Hening

Ada pagi di sini, terang dan tidak
sama seperti pagi di sana, redup dan cerah.
yang menaungi cahanya mentari
yang jari-jarinya merayap membelai bumi.
Parkit, jalak dan gereja
berkicau menggantikan lamunan galau para jangkrik
bersama putaran roda dan mesin
berlomba mengatakan, ini pagi.
Pagi yang menawarkan rasa
aroma embun yang bercampur dengan rekahan tanah
warna-warna pastel
taburan partikel di bawah sinarnya yang teduh
berenang bebas bagaikan amoeba di kehidupan yang lampau

Pagi ini, di mana kamu?
sudah sepekan kita tak bertemu
tambah dua pekan sejak kau mulai malumalu
atau tambah beberapa pekan lainnya
sejak diriku sendu melihat datangnya hari.
Hari yang katanya berbeda dari yang lalu
tak lebih dari pengulangan yang membosankan akan takdir.
Yang merayap yang memanjat
dalam doadoa di malam pekat
seakan si buta yang berjalan tanpa arah
hancur kau diterpa lanun.
Maka kehadiran mentari hanyalah detak yang menyakitkan
seakan Tuhan menggantung waktu
yang terserak tanpa aturan
"Seberapa jauh kau berharap?"
kataNya dengan wajah poker.

Sayang kutakpandai dengan permainan itu
kurasa kejujuran bukanlah harga yang pantas bagiNya
Dia pun meminta lebih
dan kugadaikan jiwaku padaNya, setelah setan dengan enggan
menolak proposalku.
Tapi wajah Tuhan begitu susah untuk ditebak
Dia berpaling penuh selidik,
berharap diriku karam dan tak mampu menjaga arah.
Kukatakan, "Kau bisa memegang katakataku".
Dia tersenyum, meski hanya sebentar,
karena kumulai berpaling dariNya.
"Ah, aku berhasil menipuMu Tuhan!"
Ketidakjujuran ini, dan tarik ulur tanpa akhir
antara aku denganNya
hanyalah keterulangan yang membosankan yang tidak pernah
membawaku kemanamana.
Sama seperti pagi yang datang dengan tibatiba
atau kenggananmu yang duduk statis di ujung sana.

Selamat pagi!
Bonjour!
Hanya itu yang mampu kukatakan padamu
dalam keheningan yang bisu
dihadapan dedaunan beku, yang kini mulai menjadi sahabat setiaku.
Tanpa tahu di mana kamu
berderai tawa atau suka cita
"Itukan hanya ada di dirimu. Dan aku,
baikbaik saja tuh!" katamu dulu.
tentang hormonhormon yang sama sekali
tidak bisa kutransfer ke rekening milikmu.
Hanya mengendap dalam benakku, busuk.
Kuharap bisa merubahnya kedalam mantramantra sakti
tapi katakata hanyalah kepasrahan tanpa nada
ia ada karena kau ada.
Tanpamu, dirinya mati.
Laksana menawarkan Hamlet pada seekor keledai
"to be, or not to be!"
Apa itu? Makanan?

Jadi, sekali lagi kutawarkan pada Tuhan
untuk membacakannya buatmu.
Puisipuisi yang tak pernah keluar dari ujung jariku
yang tak pernah mampu kusampaikan padamu.
Puisipuisi tanpa kata, tanpa nada
tanpa ekspresi, tanpa intonasi.
Puisi yang lahir dalam diam
yang berbicara dalam diam
yang menyampaikan pesannya dalam diam.
Ketika katakata tak lagi meresap
tumpul dia dalam lautan keabaian
mungkin hanya anti-kata yang bermain.
Sama seperti diammu,
diamNya
dan diamku.
Suasana yang selalu kau temukan di setiap pagi:
hening.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar