Putih

aku memandanginya dengan wajah terbuka
bukan siang yang merayap
atau malam yang malumalu tersipu
dalam tumpuan putih yang menggelayut manja
satin meraba sekujur badan
berhias mutiara, wajahnya tersenyum

katakan sayang arti potongan rambut
lurus tergerai, pendek, dengan leher berjenjang
akankah itu pesan terpendam yang tak pernah tuntas
akan jiwa yang terkurung di menara gading
kesempurnaan, kesempurnaan, ah betapa bencinya kau
dengan kata itu

seperti ketika kukatakan dirimu, "cemen!"
tersenyum lebar hendak berkata,
Semoga itu aku! Semoga itu aku!
Penghormatan katamu, atau bunuh diri intelektual?
"aku tidak pintar
aku tidak cerdas"
dan, aku memang tidak pantas menyandang dua kata itu

kata-kata yang ditorehkan leluhur dalam darahmu
dalam capaian-capaian langit yang tinggi
mengawang jauh keselasar kesadaran
yang kemudian hinggap dalam dua kata terakhir
tentang ketinggian dan kebesaran
arti namamu.
sayang sekali jika mesin pencari tidak tahu

Maka kau pilih kata yang lain
yang lebih menjejak,
yang menyerupai warna yang kini membalut tubuhmu
mengingatkanku akan sekuntum aster
dengan kelopak-kelopak putih
segaris, selurus, pakaianmu.
kesederhanaan

tapi aster tidak putih
bahkan jika demikian, selalu ada jejak mentari di dirinya
sama seperti kamu
meski cipratan air membawa warnawarna sinar itu menjadi putih
dalam bingkai mata yang mengabur
kau tetap bercahaya

Katakan, kenapa kumenyukaimu?
Jangan diam, atau mengalihkan perhentian
soal ketidakjelasan dan tiga nama yang muncul kemudian
apakah itu kebetualan?
Kau tahu artinya?
ah, bahkan jika kau tahu kau takkan memberitahuku bukan
Jadi, itu memang bukan masalahnya
sama seperti hari-hari yang lain
saat kau berlari tanpa pesan
"aku takut"
bukan soal itu bukan?
Jadi katakan, kenapa kau menyukaiku?

tentang kisah yang terpenggal
dan waktu yang sebatas berlalu
berusaha menyendiri dalam diam
tanpa kata, tanpa cerita
hanya lautan menit yang berkisah
dalam ingatan-ingatan yang tersisa
di kepalaku tentang dirimu
dalam keheningan yang menggoda
wajah wajah buku yang berdiri tanpa dosa
estetika modern tentang kehalusan dan kesombongan
meja tebal berpoles kayu
atau ruang makan yang bercerita tentang kita

"aku takut"
luka itu mengeluarkan merah
membasahi putih bajuku
luka yang belum sembuh dalam ingatan masa lalu
meninggalkan kotor di atas kebersihan yang kau damba.

Kukatakan,
bilakah putih menjadi putih di atas tanah ini?
yang penuh debu, noda, dan peluh
kecuali jika kau kembali ke langit sana
yang penuh dengan kesempurnaan yang kau benci.
atau memang dirimu tidak sesederhana yang kau katakan
serumit membersihkan noda di atas kain putih.
maka potongan rambut itu
dan nyanyian-nyanyian aneh yang kau suka
hanyalah tangga Escher
yang menuntunmu kebawah
padahal kakimu naik keatas

aku memandanginya dengan wajah terbuka
sekilas ia bercerita tentang waktu
sekilas ia memantulkan diriku dari pancaran matanya
sekilas ia tersenyum
sekilas aku mengungkapkan, betapa
aku menyukainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar