Menjadi 30

Apa bagusnya mencapai umur 30 tahun? Well, jika kamu hidup di Inggris pada Abad Pertengahan, itu berarti kamu telah mencapai batas terakhir dari usia harapan hidup yang dicapai rata2 penduduk Inggris pada masa tersebut. Atau jika kamu tinggal di Swaziland saat ini, berarti tinggal 1,8 tahun lagi dan kamu akan melampaui batas harapan hidup di negara Afrika itu. Lain halnya apabila kita membandingkan dengan usia harapan hidup di negeri ini yang berada pada kisaran 71.8 tahun, maka bisa dikatakan bahwa kamu telah menjalani 41% usia harapan hidup rata-rata penduduk Indonesia di tahun 2009.

Sungguh, pencapaian ini tidak benar-benar buruk. Apalagi jika kita menghitung jumlah sperma yang harus mati saat proses pembuahan diri kita berlangsung, belum ditambah yang mati sia-sia di luar waktu pembuahan. Kita mungkin akan berpikir, bahwa keberadaan kita benar-benar sebuah anugerah diantara kemubaziran potensi hidup yang disediakan Tuhan (atau alam, jika anda benar-benar agnostik dan ateis) di alam semesta ini. You have been elected to live and experience this wonderful world. Life then in itself is a grace.

Sayangnya, pemikiran perenial ini tidak serta merta menjadi hawa penyejuk. Evolusi ras manusia dan peradaban selama ratusan ribu tahun tidak mengajarkan kepada kita statistik agung tadi sebagai sebuah barometer dari kata baik. Kita pun dipaksa oleh arsip-arsip zaman yang melekat di memori kolektif kita untuk menjawab pertanyaan yang menyulitkan dan tendesius. Berapa saldo di rekeningmu saat ini? Siapa yang akan kamu ajak untuk tinggal di rumah baru yang belum kau buat itu? Kapan ibu menjadi seorang nenek? Sekarang gabungkan pertanyaan-pertanyaan sosial tadi dengan pertanyaan idealis macam: Kamu hidup selama tiga puluh tahun di bumi ini, lalu apa? Jutaan dan miliaran manusia di bumi juga pernah merasakan hidup pada usia tersebut, maka apa yang membuat kamu berbeda dari mereka? Dan keluarlah sekian checklist yang membuat segalanya jadi tampak runyam.

Tentu bukan salah kita apabila masyarakat dan orang-orang terdekat mempertanyakan checklist standar tadi. Tanpa mengabaikan fakta bahwa setiap kita memiliki jam biologis yang sangat terbatas (macam umur reproduksi perempuan yang berakhir di pertengahan 30-an atau menjelang 40, dan kemampuan memproduksi sperma yang terus menurun hingga usia 60-70 pada laki-laki), semua kecemasan yang kita alami adalah hasil konstruksi sosial dimana kita hidup. Siapa suruh usia harapan hidup masyarakat dahulu sangat rendah, yang menyebabkan mereka telah berkeluarga bahkan pada usia yang sangat dini. Seandainya saja rata-rata penduduk Indonesia di masa lalu hidup hingga usia 100 tahun, mungkin mereka masih menganggap umur tiga puluh sebagai masa-masa puber remaja belaka?--pemikiran absurd. Abaikan saja.

Apa yang hendak saya sampaikan adalah, tidak semua orang menganggap "kebutuhan" sosio-biologis tadi sebagai prioritas utama dalam hidup mereka. Memang akan sangat naif jika kita mengabaikan semua faktor alam dan lingkungan tadi, karena bagaimanapun juga perasaan dan emosi yang kita alami setiap harinya dipengaruhi baik oleh kondisi sosial maupun biologis tubuh kita. Kita dipengaruhi hormon-hormon dalam tubuh kita sendiri yang hadir, entah karena faktor internal, seperti siklus hormonal, maupun faktor eksternal, macam interaksi dengan orang lain yang memicu sekresi hormon-hormon tertentu dalam tubuh kita. Jika kondisi ini merupakan keumuman, maka satu-satunya hal yang menjadi penghalang atau bemper yang membuat segalanya menjadi lebih "berkelas" dan membedakan kita antara satu dengan lainnya, hanyalah pendidikan dan latihan yang kita peroleh.

Lalu apa sebenarnya, makna hidup di usia ketigapuluh tahun ini? Berdasarkan kriteria apapun yang patut disematkan, tampaknya saya belum mampu memiliki sebuah kehidupan yang benar-benar "normal" di awal dekade ketiga kehidupan saya di planet bumi. First thing first, I am still single. Kedua, saya masih hidup menumpang--that is embarrassing. Ketiga, belum ada satupun karya yang berhasil saya hasilkan--huh. Terdengar pesimis? Tidak juga. Terlebih jika membacanya berdasarkan konteks kehidupan saya yang sangat tidak hebat itu. Alasannya, karena pada akhir 29, saya berhasil meraih "kehidupan" yang sempat hilang dan saya abaikan selama 1,8 tahun. Memang bukan pekerjaan yang pantas dibanggakan, namun setidaknya saya memiliki tabungan yang lumayan dari hasil jerih payah selama ini.

Kedua, indikator kesehatan saya lumayan baik. Berat badan yang sangat berlebihan pada tahun kemarin, perlahan-lahan menunjukkan tren menurun dan bergerak ke arah ideal, sedang kebugaran badan saya juga mulai meningkat. Di tahun ini pula saya mulai belajar renang kembali dan memiliki kemajuan lumayan bagus. Setidaknya sekarang saya bisa mengambang dan renang gaya bebas untuk pertama kalinya, meski hanya dengan satu tarikan nafas saja. Untuk tarikan nafas selanjutnya masih belum bisa. :) Benar kata sebuah situs, swimming is about technic, technic, and technic! Dan saya selalu belajar memperbaiki teknik renang saya.

Isu selanjutnya adalah urusan mencari gen terbaik untuk dipasangkan dengan gen yang saya miliki. Rupanya saya memang tidak bisa mengacuhkan tuntutan biologis satu ini, meski tidak serta merta membuat segalanya menjadi mudah, sebagaimana perjalanan cinta saya yang jatuh bangun di pertengahan kedua periode dua puluhan. The important thing is, I still fall in love to a woman, and it's obvious. Semoga saja dia mau menerimanya. I really feel quite optimistic with this matter, even if the sign still come to me in its blurry message. Still, I have hope and faith in God. Mungkin karena itulah banyak orang yang menganggap pernikahan sebagai sebuah institusi sosial yang sangat spiritual dan suci. Perhaps I can prove it and be a witness of that.

Meskipun urusan cinta cukup menyita perhatian dan pikiran saya, tapi sesungguhnya yang saya khawatirkan adalah soal melanjutkan studi magister saya yang selama ini terbengkalai. Pemikiran saya ini sangat berdasar, karena ada batasan usia dalam soal memperoleh beasiswa, yakni 32 tahun. Yang membuat segalanya bertambah parah, ternyata saya belum dapat memutuskan untuk mengambil bidang apapun untuk ditekuni. Dahulu saya sempat berpikir untuk mengambil gelar dalam bidang bisnis, karena selalu berpikir mengenai keamanan finansial. Sayangnya hati saya tidak sinkron. Maka saya pun mulai mencari kajian lain yang sekiranya berkenan. Salah satu bidang yang saya sukai adalah psikologi dan linguistik. Saya pun mempelajari kembali kedua bidang kajian tersebut, hingga tiba pada satu titik yang membuat saya berkesimpulan bahwa kedua bidang itu terlalu jauh untuk saya dalami.

Entah kenapa saya tiba-tiba teringat dengan janji saya dahulu untuk menulis sebuah tafsir Al-Quran. Tafsir yang menggunakan metodologi dan pendekatan baru yang berbeda dari tafsir konvensional maupun tafsir modern yang terlalu bertumpu pada hermeneutika. Saya menamakannya sebagai sebuah pendekatan literalisme radikal terhadap teks-teks Al-Quran. Tolong jangan tanya saya tentang definisinya, karena saya juga masih belum tuntas dalam perumusan istilah tersebut. Yang jelas, contoh dari penggunaan metodologi ini bisa ditemukan dalam beberapa artikel saya tentang kata kunci Al-Quran. Literalisme radikal, dalam hemat saya, bertumpu pada korelasi antar kata untuk menguak makna asli dan memahaminya dari sudut pandang filsafat (analitik) dan sains modern.

Menggunakan istilah sains modern bukan berarti saya melakukan sebuah apologi, seperti banyak ditemukan dalam karya-karya Harun Yahya atau penulis muslim modern lain yang berusaha membuktikan bahwa Al-Quran tidak bertentangan dengan pemikiran ilmiah. Saya sering menganggap ide-ide tersebut sebagai sebuah blunder pemikiran yang kehilangan ruh sainsnya. Apa yang saya lakukan barangkali lebih mirip kajian ala Chomsky yang bersifat analitik untuk kemudian menemukan prinsip-prinsip umum yang bisa dipahami dalam perspektif yang jauh lebih luas. Itu paradigmanya, semoga saja saya tidak keliru, dan semoga Tuhan selalu membimbing pemikiran saya ini. Dan semoga saja saya bisa membuktikannya dengan meraih gelar di bidang tersebut.

Menjadi 30 dengan demikian adalah memulai lembaran-lembaran baru dalam hidup ini. Memulai dengan awal dan niat yang baik, memulai dengan semangat dan optimisme. Semoga Tuhan selalu merestui dan membimbing saya. What I hope is only to see Your smile in this life and day after.

Tentang Nama

Berapa harga sebuah kerinduan?
Memandang hingga larut wajah terkasih
Mencumbu malam dengan doa-doa panjang
Menyebut nama yang entah kali berapa kau ucap.

Namanya yang satu
Dalam waktu-waktu tanpa henti
Di setiap tarikan nafas yang tak mampu kau usir
Malam dan siang
Dalam sadar dan mimpi
Dan keterjagaan yang menyergap
Namanyalah yang kau sebut kali pertama dan terakhir.

Sejak kau ucapkan itu dalam dadamu
Membuncah ia dalam setiap degup jantungmu.
Mengalir keselasar pembuluh darah
Tersambung diantara akson dan dendrit
Dalam setiap sel-sel tubuhmu.
Dibalik lipatan otakmu.
Berlipat ganda dari waktu ke waktu
Bagaikan serbuan virus, trojan dan malware
Menyatu dengan setiap mantra yang kau harap.

Aku cinta kamu
Aku rindu kamu
Aku dan aku
Kamu dan namamu
Dan segala sesuatu tiba-tiba menjadi kamu
Jalanan ini
Rintik hujan ini
Air yang berderai dan mengalir
Bahkan cipratan comberan
Alam semesta pun berubah menjadi kamu

Tapi sungguh, hatiku tak kuasa menjagamu
Sosokmu yang pernah hinggap di memori mataku
Perlahan-lahan mulai memudar hilang.
Entah jika kita bertemu,
Mampukah aku mengenali dirimu.
Dirimu yang dulu, atau dirimu yang akan datang
Tiba-tiba tidak relevan bagi jiwaku.
Aku tidak tahu lagi kamu.
Tapi namamu, hanya namamu
Jua yang mampu bertahan melewati batas waktu.

Dalam nama
Dengan nama
Bersama nama
Dan nama
Namamu
Semua terukir.

Hening

Ada pagi di sini, terang dan tidak
sama seperti pagi di sana, redup dan cerah.
yang menaungi cahanya mentari
yang jari-jarinya merayap membelai bumi.
Parkit, jalak dan gereja
berkicau menggantikan lamunan galau para jangkrik
bersama putaran roda dan mesin
berlomba mengatakan, ini pagi.
Pagi yang menawarkan rasa
aroma embun yang bercampur dengan rekahan tanah
warna-warna pastel
taburan partikel di bawah sinarnya yang teduh
berenang bebas bagaikan amoeba di kehidupan yang lampau

Pagi ini, di mana kamu?
sudah sepekan kita tak bertemu
tambah dua pekan sejak kau mulai malumalu
atau tambah beberapa pekan lainnya
sejak diriku sendu melihat datangnya hari.
Hari yang katanya berbeda dari yang lalu
tak lebih dari pengulangan yang membosankan akan takdir.
Yang merayap yang memanjat
dalam doadoa di malam pekat
seakan si buta yang berjalan tanpa arah
hancur kau diterpa lanun.
Maka kehadiran mentari hanyalah detak yang menyakitkan
seakan Tuhan menggantung waktu
yang terserak tanpa aturan
"Seberapa jauh kau berharap?"
kataNya dengan wajah poker.

Sayang kutakpandai dengan permainan itu
kurasa kejujuran bukanlah harga yang pantas bagiNya
Dia pun meminta lebih
dan kugadaikan jiwaku padaNya, setelah setan dengan enggan
menolak proposalku.
Tapi wajah Tuhan begitu susah untuk ditebak
Dia berpaling penuh selidik,
berharap diriku karam dan tak mampu menjaga arah.
Kukatakan, "Kau bisa memegang katakataku".
Dia tersenyum, meski hanya sebentar,
karena kumulai berpaling dariNya.
"Ah, aku berhasil menipuMu Tuhan!"
Ketidakjujuran ini, dan tarik ulur tanpa akhir
antara aku denganNya
hanyalah keterulangan yang membosankan yang tidak pernah
membawaku kemanamana.
Sama seperti pagi yang datang dengan tibatiba
atau kenggananmu yang duduk statis di ujung sana.

Selamat pagi!
Bonjour!
Hanya itu yang mampu kukatakan padamu
dalam keheningan yang bisu
dihadapan dedaunan beku, yang kini mulai menjadi sahabat setiaku.
Tanpa tahu di mana kamu
berderai tawa atau suka cita
"Itukan hanya ada di dirimu. Dan aku,
baikbaik saja tuh!" katamu dulu.
tentang hormonhormon yang sama sekali
tidak bisa kutransfer ke rekening milikmu.
Hanya mengendap dalam benakku, busuk.
Kuharap bisa merubahnya kedalam mantramantra sakti
tapi katakata hanyalah kepasrahan tanpa nada
ia ada karena kau ada.
Tanpamu, dirinya mati.
Laksana menawarkan Hamlet pada seekor keledai
"to be, or not to be!"
Apa itu? Makanan?

Jadi, sekali lagi kutawarkan pada Tuhan
untuk membacakannya buatmu.
Puisipuisi yang tak pernah keluar dari ujung jariku
yang tak pernah mampu kusampaikan padamu.
Puisipuisi tanpa kata, tanpa nada
tanpa ekspresi, tanpa intonasi.
Puisi yang lahir dalam diam
yang berbicara dalam diam
yang menyampaikan pesannya dalam diam.
Ketika katakata tak lagi meresap
tumpul dia dalam lautan keabaian
mungkin hanya anti-kata yang bermain.
Sama seperti diammu,
diamNya
dan diamku.
Suasana yang selalu kau temukan di setiap pagi:
hening.

Putih

aku memandanginya dengan wajah terbuka
bukan siang yang merayap
atau malam yang malumalu tersipu
dalam tumpuan putih yang menggelayut manja
satin meraba sekujur badan
berhias mutiara, wajahnya tersenyum

katakan sayang arti potongan rambut
lurus tergerai, pendek, dengan leher berjenjang
akankah itu pesan terpendam yang tak pernah tuntas
akan jiwa yang terkurung di menara gading
kesempurnaan, kesempurnaan, ah betapa bencinya kau
dengan kata itu

seperti ketika kukatakan dirimu, "cemen!"
tersenyum lebar hendak berkata,
Semoga itu aku! Semoga itu aku!
Penghormatan katamu, atau bunuh diri intelektual?
"aku tidak pintar
aku tidak cerdas"
dan, aku memang tidak pantas menyandang dua kata itu

kata-kata yang ditorehkan leluhur dalam darahmu
dalam capaian-capaian langit yang tinggi
mengawang jauh keselasar kesadaran
yang kemudian hinggap dalam dua kata terakhir
tentang ketinggian dan kebesaran
arti namamu.
sayang sekali jika mesin pencari tidak tahu

Maka kau pilih kata yang lain
yang lebih menjejak,
yang menyerupai warna yang kini membalut tubuhmu
mengingatkanku akan sekuntum aster
dengan kelopak-kelopak putih
segaris, selurus, pakaianmu.
kesederhanaan

tapi aster tidak putih
bahkan jika demikian, selalu ada jejak mentari di dirinya
sama seperti kamu
meski cipratan air membawa warnawarna sinar itu menjadi putih
dalam bingkai mata yang mengabur
kau tetap bercahaya

Katakan, kenapa kumenyukaimu?
Jangan diam, atau mengalihkan perhentian
soal ketidakjelasan dan tiga nama yang muncul kemudian
apakah itu kebetualan?
Kau tahu artinya?
ah, bahkan jika kau tahu kau takkan memberitahuku bukan
Jadi, itu memang bukan masalahnya
sama seperti hari-hari yang lain
saat kau berlari tanpa pesan
"aku takut"
bukan soal itu bukan?
Jadi katakan, kenapa kau menyukaiku?

tentang kisah yang terpenggal
dan waktu yang sebatas berlalu
berusaha menyendiri dalam diam
tanpa kata, tanpa cerita
hanya lautan menit yang berkisah
dalam ingatan-ingatan yang tersisa
di kepalaku tentang dirimu
dalam keheningan yang menggoda
wajah wajah buku yang berdiri tanpa dosa
estetika modern tentang kehalusan dan kesombongan
meja tebal berpoles kayu
atau ruang makan yang bercerita tentang kita

"aku takut"
luka itu mengeluarkan merah
membasahi putih bajuku
luka yang belum sembuh dalam ingatan masa lalu
meninggalkan kotor di atas kebersihan yang kau damba.

Kukatakan,
bilakah putih menjadi putih di atas tanah ini?
yang penuh debu, noda, dan peluh
kecuali jika kau kembali ke langit sana
yang penuh dengan kesempurnaan yang kau benci.
atau memang dirimu tidak sesederhana yang kau katakan
serumit membersihkan noda di atas kain putih.
maka potongan rambut itu
dan nyanyian-nyanyian aneh yang kau suka
hanyalah tangga Escher
yang menuntunmu kebawah
padahal kakimu naik keatas

aku memandanginya dengan wajah terbuka
sekilas ia bercerita tentang waktu
sekilas ia memantulkan diriku dari pancaran matanya
sekilas ia tersenyum
sekilas aku mengungkapkan, betapa
aku menyukainya.

Mati

Apa yang lebih nikmat daripada kematian?
Aku berpikir tentang mati
ketiadaan, tanpa kesadaran
tertutup tanah yang menimbun
terurai bersama mineral-mineral yang menyelimuti
meresap bersama luruhan air hujan
kembali keasal

saat kau percaya ada Tuhan di sana
yang berjanji akan dunia yang berbeda
kau akan melihat kematian sebagai sebuah gerbang
yang membuka tangannya menerimamu
menyambut dengan sukacita
senyum wajah Tuhan?

Wajah yang barangkali tidak mungkin kau lupakan
bahkan bila ribuan kekasih memelukmu
ia adalah genetika masa lalumu
yang diturunkan melalui beribu generasi
yang lebih dahulu mati
terurai kedalam bumi.

Tiada jejak, hanya rekam perbuatan
yang tersimpan dalam memori zaman
tentang laku dan perilaku
serta kebodohan dan kepongahan
yang lalu tercerai saat napas terakhir itu melunglai
terkesima dirimu, dunia apa ini?

Dan waktu, yang bayangnya menyempit
membangkitkan tubuh-tubuh kotor dari kubur
pengadilan agung, miliaran jiwa
apakah ini kematian?
Jika iya, kenapa aku sadar bahwa aku telah mati
deja vu atau bukan
barangkali hanya artefak-artefak mimpi
yang tersisa di dinding otakmu
yang menyeruak sementara dalam ketidaksadaran
tapi kenyataan,
yang panas membakar, ada rasa sakit!

Tidak seperti sakit yang membuatmu mati
kemurungan, rasa bersalah, banjir bandang ingatan
bagaimana bisa!
Lalu kau merindu pada kehidupan,
dan memang kau hidup
untuk kali kedua
tapi tetap kau merindu kematian
jika saja, andaikata,
bukan horor yang kaudapatkan di atas padang tandus
ini

Aku rindu kematian
kematian yang membawaku pada kehidupan
meski hanya sesaat
atau keabadian di mulut surga
Kumerindu wajahMu
ah, seandainya Kau mau memperlihatkannya saat kuhidup
di wajahnya
entah apa mungkin kan kurindu kematian
meski ia pasti datang
dalam persinggahannya yang tanpa lelah
ia pasti datang.

Cinta, Al-Quran & Sains (2)

Jadi, apa yang terjadi saat kita jatuh cinta? Otak secara teratur melepaskan sejumlah hormon seperti Feromon, Dopamin, Norepinefrin dan Serotonin ke seluruh tubuh. Di jantung, kimia tubuh ini meningkatkan heart rate yang membuat dada kita berdebar-debar. Sedang di kepala, keinginan untuk makan dan tidur pun perlahan-lahan mulai hilang, berganti dengan rasa rindu memikirkan orang yang kita cinta.

Hormon-hormon lain, macam Oksitosin dan Vasopresin membuat kita merasa dekat dengan orang yang kita cinta. Seandainya orang tersebut hadir dihadapan kita, kedua hormon ini langsung mengalir memberikan stimulus rasa tenang dan nyaman. Stimulus ini memberikan efek ketagihan, yang membuat kita merasa merana dan kosong tatkala efek dari hormon ini menghilang. Sayangnya, tidak ada yang mampu memicu kemunculan hormon ini kecuali kehadiran orang atau objek yang kita cintai. Otak kita dengan demikian telah terkondisikan dan belajar untuk mengatributkan kehadiran orang yang cinta dengan kehadiran rasa nyaman dan tenang. Hormon terakhir yang juga bekerja saat seseorang jatuh cinta adalah hormon seks, Testosteron dan Estrogen. Hormon inilah yang membuat kita terangsang dan merasa lebih siap untuk terlibat dalam tindak seksual.

Dari ketiga model hormon yang bekerja saat seseorang jatuh cinta ini, Helen Fisher (seorang antropolog evolusionis yang mendidikasian waktunya selama lebih dari 30 tahun untuk mempelajari kata cinta) mendefinisikan tiga tahapan cinta yang saling tumpang tindih: hasrat, ketertarikan, dan keterikatan. Tahap pertama, yakni hasrat, adalah keinginan untuk berpasangan dengan seseorang. Pada tahap ini, hormon yang bekerja adalah hormon seks yang hanya mampu bertahan dalam hitungan minggu dan bulan saja. Di tahap berikutnya, ketertarikan, hormon yang bekerja adalah kimia tubuh yang membuat jantung kita berdebar-debar dan kehilangan nafsu makan. Ia berlangsung lebih lama dari tahap pertama, dan efeknya mampu membekas dalam diri kita antara 1,5 hingga 3 tahun. Tahap ini juga dikenal sebagai awal tahap cinta romantik yang intens.

Yang terpanjang dari tiga tahapan cinta tersebut adalah tahap keterikatan, yang terkait secara langsung dengan hormon Oksitosin dan Vasopresin. Tahap inilah yang menurut Fisher menjadi dasar dari hubungan cinta jangka panjang macam pernikahan atau hubungan orang tua dengan anak-anak mereka, kerena efek yang membekas bisa berlangsung hingga puluhan tahun. Apabila tahap keterikatan merupakan tahapan cinta yang paling panjang, maka tahapan cinta yang paling kuat terjadi pada tahap cinta romantik. Orang yang ditolak cinta romantiknya, lebih mungkin terkena depresi bahkan melakukan tindak bunuh diri daripada orang yang ditolak berhubungan seksual. Fakta ini menunjukkan betapa kuat pengaruh dari tahapan cinta kedua tersebut.

Well,  sepertinya kita harus mengakui bahwa pada awalnya semua yang kita artikan sebagai cinta tak lain adalah reaksi kimia tubuh belaka yang secara subjektif terjadi dalam diri kita. Ia hanyalah kondisi eksklusif yang tidak ada hubungannya dengan orang lain, sehingga hanya kita seorang yang merasakannya. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah memang demikian yang disebut dengan cinta? Bisakah definisi cinta Fisher membedakan sebuah cinta yang bertepuk sebelah tangan dengan cinta yang terjawab? Bukankah cinta adalah kesatuan kerja antara dua manusia, dan bukan fenomena tunggal? Untuk menjawab hal ini, kita berpaling kepada psikologi dalam mendefinisikan macam-macam cinta.

Salah satu teori yang paling terkenal tentang macam-macam cinta adalah teori segitiga cinta yang digagas oleh psikolog Robert Sternberg. Berbeda dari Fisher yang memfokuskan diri pada aspek neuro-hormonal, Sternberg mengkaji cinta dalam konteks hubungan interpersonal. Menurut Sternberg, cinta memiliki tiga komponen yang saling terkait yang bernama: keintiman, hasrat, dan komitmen. Keintiman adalah kondisi yang membuat seseorang merasa terkait, dekat, dan terhubung dengan orang yang ia cinta. Ia mengikat dua orang untuk saling berbagi rahasia yang tidak akan ia ungkapkan selain kepada orang yang benar-benar intim dengannya.

Hasrat, sebagaimana Fisher, juga diartikan sebagai ketertarikan seksual kepada seseorang. Sedangkan komitmen, adalah keputusan untuk menetap dan berbagi pencapaian serta rencana dengan orang yang kita cinta. Ketiadaan tiga unsur cinta ini oleh Sternberg dinamakan sebagai kondisi tidak ada cinta. kondisi tersebut berlawanan dengan Cinta Sempurna yang merupakan kondisi ideal dari sebuah cinta, yang menurutnya berlangsung singkat dan sangat susah dipertahankan dalam jangka panjang. Jika demikian, jenis-jenis cinta apa yang mungkin terjadi dalam sebuah hubungan?

Sternberg mengemukakan 6 jenis cinta berdasarkan ada tidaknya ketiga komponen cinta tadi dalam sebuah hubungan:
  1. Persahabatan. Dalam persahabatan, komponen utama yang muncul adalah keintiman, sedangkan 2 komponen cinta lainnya tidak hadir. Dalam persahabatan, kita tidak merasa tertarik untuk berhubungan seksual kepada orang yang kita intimi, tidak juga tertarik membangun sebuah komitmen bersama.
  2. Birahi. Dalam birahi, komponen utama yang hadir adalah hasrat, sedangkan keintiman dan komitmen absen didalamnya.
  3. Cinta Kosong. Adalah cinta yang hanya bersandar pada komitmen semata. Cinta jenis ini biasanya hadir dalam pernikahan yang berlangsung begitu lama sehingga setiap pasangan sama-sama telah kehilangan keintiman dan hasrat.
  4. Cinta Romantik. Berbeda dari Fisher, cinta romantik dalam definisi Stenberg adalah cinta yang berdiri atas dasar keintiman dan hasrat, serta tidak memiliki komitmen sama sekali. 
  5. Cinta Kesetiakawanan. Yakni cinta yang hadir didalamnya unsur keintiman dan komitmen, tapi bukan hasrat. Cinta jenis ini biasanya hadir antar sesama anggota keluarga atau antara dua orang sahabat dekat yang tumbuh dalam diri masing-masing sebuah cinta platonik.
  6. Cinta Dungu. Adalah cinta tanpa kehadiran unsur keintiman. Cinta jenis ini mudah sekali goyah dan berakhir dalam perceraian.
Sebagaimana psikologi modern yang sangat tergantung kepada matriks kuantitatif dan bukan kualitatif, maka tidak ada yang benar-benar tahu pada level apa atau jenis cinta yang mana hubungan kita dengan orang yang kita cinta berada. Bahkan apabila kita sudah yakin sekalipun, selalu saja ada perubahan dalam setiap indikator dari hari kehari, sehingga diperlukan nilai median yang bisa dipercaya, atau kembali kepada perasaan kita masing-masing. Pada cinta jenis apa kita menyukai seseorang?

Cinta, Al-Quran & Sains (1)

Aku bertanya kepada Tuhan tentang arti cinta. Dia hanya dapat berkata, "Wahai Rasul, katakan kepada orang-orang Mukmin, "Apabila kalian lebih mencintai bapak, anak, saudara, istri, kerabat serta harta yang telah kalian dapatkan, juga perdagangan yang kalian takuti kerugiannya serta rumah yang kalian pakai untuk beristirahat dan bertempat tinggal daripada Allah, Rasul- Nya dan berjihad di jalan-Nya, sampai-sampai itu semua lebih menyibukkan kalian daripada menolong Rasul, maka tunggulah sampai Allah menjatuhkan keputusan dan hukuman-Nya atas kalian. Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang keluar dari batas-batas agama-Nya." (Q. 9:24).

Kata ahabba yang diterjemahkan dengan term "lebih mencintai" di ayat tadi, merupakan bentuk superlatif dari kata hubb, yang secara sederhana dapat diartikan menyukai. Kata hubb sendiri adalah sebuah kata generik yang sangat banyak digunakan dalam Al-Quran untuk menggambarkan kesukaan manusia entah kepada Tuhan, keluarga, harta benda, serta kebiasaan dan tindakan tertentu. karena merupakan kosa kata generik, hubb tidak serta merta dapat kita samakan dengan kata cinta, terlebih jika kita menggunakan istilah ini secara khusus kepada eros. Jika demikian, dengan kata apa sebenarnya kita memaknai cinta dalam al-Quran?

Ada beberapa kosa kata lain dalam Al-Quran selain hubb yang dapat kita terjemahkan sebagai cinta. Saya akan memulai dari kata yang sudah sangat terkenal, mawaddah. Kata ini kerap kita temui dalam setiap hajatan pernikahan, dan akan kita temukan ekspresinya yang metafisis di ayat 30:21 "Dan di antara tanda-tandaNya adalah bahwa Dia menciptakan bagi kalian, kaum laki-laki, istri-istri yang berasal dari jenis kalian untuk kalian cintai (sakan). Dia menjadikan kasih sayang antara kalian dan mereka. Sesungguhnya di dalam hal itu semua terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir tentang ciptaan Allah. "

Sebagaimana kata hubb yang memiliki medan semantik yang sangat luas, kata mawaddah yang diartikan sebagai kasih sayang dalam ayat di atas, juga tidak digunakan secara eksklusif untuk memaknai hubungan cinta seseorang dengan pasangannya. Kata mawaddah dalam Al-Quran bahkan digunakan dalam konteks hubungan sosial antara sesama umat muslim, atau dengan umat beragama lainnya, membuat kata tersebut lebih dekat maknanya dengan kata toleransi dan sikap kasih sayang antar sesama manusia, humanisme, daripada cinta dalam budaya modern.  Sehingga, atribusi sejajar antara kata cinta yang mengandung eros tidak berhasil kita sematkan dalam kata mawaddah yang menampakkan keluhuran.

Apabila kita simak kembali ayat 30:21 diatas, maka kita akan menemukan sebuah kejanggalan penterjemahan. Yang saya maksud adalah menyamakan term litaskunu ilayhi dengan kalimat "untuk kalian cintai".  Kata kerja sakana yang menjadi akar term tadi, sebenarnya lebih tepat diartikan sebagai "tinggal bersamanya" atau "tenang bersamanya". Tapi penerjemahan sakinah sebagai cinta dalam terjemahan diatas juga tidak sepenuhnya salah, karena salah satu manifestasi dari cinta adalah ketenangan, meski tidak semua "ketenangan" dapat kita artikan sebagai cinta. Yang membuat ayat ini menarik, kita menemukan ekspresi ketiga dari kata cinta dalam Al-Quran yaitu sakinah.

Kata sakinah secara diakronik bukanlah term khas Al-Quran. Kata ini bahkan digunakan dalam Bibles Ibrani dalam bentuk shekhinah yang berarti kehadiran Tuhan di muka bumi. Secara semantik, makna sakinah dan shekhinah memiliki beberapa kesamaan. Dalam Al-Quran kita menemukan ekspresi sakinah saat Rasulullah dan Abu Bakr berhasil lolos dari kejaran kaum Quraisy. Sebelumnya, kedua sahabat ini mengalami rasa cemas yang tinggi hingga kemudian Tuhan menenangkan keduanya dan dapat melanjutkan proses hijrah ke Madinah. Hal serupa bahkan kita temukan dalam adegan penemuan tabut, yang membuat bala tentara Yahudi merasa tenang dan percaya diri sehingga mampu memenangkan pertempuran. Dari kedua konteks diatas, kita dapat memahami bahwa ketenangan yang dihasilkan oleh sakinah adalah ketenangan yang membawa pencerahan, dan sangat berbeda dari cinta yang memabukkan dan membutakan pikiran.

Apa dengan demikian, kita tidak dapat mendefinisikan kata sakinah sebagai sebuah ekspresi kecintaan dalam Al-Quran? Sebelum menjawab hal tersebut, ada baiknya jika kita mencari tahu bagaimana Al-Quran mengekspresikan bentuk kecintaan yang sangat memabukkan lagi membutakan itu. Petunjuk akan hal ini dapat kita temukan jejaknya dalam kisah Yusuf dan kaum Luth. Tidak dapat dipungkiri, kisah Yusuf menjadi referensi paling luas dalam Al-Quran saat berusaha menjelaskan detil hidup yang penuh warna dan emosional. Terdapat banyak sekali kepentingan individu, ego, dari setiap tokoh yang terlibat. Ada rasa takut, hasrat, dan juga harapan. Diantara sekian ekspresi emosional, terdapat sebuah cuplikan ayat yang secara gamblang memotret hasrat seksual.
Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat petunjuk (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.(Q. 12:24)
 Ayat di atas memberikan gambaran kepada kita tentang intensi dan gairah yang dirasakan baik oleh Yusuf maupun istri Al-Aziz. Intensi ini tidak digambarkan secara vulgar oleh Al-Quran yang lebih memilih menggunakan kata kerja generik hamma yang berarti berkeinginan kuat untuk melakukan sesuatu. Karena tidak memberikan petunjuk apa-apa, maka kita membutuhkan penafsiran lain akan ayat tersebut. Ayat yang paling pas untuk menafsirkan ayat 24 tadi tak lain adalah kelanjutan dari kisah Yusuf yang tertera di ayat ke-30. Di ayat ini kita menemukan term baru yang sangat khas menggambarkan intensi mental istri Al-Aziz, syagafaha hubban.

kata syagaf seperti termaktub pada term diatas memiliki makna tersergap dan terkuasai secara tiba-tiba. Kata ini secara intrisik menggambarkan perasaan eros yang kuat pada seseorang atau sesuatu. Namun, sebagaimana term-term cinta sebelumnya, kata syagaf tidak mampu berdiri sendiri. Oleh Al-Quran ia dipasangkan secara paralel dengan kata generik kita yang pertama, hubb. Ya, kata hubb tampaknya telah tampil sebagai kata kunci utama Al-Quran dalam menggambarkan perasaan suka yang berada di dalam dada. Lalu, bagaimana Al-Quran menggambarkan sebuah tindak mencinta yang penuh dengan hasrat seksual? Jawaban akan hal tersebut terdapat dalam gambaran tentang kaum Luth.

Dalam Q. 7:81 kita mendapati teguran Tuhan yang sangat keras terhadap perilaku homoseksualitas kaum Luth. Al-Quran menggambarkan perbuatan keji mereka dalam sebuah kalimat interogatifa ta'tuna al-rijal syahwatan min duni al-nisa, yang dapat diartikan: "apakah kamu mendatangi syahwat kepada laki-laki bukannya perempuan?" Di sini, kata kunci utama yang sangat berperan adalah syahwat. Kata syahwat sendiri berarti gairah atau passion. Dalam Al-Quran ia selalu tampil dalam bentuk noun dan tidak pernah dalam bentuk verbal. Sehingga untuk menggambarkan sebuah keinginan atau tindakan yang dipenuhi oleh syahwat, Al-Quran senantiasa menggandengnya dengan kata lain, macam ata, yang berarti mendatangi, atau hubb yang berarti menyukai.

Salah satu ayat Al-Quran yang memuat relasi hubb al-syahawat ini adalah Q. 3:14 "Dijadikan indah pada manusia kesukaan (hubb) kepada syahawat (sing. syahwat), dari wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." Yang menarik dari ayat ini adalah, syahwat tidak digunakan secara eksklusif dalam pengertian seksual, tapi meliputi segala jenis objek yang didefinsikan sebagai mata' atau kesengangan hidup manusia.

Sampai di sini, saya berkesimpulan bahwa ternyata kata cinta dalam arti hasrat dan gairah seksual, tidak mendapat definisinya yang memadai dalam Al-Quran. Semua kosa kata yang telah kita bahas, selalu memiliki relasi inklusif dengan bentuk emosi lain di luar kriteria cinta sebagaimana kita pahami.  Sehingga kita tidak menemukan satu pun kata yang secara eksklusif digunakan Al-Quran untuk menggambarkan dan mendefinisikan cinta. Dengan kata lain, cinta kepada perempuan sama umumnya dengan cinta kepada anak-anak, harta benda, dan kendaraan.

Hal lain yang juga patut kita perhatikan adalah posisi setiap objek tadi dihadapan syahwat dan hubb. Al-Quran selalu menempatkan mereka pada posisi sebagai objek tidak langsung dari kondisi mental tersebut.  Seperti pada kalimat "menyukai syahwat dari wanita", kata wanita di sini tidaklah menjadi objek langsung dari hubb, tapi menjadi objek sekunder dari kondisi mental bernama syahwat. Apabila kita ingin berspekulasi, maka kita dapat memahami bentuk Quranik ini sebagai pernyataan bahwa rasa cinta itu, suka atau tidak suka, pada awalnya adalah sebuah perasaan subjektif yang lahir dari sebuah kebutuhan naluriah dalam diri manusia. Apakah spekulasi ini benar? Satu-satunya cara untuk mengecek hal tersebut adalah dengan meneliti bagaimana pandangan sains modern terhadap cinta.