Membaca Surat Al-Jum'ah

Kata al-jum'ah yang menjadi judul dari surat ke-62 dalam al-Quran, merujuk secara literal kepada hari Jumat. Hari ini dalam tradisi Islam dikenal sebagai salah satu hari peribadatan, sebagaimana hari Sabtu bagi umat Yahudi, dan Ahad bagi umat Kristen. Sebagai hari peribadatan, yang ditandai dengan dijalankannya shalat Jumat berjamaah sebagai pengganti shalat zuhur, maka surat yang turun di Madinah ini dibuka dengan pernyataan singkat tentang puja dan puji yang dikumandangkan seluruh makhluk kepada Allah.

Allah sendiri, dalam ayat pertama digambarkan sebagai raja yang maha suci, perkasa, lagi bijaksana. Penegasan mengenai karakter Tuhan tersebut diimplementasikan pada ayat selanjutnya yang menjelaskan bahwa hanya Tuhanlah yang mampu menurunkan seorang rasul ditengah komunitas ummy, yang tidak memiliki tradisi kenabian. Kesalingterkaitan antara ayat pertama dan kedua ini, memunculkan pertanyaan dalam benak kita, kenapa Tuhan membuktikan kemahasucian, keperkasaan, dan kebijaksanaannya dengan mengirimkan seorang rasul ditengah-tengah komunitas ummy?

Petunjuk bagi pertanyaan ini dapat kita temukan dalam frase kedua ayat tersebut yang berbunyi, "...rasul yang membaca kepada mereka ayat-ayatNya, mensucikan diri mereka, sekaligus mengajarkan al-Kitab, hikmah, saat masyarakat tempat nabi tersebut diutus tengah berada dalam kesesatan yang nyata (Q. 62:2).  Tentu saja, frase kedua tersebut tidak akan dapat kita pahami sebagai jawaban atas pertanyaan sebelumnya. Bahkan, keberadaan ayat ketiga yang masih dapat dimasukkan sebagai anak kalimat dari ayat kedua, juga tidak menjelaskan secara utuh arti dari pengutusan rasul kepada sebuah komunitas ummiy Ia hanya memberikan penegasan tambahan, bahwa kenabian maupun kerasulan adalah manifestasi atas kemahakuasaan dan kebijaksanaan Tuhan.

Jika demikian, dengan cara apa kita memaknai pengutusan rasul di komunitas ummy ini sebagai manifestasi dari kemahasucian, keperkasaan dan kebijaksanaan Tuhan? Jawaban pertama akan hal tersebut tertera pada ayat keempat yang memaknai kerasulan sebagai sebuah karunia, fadhl, yang diberikan Tuhan kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Dalam makna yang berdekatan, ayat keempat juga memberikan perspektif baru tentang karakter Tuhan, yakni Dia yang memiliki karunia lagi agung.

Term fadhl dalam surat al-Jumah sendiri memiliki dua bidang makna yang saling melengkapi. Di satu sisi, ia merujuk kepada kepada agama atau kondisi mental, sedang di sisi yang berbeda ia merujuk kepada rejeki, penghidupan, yang dapat kita rumuskan sebagai kondisi material dan fisik. Namun sebelum memahami makna kedua dari kata fadhl itu, ada baiknya kita pahami terlebih dahulu maknanya yang pertama.

Mereka yang belum terbiasa dengan gaya bahasa al-Quran yang seakan meloncat-loncat dan tidak memiliki kesatuan tema, tentu akan bertanya, kenapa tiba-tiba muncul sebuah sindiran terhadap umat beragama di luar Islam, tepat ketika kita hendak memahami arti dari fadhl? Jawaban yang paling mungkin atas pertanyaan ini adalah, Al-Quran hendak mengkontraskan antara dua tipologi masyarakat beragama. Masyarakat pertama adalah masyarakat Arab yang tidak memiliki tradisi kenabian sama sekali, sedang masyarakat kedua adalah masyarakat Yahudi yang dikenal luas selama berabad-abad memiliki tradisi kenabian yang sangat kuat.

Masyarakat pertama, sebagaimana telah kita ketahui dari ayat kedua, dikenal sebagai masyarakat yang mengalami revolusi mental yang sangat signifikan. Yakni masyarakat yang dahulu berjalan pada jalan yang sesat, tiba-tiba berubah 180' menjadi masyarakat yang tersucikan jiwanya dan melakukan kebajikan. Sedangkan masyarakat kedua, meski mereka telah memiliki sebuah kitab suci, Tawrat, yang dipelajari secara turun temurun ribuan tahun, ternyata tidak serta merta menjadikan mereka lebih baik dari masyarakat pertama tadi. Karena, meski telah memiliki kitab suci, tapi mereka tidak menganggapnya seabagai panduan yang harus ditaati. Al-Quran bahkan memberi perumpamaan masyarakat kedua ini seperti keledai yang hanya dapat mengangkat buku tapi tidak mampu memahami apalagi mengaplikasikan pengetahuan yang termaktub dalam buku-buku tersebut.

Perumpamaan mengenai keledai yang tercantum di ayat kelima tadi, diperjelas kembali di ayat berikutnya yang memuat kesombongan orang Yahudi yang merasa sebagai bangsa terpilih. Al-Quran dengan hati-hati merumuskan tuduhan tersebut dengan merujuk kepada klaim masyarakat Yahudi yang menganggap komunitas mereka sebagai komunitas yang mewakili kehendak Tuhan di muka bumi ini, awliya Allah. Akan klaim yang tidak memiliki dasar kebenaran yang valid itu, Al-Quran memberikan argumentasi logis yang sangat menarik.

Mari kita anggap sebuah komunitas adalah wakil Tuhan, jika dan hanya jika komunitas itu memahami arti penting dari realitas kehidupan di dunia Dibandingkan dengan kehidupan di akhirat, kehidupan dunia tidak lebih dari sebuah fatamorgana yang penuh kepalsuan. Mereka yang memahami makna ini, tentu akan berpikir bahwa tidak ada gunanya mengejar kenikmatan hidup di dunia, karena apa yang kita kejar itu bukanlah sesuatu yang nyata. Ia hanyalah kepalsuan yang tidak dapat memberikan kepuasan sama sekali. Jika demikian, maka buat apa manusia hidup? Tentu akan lebih baik jika tidak ada kehidupan di dunia ini, karena memang tidak ada gunanya. Makna yang tersirat dari kesia-siaan hidup di dunia ini, hanya dapat dipahami oleh mereka yang menganggap dirinya sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Oleh sebab itu sudah sewajarnyalah masyarakat Yahudi yang menganggap dirinya sebagai wakil Tuhan untuk meminta kebinasaan, karena bukankah itu jawaban paling logis atas fatamorgana dunia.

Rasionalisasi atas realitas hidup ini, rupanya tidak dianggap serius oleh komunitas Yahudi. Alih-alih memohon agar Tuhan segera mencabut nyawa mereka, justru masyarakat beragama ini berusaha agar tidak segera mati dan terus menikmati kesenangan duniawi. Kemunafikan kaum Yahudi tersebut oleh Al-Quran dikategorikan sebagai sebuah perbuatan yang zalim, yang tidak pantas untuk diikuti. Seraya menegaskan bahwa, setiap manusia pasti akan mati dan akan ditimbang perbuatannya selama di dunia pada hari akhir nanti. Jadi buat apa menyombongkan diri dengan kebenaran yang sudah jelas itu?

Pandangan ekstrim tentang kefatamorganaan dunia yang muncul pada agama Yahudi membuat persepsi mereka tentang agama menjadi ambivalen. Muncul ketidaksinkronan antara apa yang harus dan apa yang sebenarnya ada dalam pikiran mereka. Cara keberagamaan yang tidak wajar ini jelas tidak sehat, dan harus dijauhi. Pada titik inilah, keberagamaan masyarakat ummi yang baru dibentuk oleh Tuhan muncul sebagai sebuah karunia yang harus disyukuri. Ia memberikan kita contoh bagaimana beragama yang semestinya, tanpa harus terjebak oleh simbol-simbol agama yang menipu. Bahwa tidak ada satu orang pun yang merasa lebih berhak atas Tuhan dibanding orang lain. Bahwa agama adalah soal etika, praktik dan perbuatan, serta bukan klaim politik apalagi kekuasaan.

Karakter keberagamaan Islam sebagai sebuah fadhl, atau karunia Tuhan, diperkuat maknanya pada ayat ke-9 dan 10 yang menjadi inti dari surat al-Jum'ah, sekaligus memberikan pemahaman baru kepada kita tentang arti kata fadhl yang kedua.
Wahai orang-orang beriman, jika kalian telah dipanggil untuk shalat Jumat maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Apa yang diperintahkan itu lebih bermanfaat bagi kalian jika kalian mengetahuinya.

Apabila kalian telah melakukan salat, maka bertebaranlah untuk berbagai kepentingan. Carilah karunia (
fadhl) Allah dan berzikirlah kepada-Nya banyak-banyak, dalam hati maupun dan dengan ucapan. Mudah-mudahan kalian beruntung. (Q. 62:9-10)
Sangat menarik jika kita membandingkan visi Al-Quran atas hari Jumat dengan visi penganut agama lainnya tentang hari utama mereka. Sebagaimana kita ketahui, baik umat Yahudi maupun Kristen, sama-sama menganggap hari besar mereka, yakni Sabtu dan Minggu sebagai hari yang hanya dikhususkan untuk beribadah semata. Pada kedua hari tersebut, masing-masing komunitas meliburkan diri dari kegiatan duniawi dan hanya berfokus kepada kegiatan beribadah semata, baik di sinagoga maupun di gereja. Bagi Al-Quran, hari utama umat Islam berbeda dengan hari utama umat Yahudi dan Kristen--bukanlah sebuah hari yang dikhususkan untuk libur.

Frase pertama ayat 9 yang mencantumkan nasehat untuk meninggalkan kegiatan perekonomian saat azan zuhur berkumandang, memberikan petunjuk kepada kita akan ketiadaan fungsi beristirahat pada hari Jumat. Dalam kasus ini, hari jumat sama seperti hari-hari lainnya yang diisi oleh kegiatan mencari penghidupan. Perbedaan satu-satunya hanya ada dalam bentuk ibadah shalat Jumat berjamaah, yang berlangsung singkat dan tidak mengambil jatah seharian penuh. Bentuk keagamaan yang sangat praktis inilah yang menjadi karunia bagi umat Islam. Mereka tidak kehilangan semangat religiusitas, juga tidak sepenuhnya tercerap kedalam remeh temeh hidup sehari-hari. Karena bagaimanapun juga, keuntungan yang didapat dari kegiatan perekonomian, serta bekerja, dapat dikategorikan sebagai fadhl dari Tuhan, sebagaimana keberagamaan itu sendiri yang merupakan karunia dariNya.

Meski demikian, tidak selamanya keseimbangan "dunia-akhirat" ini berjalan langgeng. Ada beberapa kasus dimana umat Islam lebih condong kepada urusan dunia daripada akhirat. Contoh yang paling utama ketika Rasulullah SAW ditinggalkan sahabat-sahabatnya saat tengah khutbah Jumat, hanya karena ada kesempatan jual beli yang sangat sayang untuk ditinggalkan. Perilaku tersebut kemudian disindir oleh Al-Quran di ayat terakhir surat Al-Jum'ah, seraya menegaskan bahwa meski keuntungan yang diperoleh dari perdagangan tersebut adalah karunia dari Tuhan, tapi tindakan beribadah dengan mendengarkan khutbah Jumat jauh lebih baik. Bukankah Tuhan yang yang memberi kita rejeki, maka kenapa tidak kita patuhi perintahnya?

Dalam maknanya yang terluas, surat al-Jum'ah memberikan kepada kita visi tentang masyarakat baru yang mampu menyeimbangkan kehidupan sekuler dan agama. Masyarakat baru ini bukanlah masyarakat yang terjebak dalam simbol-simbol keberagamaan, tapi masyarakat progresif yang mampu bergelut dengan kehidupan dunia, tapi tidak terlena olehnya. Progresifitas masyarakat baru ini, tidak akan mungkin terjadi seandainya pola keberagamaan mereka tidak dirubah. Dari yang berbasis keagamaan simbolik, menjadi keberagamaan yang berorientasi praktis-etik. Selain itu, keberhasilan masyarakat baru dengan pola keberagamaan yang progresif ini jelas merupakan campur tangan Tuhan, yang melaluinya membuktikan kepada kita kemahkuasaan, kesucian, dan kebijaksanaan-Nya di muka bumi ini.

Wa Allah a'lam bi al-shawwab

Warna

Kuning dan ceria
senyum dan bahagia
aku berpikir tentang keduanya
ceria dan bahagia.

Dalam bingkai mungil
dari balik sudut 45'
warna adalah kata
mimik adalah pesan

goresan tanah,
ranting dan dedaunan
yang jatuh terserak,
atau rengekan kera

hanyalah konteks yang menguap
pergi tak berduka
meninggalkan raut halus
yang semakin lama semakin nyata

sedang wajah itu,
dan senyum yang mengiringinya
melekat kuat dalam ingatan
sebagaimana kuning dan bahagia

Hati siapa yang kau tutupi.
Dalam kerapuhan nan retak
reruntuhan harapan
yang kau bangun lalu hancur?

Jelaga yang tergores dalam
yang masih bisa kau lihat jejaknya
bahkan setelah ribuan polesan
senyuman dan senyuman

Bisakah jarak ribuan mil
yang berkisah tentang birunya laut
pasir putih di pantai
aroma hutan dan pesisir

mengoles luka itu
dengan warna-warni baru
yang bukan kuning yang bukan putih
warna lain yang belum ada padamu

yang berkata tentang
keindahan, senyuman
kebahagiaan
dan kejujuran

yang membangun kembali batu bata jiwa
mengairi lagi ladang-ladang harapan
tunas baru nan hijau
dedaunan mungil yang siap berfotosintesis

dan desahan angin
yang tidak ribut, lagi tenang
menemaninya tanpa lelah
menghela tanpa perdaya

hijau di sini
tumbuh bersama klorofil
mensintesis kuning menjadi putih
melahirkan manis

Aku masih melihat wajah itu
yang terpampang jelas
di depan wajahku
ia tersenyum
bahagia.

Klise

Darimana datangnya cinta? Apakah bisa kita menamakan hasrat untuk memiliki sesuatu sebagai asal-usul dari cinta? Bukankah menyamakan cinta dengan kepemilikan itu sebagai sesuatu yang egois. Seperti mengatakan, aku ingin baju itu karena baju itu cantik. Dan aku ingin memilikinya karena aku ingin ia menjadi bajuku. Maka cinta pun sinonim dengan kepemilikan.

Tapi bukankah orang yang saling mencintai itu merasa saling memiliki satu sama lainnya. Tatkala kamu melihat orang yang kamu cintai membutuhkan sesuatu, maka dengan senang hati pula kau akan membantunya, bahkan tanpa harus diminta. Ekspresi kepemilikan dengan demikian terletak pada keinginan untuk menjaga. Jika kembali kepada baju, mungkin kesadaran tersebut sangat mirip dengan sikap kita dalam merawat baju tersebut. Mencucinya jika kotor, mensetrikanya agar rapih, dan menyimpannya dengan tepat agar tidak dirusak serangga. Dan ketika saatnya tiba, kau akan memakai baju itu dengan bangga dihadapan semua orang.

Benarkah itu? Lalu apa yang akan dikatakan oleh baju kepadamu? Apakah ia merasa senang diperlakukan seperti itu? Seandainya ia bisa bicara, apakah ia akan berterima kasih atas caramu memperlakukannya. Mungkin ia ingin tampil lecek, agak longgar dan memberimu kenyamanan daripada kepantasan. Tapi apa yang bisa dilakukan oleh baju. Kalau kau mencintaiku, kenapa kau tutup mulutku. Menyandera keinginan dan hasratku, lalu mengatakan hasratmu sebagai satu-satunya hasrat yang pantas untuk ditampilkan.

Untungnya, cinta kita pada seseorang tidak mirip dengan cinta kita terhadap baju, walaupun terkadang cara kita memperlakukannya sama seperti cara kita memperlakukan barang yang kita punyai. Kita mempersepsi orang yang kita cinta dalam perspektif dan pola pikir kita semata. Kita membuat mereka yang kita cintai laksana objek, dan menjadikan cinta laksana aturan-aturan yang mengikat, yang hanya menguntungkan kita semata. Itukah cinta? Bagaimana jika kita mengatakan, aku mencintai kamu dan dengan begitu aku hanya ingin melihatmu bahagia, entah dengan cara apa kebahagiaan itu datang, dan dalam kondisi apa ia berlaku.

Mungkin terdengar klise. Mungkin juga agak menyedihkan. Ketika cinta tidak serta merta tumbuh di antara kedua pihak. Jika ia hanya menghampiri yang satu, dan meninggalkan yang lain. Membuat gundah yang satu dan membuat yang lain bingung, terbengong-bengong, atau bahkan tersinggung. Bisakah kita menggunakan ke-klise-an tadi untuk kondisi seperti ini, atau malah berlalu pergi dengan patah hati, meninggalkan segala yang kau bangun terbengkalai, karat kemudian lapuk?

Ah, aku tidak tahu darimana datangnya cinta atau apa itu cinta, tapi jika ia datang kembali, bisakah kau dengan senang hati singgah diujung sana. Memberitahu yang satu dan menghampiri yang lain, karena bangunanku masih utuh berdiri hingga nanti.

Calm

I just want to calm like sea.

Revisi

Dalamnya laut bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tahu.

Begitu kira-kira bunyi pepatah untuk menggambarkan bagaimana susahnya menebak isi hati seseorang, terlebih jika orang tersebut adalah perempuan. Ya, untuk urusan yang satu ini terus terang saya belum dapat benar-benar memahaminya. Walaupun pergaulan saya dengan perempuan semakin lama semakin bertambah, entah di kehidupan nyata maupun maya, tapi membaca isi hati seorang perempuan jelas bukan perkara yang mudah.

Saya jadi teringat beberapa minggu sebelum putus dengan my ex, saat hujan deras dan kebetulan saya sedang tidak enak hati, SMS dan telepon darinya sengaja tidak saya jawab. Saya berpikir untuk sedikit cooling down dengan tidak memikirkan apa-apa termasuk dirinya. Mungkin karena putus asa, ia justru mengirimkan SMS terakhir yang menanyakan apa saya benar-benar ingin mengakhiri hubungan dengannya (bukan pertanyaan sih, tapi lebih mirip pernyataan). Karena saya memang tidak ingin mengakhirinya, barulah saya jawab SMS tersebut dengan langsung menelpon dirinya, bahwa saya sama sekali tidak berniat untuk melakukan hal tersebut sambil berusaha menenangkan hati dan meyakinkannya. Syukur, ia paham dan masalah pun kami anggap selesai.

Rupanya saya tidak benar-benar mengerti isyarat yang hendak disampaikan. Belum sampai seminggu, setelah telepon panik tersebut, ia justru benar-benar memutuskan hubungan dengan saya. Ya, tentu saja ada beberapa tutur kata dan percakapan kami yang tidak akan saya publish di posting ini hehehe... tapi satu hal yang ingin saya sampaikan adalah, ternyata, apa yang kita tangkap dari sebuah pernyataan yang mirip pertanyaan tadi (dengan menganggap bahwa sayalah yang akan mengakhiri semuanya) justru benar-benar terjadi. Meski posisinya telah berubah. Bukan saya yang memutuskan hubungan itu, tapi justru dirinyalah sendiri yang melakukannya.

Lalu, apa hubungan antara kilasan memori ini dengan pepatah yang saya cantumkan di awal tulisan tadi? Well, percaya atau tidak, semestinya kita memang dapat mengukur dan mengetahui isi hati seseorang. Tentu saja, cara mengetahui isi hati itu berbeda dari cara kita mengetahui dalamnya laut-yang dilakukan dengan menenggelamkan bola timah yang dikaitkan pada setambang tali, atau menggunakan perangkat sonar. Cara kita mengetahui isi hati seseorang tidak lain dan tidak bukan adalah dengan menganalisis bahasa dan percakapan yang ia lakukan. Dalam bahasa kerennya, Conversation Analysis, atau setelah dimodifikasi menjadi Discourse Analysis. Metodologi yang digunakan dalam studi etnik dan sosial yang menggabungkan kajian lingustik, antropologi, dan psikologi untuk mempelajari sebuah percakapan.

Ah, rasanya tidak asyik jika saya membahas term ilmiah tersebut dalam posting singkat ini. Yang ingin saya sampaikan hanyalah, seandainya saya bisa mendayagunakan teknik ilmiah tersebut, barangkali saya bisa mengetahui maksud sesungguhnya dari pernyataan atau pertanyaan si ex itu. Implikasi praktisnya jelas, saya dapat meminimalisir efek merugikan yang seandainya muncul dari percakapan kami. Sayangnya, saat itu saya belum mengenal CA dan DA, pun setelah mengenalnya juga tidak benar-benar bisa mengaplikasikannya, kecuali jika saat itu saya tengah berada di ruang penyadapan CIA yang dilengkapi alat-alat canggih untuk menganalisis intonasi suara, konsistensi ujaran, atau hal-hal lain yang dapat mengetahui secara presisi emosi seseorang, lengkap dengan seorang pengamat dan penasihat yang secara live memberikan instruksi-intruksi teknis mengenai kata-kata apa yang seharusnya saya sampaikan kepadanya. Hey, hey, hey, saya kan bukan secret agent! :)

Lepas dari segala kekurangan dan pemikiran aneh tersebut, sepertinya saya masih juga belum bisa mengetahui kelanjutan dari proposal cinta yang saya sampaikan beberapa hari yang lalu, atau kalau ingin matching dengan judul posting ini, saya masih belum tahu isi hatinya itu. Memang, kami telah bertukar SMS dan kembali chatting dengan intens, tapi tidak ada satupun dari pesan-pesan yang ia sampaikan itu yang secara langsung dan terang-terangan mengindikasikan, entah penerimaan atau penolakan terhadapa proposal saya itu. Apakah saya harus mengajukan proposal tambahan, melengkapi detilnya, atau apa? Sampai tahap ini, saya masih berusaha menganalisis kalimat-kalimat yang ia sampaikan, tapi dengan segala hormat wahai akal sehatku, kok ya rasanya tidak tepat saja melakukan kajian yang benar-benar rasional dan ilmiah saat kita tengah dimabuk asmara. yes, I really stuck now.

Seharusnya sih, saya datang langsung kepadanya sambil mengatakan hal tersebut secara terang-terangan dihadapannya dan menunggu, entah baik atau buruk keputusan yang bakal ia ambil. Hanya saja, nasib sampai saat ini belum berpihak kepada saya. Saat seharusnya saya libur, justru ia masuk, dan saat dirinya yang libur, eh saya yang harus masuk kantor dan bekerja sepanjang hari. Pun ada beberapa periode dimana saya berusaha hendak menghubunginya atau mengirimkannya pesan, tapi tidak ada yang ia angkat atau jawab. Ah, saya benar-benar di posisi yang sangat sulit, terlebih jika mengkaitkannya dengan pesaing yang memiliki peluang yang jauh lebih besar dan probabilitas yang lebih tinggi dibandingkan saya (efek dari mendalami analisis SWOT kali ya). :(

Satu-satunya hal yang membuat saya optimis hanyalah kesediaan dia untuk mengoreksi posting-posting saya yang berbahasa Inggris itu yang menurutnya benar-benar membuat dirinya geregetan (waktu saya tanya apakah saya tidak membuatnya geregetan, dia justru balik bertanya, are you playing comedy romantic? D'oh!-repot juga berhubungan dengan perempuan pintar. Hehehe...) Dan begitulah, dia benar-benar serius dengan perkataannya tersebut, atau lebih tepat tulisannya. She offered herself as private English grammar teacher to me!

Sebagai langkah awal, saya kirimkan salah satu posting saya yang berbahasa Inggris kepadanya. Beberapa jam kemudian, ia mengirimkan hasilnya yang membuat saya tersenyum sekaligus tertawa sendiri betapa kacau grammatika Inggris saya (pantas bu Imelda tidak pernah mengomentari tulisan saya yang berbahasa Inggris, jangan-jangan juga membuat kepalanya pusing tujuh keliling kali ya hahaha...). "Di atas past tense, trus tahu-tahu ini jadi “becomes”. Padahal masih dalam bentuk lampau bukan? Use “became” instead", tulisnya mengomentari ketidakkonsistenan saya dalam menggunakan tenses. Dan ketika saya menggabungkan dua kata, but dan still, dengan serta merta ia langsung mengomentari, "pada dasarnya sih but dan still itu artinya sama saja :D coba lihat kamus di bagian still. Jadi ini redundant :)". Oh begitu ya.

Terus terang, meski tulisan saya banyak sekali ia corat-coret dan komentari, tapi justru hal tersebut membuat saya senang. Belum pernah seorang pun yang mengkritik penggunaan tata bahasa dalam tulisan saya sedemikian detil dan "sadis" kecuali dirinya. Wow. Saya pun dengan suka cita menulis revisi dari posting saya tersebut dan mengirimkannya kembali kepadanya. Itu pun masih juga ia komentari.

"i'm still bothered with the word miniaturized. kl di kamus itu bukan verb, tapi adjective. jadi lebih tepat 'a miniaturized thought'. Tapi ya ggp sih, sekali2 break the rule :p"

Akhirnya... :)

Bisakah kita dengan serta merta menganggap segala bentuk perhatian itu sebagai sebuah afirmasi atas proposal yang telah saya kirimkan kepadanya? Menghubungkannya dengan kemampuan seseorang memberikan yang terbaik kepada orang yang ia cintai. Tapi bagaimana jika perhatian itu hanyalah sebuah distraction, bahasa halus untuk mengatakan, oke hubungan kita hanya sebatas ini saja lho dan tidak lebih. Entahlah, saya benar-benar buntu dalam hal ini, dan tidak benar-benar tahu isi hatinya, karena semua bukti yang dapat saya amati sama-sama memberikan petunjuk yang sama kuatnya. Laksana pertarungan tanpa henti antara sikap pesimisme dan optimisme dalam pikiran rasional saya. Apa harus saya revisi kembali proposal cinta itu? Jika iya, apa yang seharusnya dilengkapi, dan apakah ia benar-benar akan menerima revisi tersebut?

O dear, how about this. You guide me for grammatical mistakes in English and maybe some basic French, and I in turn teach you Arabic. Deal? :D

Ah, I'm always learning you.

Proposal Cinta

Saya tidak tahu berapa kali saya "menembak" perempuan-eee, bukan menembak secara harfiah dengan pistol dan senapan ya, tapi secara figuratif. Menyatakan cinta langsung pada orang yang saya anggap mau menerima cinta saya. Pertama kali, saat masih cinta monyet, duduk bersama di serambi rumahnya dan berbicara ngalor ngidul sebagai pembukaan yang sangat buruk. Hasilnya, saya bahkan tidak mampu mengucapkan kata itu sepatah kata pun. Mungkin si dia bingung dengan bahasa saya yang melompat-lompat campur aduk sok ilmiah, hingga berakhir pada kesimpulan. "eh sudah sore, kamu gak pulang ya?" D'oh!

Kali kedua, dengan perempuan yang berbeda, saya mencobanya melalui telepon. Menanyakan kabar apakah kamu sehat-sehat saja, bagaimana pekerjaan di kantor, bingung ga? Jawabannya sangat santai, terlalu jelas, dan sangat lancar. Anehnya, justru itulah yang membuat saya bingung. Maka kesempatan satu-satunya dengan menelpon dari tempat yang saya pikir tidak ada kesempatan bagi orang lain untuk mendengar dan menyadap pembicaraan super rahasia itu, lemari, tidak kesampaian. Maka alih-alih mengucapkan kata sakti itu, saya malah secara sembrono bilang, "besok kayaknya saya tidak masuk kantor deh, agak demam nih malam ini". Si perempuan yang ingin saya tembak itu langsung mengiyakan, mengucapkan doa singkat, dan menutup telpon, "selamat malam".

Ah sesusah itukah cara mengucapkan cinta? Sungguh saya memang benar-benar buta soal itu. Tapi dari dua pengalaman gagal pertama tersebut, saya justru belajar bahwa "the proposal" jelas bukan awal dari segalanya. Seperti yang dikatakan bos saya, survey, survey, dan survey! Kita harus menguasai medan, mengerti seluk beluk persoalan, dan mampu memberikan solusi yang benar-benar tepat. Wow, seperti sedang menghadapi medan tempur saja. Trust me, it's more war-like. Saying love is a point where you decide to make your stand clear. Not a friend, or foe, enemy, but as partner in love. So, why don't you invest much time and effort to make your decision right.

Belajar dari nasehat sederhana itu, saya pun menghabiskan waktu yang cukup lama untuk mengenal dan mengetahui seluk beluk kehidupan perempuan ketiga yang berusaha saya tembak. Barangkali ada setahun saya mempelajarinya, meski hasil yang didapat sangatlah sedikit. Namun usaha yang lambat itu ternyata membuahkan hasil. Pada suatu malam, lewat tukar SMS dan email, akhirnya saya dapat mengatakan cinta pada seorang perempuan untuk pertama kalinya. Ah, tentu kamu akan mengerti rasanya bagaimana jatuh cinta. Swing your mood to its highest point, blooming your heart, cherish face, and everything so wonderful and colorful. Ternyata saya bisa!

Sayangnya, semua jerih payah itu tidak seindah yang dibayangkan. Semakin lama semakin mengenal kepribadiannya, maka semakin jauh juga saya dari kepribadian yang saya miliki. Tentu saja, saat kamu mengatakan cinta pada orang yang kamu cintai, kamu membutuhkan lebih banyak pengorbanan untuk menyesuaikan ritme hidupmu dengan ritme kehidupan yang ia miliki. Membiasakan diri melihat segala suatu dari sudut pandang dia, dan itu berarti mengorbankan beberapa sisi liar yang seharusnya ada di dalam hatimu. Singkat kata, gaya hidup dia benar-benar tidak sesuai dengan gaya hidup yang saya miliki.

Maksud saya, tentang visi kedepan. Tentang bagaimana kita di masa depan. Antara aku dan dia hanya ada jurang yang menganga yang semakin lama semakin dalam.  Awalnya, saya sempat berpikir bahwa alienasi itu hal yang lumrah. Namun kenyataannya, semakin saya jujur dengan diri saya, maka semakin tersiksa juga pikiran dan perasaan saya. Saya membayangkan kami sebagai Zeus yang menikahi Leda. Tentang langit yang jatuh hati kepada bumi, yang memerangkap dirinya dalam keindahan-keindahan tanah yang semakin lama semakin gelap. Hingga tidak bisa lagi kau temukan awan putih yang menemani langit, atau kicauan burung yang hinggap di atas hijaunya pohon. Ia hanyalah kuburan yang memerangkap malam dan mengusir mentari.

Ah, saya benar-benar tidak mampu mengatakannya. Dan semua yang telah saya coba bina selama setahun lebih, binasa dalam waktu yang sangat singkat. Saya selalu bersyukur, bahwa bukan saya yang mengucapkan perpisahan itu. Meski selama hampir dua tahun saya mencoba untuk menetralisir semua kenangan terindah yang pernah kami miliki. Ya, dua tahun. Saya selalu berpikir untuk tidak menikah. Tidak berhubungan dengan wanita, dan menarik diri dari perlombaan mencari gen yang tepat. Tidak ada yang saya mau. Bahkan tawaran dari pengurus masjid yang mencoba menjodohkan anaknya dengan saya, tidak saya tanggapi dengan serius. Hanya datang, berkenalan sebentar, lalu kosong.

Tentu saja banyak tekanan yang harus saya dapatkan. Mulai dari tante saya (dulu suaminya juga pernah memperkenalkan saya dengan kemenakannya yang lain, tapi saya masih menutup diri kala itu) yang menyuruh cepat-cepat menikah, atau omongan ibu saya yang sangat bawel jika berhubungan dengan masalah itu. Seakan-akan cuma dia satu-satunya ibu di dunia yang belum menggendong cucu. "Oh!" Sebagai anak pertama, dan cucu pertama di keluarga besar ibu dan bapak, yang memiliki selusin adik dan sepupu yang mengharapkan agar si sulung ini segera pecah telur agar yang lainnya langsung menyusul, jelas posisi saya benar-benar tidak menguntungkan. Dan cara terbaik untuk menghilangkan itu semua, cukup dengan menganggap bahwa mungkin saya memang belum layak untuk menikah. "So what?" Silahkan saja melangkahi kalau mau, toh saya tidak keberatan. Tapi dasar orang Jawa. Mereka mungkin menganggap yang satu itu yang harus pecah terlebih dahulu. Soal sisanya akan saling menyusul atau tidak, itu urusan lain.

Dalam keadaan hampa udara ini, akhirnya saya cuma bisa berdoa. Kebetulan kala itu saya memiliki tiga opsi. Pertama, kembali ke perempuan sebelumnya. Kedua, dengan anak pengurus masjid. Ketiga, dengan perempuan yang belum pernah saya temui tapi sudah menjalin persahabatan cukup lama di dunia maya. Opsi pertama ternyata gagal, karena yang bersangkutan sudah menjalin cinta lagi dengan lelaki lain, dan setelah gagal dengan lelaki itu, kini menjalin cinta lagi dengan lelaki baru (wow, kalau ditotal mungkin mantan pacarnya ada lima, belum termasuk saya! Hehehe). Opsi kedua, saya coba dekati melalui SMS. Tapi sejak pertama kali SMS saya kirim ke nomor hp-nya tidak pernah sekalipun ia membalas. Usut punya usut, ternyata ibu saya salah memberikan nomor hp perempuan itu, dan kesalahan tersebut baru saya ketahui dua bulan setelah SMS pertama saya kirimkan. Itu pun setelah saya dengan susah payah melacak keberadaan akun facebook-nya. Hehehe...

Opsi ketiga sebenarnya tidak terlalu menggembirakan. Saya mungkin tertarik dengan caranya bertutur, kemampuan berbahasa dan berpikirnya yang baik serta runut, atau senyum manisnya yang lebar itu. Namun, satu hal yang paling mengganjal saya adalah, ternyata ia sudah memiliki pacar. Sebagai orang yang juga putus karena pengaruh orang ketiga, terus terang saya tidak berani mengusik hubungan mereka. Saya benar-benar menghormati orang yang ia cintai. Lagi, setelah saya melihat foto-foto pacarnya di FB, saya sempat bergumam, jika karakter yang bersangkutan lumayan baik kok. Jadi saya benar-benar tidak punya alasan kuat untuk masuk kedalam kehidupan mereka secara membabi buta. Jadi saya pikir, opsi ketiga ini benar-benar tidak dapat diandalkan.

Entah kenapa, setelah tiga pilihan itu saya panjatkan ke Tuhan, tiba-tiba saya terkejut dengan sebuah posting di blog perempuan ketiga ini. Ternyata dia benar-benar putus dari pacarnya! Memang tidak langsung terjadi seperti dalam sinetron Islam KTP yang hanya dalam hitungan detik semua doa langsung terkabul.  Butuh sebulan lebih bagi doa itu untuk bekerja-jika kita benar-benar mau menggunakan istilah tersebut. :) Tapi sungguh, yang saya lihat itu bukan khayalan di mata saya. Semuanya benar-benar terjadi.  Ah, ternyata saya masih belum juga mau percaya. Maka kupikir kenapa tidak meminta Tuhan untuk mempertemukan kami berdua, face to face, empat mata? Sebuah permintaan yang kupikir mustahil karena jarak dan laut yang memisahkan kami berdua.

Tapi memang tidak ada yang mustahil sih-sekali lagi jika kita benar-benar mau menggunakan istilah tersebut. Dan ya, semuanya memang tidak berjalan dengan lancar. Hanya entah kenapa, kok bisa-bisanya si perempuan ketiga ini mengirim sebuah email ke saya meminta kiat-kiat menulis buku. Dengan senang hati saya berikan semua hasil karya saya kepadanya, sambil bertanya, "punya alamat YM tidak?" Dan begitulah saudara, hari-hari chatting kami berdua dimulai. Ya, saya selalu menganggapnya sebagai perempuan berpendidikan, yang haus akan pengetahuan. Jadi saya memulai semua chatting entah dengan diskusi sebuah persoalan teoritis, atau membicarakan pemikiran-pemikiran dia tentang segala hal. Dan semuanya berjalan dengan sangat perlahan dan lamban.

Hingga suatu ketika, saya teringat kembali dengan permintaan saya ke Tuhan. Jika bisa membuat kami berkomunikasi, maka bisakah Engkau membuat kami bertemu? Kembali, saya mendapat jawaban. Ternyata si perempuan ketiga ini benar-benar datang ke Jakarta hendak mengurus ijazahnya waktu kuliah. Apa ini sebuah kebetulan? Entahlah, saya kadang terlalu pesimis dengan doa. Kupikir, Tuhan kan tidak pernah berhutang apa-apa pada saya, jadi buat apa Dia menjanjikan sesuatu yang saya minta. Tapi apa memang begitu cara Tuhan berpikir? Atau, jika Dia memang tidak memiliki hutang apapun, buat apa Dia mengabulkan permintaan banyak manusia di muka bumi ini? Ah, pemikiran yang benar-benar absurd. Satu yang tidak absurd hanyalah, ternyata kami benar-benar bertemu!

Kala itu, di perpustakaan Freedom Institute, untuk pertama kalinya saya bertemu dengan perempuan ketiga ini. Wow, she's so wonderful! Lebih manis dari yang ada di foto, meski agak terlalu kurus. Dan saya, terlalu kucel, dan agak kotor. Kontras sekali dengan caranya berpakaian yang ya, respectable. Karena grogi, jadilah saya menampilkan komputer saya si Julia sebagai bahan perbincangan. Tidak terlalu menarik sih, tapi saya kira cuma kami berdua saja yang membuat seantero ruang perpustakaan membisu. Maaf ya, maaf jika pembicaraan kami mengganggu kekhusyukkan kalian dalam membaca. Hehehe...

Dari pertemuan pertama, ia kembali lagi ke kota asalnya, dan kupikir itu yang pertama dan terakhir kalinya kami bertemu. Namun semua berubah tatkala ia memberi kabar untuk kembali lagi ke Jakarta belajar bahasa asing. Ah, ternyata saya punya kesempatan untuk melakukan itu lagi. Sambil terus mempelajari dirinya, saya pun mulai kembali membangun sisa-sisa harapan yang dulu hendak saya bangun dan gagal. Tentang masa depan yang dulu hilang begitu saja, tentang harapan yang bersinar kembali, tentang karir baru yang meski dengan seberapapun kecil gaji yang saya terima tapi tetap saya niatkan untuk ditabung. Tentang kehidupan yang kembali kehadapan saya: asuransi, jaminan sosial, kartu ATM yang kembali berfungsi, dan tentu saja zakat. Yah, akhirnya saya bisa mendapatkan "hidup" saya kembali.

Mengatakan dekat secara geografis akan memudahkan kita dalam mengenal lebih dekat dengan seseorang ternyat salah. Kedekatan saya dengan si perempuan ketiga ini saat di Jakarta sangat berbeda dari saat ia berada di kota asalnya. Tentu saja saya agak frustasi. Meski telah memiliki nomor hp-nya, tapi saya masih ragu untuk melakukan komunikasi intens dengannya. Pun, chatting kami di YM makin lama makin berkurang, dan kembali rasa ragu itu bersemayam di dada saya. Apakah yang saya lakukan ini benar atau salah, tahukah dia apa yang saya rasakan? Apakah saya benar-benar harus mengatakan itu? Terusterang, saya tidak pernah mengatakan secara langsung bahwa saya menyukai dirinya. Saya berusaha untuk tidak membuatnya tersinggung atau marah, atau kemungkinan lain yang justru membuat segalanya menjadi gagal. Saya ingin membangun sebuah fondasi cinta yang solid, membuatnya sealamiah mungkin dan mengalir semurni mungkin. Tapi ah, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Tepat ketika saya mulai merasakan rindu untuk bertemu dengannya, saat itulah ia mulai memberitahukan saya sesuatu yang membuat saya sangat terkejut.

Malam ini, ia bercerita tentang kisahnya dua hari yang lalu. Tentang betapa jengkelnya ia dengan saya, gara-gara menjawab chatting dengan singkat. Jujur saja, dua hari yang lalu saya juga merasa heran kenapa tiba-tiba saya sangat emosional, dan mulai berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya. Jangan-jangan dia sudah punya pacar baru, jangan-jangan dia sudah ada yang melamar. What should I do?! Rupanya pula, my hunch tidak sepenuhnya salah. Semalam, ia memberitahu saya bahwa ada salah satu peserta kursus yang menyatakan sebuah proposal cinta terang-terangan kepadanya. Oh God. Dia memang tidak serta merta mengiyakan proposal itu, sambil mengutip tulisan saya di blog ini, "bagaimana mungkin kita mencintai orang yang tidak kita cintai sama sekali!" Namun ia juga tidak berkata tidak. Proposal yang ia terima lumayan bagus, masuk akal dan memiliki masa depan, dan itu membuat saya tertantang. Saya seakan menghadapi sebuah permainan baru yang memaksa saya untuk bertindak dengan cepat dan tepat. Maka sepanjang malam itu, kami pun berdiskusi panjang lebar tentang cinta.

Kenapa kita manusia menikah? Adakah cinta yang murni itu? Bisakah kita hidup hanya dengan cinta? Apabila ada orang yang menikah bukan karena cinta, bisakah pernikahan itu berakhir bahagia seperti pernikahan yang berlandaskan cinta? Sungguh, tidak ada pertanyaan sesulit itu. Saya tidak dapat menjawab semua pertanyaannya, tapi juga tidak mau semua harapan saya hilang begitu saja. Maka setelah perbincangan hampir 4 jam itu berakhir, dan ia telah meminta izin untuk tidur, saya pun segera meraih telepon genggam saya dan menulis sebuah pesan singkat ke nomor hp-nya.

    "I just thought, what if I made a kind like proposal to you. Not too fancy, but I think it will be works well. What's in your mind?"

Lama berselang, muncullah balasan darinya.

    "I don't know. I doubt you're choosing me, because of considering your rational thinking. I don't think I'm a good choice for you"

Astaga, ternyata dirinya menganggap pemikiran saya yang terlalu rasional sebagai sebuah penghalang. Saya bingung harus membalas apa. Tapi karena saya memang tidak sepenuhnya rasional, maka saya hanya dapat menjawab kenyataan tersebut, sambil menyatakan bahwa posting-posting saya di blog ini juga tidak sepenuhnya rasional kok.

Penuh canda ia menanggapi bahwa saat menulis itu saya memang sedang tidak lagi rasional. Ah, entahlah. Bagaimana cara saya menjawabnya kembali. Maka saya pun mengakui terang-terang kepadanya bahwa saya berpura-pura rasional dihadapannya. Ups, salah langkah. Ia justru menjawab, "apa lagi kepura-puraan yang ada pada diri saya?" Oh! Akhirnya, saya hanya membalas singkat dalam tiga pesan terakhir.

    "Nothing. I'm just learning you. Not as object, tapi sebagai manusia utuh. Interaktif, but no math. :p"

    "I just learn to love you. *kuharap kamu tidak marah. :)"

Saya tidak tahu apa jawaban yang akan ia berikan. Semuanya kosong. Ia tidak membalas pesan saya yang terakhir itu. Karena galau, saya pun segera mengambil air wudhu dan langsung shalat istikharah. Apakah benar yang telah saya lakukan? Apakah begitu cara yang tepat? Apa saya terlalu terburu-buru? Sungguh saya tidak tahu, dan usai shalat, saya pun hanya bisa mengetik posting ini, berharap ia dapat memahami benar-benar apa yang ada dalam benak, pikiran, dan hati saya.

I just want to say, I really love you.

Amoeba

What if there is no such thing like love in this world. No married, no sex. Just clone yourself, and think nothing.

I just thought if I was an amoeba. What a life.

Tentang Injil

The New Testament of our Lord and Savior Jesus Christ. The common English version, corrected by the final committee of the American Bible Union.
New Testament
Saya baru membaca sebuah ide bagus tentang Injil pada sebuah blog. Tiba-tiba saya teringat dengan tulisan saya sendiri dalam buku yang sampai saat ini belum juga diterbitkan. Karena tidak ingin berdebat tanpa dasar, dan kebetulan pemikiran saya sedang tidak "in" dalam persoalan agama, maka perkenankan saya untuk mengutip tulisan saya sendiri di blog saya. Sebagai informasi Injil jelas sebuah istilah khas al-Quran, dan itu berarti definisinya sangat tergantung pada definisi yang diberikan al-Quran kepada kita. Berbeda dengan kata Bible atau Gospel yang merupakan istilah khas Kristen, sehingga segala definisi yang datang kepada kita tentang kedua kata tersebut bersandar sepenuhnya pada literatur Kristen. Pertanyaan yang paling menggelitik saat ini, bisakah kita menyamakan Bible atau Gospel dengan Injil? Sebuah pertanyaan yang seringkali membuat mereka yang tidak pernah membuka Kitab Suci umat Kristen terkecoh. Untuk lebih jelasnya, berikut ini penggalan pendapat saya mengenai Injil. Selamat menikmati. :)

Mendefinisikan Injil
Kesimpang-siuran pendapat soal Isa tidak terlepas dari perbedaan makna kitab suci dalam ajaran Kristen dan Islam. Kedudukan Injil dalam Dunia Kristen berbeda dari kedudukan Al-Quran dalam kepercayaan Umat Islam. Bagi penganut Kristen, wahyu bukanlah hak prerogatif Isa, karena bagi mereka Isa adalah "anak tuhan", melainkan para Hawariyun yang meraka anggap sebagai rasul. Para Hawariyun inilah yang kemudian menulis buku berisi ajaran, kisah dan perjalanan hidup Isa berdasarkan wahyu yang menginspirasi mereka. Kata Injil sendiri kemungkinan besar merupakan serapan dari bahasa Ethiopia wengel yang memiliki padanan kata dalam bahasa Yunani, evangelion, yang berarti “membawa kabar gembira”. Dalam bahasa Inggris, evangelion ini dinamakan Gospel dan bermakna kumpulan kepercayaan. Gospel terdiri atas empat buku berisi kesaksian tentang Isa yang ditulis oleh: Matius, Markus, Lukas dan John (bedakan dengan Nabi Yahya). Bersama dengan berbagai buku lain, ia kemudian disatukan kedalam sebuah kumpulan tulisan yang bernama Bible. Bible dalam agama Kristen berbeda dari Bible Ibrani, yang merupakan kumpulan kitab suci Yahudi. Bible Kristen biasanya terbagi menjadi dua bagian, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama terdiri dari beberapa pilihan buku yang ada dalam Bible Ibrani, sedang Perjanjian Baru terdiri dari Gospel dan buku-buku pilihan yang ditentukan keabsahannya oleh otoritas Gereja. Bible Katolik dan Protestan memiliki sejumlah perbedaan mendasar tentang isi dan urut-urutan buku yang tercantum di dalamnya.
Sampai disini, kita menghadapi permasalahan yang kompleks berkenaan dengan relasi Injil dengan kitab-kitab yang ada ditangan pemeluk agama Kristen. Paling tidak terdapat empat kemungkinan logis berkenaan dengan masalah ini: (a) Injil merujuk kepada keseluruhan isi Perjanjian Baru–New Testament. (b) Injil hanya merujuk secara khusus kepada Gospel (c) Injil mencakup Perjanjian Baru dan semua kitab yang beredar di Dunia Kristen tapi tidak tercantum di dalam Perjanjian Baru karena dianggap menyimpang dari Ortodoksi atau biasa disebut sebagai apocryphal–menyimpang. (d) Injil tidak merujuk kepada satupun dari buku-buku yang dikenal dalam dunia Kristen. Sebelum menjawab persoalan ini, ada baiknya kita mengetahui pandangan dan definisi Al-Quran terhadap Injil.
Dalam Al-Quran, kata Injil muncul sebanyak dua belas kali yakni pada Q. 3:3,48,65; 5:46,47,66,68,110; 7:157; 9:112; 48:29; 57:27 dan merujuk kepada kitab yang hanya diturunkan Allah kepada Isa. Karena merupakan wahyu dari Tuhan, maka umat Kristen diperintahkan untuk memutuskan suatu perkara berdasarkan petunjuk yang terdapat di dalam Injil. “Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (Q. 5:47). Dalam ayat lainnya (Q. 5:68), bahkan dijelaskan bahwa masyarakat Ahlul Kitab tidak dipandang beragama hingga menegakkan ajaran-ajaran Taurat dan Injil. Kedua ayat ini, bagi sebagian besar ulama ditafsirkan sebagai pernyataan bahwa masyarakat Kristen pada saat itu, mengetahui dengan jelas isi dan ajaran Injil. Di ayat yang berbeda (Q. 3:3), disebutkan bahwa salah satu fungsi dari Al-Quran adalah untuk membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya, yakni Taurat dan Injil. Dengan kata lain, terdapat kesinambungan antara ajaran Al-Quran dengan ajaran Taurat serta Injil.
Definisi Al-Quran tersebut pada mulanya tidaklah bermasalah, hingga kita berhadapan dengan realitas Perjanjian Baru, yang dalam banyak hal sangat bertentangan dengan definisi yang telah dijelaskan tadi. Pertama, Injil dalam Al-Quran adalah perkataan Tuhan yang diturunkan kepada Isa, sedangkan redaksi dan teks dari Perjanjian Baru, termasuk Gospel, lebih menyerupai biografi Isa. Di sini, kedudukan Perjanjian Baru sangat serupa dengan kedudukan riwayat hadits atau sirah dalam tradisi Islam. keduanya mencatat perbuatan dan perilaku Nabi SAW semasa hidup, demikian pula perkataannya. Kedua, Al-Quran hanya mengakui satu Injil dan bukan banyak buku sebagaimana terdapat dalam Gospel atau Bible. Ketiga, kandungan dari Perjanjian Baru banyak sekali yang bertentangan dengan prinsip tawhid, seperti peneguhan doktrin Trinitas atau panggilan Bapak kepada Tuhan. Jika demikian, bagaimana kita menyikapi jurang definisi yang dalam ini?
Mayoritas ulama menganggap, bahwa teks Perjanjian Baru yang ada saat ini telah dikorupsi oleh umat Kristen. Mereka dipandang telah merubah teks Kitab Suci mereka, atau yang dikenal dengan istilah tahrif. Kata tahrif berasal dari akar kata harafa yang berarti merubah sesuatu dari yang semestinya. beberapa sarjana kemudian berbeda pendapat perihal kata tahrif. Sebagian besar menganggap tahrif secara literal, yakni merubah kata dan redaksi kitab suci, sedang lainnya, seperti Thabari dan Ibn Khaldun, mengaggap tahrif sebagai cara penafsiran yang salah atau menyimpang. Kata tahrif sendiri tidak dipakai oleh Al-Quran, sebaliknya yang digunakan adalah kata kerja yuharrifun yang biasa disambung dengan frase al-kalima min ba’d mawadhi’ihi–mengganti kalimat dari tempat yang semestinya, sebanyak tiga kali, pada Q. 5:41,13 dan 4:46. Yang menarik, atribusi tahrif dalam Al-Quran selalu merujuk kepada Taurat dan Bani Israil saja bukannya Injil, sehingga mengatakan bahwa umat Kristen telah melakukan tahrif atas kitab suci mereka bukanlah ide yang memiliki dasar yang kuat dalam al-Quran. Hal tersebut kemudian diperkuat di Q. 2:75-79.
Dari segi historis, buku buku dalam Perjanjian Baru ditulis antara tahun 50 hingga 150 M. Buku-buku tersebut kemudian dikompilasi pada abad ketiga. Di luar Perjanjian Baru, masih terdapat banyak buku lain yang ditulis oleh orang-orang Kristen, yang menyerupai Gospel, tapi tidak diakui sebagai bagian dari Perjanjian Baru. Buku-buku inilah yang dikenal sebagai apocryphal dan menjadi pegangan bagi sekte-sekte Kristen yang tidak diakui oleh ortodoksi. Pada saat Nabi SAW hidup, tidak ada bukti bahwa, Perjanjian Baru atau setidaknya Gospel, telah diterjemahkan kedalam bahasa Arab. Meski demikian, beberapa orang Kristen saat itu, termasuk Waraqah bin Nawfal–sepupu Khadijah, yang mengetahui kenabian Muhammad SAW berdasarkan “Injil”, telah membaca entah Perjanjian Baru maupun apocrypha. Fakta ini, bagi sebagian sarjana dijadikan argumentasi, bahwa yang dimaksud dengan Injil itu adalah keseluruhan Perjanjian Baru dan apocrypha yang keberadaannya mulai terkuak satu persatu oleh penelitian arkeologis.
Tapi menganggap Injil sebagai koleksi berbagai macam buku yang tidak jelas itu, justru menimbulkan lebih banyak kerumitan. Untuk menjembatani masalah ini, beberapa sarjana Barat seperti W. C. Smith memberikan penafsiran, bahwa perkataan Tuhan yang disampaikan kepada Isa lah yang disebut sebagai Injil. Isa kemudian memberitakan perkataan Tuhan ini kepada hawariyun yang kemudian mencatat dan menyusunnya dalam buku yang juga memuat biografi sang nabi. Dengan demikian, isi Injil terefleksi di dalam Gospel, yang mencakup baik biografi maupun ajaran dan perkataan Isa. Pendekatan Smith ini pada akhirnya berkaitan pula dengan sebuah pertanyaan penting yang muncul dikalangan sarjana Kristen, pernahkah Isa menuliskan ajaran-ajarannya sendiri, atau adakah sebuah Gospel yang bernama Gospel Isa?
Sejauh ini, sarjana Bible telah memetakan dan menelaah Perjanjian Baru, untuk menemukan perkataan-perkataan Isa yang asli. Perkataan-perkataan tersebut kemudian diidentifikasi sebagai Q, dari Quelle yang berarti sumber. Namun, Q tidaklah identik dengan Gospel Isa. Dengan demikian, pencarian akan dokumen yang hilang ini masih terus berlanjut. Seiring dengan ditemukannya bukti-bukti arkeologis penting, seperti Naskah Laut Mati yang memberikan penjelasan tentang kehidupan sekte Qumran dan Naskah Naj Hammadi yang mencatat ajaran sekte Gnostik, tampaknya penilaian kita akan validitas Perjanjian Baru, belumlah final. Hal tersebut, pada akhirnya membawa beberapa sarjana kepada kesimpulan radikal, bahwa Injil tidaklah identik dengan Gospel ataupun keseluruhan Perjanjian Baru. Pendapat ini dilontarkan oleh Muhammad Yusuf Ali yang telah menerjemahkan Al-Quran kedalam bahasa Inggris.
Apapun kesimpulan yang kita buat, Al-Quran tetap menganggap orang-orang Yahudi dan Kristen yang ada pada saat ini sebagai Ahlul Kitab. Beberapa orang diantara mereka beriman, sedangkan sebagian besar fasik. Karenanya, Al-Quran menyeru kepada sebuah kalimat persamaan, antara umat Islam dan Ahlul Kitab, yakni kalimat tauhid. Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah". Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". Q. 3:64.
Demikian pemikiran saya tentang Injil, bagaimana menurut anda?

Split Track

When earth loves heaven, there will be someday a split track between them. Either both stays still on their position, or a gap divorces the two to their bottom hearts.

It could be a narrow bridge that catches their soul, but its suspension, vulnerable to fall. Indeed their love is a glue-bridge, that brings these two entities being one. It unites them, until its liquid hardened and freeze. So the glue becomes thinner day by day, at the end its will be broken.

So, how to make these tracks being one? It's either earth that climbs to heaven or otherwise, heaven falls to the earth. Sure, there will be two heavens or two earths then, but not a pair of earth and heaven anymore.

Doodles of Google

I like Google very much, although I don't really know exactly its birthday (boy, you can googling it right now). Yeah, I mean you're not to push to remember everything by its presents on your PC. Just write the web address on your browser and click "enter" (today you even no need to write Google) it just brings what you wants or what's spark in your mind, and voila! In short, Google has succeed to simplifies our world.

One feature I like so much in Google is doodle, an aimless drawing. The word itself sound funny and childish, and indeed the function of doodles in Google's interface are to makes our surfing experiences more enjoyable and fun. doodles always come with unexpected surprise by its fresh colourful theme to commemorate certain events or birthdays of inventor, scientist, famous peoples, and any related subject that shape our modern cultures. Take for example, today's Doodle, in remembrance of 76th birthday of Roger Hargreaves, a novelist and illustrator of children books, which consists of several different illustrative themes:

Frankly speaking, I don't know who Mr. Hargreaves was, nor have reading one of his books, but with doodles dedicated by Google, I just begin to aware on the existence of that person. Sure, Google's doodles are more than a sole doodle. Its has a fresh effect that makes us smile, besides of its shallowness and chit-chat structures that brings us a remembrance of today's event.

Hereby some doodles I really like, due to its versatility, simplicity, and the wow effects:
How about you, do you like Google's doodles? If you do, perhaps you can visit this link and choose which doodles that you really like, or perhaps you can submit your own version of doodles to uncle Google. :p

Hint:
Still don't have any idea, what Mr. Hargreaves' work is? Maybe this picture will help satisfies yours curiosity. Guess what, he was the author of this famous Mr. Men and Little Miss book. Pity me, it wasn't my i(l)literate books when I was boy. :)
 The Marvelous Mr. Men (Mr. Men and Little Miss)

When Pinocchio learned sophism

Shrek the Third (Widescreen Edition)
This is, a scene I like so much in Shrek 3. Its about Pinocchio whom interrogated by prince Charming, as the puppet-boy was well known to can't tell lie, or if he is his nose becomes longer. So it's easier for anybody who wants to pick an information to ask Pinocchio for that valuable answer. Indeed, that's what prince Charming did when he didn't found an answer from Pinocchio's friends. Here's the script, you may love too:





Prince Charming: "You! You can't lie! So tell me puppet... where... is... Shrek?" 
Pinocchio: "Uh. Hmm, well, uh, I don't know where he's not"
Prince Charming: "You're telling me you don't know where Shrek is?"
Pinocchio: "It wouldn't be inaccurate to assume that I couldn't exactly not say that it is or isn't almost partially incorrect."
Prince Charming: "So you do know where he is!"
Pinocchio: "On the contrary. I'm possibly more or less not definitely rejecting the idea that in no way with any amount of uncertainty that I undeniably"
Prince Charming: "Stop it!"
Pinocchio: "...do or do not know where he shouldn't probably be, if that indeed wasn't where he isn't. Even if he wasn't at where I knew he was"

[Pigs and Gingerbread Man begin singing]
Pinocchio: "That'd mean I'd really have to know where he wasn't."  

Well, looks like our Pinocchio has learned the art of sophism, good argumentation and disputes. So he's not afraid anymore to not tell you the untruth. :p


Notes:
  1. the script was taken from here

A Rational Love

Love and Eugenics in the Late Nineteenth Century: Rational Reproduction and the New Woman
Really, my idea doesn't like this book
Once my ex-Marketing Manager told me, that woman's love to a man, endures in only two years. In year one it could be a craziness and blind love, the time when she really loved you all hearted, then by time passed, this drunkenness-month by month, day by day-faded away and at the end, it's all cleared. When all these cloudy emotions gone and the rational side of thought took over, what you'd have is only a very critical eyes asking you a kinda philosophical argumentation: Why did I love you?
"Why did I love you!" 
Errr... it could be a question mark not an exclamation, but in this case it's forgiven to use by the way :) Okay, let's put this sentence in its proper use. Why did I love you?
"Hmm... take a minute". 
"You loved me, because you thought that I loved you. Is this answer acceptable?" 
"Well it could be, but it doesn't answer the question yet, for why should I love a man who loves me? Just because someone loves you, it doesn't mean you should love him either. Isn't it right?"
"Ja, I agree then. Errr... How about my good looking, my irregular way of thinking, my uniqueness, doesn't it explain everything?"
"yup, but its all explains the opposites. Ah, I think you're not that so good". :)
Perhaps those conversation will stuck you one day, when all magically fairy tales of love evaporated. There is no more Mr. Charming in her eyes, no brave-heart savior prince with his steel-horse in her dreams again, and your relationship just begin to freeze and dull. Surely, it's a really bad news to know. But, like another story goes, it's always an exception, and that is a good ones.
"Know you, before these periods of unconsciousness over, you should have to take an advantages from your relationship with her, and that exactly what I did to my wife" explained my ex-Marketing Manager. 
"So, what did you do with her sir?"
"Well, I married her. Frankly speaking I married her before she wake up from her dreamy mind, for it's easier to propose to a woman when they are in such condition"
"Wow. Is it right? Doesn't she realize that it was a fake?"
"I tell you kid, there is no perfect condition in marriage. All you have to do just to recreate your dully love to make the bond lasting. It's everyday struggle to keep the relationship goes, and that's rewarding. See, we are a happy family now, with our lovely three children as the result of mis-guided love, if you agree with my words. Meanwhile, it's not a fake at all, it just a short-thinking."
The Science of Love: Rational Answers to the Irrational Emotions of Adoring, Caring, Longing, and Heartbreak
Is science of love, rational?
Surely, you may not believe all his story, because this Mr.-so called-my ex. Marketing Manager, didn't married her spouse for love. I mean, there could be a kinda engineering in their marriage. You know, he just told his mom to search a bride for him to marry. His mom agreed with her son's quest and found a matching girl to be married. He therefore agreed with his mom's choice, and voila, they became husband and wife. But who knows his definite feeling to his wife, even I myself don't really know about that. So, let's take his statement that he loves his wife a sole truth, for we can't proof the opposite.

I think I've been deviated, so before we begin to get rid of the theme, let's back again to main focus of this writing. Can we say that the drunkenness to love is an exceptional condition which categorized as normal? So, everything happened within this condition, such taking any advantages from your relationship, are counted as they were and not morally hazardous. The reason behind, because there are no normal condition when someone fall in love, then everything regarded as abnormal when you fallen in love to your girlfriend for example, would be counted as a normal behaviour. Is it right?

Actually, I don't know if the statement is true. But to make this normally abnormal question sound dramatic, perhaps we can philosophizing it little. How about this, is there something like rationality in love? Or simply, is there a rational love? I mean, a love which doesn't acknowledges any kind of drunkenness and craziness. A love which makes you thinking clearly about your motives, and every reason that made you love the girl. A love that doesn't makes you regret with your choice, because everything are measurable, accountable, and open. Uhm... have you ever try to love someone with this kind of love? Or, maybe still confusing with the definition.
"Honey. Why could you love a man like me? A jobless, bad looking, rather lazy, and a pathetic personality."
"Honestly my dear, I never think like that.  I'm just loving you, and that is true".
"My love, please try to think rationally. Love is unbelievable, so why should you trust it."
"If it's what you asking for, very well. From now on, I'd think rationally, and according to my rational mind, it's very hopeless to keep our relationship works. Don't you mind if we end it up and behave like no lover?"
"Oh honey, you so wonderful. We can now live in our rational love!"
"Please don't call me honey anymore, for I don't love you again"
A Rational Romance
What's in your Mind?
"?"