Persona

Saya sering mengikuti kuis-kuis kepribadian, baik yang bersifat populer maupun yang memiliki kadar ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Alasannya sederhana, saya ingin mengetahui bagaimana orang memandang diri saya.

Seperti berkaca, kuis-kuis tersebut, sampai batas tertentu menyediakan sejumlah batasan-batasan yang membuat kita tahu, seperti apa diri kita sebenarnya. Yang paling memenuhi kriteria barangkali kuis MBTI yang mengukur tingkat keterbukaan, intuisi dan sifat kita dalam menilai sesuatu. Kuis ini menggunakan parameter angka, sehingga hasilnya sangatlah dinamis dan tidak memposisikan kita dalam suatu kriteria kepribadian tertentu sebagaimana model kepribadian zodiak maupun shio.

Awal mulanya, saya percaya bahwa model kepribadian saya adalah INFJ. Yang berarti menggunakan intuisi secara introvert dan memberikan penilaian menggunakan perasaan. Dalam katalog kepribadian Myer-Briggs orang yang berkepribadian INFJ cenderung menjadi pendengar yang baik dan memiliki kemampuan untuk melayani orang lain dengan bagus. Orang-orang ini juga memiliki kepekaan perasaan yang tinggi, meski tidak ia tunjukkan kepada orang lain. Bentuk karir yang sesuai untuk INFJ adalah psikolog dan perawat.

Tentu saja, pendapat Myer-Briggs tersebut tidak seratus persen mutlak. Keenambelas tipologi kepribadian yang ia contoh dari Jung juga bukan sesuatu yang seratus persen ilmiah. Jung sendiri terkenal karena menggunakan sains kuno, sebagai latar belakang penelitian kepribadiannya. Hal yang bisa dimaklumi, karena saat itu psikologi baru meretas sebagai sains baru.

Tapi, yang menjadi perhatian saya bukanlah penggambaran setiap model kepribadian yang definitif dari Myer-Briggs. Saya lebih cenderung tertarik kepada penggunaan analisis kuantitatif dalam menentukan kepribadian seseorang. Saya pun berusaha memahami bagaimana cara kerja dari tes tersebut.

Menyenangkan juga, karena setelah saya perhatikan dengan seksama, model kepribadian saya berubah lagi menjadi INTJ. Dari beberapa aspek, INTJ tidak jauh berbeda dari INFJ. Perbedaan diantara kedua tipologi ini hanya pada unsur Thinking yang menjadi dasar penilaian. Dengan kata lain, bila orang yang berkepribadian INFJ selalu menggunakan Feeling sebagai sarana penghakiman, maka INTJ menggunakan otaknya untuk menghakimi.

Menarik, karena untuk berubah dari INFJ ke INTJ saya hanya dipisahkan oleh 6 skor saja. Anehnya, skor ini lumayan signifikan, karena jumlah pertanyaan yang diajukan tidak lebih dari 20 poin. Well, apakah dengan demikian model kepribadian saya ini adalah INTJ? Atau, ini adalah sebuah swing personality, dimana kita bisa dengan mudahnya berpindah dari satu kepribadian ke kepribadian yang lain?

Data kuantitatif sebenarnya memiliki keunggulan dibanding yang kualitatif, karena ia menawarkan sebuah imajinasi yang lebih luas spektrumnya. Anggap saja telah terjadi swing personality, seharusnya yang menjadi perhatian khusus adalah gradasi yang muncul antara dua kepribadian tadi. Maskud saya, pada poin mana saya sedikit berubah menjadi seorang INTJ dibandingkan turunnya nilai INTJ yang saya miliki.

Terus terang saya tidak tahu, apakah setiap pertanyaan yang diajukan memiliki korelasi yang kuat dengan tindakan kita sehari-hari, ataukah pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya sebuah fenomena yang tersembunyi dari kesadaran kita?

Sebagai contoh, ketika ada pertanyaan: apakah kamu cenderung faktual daripada spekulatif atau sebaliknya. Kita tentu akan bertanya, tentang makna kedua kata tadi. Setelah kita mengetahuinya lalu kita mencocokkan arti yang telah didapat dengan gambaran diri yang kita buat. Tentu saja, akan terdapat banyak varian jawaban yang muncul. Saya mungkin akan menjawab bahwa saya ini cenderung faktual. Tapi dari pengalaman yang ada, saya ternyata bisa sangat spekulatif.  Lalu mana yang harus saya pilih, faktual atau spekulatif?

Kesulitan tersebut ternyata dapat diatasi dengan memberikan sejumlah skor ketertarikan sesuai bintang. Tapi kita tentu akan kembali bertanya, bagaimanakah caranya mengetahui bahwa saya ini 30% spekulatif dan 70% faktual? Bukankah itu mengharuskan kita bertanya pada orang lain. Maaf, menurut anda saya faktual atau spekulatif sih? Masalahnya, siapa yang menjadi tempat kita untuk bertanya.

Pada akhirnya, yang saya dapat hanyalah skor-skor semata. Bahwa saya 80% introvert, 80% intuitif, 60% Thinking dan 70% judgement. Kira-kira, apa yang bisa kita dapatkan dari deskripsi kuantitatif seperti tadi? Apakah jauh lebih mudah mengenal orang dengan cara seperti ini, ataukah cukup kita serahkan pada kepribadian zodiak, bahwa orang yang lahir di bawah konstalasi Cancer cenderung romantis, keras di luar tapi lembut di dalam serta sentimentil?

Hmm... setelah saya pahami, model pembacaan kuantitatif ini seperti gambaran wajah kita. Kita tahu bahwa setiap manusia memiliki wajah yang berbeda, tapi saat kita bertemu dengan orang-orang yang berbeda ini, kita cenderung mengelompokkan mereka kedalam beberapa grup. Modelnya berbeda-beda. Bisa dualistik, rupawan dan buruk rupa, baik dan jahat, atau sahabat dekat, sedikit dekat, tidak dekat, dan jauh.

Bahkan apabila kita mampu melihat dalam spektum yang lebih luas, kadangkala kita membutuhkan penyederhanaan. Ya, sebagaimana ekonomi, kita juga butuh menghemat waktu dalam mengenal orang lain. Dari sinilah kemudian muncul yang namanya stereotip. Baik yang bersifat kultural maupun yang lahir dari pengalaman pribadi kita masing-masing.

Berhubungan dengan kepribadian ini, kadang saya terkejut ketika mendengar orang lain berbicara bahwa saya ini sombong. Ada juga yang berkata angkuh, sok pintar, dan sinis. Untuk yang terakhir memang saya akui itu. Hee... tapi untuk tiga sifat pertama. Well, saya akan berkata bahwa saya tidak demikian adanya. Tapi kenapa anggapan itu muncul.

Yup, jawabanya adalah persepsi. Kita diciptakan dengan persepsi yang berbeda-beda, sesuai dengan kadar intelektual kita dan keberuntungan yang berbeda-beda pula. Tapi tentunya ada standar umum yang bisa digunakan untuk menilai hal tersebut bukan. Ah, ini berarti kembali ke pertanyaan saya sebelumnya, kepada siapa seharusnya kita bertanya atau kepada cermin yang mana seharusnya kita berkaca. Rumit bukan.

Akhirnya, mungkin saya akan berkata, kenapa harus diambil pusing. Bila kepribadian selalu berkorelasi dengan nilai, bukankah lebih baik kita menggunakan nilai-nilai moral yang dalam dibandingkan nilai-nilai etiket yang superfisial. Bahwa, kesadaran diri terkadang jauh lebih penting dari topeng yang kita gunakan. Meskipun kita paham, tentu tanpa segala gincu itu coreng moreng wajah kita akan terlihat jelas. Tapi setidaknya, kenyataan akan jauh terlihat menarik apabila kita buang topeng itu dan menggunakan wajah kita yang sesungguhnya.

Open your mind, open your heart. Semoga kita masih mempunyai kedua hal tersebut.

2 komentar:

  1. saya juga mas,,
    karena artikel tentang kepribadian itu beragam
    bisa dari selera musik,,
    warna,
    gaya tidur,
    bisa menentukkan pribadi seseorang
    dan rata-rata yang saya baca itu sama seperti karakteristik ripbadi saya..
    thanks

    BalasHapus
  2. Cerdas!

    Saya suka analisa anda..!!!

    -----

    Apakah perlu 'simbol' tambahan;
    contoh (t-f) untuk orang yang diambang batas Feeling & Thinking,

    sekedar mengurangi bias :)

    BalasHapus