The Blueprint of My Life

Term blueprint, awal mulanya berasal dari disiplin ilmu arsitektur. Istilah ini bermakna sebuah lembaran kertas besar di mana struktur dan denah dasar sebuah bangunan dibuat, didokumentasikan dan kemudian disimpan agar apabila sesuatu hal terjadi dengan struktur bangunan tersebut, kita cukup melihat lembaran kertas ini. Menganalisis letak kesalahan yang ada tanpa harus membongkar bangunan yang telah jadi. Sebagaimana istilah lain yang bersifat trans-discipline, maka saya memaknai istilah ini sebagai sebuah guideliness perjalanan hidup saya yang akan datang. Ia melebihi sebuah resolusi yang hanya setahun itu, bahkan juga road map yang bersifat taktis. Boleh dikatakan, istilah blueprint saya gunakan dalam kapasitasnya sebagai sebuah kompas tujuan bukan jalan kaku yang getas. Dalam bahasa marketing, plan of action, rencana aksi.

Dasar

Lebih dari tiga tahun sudah saya merancang blueprint ini, yang memiliki cakupan lebih dari empat puluh lima tahun kehidupan saya ke depan. Berkalikali saya sempurnakan, saya renungkan konsekuensikonsekuensi yang ada, dan berapa besar cost yang akan dikeluarkan. Dan lebih dari tiga tahun itu pula saya belum melakukan start. Well, mungkin pikiran saya masih terbagi antara memenuhi panggilan hati dengan keinginan orang lain. Yang saya maksud itu orang tua saya. Itulah repotnya jadi anak pertama, semuanya kita yang bawa. Tapi ketika beban itu berangsurangsur pergi, dan mereka mulai bisa memahami jalan pikiran saya, berarti tinggal menjawab pertanyaan terakhir. Kapan kita akan memulainya? Dan dalam hemat saya, tahun ini akan saya mulai rencana empatpuluhlima tahun kehidupan saya yang akan datang.

Kalau ditanya, apa dasar dari rencana aksi ini. Saya hanya bilang bahwa itu merupakan hasil pergumulan pemikiran saya sejak kelas 4 di Gontor hingga saatsaat terakhir di bangku kuliah. Mungkin itu sebuah kemuakan yang sangat terhadap masyarakat kita, sebuah ajang pembuktian diri, sebuah loncatan spiritual dan intelektual yang dalam, sebuah kegelisahan yang kerap merongrong saya, bahkan juga sebuah etos. Yang entah saya sadari atau tidak senantiasa hadir dalam mimpimimpi saya. Dan setiap kali saya mencoba keluar dari rancangan ini, entah kenapa selalu muncul rasa bersalah dan gamang. Meski ketika kembali lagi kejalurnya, sebuah tantangan maha dahsyat yang menciutkan nyali telah menanti. Cuma entahlah, meski saya tahu jalan yang akan saya tuju itu tidaklah mudah, saya selalu melihat cahaya di sana.

Memang yang akan saya ketengahkan di sini, jauh dari sebuah blueprint yang sempurna, yang seharusnya: resonable, specific, challenging, dan measurable, sesuai koarkoar bos saya. Tapi setidaknya, sebuah rencana yang matang itu lebih baik dari rencana yang tidak matang. Dan rencana yang tidak matang itu jauh lebih baik daripada tidak ada rencana sama sekali. Entah apa yang bakal terjadi di tengah jalan, itu bukan urusan saya. Tanggung jawab saya adalah menjalankan blueprint ini sebaikbaiknya.

POA

Tujuan utama saya adalah membuat negeri ini jauh lebih baik. Bagi saya ini adalah tanggung jawab intelektual yang harus kita emban. Tapi apa bisa kita merubah negeri ini? Kawan, ia terlalu besar. Mungkin lebih baik bila kita turunkan sedikit sekedar memperbaiki daerah kita saja terlebih dahulu. Masih besar? Kenapa bukan lingkup RT dahulu. Masih besar lagi? Yang kecil. yang paling kecil. Yang atomis. Diri kita dahulu. Dari situlah akan saya mulai.

Untuk merubah sebuah bangsa kita harus berada dalam jajaran eksekutif. Legislatif tidak akan pernah memuaskan. LSM hanya penggembira, guru dan dosen? Bisakah mereka merubah? Anggap saja kita adalah produk mereka dan kita adalah agen perubahan itu. Tapi untuk menjadi eksekutif, kau butuh modal. Tidak ada profesi yang menjanjikan modal besar selain seorang kelas menengah yang kuat. Industriawan, usahawan, dan yang sejenis. Jaman macam ini, kalau bukan karena kamu keturunan orang yang sangat kaya, atau koruptor kelas kakap, serta oportunis sejati, jelas sangat susah mengumpulkan modal yang besar. Karenanya saya akan mengambil strategi menjadi anggota kelas menengah itu.

Tapi apalah saya. Lulusan pesantren dan fakultas filsafat. Apa bisa menjadi pengusaha. Tentu bisa, asal memiliki mental enterpreneur sejati. Tapi saya tidak punya. Keluarga saya hanya keluarga PNS biasa, dan pola pikir mereka hanyalah pola pikir karyawan. Hidup mati untuk negara, jauh bukan. Akhirnya saya memilih kompromi. Saya akan belajar sebagai seorang karyawan untuk kemudian meniti karir hingga tingkat tertinggi, baru kemudian memulai tahapan sebagai seorang usahawan. Anggap saja, saat saya memutuskan beralih profesi, saya telah memiliki back up knowledge dan skill yang mencukupi. Dan dalam usia yang masih muda, tentu saja masih memiliki tenaga dan semangat yang tinggi. Karenanya saya akan memilih umur 40 tahun sebagai titik tolak dari karyawan menjadi pengusaha.

Lalu apa yang saya kerjakan untuk ke sana? Coba lihat karakter bangsa kita, apa mereka masih melihat ijazah sebagai hal penting? Saya rasa begitu. Untuk meniti karir dari bawahan hingga CEO, kalau bukan merupakan orang yang sangat hebat dan pintar, kau harus pandaipandai menjilat. Itu realitas. Dan saya bukan termasuk dari kedua orang tadi. Jadi bagaimana? Selalu ada cahaya dalam pendidikan. Yup, saya akan sekolah lagi. Pindah jurusan, ambil bisnis, dan melaju dalam karir hingga pensiun dini di usia 40 tahun pada level CEO. Itu berarti tigabelas tahun lagi dari sekarang.

Dari 40 ke 50, adalah waktu yang cukup membesarkan sebuah perusahaan, sekaligus belajar bagaimana memanage organisasi, karyawan, keuangan dan lain sebagainya yang tentunya sangat bermanfaat saat terjun sebagai eksekutif, entah di level nasional maupun daerah. 50 tahun, saya akan mencalonkan diri saya, masuk ke arena politik. Pertanyaan yang paling krusial, apa yang akan saya lakukan?

Memberantas kemiskinan? Menurunkan angka pengangguran? Itu bagus. Tapi yang penting bagi saya adalah memberi ruang kepada setiap warga negara. Saya rasa itu masalah kita. Terlalu banyak manusia dan terlalu sedikit yang dapat dikerjakan. Medan ekspresi yang tidak terlalu sempit juga terlalu longgar, itulah letak dari pergerakan manusia. Awal dari sebuah kebangkitan. Sebuah gerak dinamis yang memiliki sasaran. Dan itu adalah garis besar misi saya. Saat ini memang belum spesifik, tapi akan saya sempurnakan lagi pemikiran ini.

Sepuluh tahun merubah sebuah bangsa memang tidak mungkin. Tapi saya kira itu adalah waktu yang pas bagi seseorang menduduki kursi jabatan. Kurang dari itu, rencananya tidak akan berhasil. Lebih dari itu, ia akan terlena dan menjadi seorang diktator yang korup. Banyak sekali contoh yang bisa kita lihat dalam sejarah. Untuk itu saya akan kembali lagi ke dunia pendidikan pada umur 60. Mendirikan sebuah lembaga think tank dan berkutat pada bidang filantropi pendidikan yang mampu menelurkan pemimpinpemimpin masa depan bangsa ini. Menulis buku? Itu sudah saya lakukan sejak sekarang.

***

Lalu di mana saya letakkan intelektualitas saya? Kawan, itu sudah inheren dalam diri saya. Apapun yang saya kerjakan selalu memiliki pertimbangan intelektual tersendiri. Saya selalu memiliki reason, my life is philosophy. Dan cinta? Ah, tak perlu jualah kujabarkan di sini, yang pasti saya juga telah memiliki rencana yang matang.

Kata orang, manusia yang merencanakan Tuhan yang memutuskan, I agree than. Kata bos saya, rencana yang matang adalah setengah dari kesuksesan, itu juga benar. Dan di tahun 2009 ini saya mulai dengan merebut hak saya dalam beasiswa S2 Sampoerna di bidang Bisnis. So, wish me luck and I wish you all for the best!

Bismillah.

9 komentar:

  1. Sukses ya Bro moga dpt beasiswanya..I think u deserve it..
    Btw not completely agreed with
    "Untuk itu saya akan kembali lagi ke dunia pendidikan pada umur 60. "..ng ketuaan..tuh :P

    BalasHapus
  2. sukses ya. Kayaknya lu kekeh di bidang bisnis. Btw, jgn terlalu maksa harus beasiswa ke Amrik. Australia aja oke jg tuh. Tuntutan TOEFL nya gak tinggi2 amat. Ato ke Eropa, Jepang ok jg


    Bagi tugas. Tono di politik. Nurdiyanto di pesantren. Anizar di birokrasi. Gw milih kembali ke kampus kayaknya, tempat plg tempat u bekerja dg gagasan. Gagasan Kuntowijoyo belum ada yg neruskan tuh. Cak Nur sih byk yg mengapresiasinya. Kunto cuman sebatas Kuntowijoyo Award dr Mizan doang.

    Nurcholish Madjid Center ada. Maarif Center ada. Wahid Institute ada. Kuntowjiyo Institute blm ada.. :(

    Btw, soal bikin lembaga pendidikan, ada jg dlm rencana gw. Tp belum tahu tuh umur brp

    BalasHapus
  3. wow.... selamat dan good luck.
    semoga "blueprint"nya dapat terwujud
    EM

    BalasHapus
  4. @ Debby, dari sudut pandang tertentu memang usia 60 itu sudah termasuk tua. Namun kalau menilik dari segi pengalaman dan target berdirinya sebuah lembaga, saya rasa itu adalah umur yang ideal. Toh, lembaga yang saya maksud lebih ke arah pendidikan tingkat lanjut yang elitis, bukan lembaga pendidikan menengah atau perguruan tinggi yang memang banyak menyerap tenaga. Formatnya seperti Sampoerna Foundation atau Habibie Center.

    @ Sonny, target saya ke Inggris, karena cuma setahun. Jadi lebih ringkas. Bagi tugas? Ah, coba kau baca sekali lagi. Sasaranku itu tidak seperti Division of Labour-mu yang rada kaku itu. Tapi cenderung ke arah 'tour of duty", sebuah proses yang tidak ada habisnya.

    @ Imelda, terima kasih atas dukungannya.

    I wish you all for the best.

    BalasHapus
  5. Selamat dan semoga sukses selalu.

    Salam.

    BalasHapus
  6. Wow...
    Honestly, I'm impressed.
    Selamat, ya, Mas..
    Semoga bisa menjalankan blueprint itu sebaik-baiknya...
    Which I believe, Mas Himawan punya kans besar untuk bisa mewujudkannya..

    *I always admire people who know what they're doing... :) *

    BalasHapus
  7. @ Lala & Oemar Bakrie, terimakasih atas dukungan kalian. I wish you all for the best.

    BalasHapus
  8. gudlak...
    pasti bisa deh!
    asal gak pake mendayu2...

    upz! benner, swear ewer2 boom...
    aq yakin kamu bisa
    saat blueprint ini dibuat, ditulis di sini, alam semesta pasti memberi dukungan sepenuhnya...
    *_^

    BalasHapus
  9. hmmmmmmm.......
    itu blueprintnya yak?...
    klw blackprintnya?
    hehehehe...
    katabakallahu annajaah fii kulli umuurrrrrr.......wal barokah of course!!!!!!
    -VIP '01-

    BalasHapus