Senja

Terlalu jauh, terlalu jauh. Apa yang kau lakukan ketika semuanya terasa begitu jauh dari yang kau kira. Tentang mimpi-mimpi yang menyeret kita ke kegelapan malam yang pekat. Membutakan pandangan kita tentang arah yang mesti dituju. Kesanakah? Kekirikah? Aku bahkan tidak tahu mana bagian yang kiri dan yang kanan.

Semua tentang berlalunya waktu yang pongah untuk kita lalui. Dalam kecemburuan-kecemburuan yang tinggi. Tak pernah kulihat langit setinggi ini sebelumnya. Saat kutatap tiang bendera yang menusuknya begitu lunglai. Ia kehilangan ketinggian untuk menggapai samudera biru di atas sana. Atau kekerdilan yang kurasa saat ini, meratakan jiwaku bersama tanah yang ambruk ke haribaan bumi.

Terlalu jauhkah? Bukankah langkahku pelan menapak batas cakrawala yang kian lama kian hilang tertelan tembok langit. Dan diujung bumi ini, ketika deburan samudera mengarah ke bawah kaki-kakiku yang lunglai. Aku masih terus bertanya. Terlalu jauhkah untuk kutuju?

Apa sebenarnya yang kaupikirkan tentang kematian? Apakah itu sebuah lanjutan dari jalan tanpa ujung ini. Dan seandainya ku terjun ke bawah tebing curam di bawahku, karang dan ombak menelan melumpuhkan persendian-persendianku yang remuk oleh tarikan gravitasi. Menghanyutkan tubuh yang membusuk bersama air laut. Dan santapan-santapan sore yang terpermai bagi burung-burung laut dan kawanan ikan di samudera ini. Hilangkah aku?

Tapi hilang bukan berarti berhenti. Pernahkah kau tersesat hingga memilih lebih baik hancur daripada lelah menggerogoti sekujur tubuh. Seperti tertelan di hamparan pasir yang luas, saat terik menusuk dalam ke jeroan tubuh, entah kemana ku akan pergi. Bersama kalajengking dan sapuan ular derik atau duri-duri tanpa gairah yang siap melumat tubuhmu ketika malam bangun menutup siang. Sungguh ku tak tahu.

Maka kuberjalan dalam gelap ini. Gulita menyamar menghardik langkah yang tertatih. “Ah, kau salah. Bukankah itu kubangan bagi para pecundang?” tapi aku memang pecundang. Jadi tak apalah bila kutidur sebentar bersama mereka di sana. “Tapi tidur bukanlah pilihan yang baik. Karena sejak lama, tak pernah kulihat mereka bangun dan bergegas pergi”. Mungkin kau benar.

Tapi kemana? Saat Tuhan menghilang dari pandangan, bisakah kuberharap sesuatu yang seharusnya kuharapkan. Atau, haruskah kutunggu Dia menjemput, menghukum dan memarahiku laksana perempuan itu. Yang menarik tubuhku ke dalam pelukannya yang hangat dan membuangku mentah-mentah kala pagi menggigil memangsa tubuh telanjangku. Ah, keberingasan malam.

Adakah?

“Siapa?”

Tuhan.

“Tidak tahu”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar