Tanpa Nama (6)

Sementara itu, dari sudut sebuah jendela, sepasang mata terus memperhatikan dua muda-mudi tadi. Jidatnya yang lebar memperlihatkan garis-garis penuh wibawa yang hanya bisa ditandingi oleh kacamata tebal yang membuat keseluruhan wajah dokter berhidung lebar itu tampak seperti patung Buddha yang tenang. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, hanya pandangan mata yang lurus terarah sejak semenit sebelumnya.

Satu menit ketika ia melihat seorang gadis berjilbab ungu hampir saja terjatuh membentur lantai, dan gerakan cepat dari seorang pemuda yang lalu menangkap tubuh itu dan memapahnya ke atas bangku kayu berwarna coklat. Matanya masih tetap menyelidik, ia juga menyaksikan bagaimana si pemuda tersebut memberikan segelas air mineral yang ia beli dari pedagang asongan di seberang jalan. Dari cara ia berlari, membeli air minum dengan tergesa-gesa dan gerak tubuhnya, seakan ia bisa merasakan apa yang ada di dalam benak pemuda tadi. Sebuah perasaan yang dulu pernah menghampirinya, tiga puluh tahun yang lalu.

“Ah, seandainya dia mengerti” gumamnya pelan. Seandainya dia mengerti apa yang datang begitu saja dalam hatimu. Tak perlu jua kau menyesal dengan kebodohan yang mungkin bakal kau lakukan. Ia masih menatap, hingga kedua orang itu menghilang di balik tembok tinggi rumah sakit.

“Ah, cinta”, dan tangannya merogoh masuk kantong jas kerja putihnya yang ia biarkan tersangkut malas di sandaran kursi. Mengeluarkan arloji pipih emas dan membuka isinya. Sebuah foto kumal lusuh, bergambar wanita cantik berseragam putih-putih. Sebuah foto yang tidak pernah ia beri tahu kepada istrinya saat mereka menikah dua puluh tujuh tahun yang lalu. Ia pandang lekat-lekat foto itu dan berusaha menggambar garis-garis pudar dengan telunjuknya. Ia kenal wanita di foto itu sama seperti ia mengenali gadis berjilbab ungu tadi, dan pemuda lugu yang membawakan air yg baru saja datang kepadanya kemarin.

***

Siang itu sama seperti siang-siang hari lainnya di petak kecil kios makanan yang setiap hari menjajakan soto daging dan rawon khas Jawa Timur. Panas dan pengap. Tapi bagi pemuda ini, siang hari itu adalah siang hari yang berbeda. Ia kini duduk berhadapan dengan perempuan yang telah ia nantikan sejak lama. Hanya terpisahkan meja panjang, tempat acar, kecap, garam dan sambal. Gadis di depannya begitu lahap menyantap semangkuk soto yang mengepul hangat membuat peluh menetes pelan dari dahinya yang putih.

Mereka membisu.

Tak ada satu suara pun keluar dari mulut mereka berdua, hanya kelentingan sendok garpu beradu dengan mangkuk. Selebihnya kedua insan itu sibuk dengan makanan mereka masing-masing. Tapi dari dalam diri mereka ada keinginan untuk dapat saling mengenal satu sama lain. Keinginan yang berusaha mereka tutupi dengan mencuri pandang disetiap sendokan dan kunyahan, saat ketika yang lain berusaha mengalihkan pandangannya dan antara lirikan-lirikan yang sayangnya tidak pernah berhasil untuk ditahan.

Mereka masih juga membisu.

Sudah 30 menit, dan kesempatan emas berlalu begitu saja. Si perempuan berdiri, mengucapkan terima kasih sekali lagi dan kemudian pergi tanpa kata-kata.

Semenjak itu, kedua insan tersebut hampir tidak pernah bertemu. Hanya sebuah bangku kayu panjang berwarna cokelat yang kini menjadi saksi. Ketika bayangan wanita itu selalu duduk tertunggu di sana, sementara si lelaki tanpa nama hanya bisa memandang dari balik pintu kaca sosok yang makin hari makin pudar di telan waktu.

“kring...kring...”

Pikirannya melayang ke arah telepon yang tertuju untuknya. Sebuah undangan menonton film bersama rekan kerjanya. Ia pun bergegas pergi dan dua puluh menit kemudian telah hadir di sana. Bioskop Cikini.

Tidak ada yang menarik, pikirnya. Ketika adegan pertama di film yang mereka tonton mulai diputar.
Bahkan tatkala mereka nongkrong di warung makan sebelah bioskop, tak ada satu pun yang benar-benar ia nikmati. Hanya duduk, tertawa, saling membicarakan, sisa dirinya masih merindukan pertemuan dengan gadis berjilbab ungu tersebut.

“kau tahu, gadis manis berjilbab ungu di perusahaan kita” kata temannya membuka pembicaraan.

“anak baru itu sekarang sedang kasmaran dengan detailer dari farmasi lain” ia hisap rokoknya dalam-dalam.

“tapi pacar barunya itu ternyata cuek sekali. Ia bilang, banyak perempuan seperti kamu yang bisa saya dapatkan.” beberapa orang mulai memperhatikan.

tersenyum miris.

“saya yakin hubungan mereka tidak akan bertahan lama” asap mengepul pelan ke atas.
“kau tahu teman...” ia menatap si Tanpa Nama

“sebenarnya dia suka padamu.” hening.

Dia suka padaku?

“iya, apalagi waktu kamu selamatkan dirinya yang hendak terjatuh di rumah sakit itu” kawannya melanjutkan.
“ia cerita itu semua kepada teman-temannya” sambil asyik menikmati batang rokoknya.

ia cerita itu semua. Kepada teman-temannya?

“setidaknya dia memberi tahu kepada saya” memandang lurus ke depan
“tapi kau terlalu dingin kawan” ia utarakan itu sambil menolah kepada si Tanpa Nama.
“ dan kini hatinya beku oleh watakmu yang dingin”

Aku, aku tidak dingin.
Aku, aku ada di sana, setiap minggu.
Aku, aku menunggunya.
Dan ia tidak ada.
Dia tidak ada.

“kalau kau benar-benar menyukainya, mungkin kau harus benar-benar mengejarnya” ia tetap lekat-lekat kawannya itu.

Kau harus mengejarnya kawan.

4 komentar:

  1. makane to...
    kalo suka, dikejar,
    jangan cuman diam aja,
    melihat tok...

    "aku cinta kamu"
    disampaikan dengan jelas, sejelas2nya...
    diucapkan, dengan komunikasi yg baik dan efektif... :P
    ga diteriakin dlm pikiran...
    hwehehehe.....
    pisss... *.*

    BalasHapus
  2. cinta itu bagaikan kentut, bila ditahan bikin sakit perut, bila dikeluarkan bikin ribut...

    so, keluarkan saja yang ada di benak, utarakan apa yang dimaui, dan biarkan dunia berteriak. toh, hidup harus memilih dan memutuskan. bila takut memilih berarti takut hidup... takut hidup... (tau kan terusannya?) hehehe... :D
    *ini fiksi atau kisah nyata ya?*

    BalasHapus
  3. jadi teringat komentarnya Sonny, realisme selamanya menjadi bagian dari genre fiksi. Dan sepertinya saya mengikuti adagium tersebut. :-)

    BalasHapus