Persona

Saya sering mengikuti kuis-kuis kepribadian, baik yang bersifat populer maupun yang memiliki kadar ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Alasannya sederhana, saya ingin mengetahui bagaimana orang memandang diri saya.

Seperti berkaca, kuis-kuis tersebut, sampai batas tertentu menyediakan sejumlah batasan-batasan yang membuat kita tahu, seperti apa diri kita sebenarnya. Yang paling memenuhi kriteria barangkali kuis MBTI yang mengukur tingkat keterbukaan, intuisi dan sifat kita dalam menilai sesuatu. Kuis ini menggunakan parameter angka, sehingga hasilnya sangatlah dinamis dan tidak memposisikan kita dalam suatu kriteria kepribadian tertentu sebagaimana model kepribadian zodiak maupun shio.

Awal mulanya, saya percaya bahwa model kepribadian saya adalah INFJ. Yang berarti menggunakan intuisi secara introvert dan memberikan penilaian menggunakan perasaan. Dalam katalog kepribadian Myer-Briggs orang yang berkepribadian INFJ cenderung menjadi pendengar yang baik dan memiliki kemampuan untuk melayani orang lain dengan bagus. Orang-orang ini juga memiliki kepekaan perasaan yang tinggi, meski tidak ia tunjukkan kepada orang lain. Bentuk karir yang sesuai untuk INFJ adalah psikolog dan perawat.

Tentu saja, pendapat Myer-Briggs tersebut tidak seratus persen mutlak. Keenambelas tipologi kepribadian yang ia contoh dari Jung juga bukan sesuatu yang seratus persen ilmiah. Jung sendiri terkenal karena menggunakan sains kuno, sebagai latar belakang penelitian kepribadiannya. Hal yang bisa dimaklumi, karena saat itu psikologi baru meretas sebagai sains baru.

Tapi, yang menjadi perhatian saya bukanlah penggambaran setiap model kepribadian yang definitif dari Myer-Briggs. Saya lebih cenderung tertarik kepada penggunaan analisis kuantitatif dalam menentukan kepribadian seseorang. Saya pun berusaha memahami bagaimana cara kerja dari tes tersebut.

Menyenangkan juga, karena setelah saya perhatikan dengan seksama, model kepribadian saya berubah lagi menjadi INTJ. Dari beberapa aspek, INTJ tidak jauh berbeda dari INFJ. Perbedaan diantara kedua tipologi ini hanya pada unsur Thinking yang menjadi dasar penilaian. Dengan kata lain, bila orang yang berkepribadian INFJ selalu menggunakan Feeling sebagai sarana penghakiman, maka INTJ menggunakan otaknya untuk menghakimi.

Menarik, karena untuk berubah dari INFJ ke INTJ saya hanya dipisahkan oleh 6 skor saja. Anehnya, skor ini lumayan signifikan, karena jumlah pertanyaan yang diajukan tidak lebih dari 20 poin. Well, apakah dengan demikian model kepribadian saya ini adalah INTJ? Atau, ini adalah sebuah swing personality, dimana kita bisa dengan mudahnya berpindah dari satu kepribadian ke kepribadian yang lain?

Data kuantitatif sebenarnya memiliki keunggulan dibanding yang kualitatif, karena ia menawarkan sebuah imajinasi yang lebih luas spektrumnya. Anggap saja telah terjadi swing personality, seharusnya yang menjadi perhatian khusus adalah gradasi yang muncul antara dua kepribadian tadi. Maskud saya, pada poin mana saya sedikit berubah menjadi seorang INTJ dibandingkan turunnya nilai INTJ yang saya miliki.

Terus terang saya tidak tahu, apakah setiap pertanyaan yang diajukan memiliki korelasi yang kuat dengan tindakan kita sehari-hari, ataukah pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya sebuah fenomena yang tersembunyi dari kesadaran kita?

Sebagai contoh, ketika ada pertanyaan: apakah kamu cenderung faktual daripada spekulatif atau sebaliknya. Kita tentu akan bertanya, tentang makna kedua kata tadi. Setelah kita mengetahuinya lalu kita mencocokkan arti yang telah didapat dengan gambaran diri yang kita buat. Tentu saja, akan terdapat banyak varian jawaban yang muncul. Saya mungkin akan menjawab bahwa saya ini cenderung faktual. Tapi dari pengalaman yang ada, saya ternyata bisa sangat spekulatif.  Lalu mana yang harus saya pilih, faktual atau spekulatif?

Kesulitan tersebut ternyata dapat diatasi dengan memberikan sejumlah skor ketertarikan sesuai bintang. Tapi kita tentu akan kembali bertanya, bagaimanakah caranya mengetahui bahwa saya ini 30% spekulatif dan 70% faktual? Bukankah itu mengharuskan kita bertanya pada orang lain. Maaf, menurut anda saya faktual atau spekulatif sih? Masalahnya, siapa yang menjadi tempat kita untuk bertanya.

Pada akhirnya, yang saya dapat hanyalah skor-skor semata. Bahwa saya 80% introvert, 80% intuitif, 60% Thinking dan 70% judgement. Kira-kira, apa yang bisa kita dapatkan dari deskripsi kuantitatif seperti tadi? Apakah jauh lebih mudah mengenal orang dengan cara seperti ini, ataukah cukup kita serahkan pada kepribadian zodiak, bahwa orang yang lahir di bawah konstalasi Cancer cenderung romantis, keras di luar tapi lembut di dalam serta sentimentil?

Hmm... setelah saya pahami, model pembacaan kuantitatif ini seperti gambaran wajah kita. Kita tahu bahwa setiap manusia memiliki wajah yang berbeda, tapi saat kita bertemu dengan orang-orang yang berbeda ini, kita cenderung mengelompokkan mereka kedalam beberapa grup. Modelnya berbeda-beda. Bisa dualistik, rupawan dan buruk rupa, baik dan jahat, atau sahabat dekat, sedikit dekat, tidak dekat, dan jauh.

Bahkan apabila kita mampu melihat dalam spektum yang lebih luas, kadangkala kita membutuhkan penyederhanaan. Ya, sebagaimana ekonomi, kita juga butuh menghemat waktu dalam mengenal orang lain. Dari sinilah kemudian muncul yang namanya stereotip. Baik yang bersifat kultural maupun yang lahir dari pengalaman pribadi kita masing-masing.

Berhubungan dengan kepribadian ini, kadang saya terkejut ketika mendengar orang lain berbicara bahwa saya ini sombong. Ada juga yang berkata angkuh, sok pintar, dan sinis. Untuk yang terakhir memang saya akui itu. Hee... tapi untuk tiga sifat pertama. Well, saya akan berkata bahwa saya tidak demikian adanya. Tapi kenapa anggapan itu muncul.

Yup, jawabanya adalah persepsi. Kita diciptakan dengan persepsi yang berbeda-beda, sesuai dengan kadar intelektual kita dan keberuntungan yang berbeda-beda pula. Tapi tentunya ada standar umum yang bisa digunakan untuk menilai hal tersebut bukan. Ah, ini berarti kembali ke pertanyaan saya sebelumnya, kepada siapa seharusnya kita bertanya atau kepada cermin yang mana seharusnya kita berkaca. Rumit bukan.

Akhirnya, mungkin saya akan berkata, kenapa harus diambil pusing. Bila kepribadian selalu berkorelasi dengan nilai, bukankah lebih baik kita menggunakan nilai-nilai moral yang dalam dibandingkan nilai-nilai etiket yang superfisial. Bahwa, kesadaran diri terkadang jauh lebih penting dari topeng yang kita gunakan. Meskipun kita paham, tentu tanpa segala gincu itu coreng moreng wajah kita akan terlihat jelas. Tapi setidaknya, kenyataan akan jauh terlihat menarik apabila kita buang topeng itu dan menggunakan wajah kita yang sesungguhnya.

Open your mind, open your heart. Semoga kita masih mempunyai kedua hal tersebut.

Robohnya Masjid Kami

Saya punya kebiasaan khusus untuk mencatat mimpi-mimpi tertentu yang saya anggap penting dalam hidup saya. Beberapa tahun yang lalu, saat sedang depresi ringan, tak terhitung sejumlah mimpi-mimpi aneh yang saya alami dan kemudian saya catat dan saya coba untuk pahami. Beberapa memang dalam bentuk metaphor yang kadang tidak masuk akal lainnya dalam bentuk yang sederhana. Sangat sederhana, hingga saya tidak yakin apakah penafsiran saya tentangnya mencukupi ataukah tidak.

Tentu ada banyak cara menafsirkan mimpi-mimpi yang kita alami. Kita bisa saja membeli buku tafsir mimpi yang sering dijual di toko buku atau dijajakan diemperan jalan, membaca isinya dan? Well, saya malah berpendapat kok tafsirnya tidak logis? Mimpi digigit ular misalnya, sering diartikan sebagai mimpi bakal bertemu jodoh. Tapi bagi orang yang sadar dalam mimpinya, tentu saja ia tidak akan membiarkan dirinya digigit ular bukan. Setidaknya, dia akan mengambil sapu, tongkat atau benda-benda lain yang bisa digunakan sebagai pertahanan diri untuk mencegah ular tadi agar tidak menggigitnya. Cara lain yang lebih efektif adalah berlari menjauh dari ular tersebut. Intinya, tidak ada yang mau digigit ular bahkan kalaupun tahu bahwa ternyata ular itu adalah jodohnya.

Cara lain yang biasa digunakan untuk menafsirkan mimpi adalah menggunakan metode psikologis. Embah psikologi, Freud bahkan menulis sebuah buku khusus tentang mimpi, The Interpretation of Dream. Tentu kita akan menemukan jejak pemikiran Freud dalam cara ia menafsirkan mimpi yang melulu soal seksualitas dan represi. Sebagai contoh, ketika kita bermimpi memegang balon, Freud menafsirkannya sebagai mimpi hendak memegang -maaf- payudara. Baginya, semua impuls dan gejolak pemikiran seseorang sesungguhnya tidak pernah terlepas dari Id, libido dan seks. Namun, yang menarik dari metode penafsiran mimpi ala Freud ini adalah ia bersifat logis, memiliki dasar pemikiran yang jelas dan runut sehingga kita bisa melacak sejauh mana kebenaran hipotesis tafsir mimpi yang kita artikan.

Beruntung, studi terhadap mimpi cukup banyak. Beberapa lembaga atau individu yang tertarik akan urusan ini pun telah banyak mendokumentasikan hasil penelitian mereka. Baik yang masih bersifat pseudo scientific hingga yang benar-benar rigid dan tidak punya nilai apa-apa selain angka-angka statistik dan hipotesis yang telah usang. Bila tertarik, mungkin bisa mengunjungi situs http://www.dreammoods.com. Di sana terdapat sebuah forum diskusi sekaligus dokumentasi berbagai macam mimpi berikut tafsirnya, serta sebuah kamus mimpi online.

Tentu saja, kita tidak bisa percaya hasil kerja mereka seratus persen. Mimpi kadang terlalu bersifat umum sehingga semua orang bisa memahaminya. Kadang juga bersifat kultural, agama, tingkat pendidikan sesorang hingga personal. Intinya, hanya orang yang mengalami mimpi saja yang bisa mengerti mimpi itu dengan sejelas-jelasnya. Adapun orang lain hanya berfungsi sebagai fasilitator dan pemberi jalan agar si 'pemimpi' ini lebih terbuka terhadap terhadap pemahamannya sendiri.

Ambil contoh, mimpi yang saya alami seminggu sebelum saya berpisah dengan pacar saya. Isinya bahkan berkaitan dengan Hari Raya Kurban. Tatkala harus memilih domba mana yang harus saya sembelih, tentu saya akan memilih domba yang gemuk. Tapi begitu dikurbankan, domba itu malah berubah wujud menjadi sosok mantan pacar saya itu Tentu saja saya sangat terkejut, meskipun dalam hati kecil saya paham, bahwa mimpi ini merupakan sebuah isyarat perpisahan. Tentang bagaimana bentuk hubungan antara kami berdua, saya kira hanya saya dan dia saja yang mengetahuinya dan tentu saja itu bukan untuk konsumsi umum.

Tapi bagi orang lain yang mengerti, tentu akan muncul pemikiran yang jelas. Bisa saja orang ini jauh lebih luas pengetahuannya daripada saya, sehingga bisa memahami mimpi lebih dalam daripada pemahaman saya tentang mimpi tersebut. Di sini, akhirnya saya menyadari, bahwa membaca mimpi itu mirip sekali dengan mempelajari semiotika, ilmu tentang tanda. Semuanya terdiri dari sign, signifier dan signification seperti kata Saussure. Sama ketika kita membaca isyarat-isyarat samar diantara para calo. Tidak ada yang mau mengakui adanya isyarat tersebut, meskipun ia ada. Dan karena itulah justru keberadaannya menjadi ada dan mencurigakan. Yang berbeda, mimpi adalah sebuah sistem pemikiran tertutup yang beroperasi berdasarkan pengalaman pribadi kita, entah disadari ataupun tidak.

Kebetulan, pagi ini, setelah shalat shubuh, saya mengalami mimpi yang menarik. Saya pergi ke sebuah daerah yang menurut saya dikuasai oleh orang-orang yang rusak moralya. Beberapa bahkan mengendarai sepeda motor sambil bertelanjang badan. Saya pun berhenti di sebuah masjid yang berada di dalam lingkungan pesantren. Suasana di sini amat berbeda, semua orang berpakaian putih dan hanya sibuk mengaji. Ketika waktu shalat tiba, terjadilah gempa. Anehnya, orang-orang ini menganggap itu hanyalah gempa biasa. Mereka melanjutkan kegiatan mereka tanpa terusik apa-apa. Saya yang merasa ada yang tidak benar dengan tiang-tiang masjid yang mulai limbung berusaha sesegera mungkin keluar dari masjid dua lantai tersebut. Benar saja, masjid itu langsung roboh begitu saya sudah berada di halaman terbuka.

Di sebelah masjid yang roboh ini, ada sebuah masjid lagi. Jamaah masjid ini jauh lebih kacau dari jamaah masjid yang roboh tadi. Pakaian mereka tidak seragam, banyak yang malah bercanda ketika shalat, lantainya teramat kotor dan bahkan imamnya tidak benar cara shalatnya. Saya sengaja pergi ke masjid yang masih berdiri ini mengabarkan kejadian di masjid sebelahnya, karena saya tengah dalam perjalanan dan tidak memiliki waktu atau tenaga untuk menolong korban yang berjatuhan di masjid yang roboh. Ternyata mereka tidak tanggap merespon. Ketika waktu shalat tiba, baru dua mayat, laki-laki dan perempuan yang dibawa ke masjid untuk dishalatkan. Itupun, dengan cara shalat jenazah yang aneh dan tidak benar.

Saat bangun, tiba-tiba saya teringat cerpen A.A. Navis berjudul Robohnya Surau Kami. Isi cerpen ini tentang seorang Haji yang tidak peduli dengan masyarakatnya lagi. Ia hanya mengejar akherat untuk dirinya sendiri. Alhasil, ketika kiamat ia malah ditegur malaikat atas pilihannya tersebut. Ah, apa mungkin saya adalah Haji itu? Atau mungkin saya disindir karena sikap apatis saya dan sikap saya yang tidak berdaya memperbaiki sesuatu yang seharusnya tanggung jawab saya? Entahlah, apapun itu, setidaknya mimpi ini memberi saya inspirasi untuk lebih responsif dan bertanggung jawab.

Ma baqiya min l-nubuwwah illa l-hilm l-shalih, tidak ada yang tersisa dari kenabian /wahyu selain mimpi yang benar/ shalih/ relevan – hadist.

Senja

Terlalu jauh, terlalu jauh. Apa yang kau lakukan ketika semuanya terasa begitu jauh dari yang kau kira. Tentang mimpi-mimpi yang menyeret kita ke kegelapan malam yang pekat. Membutakan pandangan kita tentang arah yang mesti dituju. Kesanakah? Kekirikah? Aku bahkan tidak tahu mana bagian yang kiri dan yang kanan.

Semua tentang berlalunya waktu yang pongah untuk kita lalui. Dalam kecemburuan-kecemburuan yang tinggi. Tak pernah kulihat langit setinggi ini sebelumnya. Saat kutatap tiang bendera yang menusuknya begitu lunglai. Ia kehilangan ketinggian untuk menggapai samudera biru di atas sana. Atau kekerdilan yang kurasa saat ini, meratakan jiwaku bersama tanah yang ambruk ke haribaan bumi.

Terlalu jauhkah? Bukankah langkahku pelan menapak batas cakrawala yang kian lama kian hilang tertelan tembok langit. Dan diujung bumi ini, ketika deburan samudera mengarah ke bawah kaki-kakiku yang lunglai. Aku masih terus bertanya. Terlalu jauhkah untuk kutuju?

Apa sebenarnya yang kaupikirkan tentang kematian? Apakah itu sebuah lanjutan dari jalan tanpa ujung ini. Dan seandainya ku terjun ke bawah tebing curam di bawahku, karang dan ombak menelan melumpuhkan persendian-persendianku yang remuk oleh tarikan gravitasi. Menghanyutkan tubuh yang membusuk bersama air laut. Dan santapan-santapan sore yang terpermai bagi burung-burung laut dan kawanan ikan di samudera ini. Hilangkah aku?

Tapi hilang bukan berarti berhenti. Pernahkah kau tersesat hingga memilih lebih baik hancur daripada lelah menggerogoti sekujur tubuh. Seperti tertelan di hamparan pasir yang luas, saat terik menusuk dalam ke jeroan tubuh, entah kemana ku akan pergi. Bersama kalajengking dan sapuan ular derik atau duri-duri tanpa gairah yang siap melumat tubuhmu ketika malam bangun menutup siang. Sungguh ku tak tahu.

Maka kuberjalan dalam gelap ini. Gulita menyamar menghardik langkah yang tertatih. “Ah, kau salah. Bukankah itu kubangan bagi para pecundang?” tapi aku memang pecundang. Jadi tak apalah bila kutidur sebentar bersama mereka di sana. “Tapi tidur bukanlah pilihan yang baik. Karena sejak lama, tak pernah kulihat mereka bangun dan bergegas pergi”. Mungkin kau benar.

Tapi kemana? Saat Tuhan menghilang dari pandangan, bisakah kuberharap sesuatu yang seharusnya kuharapkan. Atau, haruskah kutunggu Dia menjemput, menghukum dan memarahiku laksana perempuan itu. Yang menarik tubuhku ke dalam pelukannya yang hangat dan membuangku mentah-mentah kala pagi menggigil memangsa tubuh telanjangku. Ah, keberingasan malam.

Adakah?

“Siapa?”

Tuhan.

“Tidak tahu”.

Itu Lagi*

Ah, cinta. Kalau tidak salah, sudah cukup lama semenjak peristiwa akhir tahun lalu saya tidak menulis lagi tentang cinta di blog ini. Bila dibandingkan saat itu, terus terang pengalaman sekitar hampir dua bulan ini merupakan anti tesis. Sekarang, saya benar-benar mengalami cinta dalam arti sesungguhnya. Bukan sebatas khayalan atau pendapat pribadi yang bertepuk sebelah tangan, tapi sebuah chemistry yang begitu melenakan dan melarikan saya dari kenyataan sehari-hari.

Awalnya, semua hanyalah harapan-harapan yang kupanjatkan di kala Ramadhan, dan ternyata Tuhan memberi jalan. Kami memulainya oleh suatu peristiwa kecil yang tak kuduga sama sekali. Hati kami bertaut melalui al-Quran. Entah apa ini sebuah rekayasa agama, penyelewengan atau apalah, (bahasa kerennya komodifikasi Hehehe...) tapi katanya ia tertarik padaku saat kusuruh ia membuka suatu bagian dari Kitab Suci tersebut. Dan sejak itulah, entah berapa puluh lembar voucher, berton-ton kata cinta, malam-malam benderang bagaikan siang, kami mulai berpacaran.

Ah, barangkali ini cerita cinta biasa. Dan kupikir juga demikian, tapi bagiku cinta itu tak pernah menjadi biasa. Ia selalu menjadi luar biasa, bahkan tanpa harus kutuliskan kisah itu menjadi sebuah novel, atau kemandekanku dalam menulis, kegilaan kami yang seakan tidak pernah ingin dipisahkan, cinta bagiku selalu menjadi prioritas pertama. Ia menyingkirkan kebutuhan-kebutuhan lain hingga tak sadar, ternyata kita hidup di bawah langit yang biru yang mengatakan: "Hey, cinta juga butuh makanan". Sungguh aku terlena, meskipun sadar, bahwa cinta juga butuh pulsa.

Maka sebagaimana suasana cinta itu yang datang begitu cepat, kami pun mulai bertengkar lebih cepat pula. Entah siapa dahulu yang memulai, barangkali sikapku yang susah dimengerti, atau keinginannya untuk bebas, kami bertengkar dan kemudian baikan lagi. Bertengkar lagi, kemudian baikan lagi dan bertengkar lagi kemudian baikan lagi. Ah, kenapa bisa begitu? Padahal hanya pacaran saja lho, enggak bakal terbayang bila dahulu saya teringat dengan keinginan menikah tanpa pacaran. Apa jadinya? (atau gimana ya rasanya orang yang berpacaran lebih dari 5 tahun tanpa putus) Ah, untung juga di penghujung dua puluhan ini aku diberi kesempatan untuk mengalami hal tersebut. Rasanya harus berpikir lebih jernih saja agar rasa "mabok" itu pergi. Tapi bila tidak dimabok cinta lagi, apakah masih tetap mencinta?

Dan begitulah, ternyata mempertahankan suatu hubungan jauh lebih sulit daripada memulainya. Tak ayal, banyak sekali cerita tentang perpisahan sebuah cinta yang begitu menyakitkan. Bila begitu, layakkah kita menyakiti orang yang kita cintai entah untuk alasan apapun, bila yang kita inginkan adalah sebuah keutuhan. Ah cinta, semoga Tuhan masih mempercayakan kata itu padaku.


P.S.
*mengikuti lagunya Letto, "itu lagi, cinta lagi..."
Bukan tulisan serius, hanya curhat biasa saja.
Tulisan ini di muat pada malam sebelum ujian CPNS Depag esok hari di almamater saya yang kedua. Semoga bisa lulus.

Rhapsody Biru

Hening dan malam
Akankah air menetes jatuh
Dari ujung kelopak
Yg basah oleh hujan

Bertemu angin yg tega
Mengibar tudung yg lesu
Menunduk bersama wajah
Yg terpejam lesu

Bahwa kasih tak selamanya
Canda dan tawa
Tapi basah dan perih
Seperti bayi yg menangis, bahagia

Namun malam hanyalah hitam
Merangkum dalam kakinya
Bayang-bayang malu
Yang berdesir oleh lampu

Bukankah tangisan itu datang
Saat mendung menggelayut
Hitam dalam hati yang terdesak
Keluar, keluar, keluar!

Maka biarkanlah anak sungai itu
Berlarian di bawah gerimis
Hujan yang menyapu wajah
Basah, sedih dan sendiri

Mungkin ku tak mengerti
Alpa, abai dan tanpa hati
Mungkin hadirku hanya hinggapan
Kecil di nanti

Semisal air yang berlalu
Pergi tercerap selokan mampat
Dan perlahan menggenang, kemudian
Hilang kala hujan lunglai

Mungkin pula akulah sang bayi
Yang tak pernah tahu arti tangis dan tawa
Karena hanya ada gejolak yang membuatku begitu
Lalu hujan turun dan air matamu jatuh

Seumpama rhapsody yang menggelora
Merajamku dalam balutan bahagia
Menarik kalbuku ke dalam ekstase hampa
Dan menarik mata hatiku, menangis.

Bukan ungu yang membunuh
Atau putih yang membeku
Tapi biru yang menderu
Haru memburu

Bukan aku
Bukan kamu
Atau mereka
Tapi Dia, kau dan aku tahu.

Richard Stallman, GNU/Linux dan Sumpah Pemuda


Beberapa minggu yang lalu, dari sebuah milis saya mendapat informasi mengenai kedatangan pendiri dari GNU (GNU Not Unix) Richard M. Stallman ke Indonesia. Berhubung acara tersebut gratis dan tidak mensyaratkan hal lain, selain mencantumkan nama lembaga yang diwakilkan, saya pun mendaftarkan diri untuk menghadiri acara tersebut. Sebagai basa-basi administrasi, saya 'meminjam' sebentar nama lembaga tempat dahulu saya belajar diskusi. Untungnya juga tidak ada keterangan tambahan sehingga email pendaftaran yang saya kirimkan disetujui oleh panitia. Berarti tinggal hadir tepat waktu di venue.

Nyatanya, ketika hari H tiba, saya datang terlambat. Penyebabnya, ketika memasuki area Menteng menjelang Bundaran HI, tiba-tiba kompas di kepala saya sedikit terganggu. Terpaksa harus putar-putar dahulu selama kurang lebih 15 menit hanya untuk masuk ke jalan MH. Thamrin ke gedung BPPT. Untungnya juga masih dapat hadir, meskipun telat hampir satu jam. Di sanalah, untuk pertama kalinya saya bisa melihat langsung dedengkot Free Software Movement (Gerakan Perangkat Lunak Bebas) itu.

Nama Richard Stallman bagi kalangan awam memang tidak begitu menarik untuk disimak daripada nama lain yang begitu terkenal dari dunia IT macam Bill Gate, yang begitu terkenal sebagai pendiri Microsoft dan milyarder kelas dunia. Bahkan, bagi mereka yang pernah mendengar kata Linux, nama orang ini masih kalah pamor dibandingkan Linus Trovalds, yang darinyalah kernel Linux dibangun. Tapi bagi peminat dan pengguna perangkat lunak bebas Richard Stallman adalah dewa.

Bagi saya sendiri, setelah akrab dengan GNU/Linux, Stallman termasuk diantara orang-orang yang paling inspiratif. Sama seperti duo pendiri Google, Sergey Brin dan Larry Page, atau sang penyelamat Apple, Steve Jobs serta yang sedikit ngepop tapi masih tenggelam dalam alam bawah sadar saya, Mark Zuckerberg, pendiri Facebook. Bisa dibilang, merekalah orang-orang yang mampu memberi warna tersendiri dalam peradaban dunia.

Ambil contoh Google. Bermula dari sebuah perusahaan kecil hasil joint dua mahasiswa komputer, pencapaian Google benar-benar spektakuler. Ia berubah menjadi perusahaan kelas dunia dan menempati ranking pertama sebagai perusahaan terbaik dunia fersi Fortune 100. Pun, produk-produk utama mereka disamping search engine macam Gmail, Google Earth, Androids, Google Chrome OS, benar-benar sangat imajinatif dan user friendly. Dan semuanya mereka hadirkan dengan cost yang sangat rendah bahkan gratis.

Adapun Steve Jobs yang dahulu pernah didepak keluar dari Apple, justru hadir sebagai sosok penyelamat perusahaan, melalui terobosannya lewat Ipod, Iphone, dan Macbook Air. Untuk urusan software para pengguna Macbook tentunya akan berbangga dengan Mac Os X mereka dibanding Windows Vista yang boros resource itu. Zuckerberg? Ah, pasti tiada hari yang anda lewatkan tanpa membuka Facebook bukan. Lalu apa sebenarnya yang saya kagumi dari Stallman?

Membandingkan Stallman dengan konglomerasi Gates dan kekayaan empat orang di atas, sungguh sebuah kekeliruan. Maksud saya, baik Stallman, Gates, duo Google, Jobs dan Zuckerberg sama-sama dilahirkan oleh peradaban Barat yang Kapitalis. Dalam dunia ini, keberhasilan seseorang tentu saja dinilai dengan modal. Tapi apa yang dilakukan oleh Stallman dengan GNU-nya benar-benar berbeda. Alih-alih membangun sebuah korporasi yang menguntungkan, ia justru membangun asas solidaritas dan komunitas yang menjunjung tinggi kebebasan dalam, menggunakan, merubah dan mendistribusikan sebuah perangkat lunak.

Perangkat lunak saat ini yang didominasi oleh Microsoft Windows sebenarnya merupakan jenis perangkat lunak proprietary (baca: tertutup). Pengguna perangkat lunak ini, tidak memiliki kebebasan untuk merubah dan mendistribusikan software yang mereka beli, karena yang mereka miliki sebenarnya hanyalah hak untuk menggunakan saja bukan keseluruhan software-nya. Berbeda dengan perangkat lunak terbuka, yang ketika kita membeli perangkat lunak tadi (bahkan bisa jadi gratis) si pengguna berhak melakukan apa saja atas software yang mereka miliki, termasuk didalamnya mendistribusikan dan membagi-bagikan secara gratis.

Sebagai seorang idealis, Stallman memandang bahwa penggunaan lisensi tertutup pada software proprietary sebenarnya merupakan tindakan yang jahat, evil. Dia berargumentasi, apa yang mereka sebut sebagai software proprietary tak lain daripada pengembangan software terdahulu yang sebenarnya telah ada. Dengan demikian, apa yang mereka kerjakan tak lebih dari melengkapi kekurangan software tadi daripada membuat yang baru. Dengan kata lain, perangkat lunak sebenarnya hasil jerih payah ribuan orang yang nilainya terlalu rendah untuk diukur dengan komersialisasi. Lalu bagaiman seharusnya industri perangkat lunak dijalankan, dari mana misalnya sang programmer mendapatkan penghasilan mereka?

Menurut Stallman, industri software mendapatkan pemasukan lewat dua cara. Pertama, melalui hasil penjualan software yang mereka produksi, kedua, lewat servis dan customisasi software tersebut sesuai pesanan para klien. Faktanya, pemasukan terbesar produsen software (sekitar 60% - 70%) justru berasal dari layanan dan customisasi tadi. Dan bagi Stallman melalui cara inilah justru industri perangkat lunak berkembang.

Dengan sebuah software yang benar-benar terbuka, mau tidak mau masyarakat luas dapat berpartisipasi dalam mengembangkan software tadi sehingga menumbuhkan sense of belonging yang tinggi di antara mereka yang pada akhirnya mampu menambal kekurangan yang kerap terjadi pada perangkat lunak tertutup, seperti kahadiran crack dan malaciuous thread.  “tidak ada software yang sempurna” katanya, “untuk itu kenapa kita tidak bergotong-royong untuk membangun bersama, daripada hanya memuaskan ego semata” protes Stallman.

Solusi yang diberikan Stallman mengenai pelayanan dan customisasi dalam industri software sebenarnya merupakan langkah adaptif dalam menghadapi tantangan dunia digital. Hal serupa juga dialami oleh industri musik dan film. Ketika proses copy-mencopy menjadi lumrah dan produk yang dihasilkan sepenuhnya digital, batas antara hak milik dan hak cipta menjadi kabur. Beberapa mensiasati dengan melakukan copy protection, lainnya malah merelakan hasil karya mereka ke pasar dan meraup untung dari live performance dan merchandise. Satu yang harus ditiru dari fenomena ini adalah berkembangnya komunitas-komunitas seaspirasi yang memberikan warna sekaligus sumber pemasukan bagi industri kreatif. Istilah marketingnya, loyalitas pelanggan. Dan itulah yang diharapkan oleh Stallman dengan Gerakan Perangkat Lunak Bebas-nya.

***

Pagi sebelum berangkat, saya menyaksikan di televisi laporan dari sejumlah tempat akan peringatan Sumpah Pemuda yang jatuh pada hari itu. Dari segi isi, memang tidak ada kaitan antara kredo para pemuda pribumi Hindia Belanda akan tanah air, bahasa dan bangsa yang satu dengan definisi para penggiat Free Software Movement. Namun dari segi semangat, apa yang mereka suarakan merupakan sebuah idealisasi dari keinginan yang mendalam.

Pada Sumpah Pemuda politik identitaslah yang mengemuka. Di sini, kata Indonesia dirumuskan melalui tiga butir pokok yang mereka ikrarkan. Adapun, FSM meletakkan politik moral sebagai kelanjutan politik identitas. Bahwa apa yang mereka perjuangkan melalui gerakan tersebut tak lain dari sebuah sintesis akan kebebasan individu dan tanggung jawab sosial. Filosofinya mengkaitkan kata 'kebebasan untuk' bukan 'kebebasan dari'.

Perjuangan bangsa ini dari penjajahan, bisa diartikan sebagai 'kebebasan dari', dan itu merupakan jenis kebebasan pertama yang kita kenal. Seiring dengan perubahan jaman, kata kebebasan tidak bisa terus menerus diartikan dalam bentuk negativitas. Kebebasan membutuhkan kreativitas dan positivitas, untuk itulah muncul istilah 'kebebasan untuk'. Yakni sebuah praxis, ikhtiar untuk membangun peradaban yang lebih solid dan bertanggung jawab. Dan dalam titik tertentu, demokrasi.

Selamat datang di masyarakat post-kapitalis.

Untuk Sebuah Nama (3)

Butuh beberapa hari saja bagi si pria tanpa nama itu untuk bisa menyelesaikan dua bab pertama novel yang ia kerjakan. Sebenarnya, ada satu bab yang khusus ia sediakan untuk menggambarkan karakter dan kepribadian si gadis berjilbab ungu itu. Tapi ide untuk menuliskan hal tersebut tampaknya masih ia tangguhkan. Ia memilih menyelesaikan terlebih dahulu bab ketiga novelnya yang berjudul “Surat dari Langit”.

“kupikir surat dari langit merupakan titik tolak dari kegelisahan sang tokoh utama, dan keinginannya benar-benar mengutarakan cintanya pada sang gadis. Hanya, aku enggan untuk mengungkapkan namaku di dalam cerita tersebut.”

Baginya nama hanya akan membawa pikiran pembaca kepada seorang tokoh. Dan tokoh tak lebih dari sebuah karakter yang terpenjara dalam dunia buku. Ia sendiri lebih senang membiarkan si tokoh ini keluar masuk di antara realitas naskah dan realitas dirinya, saling jalin menjalin menciptakan sebuah model kehidupan yang berbeda tapi jauh lebih dekat dan intim. Satu-satunya yang membuat dia gelisah adalah kenyataan apakah novel yang ia tulis ini sampai kepada tujuan dari segala tindakannya itu. Apakah si perempuan berjilbab ungu akan mengerti bahwa ia merupakan subjek sekaligus objek yang tumbuh dalam cerita ini.

“Aku juga tidak terlalu mengerti. Barangkali aku juga subjek sekaligus objek dalam cerita ini juga”

Dan perasaan yang sesungguhnya dari cinta yang mulai tumbuh dan bersemi di dalam dirinya memaksanya untuk kembali membuka pikirannya akan diri sang perempuan. Yang dia tahu, perempuan berjilbab ungu itu seharusnya lembut dan indah. Ini juga bukan omong kosong belaka. Ia sudah mencoba mengartikan namanya yang secara unik terdiri dari campuran khas nama berbahasa Arab dan Indonesia. Meskipun dari sudut gramatikanya banyak sekali kesalahan.

“memang begitu orang Indonesia, mereka selalu membuat hukum tersendiri tentang sebuah nama”, ia bahkan ingat bahwa nama keluarga yang ia miliki sebenarnya juga merupakan campuran dari nama kedua orang tuanya. “di sini, nama bukan doa. Seperti yang orang-orang Arab lakukan dalam memberi nama anak-anak mereka 'dengan yang terpuji' atau 'bermartabat tinggi'. Kita justru lebih senang mengartikan nama sebagai sebuah monumen.” bahwa dahulu kala, pernah ada seorang laki-laki yang jatuh cinta kepada seorang perempuan. Mereka kemudian memadu kasih dan ingin mengabadikan kisah cinta mereka kedalam sebuah monumen yang hidup.

Dan sebagaimana monumen hidup lainnya, novel yang tengah ia tulis ini merupakan perpaduan unik antara hidup dan keabadian. Dia hidup karena subjek tidak terpenjara di dalam naskah, dan dia abadi, karena memang begitulah sebuah naskah dibuat.

“kring...kring...kring...”

rupanya itu adalah telepon dari dokter Burhan. Mitra kerjanya itu mengabarkan bahwa si gadis berjilbab ungu telah mengunjunginya dan dia juga telah menyerahkan draft novel tersebut kepadanya.

“Dia terkejut saat membaca kisah pertama novelmu. Seandainya saat itu kamu ada di sini barangkali kamu akan tertawa, menyaksikan raut wajahnya yang beberapa kali nyaris berganti rupa. Dari wajah seorang gadis yang sangat lugu, kemudian mulai curiga, penasaran, kaget dan bertanya lagi kepada saya 'lalu siapa dok, gerangan orang tersebut?'”

si pria tanpa nama hanya tersenyum tipis. Ia lalu berterima kasih kepada sang dokter yang berkenan memberikan naskah tersebut kepada sang perempuan, dan berjanji akan memberikan satu eksemplar novelnya apabila cerita tersebut selesai dicetak.

“ah, sekarang apa yang akan aku kerjakan?”


***

Sebuah akun email baru saja terbuka. Di dalamnya tertera surat-surat yang masuk ke dalam inbox akun tersebut. Sebagian besar berasal dari akun Facebook yang terforward secara otomatis. Tidak ada yang menarik dari surat-surat elektronik tersebut. Hanya ada ringkasan komentar tentang status yang tersandang di dinding halaman muka Facebook, dan semuanya juga telah terbaca. Urutan berikutnya adalah email dari perusahaan, isinya mengenai tetek bengek pencapaian sales, revisi target dan sebuah permintaan ukuran baju dari setiap pegawai untuk acara outing tahun ini. Tidak ada yang menarik, lagi pula pekerjaan kantor bisa ditunda. Urutan terakhir baru sebuah email pribadi. Kursor komputer itu mengklik kalimat ber-hyperlink, dan terbukalah sebuah surat.

Assalamualaikum,

Mungkin kamu sudah menerima draft novelet saya dari dr. Burhan, saya minta maaf karena tidak bisa menyerahkannya langsung kepada kamu. Sebenarnya, maksud saya mengirimkan naskah tersebut adalah ingin meminta pendapat dan masukan dari kamu seputar novelet tersebut.

Saya akan sangat bersuka cita jika kamu mau melakukan hal tersebut.

Wassalam.

Beberapa saat diam, dan kursor tadi bergerak kembali mengklik kotak bertuliskan reply di bagian bawah badan surat. Sebuah form kosong penulisan surat baru terbuka, dan mulailah bermunculan kata-kata baru di atas form kosong tadi.

Waalaikum salam,

saya pikir siapa yang menulis kertas-kertas tadi, ternyata kamu toh mas.. bagaimana keadaan sekarang. Oh ya.. saya baru sedikit membaca novelet kamu. Nanti kalau ada waktu akan saya baca sampai habis.

Dahulu, saya punya teman sekos yang pandai menulis. Sayang aku lupa namanya dan aku juga lupa membeli novelnya. Padahal sudah aku cari di Facebook tapi tidak ketemu. Untuk itu saya ingin menghargai kawan saya yang mau menulis novel termasuk mas.

Oke nanti di sambung lagi

“your message has been send” sebuah tanda pesan terkirim muncul di atas layar, dan beberapa detik kemudian layar komputer tersebut mati.

Untuk Sebuah Nama (2)

Meeting kali ini memang begitu ringkas. Sales manager tidak bertele-tele dalam menjelaskan masalah. Ia orang lapangan yang kenyang pengalaman puluhan tahun, dan merasa apabila kinerja tim tidak segera diperbaiki tentu akan mengganggu performa kerjanya di perusahaan itu.

Selepas meeting, si perempuan berjilbab ungu itu kembali lagi ke area kerjanya, melaksanakan perintah sang atasan yang sekali lagi gagal ia jalankan. Ia seperti membentur tembok keras yang sulit untuk ditembus. “Bagian pembelian itu benar-benar keras kepala dan tidak mau mendengarkan” keluhnya.

Sekarang ia melihat jam, masih tersisa beberapa menit lagi sebelum jam praktek dokter tutup. Beberapa rekan seprofesi terlihat masih mengantri di depan ruang praktek dokter spesialis Jantung. Kini, setelah menunggu beberapa menit giliran ia memasuki ruang praktek yang sudah tidak asing lagi bagi dirinya.

“selamat sore dokter Burhan..” ia memasuki ruang praktek itu tergesa-gesa seakan memasuki sebuah toko yang hendak tutup.

“iya dok, masih dengan preparat untuk penanganan diabetes pada pasien-pasien hipertensi yang dokter tangani. Bukankah diabetes dan hipertensi itu saling berhubungan, maka dengan penurunan A1C sebesar 1% mampu menurunkan resiko kejadian kardiovaskular hingga sepuluh persen” si rep sudah tidak berpikir lagi untuk berkomunikasi dengan si dokter. Ia hanya ingin agar hari itu ia bisa pulang dengan cepat.

Rupanya si dokter itu bisa mengerti apa yang ada dipikiran gadis tersebut. Ia membiarkannya mengoceh tentang produk yang ia bawakan, kelebihannya dan sejumlah keunggulan dibanding kompetitor. Ia tahu itu, saat tangan si gadis dengan sigap mencari kartu tanda kunjungan, menyerahkan lembar kertas tersebut sambil berharap si dokter mau membubuhkan tanda tangannya. Benar-benar pekerjaan yang aneh pikir si dokter. Hanya mengumpulkan tanda tangan saja dan mereka bisa hidup dengan pendapatan di atas UMR. Meski ia sendiri paham bahwa yang sebenarnya diperebutkan oleh ratusan duta farmasi itu hanyalah bagian kecil dari hirarki sistem pengobatan yang ada dalam pikirannya.

Ketika sang dokter berpikir tentang sebuah kasus hipertensi, maka skema penanganan yang berdasarkan konsesus internasional tiba-tiba terbayang dalam otaknya. Bagaikan papan billboard yang berisikan rumusan besar, diagram dalam otaknya tiba-tiba menampilkan slide baru ketika ia mulai mendiagnosis penyakit pasien. Beberapa alur, berbagai macam kombinasi yang muncul, hingga nama-nama generik dari obat-obatan yang bisa ia gunakan, perlahan-lahan muncul ke permukaan dan mulai menampilkan daftar nama-nama khas yang silih berganti menempati posisi teratas di kepalanya.

Para rep itu seperti SEO yang berusaha meraih tempat teratas dalam page rank di mesin pencari Google. Cara mereka unik, ada yang berpakaian dan berpenampilan ganjil agar wajahnya selalu diingat, ada pula yang mengandalkan sistem marketing ortodoks: konsep, relationship dan sponsor. Dan pada saat itu, entah kenapa bukan merek obat-obatan yang perempuan tadi sampaikan yang melekat dalam otaknya. Tapi beberapa lembar kertas yang sampai padanya beberapa hari yang lalu.

“hmm.. saya rasa saya punya sesuatu buat kamu” kata dr. Burhan seusai membubuhkan tanda tangannya ke lembar kartu kunjungan si rep.

“apa ya dok... apa itu untuk saya..” tutur perempuan berjilbab ungun tersebut penasaran.

Dokter Burhan kemudian mengambil sebuah amplop folio cokelat dari dalam laci meja kerjanya dan menyerahkan benda tersebut kepada perempuan yang duduk dihadapanya.

“apa isi amplop ini?” rasa penasaran si perempuan masih juga belum terpuaskan.
“silahkan buka saja sendiri. Kemarin ada orang yang menitipkan ini kepada saya. Katanya buat kamu”

Gadis berjilbab ungu itu kemudian menarik keluar setumpuk kertas ukuran kuarto yang telah dibundel rapih oleh sebuah penjepit di sudut kiri atas.

=============================


UNTUK SEBUAH NAMA


==============================

sekilas seperti kumpulan naskah sebuah novel yang belum selesai. Tidak ada nama pada kertas-kertas tersebut yang menunjukkan sang penulis.

“ini dari siapa dok?” si perempuan masih juga penasaran.

“anggap saja dari seseorang yang menaruh hati padamu” kata sang dokter tersenyum santun.

Si perempuan kemudian membuka halaman pertama naskah tersebut. Membaca beberapa baris paragraf pertamanya dan terdiam. Pikirannya tiba-tiba teringat kejadian aneh yang ia alami beberapa hari yang lalu. Sebuah kejadian dimana ia menerima sms tanpa diketahui siapa yang mengirimkannya.

“dok, coba katakan amplop ini dari siapa?”

“maaf dik, saya tidak bisa mengatakannya kepadamu” jawab si dokter ringkas.

Dengan mimik tidak puas ia melanjutkan membaca halaman berikutnya.

*
“teetetet, teetetet, teetetet!” bunyi handphone memecah keindahan mimpi.


“ah, sms dari siapa tengah malam begini?”


“Sahur... sahur... bangun!”


Dia melihat tidak percaya, memandang baris-baris pesan di layar handphonenya sebentar dan sedetik kemudian ke jam dinding kecil yang terus berdetik. Tik..tik..tik..
*

matanya kini mulai mengikuti kisah tentang si gadis yang begitu penasaran dengan orang yang mengirimkan sms kepadanya, kemudian kisah itu berlanjut kepada kilasan seorang lelaki yang sepertinya begitu merindukan sang perempuan. Tapi dia tetap tidak tahu, siapa gerangan lelaki tersebut, yang digambarkan sangat putus asa dan memendam rindu. Ia berpikir keras, mencoba membandingkan perempuan yang terdapat dalam lembaran-lembaran  kertas tadi dengan dirinya. Kisah sms tanpa nama, jilbab panjang berwarna ungu seperti yang tengah ia kenakan, dan profesi yang kini juga sedang ia jalani.  Tapi alur cerita kemudian mengisahkan perjalanan si lelaki tanpa nama tadi, dan dokter Burhan.

“jadi orang ini kenal dekat dengan dokter?” kening si perempuan berkerut dalam meminta jawaban.

“bisa dibilang begitu.”

“lalu siapa dok, gerangan orang tersebut...”

“kamu pasti mengenalnya, coba baca sekali lagi di rumah dan ingat-ingat kembali.”

tok..tok..tok..

“maaf dok, ada pasien yang mau berobat” ujar seorang suster sambil membuka pintu kamar praktek.

“well, saya sepertinya saya kedatangan pasien.”

“oh, maaf dok, saya akan membacanya nanti di tempat kos saya” gadis berjilbab ungu itu bangun dan mohon pamit kepada dokter

si dokter hanya tersenyum, dan sebelum perempuan tadi beranjak keluar ia membisikkan sebuah kalimat pendek kepadanya.

“dia memujamu dik..”

memujaku

kata itu terngiang-ngiang di telinganya untuk beberapa saat, dan si perempuan berjilbab ungu kini mendapati dirinya berdiri sendiri di teras rumah sakit yang mulai sepi itu.

Hari semakin senja, waktu berbuka sebentar lagi tiba. Ia langkahkan kakinya ke pelataran parkir di pintu masuk sebelah kanan. Otaknya kosong, hanya kisah perempuan yang ada dalam kumpulan kertas di amplop folio warna cokelat yang tengah ia genggam yang ada di dalam pikirannya. Siapakah perempuan berjilbab ungu yang menyerupai dirinya itu, lalu siapakah lelaki yang begitu dalam mencintainya, dan diantara segala pertanyaan-pertanyaan tadi, siapa sebenarnya yang menulis kisah ini dan menitipkannya ke dokter Burhan untuk diberikan padanya?

“ah, aku benar-benar tidak tahu”.

Untuk Sebuah Nama

Hari semakin siang. Sinar matahari kian lama kian tegak menyinari bumi. Udara pagi yang sejuk sedikit demi sedikit mulai terangkat dari perkampungan padat penduduk itu. Beberapa ibu rumah tangga telah selesai menjemur pakaian basah mereka yang tergantung rapih di atas tali-tali kawat yang melintang di halaman rumah. Jalanan kosong, anak-anak telah pergi ke sekolah mereka masing-masing, menyisakan bocah-bocah berpakaian kumal yang sibuk bermain kelereng.

Benda bulat itu bagaikan sihir bagi bocah-bocah ingusan tadi. Mereka menyentil benda tersebut ke arah kumpulan gundu, memecah belah formasinya kemudian mengikuti sebuah aturan sederhana yang telah lama disepakati oleh kakak-kakak mereka, paman, dan kakek bertahun-tahun yang lampau hingga tidak ada satu pun yang mengerti siapakah gerangan yang menciptakan hukum bermain kelereng pertama kali.

Sentil dan kenai kelereng yang kamu incar, maka kamu akan mendapatkan kelereng tadi.

Apa peduli mereka tentang hukum bermain kelereng. Yang mereka tahu, nikmat rasanya berhasil menyentil benda bulat kaca itu hingga tepat mengenai sasaran, sebuah kelereng berwarna susu yang diam empat kaki dihadapanya. Dan kini bocah berkepala plontos itu sudah bersiap menarik jari telunjuknya melontarkan biji kelereng. Dengan gerakan yang sangat cepat benda mungil tadi terpental beberapa kaki melewati kelereng berwarna susu. Terus terpental-pental di atas jalanan berlapis semen kasar sebelum berhenti terinjak roda sepeda motor yang bergerak pelan di gang kecil tersebut.

“tin..... tinn.... tinn.....”

Kerumunan kecil itu bubar memberi jalan kepada vario merah muda untuk lewat. Di atasnya duduk seorang perempuan muda berpakaian kasual dengan celana panjang hitam. Wajah perempuan itu tersembunyi di balik kaca helmet yang hitam, sedangkan seluruh kepalanya tertutup rapat oleh cangkangnya yang berwarna pink dan bermotifkan bunga. Setelah lewat, kawanan bocah-bocah tadi kembali berkerumun melihat hasil permainan yang tertunda oleh si pengendara motor.

Dari kejauhan, lampu rem motor itu terlihat menyala terang bersiap belok ke arah kiri. Tidak ada yang istimewa darinya, selain kain warna ungu yang menyembul keluar dari balik helmetnya. Dan sedetik kemudian motor tersebut sudah hilang dari pandangan mata para bocah yang telah tenggelam dengan permainan kanak-kanak mereka.

***

Di bulan puasa sepertinya ada aturan tak tertulis di perusahaan yang memperbolehkan karyawan mereka untuk berangkat lebih siang ke tempat kerja. Kesempatan ini dimanfaatkan dengan baik oleh gadis berjilbab ungu itu apalagi ritme dan bentuk pekerjaan yang ia lakukan tidak dibatasi oleh waktu. Biasanya, ia memilih pergi ke rumah sakit ketika waktu dhuha hampir habis, melakukan detailing hingga ashar dan balik lagi ke kos pukul empat sore. Sejam dua jam, sudah cukup baginya untuk rebahan di kasur yang empuk untuk kemudian membersihkan diri dan kembali berangkat kerja usai shalat Maghrib.

Namun kali ini, ia tidak pergi ke rumah sakit untuk detailing. Atasannya mengirimkan sms padanya agar meeting tepat jam 10:30 di HO. Kebetulan jalanan Jakarta hari itu cukup lancar, sehingga dia beruntung sudah sampai di kantornya lima belas menit sebelum waktu meeting tiba. Di ruang berpendingin AC itu, sejumlah koleganya juga telah hadir. Mereka saling bersenda gurau dan melepas kangen setelah hampir sebulan penuh tidak kumpul bersama.

“selamat siang semua” sosok tinggi besar menyeruak masuk ke dalam ruangan rapat tersebut.

“siang pak” sontan mereka menjawab.

“baik, sekarang agenda kita hari ini adalah fokus sales untuk bulan September” sosok tinggi besar itu kini berdiri di tengah ruangan menghadap langsung ke jajaran anak buahnya yang duduk tegak berkonsentrasi.

“sebagaimana diketahui bersama, bulan ini kerja efektif kita hanya tersisa dua belas hari. Minggu keempat akan banyak yang mengambil cuti lebaran, jadi kita usahakan pencapaian maksimal pada minggu ketiga minimal, 70%.” matanya menyapu seisi ruangan itu.

“saya harap kawan-kawan semua sudah membuat estimasi untuk bulan ini” katanya pelan sambil menghampiri meja paling kiri.

semua terdiam.

“mungkin ada yang punya usul agar bulan ini kita bisa achieve 100%?” ujarnya sambil mengetuk-ngetuk badan meja dengan tangan kirinya.

Tok....tok....tok.....

sunyi.

“Ehem...” seseorang memecah keheningan.
“kalau area saya pak, sepertinya akan melakukan stok di awal bulan. Alhamdulillah, kemarin sudah bertemu bagian pembelian dan mereka bilang oke, mau memesan Glibenclamid satu karton.” dengan bangga ia sampaikan laporan singkat itu.

“bagus, bagaimana yang lain?” kini matanya menyapu barisan bangku sebelah kanan, dan berhenti tepat di mata seorang yang bertubuh pendek gempal. Mata mereka bertemu. Si rep yang gelagapan dengan pandangan mata tadi langsung menjawab terbata-bata.

“Eh, anu pak. Di area Menteng, sejumlah outlet juga telah melakukan order awal bulan ini.” mencari pijakan yang tenang, “cuma, memang volumenya masih kecil pak. Setelah saya tanya ke outle-outlet paretto mereka bilang akan memesan pada akhir bulan saja, takut barang bakal menumpuk kalau pesan sekarang kata mereka” was was.

“Berapa outlet yang bicara seperti itu?” menyelidik.

“Tiga pak, tapi itu outlet besar semua” mencoba berargumentasi.

“Begini, Ben” ia mencoba menenangkan suasana, “coba bilang lagi ke bagian pembelian atau pemilik outlet tadi. Cih, koh, sebentar lagi kan lebaran. Banyak orang yang akan mudik. Kebetulan, obat kami bukan obat musiman. Ia harus terus diminum oleh pasien agar gula darahnya tidak naik. Karena akan banyak outlet yang tutup pada lebaran nanti, pasti akan terjadi lonjakan permintaan sebelum lebaran. Jadi, akan lebih baik kalau pesan sekarang agar tidak terjadi gangguan stok.”

“Bagaimana, paham?” menunggu respon.

“Iya pak, akan saya coba” jawabnya mencari aman. Ia sudah tahu bahwa tidak ada gunanya berdebat dengan sales managernya itu. Seorang yang memiliki perwakan tinggi besar dan kaya akan segudang pengalaman lapangan di industri farmasi.

“kalau kamu bagaimana?” dengan gerakan yang tanpa dapat diduga.
“Apa permasalahan dengan bagian pembelian di rumah sakit sudah teratasi?” si bos kini mengalihkan pandangannya ke arah gadis berjilbab ungu yang duduk di pojok ruangan.

Perempuan tersebut sedikit terkejut, sebentar kemudian ia sudah menguasai dirinya kembali “maaf pak, sampai sekarang bu Afifah masih belum mau ditemui. Saya sudah coba bawakan makanan ringan ke kantornya, tapi dia masih tetap menolak”.

Bukan jawaban yang diinginkan. Tapi si bos tahu bahwa yang dihadapi anak buahnya yang masih baru itu, juga bukan persoalan sepele.

“sepertinya persoalan di area kamu itu pelik” mencoba mendapatkan simpati
“tapi, bukannya dahulu kamu pernah berhasil membawa SP dari rumah sakit itu?” ia menggali ingatan lamanya beberapa bulan yang lalu, ketika sang gadis yang dalam tahap akhir probationnya itu, berlari kearahnya dengan senyum kemenangan. Dalam benaknya, ia bisa merasakan luapan kegembiraan dalam diri perempuan berjilbab ungu itu, sesuatu yang membuatnya membubuhkan tanda tangan persetujuan menjadi karyawan tetap perusahaan.

“ehmm...”
“Oh.. iya” si gadis berusaha mengingat kembali saat-saat itu
“waktu itu si mas …” astaga kenapa aku hampir lupa nama orang itu, pikirnya. “dia yang beri saya SP pak.” bayangan tentang pertemuan itu kembali meresap ke dalam otaknya.

“Hubungan mas itu sama bagian pembelian memang baik kok pak.” ia kini mulai teringat wajah orang tersebut.

“Tapi itu dulu pak, sebelum kita ada masalah dengan mereka. Lagi juga si mase sudah lama keluar, jadi saya tidak tahu lagi harus berhubungan dengan siapa.” Dia bertanya-tanya kenapa gerangan  pria yang pernah menolongnya itu keluar dari perusahaan.

Tapi dia tetap tidak menemukan jawaban.

“maaf pak” seseorang yang tampaknya atasan si gadis berusaha meluruskan pembicaraan.
“kemarin saya sudah joint visit dengan rep saya untuk menemui bu Afifah, tapi tidak berhasil. Meskipun demikian, kami sudah melakukan appoitment dengan beliau untuk tanggal 28 bulan ini. Pada pertemuan nanti, kami berharap masalah dengan bagian pembelian bisa teratasi.”

“lain kali, kamu harus lebih tanggap terhadap masalah seperti ini Wid”, sang sales manager memberikan penekanan yang dalam kapada nama area manager itu.

“Saya mendapat masukan dari beberapa dokter senior di sana, bahwa obat kita ditukar dengan obat generik oleh apotik. Kasihan kan mereka sudah merasa meresepkan obat tapi malah ditukar oleh preparat yang lain. Kalau ditunda terus menerus pasti bakal mengganggu hubungan kita dengan para customer” wajahnya semakin serius.

“oke bagaimana yang lain?”

Fitrah, Ibrahim dan Id

Kata fitrah terambil dari akar kata f th r, yang berarti membuka dan menciptakan. Dari kata f th r ini muncul kata futhur, yang berarti retak, cela, atau makan pagi. Dalam Q.S. 67:3 disebutkan bahwa ciptaan Allah berupa langit dan bumi ini begitu sempurna sehingga kita tidak bisa menemukan adanya futhur atau cela di dalamnya. Futhur juga berarti makan pagi, karena pada saat itulah manusia berbuka setelah tidak makan selama tidurnya. Selain futhur, pengertian negatif lain yang bisa kita temukan dari akar kata f th r adalah kata kerja lampau infathara di Q.S. 82:1 yang berarti terbelah dan kata kerja kini yatafththarna pada Q.S. 19:90 yang berarti pecah. Satu-satunya bentukan kata f th r yang berupa kata benda adalah munfathirun di Q.S. 73:18 yang menggambarkan kejadian pada hari kiamat di mana langit pecah berkeping-keping.

Bentuk umum dari kata f th r yang ditemukan dalam al-Quran adalah kata fathara, yang memiliki makna positif menciptakan atau memulai suatu yang baru. Terdapat delapan ayat yang berisi kata tersebut yang secara umum menggambarkan Allah sebagai pencipta alam semesta dan manusia. Yang menarik, dari kata fathara inilah lahir kata fithrata Q.S. 30:30 yang sering kita artikan sebagai fitrah, nature, alamiah. Kita kemudian memaknai fitrah sebagai kecenderungan alamiah manusia yang belum terkontaminasi oleh peradaban. Hadis yang terkenal berkenaan dengan hal tersebut adalah: setiap bayi terlahir menurut fitrah, maka ayah-ayah merekalah yang kemudian menjadikan bayi-bayi tersebut sebagai sebagai Yahudi dan Nasrani. Dengan demikian fitrah dipertentangkan dengan status keberagamaan seseorang yang dari sudut pandang ini sudah jauh melenceng dari kondisi alamiahnya.

Diskusi menarik mengenai fitrah muncul dalam karya fiksi filosofis Ibn Thufayl yang berjudul hayy ibn yaqzhan yang secara harfiah bararti “hidup” anak “kesadaran”. Alkisah, seorang anak yang terbuang dari peradaban hidup dan besar di sebuah pulau terpencil yang tidak berpenghuni. Si anak ini, meskipun tidak mengenal ajaran agama-agama besar dunia, tetapi melalui deduksi akalnya terhadap alam berikut fenomenanya mampu mengambil kesimpulan yang sama dengan ajaran Islam, bahwa Tuhan itu Satu. Tentu saja karya Ibn Thufayl ini layak diperdebatkan, tapi yang sesungguhnya muncul dari diskusi tentang fitrah adalah berkenaan dengan definisi agama menjadi agama langit dan agama bumi.

Banyak yang menyatakan bahwa agama langit itu adalah rumpun agama semit, Yahudi, Kristen dan Islam. Sedangkan agama bumi adalah Hindu dan Buddha. Pembagian ini berdasarkan sumber ajaran kedua jenis agama tersebut di mana yang satu bersumber dari pewahyuan sedang yang lain dari hasil kontemplasi dan pemikiran manusia semata. Pendapat yang muncul dari definisi ini adalah, apabila yang dimaksud fitrah sebagai keadaan alamiah manusia yang belum tercemar suatu pemikiran apapun, maka seharusnya yang patut disebut sebagai agama fitrah adalah agama-agama bumi tadi bukan agama Islam. Dengan alasan bahwa sumber ajaran agama mereka berasal dari kesadaran diri manusia untuk kembali kepada kemurnian diri mereka yang sesungguhnya, sebuah fitrah.

Apabila ditarik lebih jauh kedalam etika, maka konsep fitrah yang diketengahkan oleh para pendukung pemikiran ini, termasuk kedalam domain filsafat naturalisme. Dalam naturalisme, manusia secara lahiriah dan alami mampu mengetahui baik atau buruk tanpa memerlukan pertimbangan apapun selain dirinya sendiri. Penganut naturalisme percaya akan adanya fitrah bawaan dalam diri manusia, human nature, yang menuntun mereka kepada baik dan buruk. Kelak pemikiran ini disangkal oleh filsuf Existensialis Jean-Paul Sartre yang menyatakan bahwa mempercayai adanya fitrah merupakan penyangkalan terhadap tanggung jawab manusia atas pilihan pribadi mereka. Bagi filsuf ini, tidak ada benar dan salah secara objektif, yang ada hanyalah pilihan-pilihan untuk menentukan nilai tersebut. Manusia adalah bebas dan mereka bertanggung jawab terhadap pilihan mereka sendiri.

Sekarang muncul pertanyaan, apakah yang dimaksud fitrah itu sama seperti yang dijabarkan oleh para penganut paham naturalisme ataukah tidak? Apabila kita kembali kepada al-Quran maka dengan jelas kita bisa temukan jawaban paling gamblang mengenai arti kata fitrah.

“maka hadapkanlah wajahmu kepada agama dengan lurus (hanifa), itulah fitrah yang telah Allah ciptakan bagi manusia. Tidak ada perubahan dari ciptaan Allah, itulah agama yang tegak, (qayyim) , akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya” Q.S. (al-Ruum: 30)

Pada ayat di atas, kita kembali menemukan kosa kata baru, hanif. Berasal dari akar kata h n f , hanif sering diartikan sebagai lurus, atau cenderung kepada jalan yang lurus, istaqama. Kata ini ditemukan dalam 12 ayat al-Quran yang secara umum memiliki dua makna: tidak menyekutukan Allah atau syirik dan millata Ibrahim, jalan atau ajaran nabi Ibrahim. Apa sebenarnya ajaran yang dibawa oleh nabi Ibrahim sehingga ketika Allah berbicara tentang fitrah Ia secara eksplisit menunjuknya sebagai contoh orang yang kembali kepada fitrah manusia? Sungguh sangat luas untuk menggambarkan seperti apa sebenarnya perilaku nabi Ibrahim semasa beliau hidup. Di sini saya mencoba meringkas beberapa poin penting dalam perjalanan hidup khalilullah tersebut.

  1. Sebagaimana hayy ibn Yaqzhan, Ibrahim berhasil menemukan Tuhannya melalui deduksi alam semesta. Ia terus bertanya seperti apakah gerangan Allah, dan ia memulainya dari bulan yang lalu ia dialektikakan dengan bintang dan matahari, hingga berakhir pada kesimpulan bahwa Tuhan tidak seperti itu. Tuhan adalah Satu yang menciptakan segalanya. Q.S. (77:74-79)
  2. Setelah menemukan kebenaran beliau kemudian menyeru kepada kaumnya bahwa apa yang mereka percayai tak lain dari pada kebohongan. Ia bahkan harus berargumentasi dengan bapaknya untuk meyakinkan keesaan Allah dan untuk itu rela mempertaruhkan nyawanya sendiri.
  3. Pergulatan keimanan Ibrahim tidak berhenti pada misi kenabiannya saja, ia bahkan harus berhadapan dengan realitas kehidupan keluarga yang sangat rentan. Meski sudah berusia lanjut ia tidak juga dikaruniai anak, dan ketika anak pertamanya lahir, ia masih harus membuktikan kesetiaannya kepada Allah dengan mengorbankan Ismail.
  4. Bersama dengan putranya Ismail, nabi Ibrahim membangun fondasi Ka'bah sebagai  monumen keimanan dan ketakwaanya kepada Allah. Dan di ujung hidupnya ia berwasiat kepada keturunannya agar mengikuti agama yang dipilih oleh Allah, yakni islam, berserah diri hanya kepadaNya.

Bila kita abstraksikan, keempat poin tadi menunjukkan secara ringkas empat titik keimanan: intelektual atau individu, sosial, keluarga dan karya cipta. Dengan kata lain, seorang muslim yang fitri haruslah bisa menunjukkan keimanan dan kesetiannya kepada Allah di keempat area tersebut. Secara intelektual ia harus yakin dan memahami konsep keimanan, kemudian menerapkan pemikirannya tersebut dalam konteks sosial dan keluarganya serta menjadikan diri dan keluarga mereka suri tauladan orang-orang beriman lagi berpasrah diri bagi umat manusia.

Lebih lanjut, sikap keberagamaan yang hanif dan fitri ini tertera dengan jelas dalam doa dan harapan nabi Ibrahim dalam Q.S. (14:35-41). sebuah surat dalam al-Quran yang didedikasikan untuk bapak kaum beriman itu. Maka, tidaklah mengherankan apabila kita menemukan perumpamaan terindah dari keimanan juga berada dalam surat tersebut:

“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan kalimat thayyibah seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit | pohon itu menghasilkan buahnya setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu agar mereka selalu ingat | adapun perumpamaan kalimat khabitsat seperti akar pohon yang buruk, yang akarnya tercerabut dari bumi dan tidak dapat berdiri tegak | Allah meneguhkan orang-orang beriman dengan ucapan yang teguh di dunia dan akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang zalim dan Allah berbuat apa yang Ia kehendaki” Q.S. (Ibrahim : 24-27)

Mayoritas ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kalimat thayyibah dalam ayat di atas adalah kalimat tauhid, la Ilaha illa Allah, tiada Tuhan selain Allah. Adapun kalimat khabitsat tak lain daripada syirik, menduakan Allah.

Selain kata fithrah dan hanif, masih ada satu kata lagi yang mengkaitkan kita dengan Hari Raya Idul Fitri, yakni id. Berasal dari kata a' d , id bermakna kembali. Dalam konteks ini, idul fithri berarti kembali kepada makna Qurani dari fithrah, yaitu hanif dan mengikuti jalan Ibrahim, atau kembali kepada makna positif dari fithrah, awal penciptaan. Karenanya Nabi memerintahkan kita untuk saling memaafkan di hari kemenangan ini dan mengatakan bahwa pada hari idul fitri umat Islam menjadi suci kembali seperti saat pertama mereka dilahirkan ke muka bumi ini. Suci, bersih tanpa noda.

Taqabalallahu minna wa minkum, minal a'idin wal faizin, fi kulli a'm wa antum bikhayrin.

Surat dari Langit (6)

Laki-laki itu terbangun sebentar, hari mulai gelap. Dari iklan-iklan jalanan yang ia lihat, kira-kira bus tersebut sudah mulai memasuki daerah Cirebon. Itu berarti masih sekitar lima jam sebelum sampai ke kota tujuan. Rasa kantuk kembali melanda, membuat kelopak matanya begitu berat untuk ia angkat. Ia pun kembali masuk ke alam bawah sadarnya.

Sekarang dirinya berjalan sendiri menyusuri lorong-lorong terang yang sangat ia kenali. Ruangan bersekat rendah, gemuruh AC yang rusak, mesin fax, sahutan-sahutan para sekretaris yang menerima telepon, kilatan sinar dari mesin fotocopy dan detak jarum jam. Semuanya ia lihat dalam gerak lambat, seakan dunia memelar dan seluruh panca inderanya menjadi sangat sensitif.

“oke, apa yang bisa saya bantu?” suara itu terdengar begitu dekat. Dan kini semua bayang-bayang itu kembali ke wujudnya semula.

“well?” pria dihadapanya kembali bertanya kepadanya untuk kedua kalinya.

Ah, ia tersadar. Ia kini duduk di ruangan sales manager divisi tempat ia bekerja. Orang yang bertanya itu, sama seperti yang ia lihat di Grand Livina sebelumnya. Orang yang ia kenal selama tiga tahun belakangan ini sebagai atasan dari atasannya.

“bagaimana bisa saya membantu anda, bila anda sendiri tidak tahu apa yang akan anda bicarakan kepada saya” lelaki berbaju putih di hadapanya tersenyum lebar. Umurnya sekitar pertengahan empat puluhan, menduduki posisi strategis sebagai manager menengah di perusahaan tersebut. Ia dikenal sebagai pribadi yang tegas terhadap bawahannya, tapi cara bicaranya yang ramah namun penuh perhitungan, membuat mereka respek terhadapnya.

“Jadi?” pria itu kini tertawa.

Si lelaki yang duduk dihadapanya menjadi kikuk. Ia tidak dapat berbicara. Ia tahu dirinya dipanggil bukan tanpa alasan. Hari itu genap sebulan peluncuran perdana produk obatan baru. Kondisi perusahaan cukup kritis, jika produk ini gagal di pasaran, bisa dipastikan ikut mempengaruhi kinerja perusahaan secara keseluruhan. Divisi tempatnya bekerja diberi kepercayaan untuk memasarkan produk tersebut. Dan dalam sebulan pertama ini, setiap karyawan diberikan target tertentu agar proses pemasaran itu berhasil. Sayangnya, harus diakui ia gagal mengawal peluncuran obat baru tersebut di area kerjanya yang selama ini dikenal cukup bagus dalam pemasaran obat-obatan utama.

“aku tahu ini tidak akan berhasil” katanya dalam hati. Ini produk gagal, sudah banyak perusahaan yang bermain di ceruk tersebut. “ini bukan soal bagi-bagi kue yang meskipun kecil tapi memiliki potensi milyaran rupiah. Ini soal blue ocean strategy. Perusahaan telah salah langkah masuk kedalam ceruk yang banyak sekali predatornya” mencoba berteori.

Tapi apalah dia. Ia hanya bawahan di perusahaan tersebut. Dan bukanlah tugas bawahan untuk menilai apakah sebuah produk layak dipasarkan atau tidak. Tugas mereka hanyalah menjalankan planning semaksimal mungkin. Itu saja.

Dan kini ia berada langsung di hadapan bosnya mencoba menjelaskan kenapa planning yang ia buat gagal total. “aku benar-benar berada di ujung tanduk”. Dalam keadaan terjepit itu ia mulai merasakan godaan yang dahulu sempat memasuki pikirannya. Godaan untuk keluar meninggalkan perusahaan tersebut. Godaan untuk benar-benar menyukai gadis berjilbab ungu yang ia kenal. “kalau aku keluar, mungkin akan jauh leluasa berhubungan dengannya. Tidak ada beban pekerjaan yang timbul antara kami berdua, tidak ada hambatan etika lagi yang menghalangi. Aku akan jauh lebih bebas” ujarnya mencoba mencari pembenaran.

“tidak, aku tidak akan menggunakan dirinya sebagai alasan. Seharusnya aku jauh lebih jantan. Ya, aku akan keluar dari perusahaan ini” ia bertekad.

“jadi?” sales manager itu memandang tepat ke arahnya.

“saya mau resign pak” singkat.

Suasana hening. Tidak ada yang bicara di antara mereka, keduanya saling tatap. Tiga tahun. Mereka saling kenal satu sama lain. Bagi sang atasan, anak buah yang kini duduk dihadapanya adalah aset perusahaan yang sangat berharga. Ia mengenali pemuda tersebut sejak pertama ia melamar pekerjaan. “Ada yang berbeda dari dirinya” berusaha mengenang penilaian pertamanya itu. “dia mungkin bukan seseorang yang mampu mencetak rekor sales yang tinggi meski ia punya potensi ke arah sana. Tapi dia itu orang yang sangat jujur. Itu yang aku suka darinya. Kejujuran, betapa susah kita menemukannya saat ini. Itu mengapa aku memilihnya masuk ke bergabung ke dalam divisi ini” ulangnya dalam hati.

“apa sudah kamu pertimbangkan masak-masak” memecah kebekuan.

“sudah pak” mantap.

Sebenarnya, bukan sekali ini si rep meminta keluar dari perusahaan itu. Sebelumnya, sudah dua kali ia mengajukan surat pengunduran dirinya. Kedua surat itu juga telah sampai kepada sales manager tapi dua kali itu pula ia tolak. Ia ingat itu. Makanya ia sampaikan di depan si rep alasannya menolak surat tadi.

“kamu memiliki bakat.” membujuk.

“tapi yang membuat saya respek adalah kejujuran kamu. Sikapmu kemarin yang memulangkan uang transfer yang salah itu, benar-benar membuat saya kagum. Dan suratmu yang mengatakan bahwa itu 'bukan hak saya', baru sekali ini saya temukan selama saya bekerja di perusahaan ini.”

“hanya, kalau kamu memang berkeras demikian, tidak mungkin lagi saya menghalang-halangi niat kamu itu. Cuma, kalau ada sesuatu yang patut saya sampaikan padamu. Tolong jangan setengah-setengah mengerjakan sesuatu. Kalau memang sudah tepat apa yang kau cari, camkanlah untuk bekerja sepenuh hati.”

sepenuh hati.

Kata-kata tersebut terngiang keras di telinganya. Merasuk kedalam pembuluh jantungnya mempengaruhi kesadarannya yang terdalam. Perlahan-lahan, gambaran singkat itu mulai pudar, tapi perasaan dan gagasan yang menaunginya masih bisa ia rasakan. Ia bahkan masih merasakan genggaman erat atasannya tadi sewaktu mereka berpisah untuk terakhir kalinya. “Hubungi saya kalau sudah sukses” bisik sang atasan, dan mimpi itu pun hilang.

***
23:30

Ia kini telah tiba kembali ke kotanya. Udara malam menyekat dingin lehernya yang kaku, hanya temaram cahaya yang menemaninya kala itu. Samar terdengar orang mengaji, lirih. Ramadhan telah membukakan hati dan pikirannya. Tatkala kesempatan terakhir untuk berhubungan dengan perempuan berjilbab ungu itu kandas, tiba-tiba muncul sebuah ide baru yang belum pernah ada di pikirannya selama ini.

“Bos, aku akan bekerja sepenuh hati” katanya berazam.

“aku akan mengirimkan ceritaku, kisahku, ideku, novelku kepadanya.” menatap jauh ke atas langit yang kabur oleh kilau cahaya.

akan aku ceritakan kisah ini padanya.

Surat dari Langit (5)

Sebuah Nissan Grand Livina perak baru saja memasuki gerbang tol Pasar Rebo. Tiga orang penumpangnya tampak sibuk bercakap.

“jadi, akan kemana kita siang hari ini?” tanya seorang yang duduk di bangku depan sebelah kiri yang sepertinya seorang senior.

“Eh, kita akan ke Rumah Sakit Pusat Nasional pak” jawab satunya yang tengah menyetir.

“dan, di sana kita akan menemui?” ia bertanya kepada seorang yang duduk di bangku belakang, bawahannya, si pekerja lapangan, rep .

“dr. Burhan pak.” pria tanpa nama itu menjawab cepat.

“dr. Burhan Kardiolog ya?” matanya memperhatikan laju kendaraan di depannya
“iya, benar” jawab si rep mengkonfirmasi.

“bagaimana penulisannya selama ini?” masih tetap memandang ke depan.

“setelah saya kelola selama tiga tahun, makin lama makin bagus pak. Bulan kemarin beliau bisa menulis hampir setengah peresepan di rumah sakit tersebut” sigap si bawahan

“dia menggunakan apa untuk PJK ?” menilai

“Awalnya standar, ACE , tapi untuk pasien beliau yang komplikasi berat, biasanya langsung dikombinasi dengan obat kita pak” mengemukakan pendapat.

“apa bagian penjualan bermasalah?” selidik

“Eh, sejauh ini lancar-lancar saja” kata si pengemudi mobil yang merupakan atasan langsung dari si rep.

“kerja rep kita di sana bagus kok pak. Memang demand yang dihasilkan masih kecil, tapi terjadi kenaikan yang signifikan untuk 6 bulan terakhir” meyakinkan.

“kalau tidak salah, dahulu kita pernah mensponsori dr. Burhan ke APCC . Tapi itu sudah lama sekali.” mobil itu berhenti untuk membayar bea tol.

“oh.. kemarin saya sponsor beliau ke ASMIHA pak”  argumen si rep.

“Padahal dahulu, dr. Burhan termasuk tipe dokter yang susah. Beliau tidak mau ditemui rep saat praktek. Saya sendiri harus menunggu lama hingga jam prakteknya usai agar dapat bertemu beliau. Tapi sejak kejadian di tempat prakteknya, ia jadi berubah” mengingat-ingat masa lalu.

“wah, berarti sudah lama sekali kejadiannya ya pak” sambung si pengemudi mobil.

“ehem.. saya kira kamu juga waktu itu belum lahir.” menoleh ke belakang. “Lha wong saat itu dia masih jadi co ass di sana” melanjutkan.

“memang kejadian apa sih pak?” atasan si rep kembali bertanya, sambil berusaha menyalip truk di depannya.

“biasa, hanya masalah asmara. dr. Burhan jatuh cinta kepada suster di tempat ia praktek. Tapi karena berbeda derajat, ayahnya yang waktu itu menjabat direktur rumah sakit marah besar. Si suster langsung ia pecat.” kendaraan itu mulai memasuki Cawang.

“tentu saja dr. Burhan menolak keras keputusan ayahnya dan terjadilah perang mulut di antara mereka. Keduanya saling tarik menarik tangan suster tersebut. Dokter Burhan memegang tangan suster tadi agar tetap tinggal, sementara sang ayah menariknya keluar.” masih terus melaju.

“terus bagaimana pak?” tanya atasan si rep sekali lagi, mencoba mengikuti alur jalan yang sedikit berkelok.

“tentu saja ayah dr. burhan menang, si suster akhirnya diusir keluar dari rumah sakit.”

“kasihan betul” jalanan mulai bumpy ketika mobil berjalan di atas jalan layang tol Wiyoto Wiyono.

“dokter Burhan kemudian meminta saya, untuk memberi pekerjaan kepada mantan kekasihnya itu. Kebetulan sekali, kantor sedang buka lowongan untuk reception desk, dan setelah saya bicarakan dengan pak Ardi, bos saya waktu itu, ia pun diterima masuk” ia memandang ke luar jendela melihat gugusan gedung-gedung pendek di Jakarta.

“maksud bapak, orang itu adalah bu...” mulut si rep ternganga.

“iya, benar.” jawabnya penuh senyum tanpa mengalihkan perhatiannya sekalipun dari gedung-gedung tersebut. “Dia itu mantan kekasih dr. Burhan. Sejak itulah dr. Burhan menjadi pengguna loyal obat-obat kita. Mungkin karena balas jasa.”

“wow” seru atasan si rep seakan tidak percaya.

“Tapi karena rep kita mulai jarang menc-cover-nya perlahan dia beralih lagi ke perusahaan farmasi lain” si atasan memberi tekanan yang dalam pada kata rep.

“kalau dia mau kembali, itu benar-benar surprise. Mudah-mudahan beliau tidak melupakan tindakan kita yang dahulu.” mobil tersebut keluar di pintu tol Rawa Mangun.

“Begitulah kalau kamu memiliki kekasih di tempat kerja. Bakal mengganggu pekerjaan kamu” ia berbicara seakan kepada dirinya sendiri.

“bener nih pak?” goda atasan si rep sambil memutar setir ke arah kiri memasuki jalan arteri.

“lah, itu contohnya” si atasan tersenyum simpul, dan Grand Livina itu mulai berjalan kencang melawan sinar mentari yang mulai condong ke Barat.

Surat dari Langit (4)

Sudah lama bus yang ia tumpangi keluar dari terminal Purwokerto. Jam di tangannya menunjukkan pukul 16:25. benar-benar perjalanan yang melelahkan. Dirinya hampir lupa bahwa kini ia masih belum keluar dari wilayah Jawa Tengah. Perjalanan yang panjang rupanya. Bus pertama yang ia tumpangi memang sering berhenti menaik turunkan penumpang, meskipun begitu lajunya lumayan cepat, hingga ia bisa tiba pukul 13:35 di Purwokerto. Namun, kota yang ia tuju itu hanyalah terminal kecil dengan jadwal keberangkatan bus tujuan Jakarta yang sangat jarang. Ia menyesal telah terbujuk rayuan calo yang mengatakan bus akan segera berangkat. Nyatanya, setelah ia selesai shalat ashar pun, bus belum jadi berangkat.

“huh, sial” pikirnya, sambil memandang hamparan perbukitan tandus di ujung sana.

Dan ia sandarkan kepalanya yang basah oleh keringat di jendela bus. Ia buka telepon genggamnya. Ada sms masuk. Ternyata dari perempuan itu.

“siapa pun kamu, terima kasih banyak telah membangunkan saya untuk sahur” ia tersenyum sebentar.
“tapi siapa sih elo sebenarnya. Kalau tidak memberi tahu, tolong jangan bangunkan saya sahur lagi” ia terkejut, elo? begitu kasar balasan yang didapat.

Ia mencoba menyusun balasan sms tersebut. Seandainya kuungkapkan siapa diriku sebenarnya, dia pasti akan mencoba menghentikan kiriman sms saya dengan halus. Bahkan bila saya tidak memberi tahukannya ia juga akan berbuat demikian. “Kupikir lebih baik membiarkan permainan ini tetap beralangsung”. Dan ia pun mengirimkan balasan.

“ting..” sms terkirim.

***

Kurang dari empat ratus kilometer ke arah Barat, sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponsel Nokia hitam. Si empunya, wanita berjilbab ungu membaca isi pesan itu dengan geram.

“siapa orang gila, yang mengirim jawaban seperti ini?” ia mulai gelisah.

Dia tinggalkan antrian menunggu dokter dan bergegas pergi ke bagian belakang rumah sakit. Ia menuju musholla.

“pasti ada di sana” pikirnya.

“ah, itu dia” diambilnya al-Quran lusuh yang tergeletak di rak buku musholla tersebut.

Dia buka indeks al-Quran tadi, mencari angka 51.

“ketemu! Al-Dzariyyat 49” dia baca sekilas ayat tersebut. Tapi dia tidak mengerti. Ia pun mencari-cari terjemahan al-Quran.

Belum sempat ia mencari, sebuah pesan masuk kembali kedalam ponselnya. Kali ini, kemarahannya semakin memuncak.

“kau pikir aku wanita apaan, tidak bisa memiliki firasat yang bagus. Mungkin kau sajalah yang psycho bersembunyi bagaikan pria misterius di balik kitab suci.” mendadak dirinya jatuh terduduk, ia begitu pusing dan ia tutup mukanya dengan kedua tangannya. Emosinya meledak.

“dik,” seorang ibu tua datang menghampiri dan menwarkannya terjemahan al-Quran.

“mungkin adik butuh ini, biar hati menjadi lebih tenang” ibu itu tersenyum.

“terima kasih bu” kemudian tanpa menoleh kembali, ia buka ayat yang ditunjukkan tadi, al-Dzariyyat 49.

“dan dari segala suatu kami ciptakan berpasang-pasangan agar kalian mengingatnya”

“apa sebenarnya yang ia maksud” ia berpikir dalam tak mampu memahami maksud pesan itu. Apa ia ingin menyindir saya, atau dirinya hendak mengatakan bahwa ia pasangan saya? Menyedihkan sekali.

“tidak, aku tidak akan terbawa permainannya. Aku yang menentukan sendiri kemana ini berlanjut”
dan ia kirimkan balasan sms tersebut.

***
pesan balasan pun masuk.

Kali ini si pria benar-benar terpukul. Pesan balasan dari si perempuan benar-benar telah menamparnya keras-keras. Ia telah mengkandaskan dirinya hingga jatuh di atas matras. Aku benar-benar tidak memiliki harapan lagi. Ia menyebutku pengecut. Menutup kesempatan untuk dapat berkomunikasi dengannya.

Tapi tidak, aku bukan pengecut.

“Aku akan bilang bahwa belum saatnya aku ungkapkan diriku padanya.” ia semakin terobsesi.

Ah, tidak. Tapi bukan itu yang hendak aku ungkapkan. Dan ia mulai menulis balasan di handphonenya.

“you know, I do really trust to women hunch.” entah apa dia akan mengerti. “they almost right, so do not hesitate to believe to your heart” menutup kalimatnya.

“Pesan terkirim”

Dirinya benar-benar pasrah.

Dia pejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya ke jendela bus yang bergoyang pelan. “aku telah salah langkah pikirnya. Bahkan, ketika semuanya belum dimulai pun aku sudah benar-benar kalah. Apa yang harus aku lakukan untuk memulainya lagi?” terbayang di kepalanya perkataan kawan akrabnya dulu, “kalau kau benar-benar menyukainya, kau harus mengejarnya kawan”, mengejarnya, sekarang lihat, apa sebenarnya yang aku kejar. Aku bahkan tidak begitu mengerti.

Bus masih terus menyusuri jalan-jalan sempit dengan malasnya. Pria tanpa nama ini mencoba menyusun kembali ingatan-ingatan masa silamnya. Tentang awal ketertarikan itu, percakapan dengan dokter yang membuatnya bingung dan perkataan kawannya yang provokatif, ia kembali mereka-reka saat dimana mereka pertama kali bertemu, bertatapan mata, dan kemudian duduk terdiam saling membisu satu sama lain.

Aku akan selalu mengingatnya.

Surat dari Langit (3)

Sebulan sudah ia tinggal di rumah kakeknya di sebuah kota kecil di selatan pulau Jawa. Ia memang sengaja diutus oleh ayahnya untuk menjenguk keadaan sang nenek yang terkena stroke. Selepas keluar dari pekerjaannnya sebagai Medical Representative, ia memang lebih banyak mengisi waktu kosongnya untuk mempelajari banyak hal. “untuk menebus waktu yang terbuang percuma” katanya. Kini ia mulai menjalin hubungan dengan keluarga jauh yang sudah lama tidak ia kunjungi. Kembali ke kampung halaman sang ayah, barangkali salah satu cara untuk melaksanakan keinginannya. Di sana ia bisa bertemu pengasuhnya semasa kecil dahulu, ke rumah buliknya yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal sang kakek, atau sekedar berjalan-jalan di tengah sawah yang hijau menguning. Tapi, alasan sebenarnya kenapa ia mengasingkan diri karena ia ingin menghapus bayang-bayang perempuan berjilbab ungu itu dari kepalanya.

Sayang seribu sayang, kealamiahan alam membuat dirinya kembali lagi ke hati nurani yang kecil bersembunyi dalam jiwanya. “aku tidak bisa membohongi diriku lagi” ujarnya. “cepat atau lambat aku pasti menghadapinya” katanya dalam hati.

“aku tidak bisa lari dari kenyataan bahwa aku menaruh hati padanya. Oh, betapa terkutuknya aku bila mengingkari hal tersebut”. Dan nyatanya, di antara ras laki-laki, barangkali ia merupakan salah satu jenis yang paling sensitif. Berkali-kali jatuh cinta dan berkali-kali itu pula ia berusaha berkata tidak. “di antara seluruh pekerjaan di dunia ini, tolong jangan libatkan aku dalam persoalan cinta. Aku bukan jenis yang mahir di dalamnya”.

Barangkali, karena penyangkalan yang dalam itu ia terlihat begitu dingin. Kawan-kawan perempuannya pun mengakui hal itu. Dan di dunia yang sudah aneh ini, penolakan akan sesuatu hal sering membuat orang mencap dengan hal yang berlawanan. “huh, apa gila! Bagaimana mungkin saya menyukai laki-laki! Apa mereka sudah gila?” dia tidak tahan dengan desas-desus itu. “aku pria normal, aku mencintai wanita” katanya dengan emosional di hadapan teman-temannya. Lalu isu itu pun hilang. Tapi rasa yang ia pendam itu tak kunjung juga pergi. Ia masih berusaha menyangkal dan menyangkal hingga dirinya merasa begitu sakit. Mungkin kupikir aku harus keluar dari perusahaan ini dan berpisah dari mereka selama-lamanya.

Dan begitulah, hari itu sudah tiga bulan ia menganggur. Dan ketika ayahnya menyuruhnya pergi ke kampung halaman pada bulan kedua, dengan senang hati ia laksanakan perintah tersebut. “Aku akan ber-Ramadhan di sana. Aku akan mendekatkan diri kepada Tuhan pada bulan itu, aku akan meminta petunjuk dariNya.” maka bangunlah ia shalat tahajjud setiap pukul 2 dini hari. “aku akan meminta padaNya” lalu tanpa ia sadari lidahnya selalu menyebut nama wanita itu dalam setiap doa-doanya. Hingga tibalah masa ketika keinginan dirinya yang terdalam sudah tak dapat dibendung. Maka ia kirimkan sms pertama tersebut.

Hari pertama, tanggapan wanita itu begitu jenaka. Ia balik bertanya dengan konyolnya, sambil terus menulis bahwa ia akan tahu siapa sebenarnya si pengirim sms itu. Sungguh tak terperi bahagia di hati sang pria. Jiwanya begitu lega dan semua yang ada di matanya hanyalah kebahagiaan semata. Untuk merayakannya, selepas subuh ia berlarian tanpa alas kaki menuju pematang sawah dan berteriak keras-keras di sana “aku cinta kamu”. Setelah itu kembali ke rumah mengambil sepeda berkeliling desa hingga tengah hari dan jatuh tertidur hingga sore.

Hari kedua, tanggapan yang muncul tidak begitu menarik. Perempuan yang ia sms sepertinya sudah penasaran oleh si pengirim surat elektronik tanpa nama tersebut. Tapi ia masih memberikan rasa terima kasihnya karena telah dibangunkan oleh si pengirim sms.

“siapapun kamu, terima kasih banyak karena membangunkan saya untuk sahur. Semoga Allah memberikan balasan setimpal untukmu”

Ia baca tulisan itu berulang-ulang seakan sebuah surat berharga yang harus dijaga. Tapi rasa bahagia yang seharusnya hadir perlahan mulai hilang. Ia merasakan sebuah jarak yang tak mungkin ia lompati antara ia dan perempuan itu. “Seperti dinding yang tinggi menjulang yang tak bisa aku lewati. Jiwa kami terpisah.”

maka pada subuh itu ia mengutarakan pikirannya kepada bibinya.

“bulik, aku ingin balik ke rumah.” ujarnya setelah mengepak pakaiannya.

“lho, kok cepat sekali. Katanya mau nemenin bulik di sini jaga mbah” kata bibinya yang sibuk mencuci piring bekas sahur

“eh, ada kerjaan yang harus saya lakukan di rumah” mencari alasan.

“kapan mau berangkat? Apa sudah beli tiket kereta?” menaruh gelas-gelas di atas rak piring

“nanti jam 9 pagi ini” sambil menggigit bibir.

“walah, mana ada kereta jam segitu” ia mencuci tangannya di air keran dan mengeringkannya ke atas serbet.

“hmm... saya akan ngeteng naik bus saja” ucapnya singkat.
“pengin menikmati pemandangan saja” menambahkan.

“yo wis, kalau begitu” dia menatap keponakannya itu lekat-lekat, seakan anaknya sendiri.
“nanti tak siapkan oleh-oleh buat orang rumah” berlalu pergi.

9:12

Ia pamit kepada kakek, nenek dan bibinya. Setelah mengikat tali sepatunya erat-erat ia pun pergi ke jalan utama menuju terminal kecil di kota kecil itu.

Surat dari Langit (2)

Keduanya pun kembali lagi ketempat si pria tadi berdoa. Ia masih di sana, melakukan rakaat terakhir dari tahajjudnya. Keduanya masih menunggu. Dan tatkala ia selesai, keduanya berusaha mendengarkan permohonan pria tadi.

***
02:35

Wajah malam benar-benar gelap, hanya menyisakan sedikit cahaya yang masuk melalui kisi-kisi lubang udara di atas kusen kayu. Cahayanya menimpa tumpukan buku lusuh yang bersandar malas di atas rak kayu yang reyot. Di depannya, duduk beralaskan sajadah tua, seorang pria khusyuk berdoa di tengah malam itu.

Ia bermunajat kepada Tuhan tentang kisah dirinya, tentang harapan-harapannya dan tentang keinginannya yang belum tercapai. Ketika akhirnya sampai kepada cintanya, ia berhenti sebentar. Meresapi kesalahan-kesalahannya yang lalu, tentang kebodohannya yang tidak bisa ia percaya. Dan terpenting, tentang perempuan itu. Perempuan yang selalu hadir dalam doa-doanya selama Ramadhan ini.

“aku masih belum bisa melupakannya. Dan aku akan terus berdoa pada Tuhan tentangnya” dan ia pejamkan matanya, membiarkan hatinya merasakan keseluruhan wujudNya.

“sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui apa yang kuucapkan dan yang kusembunyikan. Maka kabulkanlah harapan-harapan dan cintaku yang paling murni dan dalam. Sesungguhnya Engkau tidak pernah mengingkari janji”.

Udara malam menghembus lembut. Membawakan perasaan sejuk yang belum pernah ia rasakan. Dan ia masih menikmati sensasi hawa murni tersebut, yang tidak dingin dan panas tapi membuat segar seluruh akal pikiran dan panca inderanya.

 “Tuhan, terima kasih” pujinya dalam hati.

“dan kini apa yang akan aku lakukan?” tiba-tiba muncul pertanyaan itu dalam hatinya. Matanya kembali terbuka, menyesuaikan dengan gelapnya malam. Semua yang ada di kamar itu hening tanpa suara, hanya kipas angin kecil yang memutar kelelahan mengalirkan udara.

“aku harus menelponnya. Ah, tidak. Bagaimana kalau ia langsung menutup telepon tersebut? Tapi saya lebih takut kalau dia malah menganggap saya kurang ajar dan gila. Buat apa menelpon gadis baik-baik yang tidak ada hubungan apa-apa denganmu di tengah malam seperti ini.”

“apalagi kalau itu hanya telepon iseng saja, tidak memberitahukan apa-apa dan hanya berkata sebentar, 'halo bagaimana kabarmu malam hari ini'. Bodoh! Lalu apa yang harus kuperbuat?”

“baik, aku akan mengirimkannya sms. Itukan tidak kencang, lagi belum tentu ia akan segera bangun, jadi tidak perlu mengganggu bukan. Cuma, apa yang harus aku tulis?” ia bingung bukan main.

“ah tidak, tidak mungkin aku menuliskannya” ia tertawa cekikikan demi teringat salah satu komentar temannya tentang ide menulis “iloveuwouldumarrymeplease..” di atas sebuah sms. Benar-benar cara menembak yang aneh. “menembak, apaan juga tuh?”

“aku harus membuatnya sealami mungkin. Bukankah cinta itu alamiah, tanpa rekayasa, kenapa juga harus memaksa bila bukan waktunya”  ia berkeras.

“akan ku kirimi ia sms”. Ia ambil telpon genggam hitamnya yang tergeletak di samping sajadah. Ia pencet tombol-tombol mungil di atasnya dan mencari nama yang sudah sangat ia hafal.

“akan kubangunkan ia untuk sahur” ujarnya dalam hati sambil menekan tombol send lekas-lekas.

02:59

Bit-bit data yang tak kasat mata dan kecil itu terlempar cepat ke angkasa, melewati dua malaikat yang masih mengamati pria di bawahnya tadi. Dengan kecepatan cahaya, ia terserap ke menara BTS terdekat yang tak henti-hentinya berkelap-kelip sepanjang malam melayani ribuan pesanan akses data, suara dan teks, menjadi saksi pelbagai kehidupan manusia yang kebetulan lewat di dekatnya. Perselingkuhan, rasa cinta, amarah, ultimatum, tak henti-hentinya ia menyaksikan semua bit data itu untuk kemudian melontarkannya lagi jauh ke angkasa sana menembus lapisan teratas awan cumulus, melewati batas atmosfir dan tiba di tangan-tangan cakram satelit Palapa C2. Tapi memang bukan kesana bit-bit data itu menuju. Dengan kecepatan yang nyaris sama, ia kembali terlontar cepat menuju bumi, ke sebuah BTS lain yang siap menampung curahan informasi itu. Lalu bagaikan hamba sahaya yang begitu taat, ia hantarkan sebaris pesan tadi ke sebuah ponsel Nokia hitam yang setengah sadar.

“teetetet, teetetet, teetetet!” bunyi handphone memecah keheningan malam.

“ah, sms dari siapa tengah malam begini?” ujar seorang perempuan yang langsung terjaga mendengar suara tadi. Jilbab yang dipakainya masih acak-acakkan, tapi wajahnya yang manis menutupi kekurangannya tadi.

“Sahur... sahur... bangun!” sebuah surat dari langit.

Dia melihat tidak percaya, memandang baris-baris pesan di layar handphonenya sebentar dan sedetik kemudian ke jam dinding kecil yang terus berdetik. Tik..tik..tik..

03:01.

Surat dari Langit

[mohon maaf, berhubung masih ada riset dan studi yang harus saya lakukan pada bab II, yang berjudul "Gadis Pantai" maka di sini saya posting saja langsung ke bab III. Jadi kalau ada cerita yang seakan melompat, mohon dimaklumi. :-)]

Ada banyak hal yang kita agungkan di dunia ini. Sebagian ada yang menganggap harta bendanya yang membuat dirinya kekal, sebagian lain menganggap bahwa cinta adalah sesuatu yang sukar ditemukan gantinya. Padahal bila mereka mengerti, sesungguhnya cintalah yang jauh lebih dominan. Kau bisa mencintai harta bendamu, wanita, anak-anak dan segala suatu yang ingin kau miliki. Kau bahkan bisa mencintai dirimu.

“apa yang kau temui di malam-malam Ramadhan seperti ini?” ujar seorang malaikat kepada kawannya.

“negeri ini bersenandung doa” jawabnya sambil memandang gemerlap cahaya di hamparan kota di bawahnya.

“kau lihat, apartemen jangkung sebelah sana” sambil menunjuk ke arah jajaran menara apartemen tak beberapa jauh dari jalan layang tol.
“ada wanita setengah baya yang memohon keselamatan anak semata wayangnya yang kini tengah belajar di desa” keduanya pun datang menghampiri.

Seorang perempuan dengan bercucur air mata menengadahkan tangannya tinggi ke langit, wajahnya pucat pasi dan matanya berkaca-kaca. Ia terus menangis mengiba agar keadaannya kini jauh lebih baik. Agar ia mampu bertemu kembali dengan keluarga di rumah. Sementara di kamar sebelah, kedua majikannya tertidur pulas. Mereka tertidur, karena dua jam sebelumnya sibuk menyiksa perempuan tamatan SD ini gara-gara tidak becus menggunakan mesin cuci digital yang tidak ia kuasai.

“Ia ikhlas, benar-benar wanita yang ikhlas, sungguh-sungguh, dan memiliki keinginan yang kuat” menilai.

“tunggu sampai kau lihat yang ini” ia segera mengajak rekannya itu pergi melintasi pekarangan kotor di samping rel kereta api.

“apa maksudmu orang itu?” malaikat tadi menunjuk seorang perempuan yang masih memegang pisau dapur ditangan kanannya.  Daster bermotif bunga-bunga yang ia kenakan tampak kumal sekali, penuh lobang di sana-sini dan sepertinya sudah lama belum dicuci.

“apa ia ingin membunuh seseorang?” penasaran.

“kau salah, ia baru saja membatalkan niatnya untuk membunuh seseorang”

“siapakah gerangan orang yang ingin dia bunuh?”

“suaminya, ia ingin membunuh suaminya yang pemabuk dan sering main perempuan itu.” berusaha menjelaskan.

“Sore tadi, sepulang dari tempat kerjanya ia melihat di matanya sendiri sang suami tengah berasyik masuk dengan seorang wanita di kamar mereka berdua. Ingin ia memarahi, tapi ia begitu takut. Takut akan makian, cacian, pukulan dan tendangan yang sering ia terima. Karena kalut, ia tinggalkan petak sempit itu dan berjalan tak tentu arah sepanjang perkampungan kumuh. Ia hampir gila dan memutuskan untuk mengakhiri nyawa sang suami pada malam ini”.

“tapi kenapa tidak ia lakukan?”

“waktu ia hendak melakukan niatnya itu, bayinya menangis keras. Sebenarnya juga aku yang membuat bayi itu menangis. Aku hanya ingin tahu, apakah ia masih memiliki cinta terhadap keluarganya. Ternyata dugaanku benar, ia memilih menghampiri putrinya lalu menggendong dan menyusui bayi tersebut. Naluri keibuan telah mengalahkan ego kebinatangan yang muncul dalam dirinya. Ia lebih memilih mengorbankan rasa sakit hatinya daripada membiarkan sang anak tumbuh besar tanpa kasih sayang si ibu”.

“sungguh mulia sekali hati perempuan itu” lalu sang malaikat memanjatkan doa kepada Tuhan agar Ia mengampuni kesalahan yang perempuan tersebut perbuat pada hari ini.

“bukankah sudah kubilang, perempuan itu jauh lebih kuat dan tangguh daripada laki-laki” mencoba berteori.

“kenapa kau tidak memperhatikan yang satu ini?” ia kembali membawa kawannya pergi jauh hingga melayang tepat di atas sebuah rumah sederhana.
“apa yang kau lihat?” ia memandang dalam ke bawah rumah itu.

“hanya seorang pria biasa yang sedang melakukan shalat malam. Apa yang istimewa dari dirinya?”

si malaikat tersenyum, “yang ia panjatkan. Itu yang membuatnya istimewa”

“apa sebenarnya yang ia panjatkan dan kenapa hal tersebut istimewa?”

“ia hanya memanjatkan doa untuk seseorang yang benar-benar ia kasihi. Seorang wanita yang hatinya telah beku akan cinta. Ia memohon kepada Tuhan agar ia diberikan kesempatan untuk mencintai wanita itu.”

“kedengarannya seperti cerita cinta yang lalu-lalu” kritik si kawan.

“asal kau tahu, ia sudah memanjatkan doa itu sejak lama. Semenjak Ramadhan tahun lalu, dan meski ia merasakan sejumlah kejatuhan dan kegetiran, ia terus berusaha bangun dan bangkit kembali. Dan terus mengumandangkan harapan-harapannya”.

“Oo..” “lalu siapakah perempuan yang ia begitu puja dan doakan itu?”

Si malaikat membawa rekannya menuju ke pusat kota Jakarta yang padat, ke tengah hamparan rumah-rumah petak yang berhimpitan tidak mau mengalah. Mengitari gang-gang kecil kemudian melayang tipis di dalam sebuah kamar kotak persegi. Sebuah tempat tidur single membujur di sisi kiri kamar itu. Di atasnya, dalam keheningan dan ketenangan terbaring sesosok wanita yang tidur dengan damai. Ia sepertinya begitu lelah sehingga lupa melepas pakaian kerja yang ia kenakan. Di kepalanya masih tergantung dengan rapih jilbab warna ungu yang ujungnya jatuh menutupi dadanya yang kembang kempis pelan tapi dalam.

“kenapa pria itu begitu mencintai perempuan ini?”

“jangan kau tanya aku tentang cinta. Tanyalah pada manusia, merekalah yang diberikan Tuhan anugerah untuk dapat mencinta dan membenci. Menjadi begitu penyayang dan begitu bengis. Menjadi lemah lembut atau gagah berani menerjang karang.”

“aku paham, dan sudah banyak yang kusaksikan dari keagungan daya itu dalam kehidupan manusia.” katanya sambil terus mengamati perempuan itu.
“yang tidak aku mengerti, ungkapan kamu bahwa yang dipanjatkan pria itu adalah sesuatu yang istimewa”.

“oh, rekan malaikatku. Tidakkah kau mengambil pelajaran dari tugas kita pada malam hari ini. Pembantu yang tersiksa oleh majikannya, perempuan yang tersiksa oleh perlakuan keji sang suami, kalau kau lihat, bukankah yang menjadi kunci di sini adalah kaum pria. Seandainya si laki-laki tadi memiliki budi pekerti yang baik, tidak mungkinlah ia berbuat serong dengan wanita lain. Dan ibu muda itu, tentu saja tidak akan berniat membunuh. Ia akan melakukan perbuatan yang baik karenanya dan mmebesarkan keturunan yang baik pula.”

“lalu si anak ini, ketika sudah besar dan menjadi orang kaya, karena contoh dan ajaran dari orang tuanya tentu tidak akan memperlakukan pembantunya dengan keji. Kalau pun ia berbuat salah, maka ia akan membenarkannya dengan sabar, sebagaimana dulu yang diajarkan kepadanya saat kecil. Seperti keburukan, perbuatan baik juga merangsang orang lain berbuat serupa”

“dan kini kau lihat, ada seorang laki-laki yang mencoba menjadi orang baik. Ia ingin mencinta seseorang yang amat ia puja. Tidakkah kau berpikir kawan malaikatku, bahwa ia bisa menjadi kata kunci tadi. Ia bisa memberi dengan sepenuh hati apa yang tidak diberikan oleh mereka yang tidak punya hati. Dan jika ia benar-benar mencintai wanita itu, bukankah ia akan memberi yang terbaik untuknya?”

si malaikat hanya terdiam membisu.

Aku & al-Quran

Entah kenapa, saya kadang tidak tertarik mendengar ceramah dari para penceramah populer. Sebut saja, M. Arifin Ilham, Yusuf Mansyur, Abdullah Gymnastiar, Zainuddin MZ, mamah Dede atau sejumlah penceramah metodik seperti Abu Sangkan. Barangkali karena begitu banyak informasi yang saya cerap yang seringkali bersinggungan dengan cara mereka mengemukakan argumentasi. Satu-satunya pengecualian, itu pun kalau mau disebut demikian, adalah M. Quraish Shihab. Apa yang membuat saya begitu antusias mendengar pengajian beliau?

Terus terang, cara Qurasih Shihab menafsirkan al-Quran sangatlah standar. Beliau selalu memulainya dari segi bahasa yang kemudian ia pertalikan dengan pengetahuannya yang luas terhadap keseluruhan al-Quran ditambah beberapa detil dari hadist dan fiqh. Cara menafsirkannya juga sederhana menggunakan logika dasar dan common sense, tetapi karena al-Quran sendiri memiliki kekayaan kosa kata yang sangat luas, pada akhirnya apa yang beliau sampaikan juga bukan sesuatu yang dangkal. Bahkan boleh dibilang penafsiran beliau adalah sebuah pengantar yang cerdas untuk memahami kedalaman makna al-Quran. 

Sebagai contoh, ketika al-Quran berbicara tentang thagut, secara harfiah berarti melampaui batas, Quraish Shihab berusaha memahami kata tersebut dari sudut pandang psiko-linguistik. Term 'menyembah thagut' biasanya dipahami sebagai menyembah berhala atau yang lebih kontemporer, memuja rezim kediktatoran yang represif dan otoriter. Namun, ketika kita memulangkan kata tadi ke makna harfiahnya, kita akan menemukan arti yang jauh lebih dalam dari kedua tafsir tersebut. Thagut bisa berarti sebuah situasi yang serba hyper, berlebihan dan melampaui batas. Menyembah thagut dengan demikian bisa dimaknai dengan sebuah keadaan untuk memuja segala suatu yang bersifat hyper dan berlebihan. Dalam konteks masyarakat modern, term menyembah thagut bisa berkaitan dengan gejala  hyper-konsumtif, hyper-media, idol kontest, super mega star, bahkan gila kerja. Benar-benar sebuah analisis yang menarik dan fleksibel.

Hal lain yang patut diperbincangkan adalah cara al-Quran menafsirkan teksnya sendiri. Kata munafik misalnya memiliki akar kata serupa dengan kata nafkah. Makna harfiah dari akar kata kedua term tadi adalah nafaqa yang berarti terowongan. Orang yang memberi nafkah itu bagaikan membuat terowongan dalam pundi-pundi uangnya, karena ia membiarkan uang tersebut mengalir bukan disimpan. Adapun orang-orang munafik adalah mereka yang tidak mau mengendapkan kebenaran yang disampaikan kepadanya. Mereka bagaikan orang yang mendengar kebenaran, masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Tidak ada yang berbekas sama sekali.

Dalam hal keimanan, model penafsiran Quraish Shihab bahkan mampu menguak nuansa dari kata tersebut. Misalnya cara beliau menafsirkan kata kafir. Kata ini biasanya dipahami sebagai sebuah domain di luar kata iman. Orang-orang kafir sebagaimana yang kita pahami adalah mereka yang tidak beriman kepada Allah dan Nabi Muhammad. Itu benar, tapi al-Quran juga menggunakan kata tersebut bagi orang yang berbuat dosa, termasuk di dalamnya umat Islam sendiri jika ia berdosa maka orang tersebut juga dinamakan orang kafir. Di lain pihak, kata ini juga dialamatkan kepada entitas di luar Islam yang melakukan agresi kepada komunitas Islam dan bukan kepada mereka yang tidak melakukan agresi meskipun berada di luar komunitas Islam. Keberagaman kata kafir ini tentu sangat berguna untuk menolak klaim kebenaran absolut tanpa harus jatuh sedikit pun kepada relativitas beragama.

Terkadang, cara pikir kita sering terpola kepada konsep digital, benar – salah secara makro. Al-Quran juga menggunakan konsep ini dalam ayat-ayatnya. Yang berbeda, pembagian benar – salah dalam al-Quran itu bersifat kasuistik. Maksudnya, ia memberi penegasan dalam konteks yang berbeda-beda dengan level yang beraneka. Setiap kondisi, baik fisik maupun psikologis, memiliki tuntunannya tersendiri yang jika dibawa ke dalam konteks yang lebih umum membuat kita paham bahwa selalu terdapat nuansa dalam setiap keputusan yang diambil. Dan ustadz Quraish mampu menerangkan hal tersebut dengan gamblang serta dapat menyampaikannya dalam bahasa orang awam.

Pada akhirnya, kenapa saya lebih menyukai gaya pengajian agama model Quraish Shihab adalah karena beliau memegang al-Quran serta membuatnya 'berbicara' kepada kita dan bukan sebaliknya. Sebuah bukti otentik yang tidak mampu saya tolak kebenarannya. Sebuah gugus pikiran yang sampai saat ini masih terus saya pelajari dan saya percaya, serta sebuah mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW dan kitab petunjuk dan rahmat bagi semesta alam.

* gambar al-Quran saya ambil dari  http://navedz.files.wordpress.com