Satu saja tidak cukup!

Awal keterlibatan saya di internet garagara ingin mengetahui seseorang saja. Pertama, bergabung melalui situs social network Friendster. Bisa dibilang ini adalah akun pertama yang selalu saya ingat dan kunjungi. Sebelumnya, ada beberapa situs yang rutin dikunjungi tapi tidak pernah seserius Fs ini. Setelah beberapa kali browsing dan tidak mendapatkan kepuasan, maka mulailah menjelajah keberbagai tempat. Pilihan pertama googling namanama kawan lama yang telah malangmelintang di jagad maya. Beberapa ada, kebanyakan kosong. Satu persatu saya hubungkan ke akun fs dan mulai berkomunikasi. Dari mereka semua, mulailah saya mengenal dunia blog. Masih jelas diingatan, posting pertama saya mengenai kehampaan intelektualitas di dunia kerja. Beberapa kali saya berusaha memahami cara kerja blogger yang menggunakan format html. Uji sana sini, tetap tanpa hasil yang memuaskan. Terlebih, kala itu saya masih berinternet ria di warnet, jadi belum begitu mendalami secara total.

Perubahan pertama dalam gaya hidup adalah memasang koneksi internet di rumah. Beberapa saya jajagi, macam speedy dan IM2, masih juga belum pas di anggaran keuangan bulanan. Bagi saya, koneksi internet tidak boleh lebih dari 150 ribu per bulan. Diatas itu bakal besar pasak daripada tiang. Karena jelas, saya juga masih membutuhkan fasilitas pulsa untuk menelpon yang anggarannya saya batasi juga hingga 150 ribu perbulan. Bila ditotal kedua komponen tadi ada 330 ribu setelah PPN 10%. Untuk mengontrol pemakaian, kartu seluler yang digunakan adalah pasca bayar. Dulu sering gantiganti nomer handphone garagara persaingan industri telekomunikasi di ranah prabayar. Tapi setelah saya kalkulasi, menggunakan pasca bayar itu jauh lebih hemat daripada prabayar. Memang sih, pernah langganan Halo selama setahun, tapi setelah saya coba untuk internet kartu itu benarbenar payah. Akhirnya malah melirik IM3 yang lumayan cepat, tapi hasilnya malah boros. Saat balik lagi ke rumah, dan gontaganti kartu berkalikali, di suatu pekan pas mau bayar rekening bulanan Matrix bertemulah dengan Indosat 3.5 G Broadband unlimited. Cukup seratus ribu perak bisa buat internet sepuasnya.

Ini koneksi memerlukan modem hsdpa. Bila beli eceran harganya masih di atas satu juta. Beruntung juga, handphone saya sudah support jenis koneksi ini, jadi tinggal beli kartunya, berlanggananan, lalu pasang deh. Mengenai handphone, Nokia E51 yang saya miliki adalah ponsel kelima saya dalam tiga tahun terakhir. Saat mahasiswa hingga wisuda, saya tidak memiliki ponsel sama sekali. Padahal adik saya sudah menentengnenteng Nokia tipe jadul. Dan ber-SMS ria dengan temantemannya. Terus terang saya tidak begitu memperhatikan ponsel waktu itu. Saat mulai kerja, baru terasa kegunaan ponsel yang sesungguhnya. Karenanya gaji pertama saya belikan handphone. Murah kok, hanya 500 ribu, providernya Fren dan mereknya ZTE. Sampai sekarang ponsel ini masih ada dan digunakan oleh ibu saya. Hanya dua bulanan saya gunakan ponsel ini, dan ketika saya bawa ke Makassar, konyol sekali, tidak ada jaringan Fren di sana! Karena itulah, saya membeli handphone kedua saya Motorola C130. Sudah berwarna, hitam legam agak gendut dan keypadnya keras sekali. Harganya sama seperti ZTE, tapi ini ponsel GSM jadi sudah tidak ada masalah lagi dengan pengoperasiannya. Kelak saat pulang kampung, ponsel ini saya kasih ke paman saya yang saat itu masih belum punya ponsel.

Ponsel ketiga adalah LG KG300, yang diiklankan oleh Agnes Monica. Sejarahnya, saat itu saya dikritik kawankawan kantor habishabisan, garagara handphone jadul saya tadi. Padahal kalau ada kerusakan yang berkenaan dengan pc kantor, saya dulu yang turun tangan. Bagaimana mungkin tukang otakatik cuma punya ponsel jadul apalagi yang susah untuk dihubungi garagara kualitas sinyalnya yang jelek. Jadilah saya membeli ponsel baru yang harganya tiga kali lipat dari ponsel lama. berarti ini adalah ponsel pertama saya yang harganya di atas sejuta. Setahun lebih saya gunakan ponsel ini dan seiring itu pula rasa penasaran saya terhadap ponsel meningkat. Sayang sekali, utilitas java di KG300 sangatlah jelek. Saya bahkan tidak bisa koneksi ke internet. Karena jengkel, akhirnya malah membeli handphone baru lagi Samsung SGH Z 370. Hasil tukar tambah handphone lama, si manis tipis ini 0,8 cm, saya tebus seharga 1,7 juta. Wow, inilah cikal bakal fase digital saya.

Saya kira Samsung saat itu jadi primadona. Terbukti, setelah saya beli ponsel itu temanteman yang lain turut berganti handphone Samsung juga. Fasilitas kamera 3G dimanfaatin kawankawan untuk memperkaya kecenderungan narsis, karena bisa dibuat untuk self portrait. Dan yang bikin teman saya iri juga adalah kemampuannya membuka sejumlah file Ms. Word, excel dan PDF. Makanya, saat ada ujian produk yang dilakukan setiap cycle, saya hampir tidak perlu membawa buku kemanamana, cukup ponsel ini saja. Karena semua materi telah saya masukkan dan melihatnya langsung dari layar ponsel. Miriplah dengan PDA dasar. Kekurangan utama Z 370 adalah baterai dan kemampuan Java yang juga terbatas. Makanya, setelah kehidupan digital saya hampir terintegrasi, mulailah melirik ponsel baru yang jauh lebih bagus. Pilihan jatuh kepada Nokia E51, king of connectivity. Samsung akhirnya dipake oleh adik saya yang senang sekali mendapat ponsel ultra tipis itu.

Dan begitulah, akhirnya ponsel terakhir ini saya eksploitasi besarbesaran. Dari sejak berangkat kerja selalu saya gunakan untuk online lewat handphone, saat perjalanan saya jadikan MP3 player, dan di rumah ia jadi modem. Hampir tanpa istirahat sama sekali, kecuali saat saya tidur. Kemampuan baterenya otomatis terkuras, jadinya saat saya jadikan modem ia selalu terhubung dengan charger, guna mencegah kehabisan daya.

***

Kembali ke awal. Setelah puas dengan blog, mulailah merambah ke Facebook yang membius, melakukan chatting dengan temanteman maya, copy darat dan patah hati :D. Setelah itu, tertarik ke Wordpress; buat blog di sana; bergontaganti skin; eksperimentasi widget; program dan html serta css; selalu penasaran dengan cara kerja tooltool tertentu yang ada di website orang; mendaftarkan ke Feedburner, google analytics, technocrati; Memasang intensedebate, disquss, digg dan css musik; ikut di Goodreads, Hi5, Flixter, Myspace, dan macamacam layanan free online yang kadang juga lupa password dan username-nya. Terakhir, saya buka akun di multiply. Benarbenar rasa penasaran yang tidak pernah terpuaskan.

Satu pertanyaan yang muncul. Apakah orang yang selalu terkoneksi dengan jaringan dan pusat informasi dunia itu jadi tahu akan segala hal? Ternyata tidak. Kita belum tentu menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Tapi ketidaktahuan kita itu tidaklah sama seperti ketidaktahuan di masamasa orde baru. Saat informasi merupakan barang mahal. Sekarang, kita tidak tahu karena kita tidak ingin tahu. Terlalu banyak pilihan, sedang kemampuan otak kita yang terbatas dalam mengingat sesuatu. Pada akhirnya, kita hanya menjadi korban persepsi kita sendiri. Karena kita hanya ingin melihat dan mendengar apa yang kita inginkan saja. Informasi berlimpah, tapi kenapa hanya ituitu juga yang kita lihat. Absurd bukan?!

Seorang bloger menulis, bukan hanya friend, but friendsss.. untuk mengatakan ia senang memiliki kawan banyak. Tapi kalau jumlahnya 600 orang teman di akun Facebook dan Friendster, layakkah itu disebut teman?! Jumlah, statistika, pada akhirnya hanya angka. Makanya benar juga yang dikatakan oleh Stalin. Kalau satu orang yang mati itu adalah tragedi, tapi kalau 200, 1000 orang yang mati, itu hanyalah angka. Dan angka tidak akan pernah menggetarkan hati orang, kecuali yang berkaitan dengan uang dan jumlah pendemo, yang dalam batasbatas tertentu masih bisa membuat kita senang dan ketakutan.

Kalau satu saja tidak cukup, mungkin cuma satu juga yang bisa membuat kita cukup. Apakah itu?



Powered by ScribeFire.

5 komentar:

  1. Sampe sekarang gw masih pake Samsung SGH Z-370. :P

    BalasHapus
  2. jadi ingat yang dibilang oleh my beloved mr charming ketika ngajar di semester kemaren..sumber kepuasan adalah uang, dan sumber ketidakpuasan adalah uang tiu sendiri.

    diriku baru berencana mo beli flash hsdpa.tp duitnya g kuat..he he

    BalasHapus
  3. wah kalo hp pertamaku sich nokia... wah aku lupa tipenya, seukuran remot tv kaya'nya, trus ganti ke nokia 110 ampe bertahun-tahun masih aja aku pake. abis bandel banget sich.

    cuman, sekitar 6 bulan yang lalu aku baru ganti nokia 6120C,
    yaa mengingat kebutuhan, harus conect ama dunia maya.

    salam buat semua.
    eh rekan-rekan boleh koq berkunjung di duniaku
    di www.manusiajawa.co.cc

    thanks

    BalasHapus
  4. dan masih tetep pake indosat 3.5G unlimited tuh?
    gw jg pake tapi hanya lancar tengah malem sampe pagi. just like any other 3G service:)

    BalasHapus
  5. Untuk Alia, sebenarnya Indosat 3,5G Unlimited itu termasuk solusi hemat dan praktis lho. Karena selain digunakan sebagai kartu internet, saya juga menggunakannya untuk menelpon. Mengenai kualitas jaringan, kasusnya sama seperti provider 3,5g lain. Bahkan kalau saya bandingkan dengan fasilitas berlangganan yang diatas 200 ribu, macam flash, pengalaman saya, kartu ini lumayan handal. Memang ada waktuwaktu tertentu saat sinyal benarbenar blank. Setelah itu, bisa deh lari kencang.

    Masih kurang? Saran saya, coba gunakan layanan DNS gratis. Setelah saya rubah nilai DNS server dengan yang gratis, jadi lebih oke. Efeknya, kalau klick kanan di ikon modem, ga bakal ditemukan opsi change windows firewall setting. Gak masalah sih, selama sudah terpasang firewall yang bagus.

    Buat Kampung Jawa, Selamat datang. terimakasih atas kunjungannya. Untuk Hesty, kalau ada yang murah, buat apa pakai yang mahal. Perbedaan antara murah dan mahal kadang tidak bisa dilihat dari kejadian tersendiri saja. Ponsel E51 memang berharga di atas 2,5 juta. Tapi bila dilihat dari fungsionalitasnya yang seabreg, ditambah penggunaan layanan yang tepat, hasilnya malah jauh lebih hemat dibanding menggunakan modem flash yang reguler.

    Untuk Mona, pasti masalah baterai kan? Cuma, secara keseluruhan Z 370 bagus kok. Mengenai ketahanan terhadap cuaca, ia bahkan lebih baik dari E51, karena hampir tidak ada celah sama sekali buat air untuk masuk. Tapi menenteng telpon setipis itu, rasanya kok malah tergoda untuk mematahkannya ya. Jadi mirip silver queen. :D

    BalasHapus