Tanpa Nama (4)

Seminggu setelah pertemuan itu, ia selalu memikirkan wanita tadi. Tentang jilbabnya yang terlalu turun ke bawah, tapi menyisakan lekuk tubuh yang terlihat jelas di bawah blaser hitam dan paduan celana bahan yang agak ketat. Tentang pandangan matanya yang penuh ambisi, atau langkah-langkah kakinya yang meski ringan tapi terasa berat. Seperti perpaduan antara keindahan alami dengan luka yang menganga. Luka yang sepertinya hendak ia sembunyikan, ia timbun dalam-dalam sehingga tak seorang pun tahu akan apa yang terjadi padanya.

“Wanita itu penuh misteri” ia tulis kalimat tadi di status Facebook.

“yup, misteri yang hendak dikuak” seorang teman menimpali

“tapi apa ia masih jadi misteri ketika sudah ter'kuak'? :D” komentar yang lain.
“kenapa bro, belum pernah 'menguak' ya? :p”
“Hehehe... secara gitu lho, gw kan msh bujangan :p”
“bujangan beranak tiga! Wakakakakak....”
“ah, ente. Kenapa juga ga kita tanya tuh doi kenapa nulis begitu”
“iya fren, lagi jatuh cinta ya?”

Apa? Jatuh cinta?

“enggak kok, cuma penasaran. Penasaran saja sama seseorang” penasaran, jatuh cinta, penasaran.

“tuh, betul kan. Memang begitu awalnya bro. Tenang kau pasti bakal menaklukkannya”. Menaklukkannya.

Menaklukkan perempuan. Apa benar perempuan itu harus ditaklukkan? Seperti menaklukkan kuda liarkah? Ah, bodohnya aku ini, tentu saja tidak. Mereka lembut, bagaikan mawar yang tengah merekah, yang dipenuhi duri-duri tajam yang siap menggores. Bodoh sekali, kenapa juga aku harus memikirkan dirinya. Absurd.

Tok...tok...tok...

“iya, silahkan masuk” sambut suara dari dalam kamar praktek.

“selamat siang dok. Bagaimana kabar?” penuh semangat.

“Oh, eh kamu.. iya, baik-baik saja terima kasih” kata sosok bertubuh besar dari balik koran yang tengah ia baca.

“kemarin saya sudah resepkan obat mu lho..” tanpa menurunkan koran itu.

“wah, terima kasih sekali. Bagaimana pendapat pasien dokter? Apakah ada keluhan” probing.
“Seandainya ada, dokter jangan sungkan-sungkan menyampaikannya ke saya ya”. Terburu-buru.

“Iya, nanti akan saya sampaikan..” masih tertutup.
“omong-omong hotel dan pendaftaran untuk acara ASMIHA di Ritz sudah diurus bukan?” kali ini ia turunkan koran tersebut dan melipatnya di pojok meja sebelah kiri. Kacamata tebal masih menggantung di atas hidungnya yang lebar. Rautnya serius, tapi postur tubuhnya yang aneh sudah cukup membuat orang melupakan sikap serius tadi. Benar-benar sosok yang memperdaya.

“sip dok!” katanya dengan penuh semangat.
“H.O. Sangat senang dengan kerja sama dokter selama ini. Bahkan, setelah saya rekap hasil penulisan dokter selama setengah tahun, bos saya malah ingin menawarkan event yang jauh lebih besar” ia sampaikan itu dengan sungguh-sungguh.

“O ya?” masih serius.

“Betul dok.” memperkuat pernyataan sebelumnya.
“kalau ECC tahun depan bagaimana?” teori marketing yang ia terima mengajarkannya untuk agresif.

“hmm.. nanti saya pikirkan lagi” diplomatis.

“seandainya dokter berminat, kami akan siapkan tiket PP Jakarta – Munich, plus akomodasi untuk 3 hari 3 malam.” katanya bangga, sambil berusaha menampilkan kesan dapat dipercaya.

Si dokter mengangguk sambil tersenyum lebar. Ia tahu, dirinya jelas lebih berpengalaman dari anak 26-an tahun yang duduk di hadapannya. Pengalaman puluhan tahun, puluhan farmasi, sudah cukup melatih syaraf-syaraf di hatinya untuk tidak langsung percaya dengan berbagai tawaran yang datang. Berhubungan dengan Medical Representative itu seperti bermain layangan, pikirnya. Kadang kau harus kau harus tarik dia kuat-kuat agar tidak mendapatkan janji-janji palsu, atau ketika angin berhembus kencang dan tawaran datang bertubi-tubi, biarkanlah layangan itu terbang tinggi terbawa angin. Berbagai macam fasilitas mewah, kendaraan, renovasi rumah, tiket pesawat terbang, event-event internasional, semuanya akan datang tanpa diminta. Inilah saatnya kau menerima lebih dari yang mereka tawarkan.

“tadi teman kamu ke sini..” tiba-tiba rautnya berubah lembut.

“yang mana dok?” penasaran.

“jilbab panjang, warna ungu. Sepertinya masih baru bergabung ya?” kini, gantian ia yang memperhatikan anak muda tadi.

jilbab ungu, panjang?

“Ooo..” ah, perempuan itu lagi.

“Lumayan manis lho, kayaknya cocok buat kamu.” memancing.
“Ayolah, sudah berapa lama kamu detailing ke saya. Setahun, dua tahun? Belum pernah saya dengar kamu punya pacar. Bukan saya yang bilang lho. Itu teman-teman kamu.” ia benar-benar menguasai suasana hati si pemuda itu.

“Kau tahu, Ika, yang bawa nitrat original itu. Saya kira dia naksir sama kamu. Cuma kamu saja yang memang dingin sama dia.” aku suka sekali melihat bagaimana orang yang tengah dilanda cinta, ujarnya dalam hati sambil tersenyum.

“C'mon, what are you waiting for?” benar-benar dokter cinta.

Ha, yang aku tunggu? Aku tidak menunggu dok, aku mengejar. Aku mengejar dan dia hilang. Hilang begitu saja. Sayang, ia tak sanggup mengutarakan hal itu.

“ah, dokter ini” tertunduk malu.

“Apa saya harus bilang ke SM kamu supaya naik pangkat?” tenang nak, aku tahu yang ada di benakmu.

Pangkat, uang, harta. Godaan itu datang lagi, impian naik kendaraan dinas kantor. Berkeliling kota dengan bangga. Seperti menampar kepala tetangga-tetangganya yang selalu mencemooh. Kendaraan itu baginya selalu membangkitkan rasa sakit hati yang dalam. Rasa yang benar-benar telah ia coba untuk pendam. Kenapa segala suatu harus diukur dengan materi? Ia masih merasa sakit. Begitu sakit, hingga tanpa sadar ia bergumam pelan, revenge is sweet.

“yah, kalau dokter bersedia membantu peresepan obat yang saya bawa, itu s

3 komentar:

  1. lho... kok kalimat terakhirnya terputus begitu saja?

    aku jadi ingat dengan status FB di atas, termasuk yang "revenge is sweet" itu. ouw.. ini tho ceritanya. baru kumengerti sekarang, hehe.. :D

    BalasHapus
  2. Iya, sori nih Da, request-nya sudah dilanjutkan di posting berikutnya kok.

    BalasHapus
  3. Novel berbasis farmasi kayaknya belum ada ya bro. Aku dukung deh sampai jadi...

    BalasHapus