Mati

Apa yang lebih nikmat daripada kematian?
Aku berpikir tentang mati
ketiadaan, tanpa kesadaran
tertutup tanah yang menimbun
terurai bersama mineral-mineral yang menyelimuti
meresap bersama luruhan air hujan
kembali keasal

saat kau percaya ada Tuhan di sana
yang berjanji akan dunia yang berbeda
kau akan melihat kematian sebagai sebuah gerbang
yang membuka tangannya menerimamu
menyambut dengan sukacita
senyum wajah Tuhan?

Wajah yang barangkali tidak mungkin kau lupakan
bahkan bila ribuan kekasih memelukmu
ia adalah genetika masa lalumu
yang diturunkan melalui beribu generasi
yang lebih dahulu mati
terurai kedalam bumi.

Tiada jejak, hanya rekam perbuatan
yang tersimpan dalam memori zaman
tentang laku dan perilaku
serta kebodohan dan kepongahan
yang lalu tercerai saat napas terakhir itu melunglai
terkesima dirimu, dunia apa ini?

Dan waktu, yang bayangnya menyempit
membangkitkan tubuh-tubuh kotor dari kubur
pengadilan agung, miliaran jiwa
apakah ini kematian?
Jika iya, kenapa aku sadar bahwa aku telah mati
deja vu atau bukan
barangkali hanya artefak-artefak mimpi
yang tersisa di dinding otakmu
yang menyeruak sementara dalam ketidaksadaran
tapi kenyataan,
yang panas membakar, ada rasa sakit!

Tidak seperti sakit yang membuatmu mati
kemurungan, rasa bersalah, banjir bandang ingatan
bagaimana bisa!
Lalu kau merindu pada kehidupan,
dan memang kau hidup
untuk kali kedua
tapi tetap kau merindu kematian
jika saja, andaikata,
bukan horor yang kaudapatkan di atas padang tandus
ini

Aku rindu kematian
kematian yang membawaku pada kehidupan
meski hanya sesaat
atau keabadian di mulut surga
Kumerindu wajahMu
ah, seandainya Kau mau memperlihatkannya saat kuhidup
di wajahnya
entah apa mungkin kan kurindu kematian
meski ia pasti datang
dalam persinggahannya yang tanpa lelah
ia pasti datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar