Menafsir Surat al-Fil: Sebuah Tinjauan Historis & Semantik (2)

Salah satu problem dalam tafsir tradisional seputar surat al-Fil adalah interpretasi berlebihan terhadap kata ababil. Sementara bahasa Arab tidak mengenal perbedaan penulisan antara noun dan proper noun, kata ababil hampir tidak memiliki indeks relasi sama sekali dalam Quran. Kata ini terbilang hanya sekali termaktub sehingga tidak memiliki referensi makna dengan ayat-ayat Quran lainnya. Meski demikian, sejumlah ahli tafsir yang menganggap ababil sebagai sebuah kata sifat, menafsirkan kata tersebut sebagai berbondong-bondong, berlapis-lapis, atau gelombang demi gelombang. Dalam kasus ini, term yang terkait dengan ababil, seperti thayr, burung, diterima taken for granted.

Lain halnya dengan mereka yang menafsirkan ababil sebagai proper noun (Ababil). Mereka terjebak pada imajinasi liar tentang burung besar yang membawa bebatuan panas dari neraka. Beberapa menjelaskan secara rinci karakter burung tersebut, menceritakan kisah-kisah legendaris dan menarasikan mitologi baru akan sosok algojo adi kodrati yang diutus Tuhan untuk menghukum Tentara Gajah. Penafsiran tipe kedua yang lebih populer inilah yang berusaha dikritik oleh sejumlah sarjana modern. Arthur Jeffery misalnya, menyatakan bahwa para filolog Arab hampir tidak memahami makna dari kata ababil yang menurutnya berasal dari akar kata asing, ibalah, yang berarti rombongan. Ia kemudian mengutip pendapat Burton yang menyatakan bahwa kata tersebut berasal dari bahasa Persia abilah yang berarti bisul. Hal ini juga diyakini oleh Sprengel beberapa abad sebelumnya, yang menerangkan bahwa kata itu berasal dari gabungan dua kata, ab (bapak) dan abilah (kesedihan), sembari menerangkan bahwa masyarakat Persia menggunakan kata abilah untuk merujuk kepaa kata cacar. Sayangnya, pendapat Sprengel dan Burton ini bermasalah, karena kata abilah sendiri adalah sebuah kata pinjaman dari bahasa Arab, sehingga diragukan keasliannya teorinya.


Sampai di sini, kita kembali ke pertanyaan di awal tulisan sebelumnya. Dengan cara bagaimana kita semestinya menafsirkan surat al-Fil? Haruskah hanya bersandar pada takwil semata, ataukah ada petunjuk lain dari Quran yang bisa kita gunakan sebagai basis pemikiran modern kita yang sudah terlanjur percaya bahwa penyebab utama kehancuran tentara Abrahah adalah wabah cacar? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, dalam hemat saya adalah dengan meneliti relasi semantik 3 kata utama yang seringkali luput dari analisis kita tentang surat al-Fil, yakni: thayr, hijarah, dan sijjil.


Semantik kata thayr
Dibanding kata ababil yang hanya tersebut sekali, kita memiliki informasi yang berlimpah berkenaan dengan penggunaan kata thayr dalam Quran. Secara harfiah, bentuk jamak dari kata thair ini memiliki makna burung. Al-Raghib al-Ishfahani mendefinisikan tha`ir secara luas sebagai segala suatu yang setidaknya memiliki dua sayap yang dapat "berenang" di langit. Dalam pengertian modern, definisi al-Ishfahani tersebut jelas mencakup juga pesawat terbang dan helikopter sebagai bagian dari tha`ir karena kemampuan keduanya mengarungi langit, demikian pula segala macam serangga dan makhluk mikroskopik lain yang dapat dengan mudah diterbangkan oleh angin ke angkasa.

Ambiguitas makna sebagaimana tertera dalam definisi Ishfahani akan kata tha`ir ternyata juga didukung oleh kontekstualitas kata tersebut dalam sejumlah ayat Quran. Dari lima kata tha`ir yang terdapat dalam Quran, kita setidaknya menemukan 3 macam arti yang berbeda satu dengan lainya. Pertama, sebagaimana tertera di 6:38, kata tha`ir merujuk secara definitif kepada kata burung. Dalam ayat tersebut bahkan dijelaskan bahwa setiap binatang melata, dabbah, dan burung yang terbang dengan kedua sayapnya, sama dengan manusia. Mereka memiliki konstruk sosial yang serupa, yakni ummat. Ayat ini, dan juga ayat yang menjelaskan bagaimana gunung menolak menerima Quran, menunjukkan atribusi antropomorfisme Quran terhadap makhluk-makhluk Tuhan, yang mencakup pula didalamnya benda mati. Sehingga menyusahkan kita dalam mendefinisikan arti kehidupan dan kematian, juga kemampuan intelektual sebuah organisme dalam Quran.

Makna kedua yang kita dapat dari kata tha`ir, tertera pada 17:13. Di ayat ini, kata tha`ir berarti perbuatan, perilaku, dan juga tingkah laku manusia yang ia perbuat selama hidup di dunia. Di Hari Akhir nanti, semua perbuatannya itu diikatkan di leher mereka sebagai gambaran pertanggungjawaban. Terminologi leher dalam ayat tersebut menandakan bahwa perbuatan yang telah dilakukan tadi adalah perbuatan buruk yang tentu saja memberatkan si pelaku saat akan ditimbang kebaikan dan keburukannya. Dari sini kita mendapatkan kesan negatif pertama dari kata tha'ir, dan akan mendapatkan konfirmasinya saat kita membuka 3 ayat selanjutnya tentang kata tersebut.

Ayat 7:131 memberikan kepada kita gambaran yang lebih komprehensif tentang makna dari tha'ir. Di ayat tersebut, Tuhan menyinggung kaum Musa yang ketika mendapatkan nasib baik dengan sombong menyatakan bahwa itu adalah hak mereka. Namun tatkala tertimpa musibah, mereka mengkambinghitamkan Musa sebagai penyebab segala keburukan yang mereka terima. Berkenaan dengan hal tersebut, maka Tuhan pun menegaskan bahwa keburukan yang mereka terima, tha`ir, tak lain dan tidak bukan berasal dari Tuhan, sebagaimana kebaikan yang selama ini mereka rasakan. Dalam ayat ini pula kita menemukan bentuk verbal dari tha`ir, yakni iththayyara yang dapat diartikan sebagai tindakan menuduh, yang juga kita temukan di dua ayat lainnya, 27:47 dan 36:18-9.

Dari pemaparan tentang variasi makna kata tha`ir, kita berhenti pada sebuah pertanyaan signifikan: Bisakah kita memaknai akar kata thayr di 105:3 dengan kata tha`ir pada 7:131, 27:47, dan 36:18-9? Pertanyaan ini begitu penting, karena dari 17 ayat Quran yang mengandung kata thayr, semua merujuk secara langsung kepada makna kata pertama, yakni burung. Fakta statistik inilah yang sebenarnya dijadikan rujukan oleh para penafsir tradisional untuk memaknai term tersebut sebagai burung. Meski demikian, apabila kita memperhatikan lebih jauh penggunaan artikel al- pada kata tersebut, maka kita akan menemukan beberapa hal khusus yang layak untuk diperhatikan.

Setidaknya tiga kali kata thayran, dalam bentuk indefinitive, tersebut dalam Quran, dan semuanya merujuk dengan jelas pada 2 kejadian adikodrati, yakni penciptaan burung-burung oleh Isa dan tentu saja penghancuran Tentara Gajah. Untuk kasus pertama, 3:49 dan 5:110, dijelaskan bahwa Isa mengambil segumpal tanah liat dan membentuk dengannya bentuk burung, al-thayr, untuk kemudian burung-burungan dari tanah liat itu berubah lagi menjadi sejenis burung, thayran, dengan izin Allah. Dalam tata bahasa Arab, perubahan dari bentuk definitif, ism ma'rifah, menjadi bentuk indefenitif, nakirah, sangat berpengaruh kepada perubahan makna sebuah kalimat. Dalam kasus Isa tadi, kita masih bisa menerka bahwa burung-burungan yang dibuat Isa tiba-tiba berubah menjadi burung. Tapi tatkala dikonfirmasi jenis dari burung yang diciptakan oleh Isa ini, kita tidak akan tahu, apa jenisnya. Dari sudut pandang orang ketiga, penyebutan bentuk nakirah setelah ma'rifah menunjukkan ketidakjelasan dan kekaburan identitas. Bisa saja Isa tidak menciptakan burung, tapi ia telah membentuk sesuatu berdasarkan bentuk burung.

Apa yang ingin saya sampaikan dari kasus Isa adalah, Quran kadang menggunakan cara pandang orang ketiga saat itu untuk menggambarkan sebuah state of affair menjadi sebuah ilusi. Ketidakyakinan untuk mengetahui jenis burung yang diciptakan oleh Isa dalam kasus ini memberikan alternatif penafsiran yang berlimpah, termasuk cara bagaimana kita menafsirkan sebuah kerja adikodrati yang tidak bisa dinalar oleh akal. Lalu ilusi apa yang hendak disampaikan Quran pada 105:3? Jawaban atas pertanyaan ini tidak lain daripada tiga kemungkinan semantik dari kata tha`ir. Tapi yang mana? Mana dari ketiga kemungkinan tersebut yg sesuai dengan konteks surat al-Fil? Kunci dari permasalahan ini terletak dalam cara kita menafsirkan term penting selanjutnya, hijarah min sijjil.

"Bebatuan dari neraka"
Barangkali bukan kebetulan belaka, jika kita menemukan term hijarah min sijjil dalam Quran yang merujuk kepada sebuah peristiwa adi kodrati lainnya, yakni pembinasaan kaum Luth di 11:82 dan 15:74. Di dua peristiwa inilah, bersama pembinasaan Tentara Gajah, Quran secara ekslusif menggunakan term "bebatuan dari neraka". Fakta Quranik ini menimbulkan pertanyaan lain yang lebih menarik, apakah kehancuran dua entitas ini memiliki karakter yang serupa ataukah tidak. Namun sebelum melangkah lebih jauh lagi, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu makna dari term tersebut.

Kata sijjil dalam Quran terjemahan bahasa Indonesia seringkali diartikan sebagai sebuah nama tempat, dalam hal ini neraka Sijjil. Padahal, jika kita kita amati lebih seksama, maka kata sijjil dalam term terkenal kita ini, lebih tepat diartikan sebagai kata keterangan dari kata hijarah. Sijjil, secara harfiah berarti tanah liat yang terbakar. Kata ini pun 4 kali termaktub dalam Quran, 3 kali tersebut dalam ketiga ayat tentang kaum Luth dan Tentara Gajah, sedang sisanya tersebut dalam 21:104. Di ayat ini, sijjil  diartikan sebagai gulungan buku (scroll), dan dijelaskan bahwa pada Hari Akhir nanti, Tuhan akan menggulung langit, sebagaimana gulungan buku yang ditutup.

Asosiasi kata sijjil dengan kata tanah dan gulungan buku memunculkan beberapa spekulasi tentang semantik kata ini. Yang paling utama adalah, penyebutan kata tanah biasanya merujuk pada form of life, bahan organik pembentuk kehidupan di muka bumi ini. Pada kasus penciptaan manusia misalnya, Quran menggunakan analogi tanah sebagai bahan pembuat manusia, demikian pula bentuk-bentuk olahan dari tanah, macam shalshal min hamain masnun, shalshal kal fakhkhar, dan sebagainya sebagai tahapan-tahapan penciptaan. Penyebutan sijjil dalam kasus Luth dan Tentara Gajah, dengan demikian mengisyaratkan keterkaitan subtantif antara jenis hukuman yang ditimpakan dengan unsur pembentuk manusia. Yang saya maksud adalah hukuman tersebut merupakan bagian dari tubuh manusia sendiri, atau setidaknya reaksi fisik terhadap benda asing yang masuk kedalamnya. Jika kita mengkaitkan cara berpikir ini dengan proses penyebaran virus penyebab cacar, maka bisul-bisul yang kita temukan pada tubuh penderita penyakit tersebut, secara figuratif dapat diartikan sebagai hijarah min sijjil. Dalam konteks ini, gelembung-gelembung yang tersebar di seluruh tubuh penderita menyerupai bebatuan kecil, dan rasa gatal serta terbakar yang dirasakan dari reaksi tubuh itu menjelaskan dengan sendirinya art kata sijjil. 

Namun demikian, bukan berarti karakter penghancuran kaum Luth identik dengan pola penghancuran Tentara Gajah. Perbedaan keduanya, dalam hemat saya, terletak pada keberadaan unsur perantara bagi proses hukuman. Sementara hijarah min sijjil pada kasus Tentara Gajah dilempar oleh nasib buruk bertubi-tubi yang mereka alami, thayr ababil, maka pada kasus penghancuran kaum Luth, hijarah min sijjil, dihujankan langsung dari langit. Kita akan menemukan ekspresi serupa dari term "dihujankan langsung dari langit" padanan kasus Luth ini di 8:32. Pada ayat ini, para kafir Quraysy dengan sombong meminta Nabi SAW untuk menurunkan azab berupa hujan batu dari langit sebagai salah satu bukti kenabiannya. Permintaan kafir Quraysy ini jelas sebuah permintaan literal dan bukan figuratif, karena mereka benar-benar mengharapkan bukti fisik yang tidak terbantahkan, dan bukan retorika bagi kebenaran pesan yang disiarkan oleh Nabi SAW.

Rekonstruksi Logis

Berdasarkan pemaparan di atas, setidaknya kita bisa sampai pada gambaran besar tentang proses kehancuran Tentara Gajah. Hal pertama yang dapat kita simpulkan adalah, bahwa proses penghancuran tersebut bersifat gradual dan tidak terjadi secara instan. Medan yang jauh dan ekstrim yang harus ditempuh oleh balatentara Abrahah, dan juga ambisinya untuk memamerkan kekuatan pasukannya yang mencakup kavelari gajah yang sangat boros air untuk melewati tanah tandus Arabia, rupanya menjadi bumerang bagi keselamatan seluruh anggota ekspedisi. Berkali-kali pasukan itu ditimpa musibah sehingga melemahkan fisik dan moral para personel yang ikut serta didalamnya.

Penggunaan term thayran ababil, yang bermakna nasib buruk yang datang bertubi-tubi menjelaskan rasionalisasi dari kehancuran gradual pasukan Abrahah tersebut. Kata thayran dalam term thayran ababil, sendiri memang lebih tepat diterjemahkan sebagai kesialan, atau nasib buruk, karena term yang muncul di ayat selanjutnya merupakan term figuratif ketimbang literal. Bahkan, meski term hijarah min sijjil kita artikan secara literal, maka kemungkinan logis untuk mengartikan thayran secara figuratif masih bisa diterima. Hal ini karena fungsinya sebagai perantara bagi kejadian berikutnya sangat signifikan. Ketika digandeng dengan kata ababil, yang dapat diartikan gelombang demi gelombang, atau bertubi-tubi, maka statusnya yang indefinitif tanpa artikel al-, mengindikasikan variasi kesialan yang hanya dapat diketahui oleh bala tentara yang ikut serta dalam ekspedisi tersebut. Puncak dari segala kesialan yang diterima Tentara Gajah ini, tak lain dan tidak bukan adalah menyebarnya wabah menular berupa penyakit cacar ke seluruh anggota pasukan. Peristiwa ini sendiri dikenal sebagai hijarah min sijjil, yang berujung pada kematian anggota pasukan tersebut satu persatu. Oleh Quran, gambaran kehancuran ini dianalogikan seperti dedaunan yang terserang hama, kering dan rapuh. Faja'alahum ka 'ashfin ma'kul.

Melalui pemaknaan dengan jaring-jaring semantik ini, kita pun sampai kepada penulisan ulang narasi Quran akan surat al-Fil. Dalam artikel ini, saya mencoba merekonstruksi terjemahan dalam bahasa Indonesia agar lebih mampu dipahami menurut nalar modern. Term-term yang bersifat jargon, seperti ababil, diterjemahkan langsung sesuai pendapat para penafsir tradisional yang menganggapnya sebagai sebuah noun daripada proper noun. Sedangkan kata thayr yang biasa diterjemahkan dengan burung, diganti dengan salah satu kemungkinan logis dari kata tersebut, yakni kesialan. Dalam bahasa Indonesia, kata kesialan jelas lebih mudah dipahami ketimbang nasib buruk.

Term lainnya, seperti "bebatuan dari neraka" yang kita temukan pada beberapa terjemahan Quran dalam bahasa Indonesia masih tetap dipertahankan, meski harus diberi tanda kutip. Perubahan cara penulisan term ini menunjukkan bahwa term tersebut adalah sebuah term figuratif yang terbuka untuk penafsiran yang jauh lebih baru. Usaha untuk mengganti term "bebatuan dari neraka" dengan makna literalnya, seperti "bisul-bisul yang membakar", dalam hemat saya justru membatasi kemungkinan logis yang dapat saja muncul atas term tersebut, selain tentunya mengurangi nilai estetik yang didapat. Untuk lebih jelasnya, berikut penulisan ulang terjemah surat Al-fil dalam bahasa Indonesia yang saya usulkan.


Tidakkah kamu memperhatikan apa yang diperbuat Tuhanmu terhadap Tentara Gajah? (105:1)
Bukankah Dia telah menggagalkan tipu daya mereka? (105:2)
Dan mengirimkan kesialan yang datang silih berganti. (105:3)
yang menyerang mereka dengan "bebatuan dari neraka" (105:4)
Maka Dia menjadikan mereka laksana dedaunan yang terserang hama. (105:5)

Wa Allah A'lam bi al-shawwab

4 komentar:

  1. keterkaitan ayat 1-5 menjadi hilang krn anda mengusulkan terjemahan yang berbeda. terjemahannya menjadi rancu. mhn maaf.

    BalasHapus
  2. Tulisanya bagus dan dengan nalar yang baik, selamat

    BalasHapus
  3. Bagimana jika terjemahnnya seperti berikut ini :
    idakkah kamu memperhatikan apa yang diperbuat Tuhanmu terhadap Tentara Gajah? (105:1)
    Bukankah Dia telah menggagalkan tipu daya mereka? (105:2)
    Dan mengirimkan Burung abaabil ?. (105:3)
    yang menyerang mereka dengan menyebarkan virus burung (105:4)
    Maka Dia menjadikan mereka laksana dedaunan yang terserang hama. (105:5)

    BalasHapus