Cinta, Al-Quran & Sains (1)

Aku bertanya kepada Tuhan tentang arti cinta. Dia hanya dapat berkata, "Wahai Rasul, katakan kepada orang-orang Mukmin, "Apabila kalian lebih mencintai bapak, anak, saudara, istri, kerabat serta harta yang telah kalian dapatkan, juga perdagangan yang kalian takuti kerugiannya serta rumah yang kalian pakai untuk beristirahat dan bertempat tinggal daripada Allah, Rasul- Nya dan berjihad di jalan-Nya, sampai-sampai itu semua lebih menyibukkan kalian daripada menolong Rasul, maka tunggulah sampai Allah menjatuhkan keputusan dan hukuman-Nya atas kalian. Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang keluar dari batas-batas agama-Nya." (Q. 9:24).

Kata ahabba yang diterjemahkan dengan term "lebih mencintai" di ayat tadi, merupakan bentuk superlatif dari kata hubb, yang secara sederhana dapat diartikan menyukai. Kata hubb sendiri adalah sebuah kata generik yang sangat banyak digunakan dalam Al-Quran untuk menggambarkan kesukaan manusia entah kepada Tuhan, keluarga, harta benda, serta kebiasaan dan tindakan tertentu. karena merupakan kosa kata generik, hubb tidak serta merta dapat kita samakan dengan kata cinta, terlebih jika kita menggunakan istilah ini secara khusus kepada eros. Jika demikian, dengan kata apa sebenarnya kita memaknai cinta dalam al-Quran?

Ada beberapa kosa kata lain dalam Al-Quran selain hubb yang dapat kita terjemahkan sebagai cinta. Saya akan memulai dari kata yang sudah sangat terkenal, mawaddah. Kata ini kerap kita temui dalam setiap hajatan pernikahan, dan akan kita temukan ekspresinya yang metafisis di ayat 30:21 "Dan di antara tanda-tandaNya adalah bahwa Dia menciptakan bagi kalian, kaum laki-laki, istri-istri yang berasal dari jenis kalian untuk kalian cintai (sakan). Dia menjadikan kasih sayang antara kalian dan mereka. Sesungguhnya di dalam hal itu semua terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir tentang ciptaan Allah. "

Sebagaimana kata hubb yang memiliki medan semantik yang sangat luas, kata mawaddah yang diartikan sebagai kasih sayang dalam ayat di atas, juga tidak digunakan secara eksklusif untuk memaknai hubungan cinta seseorang dengan pasangannya. Kata mawaddah dalam Al-Quran bahkan digunakan dalam konteks hubungan sosial antara sesama umat muslim, atau dengan umat beragama lainnya, membuat kata tersebut lebih dekat maknanya dengan kata toleransi dan sikap kasih sayang antar sesama manusia, humanisme, daripada cinta dalam budaya modern.  Sehingga, atribusi sejajar antara kata cinta yang mengandung eros tidak berhasil kita sematkan dalam kata mawaddah yang menampakkan keluhuran.

Apabila kita simak kembali ayat 30:21 diatas, maka kita akan menemukan sebuah kejanggalan penterjemahan. Yang saya maksud adalah menyamakan term litaskunu ilayhi dengan kalimat "untuk kalian cintai".  Kata kerja sakana yang menjadi akar term tadi, sebenarnya lebih tepat diartikan sebagai "tinggal bersamanya" atau "tenang bersamanya". Tapi penerjemahan sakinah sebagai cinta dalam terjemahan diatas juga tidak sepenuhnya salah, karena salah satu manifestasi dari cinta adalah ketenangan, meski tidak semua "ketenangan" dapat kita artikan sebagai cinta. Yang membuat ayat ini menarik, kita menemukan ekspresi ketiga dari kata cinta dalam Al-Quran yaitu sakinah.

Kata sakinah secara diakronik bukanlah term khas Al-Quran. Kata ini bahkan digunakan dalam Bibles Ibrani dalam bentuk shekhinah yang berarti kehadiran Tuhan di muka bumi. Secara semantik, makna sakinah dan shekhinah memiliki beberapa kesamaan. Dalam Al-Quran kita menemukan ekspresi sakinah saat Rasulullah dan Abu Bakr berhasil lolos dari kejaran kaum Quraisy. Sebelumnya, kedua sahabat ini mengalami rasa cemas yang tinggi hingga kemudian Tuhan menenangkan keduanya dan dapat melanjutkan proses hijrah ke Madinah. Hal serupa bahkan kita temukan dalam adegan penemuan tabut, yang membuat bala tentara Yahudi merasa tenang dan percaya diri sehingga mampu memenangkan pertempuran. Dari kedua konteks diatas, kita dapat memahami bahwa ketenangan yang dihasilkan oleh sakinah adalah ketenangan yang membawa pencerahan, dan sangat berbeda dari cinta yang memabukkan dan membutakan pikiran.

Apa dengan demikian, kita tidak dapat mendefinisikan kata sakinah sebagai sebuah ekspresi kecintaan dalam Al-Quran? Sebelum menjawab hal tersebut, ada baiknya jika kita mencari tahu bagaimana Al-Quran mengekspresikan bentuk kecintaan yang sangat memabukkan lagi membutakan itu. Petunjuk akan hal ini dapat kita temukan jejaknya dalam kisah Yusuf dan kaum Luth. Tidak dapat dipungkiri, kisah Yusuf menjadi referensi paling luas dalam Al-Quran saat berusaha menjelaskan detil hidup yang penuh warna dan emosional. Terdapat banyak sekali kepentingan individu, ego, dari setiap tokoh yang terlibat. Ada rasa takut, hasrat, dan juga harapan. Diantara sekian ekspresi emosional, terdapat sebuah cuplikan ayat yang secara gamblang memotret hasrat seksual.
Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat petunjuk (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.(Q. 12:24)
 Ayat di atas memberikan gambaran kepada kita tentang intensi dan gairah yang dirasakan baik oleh Yusuf maupun istri Al-Aziz. Intensi ini tidak digambarkan secara vulgar oleh Al-Quran yang lebih memilih menggunakan kata kerja generik hamma yang berarti berkeinginan kuat untuk melakukan sesuatu. Karena tidak memberikan petunjuk apa-apa, maka kita membutuhkan penafsiran lain akan ayat tersebut. Ayat yang paling pas untuk menafsirkan ayat 24 tadi tak lain adalah kelanjutan dari kisah Yusuf yang tertera di ayat ke-30. Di ayat ini kita menemukan term baru yang sangat khas menggambarkan intensi mental istri Al-Aziz, syagafaha hubban.

kata syagaf seperti termaktub pada term diatas memiliki makna tersergap dan terkuasai secara tiba-tiba. Kata ini secara intrisik menggambarkan perasaan eros yang kuat pada seseorang atau sesuatu. Namun, sebagaimana term-term cinta sebelumnya, kata syagaf tidak mampu berdiri sendiri. Oleh Al-Quran ia dipasangkan secara paralel dengan kata generik kita yang pertama, hubb. Ya, kata hubb tampaknya telah tampil sebagai kata kunci utama Al-Quran dalam menggambarkan perasaan suka yang berada di dalam dada. Lalu, bagaimana Al-Quran menggambarkan sebuah tindak mencinta yang penuh dengan hasrat seksual? Jawaban akan hal tersebut terdapat dalam gambaran tentang kaum Luth.

Dalam Q. 7:81 kita mendapati teguran Tuhan yang sangat keras terhadap perilaku homoseksualitas kaum Luth. Al-Quran menggambarkan perbuatan keji mereka dalam sebuah kalimat interogatifa ta'tuna al-rijal syahwatan min duni al-nisa, yang dapat diartikan: "apakah kamu mendatangi syahwat kepada laki-laki bukannya perempuan?" Di sini, kata kunci utama yang sangat berperan adalah syahwat. Kata syahwat sendiri berarti gairah atau passion. Dalam Al-Quran ia selalu tampil dalam bentuk noun dan tidak pernah dalam bentuk verbal. Sehingga untuk menggambarkan sebuah keinginan atau tindakan yang dipenuhi oleh syahwat, Al-Quran senantiasa menggandengnya dengan kata lain, macam ata, yang berarti mendatangi, atau hubb yang berarti menyukai.

Salah satu ayat Al-Quran yang memuat relasi hubb al-syahawat ini adalah Q. 3:14 "Dijadikan indah pada manusia kesukaan (hubb) kepada syahawat (sing. syahwat), dari wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." Yang menarik dari ayat ini adalah, syahwat tidak digunakan secara eksklusif dalam pengertian seksual, tapi meliputi segala jenis objek yang didefinsikan sebagai mata' atau kesengangan hidup manusia.

Sampai di sini, saya berkesimpulan bahwa ternyata kata cinta dalam arti hasrat dan gairah seksual, tidak mendapat definisinya yang memadai dalam Al-Quran. Semua kosa kata yang telah kita bahas, selalu memiliki relasi inklusif dengan bentuk emosi lain di luar kriteria cinta sebagaimana kita pahami.  Sehingga kita tidak menemukan satu pun kata yang secara eksklusif digunakan Al-Quran untuk menggambarkan dan mendefinisikan cinta. Dengan kata lain, cinta kepada perempuan sama umumnya dengan cinta kepada anak-anak, harta benda, dan kendaraan.

Hal lain yang juga patut kita perhatikan adalah posisi setiap objek tadi dihadapan syahwat dan hubb. Al-Quran selalu menempatkan mereka pada posisi sebagai objek tidak langsung dari kondisi mental tersebut.  Seperti pada kalimat "menyukai syahwat dari wanita", kata wanita di sini tidaklah menjadi objek langsung dari hubb, tapi menjadi objek sekunder dari kondisi mental bernama syahwat. Apabila kita ingin berspekulasi, maka kita dapat memahami bentuk Quranik ini sebagai pernyataan bahwa rasa cinta itu, suka atau tidak suka, pada awalnya adalah sebuah perasaan subjektif yang lahir dari sebuah kebutuhan naluriah dalam diri manusia. Apakah spekulasi ini benar? Satu-satunya cara untuk mengecek hal tersebut adalah dengan meneliti bagaimana pandangan sains modern terhadap cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar