Itu Lagi*

Ah, cinta. Kalau tidak salah, sudah cukup lama semenjak peristiwa akhir tahun lalu saya tidak menulis lagi tentang cinta di blog ini. Bila dibandingkan saat itu, terus terang pengalaman sekitar hampir dua bulan ini merupakan anti tesis. Sekarang, saya benar-benar mengalami cinta dalam arti sesungguhnya. Bukan sebatas khayalan atau pendapat pribadi yang bertepuk sebelah tangan, tapi sebuah chemistry yang begitu melenakan dan melarikan saya dari kenyataan sehari-hari.

Awalnya, semua hanyalah harapan-harapan yang kupanjatkan di kala Ramadhan, dan ternyata Tuhan memberi jalan. Kami memulainya oleh suatu peristiwa kecil yang tak kuduga sama sekali. Hati kami bertaut melalui al-Quran. Entah apa ini sebuah rekayasa agama, penyelewengan atau apalah, (bahasa kerennya komodifikasi Hehehe...) tapi katanya ia tertarik padaku saat kusuruh ia membuka suatu bagian dari Kitab Suci tersebut. Dan sejak itulah, entah berapa puluh lembar voucher, berton-ton kata cinta, malam-malam benderang bagaikan siang, kami mulai berpacaran.

Ah, barangkali ini cerita cinta biasa. Dan kupikir juga demikian, tapi bagiku cinta itu tak pernah menjadi biasa. Ia selalu menjadi luar biasa, bahkan tanpa harus kutuliskan kisah itu menjadi sebuah novel, atau kemandekanku dalam menulis, kegilaan kami yang seakan tidak pernah ingin dipisahkan, cinta bagiku selalu menjadi prioritas pertama. Ia menyingkirkan kebutuhan-kebutuhan lain hingga tak sadar, ternyata kita hidup di bawah langit yang biru yang mengatakan: "Hey, cinta juga butuh makanan". Sungguh aku terlena, meskipun sadar, bahwa cinta juga butuh pulsa.

Maka sebagaimana suasana cinta itu yang datang begitu cepat, kami pun mulai bertengkar lebih cepat pula. Entah siapa dahulu yang memulai, barangkali sikapku yang susah dimengerti, atau keinginannya untuk bebas, kami bertengkar dan kemudian baikan lagi. Bertengkar lagi, kemudian baikan lagi dan bertengkar lagi kemudian baikan lagi. Ah, kenapa bisa begitu? Padahal hanya pacaran saja lho, enggak bakal terbayang bila dahulu saya teringat dengan keinginan menikah tanpa pacaran. Apa jadinya? (atau gimana ya rasanya orang yang berpacaran lebih dari 5 tahun tanpa putus) Ah, untung juga di penghujung dua puluhan ini aku diberi kesempatan untuk mengalami hal tersebut. Rasanya harus berpikir lebih jernih saja agar rasa "mabok" itu pergi. Tapi bila tidak dimabok cinta lagi, apakah masih tetap mencinta?

Dan begitulah, ternyata mempertahankan suatu hubungan jauh lebih sulit daripada memulainya. Tak ayal, banyak sekali cerita tentang perpisahan sebuah cinta yang begitu menyakitkan. Bila begitu, layakkah kita menyakiti orang yang kita cintai entah untuk alasan apapun, bila yang kita inginkan adalah sebuah keutuhan. Ah cinta, semoga Tuhan masih mempercayakan kata itu padaku.


P.S.
*mengikuti lagunya Letto, "itu lagi, cinta lagi..."
Bukan tulisan serius, hanya curhat biasa saja.
Tulisan ini di muat pada malam sebelum ujian CPNS Depag esok hari di almamater saya yang kedua. Semoga bisa lulus.

3 komentar:

  1. om im..i am happy for you..moga sukses juga ujian nya yha...

    BalasHapus
  2. apakah sekarang dirimu masih mabok dengannya? semoga masih ya... hehehe...

    cinta harus diusahakan, sama seperti rezeki. tidak bisa ditunggu saja dan membiarkan ia datang dengan sendirinya. kejarlah... bila sudah dapat, segera ambil dan bersiaplah dengan segala konsekwensi yang mengikutinya...

    pertengkaran, biasalah itu. bukankah kita makhluk yang dibekali akal? justru karena berakal itulah maka kita saling berbeda pandangan dan ide. kedewasaan dan kearifan dirilah yang mampu meredam itu semua...

    Wan... aku doakan semoga dirimu lulus dengan sukses dalam ujian percintaan maupun CPNS... (huahaha... akhirnya melirik pns juga :) )

    BalasHapus
  3. hehehee... i like your statement "cinta itu butuh pulsa" heheheee

    BalasHapus