Surat dari Langit (5)

Sebuah Nissan Grand Livina perak baru saja memasuki gerbang tol Pasar Rebo. Tiga orang penumpangnya tampak sibuk bercakap.

“jadi, akan kemana kita siang hari ini?” tanya seorang yang duduk di bangku depan sebelah kiri yang sepertinya seorang senior.

“Eh, kita akan ke Rumah Sakit Pusat Nasional pak” jawab satunya yang tengah menyetir.

“dan, di sana kita akan menemui?” ia bertanya kepada seorang yang duduk di bangku belakang, bawahannya, si pekerja lapangan, rep .

“dr. Burhan pak.” pria tanpa nama itu menjawab cepat.

“dr. Burhan Kardiolog ya?” matanya memperhatikan laju kendaraan di depannya
“iya, benar” jawab si rep mengkonfirmasi.

“bagaimana penulisannya selama ini?” masih tetap memandang ke depan.

“setelah saya kelola selama tiga tahun, makin lama makin bagus pak. Bulan kemarin beliau bisa menulis hampir setengah peresepan di rumah sakit tersebut” sigap si bawahan

“dia menggunakan apa untuk PJK ?” menilai

“Awalnya standar, ACE , tapi untuk pasien beliau yang komplikasi berat, biasanya langsung dikombinasi dengan obat kita pak” mengemukakan pendapat.

“apa bagian penjualan bermasalah?” selidik

“Eh, sejauh ini lancar-lancar saja” kata si pengemudi mobil yang merupakan atasan langsung dari si rep.

“kerja rep kita di sana bagus kok pak. Memang demand yang dihasilkan masih kecil, tapi terjadi kenaikan yang signifikan untuk 6 bulan terakhir” meyakinkan.

“kalau tidak salah, dahulu kita pernah mensponsori dr. Burhan ke APCC . Tapi itu sudah lama sekali.” mobil itu berhenti untuk membayar bea tol.

“oh.. kemarin saya sponsor beliau ke ASMIHA pak”  argumen si rep.

“Padahal dahulu, dr. Burhan termasuk tipe dokter yang susah. Beliau tidak mau ditemui rep saat praktek. Saya sendiri harus menunggu lama hingga jam prakteknya usai agar dapat bertemu beliau. Tapi sejak kejadian di tempat prakteknya, ia jadi berubah” mengingat-ingat masa lalu.

“wah, berarti sudah lama sekali kejadiannya ya pak” sambung si pengemudi mobil.

“ehem.. saya kira kamu juga waktu itu belum lahir.” menoleh ke belakang. “Lha wong saat itu dia masih jadi co ass di sana” melanjutkan.

“memang kejadian apa sih pak?” atasan si rep kembali bertanya, sambil berusaha menyalip truk di depannya.

“biasa, hanya masalah asmara. dr. Burhan jatuh cinta kepada suster di tempat ia praktek. Tapi karena berbeda derajat, ayahnya yang waktu itu menjabat direktur rumah sakit marah besar. Si suster langsung ia pecat.” kendaraan itu mulai memasuki Cawang.

“tentu saja dr. Burhan menolak keras keputusan ayahnya dan terjadilah perang mulut di antara mereka. Keduanya saling tarik menarik tangan suster tersebut. Dokter Burhan memegang tangan suster tadi agar tetap tinggal, sementara sang ayah menariknya keluar.” masih terus melaju.

“terus bagaimana pak?” tanya atasan si rep sekali lagi, mencoba mengikuti alur jalan yang sedikit berkelok.

“tentu saja ayah dr. burhan menang, si suster akhirnya diusir keluar dari rumah sakit.”

“kasihan betul” jalanan mulai bumpy ketika mobil berjalan di atas jalan layang tol Wiyoto Wiyono.

“dokter Burhan kemudian meminta saya, untuk memberi pekerjaan kepada mantan kekasihnya itu. Kebetulan sekali, kantor sedang buka lowongan untuk reception desk, dan setelah saya bicarakan dengan pak Ardi, bos saya waktu itu, ia pun diterima masuk” ia memandang ke luar jendela melihat gugusan gedung-gedung pendek di Jakarta.

“maksud bapak, orang itu adalah bu...” mulut si rep ternganga.

“iya, benar.” jawabnya penuh senyum tanpa mengalihkan perhatiannya sekalipun dari gedung-gedung tersebut. “Dia itu mantan kekasih dr. Burhan. Sejak itulah dr. Burhan menjadi pengguna loyal obat-obat kita. Mungkin karena balas jasa.”

“wow” seru atasan si rep seakan tidak percaya.

“Tapi karena rep kita mulai jarang menc-cover-nya perlahan dia beralih lagi ke perusahaan farmasi lain” si atasan memberi tekanan yang dalam pada kata rep.

“kalau dia mau kembali, itu benar-benar surprise. Mudah-mudahan beliau tidak melupakan tindakan kita yang dahulu.” mobil tersebut keluar di pintu tol Rawa Mangun.

“Begitulah kalau kamu memiliki kekasih di tempat kerja. Bakal mengganggu pekerjaan kamu” ia berbicara seakan kepada dirinya sendiri.

“bener nih pak?” goda atasan si rep sambil memutar setir ke arah kiri memasuki jalan arteri.

“lah, itu contohnya” si atasan tersenyum simpul, dan Grand Livina itu mulai berjalan kencang melawan sinar mentari yang mulai condong ke Barat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar