Fitrah, Ibrahim dan Id

Kata fitrah terambil dari akar kata f th r, yang berarti membuka dan menciptakan. Dari kata f th r ini muncul kata futhur, yang berarti retak, cela, atau makan pagi. Dalam Q.S. 67:3 disebutkan bahwa ciptaan Allah berupa langit dan bumi ini begitu sempurna sehingga kita tidak bisa menemukan adanya futhur atau cela di dalamnya. Futhur juga berarti makan pagi, karena pada saat itulah manusia berbuka setelah tidak makan selama tidurnya. Selain futhur, pengertian negatif lain yang bisa kita temukan dari akar kata f th r adalah kata kerja lampau infathara di Q.S. 82:1 yang berarti terbelah dan kata kerja kini yatafththarna pada Q.S. 19:90 yang berarti pecah. Satu-satunya bentukan kata f th r yang berupa kata benda adalah munfathirun di Q.S. 73:18 yang menggambarkan kejadian pada hari kiamat di mana langit pecah berkeping-keping.

Bentuk umum dari kata f th r yang ditemukan dalam al-Quran adalah kata fathara, yang memiliki makna positif menciptakan atau memulai suatu yang baru. Terdapat delapan ayat yang berisi kata tersebut yang secara umum menggambarkan Allah sebagai pencipta alam semesta dan manusia. Yang menarik, dari kata fathara inilah lahir kata fithrata Q.S. 30:30 yang sering kita artikan sebagai fitrah, nature, alamiah. Kita kemudian memaknai fitrah sebagai kecenderungan alamiah manusia yang belum terkontaminasi oleh peradaban. Hadis yang terkenal berkenaan dengan hal tersebut adalah: setiap bayi terlahir menurut fitrah, maka ayah-ayah merekalah yang kemudian menjadikan bayi-bayi tersebut sebagai sebagai Yahudi dan Nasrani. Dengan demikian fitrah dipertentangkan dengan status keberagamaan seseorang yang dari sudut pandang ini sudah jauh melenceng dari kondisi alamiahnya.

Diskusi menarik mengenai fitrah muncul dalam karya fiksi filosofis Ibn Thufayl yang berjudul hayy ibn yaqzhan yang secara harfiah bararti “hidup” anak “kesadaran”. Alkisah, seorang anak yang terbuang dari peradaban hidup dan besar di sebuah pulau terpencil yang tidak berpenghuni. Si anak ini, meskipun tidak mengenal ajaran agama-agama besar dunia, tetapi melalui deduksi akalnya terhadap alam berikut fenomenanya mampu mengambil kesimpulan yang sama dengan ajaran Islam, bahwa Tuhan itu Satu. Tentu saja karya Ibn Thufayl ini layak diperdebatkan, tapi yang sesungguhnya muncul dari diskusi tentang fitrah adalah berkenaan dengan definisi agama menjadi agama langit dan agama bumi.

Banyak yang menyatakan bahwa agama langit itu adalah rumpun agama semit, Yahudi, Kristen dan Islam. Sedangkan agama bumi adalah Hindu dan Buddha. Pembagian ini berdasarkan sumber ajaran kedua jenis agama tersebut di mana yang satu bersumber dari pewahyuan sedang yang lain dari hasil kontemplasi dan pemikiran manusia semata. Pendapat yang muncul dari definisi ini adalah, apabila yang dimaksud fitrah sebagai keadaan alamiah manusia yang belum tercemar suatu pemikiran apapun, maka seharusnya yang patut disebut sebagai agama fitrah adalah agama-agama bumi tadi bukan agama Islam. Dengan alasan bahwa sumber ajaran agama mereka berasal dari kesadaran diri manusia untuk kembali kepada kemurnian diri mereka yang sesungguhnya, sebuah fitrah.

Apabila ditarik lebih jauh kedalam etika, maka konsep fitrah yang diketengahkan oleh para pendukung pemikiran ini, termasuk kedalam domain filsafat naturalisme. Dalam naturalisme, manusia secara lahiriah dan alami mampu mengetahui baik atau buruk tanpa memerlukan pertimbangan apapun selain dirinya sendiri. Penganut naturalisme percaya akan adanya fitrah bawaan dalam diri manusia, human nature, yang menuntun mereka kepada baik dan buruk. Kelak pemikiran ini disangkal oleh filsuf Existensialis Jean-Paul Sartre yang menyatakan bahwa mempercayai adanya fitrah merupakan penyangkalan terhadap tanggung jawab manusia atas pilihan pribadi mereka. Bagi filsuf ini, tidak ada benar dan salah secara objektif, yang ada hanyalah pilihan-pilihan untuk menentukan nilai tersebut. Manusia adalah bebas dan mereka bertanggung jawab terhadap pilihan mereka sendiri.

Sekarang muncul pertanyaan, apakah yang dimaksud fitrah itu sama seperti yang dijabarkan oleh para penganut paham naturalisme ataukah tidak? Apabila kita kembali kepada al-Quran maka dengan jelas kita bisa temukan jawaban paling gamblang mengenai arti kata fitrah.

“maka hadapkanlah wajahmu kepada agama dengan lurus (hanifa), itulah fitrah yang telah Allah ciptakan bagi manusia. Tidak ada perubahan dari ciptaan Allah, itulah agama yang tegak, (qayyim) , akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya” Q.S. (al-Ruum: 30)

Pada ayat di atas, kita kembali menemukan kosa kata baru, hanif. Berasal dari akar kata h n f , hanif sering diartikan sebagai lurus, atau cenderung kepada jalan yang lurus, istaqama. Kata ini ditemukan dalam 12 ayat al-Quran yang secara umum memiliki dua makna: tidak menyekutukan Allah atau syirik dan millata Ibrahim, jalan atau ajaran nabi Ibrahim. Apa sebenarnya ajaran yang dibawa oleh nabi Ibrahim sehingga ketika Allah berbicara tentang fitrah Ia secara eksplisit menunjuknya sebagai contoh orang yang kembali kepada fitrah manusia? Sungguh sangat luas untuk menggambarkan seperti apa sebenarnya perilaku nabi Ibrahim semasa beliau hidup. Di sini saya mencoba meringkas beberapa poin penting dalam perjalanan hidup khalilullah tersebut.

  1. Sebagaimana hayy ibn Yaqzhan, Ibrahim berhasil menemukan Tuhannya melalui deduksi alam semesta. Ia terus bertanya seperti apakah gerangan Allah, dan ia memulainya dari bulan yang lalu ia dialektikakan dengan bintang dan matahari, hingga berakhir pada kesimpulan bahwa Tuhan tidak seperti itu. Tuhan adalah Satu yang menciptakan segalanya. Q.S. (77:74-79)
  2. Setelah menemukan kebenaran beliau kemudian menyeru kepada kaumnya bahwa apa yang mereka percayai tak lain dari pada kebohongan. Ia bahkan harus berargumentasi dengan bapaknya untuk meyakinkan keesaan Allah dan untuk itu rela mempertaruhkan nyawanya sendiri.
  3. Pergulatan keimanan Ibrahim tidak berhenti pada misi kenabiannya saja, ia bahkan harus berhadapan dengan realitas kehidupan keluarga yang sangat rentan. Meski sudah berusia lanjut ia tidak juga dikaruniai anak, dan ketika anak pertamanya lahir, ia masih harus membuktikan kesetiaannya kepada Allah dengan mengorbankan Ismail.
  4. Bersama dengan putranya Ismail, nabi Ibrahim membangun fondasi Ka'bah sebagai  monumen keimanan dan ketakwaanya kepada Allah. Dan di ujung hidupnya ia berwasiat kepada keturunannya agar mengikuti agama yang dipilih oleh Allah, yakni islam, berserah diri hanya kepadaNya.

Bila kita abstraksikan, keempat poin tadi menunjukkan secara ringkas empat titik keimanan: intelektual atau individu, sosial, keluarga dan karya cipta. Dengan kata lain, seorang muslim yang fitri haruslah bisa menunjukkan keimanan dan kesetiannya kepada Allah di keempat area tersebut. Secara intelektual ia harus yakin dan memahami konsep keimanan, kemudian menerapkan pemikirannya tersebut dalam konteks sosial dan keluarganya serta menjadikan diri dan keluarga mereka suri tauladan orang-orang beriman lagi berpasrah diri bagi umat manusia.

Lebih lanjut, sikap keberagamaan yang hanif dan fitri ini tertera dengan jelas dalam doa dan harapan nabi Ibrahim dalam Q.S. (14:35-41). sebuah surat dalam al-Quran yang didedikasikan untuk bapak kaum beriman itu. Maka, tidaklah mengherankan apabila kita menemukan perumpamaan terindah dari keimanan juga berada dalam surat tersebut:

“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan kalimat thayyibah seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit | pohon itu menghasilkan buahnya setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu agar mereka selalu ingat | adapun perumpamaan kalimat khabitsat seperti akar pohon yang buruk, yang akarnya tercerabut dari bumi dan tidak dapat berdiri tegak | Allah meneguhkan orang-orang beriman dengan ucapan yang teguh di dunia dan akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang zalim dan Allah berbuat apa yang Ia kehendaki” Q.S. (Ibrahim : 24-27)

Mayoritas ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kalimat thayyibah dalam ayat di atas adalah kalimat tauhid, la Ilaha illa Allah, tiada Tuhan selain Allah. Adapun kalimat khabitsat tak lain daripada syirik, menduakan Allah.

Selain kata fithrah dan hanif, masih ada satu kata lagi yang mengkaitkan kita dengan Hari Raya Idul Fitri, yakni id. Berasal dari kata a' d , id bermakna kembali. Dalam konteks ini, idul fithri berarti kembali kepada makna Qurani dari fithrah, yaitu hanif dan mengikuti jalan Ibrahim, atau kembali kepada makna positif dari fithrah, awal penciptaan. Karenanya Nabi memerintahkan kita untuk saling memaafkan di hari kemenangan ini dan mengatakan bahwa pada hari idul fitri umat Islam menjadi suci kembali seperti saat pertama mereka dilahirkan ke muka bumi ini. Suci, bersih tanpa noda.

Taqabalallahu minna wa minkum, minal a'idin wal faizin, fi kulli a'm wa antum bikhayrin.

1 komentar:

  1. Ramadhan dah kelar
    Hayuk dech, buruan kisahx berakhir...
    penasaran nich... :)

    BalasHapus