutnya. Yang mana ditunjukkan oleh grafik permintaan yang terus meningkat, meski masih di bawah pencapaian bulan pertama.”

“kesimpulan saya, terdapat kecenderungan positif dari pasar di area yang saya tangani untuk kuartal pertama tahun ini. Sedang untuk setengah semester ke depan, saya optimis masih bisa tumbuh hingga 12%” akhirnya..

Plok...plok...plok....
tepuk tangan bergemuruh di seluruh ruangan.

Dengan bangga ia salami atasannya tadi yang memberikan selamat atas perjuangannya selama ini. Ia salami pula kawan-kawannya yang berdiri menyambut saat kembali ke tempat duduknya. Muka-muka yang telah ia kenal lama selama tiga tahun belakangan. Teman-teman seperjuangan. Tidak mungkin aku berhasil tanpa bantuan mereka, pikirannya. Tidak ada salahnya mereka juga mendapat penghargaan yang selayaknya dari best achiever di cycle pertama ini.

Cycle meeting itu kemudian berjalan kembali seperti sebelum-sebelumnya, membosankan. Paparan strategi penjualan dari sales manager yang sudah lama ia pahami, penjelasan kembali product knowledge yang sudah ia hafal di luar kepala oleh product manager, dan beberapa area manager yang dengan kocak memberi motivasi-motivasi ringan kepada anak buahnya. Tidak terasa dirinya mulai mengantuk, meski sudah sekuat tenaga ia lawan rasa tersebut.

“Terima kasih kepada teman-teman yang telah antusias mengikuti cycle meeting kita hari ini.” ah, iya kenapa tidak dari tadi.

“ Sebelum makan siang bersama, saya perkenalkan terlebih dahulu tiga orang pegawai baru yang akan bergabung dengan tim kita. Ayo mari silahkan masuk” kata si sales manager dengan antusias.

"Hmm.. pegawai baru rupanya", masih mengantuk.

Setengah sadar ia melihat tiga wanita beriringan masuk ke dalam ruangan. Muka mereka lumayan manis, hal yang lumrah dalam dunia marketing. Yang pertama berambut sebahu dengan balutan busana putih dengan detil renda-renda kecil di beberapa bagian. Yang kedua bertubuh semampai dengan celana panjang hitam bergaya cutbray, meski cantik tapi tampangnya lebih mirip tomboy. Terakhir perempuan berjilbab ungu yang jatuh hingga ke dada. Dari raut mukanya, ia terlihat cocok terjun di dunia marketing daripada busananya yang mirip lembaga dakwah.

Kini si lak-laki tadi sudah sepenuhnya sadar dari kantuk. Matanya tertuju kepada gadis berjilbab ungu itu. Entah kenapa ada sesuatu yang berdesir di jantungnya, membuat dadanya mulai berdegup kencang. Ia tidak memperhatikan apa-apa, hanya memandang lekat-lekat ke dalam mata perempuan tadi, menyerap bentuk dan nuansanya. Hingga tak sadar ketika untuk pertama kalinya ia mendengar sebuah kalimat yang keluar dari mulut gadis itu.

“perkenalkan nama saya...”
.....

Tanpa Nama (2)

“mbak, tahu tidak pemilik nomer ini?”

“coba saya lihat...”,
“wah, maaf saya enggak tahu.”
“memang ada apa jeung, sms iseng lagi? Ya udah, dicuekin aja”

“enggak kok mba, dia malah baik.”
“dia bangunin saya sahur terus kok” ragu.

“kalau begitu pasti ada maunya tuh”
“pasti cowok kan..”

“belum tahu, habis cuma tulisan ini aja sih yang saya tahu”

“Coba saya lihat...” penasaran.
“iya, ini pasti tulisan laki-laki.”
“lihat cara dia mengetik sms itu, kalimatnya tertata rapih, ada tanda-tanda bahasa lagi.”
“yah, kalau bukan laki-laki berpendidikan, pasti orang yang tengah jatuh cinta sama kamu jeung. Mereka memang sukanya begitu kalau lagi ada maunya. Berpenampilan rapih, bermuka manis, dan pura-pura berwibawa. Tapi kalau sudah mendapatkan yang mereka mau, uhhhh... beda banget deh sama aslinya!” nyinyir.

“ih, mbak, kayak tahu sifat laki-laki aja deh”

“eh, jeung. Aku ini sudah berkeluarga lho!”
“masku itu tuh, waktu masih pacaran dulu, romantissss.. bangat. Kemana-mana royal dia belikan saya apa saja. Kalau saya lapar, malah dia tanya, mau makan apa? Yang enak apa yang mahal? Yang dekat apa yang jauh? Kan asyik bisa naik motor boncengan berdua aja.” melayang.

“lho kok malah teringat masa lalu sih mbak”

“benar itu jeung. Eh, pas sudah menikah, baru deh ketahuan belangnya. Sedikit, sedikit, saya yang harus turun tangan. Dia minta dilayani terus. Bahkan minum saja pakai minta saya yang ambilkan. Benar-benar seperti melihara bayi aja. Bayi bongsor!”
“Hahahaha..” tragis.

“Hahaha..” getir.

Jalan itu melandai lagi. Membuka deretan lampu-lampu malam yang menyala redup. Cahaya emasnya menyinari lantai-lantai aspal yang licin oleh guyuran air hujan. Tidak ada kendaraan yang lewat, hanya angin malam yang deras menerpa wajahnya yang merona, bahagia. Dalam balutan jaket katun merah muda yang pori-porinya menyembul keluar terdesak oleh hembusan angin yang galak, dia peluk erat sosok tubuh di depannya. Begitu erat, seakan tak ingin jua mereka berpisah. Padahal malam itu, hanya ada mereka berdua, motor ini, lampu-lampu itu, dan jalanan yang makin lama makin terasa hanya ada bagi mereka saja.

Teetetet...teetetet.

“maaf ya mbak, sudah ditunggu bos di ruang meeting nih. Nanti kita lanjutin lagi ceritanya.”

“eh tunggu dulu dik..”

dik?

“kenapa tidak kamu sms balik saja,” sedikit berbisik.
“.. dan coba tanya siapa namanya. Kalau si doi tetap menolak, kamu bisa gunakan bahasa yang keras. Nanti juga malu dia.” sebelah matanya berkedip.
“hati-hati ya dik”

dik?
“ah, iya mbak. Terima kasih nasehatnya”.

Perempuan itu segera meninggalkan teman bicaranya di kantor. Setengah berlari menuju ruang meeting yang berada di ujung lorong sebelah kiri. Hak sepatunya yang tinggi terdengar nyaring mengetuk-ketuk lantai marmer gedung megah itu. Meninggalkan bunyi bergema yang lalu teredam oleh lapisan kaca tebal yang mencuat dari dasar lantai ke ke langit-langit ruangan. Kemudian terus meninggi hingga bertemu batas-batas teratas bangunan jangkung itu. Melingkari sisi sebelah kanan lalu jatuh memiring mengikuti postur beton yang langsung menukik tajam ke bawah tanah.

Di kakinya, ribuan orang hilir mudik berjalan, keluar dan masuk, kemudian mengalir rendah ke dalam pintu-pintu kendaraan yang terbuka. Membawa mereka bergerak merangkak di kemacetan kota yang bising. Bau, berasap dan polutif. Membuat jiwa-jiwa itu terkurung rapat kembali di dalam kendaraan mereka yang pengap. Memandangi jalan-jalan yang tidak lagi menarik. Kawanan pedagang asongan yang merangkap jadi preman, anak-anak jalanan yang bernyanyi tidak senonoh, polisi-polisi kumal yang bersembunyi di balik pos-pos mereka. Terik mentari benar-benar telah membuat semuanya menguap. Meninggalkan kabut tipis yang menyekat aku dan kamu.

“Aku dan kamu..”

laki-laki itu terbangun dari lamunannya. Kepalanya yang basah oleh keringat masih bersandar erat di kaca jendela sebelah kiri. Bus yang ia tumpangi baru saja keluar dari kabupaten Purwokerto. Lajunya sangat malas, menyusuri jalan-jalan kecil yang curam, merayap perlahan ke dataran tinggi Bumiayu yang dingin.

“Aku dan kamu..” ia bergumam tidak jelas.

Matanya masih terus melekat erat di kaca jendela itu. Melihat terus refleksi dirinya yang tanpa harapan. Kosong dan degil. Sementara pupil-pupilnya menembus ke ruang batas hamparan persawahan dan hijau bukit yang permai.

“Kenapa aku lewat jalan ini?” sesalnya mengambil jalur utara.

“Bukankah kotanya ada di sebelah sana,” Hanya terpisah oleh sebuah pertigaan kecil ke arah kiri. melewat gugusan jalan lurus yang mengarah terus ke Barat. Sebuah kota pelabuhan yang indah.

“Indah? Aku bahkan tidak pernah berkunjung ke sana. Bagaimana juga aku tahu bahwa kota itu indah.”

Tapi memang bukan kota itu yang ia cari. Lagi apa pedulinya ia dengan kota.

“kota-kota selalu sama,” pikirnya, “mereka hanya bangunan dan jalanan. Yang berbeda orang-orangnya, orang yang ingin engkau temui di kota itu. Itulah yang membuat setiap kota berbeda”.

Saat itu ia hanya ingin bertemu dengan sebuah nama di sana. Nama yang selalu ia rindukan dalam mimpi-mimpinya. Yang entah kenapa begitu menarik dan menawan.

“Tapi apa peduliku dengan nama. Aku tidak mencari nama. Kau bisa menyebut kelembutan padanya, bisa juga kau panggil dirinya dengan bunga, atau wati? Ah, kau bahkan bisa memanggilnya tanpa nama. Tapi dirinya, dirinya...” otaknya membeku.

Ia adalah sebuah wajah.

Tanpa Nama

Dia masih terjaga di penghujung malam itu. Memandang garis-garis eternit yang membelah platfom langit-langit menjadi kotak-kotak sama besar. Suasana hening, hanya ada suara cicak kesepian yang menyendiri di pojok kamar, atau jam dinding kecil yang menemani dirinya dari detik ke detik.

Tik.. tik.. tik.. pikirannya terhubung secara ajaib dengan bunyi-bunyi aneh dari peralatan kantor tempat dirinya bekerja. Mesin fax yang mengernyitkan matanya yang genit setiap ada kiriman masuk dari kantor pusat di Jerman. Suara aklamasi dari mailbox yang terus sibuk mengantar email-email yang begitu banyaknya, dengungan perlahan dari mesin fotocopy di ujung lorong yang menyita pikirannya. Dunia yang aneh.

Padahal, dahulu saat ia masih di desa, hanya ada desiran pohon bambu yang sangat akrab di telinga. Klintingan sepeda yu sarmi yang menjajakan baju-baju kredit dengan harga yang menggiurkan, serta teriakan bocah-bocah yang baru pulang dari memburu belut di sawah. Belum ada yang menyaingi suara-suara yang kini samar terus ia ingat di kosannya itu.

“Teetetet.. teetetet..” dua kali handphonenya berdering. Sebuah pesan singkat masuk.

“hmm.. apakah ini?” pikirnya.

Tidak ada petunjuk. Ia hanya mengenali tiga nomer pertama, tapi itu bukan pengetahuan yang pasti. Sisa nomer-nomer yang tergabung aneh, tidak memberikan jawaban akan nama si pengirim.

“sahur.. sahur.. bangun..”

Matanya dengan sayu memandang layar Nokia hitam itu, mengamati barisan huruf-huruf yang tersusun rapih. Huruf dan kata-kata yang telah ia hafal selama tiga hari belakangan.

“ah, sms ini lagi. Dari siapakah gerangan..”

Hari ini bukan pertama kali ia menerima sms sahur itu. Semuanya bermula tiga hari yang lalu. Tiga hari di mana kebekuan itu begitu terasa. Saat rasa sepi dan hambar menerpanya dan bayangan akan derai tawa yang dahulu pernah ia rasakan bersama kekasih hilang pudar.

“Seperti mendengar lagu dangdut..” ia menulis di status Facebook.

“makan, makan sendiri... tidur, tidur sendiri... “

kiranya cuma jejaring sosial ini yang mampu menghibur rasa sakit dan sedihnya. Kalau ia ingin berteriak, dengan segera teman-temannya di dunia maya balas menimpali dengan ledekan-ledekan yang menghibur hati. Beberapa memberi komentar yang menyejukkan, meski ia merasa bahwa itu hanyalah jilatan dan bualan laki-laki semata. Beda halnya dengan rekan-rekan kerjanya yang tidak malu-malu memberi komentar melecehkan.

“aku tahu mereka” pikirnya. “mereka telah berkeluarga, tak mungkin mereka benar-benar berniat mengganguku seperti buaya-buaya lain yang siap menerkam”.

Sebagai perempuan, tentu ia tahu bagaimana rasanya memiliki banyak penggemar. Saat pacaran dahulu ia bahkan menulis 'menikah' sebagai status hubungannya saat itu.

“aku tidak mau ada orang iseng yang mengirimi bunga dan foto-foto machonya kepadaku” ia tersenyum simpul. Ia membanyangkan betapa cerdasnya langkah itu. Beberapa pria yang ingin berkenalan tentu ketar-ketir melihat status hubungannya.

Tapi beberapa buaya memang berbeda.

Ia membayangkan sejumlah pria yang bahkan terus menggodanya hingga hubungan sebenarnya dengan sang kekasih benar-benar putus.

“no body lives alone in this world”
“tapi saya benar-benar sendiri”
“are you?”
“yup..”

Dan pesan berantai itu pun putus. Meninggalkan suasana sepi kembali yang menerkam dirinya. “Sudah larut”, dan ia tak ingin terlambat bangun sahur.

Malam berdesir, membawa kepala-kepala yang terjatuh lelap itu terbang melayang. Mempertemukan mata dengan mata, khayal dengan hati. Ombak berbuih, langit biru, karang-karang besar yang hitam legam, pantai putih berseri dan bibir merona. Merah delima bagaikan manis hendak terlumat. Dan langkah kaki yang lincah, bertelanjang alas meninggalkan jejak-jejak ringan di pasir yang terinjak basah. Udara yang segar menerpa wajah manis tersungging senyum, memancarkan warna penuh harapan. Dalam balutan kain-kain yang berkibar ungu di bawah terpaan angin pantai yang lembut. Selembut wajahmu, selembut bayangmu yang memantul di lensa mataku yang jernih dan bahagia.

“klik!” aku bergaya. “klik!”, aku cantik. “klik!”, aku cinta kamu.

“klik! Teet.. klik! Teet.. klik!”

“teetetet, teetetet, teetetet!” bunyi handphone memecah keindahan mimpi.

“ah, sms dari siapa tengah malam begini?”

“Sahur... sahur... bangun!”

Dia melihat tidak percaya, memandang baris-baris pesan di layar handphonenya sebentar dan sedetik kemudian ke jam dinding kecil yang terus berdetik. Tik..tik..tik..

03:01

Dia kucek matanya sebentar lalu dengan gerakan ringan bangun menuju dapur kecil dekat kamar mandi. Meraih sesedok nasi yang mengepul hangat dari balik magic jar merah tua. Menaruhnya di piring kaca yang telah hadir sepotong daging rendang yang ia beli saat berbuka tadi. Waktunya makan.

Itulah kali awal ia menerima sms sahur yang tidak pernah dia tahu siapa yang mengirimkan.