Shake it Don't Stir

Malam Sabtu kemarin, dapat kecelakaan kecil di jalan raya. Motor saya menabrak pengguna jalan. Untung laju motor pelan tidak lebih dari 50 km/jam, alhasil orang yang saya tabrak itu tidak mengalami luka yang serius. Setelah samasama terkapar di tengah persimpangan, dan dibantu warga setempat, saya dan dia sudah samasama bisa berdiri lagi. Dan saya tanyakan, apa kamu baikbaik saja? Dia menjawab iya. Setelah meminta maaf dan membetulkan kondisi helm yang lumayan rusak, baru melanjutkan perjalanan pulang kerumah sekitar pukul 22.35.

Well, cerita tidak berhenti di situ. Baru beberapa meter, rasa sakit mulai mendera. Ternyata, dari tadi saya banyak juga mengeluarkan darah. Ditilik dari kondisi luka yang saya terima, kemungkinan besar saya jatuh tersungkur. Helm half face lumayan berjasa melindungi kepala saya dari benturan dengan aspal, tapi ia alfa melindungi mulut saya. Dampaknya, rasa nyeri yang menyebar dari pangkal gigi seri atas, bibir yang bengkak dan sedikit mimisan. Rasanya sama seperti kena jotos orang, perasaan saya sudah lama tidak berkelahi tapi sensasi perkelahian masa kecil hadir kembali lewat lukaluka akibat kecelakaan ini. sepanjang malam hampir tidak bisa tidur karena menahan sakit dan di hari berikutnya, giliran tubuh yang terasa ngilu. Ternyata telunjuk kanan saya bengkak dan itu sudah menjaga saya untuk tidak pergi jauhjauh dari tempat tidur. Akhir pekan yang sempurna.

Senin pagi nyeri di gigi sudah reda, kini giliran mulut saya terserang sariawan kelas berat. Mungkin akibat demam karena memar, bisa juga ada bakteri yang masuk saat kecelakaan itu. Jadilah izin sakit ke bos. Sebenarnya pula, kondisi saya sudah sangat fit. Tapi berhubung pekerjaan saya berkaitan dengan kemampuan berkomunikasi secara verbal, dan kebetulan saya hampir tidak bisa berbicara sedikitpun, susah juga menyebut kalau saya sudah siap untuk kembali kerja. Jangankan berbicara, makan dan minum pun butuh perjuangan.


***

Kalau ada hal yang membuat saya benarbenar repot adalah, sifat panik dan rasa penasaran. Dan kebetulan duaduanya hadir bersamaan pada saat itu. Pertama, setelah peristiwa naas itu, saya segera mampir ke apotek terdekat dan membeli obat pereda nyeri, kombinasi antara natrium diclofenac + vitamin neurotropik. Kebetulan juga ini obat produksi pabrik tempat saya bekerja dan saya lumayan tahu isinya. Diclofenac termasuk obat golongan AINS (Anti inflamasi Non Steroid) untuk nyeri dan vitamin neurotropik untuk mempercepat efek kerja dari diclofenac. Yang jadi masalah, ternyata saya lupa membeli antibiotik. Maka di rumah saya malah bingung, kenapa lukaluka saya tidak segera sembuh. Jadilah, seisi rumah panik, terutama ibu saya. Akhirnya malah, dicekoki dengan lidah buaya dan kumurkumur larutan antiseptik albothyl. Tujuannya cuma satu meringankan efek demam dan mengurangi bengkak di bibir.

Dua hari tidak mempan, hingga saya teringat dengan satu elemen penting itu. Ternyata juga di Makassar dahulu saya pernah mengidap sariawan yang cukup parah, atas anjuran teman saya yang kebetulan sarjana apoteker, saya membeli antibiotik yang dia sarankan. Sampai di kamar kost, ia malah tertawa. Kenapa, ternyata saya malah membeli obat generik, padahal seharihari saya menjual obat paten. Duh, saya benarbenar tidak mengerti mengenai antibiotik. Dan ternyata kejadian serupa terulang lagi kali ini. Saat saya suruh adik membeli antibiotik, ia malah balik bertanya, apa namanya? Apa ya? Ternyata saya lupa membuka MIMS, katalog obat yang beredar di Indonesia. Bilang saja untuk sariawan kataku, pinisilin, ampicillin, ya, amoxicillin. Saat saya bicara itulah, muncul ide untuk membuka MIMS di otak saya. Padahal buku tersebut ada di rak, kenapa pula saya jadi lupa.

Kebiasaan saya untuk mencobacoba sesuatu sebelum benarbenar angkat tangan dan menyerahkan masalah kepada yang lebih ahli sepertinya telah menjalar saat saya sakit. Entah kenapa tidak terbesit ide sekalipun untuk berobat ke dokter, padahal kerjaan saya setiap hari ya pergi ke dokter. Dan kalau sakit, biasanya hanya istirahat dua tiga hari, habis itu sembuh. Kalau butuh obat, kadang tanya teman saya, membukabuka katalog dan pergi beli obat sendiri. Hal yang sama juga saya lakukan kalau ada barang di rumah yang rusak dan tidak berfungsi. Reaksi saya, ambil obeng, buka skrup dan otakatik. Banyak yang teratasi dengan cara ini, tapi kebanyakan malah rusak. Bisa jadi itulah yang membuat saya berkenalan dengan bendabenda.

Pernah suatu ketika, komputer kawan saya rusak. Berkalikali saya pencet tombol on off-nya tidak nyala. Karena berniat membantu, saya meminta izin untuk membuka casingnya. Setelah saya lihat buku manual, mulailah membongkar seluruh isi komputer. Kabelkabel saya lepas, soketnya juga, memori, kipas bahkan prosesornya, saya lepas semua dan pasang kembali. Ternyata tidak bisa. Saya coba dua kali lagi, tetap tidak bisa. Karena lelah dan patah semangat, malah isitirahat sebentar. Sambil menutup mata dan mencoba merangkairangkai uruturutan yang benar, muncullah ide di kepala, jumper. Ternyata saya sama sekali belum menyentuh benda itu. Dan bangunlah saya mengulangi proses yang benar dan tidak lupa memindahkan jumper ke posisi terbalik, jadilah komputer kawan saya ini menyala kembali. Pfuff.. Waktu ditanya, sudah berapa kali bongkar pasang komputer, saya cuma menjawab, baru kali ini. Dia malah tertawa terbahakbahak.

Hal serupa saat laju motor saya tersendatsendat, ternyata perputaran rodanya seret. Dan dengan percaya diri saya pun mulai mengotakatik setelan roda belakang. Ternyata lebih dari tiga jam belum selesai. Untungnya juga saya berhasil mengembalikan ke kondisi semula dan rodanya pun kini jauh lebih lancar dari setelan bengkel. Jadilah saya lebih percaya kepada pendapat pribadi saya daripada menyerahkan urusan itu kepada orang lain. Untuk halhal tertentu seperti makanan, kalau tingkat ketelitian saya sedang memuncak, kadang saya malah mengintervensi begitu dalam. Garam dan mecin-nya sedikit saja, kasih kecap ala kadarnya, tambahkan sedikit sayuran dan jangan digoreng terlalu lama. Atau saat di Makassar, dengan percaya diri saya bilang bahwa bumbu gadogadonya terlalu manis dan tidak pake asem. Temanteman pada tertawa, karena saya begitu ngotot mengintervensi si penjual gadogado. Huh, belum tahu ya mereka bahwa itu makanan favorit saya sejak sebelum masuk TK. Tentu saja saya tahu, mana gadogado yang berkualitas dan mana yang tidak. Seandainya saya diperbolehkan minum martini atau cocktail, mungkin saya akan bilang, shake it don't stir sambil menirukan mimik James Bond di atas meja bar. Hihihihi..


***


Ringkas cerita, akhirnya saya pergi ke dokter untuk mengobati sariawan yang akut ini. Setelah dicek, ternyata obat yang diberikan sama seperti obat yang saya beli. Antbiotik, vitamin c, dan obat oles antiseptik. Tuh kan, pendapat saya benar. Apa bedanya, pergi ke dokter, Ponari dan "Do It Your Self" ala saya. Barangkali yang tidak mungkin saya dapat kalau melakukan DIY adalah secarik kertas izin sakit untuk dua hari. Lumayanlah pikirku. So, mana yang penting? Legalitas ataukah kualitas? License to kill?! Ho, shake it don't stir!

Powered by ScribeFire.

Satu saja tidak cukup!

Awal keterlibatan saya di internet garagara ingin mengetahui seseorang saja. Pertama, bergabung melalui situs social network Friendster. Bisa dibilang ini adalah akun pertama yang selalu saya ingat dan kunjungi. Sebelumnya, ada beberapa situs yang rutin dikunjungi tapi tidak pernah seserius Fs ini. Setelah beberapa kali browsing dan tidak mendapatkan kepuasan, maka mulailah menjelajah keberbagai tempat. Pilihan pertama googling namanama kawan lama yang telah malangmelintang di jagad maya. Beberapa ada, kebanyakan kosong. Satu persatu saya hubungkan ke akun fs dan mulai berkomunikasi. Dari mereka semua, mulailah saya mengenal dunia blog. Masih jelas diingatan, posting pertama saya mengenai kehampaan intelektualitas di dunia kerja. Beberapa kali saya berusaha memahami cara kerja blogger yang menggunakan format html. Uji sana sini, tetap tanpa hasil yang memuaskan. Terlebih, kala itu saya masih berinternet ria di warnet, jadi belum begitu mendalami secara total.

Perubahan pertama dalam gaya hidup adalah memasang koneksi internet di rumah. Beberapa saya jajagi, macam speedy dan IM2, masih juga belum pas di anggaran keuangan bulanan. Bagi saya, koneksi internet tidak boleh lebih dari 150 ribu per bulan. Diatas itu bakal besar pasak daripada tiang. Karena jelas, saya juga masih membutuhkan fasilitas pulsa untuk menelpon yang anggarannya saya batasi juga hingga 150 ribu perbulan. Bila ditotal kedua komponen tadi ada 330 ribu setelah PPN 10%. Untuk mengontrol pemakaian, kartu seluler yang digunakan adalah pasca bayar. Dulu sering gantiganti nomer handphone garagara persaingan industri telekomunikasi di ranah prabayar. Tapi setelah saya kalkulasi, menggunakan pasca bayar itu jauh lebih hemat daripada prabayar. Memang sih, pernah langganan Halo selama setahun, tapi setelah saya coba untuk internet kartu itu benarbenar payah. Akhirnya malah melirik IM3 yang lumayan cepat, tapi hasilnya malah boros. Saat balik lagi ke rumah, dan gontaganti kartu berkalikali, di suatu pekan pas mau bayar rekening bulanan Matrix bertemulah dengan Indosat 3.5 G Broadband unlimited. Cukup seratus ribu perak bisa buat internet sepuasnya.

Ini koneksi memerlukan modem hsdpa. Bila beli eceran harganya masih di atas satu juta. Beruntung juga, handphone saya sudah support jenis koneksi ini, jadi tinggal beli kartunya, berlanggananan, lalu pasang deh. Mengenai handphone, Nokia E51 yang saya miliki adalah ponsel kelima saya dalam tiga tahun terakhir. Saat mahasiswa hingga wisuda, saya tidak memiliki ponsel sama sekali. Padahal adik saya sudah menentengnenteng Nokia tipe jadul. Dan ber-SMS ria dengan temantemannya. Terus terang saya tidak begitu memperhatikan ponsel waktu itu. Saat mulai kerja, baru terasa kegunaan ponsel yang sesungguhnya. Karenanya gaji pertama saya belikan handphone. Murah kok, hanya 500 ribu, providernya Fren dan mereknya ZTE. Sampai sekarang ponsel ini masih ada dan digunakan oleh ibu saya. Hanya dua bulanan saya gunakan ponsel ini, dan ketika saya bawa ke Makassar, konyol sekali, tidak ada jaringan Fren di sana! Karena itulah, saya membeli handphone kedua saya Motorola C130. Sudah berwarna, hitam legam agak gendut dan keypadnya keras sekali. Harganya sama seperti ZTE, tapi ini ponsel GSM jadi sudah tidak ada masalah lagi dengan pengoperasiannya. Kelak saat pulang kampung, ponsel ini saya kasih ke paman saya yang saat itu masih belum punya ponsel.

Ponsel ketiga adalah LG KG300, yang diiklankan oleh Agnes Monica. Sejarahnya, saat itu saya dikritik kawankawan kantor habishabisan, garagara handphone jadul saya tadi. Padahal kalau ada kerusakan yang berkenaan dengan pc kantor, saya dulu yang turun tangan. Bagaimana mungkin tukang otakatik cuma punya ponsel jadul apalagi yang susah untuk dihubungi garagara kualitas sinyalnya yang jelek. Jadilah saya membeli ponsel baru yang harganya tiga kali lipat dari ponsel lama. berarti ini adalah ponsel pertama saya yang harganya di atas sejuta. Setahun lebih saya gunakan ponsel ini dan seiring itu pula rasa penasaran saya terhadap ponsel meningkat. Sayang sekali, utilitas java di KG300 sangatlah jelek. Saya bahkan tidak bisa koneksi ke internet. Karena jengkel, akhirnya malah membeli handphone baru lagi Samsung SGH Z 370. Hasil tukar tambah handphone lama, si manis tipis ini 0,8 cm, saya tebus seharga 1,7 juta. Wow, inilah cikal bakal fase digital saya.

Saya kira Samsung saat itu jadi primadona. Terbukti, setelah saya beli ponsel itu temanteman yang lain turut berganti handphone Samsung juga. Fasilitas kamera 3G dimanfaatin kawankawan untuk memperkaya kecenderungan narsis, karena bisa dibuat untuk self portrait. Dan yang bikin teman saya iri juga adalah kemampuannya membuka sejumlah file Ms. Word, excel dan PDF. Makanya, saat ada ujian produk yang dilakukan setiap cycle, saya hampir tidak perlu membawa buku kemanamana, cukup ponsel ini saja. Karena semua materi telah saya masukkan dan melihatnya langsung dari layar ponsel. Miriplah dengan PDA dasar. Kekurangan utama Z 370 adalah baterai dan kemampuan Java yang juga terbatas. Makanya, setelah kehidupan digital saya hampir terintegrasi, mulailah melirik ponsel baru yang jauh lebih bagus. Pilihan jatuh kepada Nokia E51, king of connectivity. Samsung akhirnya dipake oleh adik saya yang senang sekali mendapat ponsel ultra tipis itu.

Dan begitulah, akhirnya ponsel terakhir ini saya eksploitasi besarbesaran. Dari sejak berangkat kerja selalu saya gunakan untuk online lewat handphone, saat perjalanan saya jadikan MP3 player, dan di rumah ia jadi modem. Hampir tanpa istirahat sama sekali, kecuali saat saya tidur. Kemampuan baterenya otomatis terkuras, jadinya saat saya jadikan modem ia selalu terhubung dengan charger, guna mencegah kehabisan daya.

***

Kembali ke awal. Setelah puas dengan blog, mulailah merambah ke Facebook yang membius, melakukan chatting dengan temanteman maya, copy darat dan patah hati :D. Setelah itu, tertarik ke Wordpress; buat blog di sana; bergontaganti skin; eksperimentasi widget; program dan html serta css; selalu penasaran dengan cara kerja tooltool tertentu yang ada di website orang; mendaftarkan ke Feedburner, google analytics, technocrati; Memasang intensedebate, disquss, digg dan css musik; ikut di Goodreads, Hi5, Flixter, Myspace, dan macamacam layanan free online yang kadang juga lupa password dan username-nya. Terakhir, saya buka akun di multiply. Benarbenar rasa penasaran yang tidak pernah terpuaskan.

Satu pertanyaan yang muncul. Apakah orang yang selalu terkoneksi dengan jaringan dan pusat informasi dunia itu jadi tahu akan segala hal? Ternyata tidak. Kita belum tentu menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Tapi ketidaktahuan kita itu tidaklah sama seperti ketidaktahuan di masamasa orde baru. Saat informasi merupakan barang mahal. Sekarang, kita tidak tahu karena kita tidak ingin tahu. Terlalu banyak pilihan, sedang kemampuan otak kita yang terbatas dalam mengingat sesuatu. Pada akhirnya, kita hanya menjadi korban persepsi kita sendiri. Karena kita hanya ingin melihat dan mendengar apa yang kita inginkan saja. Informasi berlimpah, tapi kenapa hanya ituitu juga yang kita lihat. Absurd bukan?!

Seorang bloger menulis, bukan hanya friend, but friendsss.. untuk mengatakan ia senang memiliki kawan banyak. Tapi kalau jumlahnya 600 orang teman di akun Facebook dan Friendster, layakkah itu disebut teman?! Jumlah, statistika, pada akhirnya hanya angka. Makanya benar juga yang dikatakan oleh Stalin. Kalau satu orang yang mati itu adalah tragedi, tapi kalau 200, 1000 orang yang mati, itu hanyalah angka. Dan angka tidak akan pernah menggetarkan hati orang, kecuali yang berkaitan dengan uang dan jumlah pendemo, yang dalam batasbatas tertentu masih bisa membuat kita senang dan ketakutan.

Kalau satu saja tidak cukup, mungkin cuma satu juga yang bisa membuat kita cukup. Apakah itu?



Powered by ScribeFire.

Dengerin Jazz

Di penghujung hari, selepas maghrib. Seperti biasa, cuci mata ke gedung sebelah, cari sesuatu buat ganjal perut dan menikmati sore hari yang santai di Soemantri Brojonegoro. Biasanya juga putarputar keliling sendirian, tapi kali ini malah jalan bertiga dengan kawankawan seprofesi. Nonton live show Ireng Maulana, kata mereka. Ireng, jazz? Dua nama yang tidak terpisahkan. Saya hanya mengetahui orang ini dari layar kaca saja, beratraksi dengan gitarnya melantunkan tembangtembang yang familiar tapi asing. Entah karena model penyuguhannya yang sophisticated sehingga rada pekak di telinga saya yang biasabiasa saja. Tapi jazz, itukan. 'Ayo, sini', ajak mereka. Menarik saya kembali duduk di bangku kedua tepat dihadapan sang maestro. Benarbenar tawaran yang gak mungkin untuk ditolak. Jadilah sore hari itu, untuk pertama kalinya menyaksikan Ireng berirama.

Friday Jazz with Ireng Maulana and Friends namanya. Sebuah live show performance yang diadakan pengelola gedung. Diadakan di dekat foodcourt, jadi pengunjung dapat menikmati makan sembari mendengar suara merdu biduwan biduwanita, dan sesekali membuka laptop mereka menikmati sajian wifi gratis. Lumayan juga sih kecepatannya, tapi karena saya browsing pake handphonde jadi tidak bisa berlamalama, cepat habis sih baterainya kalau dibuat koneksi. Dan kali ini, band tersebut tampil bersama dua orang vokalisnya. Yang lakilaki masih duapuluhan tahun, mirip Ireng. Anaknya mungkin. Dan satu lagi perempuan yang sangat atraktif masih muda juga, terlihat hamil, istrinya si vokalis barangkali.

Pembukaan dengan atraksi perkusi, apa ya istilahnya, maaf saya tidak menguasai istilah musik jadi susah untuk membahasakannya. Lumayan pikirku. Saya yang terbiasa mendengarkan musik klasik, dapat menikmati sajian tadi dengan enjoy. Benarbenar kolaborasi yang pas. Gitaris memainkan nadanadanya dengan improvisasi yang rumit, demikian juga pianis dan drummer. Meliukliuk di telinga dan penuh penghayatan. Great job, hadirin pun memberi applause atas irama pembuka tadi. Sekarang giliran duet vokalis melantunkan tembang ... apa ya judulnya, maaf nih, benarbenar payah deh pengetahuan saya akan lagu :). ta, ta, ta, melodius, lalu sedikit meningkat temponya, demikian juga suara kedua vokalis. Si perempuan berimprovisasi, suaranya melengking tinggi, tubuhnya bergerak heboh, sedangkan rekannya dengan ritmis mengimbangi lengkingan suaranya tadi. Di belakang, para musisi mengolah nadanada dengan teknik yang tinggi. Aduh, pusing sekali mendengarnya. Saya alihkan pandangan, memejamkan mata, dan hey! Kok berbeda.

Jazz, jazz, what does it means? Di Wikipedia, ditulis bahwa istilah tersebut pertama kali muncul dalam khazanah olahraga, tepatnya baseball, pada tahun 1912. Seorang pitcher, menamakan bola yang tertatihtatih dan diluar kontrol lemparan dengan sebutan jazz ball. Jazz diambil dari kata jasm, yang berarti energi, jiwa, dan semangat. Tapi jasm itu punya makna intrinsik yang negatif, maaf, sperm or cement, menjadikannya kata yang tabu untuk diucapkan. Dan kalau dilihat sepintas malah mirip dengan kata orgasm. Wow, apa memang begitu? Dan di saat saya pejamkan mata, baru terlihat beberapa kesatuan yang tidak ada saat mata ini melihat ke sekeliling. Lagunya mengalir utuh dan baik, tapi benarbenar butuh perjuangan. Makanya, tepat juga kalau ada orang yang bilang, paling enak dengerin jazz itu pas sudah lelah, saat indera kita dalam titik nadir untuk berargumentasi. Tidak ada resistensi, ia membawa kita menyelam melihat permainan yang begitu indah antara tarikan suara yang menyatu dengan petikan gitar dan gebukan drum serta orgen. Soul, blues, jazz, heart.

Dan di ujung sana, sepasang muda usia tengah menikmati irama ini. Dari roman wajah, sepertinya mereka orang Spanyol. Bisa juga Brazil, atau negaranegara Amerika latin lain. Toh, sama saja, kan kebanyakan mereka masih rumpun Iberia. Si pria rupanya baru saja keluar dari sebuah toko, mendapati sang wanita yang begitu terpesona menyaksikan penampilan Ireng and Friend. Ia tidak kuasa mengajak pasangannya berjalan kembali, karena setelah berputarputar sebentar, kedua orang ini malah kembali mendekati panggung. Saat nomor dari Bryan Adam ditampilkan, si wanita malah duduk dan benarbenar menghayati. Jadilah si pria juga ikut menyimak di sampingnya. Atau mudamudi yang tadi bergandengan tangan dan malah duduk di lantai hanya untuk menyaksikan performance ini, it's so magic. Sama seperti waktu yang hampir pukul 20.00, ia lewat begitu saja dan datang menghampiri tanpa diundang.

Saat break, kami kembali lagi ke MMC menunggu customer hingga pukul 21.00 dan pulang. Jalanan ramai, tapi lancar dan tidak macet. Lampulampu jalanan menyatu dengan kerlapkerlip gedung yang tinggi menjulang, menghadirkan hiburan yang menyegarkan untuk tubuh yang lelah. Jalanan dan cahaya, seandainya sepi dan senyap, enak sekali mendengarkan beberapa nomer jazz tadi. Tapi cukuplah album Return to Bedlam punya James Blunt yang menemani. Dan saat motorku merayap menanjak di atas flyover Kampung Melayu, ku dengar ia berteriak lirih.

You're beautiful. You're beautiful.
You're beautiful, it's true.
There must be an angel with a smile on her face,
When she thought up that I should be with you.
But it's time to face the truth,
I will never be with you.

Pasar & Logika: Apa itu Mentalitas Businessman?

Sebuah email mampir ke inbox saya. Isinya mengenai kabar gembira keberhasilan penjualan produk dari seorang rekan kerja. Semula ia sangat terpukul dengan pembatasan jatah produk yang masuk ASKES. Maklum saja, selama ini kontribusi produk ASKES termasuk besar dalam menopang pencapaian sales areanya. Dengan adanya kebijakan ini tentu saja terjadi penurunan demand yang signifikan. Alkisah, setelah melakukan check & recheck ke sejumlah outlet, jadilah ia menemukan fakta yang mengejutkan. Ternyata, penjualan produk ASKES-nya mengalami kebocoran.

Produk ASKES sendiri, sebenarnya merupakan produk reguler biasa yang telah diberi diskon yang lumayan tinggi dari pihak ASKES. Tujuannya agar obat yang bersangkutan dapat terbeli murah oleh peserta ASKES. Proses penjualannya pun khusus melalui apotekapotek tertentu. Biasanya, apotek tadi mengirimkan surat pemesanan sejumlah tertentu yang telah disetujui oleh distributor ke perusahaan farmasi. Dalam hal ini perusahaan farmasi mengonfirmasi pesanan tersebut dan jadilah proses transaksi. Atas dasar surat pemesanan tadi, perusahaan farmasi kemudian mengklaim diskon dari setiap proses transaksi tadi ke PT. ASKES. Besarannya bervariasi, tapi ratarata sebesar 60%. Besar sekali bukan. Nah, kebocoran barang biasanya terjadi di tingkat distribusi. Modus operandinya adalah menambahkan jumlah barang dari yang sebenarnya dipesan. Jadi bila jumlah barang yang dipesan 40 boks, tinggal menambahkan angka satu didepan jadilah, 140 boks. Hasilnya, barang yang keluar dari gudang 140, tapi yang diklaim ke PT. ASKES hanya 40 saja. Pintar kan, penjualan salesman meningkat dan demand terasa naik, tapi waktu diklaim ternyata sedikit sekali. Jadilah perusahaan farmasi yang merugi.

Rupanya, hal itulah yang terjadi di area rekan saya tersebut. Dan pihak Headquarter sepertinya telah mencium gelagat yang buruk di sana. Makanya, untuk beberapa bulan yang lalu, pemesanan produk ASKES mengalami penjatahan, agar tidak terjadi lagi kebocoran. Setelah melakukan check & recheck sekali lagi, memang setelah penjatahan, penjualan pun menurun. Akan tetapi, setelah itu berangsurangsur mulailah penjualan produk serupa yang tidak masuk ASKES, reguler, meningkat. Dari hanya satu dua boks, lama kelamaan menjadi limabelas boks. Betapa senangnya rekan saya tersebut. Dengan gembira, ia mengucapkan banyak terimakasih ke pihak manajemen karena justru dengan pembatasan tadi, penjualan produk regulernya meningkat pesat. Jelas sekali, bahwa selama ini dirinya telah dibohongi mentahmentah oleh oknumoknum tertentu. Surat elektronik tersebut ia kirim ke atasannya langsung, yang lalu mem-forward ke sales manajer. Di sini, surat pengakuan tadi diforward secara luas ke seluruh akun email perusahaan se-Indonesia, tak terkecuali akun email saya.

Dan seperti biasanya, satu email terkirim, langsung berbalas dengan emailemail susulan yang lain. Bahkan ada balasan dari Manajer produk untuk mentraktir makan kawan saya itu atas keberhasilan dan kemauannya untuk menulis keberhasilannya tadi melalui media email. Semua berjalan sebagaimana mestinya, sampai saya mendapati email susulan dari bos saya. Seperti biasa, isinya tasyji'. Tapi ada satu hal yang menarik, beliau menggunakan kata analisa, seharusnya analisis, dan menulis. Dengan tidak sengaja, muncul gagasan di benak saya, mengenai hubungan antara analisis dengan sikap positif. Ini tentunya tak terlepas dari tanggapan Sonny yang mengatakan bahwa gagasangagasan saya itu pesimis, sehingga menurutnya saya lebih cocok menjadi intelektual daripada businessman yang selalu bersikap positif. Dengan begitu, ia telah menandai perbedaan dua macam mentalitas: mentalitas ilmuwan yang pesimis dan mentalitas businessman yang positivis (harap bedakan dengan positivisme). So, apa masalahnya?!

Kata analisis diambil dari kata inggris, analysis. Kata analysis sendiri ternyata bukan berasal dari kata Inggris asli, ia juga penyerapan dari kata Yunani, analyein, gabungan kata ana (kembali atau berulang) + lyein (memecah, dalam bahasa Inggris malah diartikan to loosen, bisa berarti melonggarkan, membebaskan dari aturan). Dalam literatur medis, akhiran lysis bermakna pemecahan atau penguraian, seperti lipolysis yang berarti penguraian lemak menjadi glukagon. Penguraian menandai sebuah pembagian antara fungsifungsi tertentu yang hendak diurai. Ia menandai sebuah fase reduksi atau pengurangan antara unsurunsur yang diperlukan dan yang tidak diperlukan. Dalam satu hal ia menandai sebuah periode dokonstruksi filosofis, karena melepaskan unsurunsur pembangun untuk mengetahui esensi dari suatu. Lawan dari analisis adalah sintesis, yang merupakan penyatuan unsurunsur inti yang telah ditemukan dari proses analisis untuk kemudian disatukan menjadi ideide baru. Dalam proses berfikir, analisis mewakili sebuah periode pesimis, sedangkan sintesis masuk kedalam periode positif. Dalam kalam, teologi, analisis adalah kata 'la ilah' dan sintesisnya adalah kata 'illa Allah'.

Menarik sekali, pernyataan bos saya yang menghubungkan proses analisis dengan porsi kerja yang positif. Dan bila dibandingkan penandaan mentalitas businessman yang positif, berarti terdapat fase pesimis dalam pola pikir yang seharusnya positif. Bila demikian, bisakah seorang yang positif bersikap pesimis? Atau, bisakah businessman itu bersikap pesimis? Masih kurang jelas? Bisakah pemikiran pesimis itu menjadi bagian dari pemikiran positif? Well, saya sangat berhatihati di sini agar tidak terjadi kesalahan persepsi.

Begini, Pemikiran businessman memang seharusnya bersifat positif, karena dengan begitu ia akan memandang segala sesuatu sebagai prospek. Hal ini penting, karena dengan begitu ia akan menemukan peluangpeluang yang tidak mungkin dilihat oleh orang yang tidak melihatnya dalam kerangka prospektif. Satu kisah yang sering dituturkan mengenai dua orang penjual sepatu yang tiba di Papua sana. Penjual sepatu yang berpikir negatif, akan berpendapat bahwa pasar di Papua tidak prospek karena orangorang di sana tidak ada yang memakai sepatu. Adapun penjual yang positif akan berpendapat bahwa pasar di Papua adalah prospektif karena belum ada seorang pun yang memakai sepatu. Perhatikan dua frase yang saya garisbawahi tadi. Keduanya mengisyaratkan peluang yang tertutup dan peluang yang terbuka. Katakan ini baru pemikiran dasar belaka. Setelah dianalisis, didapati fakta bahwa penyebab orang papua tidak memakai sepatu adalah karena faktor budaya, kultur, sosial dan finansial. Kemudian fakta tadi dianalisis dengan matriks yang menuju kepada kesimpulan bahwa kemungkinan menjual sepatu di Papua adalah 0,5%.

Coba lihat kedua proses berpikir tadi. Fase pemikiran dasar tanpa disertai analisis ilmiah, dan fase pemikiran lanjutan yang telah melibatkan perangkat ilmiah. Saya menamakannya dengan fakta dasar dan fakta ilmiah. Pertanyaan saya, bagaimana seharusnya seorang businessman berpikir. Apakah ia hanya memperhatikan fakta dasar saja tanpa memperhitungkan fakta lanjutan, ataukah sebaliknya? Atau ia akan membuat sebuah sintesis dengan melakukan penetrasi yang berkesinambungan. Karena hanya 0,5% kemungkinan yang ada, maka tenaga yang ia curahkan ke pasar tadi tidak lebih dari 5% saja. Kirakira, keputusan mana yang menunjukkan bahwa orang tersebut termasuk kedalam tipe businessman sejati? Mungkin anda mau membantu saya mendefinisikan mentalitas businessman ini?

Reminisance

Lagi kena demam nih. Setelah terkena series of unfortunate event kemarin, rasanya betah sekali tinggal di atas kasur. Bagaimana tidak, baru satukilometer keluar rumah langsung diguyur hujan yang ampuun deras sekali, sampai basah kuyup. Padahal saat berangkat sudah diwantiwanti sama ibu untuk menggunakan setelah jas hujan lengkap. Tapi dasar bandel, saya hanya memakai bagian atasnya saja, jadilah pagi menjelang siang hari itu celana kerja basah semua. Untung juga dapat tempat berteduh, meski harus meringkuk menggigil karena siraman air yang begitu lebat disertai angin kencang. Tiga puluh menit lebih, dan air sudah meninggi semata kaki. Saat reda, kini giliran apes berikutnya datang. Plung, kunci motor jatuh ke kubangan air. Panik juga saya rupanya. dan dengan bertelanjang kaki mulailah mencaricari area sekitar motor parkir. Tidak ketemu! Cari sekali lagi dan gagal. Saat sudah pasrah dan hendak pulang mengambil kunci cadangan, untung saja diberitahu sama seseorang agar mencari disekitar sisi kiri badan motor, dan ketemu. Huh..

Kenapa juga saya bilang untung, dan sudah berterimakasih berkalikali kepada bapakbapak tadi karena menunjukkan letak kunci motor saya. Untung, karena masih ada yang berbaik hati menolong. Kalau tidak punya niatan baik, bagaimana mungkin mau memberi tahu. Paling saat saya pulang ke rumah, diamdiam ia ambil kunci tadi dan menggondol motor saya tanpa ada yang mengetahui. Bisa saja bukan. Sudah banyak kejadian seperti itu, dan meskipun motor saya ini dilindungi asuransi, tetap saja urusan kehilangan di Jakarta adalah persoalan yang rumit. Jadi ingat motor teman saya yang hilang hampir setahun yang lalu. Lebih dari enam bulan ia mengurus semuanya, mulai dari surat kehilangan di Polda sampai urusan berkasberkas ke dailer, sangat berbelitbelit. Untungnya juga ia mendapatkan motor pengganti yang baru dari kantor. He.. untung juga ketemu dan akhirnya bisa berangkat kerja dengan tenang.

Tapi jalan setelah hujan lebat macam ini sungguh becek sekali. Genangan air di manamana, bahkan di daerah Pondok Kopi dekat proyek Banjir Kanal Timur, ruas jalannya banjir hampir tigaratus meter lebih. Jadilah sepatu saya basah. Bukan apaapa, tapi yang ada di dalamnya yang masalah. Kebayangkan rasanya memakai sepatu dengan kaos kaki basah! Karena dingin, saya lepas saja kaos kaki tadi dan kembali memakai sepatu. Untungnya juga, sepatu saya ini semi boot jadi dari luar tidak terlihat kalau saya tidak menggunakan kaos kaki. Tapi ya itu, sedikit lecetlecet karena harus berjalanjalan jauh dari parkir ke tempat praktek dokter di lantai dua gedung Bidakara. Ah, lengkap semua. Hari kamis adalah kunjungan ke berbagai institusi, mulai Bulog, Bidakara, Granadi, hingga Unilever dan Kartika Plaza. Tempatnya lumayan berjauhan, naik turun gedung dan parkir di basement. Pas sekali, semua dokter yang saya kunjungi lengkap. Jadilah tidak perlu pulang begitu malam.

Kembali ke rumah masih segar sedikit dengan harapan bisa langsung tidur dan santai. Tapi begitu rasa penasaran saya muncul, bisa dipastikan saya malah lupa istirahat. Apalagi kalau bukan mengenai masalah sistem komentar di blog ini. Membongkar kodekode html yang ga jelas itu, rombak sana, rombak sini, hingga baru mulai tidur pukul 00.00 dinihari. Itupun sudah sangat saya paksakan. Bangun kembali 5.15. Usai shalat shubuh, malah berkeliling kompleks rumah 1,5 kali sekitar 40 menit. Ternyata, tubuh saya memberontak. Pulang 'joging' malah mualmual. Rupanya sudah dalam peak condition untuk sakit. Akhirnya ya terbaring di kasur deh. Istirahat, cuma itu yang dibutuhkan. Dan setelah dapat izin jadilah istirahat hari ini. Untung ya? Lalu mana yang unfortunate-nya? Ternyata, saya punya janji untuk datang ke Medistra hari ini. Wah, gagal deh untuk detailing perdana saya di sana. Semua garagara curiousity yang berlebihan itu.

Ditengah suasana demam, ternyata dapat undangan dari kawan lama untuk bergabung di group Blue Generation di Facebook. Nih grup almamater Gontor kelas 1999 awal. Isinya baru empat orang yang kebetulan melek internet. Dan yang menarik perhatian saya adalah foto angkatan kami yang lumayan banyak itu. Coba lihat:





Maaf ya kekecilan. Isinya lakilaki semua, jadi benarbenar teman akrab. Jumlah, sekitar 350 s/d 500-an. Tersebar di seluruh penjuru tanah air. Bahkan menyebar hingga mancanegara, mulai Mesir, Inggris, Pakistan, hingga Jepang. Sayang sekali saya kehilangan foto ini. Jadi, pas melihatnya kembali, malah ingin sekali mengadakan reuni nasional versi blue generation. Tapi ah, kenapa harus buruburu. Bukankah baru sembilan tahun berpisah. Sembilan tahun, meski bukan waktu yang sebentar, tapi belum apaapa. Belum ada yang bisa saya banggakan, jadi buat apa harus reuni besarbesaran. Nantilah 6 tahun lagi, kupikir itu waktu yang pas.

Hmm... waktu sakit adalah waktu untuk menyendiri dan merenungi segala suatu. Mengingatingat yang lampau dan menimbangnimbang apa yang bakal terjadi esok. Ia waktu tepat untuk reminisance, mengingatingat kembali segala suatu. Termasuk mengingatingat dosa :) Oh, God pleas pardon me for my mistakes and sins. Give me cures and make me health again.

Allahumma isyfi anta syaf'i la syifa'a illa syifa'uka syifa'an la yugadhiru saqaman wa la alaman. Amin.


Bagaimana dengan Disqus!

Beberapa jam yang lalu, saya coba menginstal intensedebate di blog ini. Berbagai petunjuk telah saya coba, termasuk resiko bahwa intensedebate tidak kompatibel dengan versi blogger saya. Ternyata, ia benarbenar tidak kompatibel. Opsi New Post Have Comment sudah berkalikali saya aktifkan dan tidak aktifkan, tetap tidak ada pengaruh sama sekali terhadap tampilan comment di blog ini. Bahkan, setelah saya perhatikan tidak ada opsi comment! Benarbenar merepotkan.

Kalau sudah bingung seperti ini biasanya take back dahulu, lalu minta bantuan oom Google. Ternyata, saat saya klik kotak pencaharian di pojok kanan atas Firefox ada sebuah kejutan. Saya ketik "intensedebate", dan keluarlah sejumlah pilihan: Intensedebate api, plugin, drupal, disqus, joomla. Dari seluruhnya, mata saya tertuju kepada disqus. Makhluk macam apa ini pikirku. Maka saya klik, pilihan tersebut dan muncullah sejumlah pilihan. Astaga, ternyata di luar sana tengah ada perebutan mahkota antara intensedebate dengan disqus. Pikirku, kenapa tidak mencoba.

Jadilah saya mendaftar terlebih dahulu di situs ini, disqus. Dan seperti biasa, free of charge. Usai membuat profil dan bla bla bla, mulailah proses yang serupa dengan intensedebate. Kita diminta mengupload kode html blog kita, kemudian mereka merevisi kode tadi untuk kemudian dipasangkan lagi ke blog. klop, tidak ada yang salah, hanya kali ini kotak expand widget harus dicentang. Dan dengan peraturan yang serupa, kita harus memilih opsi New Post Have No Comment. Persis kan? Sekarang, bagaimana ya tampilannya? Setelah disimpan, dan mengklik visit blog now, jadilah.... tapi, mana tampilan disqus-nya ya? Oh ternyata saya lupa satu hal. Memasang widget di blog ini, dan kembali saya cari di bagian setting di disqus, ketemu! Kode html itulah yang saya tambahkan di add a gadget pada bagian kiri blog ini.

So, masih mau debat atau diskusi? Pilih salah satu, tapi saya mah pilih diskusi aja ya, lebih santai kan. Gak pake ngotot!
:)

Intensedebate

Cukup lama saya perhatikan sistem komentar di Wordpress yang ergonomis dan bagus itu. Setelah googling ke berbagai situs, akhirnya bersualah dengan intensedebate. Mereka memiliki aplikasi yang unik dan brilian mengenai sistem komentar yang bisa diaplikasikan ke berbagai layanan penyedia blog. Dan sayapun tertarik untuk menggunakannya.

Instalasinya juga mudah. Tinggal mendaftar, ikuti petunjuk dan mulailah kita install di blog masingmasing. Semuanya otomatis. Kita hanya menyimpan kodekode html blog kita yang lalu kita upload kembali ke situs intensedebate dan woila.. jadilah sistem komentar baru yang bisa kamu lihat di blog saya ini.

Yang perlu diperhatikan adalah, ternyata intensedebate tidak kompatibel dengan blogspot klasik. Kebetulan juga sistem blogspot saya masih menggunakan yang klasik, sehingga beberapa komentar lama tidak dapat saya ekspor :( , untuk itulah saya buat dua macam recent comment, yang lama dan yang baru sehingga dapat memudahkan untuk melihat komentar yang lama itu. Saya juga berharap masalah kompatibilitas bisa teratasi dengan baik.

Lalu apa sih keuntungan menggunakan intensedebate? Yang pastik, tanggapan untuk satu komentar ke komentar yang lain dapat lebih efektif dan tidak perlu menggunakan tanda @ lagi dan kita dapat berdebat lebih seru.

So, let's debate intensely!

Keep Your Hand Clean or Get Dirty! (2)

Adakalanya relasi antara perusahaan farmasi dengan dokter tidak menjadi isu utama. Ini terjadi pada produkproduk OTC (on the counter) yang peredarannya tanpa perantara dokter. Obatobat berlabel hijau dan vitamin masuk dalam kategori ini. Nilai bisnisnya sangat besar, bahkan dapat menjadi produk backbone sebuah perusahaan farmasi. Dalam kasus ini, relasi yang muncul adalah antara perusahaan farmasi dengan pasar. Saya menyebutnya pasar, karena dalam wilayah ini logika kapitalislah yang bermain. Apotek, toko obat, bagian penjualan rumah sakit, di sinilah nilai uang yang diinvestasikan kepada dokter benarbenar berbicara. Pasar adalah sebuah arena bermain yang rumit dan kompleks.

Dalam memasarkan produkproduknya, perusahaan farmasi tidak dapat langsung menjual kepada konsumen. Terlebih dahulu ia bekerja sama dengan sejumlah PBF (Pedagang Besar Farmasi) resmi yang memiliki wewenang untuk memasarkan obat. Fungsinya mirip broker saham. Sebuah perusahaan farmasi dapat memiliki satu atau lebih PBF yang masingmasing PBF tadi memiliki tenaga pemasar yang menjalin relasi ke outletoutlet. Ia bisa membawa produk satu perusahaan saja, tapi kebanyakan mereka juga menjajakan produk dari berbagai perusahaan farmasi. Jadi seorang salesman PBF akan berkeliling setiap hari menanyakan stok obatobatan dan melakukan transaksi di sejumlah outlet. Adakalanya jumlah barang yang ditawarkan begitu banyak sehingga mereka sering lupa menanyakan stok suatu item kepada outlet. Akibat terpeleset ini, kadangkadang stok obat terlupakan dan malah macet tidak terjual. Untuk itu, beberapa perusahaan sering mewajibkan representatif-nya untuk turun langsung ke outlet agar ide sebuah item tertanam jelas di benak mereka. Ingat, bahwa dalam dunia ini, konsep adalah fokus yang sangat penting. Ide produk yang tertanam jelas di benak konsumen sangat menentukan kelancaran penjualan produk tadi.

Terkadang, "jalan pintas" tersebut sering menjadi batu sandungan tersendiri. Untuk itemitem tertentu yang lancar, sebenarnya wajar saja bila sebuah outlet meminta potongan harga untuk meningkatkan marjin penjualan mereka. PBF sebagai penjual resmi juga memberikan diskon khusus pada mereka tapi tentunya jumlahnya sangat kecil. Guna meningkatkan penjualan produk, dalam waktuwaktu tertentu diadakanlah discount campaign. Tapi dasar manusia, tidak ada pernah kata cukup untuk sesuatu yang namanya potongan harga. Di titik inilah, kedekatan antara seorang Medical Representatif dan jaringan outlet diuji. Di satu sisi Medrep dituntut untuk mencapai target penjualan, di sisi lain, outlet berkepentingan untuk mendapatkan laba yang besar. Maka munculah tambahan discount baik resmi atau tidak resmi kepada outlet. Besarannya bervariasi, tapi mereka menggunakan jumlah persen sebagai patokan bukan nilai barang. Bisa dibayangkan, jumlah discount "liar" 5% dari sebuah item yang katakan seharga 500 ribu rupiah perboks. Andaikan pula, bila si rep tadi kurang 15 boks untuk mencapai target, setidaknya jumlah rupiah yang dikeluarkan mencapai 375ribu.

Kecil? Tapi coba skenario ini. Bagaimana jika ada pihak lain yang menawarkan discount yang jauh lebih tinggi, katakan 10%, dan sang rep benarbenar terpepet. Apa mau outlet membiarkan yang 10 itu dan mengambil yang 5. Tidak mungkin kan. Tentunya Medical Representative ini akan berpikir ulang untuk menaikan tawaran discount-nya. Pilihan yang muncul dalam benaknya, bila saya tantang dengan 11% dan order dibuka, sales masuk dan saya dapat insentif sebesar 2 juta rupiah. Setelah dipotong untuk bayar discount tambahan setidaknya masih dapat 1,175 ribu rupiah. Masih untung bukan. Tapi seandainya tidak saya berikan potongan tadi, sales saya tidak masuk dan 2 juta rupiah hilang. Pilih yang mana, membiarkan sisa kue dimakan orang lain atau kita sendiri yang ambil meski tidak penuh? Tentunya saya tahu apa yang bakal anda pilih bukan. Tapi tunggu dulu, ada pemikiran lain. Kenapa juga tidak kita ambil tantangan ini, tapi 2 juta tetap utuh di tangan. Bagaimana, is it possible? Dalam dunia marketing jawabannya satu: Nothing impossible!

Ada memang beberapa kebijakan dimana perusahaan memberikan discount yang tinggi kepada sebuah institusi, katakan hingga 14%. Apabila si rep tadi memiliki hubungan yang bagus dengan institusi tersebut, ia akan melobi bagian penjualan untuk menjadikan outletnya jalan 'lewat barang' yang 15 boks itu. Okelah, bagian pembelian ini mendapat bagian 2%, atau 150 ribu. Bisa juga si rep ini begitu murah hati dan memberikan sisa 3% seluruhnya, yang bernilai 225 ribu. Kecil? Coba dikalikan dengan jumlah rep yang menjadikan institusinya sebagai tempat 'lewat barang'. Bisa satu hingga dua juta rupiah bukan? Dan itu merupakan penerimaan di luar gaji dan lainlain yang terhitung pajak, bisa dibayangkan pendapatan yang ada itu seperti apa. Kembali kepada rep kita tadi, tentunya tantangan outlet tersebut dia ambil dan ia tidak jadi kehilangan sepeser pun bagian uang insentifnya. Ia senang, perusahaan senang dan outlet pun senang. Dan begitulah inti permainan ini, bagaimana membuat semuanya senang. We're child of hedonism.

Sekarang muncul fakta di lapangan, bahwa terdapat sebuah potongan sebesar 10% untuk pengambilan sebuah produk dalam jumlah tertentu. Lama kelamaan, fakta ini meng'institusi' dan menjadi pegangan baku dikalangan outlet untuk persyaratan pengambilan produk secara besarbesaran. Satu outlet dengan outlet lainnya, memang mereka saling bersaing satu sama lain. Tapi sebagaimana DNA purba kita yang mengajarkan untuk bersekutu, maka munculah sebuah jaringan outlet, yang penyebarannya hingga antar kota antar provinsi. Mirip bus ya :D. Jadi bila salah satu outlet di sebuah kota nun jauh di sana membutuhkan discount 10%, ia tinggal kontak kawannya yang lalu menghubungi si rep tadi untuk mengontak bagian pembelian sebuah institusi. Dari 14%, terpotong menjadi 12% lalu 10%. Masih punya modal potongan yang jauh lebih besar seandainya rep di sebuah kota nun jauh di sana tadi menawarkan discount yang hanya 5% itu. Bayangkan nasib 2 juta rupiah yang terbang hilang, atau kemungkinan insentif tidak penuh yang bisa ia terima. Rumit bukan?

Dan sebagaimana fakta discount yang menginstitusi tersebut, si rep pertama tadi juga melembaga. Ia berubah fungsi dari seorang perwakilan yang bertugas mempromosikan suatu barang menjadi bagian dari rantai distribusi sendiri. Semakin banyak jaringan yang ia buka semakin besar pula ia menikmati hasilnya. Lama kelamaan bisnisnya begitu berkembang sehingga jauh lebih besar dari penghasilan rataratanya sebagai seorang rep. Ia pun bisa mendapatkan sumber discount dari berbagai tempat. Ketika satu ditutup, ia bisa mendapatkannya dari sumber yang lain, begitu seterusnya bahkan bila ia memiliki relasi yang baik, bahkan dapat menyelundupkan obat dari luar negeri dengan harga yang sangat miring tentunya. Dari sinilah fenomena mafia tercipta.

Mungkin ada yang bertanya, apa ini berkorelasi dengan tingginya harga obat? Well, anda mungkin tidak percaya, kalau outletoutlet mafia ini justru menjual obat dengan harga HNA sebelum PPn 10%, dimana kebanyakan outlet malah menjual dengan tambahan 10% tersebut plus marjin keuntungan yang hendak diterima di bawah HET (Harga Eceran Tertinggi). Hasilnya, yang memiliki modal besar dan kuatlah yang bakal menang. Sebuah pasar bebas, sebuah arena, dan sebuah homo homini lupus!