Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tentang Aku

Prolog 
From my early childhood, I was amazed by my name meaning. My father referred my named to great mountain system separated India from China and restricted Genghis Khan from obtaining control over that territory. From here, I should like to identify myself as a greatest person alive. I had a dream to do extraordinary effort towards my country. I gonna be a savior, a hero, an inventor or another distinguished person. Likes as Alexander the Great, Muhammad, or even Napoleon Bonaparte. And so, I tend to became a dreamy, because I had a lot of greatest thing to dream of. From there, I used to be alone, I had my own world differed from others and constructed various theory to explain anything. Thus affected my behavior, as my body rouse bigger than average, I became slower and my mind absorbed more. That’s why my neighborhood called me cloud, shortage of my official name. As you know, cloud are lying there above us about 42,500 to 16,500 feet, and had massively gigantic build. Nothing signify myself other than that.

As I grew up, there were less room to stay for clouds, It has to shared his place to other. From magnanimity, I learn much about limit and lack. Even I mellow in confines, still I had richness of amusement and interest. My credit now became my debt. Like clouds, I had no major capability the only dignity I had was my generality. As you know, in our age of specialty, to have no major interest means to have nothing. I realized, every hero has its own special ability, Superman synonymous to superiority, Batman to bat enigma, and Spider-Man to spider web, so what is my own? I had much interest but nothing to approved, for my attention changing continuously and shifting along my mind. I thought, am I great enough to be a man? Am I dazzled by my given supremacy name? Or, what is a name? Nothing, it’s nothing, but for me it’s identity, my distinctiveness.

I felt fragile. My heart trembled for fracture, my episteme start to wreck. So I initiated to learn about the name. I began to divided into its roots. What known to me was its suffix, for I implied as person or a man. Hence, what was prefix means? I went to my childhood belief, Himalaya. In Wikipedia, Himalaya, stand for two words: Hima and AlayaaHima was snow and Alayaa means home. Thus, Himalaya was home of snow. Therefore I translate my name as a snowman, a snow person.

The problem was I lived at tropical sphere, I didn’t familiar enough to snow, so I open Merriam Webster’s dictionary for looking term closed to snow. As noun, there was nothing special in snow, its only indication of freezing water vaporized at temperature below 0 celsius degree. In slang term it denotes to heroine and cocaine - it was’nt me at all. Then, I stared at its verbal meaning. To snow was a sign of cover and imprison. In psychological terms it was to deceived or to charmed. Sentence “I snow you” mean I was deceived you, or charmed you. I satisfied. But wait, there was still a possibility, i.e. to whiten like snow. If we applied on the sentence, it means I whitened you like a snow. Then snow is similar to white. Certainly the color of snow was white, and I guessed it’s reasonable to change snow to white because of my society more familiar to white color than to snow. From now I call my name as white. I am white.


***

Bukubuku
Perkenalkan, nama saya Himawan Pridityo, pada tahun 2006, saya berumur 25 tahun. Selama lima tahun sebelumnya, masih menjadi mahasiswa jurusan Aqidah & Filsafat (AF), di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Saya angkatan 2000. Ada yang bertanya, kenapa mengambil filsafat. Pertama, karena saya adalah lulusan pesantren, yang berarti kesempatan mengambil jurusan lain tidak terlalu besar kansnya. Entah karena saat itu ijazah saya masih belum banyak yang mau melirik, atau karena kemampuan saya yang tidak terlalu membanggakan. Dan di antara pilihanpilihan yang terburuk yang ada di mata saya, jurusan AF adalah yang terbaik.

Setahun sebelum kuliah, saya mengajar di Pondok Modern Gontor III Darul Ma'rifah. Saya dipercaya mengajar matematika dan bahasa Indonesia. Asal kalian tahu, dalam dunia pesantren, dua mata pelajaran ini bukanlah menjadi mata pelajaran yang utama. Tentu saja saya dipilih lebih karena merupakan pilihan terakhir dari sekian pilihan yang dianggap lebih mampu mengajar pelajaranpelajaran mainstream seperti nahwumutholaah atau ushul fiqh. Jadi begitulah dan setiap saya masuk mengajar sepertinya timbul rasa jemu di kalangan para murid. Apa mungkin saya tidak memiliki bakat di bidang ini?

Well, sebelum masa pengabdian yang setahun itu, saya hanyalah seorang santri kelas enam di Pondok Modern Gontor. Inilah alma mater saya, ia adalah ibu yang berusaha mendidik dan mengayomi putraputranya yang singgah dan kadang tak tahu diri. Aku sendiri tidak begitu mengerti kenapa saya terdampar di penjara damai ini. Yang saya tahu, selepas SD di Bekasi, saya dibawa oleh ayah saya menuju ke Jawa Timur. Pertama kali singgah selama hampir sepuluh bulan di Pondok Modern Arrisalah. Ini adalah pondok seorang alumni Gontor. Sekitar lima belas kilometer ke arah selatan. Inilah perkenalan pertama saya dengan dunia pesantren. Dan dalam umur belum genap empatbelas tahun, saya sudah dipaksa hidup sendiri bergerak di antara kerumunan orangorang yang terkadang tidak pernah dari memikirkan diri sendiri. Tahuntahun pertama di dunia pesantren adalah tahuntahun penuh egoisme. Mereka yang membanggakan asalusulnya, banyaknya uang jajan di saku mereka, bahkan jumlah mekanan yang tersimpan di dalam lemari pakaian. Kalau tak punya apaapa, paling hanya bisa merasakan makanan dapur yang tidak berselera itu.

Namun, pondok selalu memiliki cara membentuk ego yang tinggi ini menjadi sebuah kebersamaan. Dan itulah yang kupelajari di sana. Aku bertransformasi baik secara kejiwaan maupun secara fisik, untuk menerima bahwa kita telah mengalami kemajuan mental dari umur kita yang seharusnya. Dari mulai cara berpakaian yang begitu resmi, pakai pantofel, jelana panjang tanpa karet, ikat pinggang, baju kantor, dan berjalan bak orang kuliahan ke kelas, tanpa tas lagi. Padahal, kawan SD saya di rumah masih menggunakan celana pendek plus dasi yang aneh itu waktu berangkat ke SMP. Dan setiap malam Jumat, dengan berkoarkoar saya berorasi dengan bahasa Arab dan Inggris. Tahukah kau betapa sulitnya mengarang, apalagi yang ini, menggunakan dua bahasa asing itu. Jadilah setiap hari hanya bersahabat dengan buku. Pagi buku, malam buku, siang buku. Waktu istirahat, temanteman saya hanyalah tumpukan pakaian kotor yang menanti untuk dicuci, atau sebuah kesendirian di antara bangunanbangunan pondok yang berbentuk aneh itu. Tempat shalat yang mirip runaway bandara, serta selokanselokan kecil yang mirip dengan kanalkanal di Belanda. Dari sejak kecil ternyata saya adalah pemimpi.

Yah, hanya itulah yang membuatmu betah tinggal di pondok. Membayangkan orang tuamu yang menangis sedih berpisah dengan anaknya di rumah, atau harihari sunyi tanpa uang di celana, kupikir aku harus membentuk dunia imajinerku sendiri. Sebuah dunia dimana kita menjalani hidup di pesantren untuk menjadi yang terbaik. Itulah reason yang bisa kudapat dari keberadaanku di sana. Hasilnya, saya melewati kelas satu dengan nilai yang istimewa.

Beberapa bulan kemudian, Gontor membuka pendaftaran santri baru. Banyak sekali yang mendaftar, hingga 3500-an orang. Dari jumlah itu, hanya seribu lima ratus saja yang diterima. Saya diantara mereka yang berhasil itu. Sayang sekali saya tidak begitu sukses melanjutkan kelas menuju kelas 2 di Gontor. Syukurnya masih diberi kesempatan merasakan kelas 1 KPA (Khusus Pondok Alumni) yang berarti kalau saya berhasil melewatinya, langsung naik ke kelas 3. Dan di sini sekali lagi, sahabat saya hanyalah buku, cucian, dan temanteman anak KPA yang sangat berbeda itu. Mereka berbeda karena harus menelan pelajaran anak kelas satu dan dua sekaligus. Bayangkan saja. Dengan otak paspasan di kepala, apa jadinya kalau tidak pernah belajar. Sekali lagi, kembali berkutat dengan bukubuku.

Masa Krisis
Setahun kemudian saya naik ke kelas 3G. Lumayan, jadi nomer dua terbaik di kelas. Saya berhasil melewati masamasa kritis tadi dengan baik. Kelas 3G adalah sebuah masa slowdown bagi otak saya. Tapi dasar bawaan cara belajar yang gila sewaktu di kelas KPA tadi, malah melemparkan saya ke kelas 4B tahun selanjutnya. Kalau mau tahu, bagaimana pondok mengklasifikasi santrisantrinya, lihatlah pada urutan kelas mereka. Kelas di urutan teratas adalah B, dan paling akhir tidak tentu, tergantung jumlah murid yang terdaftar. Kala itu kalau tidak salah jumlah kelasnya sampai abjad K atau L. Bila setiap kelas berisi 40-an santri, bisa dibilang nasib saya jauh lebih baik dari 760 orang sisanya. Tidak terlalu eksak sih, tapi itu jelas kebanggaan, karena diraih dengan usaha yang keras. Di sinilah saya belajar mengenai ambisi.

Ada banyak klub yang bermunculan di Pondok. Mereka yang tertarik dunia olah raga tentu akan bergabung dengan klubklub sepakbola, bola basket, voli, takraw, body building, gymnastik dan tapak suci. Sedangkan yang memiliki bakat seni, pasti bergabung dengan klubklub musik, marchingband, kaligrafi, teater, dan qori. Sisanya, ada yang memilih bergabung dengan kelompok jurnalistik dan diskusi. AKhirnya, saya memilih bergabung dengan ITQAN yang merupakan klub diskusi ilmiah. Kenapa saya memilih ITQAN? Alasannya sederhana, karena saya tidak memiliki kecenderungan fisik dan seni. Dulu pernah ikut klub qari, tapi karena suara saya sumbang, tidak sampai sebulan saya mengundurkan diri. Setelah itu ikut klub kaligrafi. Aduuh, tulisan saya jelek sekali nih. Kembali mengundurkan diri. Beberapa kali berniat masuk klub gymnastik, tapi gak pernah kesampaian. Marchingband? Sori, saya gak narsis kok. :D

Alasan yang tepat saya menyukai ITQAN adalah karena di sana terdapat banyak majalah dan koran, itu saja. Jadi saya bisa membaca majalah dan koran sepuasnya, selain letak gedungnya yang sangat strategis dan cukup aman, sehingga kadangkadang bisa bersembunyi dari kejaran bagian keamanan yang sering menstrap santrisantri yang terlambat ke masjid. Hee.. ternyata pendekatan spiritual saya sedikit berbeda dari orang kebanyakan. Tentu saja, karena saya bukan lahir dalam keluarga santri yang memiliki tradisi keagamaan yang kuat. Saat saya pergi ke pondok, ayah saya saja masih belum bisa baca al-Quran. Kalau ibu sudah sejak lama bisa, meski terpatahpatah. Entah bagaimana, tibatiba ia terinspirasi mengirim anaknya ke pondok. Dan setelah lebih dari tiga tahun bertahan di sana, dimana kebanyakan temantemannya yang mengirim anak ke pondok banyak yang gagal, beliau malah mengirim adikadik saya semua ke Gontor. Jadilah keluarga kami yang pertama memiliki lulusan pondok. Betapa bangganya dia. Tapi anehnya, sekeluar dari Gontor, tidak ada satupun diantara kami bertiga yang berniat jadi ustadz.

Tahun berikutnya, saya naik kekelas 5B. Di tahun ini, dapat kepercayaan menjadi penggerak bahasa di rayon shigor baru. Shigor itu terminologi pondok untuk mereka yang berasal dari bangku sekolah dasar, sedangkan lulusan smp atau sma semuanya masuk rayon kibar baru. Shigor berarti anak kecil dan kibar berarti anak besar, dan saya sendiri seorang shigor. Jadilah bertemu mereka yang ratarata masih berumur 12-14 tahun. Masih lugu dan ingusan. Mereka tinggal di sebuah asrama yang diurus oleh para senior kelas 5 dan saya adalah satu dari sekian pengurus itu, yang tiap hari berdiri didepan kamar yang berisi hingga 50-an santri mengajarkan kosakata bahasa Arab dan Inggris yang baru.

Kelas lima adalah nafas dari pondok. Semua organisasi santri dipegang anak kelas lima. Mulai dari tingkatan asrama atau rayon, hingga kepengurusan di koperasi, keamanan, informasi, hingga dapur. Setengah tahun menjadi penggerak bahasa, saya diangkat menjadi pengurus kantin. Memang bukan posisi yang prestise, tapi di situlah saya memiliki privasi yang sangat jarang dimiliki setiap santri. Saya memiliki kamar sendiri, hanya dihuni saya seorang. :p

Ketika kamu memiliki kesunyian, akan banyak sekali yang bakal kamu temui tentang dirimu, siapa kamu, mau kemana, tujuantujuan hidupmu dan apa yang bakal kamu lakukan selepas dari pondok. Pertanyaanpertanyaan seperti itulah yang mulai merasuki pikiran saya di usia saya yang kedelapanbelas tahun itu. Dan saya mulai terinspirasi oleh ceritacerita orang besar mulai dari Nabi Muhammad, Alexander The Great, para penakluk dunia, para intelektual, orangorang yang berhasil menorehkan namanya dengan tinta emas diatas lembarlembar sejarah. Mimpiku jauh terbang ke langit, meninggalkan ambisi lamaku untuk menjadi yang terbaik di pondok. Awal kelas 6, dan saya sudah tidak peduli dengan kegiatan sekolah. Jiwa saya sudah lama berkelana keluar dari batasbatas penjara suci itu. Saya bermimpi sekaligus bertanya, merancang sekaligus menghancurkan. Seperti membangun istana pasir yang lalu hanyut terbawa ombak. Saya mengalami krisis kepribadian yang pertama.

Dan begitulah, di tahun itu saya juga melepas jabatan sebagai pengurus kantin, kembali lagi sebagai santri biasa. Kelas saya juga turun menjadi kelas 6C. Tidak ada yang bisa saya banggakan pada tahun itu, kecuali pada semester pertama, nilai raport saya adalah yang kedua tertinggi sekelas 6. Sayang sekali, karena krisis yang masih berlanjut sehingga tidak cukup konsentrasi untuk ujian akhir yang mengujikan hingga lebih dari 24 mata pelajaran selama seminggu penuh. Saya benarbenar kehilangan mood untuk belajar. Mungkin inilah puncak dari kejenuhan itu, meski saya cukup beruntung bisa lulus dengan nilai biasabiasa saja. Tidak lebih dan tidak kurang. Standar.

Di sebuah yudisium yang mendebarkan, sebuah amplop putih duduk manis di tangan saya. Ananda kami tempatkan untuk mengabdi di Gontor III. Akhirnya saya lulus dan dapat keluar dari pondok. Setelah lebih dari enam tahun. Melewati berbagai macam pengalaman yang sangat berkesan, kehilangan sandal dan pakaian berkalikali; kena pukul, tampar berkalikali; Masamasa belajar penuh tekanan dan kegiatankegiatan yang sangat melelahkan. Kini aku dapat bernafas barang sebentar. Sebentar, hanya sebentar, karena setelah itu pertanyaanpertanyaan di kepala saya terus mengejar.

Dunia Filsafat
Bisa dibilang, dunia santri itu adalah dunia buku, dunia ide. Di sana, saya memiliki sahabat yang mempunyai koleksi bukubuku yang bagusbagus. Satu diantara koleksinya adalah Dunia Sophie. Saya pinjam bukunya tersebut dan saya baca sekilas. Mengagumkan. Medio 90-an benarbenar masa berseminya intelektualitas di Indonesia. Di sana Mizan mencapai kadar penerbitan bukubuku pemikiran yang subur. Mulai dari pemikiran Islam ala Iran, kelompok kiri, filsafat, post-modernisme hingga ideide cak Nur yang semakin matang. Kecenderungan intelektual saya tumbuh bersama Mizan. Dan sebagaimana setiap orang yang tengah melakukan sebuah pencarian jati diri, saya secara alamiah terserap kedalam filsafat. Dari uang hasil mengajar yang hanya limapuluh ribu rupiah sebulan itu, saya datangi toko buku di Kediri, membeli Dunia Sophie. Itulah awal perkenalan saya dengan ideide dunia, sekaligus sebuah raison d'etre masuk jurusan AF.

Tahun 2000, ekonomi Indonesia masih moratmarit, pengagguran tinggi. Gabungan gaji kedua orangtua saya tidak mungkin cukup untuk menguliahkan saya bersama adikadik yang masih di Gontor itu. Mereka bilang, kalau tidak kuliah di Perguruan tinggi negeri, saya harus meninggalkan keinginan saya untuk kuliah. Langkah pertama saya ikut UMPTN, mendaftar jurusan Hubungan Luar Negeri di UI. Waktu ujian, betapa kagetnya saya dengan metode yang ada. Kertas lembar jawaban pilihan dengan mengisi lingkaranlingkaran kecil dengan pensil HB. Sangat berbeda dengan sistem ujian di Gontor yang menggunakan essay. Karena tidak terbiasa, sekaligus asing dengan pertanyaanpertanyaan yang ada, saya gagal di ujian tersebut. Beruntung, beberapa minggu kemudian lulus di ujian masuk IAIN. Dan demikianlah, ia menjadi alma mater saya yang kedua. Tahun 2000 adalah tahun pertama saya kuliah.

Kalau mau tahu, uang kuliah saya di IAIN itu sangat murah. Hanya limapuluhribu rupiah per bulan, atau tigaratusribu rupiah persemester. Murah sekali bukan? Masih jauh dibawah uang SPP Gontor yang seharga tujuhpuluhlimaribu sebulan pada waktu itu. Bisa dibayangkan kualitas macam apa yang mau ditawarkan oleh pendidikan semurah itu. Apalagi bila dibandingkan dengan uang kuliah di UI yang saat itu mencapai satujutalimaratusribu persemester, masih kalah jauh. Tapi memang uang bukan segalanya kok. Belakangan saya berbincang dengan kawan kuliah saya yang melanjutkan master di UI pada bidang psikologi, ia bilang, ternyata anakanak filsafat UIN (dulu IAIN) lebih baik daripada filsafat UI. Intelektualitas UIN itu sangat jauh berkembang dibanding di Depok, meski untuk urusan filsafat, pendidikan yang terbaik adalah tetap di STF Driyakara.

Menyebut cara pendidikan di UIN sebagai anomali, sebenarnya sangat beralasan. Sejak dahulu, nama IAIN itu selalu menyandang predikat yang sangat buruk. Di mata kaum pesantren, UIN adalah penyimpangan. Mereka terlalu bebas dalam pemikiran keagamaan dan secara moral juga lemah. Dimata kaum sekuler dengan universitasuniversitas unggulannya, UIN hanya anak baru gede dan tidak dianggap. Lulusannya paling hanya mengajar di kampus yang paling berapalah gaji mereka, tidak ada prestise sama sekali. Menurut saya mereka benar. Tapi ada bagian yang mereka lupakan dari UIN. Pertama, kesanalah mengalir lulusan pondok pesantren seluruh Indonesia. Yang tentunya di sanalah benchmark moral dan intelektualitas pesantren diuji. Maka, setiap kekeliruan moral dan intelektual dari mahasiswa UIN, sebenarnya merupakan cerminan sesungguhnya dari watak pesantren kita. Bisa dibilang pesantren hanya mengulurulur waktu, dan semuanya terjadi begitu saja di UIN. Kedua, kehidupan intelektualitas tumbuh subur di sana. Jadi meskipun dari segi IQ dan status sosial lebih rendah dibanding universitas negeri sekuler, tapi mahasiswa UIN itu jauh lebih terasah dalam bidang pemikiran. Saya menyebut ini sekedar memperhatikan argumentasi kawan saya itu yang membagi tipologi intelektualitas dunia ke dalam dua bagian: Eropa dan Amerika.

Begini, intelektualitas Eropa, terlebih Prancis itu sangat memperhatikan argumentasi ide dan abstraksi yang kuat. Mereka lebih terfokus kepada ideide canggih, ketimbang metodologi riset serta cara pengujian sebuah ide. Sebaliknya, intelektualitas Amerika itu lebih terpusat kepada pengolahan data empiris semata. Argumentasi ide dan abstraksi mereka sangat minimal. Eropa itu spekulatif dan Amerika itu praktis. Universitas sekuler di Indonesia itu kebanyakan berkiblat ke Amerika. Dalam berbagai bidang, mulai ekonomi, sosiologi, psikologi bahkan filsafat. Sepertinya mereka mengikuti jejak ilmuilmu alam yang menekankan pada analisis data semata. Karena kebanyakan mahasiswa UIN itu lulusan pesantren, dan mereka lebih terlatih berpikir dengan cara Eropa daripada Amerika, tentunya metodologi riset mereka jauh lebih lemah. Tapi dalam dunia ide, terdapat ledakan wacana yang sangat hebat di sana. Sesuatu yang bahkan tidak muncul saat kita menggunakan pola pikir Amerika yang kering itu. Mungkin karena itulah, perkembangan pengajian jauh lebih menjamur di universitas non-Islam daripada di UIN. Alasannya satu, pemikiran mereka terlalu kering dan kehilangan fantasi. Sementara anak UIN tenggelam dalam spekulasi pemikiran yang tanpa tendeng alingaling.

Para Sahabat
Untuk menyebut bahwa mahasiswa UIN terlibat seluruhnya dalam dunia pemikiran saya pikir terlalu berlebihan. Di kelas saya saja, AF, itu terdapat empat golongan manusia. Pertama, mereka yang belajar filsafat dengan sungguhsungguh dan ikut benarbenar ke dalam kancah intelektualitas UIN. Kedua, mereka yang belajar filsafat sungguhsungguh tapi tidak mau terlibat begitu dalam. Ketiga, mereka yang belajar filsafat asal-asalan, yang penting terlihat berbeda saja. Dan keempat, mereka yang entah kenapa tidak mengerti, kenapa dirinya belajar filsafat ya? Dari keempat golongan tersebut saya termasuk kedalam golongan kedua.

Golongan pertama, adalah anakanak Formaci (Forum Mahasiswa Ciputat). Mereka sangat terpengaruh oleh pemikiran Mazhab Frankfurt dan memiliki relasi yang cukup bagus dengan mahasiswa Driyakara. Kebanyakan lulusan pesantren. Alumninya seperti Saidiman, Akib, Didi Ahmadi, Adri Nugraha, memiliki pola pikir liberal. Sebenarnya juga, semua mahasiswa AF itu memang berpikir liberal. Tapi mereka ini liberal yang terlembagakan. Dalam kasus penolakan jilbab, merekalah yang pertama kali maju kedepan berorasi di hadapan publik. Saidiman itu memulai pemikirannya sebagai aktivis lebih dahulu daripada mendalami pemikiran Heideggar. Terus terang, saya selalu menunggu presentasi dari kelompok ini karena selalu membawakan ideide segar.

Kelompok kedua, saya sendiri, Idham, Asari mungkin juga Tuhfah dan Mahidin serta Aldi. Kami memang tidak tergabung dalam kelompok apapun, hanya Mahidin yang memiliki koneksi HMI. Tapi jelas kami sangat tertarik belajar filsafat. Banyak bukubuku filsuf yang kami fotokopi dan baca serta dalami sendiri. Idham itu mendekati Sartre, Asari menyukai Ponti, sehingga belajar bahasa Prancis. Dan saya, awal mulanya tertarik kepada filsuf idealis macam Kant, Hume dan Hegel, tapi lama kelamaan lebih cenderung ke tradisi filsafat Inggris macam Russell dan Wittgenstein. Saat perpindahan dari tradisi filsafat Jerman yang idealis itu kepada filsafat Inggris yang analitik, ternyata saya juga menemukan kenikmatan tersendiri saat mempelajari Semiotika. Di sini, kecenderungan berbahasa saya juga diperkuat. Apalagi, semiotika itu kan lebih dekat kepada post-modernisme di satu sisi dan cultural study di sisi lain, sehingga kefasihan sejarah saya sangat berguna di sini. Meskipun demikian, saya masih juga tidak beranjak dari Tractatus-nya Wittgenstein. Jadi di kelas itu kami bisa saling menemukan referensi. Kalau ingin tahu Mazhab Frankfurt yang ke geng Formaci, kalau filsafat Prancis ke Idham dan Asari, kalau Wittgenstein dan Russell ke saya.

Adakalanya, dalam diskusidiskusi tingkat lanjut, kami menggunakan perspektif yang berbeda. Jadi yang satu mengungkapkan pemikiran Jerman, satu lagi Prancis, dan saya Inggris. Sayangnya, tidak ada yang tertarik dengan pemikir Amerika. Benarbenar pengalaman yang menarik dan tidak pernah ada konklusi apaapa. :D

Golongan ketiga adalah anakanak Forkot dan klub olah raga. Golongan keempat adalah minoritas tiga dara dan para kumbang di sekelilingnya, yang sayang sekali tidak pernah sampai cintanya. Hee...

Saya tidak pernah kos waktu kuliah, meski jarak Bekasi - Ciputat itu bisa mencapai 2 hingga 3 jam perjalanan. Jadi waktu saya memang habis di perjalanan saja. Di rumah, secara alamiah juga saya bergabung dengan remaja Masjid. Di sini saya dibaiat sebagai ketua. Tapi, masa kepemimpinan saya memang tidak terlalu lama. Namun demikian, setidaknya kami ikut berpartisipasi dengan mendirikan persatuan remaja masjid setingkat kecamatan, beberapa acara ilmiah yang tidak pernah ada peminatnya dan pengajian ala kadarnya. Apa mungkin saya tidak berbakat di dunia sosial kemasyarakatan? Saya rasa semua bermuara pada harapan kami yang berbeda. Mereka yang aktif di masjid memandang saya pas menjadi penerus mereka menghidupkan kegiatan masjid, karena jelas saya lulusan pesantren. Sedangkan kecenderungan filsafat saya semakin menguat dan saya juga tengah mengalami badai krisis kepercayaan.

Arus Balik
Kalau kamu pernah belajar filsafat sungguhsungguh, tentu akan merasakan hal yang sama seperti saya. Bahkan Imam Ghazali pun pernah tiga tahun krisis keimanan garagara belajar filsafat. Makanya, banyak sekali orang yang mengharamkan filsafat. Sayangnya, mereka yang mengharamkan itu tidak pernah mengerti seperti apa sebenarnya para filsuf itu. Kalau saya ibaratkan berfilsafat itu sebagai berlayar ke lautan yang ganas, ada memang orangorang yang takut berlayar, tapi ada juga yang berani menantang ombak. Orangorang takut ini kadangkala berbicara atas dasar ketakutan mereka, melarang ini itu, padahal tidak ada keberanian sedikit pun menyelami spekulasi pengetahuan. Adapun para pemberani ini adalah mereka yang membiarkan dirinya dilanda gelombang keraguan filsafat yang kejam itu. Dan jadilah saya mengalami keraguan yang serupa. Mengalami krisis keimanan, bahkan kepercayaan. Saya bahkan tidak percaya terhadap Tuhan, khutbahkhutbah, pendapat orang lain dan bahkan pemikiran saya sendiri.

Tapi memang hidup di dua dunia itu benarbenar menyakitkan. Di kala saya memutuskan berhenti shalat, malah diangkat jadi anggota PAN dan PKS. Temanteman kuliah saya pada ketawa, mereka bilang saya satusatunya anggota partai yang theis. Tidak percaya Tuhan kok malah masuk PKS. Ampuuun, ampun. Dan di dua dunia itupun saya saling meniadakan. Saya berusaha secara halus menyudahi keterlibatan saya dalam sosial kemasyarakatan, dan dalam pencarian filosofis pun saya berusaha menemukan argumentasi yang pas tentang Tuhan. Semuanya bergumpal di kepala saya tanpa ada penyelesaian apaapa. Hingga suatu ketika saya dihadapkan pada sebuah kenyataan yang cukup pelik. Saya jatuh cinta.

Well, umur 23 tahun dan itulah pertama kali saya jatuh cinta. Cinta yang absurd saya bilang, karena malah memendam rindu kepada orang yang menurut saya tidak pantas bercokol di kelas filsafat. Anna namanya. Ia adalah antitesis dari saya. Tidak memiliki tujuan dalam berfilsafat dan entah kenapa masih saja betah kuliah. Mungkin karena kami sering bertemu di atas bus, dan mungkin juga hormonhormon di tubuh saya sudah semakin matang. Bisa jadi karena ia sangat modis dan saya urakan. Hampir tidak pernah berpikir tentang selera busana yang gaul dan trendi. Saat kau berbicara tentang wanita, kamu pasti akan berpikir tentang uang. Saat berpikir tentang uang, kamu pasti akan berpikir tentang kehidupan nyata, tentang sebuah kemapanan, pekerjaan tetap, atau bagaimana agar setiap saat terdapat uang di sakumu. Kamu berpikir tentang dunia yang membumi. Dan begitulah, saya dibangunkan dari mimpimimpi filosofis saya dan dari ketidakpercayaan saya terhadap Tuhan bukan karena saya menemukan sebuah formula jitu yang brilian, atau karena tahapanfilsafat saya begitu hebat, tapi karena wanita.

Mungkin saja, ketidakpercayaan saya terhadap Tuhan merupakan sebuah bentuk ketidakpuasan dan krisis kepribadian yang telah saya alami sejak di pondok. Semuanya mendapat amunisi yang lengkap saat mempelajari filsafat. Tapi ia hancur begitu saja saat bertemu dengan cinta. Dari kesombongan intelektual yang tiada taranya, saya menjadi sosok yang begitu rapuh. Sangat rapuh, hingga akhirnya menemukan kembali sebuah tempat berpaling kepadaNya. Relasi aku dan Tuhan selalu dibangun atas dasar rindu dan benci. Benci, karena saya menjadi tidak berdaya dan rapuh, rindu karena saya bisa menemukan sesuatu yang hilang pada diriNya. Inilah saatsaat di mana spiritualitas saya mencapai puncaknya, dan saya kembali lagi dari krisis kepercayaan yang akut itu.

Sampai akhir kuliah saya tidak pernah mengungkapkan perasaan saya. Saya baru bisa bicara dengan lancar padanya saat saya pergi jauh ke Makassar di umur saya yang ke-25. Barangkali ia merasa saya akan mengatakan sesuatu padanya. Beberapa hari kemudian, kawan saya yang lain memberitahu bahwa bulan Desember tahun itu Anna akan menikah. Saya sampaikan selamat padanya, dan sejak itu kami tidak pernah berhubungan lagi.Terakhir kali hanya lewat SMS saja sekedar menanyakan kabar dan apa dia sudah memiliki anak, ternyata belum.

Masa Depan
Setelah titik balik keimanan saya di umur 23, semua berjalan dengan cepat. Saya lulus kuliah setahun kemudian dengan nilai istimewa. Skripsi saya berjudul Kritik Ibn Taimiyah dan Wittgenstein terhadap Filsafat. Setelah itu mengurusi warung kecil dirumah selama hampir delapan bulan sebelum bekerja di umur 25 tahun. Persis seperti yang saya rencanakan dan yang selalu saya minta kepada Tuhan. Dari titik itu, saya selalu berpikir tentang rencanarencana masa depan saya. Filsafat memang tidak saya nafikkan, tapi saya benarbenar ingin membentuk sebuah imagi diri saya yang benarbenar baru. Saya ingin keluar dari bayangbayang filsafat. Bukan karena saya membenci subjek tersebut, tapi karena saya terlalu mencintai filsafat.

Yang paling mengganggu saya adalah fenomena JIL. Terusterang saya berada di titik perdebatan itu. Pemikiran liberal filosofis saya, serta tradisi kepesantrenan saya. Terlalu banyak kepentingan di dalamnya. Untung juga saya tidak berafiliasi ke JIL meski punya banyak kawan di sana. Bagi saya, kesalahan utama mereka adalah tidak dapat membedakan audiens. Inovasiinovasi agama ala JIL semestinya hanya konsumsi terbatas kalangan intelektual saja, bukan untuk disebarkan ke masyarakat luas. Liberalisme pemikiran sendiri harus berada di gedunggedung universitas, sebuah tempat yang hanya memiliki nilainilai intelektualitas semata. Bukan di forum pengajian, atau ceramahceramah populis. Maka munculah resistensi yang keras dari kalangan agamawan. Parahnya, yang liberal juga ikutikutan keras. Tidak ada yang mau mengalah. Ah, apa ini karena uang?

Dahulu, dosen saya yang pernah dikirim keluar negeri berucap, bahwa beasiswa yang mereka terima tak lain dan tak bukan hanyalah upaya agar program studi Islamic study tetap dibuka. Begitulah pola pikir Amerika yang praktis. Bila sebuah program studi tidak ada peminatnya, ada kemungkinan program tersebut ditutup. Agar tidak terjadi, dibuatlah sebuah beasiswa yang menargetkan dosendosen agama sebagai mahasiswanya. Program studi tidak ditutup, para pengajar dapat duit dan peminat beasiswa ikut senang. Coba pikir, untuk apa gunanya anda belajar agama hingga S3? Ini pertanyaan umum, entah bagi mereka yang belajar di Mesir, Arab Saudi, Malaysia, atau bahkan di Kanada sekalipun. Apa kuliah itu menjamin kehidupan finansial anda? Katakan bahwa kemudian anda mengajar dan jadi pegawai negeri. Apa tujuan kuliah itu untuk belajar ataukah mencari kehidupan? Kalau untuk belajar, apa sebenarnya yang anda hasilkan? Bukukah? Atau katakan, apabila suatu ketika program studi anda mengalami penurunan minat, bisakah anda berkata tidak kepada program beasiswa sebagaimana yang terjadi pada dosendosen Islamic Study di Amerika itu? Katakan, apa tujuan intelektual kita?

Karena kita tidak pernah bisa memberikan kontribusi material dari pekerjaan kita, pada akhirnya kita menjadi begitu tergantung kepada materi. Beruntunglah mereka yang menjaga idealisme mereka dan mampu hidup dengan sederhana. Saya banyak menyaksikan orang seperti ini di hidup saya. Mereka orangorang jujur dan tulus, yang memiliki pendirian yang kuat. Tapi kemanakah mereka? Saat kerakusan di pasar global mencuat. Bila pun ada, mampukah mereka melakukan perubahan itu? Bahkan, departemen agama pun sudah menjadi sarang penyamun. Kita terkikis oleh korupsi. Saat kita membiarkan orangorang jujur ini tersingkir, sebenarnya kita telah menjerumuskan bangsa ini kepada kehancuran. Lalu siapakah yang bertanggung jawab?

Akhirnya kukatakan, sekalikali ku takkan mau melacurkan pengetahuanku untuk uang. Janggal memang, tapi kalau kau mau teliti, berapa banyak biaya yang dikeluarkan untuk sebuah penelitian, beasiswa yang tidak produktif dan lain sebagainya. Kamu akan tahu, ternyata apa yang kita beri terhadap intelektualitas itu terlalu banyak dari apa yang kita dapat. Karena kita pada akhirnya bergerak di antara kepentingankepentingan pemilik modal dan penyandang dana. Jikapun tidak, akan sangat memalukan dapat hidup dengan penuh kecukupan, atas nama intelektualitas yang kita khianati itu. Dan daripada melihat intelektualitas saya tergadai, kenapa tidak terjun terangterangan kedalam dunia materi itu. Pasar bebas, bisnis internasional, bagi saya itu jauh lebih jujur dan memuaskan. I believe I can change the world by that way.


Epilog
 Dahulu, ada dua malaikat yang turun ke bumi untuk membuktikan sendiri betapa susahnya menjadi manusia. Seorang diantaranya gagal mengendalikan hawa nafsunya, maka iapun berdoa kepada Tuhan, agar diangkat kembali menjadi malaikat. Yang kedua juga demikian, dan Tuhanpun mengangkat keduanya ke langit menjadi malaikat lagi. Di sana mereka mengatakan, ternyata jadi manusia itu susah. Mereka yang tidak terbiasa dengan godaan yang ada bakal hanyut terbawa godaan tersebut. Tuhan tersenyum mendengar penjelasan mereka.

Di bawah sana, ternyata ada seorang malaikat lagi yang masih tetap tinggal di bumi. Ia masih tinggal di sana meskipun tahu dunia itu lebih kejam daripada langit. Godaannya banyak dan cobaannya dahsyat. Tapi ia tetap bertahan karena yakin ia mampu merubah itu semua. Bertahuntahun kemudian ia berhasil memenuhi nazarnya menjadi orang yang bermanfaat di bumi. Dengan kemampuannya, ia membawa dunia yang hancur itu kepada kemajuan, memperbaiki moral mereka yang bejat dan menjadikan dunia laksana surga.

Ketika kiamat, ketiga malaikat ini bertemu. Dua malaikat pertama kaget mendengar cerita malaikat ketiga. Keduanya bertanya, "
bagaimana kamu bisa bertahan menghadapi cobaan sebagai manusia?" Ia berkata,"saya hanya yakin dan percaya bahwa saya bisa melakukannya. Dan saya bekerja sungguhsungguh untuk itu". Dan Tuhan pun memasukkannya kedalam golongan hambahambaNya yang bersyukur.

***


Dua tahun kemudian, saat umurku 27 tahun, kumulai menulis blog ini sebagai sebuah catatan perjalanan sekalgus reminder tentang cita-cita yang telah saya rumuskan.

Aku sendiri berharap menjadi malaikat ketiga itu.