Untuk Sebuah Nama (2)

Meeting kali ini memang begitu ringkas. Sales manager tidak bertele-tele dalam menjelaskan masalah. Ia orang lapangan yang kenyang pengalaman puluhan tahun, dan merasa apabila kinerja tim tidak segera diperbaiki tentu akan mengganggu performa kerjanya di perusahaan itu.

Selepas meeting, si perempuan berjilbab ungu itu kembali lagi ke area kerjanya, melaksanakan perintah sang atasan yang sekali lagi gagal ia jalankan. Ia seperti membentur tembok keras yang sulit untuk ditembus. “Bagian pembelian itu benar-benar keras kepala dan tidak mau mendengarkan” keluhnya.

Sekarang ia melihat jam, masih tersisa beberapa menit lagi sebelum jam praktek dokter tutup. Beberapa rekan seprofesi terlihat masih mengantri di depan ruang praktek dokter spesialis Jantung. Kini, setelah menunggu beberapa menit giliran ia memasuki ruang praktek yang sudah tidak asing lagi bagi dirinya.

“selamat sore dokter Burhan..” ia memasuki ruang praktek itu tergesa-gesa seakan memasuki sebuah toko yang hendak tutup.

“iya dok, masih dengan preparat untuk penanganan diabetes pada pasien-pasien hipertensi yang dokter tangani. Bukankah diabetes dan hipertensi itu saling berhubungan, maka dengan penurunan A1C sebesar 1% mampu menurunkan resiko kejadian kardiovaskular hingga sepuluh persen” si rep sudah tidak berpikir lagi untuk berkomunikasi dengan si dokter. Ia hanya ingin agar hari itu ia bisa pulang dengan cepat.

Rupanya si dokter itu bisa mengerti apa yang ada dipikiran gadis tersebut. Ia membiarkannya mengoceh tentang produk yang ia bawakan, kelebihannya dan sejumlah keunggulan dibanding kompetitor. Ia tahu itu, saat tangan si gadis dengan sigap mencari kartu tanda kunjungan, menyerahkan lembar kertas tersebut sambil berharap si dokter mau membubuhkan tanda tangannya. Benar-benar pekerjaan yang aneh pikir si dokter. Hanya mengumpulkan tanda tangan saja dan mereka bisa hidup dengan pendapatan di atas UMR. Meski ia sendiri paham bahwa yang sebenarnya diperebutkan oleh ratusan duta farmasi itu hanyalah bagian kecil dari hirarki sistem pengobatan yang ada dalam pikirannya.

Ketika sang dokter berpikir tentang sebuah kasus hipertensi, maka skema penanganan yang berdasarkan konsesus internasional tiba-tiba terbayang dalam otaknya. Bagaikan papan billboard yang berisikan rumusan besar, diagram dalam otaknya tiba-tiba menampilkan slide baru ketika ia mulai mendiagnosis penyakit pasien. Beberapa alur, berbagai macam kombinasi yang muncul, hingga nama-nama generik dari obat-obatan yang bisa ia gunakan, perlahan-lahan muncul ke permukaan dan mulai menampilkan daftar nama-nama khas yang silih berganti menempati posisi teratas di kepalanya.

Para rep itu seperti SEO yang berusaha meraih tempat teratas dalam page rank di mesin pencari Google. Cara mereka unik, ada yang berpakaian dan berpenampilan ganjil agar wajahnya selalu diingat, ada pula yang mengandalkan sistem marketing ortodoks: konsep, relationship dan sponsor. Dan pada saat itu, entah kenapa bukan merek obat-obatan yang perempuan tadi sampaikan yang melekat dalam otaknya. Tapi beberapa lembar kertas yang sampai padanya beberapa hari yang lalu.

“hmm.. saya rasa saya punya sesuatu buat kamu” kata dr. Burhan seusai membubuhkan tanda tangannya ke lembar kartu kunjungan si rep.

“apa ya dok... apa itu untuk saya..” tutur perempuan berjilbab ungun tersebut penasaran.

Dokter Burhan kemudian mengambil sebuah amplop folio cokelat dari dalam laci meja kerjanya dan menyerahkan benda tersebut kepada perempuan yang duduk dihadapanya.

“apa isi amplop ini?” rasa penasaran si perempuan masih juga belum terpuaskan.
“silahkan buka saja sendiri. Kemarin ada orang yang menitipkan ini kepada saya. Katanya buat kamu”

Gadis berjilbab ungu itu kemudian menarik keluar setumpuk kertas ukuran kuarto yang telah dibundel rapih oleh sebuah penjepit di sudut kiri atas.

=============================


UNTUK SEBUAH NAMA


==============================

sekilas seperti kumpulan naskah sebuah novel yang belum selesai. Tidak ada nama pada kertas-kertas tersebut yang menunjukkan sang penulis.

“ini dari siapa dok?” si perempuan masih juga penasaran.

“anggap saja dari seseorang yang menaruh hati padamu” kata sang dokter tersenyum santun.

Si perempuan kemudian membuka halaman pertama naskah tersebut. Membaca beberapa baris paragraf pertamanya dan terdiam. Pikirannya tiba-tiba teringat kejadian aneh yang ia alami beberapa hari yang lalu. Sebuah kejadian dimana ia menerima sms tanpa diketahui siapa yang mengirimkannya.

“dok, coba katakan amplop ini dari siapa?”

“maaf dik, saya tidak bisa mengatakannya kepadamu” jawab si dokter ringkas.

Dengan mimik tidak puas ia melanjutkan membaca halaman berikutnya.

*
“teetetet, teetetet, teetetet!” bunyi handphone memecah keindahan mimpi.


“ah, sms dari siapa tengah malam begini?”


“Sahur... sahur... bangun!”


Dia melihat tidak percaya, memandang baris-baris pesan di layar handphonenya sebentar dan sedetik kemudian ke jam dinding kecil yang terus berdetik. Tik..tik..tik..
*

matanya kini mulai mengikuti kisah tentang si gadis yang begitu penasaran dengan orang yang mengirimkan sms kepadanya, kemudian kisah itu berlanjut kepada kilasan seorang lelaki yang sepertinya begitu merindukan sang perempuan. Tapi dia tetap tidak tahu, siapa gerangan lelaki tersebut, yang digambarkan sangat putus asa dan memendam rindu. Ia berpikir keras, mencoba membandingkan perempuan yang terdapat dalam lembaran-lembaran  kertas tadi dengan dirinya. Kisah sms tanpa nama, jilbab panjang berwarna ungu seperti yang tengah ia kenakan, dan profesi yang kini juga sedang ia jalani.  Tapi alur cerita kemudian mengisahkan perjalanan si lelaki tanpa nama tadi, dan dokter Burhan.

“jadi orang ini kenal dekat dengan dokter?” kening si perempuan berkerut dalam meminta jawaban.

“bisa dibilang begitu.”

“lalu siapa dok, gerangan orang tersebut...”

“kamu pasti mengenalnya, coba baca sekali lagi di rumah dan ingat-ingat kembali.”

tok..tok..tok..

“maaf dok, ada pasien yang mau berobat” ujar seorang suster sambil membuka pintu kamar praktek.

“well, saya sepertinya saya kedatangan pasien.”

“oh, maaf dok, saya akan membacanya nanti di tempat kos saya” gadis berjilbab ungu itu bangun dan mohon pamit kepada dokter

si dokter hanya tersenyum, dan sebelum perempuan tadi beranjak keluar ia membisikkan sebuah kalimat pendek kepadanya.

“dia memujamu dik..”

memujaku

kata itu terngiang-ngiang di telinganya untuk beberapa saat, dan si perempuan berjilbab ungu kini mendapati dirinya berdiri sendiri di teras rumah sakit yang mulai sepi itu.

Hari semakin senja, waktu berbuka sebentar lagi tiba. Ia langkahkan kakinya ke pelataran parkir di pintu masuk sebelah kanan. Otaknya kosong, hanya kisah perempuan yang ada dalam kumpulan kertas di amplop folio warna cokelat yang tengah ia genggam yang ada di dalam pikirannya. Siapakah perempuan berjilbab ungu yang menyerupai dirinya itu, lalu siapakah lelaki yang begitu dalam mencintainya, dan diantara segala pertanyaan-pertanyaan tadi, siapa sebenarnya yang menulis kisah ini dan menitipkannya ke dokter Burhan untuk diberikan padanya?

“ah, aku benar-benar tidak tahu”.

3 komentar:

  1. hehehe... cerita dalam cerita... semakin seru nih... :D

    BalasHapus
  2. tambah rumit nih ceritanya...
    tapi asyik kok....
    lanjutkan...

    BalasHapus
  3. Ya, mungkin karena itu

    BalasHapus