Proposal Cinta

Saya tidak tahu berapa kali saya "menembak" perempuan-eee, bukan menembak secara harfiah dengan pistol dan senapan ya, tapi secara figuratif. Menyatakan cinta langsung pada orang yang saya anggap mau menerima cinta saya. Pertama kali, saat masih cinta monyet, duduk bersama di serambi rumahnya dan berbicara ngalor ngidul sebagai pembukaan yang sangat buruk. Hasilnya, saya bahkan tidak mampu mengucapkan kata itu sepatah kata pun. Mungkin si dia bingung dengan bahasa saya yang melompat-lompat campur aduk sok ilmiah, hingga berakhir pada kesimpulan. "eh sudah sore, kamu gak pulang ya?" D'oh!

Kali kedua, dengan perempuan yang berbeda, saya mencobanya melalui telepon. Menanyakan kabar apakah kamu sehat-sehat saja, bagaimana pekerjaan di kantor, bingung ga? Jawabannya sangat santai, terlalu jelas, dan sangat lancar. Anehnya, justru itulah yang membuat saya bingung. Maka kesempatan satu-satunya dengan menelpon dari tempat yang saya pikir tidak ada kesempatan bagi orang lain untuk mendengar dan menyadap pembicaraan super rahasia itu, lemari, tidak kesampaian. Maka alih-alih mengucapkan kata sakti itu, saya malah secara sembrono bilang, "besok kayaknya saya tidak masuk kantor deh, agak demam nih malam ini". Si perempuan yang ingin saya tembak itu langsung mengiyakan, mengucapkan doa singkat, dan menutup telpon, "selamat malam".

Ah sesusah itukah cara mengucapkan cinta? Sungguh saya memang benar-benar buta soal itu. Tapi dari dua pengalaman gagal pertama tersebut, saya justru belajar bahwa "the proposal" jelas bukan awal dari segalanya. Seperti yang dikatakan bos saya, survey, survey, dan survey! Kita harus menguasai medan, mengerti seluk beluk persoalan, dan mampu memberikan solusi yang benar-benar tepat. Wow, seperti sedang menghadapi medan tempur saja. Trust me, it's more war-like. Saying love is a point where you decide to make your stand clear. Not a friend, or foe, enemy, but as partner in love. So, why don't you invest much time and effort to make your decision right.

Belajar dari nasehat sederhana itu, saya pun menghabiskan waktu yang cukup lama untuk mengenal dan mengetahui seluk beluk kehidupan perempuan ketiga yang berusaha saya tembak. Barangkali ada setahun saya mempelajarinya, meski hasil yang didapat sangatlah sedikit. Namun usaha yang lambat itu ternyata membuahkan hasil. Pada suatu malam, lewat tukar SMS dan email, akhirnya saya dapat mengatakan cinta pada seorang perempuan untuk pertama kalinya. Ah, tentu kamu akan mengerti rasanya bagaimana jatuh cinta. Swing your mood to its highest point, blooming your heart, cherish face, and everything so wonderful and colorful. Ternyata saya bisa!

Sayangnya, semua jerih payah itu tidak seindah yang dibayangkan. Semakin lama semakin mengenal kepribadiannya, maka semakin jauh juga saya dari kepribadian yang saya miliki. Tentu saja, saat kamu mengatakan cinta pada orang yang kamu cintai, kamu membutuhkan lebih banyak pengorbanan untuk menyesuaikan ritme hidupmu dengan ritme kehidupan yang ia miliki. Membiasakan diri melihat segala suatu dari sudut pandang dia, dan itu berarti mengorbankan beberapa sisi liar yang seharusnya ada di dalam hatimu. Singkat kata, gaya hidup dia benar-benar tidak sesuai dengan gaya hidup yang saya miliki.

Maksud saya, tentang visi kedepan. Tentang bagaimana kita di masa depan. Antara aku dan dia hanya ada jurang yang menganga yang semakin lama semakin dalam.  Awalnya, saya sempat berpikir bahwa alienasi itu hal yang lumrah. Namun kenyataannya, semakin saya jujur dengan diri saya, maka semakin tersiksa juga pikiran dan perasaan saya. Saya membayangkan kami sebagai Zeus yang menikahi Leda. Tentang langit yang jatuh hati kepada bumi, yang memerangkap dirinya dalam keindahan-keindahan tanah yang semakin lama semakin gelap. Hingga tidak bisa lagi kau temukan awan putih yang menemani langit, atau kicauan burung yang hinggap di atas hijaunya pohon. Ia hanyalah kuburan yang memerangkap malam dan mengusir mentari.

Ah, saya benar-benar tidak mampu mengatakannya. Dan semua yang telah saya coba bina selama setahun lebih, binasa dalam waktu yang sangat singkat. Saya selalu bersyukur, bahwa bukan saya yang mengucapkan perpisahan itu. Meski selama hampir dua tahun saya mencoba untuk menetralisir semua kenangan terindah yang pernah kami miliki. Ya, dua tahun. Saya selalu berpikir untuk tidak menikah. Tidak berhubungan dengan wanita, dan menarik diri dari perlombaan mencari gen yang tepat. Tidak ada yang saya mau. Bahkan tawaran dari pengurus masjid yang mencoba menjodohkan anaknya dengan saya, tidak saya tanggapi dengan serius. Hanya datang, berkenalan sebentar, lalu kosong.

Tentu saja banyak tekanan yang harus saya dapatkan. Mulai dari tante saya (dulu suaminya juga pernah memperkenalkan saya dengan kemenakannya yang lain, tapi saya masih menutup diri kala itu) yang menyuruh cepat-cepat menikah, atau omongan ibu saya yang sangat bawel jika berhubungan dengan masalah itu. Seakan-akan cuma dia satu-satunya ibu di dunia yang belum menggendong cucu. "Oh!" Sebagai anak pertama, dan cucu pertama di keluarga besar ibu dan bapak, yang memiliki selusin adik dan sepupu yang mengharapkan agar si sulung ini segera pecah telur agar yang lainnya langsung menyusul, jelas posisi saya benar-benar tidak menguntungkan. Dan cara terbaik untuk menghilangkan itu semua, cukup dengan menganggap bahwa mungkin saya memang belum layak untuk menikah. "So what?" Silahkan saja melangkahi kalau mau, toh saya tidak keberatan. Tapi dasar orang Jawa. Mereka mungkin menganggap yang satu itu yang harus pecah terlebih dahulu. Soal sisanya akan saling menyusul atau tidak, itu urusan lain.

Dalam keadaan hampa udara ini, akhirnya saya cuma bisa berdoa. Kebetulan kala itu saya memiliki tiga opsi. Pertama, kembali ke perempuan sebelumnya. Kedua, dengan anak pengurus masjid. Ketiga, dengan perempuan yang belum pernah saya temui tapi sudah menjalin persahabatan cukup lama di dunia maya. Opsi pertama ternyata gagal, karena yang bersangkutan sudah menjalin cinta lagi dengan lelaki lain, dan setelah gagal dengan lelaki itu, kini menjalin cinta lagi dengan lelaki baru (wow, kalau ditotal mungkin mantan pacarnya ada lima, belum termasuk saya! Hehehe). Opsi kedua, saya coba dekati melalui SMS. Tapi sejak pertama kali SMS saya kirim ke nomor hp-nya tidak pernah sekalipun ia membalas. Usut punya usut, ternyata ibu saya salah memberikan nomor hp perempuan itu, dan kesalahan tersebut baru saya ketahui dua bulan setelah SMS pertama saya kirimkan. Itu pun setelah saya dengan susah payah melacak keberadaan akun facebook-nya. Hehehe...

Opsi ketiga sebenarnya tidak terlalu menggembirakan. Saya mungkin tertarik dengan caranya bertutur, kemampuan berbahasa dan berpikirnya yang baik serta runut, atau senyum manisnya yang lebar itu. Namun, satu hal yang paling mengganjal saya adalah, ternyata ia sudah memiliki pacar. Sebagai orang yang juga putus karena pengaruh orang ketiga, terus terang saya tidak berani mengusik hubungan mereka. Saya benar-benar menghormati orang yang ia cintai. Lagi, setelah saya melihat foto-foto pacarnya di FB, saya sempat bergumam, jika karakter yang bersangkutan lumayan baik kok. Jadi saya benar-benar tidak punya alasan kuat untuk masuk kedalam kehidupan mereka secara membabi buta. Jadi saya pikir, opsi ketiga ini benar-benar tidak dapat diandalkan.

Entah kenapa, setelah tiga pilihan itu saya panjatkan ke Tuhan, tiba-tiba saya terkejut dengan sebuah posting di blog perempuan ketiga ini. Ternyata dia benar-benar putus dari pacarnya! Memang tidak langsung terjadi seperti dalam sinetron Islam KTP yang hanya dalam hitungan detik semua doa langsung terkabul.  Butuh sebulan lebih bagi doa itu untuk bekerja-jika kita benar-benar mau menggunakan istilah tersebut. :) Tapi sungguh, yang saya lihat itu bukan khayalan di mata saya. Semuanya benar-benar terjadi.  Ah, ternyata saya masih belum juga mau percaya. Maka kupikir kenapa tidak meminta Tuhan untuk mempertemukan kami berdua, face to face, empat mata? Sebuah permintaan yang kupikir mustahil karena jarak dan laut yang memisahkan kami berdua.

Tapi memang tidak ada yang mustahil sih-sekali lagi jika kita benar-benar mau menggunakan istilah tersebut. Dan ya, semuanya memang tidak berjalan dengan lancar. Hanya entah kenapa, kok bisa-bisanya si perempuan ketiga ini mengirim sebuah email ke saya meminta kiat-kiat menulis buku. Dengan senang hati saya berikan semua hasil karya saya kepadanya, sambil bertanya, "punya alamat YM tidak?" Dan begitulah saudara, hari-hari chatting kami berdua dimulai. Ya, saya selalu menganggapnya sebagai perempuan berpendidikan, yang haus akan pengetahuan. Jadi saya memulai semua chatting entah dengan diskusi sebuah persoalan teoritis, atau membicarakan pemikiran-pemikiran dia tentang segala hal. Dan semuanya berjalan dengan sangat perlahan dan lamban.

Hingga suatu ketika, saya teringat kembali dengan permintaan saya ke Tuhan. Jika bisa membuat kami berkomunikasi, maka bisakah Engkau membuat kami bertemu? Kembali, saya mendapat jawaban. Ternyata si perempuan ketiga ini benar-benar datang ke Jakarta hendak mengurus ijazahnya waktu kuliah. Apa ini sebuah kebetulan? Entahlah, saya kadang terlalu pesimis dengan doa. Kupikir, Tuhan kan tidak pernah berhutang apa-apa pada saya, jadi buat apa Dia menjanjikan sesuatu yang saya minta. Tapi apa memang begitu cara Tuhan berpikir? Atau, jika Dia memang tidak memiliki hutang apapun, buat apa Dia mengabulkan permintaan banyak manusia di muka bumi ini? Ah, pemikiran yang benar-benar absurd. Satu yang tidak absurd hanyalah, ternyata kami benar-benar bertemu!

Kala itu, di perpustakaan Freedom Institute, untuk pertama kalinya saya bertemu dengan perempuan ketiga ini. Wow, she's so wonderful! Lebih manis dari yang ada di foto, meski agak terlalu kurus. Dan saya, terlalu kucel, dan agak kotor. Kontras sekali dengan caranya berpakaian yang ya, respectable. Karena grogi, jadilah saya menampilkan komputer saya si Julia sebagai bahan perbincangan. Tidak terlalu menarik sih, tapi saya kira cuma kami berdua saja yang membuat seantero ruang perpustakaan membisu. Maaf ya, maaf jika pembicaraan kami mengganggu kekhusyukkan kalian dalam membaca. Hehehe...

Dari pertemuan pertama, ia kembali lagi ke kota asalnya, dan kupikir itu yang pertama dan terakhir kalinya kami bertemu. Namun semua berubah tatkala ia memberi kabar untuk kembali lagi ke Jakarta belajar bahasa asing. Ah, ternyata saya punya kesempatan untuk melakukan itu lagi. Sambil terus mempelajari dirinya, saya pun mulai kembali membangun sisa-sisa harapan yang dulu hendak saya bangun dan gagal. Tentang masa depan yang dulu hilang begitu saja, tentang harapan yang bersinar kembali, tentang karir baru yang meski dengan seberapapun kecil gaji yang saya terima tapi tetap saya niatkan untuk ditabung. Tentang kehidupan yang kembali kehadapan saya: asuransi, jaminan sosial, kartu ATM yang kembali berfungsi, dan tentu saja zakat. Yah, akhirnya saya bisa mendapatkan "hidup" saya kembali.

Mengatakan dekat secara geografis akan memudahkan kita dalam mengenal lebih dekat dengan seseorang ternyat salah. Kedekatan saya dengan si perempuan ketiga ini saat di Jakarta sangat berbeda dari saat ia berada di kota asalnya. Tentu saja saya agak frustasi. Meski telah memiliki nomor hp-nya, tapi saya masih ragu untuk melakukan komunikasi intens dengannya. Pun, chatting kami di YM makin lama makin berkurang, dan kembali rasa ragu itu bersemayam di dada saya. Apakah yang saya lakukan ini benar atau salah, tahukah dia apa yang saya rasakan? Apakah saya benar-benar harus mengatakan itu? Terusterang, saya tidak pernah mengatakan secara langsung bahwa saya menyukai dirinya. Saya berusaha untuk tidak membuatnya tersinggung atau marah, atau kemungkinan lain yang justru membuat segalanya menjadi gagal. Saya ingin membangun sebuah fondasi cinta yang solid, membuatnya sealamiah mungkin dan mengalir semurni mungkin. Tapi ah, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Tepat ketika saya mulai merasakan rindu untuk bertemu dengannya, saat itulah ia mulai memberitahukan saya sesuatu yang membuat saya sangat terkejut.

Malam ini, ia bercerita tentang kisahnya dua hari yang lalu. Tentang betapa jengkelnya ia dengan saya, gara-gara menjawab chatting dengan singkat. Jujur saja, dua hari yang lalu saya juga merasa heran kenapa tiba-tiba saya sangat emosional, dan mulai berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya. Jangan-jangan dia sudah punya pacar baru, jangan-jangan dia sudah ada yang melamar. What should I do?! Rupanya pula, my hunch tidak sepenuhnya salah. Semalam, ia memberitahu saya bahwa ada salah satu peserta kursus yang menyatakan sebuah proposal cinta terang-terangan kepadanya. Oh God. Dia memang tidak serta merta mengiyakan proposal itu, sambil mengutip tulisan saya di blog ini, "bagaimana mungkin kita mencintai orang yang tidak kita cintai sama sekali!" Namun ia juga tidak berkata tidak. Proposal yang ia terima lumayan bagus, masuk akal dan memiliki masa depan, dan itu membuat saya tertantang. Saya seakan menghadapi sebuah permainan baru yang memaksa saya untuk bertindak dengan cepat dan tepat. Maka sepanjang malam itu, kami pun berdiskusi panjang lebar tentang cinta.

Kenapa kita manusia menikah? Adakah cinta yang murni itu? Bisakah kita hidup hanya dengan cinta? Apabila ada orang yang menikah bukan karena cinta, bisakah pernikahan itu berakhir bahagia seperti pernikahan yang berlandaskan cinta? Sungguh, tidak ada pertanyaan sesulit itu. Saya tidak dapat menjawab semua pertanyaannya, tapi juga tidak mau semua harapan saya hilang begitu saja. Maka setelah perbincangan hampir 4 jam itu berakhir, dan ia telah meminta izin untuk tidur, saya pun segera meraih telepon genggam saya dan menulis sebuah pesan singkat ke nomor hp-nya.

    "I just thought, what if I made a kind like proposal to you. Not too fancy, but I think it will be works well. What's in your mind?"

Lama berselang, muncullah balasan darinya.

    "I don't know. I doubt you're choosing me, because of considering your rational thinking. I don't think I'm a good choice for you"

Astaga, ternyata dirinya menganggap pemikiran saya yang terlalu rasional sebagai sebuah penghalang. Saya bingung harus membalas apa. Tapi karena saya memang tidak sepenuhnya rasional, maka saya hanya dapat menjawab kenyataan tersebut, sambil menyatakan bahwa posting-posting saya di blog ini juga tidak sepenuhnya rasional kok.

Penuh canda ia menanggapi bahwa saat menulis itu saya memang sedang tidak lagi rasional. Ah, entahlah. Bagaimana cara saya menjawabnya kembali. Maka saya pun mengakui terang-terang kepadanya bahwa saya berpura-pura rasional dihadapannya. Ups, salah langkah. Ia justru menjawab, "apa lagi kepura-puraan yang ada pada diri saya?" Oh! Akhirnya, saya hanya membalas singkat dalam tiga pesan terakhir.

    "Nothing. I'm just learning you. Not as object, tapi sebagai manusia utuh. Interaktif, but no math. :p"

    "I just learn to love you. *kuharap kamu tidak marah. :)"

Saya tidak tahu apa jawaban yang akan ia berikan. Semuanya kosong. Ia tidak membalas pesan saya yang terakhir itu. Karena galau, saya pun segera mengambil air wudhu dan langsung shalat istikharah. Apakah benar yang telah saya lakukan? Apakah begitu cara yang tepat? Apa saya terlalu terburu-buru? Sungguh saya tidak tahu, dan usai shalat, saya pun hanya bisa mengetik posting ini, berharap ia dapat memahami benar-benar apa yang ada dalam benak, pikiran, dan hati saya.

I just want to say, I really love you.

1 komentar:

  1. heheheee...ketawa baca blog ini, lucu & seru! *tulisannya menghibur*

    BalasHapus