Revisi

Dalamnya laut bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tahu.

Begitu kira-kira bunyi pepatah untuk menggambarkan bagaimana susahnya menebak isi hati seseorang, terlebih jika orang tersebut adalah perempuan. Ya, untuk urusan yang satu ini terus terang saya belum dapat benar-benar memahaminya. Walaupun pergaulan saya dengan perempuan semakin lama semakin bertambah, entah di kehidupan nyata maupun maya, tapi membaca isi hati seorang perempuan jelas bukan perkara yang mudah.

Saya jadi teringat beberapa minggu sebelum putus dengan my ex, saat hujan deras dan kebetulan saya sedang tidak enak hati, SMS dan telepon darinya sengaja tidak saya jawab. Saya berpikir untuk sedikit cooling down dengan tidak memikirkan apa-apa termasuk dirinya. Mungkin karena putus asa, ia justru mengirimkan SMS terakhir yang menanyakan apa saya benar-benar ingin mengakhiri hubungan dengannya (bukan pertanyaan sih, tapi lebih mirip pernyataan). Karena saya memang tidak ingin mengakhirinya, barulah saya jawab SMS tersebut dengan langsung menelpon dirinya, bahwa saya sama sekali tidak berniat untuk melakukan hal tersebut sambil berusaha menenangkan hati dan meyakinkannya. Syukur, ia paham dan masalah pun kami anggap selesai.

Rupanya saya tidak benar-benar mengerti isyarat yang hendak disampaikan. Belum sampai seminggu, setelah telepon panik tersebut, ia justru benar-benar memutuskan hubungan dengan saya. Ya, tentu saja ada beberapa tutur kata dan percakapan kami yang tidak akan saya publish di posting ini hehehe... tapi satu hal yang ingin saya sampaikan adalah, ternyata, apa yang kita tangkap dari sebuah pernyataan yang mirip pertanyaan tadi (dengan menganggap bahwa sayalah yang akan mengakhiri semuanya) justru benar-benar terjadi. Meski posisinya telah berubah. Bukan saya yang memutuskan hubungan itu, tapi justru dirinyalah sendiri yang melakukannya.

Lalu, apa hubungan antara kilasan memori ini dengan pepatah yang saya cantumkan di awal tulisan tadi? Well, percaya atau tidak, semestinya kita memang dapat mengukur dan mengetahui isi hati seseorang. Tentu saja, cara mengetahui isi hati itu berbeda dari cara kita mengetahui dalamnya laut-yang dilakukan dengan menenggelamkan bola timah yang dikaitkan pada setambang tali, atau menggunakan perangkat sonar. Cara kita mengetahui isi hati seseorang tidak lain dan tidak bukan adalah dengan menganalisis bahasa dan percakapan yang ia lakukan. Dalam bahasa kerennya, Conversation Analysis, atau setelah dimodifikasi menjadi Discourse Analysis. Metodologi yang digunakan dalam studi etnik dan sosial yang menggabungkan kajian lingustik, antropologi, dan psikologi untuk mempelajari sebuah percakapan.

Ah, rasanya tidak asyik jika saya membahas term ilmiah tersebut dalam posting singkat ini. Yang ingin saya sampaikan hanyalah, seandainya saya bisa mendayagunakan teknik ilmiah tersebut, barangkali saya bisa mengetahui maksud sesungguhnya dari pernyataan atau pertanyaan si ex itu. Implikasi praktisnya jelas, saya dapat meminimalisir efek merugikan yang seandainya muncul dari percakapan kami. Sayangnya, saat itu saya belum mengenal CA dan DA, pun setelah mengenalnya juga tidak benar-benar bisa mengaplikasikannya, kecuali jika saat itu saya tengah berada di ruang penyadapan CIA yang dilengkapi alat-alat canggih untuk menganalisis intonasi suara, konsistensi ujaran, atau hal-hal lain yang dapat mengetahui secara presisi emosi seseorang, lengkap dengan seorang pengamat dan penasihat yang secara live memberikan instruksi-intruksi teknis mengenai kata-kata apa yang seharusnya saya sampaikan kepadanya. Hey, hey, hey, saya kan bukan secret agent! :)

Lepas dari segala kekurangan dan pemikiran aneh tersebut, sepertinya saya masih juga belum bisa mengetahui kelanjutan dari proposal cinta yang saya sampaikan beberapa hari yang lalu, atau kalau ingin matching dengan judul posting ini, saya masih belum tahu isi hatinya itu. Memang, kami telah bertukar SMS dan kembali chatting dengan intens, tapi tidak ada satupun dari pesan-pesan yang ia sampaikan itu yang secara langsung dan terang-terangan mengindikasikan, entah penerimaan atau penolakan terhadapa proposal saya itu. Apakah saya harus mengajukan proposal tambahan, melengkapi detilnya, atau apa? Sampai tahap ini, saya masih berusaha menganalisis kalimat-kalimat yang ia sampaikan, tapi dengan segala hormat wahai akal sehatku, kok ya rasanya tidak tepat saja melakukan kajian yang benar-benar rasional dan ilmiah saat kita tengah dimabuk asmara. yes, I really stuck now.

Seharusnya sih, saya datang langsung kepadanya sambil mengatakan hal tersebut secara terang-terangan dihadapannya dan menunggu, entah baik atau buruk keputusan yang bakal ia ambil. Hanya saja, nasib sampai saat ini belum berpihak kepada saya. Saat seharusnya saya libur, justru ia masuk, dan saat dirinya yang libur, eh saya yang harus masuk kantor dan bekerja sepanjang hari. Pun ada beberapa periode dimana saya berusaha hendak menghubunginya atau mengirimkannya pesan, tapi tidak ada yang ia angkat atau jawab. Ah, saya benar-benar di posisi yang sangat sulit, terlebih jika mengkaitkannya dengan pesaing yang memiliki peluang yang jauh lebih besar dan probabilitas yang lebih tinggi dibandingkan saya (efek dari mendalami analisis SWOT kali ya). :(

Satu-satunya hal yang membuat saya optimis hanyalah kesediaan dia untuk mengoreksi posting-posting saya yang berbahasa Inggris itu yang menurutnya benar-benar membuat dirinya geregetan (waktu saya tanya apakah saya tidak membuatnya geregetan, dia justru balik bertanya, are you playing comedy romantic? D'oh!-repot juga berhubungan dengan perempuan pintar. Hehehe...) Dan begitulah, dia benar-benar serius dengan perkataannya tersebut, atau lebih tepat tulisannya. She offered herself as private English grammar teacher to me!

Sebagai langkah awal, saya kirimkan salah satu posting saya yang berbahasa Inggris kepadanya. Beberapa jam kemudian, ia mengirimkan hasilnya yang membuat saya tersenyum sekaligus tertawa sendiri betapa kacau grammatika Inggris saya (pantas bu Imelda tidak pernah mengomentari tulisan saya yang berbahasa Inggris, jangan-jangan juga membuat kepalanya pusing tujuh keliling kali ya hahaha...). "Di atas past tense, trus tahu-tahu ini jadi “becomes”. Padahal masih dalam bentuk lampau bukan? Use “became” instead", tulisnya mengomentari ketidakkonsistenan saya dalam menggunakan tenses. Dan ketika saya menggabungkan dua kata, but dan still, dengan serta merta ia langsung mengomentari, "pada dasarnya sih but dan still itu artinya sama saja :D coba lihat kamus di bagian still. Jadi ini redundant :)". Oh begitu ya.

Terus terang, meski tulisan saya banyak sekali ia corat-coret dan komentari, tapi justru hal tersebut membuat saya senang. Belum pernah seorang pun yang mengkritik penggunaan tata bahasa dalam tulisan saya sedemikian detil dan "sadis" kecuali dirinya. Wow. Saya pun dengan suka cita menulis revisi dari posting saya tersebut dan mengirimkannya kembali kepadanya. Itu pun masih juga ia komentari.

"i'm still bothered with the word miniaturized. kl di kamus itu bukan verb, tapi adjective. jadi lebih tepat 'a miniaturized thought'. Tapi ya ggp sih, sekali2 break the rule :p"

Akhirnya... :)

Bisakah kita dengan serta merta menganggap segala bentuk perhatian itu sebagai sebuah afirmasi atas proposal yang telah saya kirimkan kepadanya? Menghubungkannya dengan kemampuan seseorang memberikan yang terbaik kepada orang yang ia cintai. Tapi bagaimana jika perhatian itu hanyalah sebuah distraction, bahasa halus untuk mengatakan, oke hubungan kita hanya sebatas ini saja lho dan tidak lebih. Entahlah, saya benar-benar buntu dalam hal ini, dan tidak benar-benar tahu isi hatinya, karena semua bukti yang dapat saya amati sama-sama memberikan petunjuk yang sama kuatnya. Laksana pertarungan tanpa henti antara sikap pesimisme dan optimisme dalam pikiran rasional saya. Apa harus saya revisi kembali proposal cinta itu? Jika iya, apa yang seharusnya dilengkapi, dan apakah ia benar-benar akan menerima revisi tersebut?

O dear, how about this. You guide me for grammatical mistakes in English and maybe some basic French, and I in turn teach you Arabic. Deal? :D

Ah, I'm always learning you.

1 komentar:

  1. hahahaaaa...*i can't leave this page*
    women r always complicated :p

    BalasHapus