Al-Quran dan Perempuan Pertama (2)

Sejenak diskusi terhenti, hanya sebentar, sebelum dilanjutkan oleh dua HH. HH pertama, menganggap bahwa diskusi ini beyond the truth. Saya tidak terlalu mengerti dengan maksudnya tersebut, barangkali ia hanya ingin mengungkapkan, bahwa kebenaran di sini, hasil produksi diskusi yang cukup intens, atau barangkali karena multidisipliner, tapi tetap tidak dapat dimengerti dengan jelas. Adapun HH kedua, memulai dengan pernyataan tendesius, seputar keberadaan manusia pertama yang dikenal baik dalam tradisi Islam maupun Judeo-Kristen sebagai Adam. Ia pun berkomentar.

“Itu hadist akhi, tapi tetap diragukan kebenarannya. Yang pasti, jika pun hadits itu benar, tetap bisa dikritik lewat fakta ilmiah, atau kita harus melihat hadits itu dalam perspektif alegorisme. Jangankan soal tulang rusuk, ayat yang mengatakan Adam manusia pertama di al-Qur'an juga tidak ada!” Dengan jelas HH memposisikan diri sebagai kampiun sains dengan berusaha menolak fakta agama. Lebih lanjut, ia menerangkan, “Gini hari masih ngomongin Adam manusia pertama?” Sayang sekali, tidak ada usaha untuk menjelaskan statement tadi oleh HH.

Tentang Adam
Maka saya pun mengambil inisiatif untuk memulai diskusi panjang lagi. Dan saya tulis di bagian komentar: “Wah memulai provokasi nih. Hehehe... Tentang Adam sebagai manusia pertama, harus diberi definisi yg jelas dulu. Apakah manusia, insan, yg dimaksud Al-Quran mencakup hominid atau tidak. Dari ayat yg ada, seperti kemampuan berbicara, tampaknya definisi insan di sini tidak mencakup hominid, yg meliputi Neanderthal, Cro-Magnon dsb, melainkan manusia modern saja. Dengan demikian, kalau ada yg bertanya apakah Adam manusia pertama, jawaban yg tepat adalah, ia insan pertama, tapi bukan basyar pertama. Kenapa? Karena kata basyar secara bebas, dapat diatributkan baik kepada hominid maupun manusia modern. Dengan kata lain, basyar itu genera, sedang insan adalah spesies.

Tentang Q. 4:1, ternyata ada fakta Quran yg menarik. Nafsun wahidah–Jiwa yang satu, itu benar-benar perempuan, bukan laki-laki! Silahkan perhatikan perubahan fa'il maf'ul–subjek objek, pada Q. 7:189. Coba tanya, yg mengandung itu nafsun wahidah ataukah zawj? Kalau tata bahasa Quran konsekuen dgn pengatributan seks zawj dan nafs wahidah, maka tentulah yg mengandung itu nafsun wahidah. Jadi bisa disebut, insan pertama itu perempuan bukan laki-laki. 

Tapi bagaimana Tuhan menciptakan Adam? Pada Q. 3:59 dijelaskan bahwa penciptaan Adam itu seperti Isa. Keduanya sama2 dikandung oleh perempuan yg tidak disentuh laki2. Dan ini lebih masuk akal, jika dikaitkan dgn tugas yg diemban Adam: khalifah. Lupakan bentuk ideologis kata khalifah dan pahami secara lingustik saja, yakni pengganti. Timbul pertanyaan, siapa atau apa, yg digantikan Adam? Jawabnya simpel, basyar pra-Adam, yakni para manusia purba yg tidak pernah berevolusi jadi manusia modern.”

Di sini, saya mengikuti hipotesis Abd al-Shabur Syahin, yang menafsirkan Adam sebagai bapak insan dan bukan bapak basyar. Mengetahui, jawaban saya, MM pun menimpali.

“Saya punya beberapa pertanyaan (untuk menguji bahasa Arab sampean, hehe...).

  1. Ada tidak bentuk mudzakkar, maskulin, dari kata nafs? Mungkinkah misalnya ayat itu berbunyi: ... khalaqakum min nafsin WAHID wakhalaqa minHU zawjataHU?
  2. Kata zawj itu berarti suami, atau istri, atau bisa suami bisa istri?
  3. Kenapa digunakan kata khaliifah, bukan khaliif, padahal merujuk kepada Adam yang jelas laki-laki?

Dalam hati, saya sudah menyangka akan ada pertanyaan seperti ini, dan saya mengira bahwa hipotesis saya tersebut memang tidak dibangun diatas fondasi tata bahasa yang lazim. Karenanya, saya kembalikan pertanyaan MM, untuk mengetahui, adakah fakta kebahasaan baru yang tidak saya ketahui.

“Oke, saya baca Jalalayn yang linguistics minded itu. Tapi coba, apa bisa dijelaskan secara tata bahasa perubahan bentuk dari mudzakkar ke muannats–feminin, pada Q. 7:189? Atau siapa sebenarnya yg hamil dan menghamili pada ayat tersebut?”

Tentang pertanyaan soal khalifah, saya belum dapat menjawabnya. Namun, di detik-detik kemudian, tiba-tiba saya mendapat intuisi berkenaan dengan denotasi dari kata khalifah, maka saya tambahkan bahwa, “Tentang khalifah, itu merujuk kepada ummat. Yakni ummat Adam menggantikan ummat basyar pra-Adam. Pada kata ja'ala–membuat, bukannya kata itu khas Adam, Ja'il khalifah. Sedang khalaqa–menciptakan, dinisbahkan kepada basyar, khaliq basyar.”

Apa itu nafs wahidah?
Rupanya MM telah menemukan jawaban yang telah ia tanyakan kepada saya. Maka tulisnya, “Biar saya jawab sendiri pertanyaan saya.
  • Kata nafs yg berarti jiwa/ruh di-mana2 selalu muannats dan selalu menggunakan kata ganti & kata kerja muannats, meskipun yg dimaksud adalah jiwa seorang laki2, seperti dlm Q 7:159.
  • Kata zawj bisa berarti suami atau istri. zawj al-mar'ati ba'luhaa wa zawj al-rajul imra'atuhu (Lisan al-‘Arab, IV, 430). Yang dimaksud dalam Q. 7:159 adalah istri.
  • Kenapa kata khaliifah? Karena kata ini hanya digunakan utk mudzakkar (LA, III, 185). Kata khalif jarang, atau mungkin malah tak pernah dipakai. Jadi tidak perlu repot-repot merujukkannya pada umat Adam.
 Penjelasan perubahan bentuk kata kerja dan kata ganti dlm QS 7:189 adalah sebagai berikut.
  1. ...khalaqakum min nafsin waahidah, wa khalaqa minHAA (kembali kpd nafs).
  2. ...zawjaHAA (kembali nafs).
  3. ...liyaskuna (kembali kepada shohib al-nafs). Peralihan seperti ini biasa dalam bahasa Arab. Seperti pada kata ummah yg kadang diganti dg hiya–kata ganti orang ketiga feminin, dan kadang diganti dengan hum–kata ganti orang ketiga jamak maskulin. Hiya merujuk pada bentuk katanya yang muannats, dan hum merujuk pada orang-orang yang ada di dalamnya. Peralihan ini justru menunjukkan bahwa nafs pertama itu laki-laki.
  4. ...ilayHAA (kembali pada zawj).
 Ini sangat jelas bagi yg mengerti bahasa Arab. Dan saat turun, ayat ini dipahami demikian. Jadi biar begitu adanya. Kenapa kita hrs membenturkannya dg penemuan ilmiah tentang asal-usul manusia? Kalo temuannya berbeda apa ayatnya harus dipahami berbeda juga?

Tentu saja, saya memahami, maksud dari MM, tapi karena kejanggalan kata ganti, yang seakan tidak logis itu, jika nafs wahidah ditafsirkan sebagai laki-laki, maka saya pun memberikan pendapat yang berbeda dari cara penafsiran MM. “Saya memahaminya dari tata bahasa yg sangat sederhana. Prinsip saya, bahasa Quran itu spesifik dan saling berkorelasi satu dgn lainnya.

Pada Q. 7:189, penafsirannya seperti ini:
  1. Insan dari nafs wahidah (N).
  2. Zawj (Z) diciptakan dari N.
  3. Agar Z yaskun ila–menetap ke, N.
  4. Maka, ketika Z tagasyya–membuahi, N.
  5. N hamil
Hal serupa juga berlaku pada Q. 4:1 yg bahkan lebih mudah untuk dimengerti. Tidak ada kaidah kebahasaan yg dilanggar di sini, muannats tetap muannats, dan mudzakkar tetap mudzakkar.

Mengenai kebiasaan memanggil sesuatu dgn perempuan–feminin, saya kira itu ideologis. Dalam bahasa Inggris misalnya, kapal, bumi, dan semua yg berbentuk masif atau sangat banyak selalu disebut sebagai perempuan. Dalam bahasa Arab, matahari itu perempuan, sedang bulan laki-laki.

Tafsir itu berkembang sesuai zaman. Hanya teks yg tidak berubah. Dan Al-Quran memiliki kelenturan yg luar biasa, karena mampu mengadaptasi pemikiran yang benar-benar berbeda tanpa merombak teks.”

Tampaknya, model penalaran saya memiliki fondasi logika yang kuat, sehingga MM melanjutkan diskusi kepada case study yang lain. Ia pun berusaha menggunakan teori saya dalam menerangkan ayat tentang nafs dibagian lain dari Al-Quran. “Bagaimana dengan Q. 30:21?” tanyanya.

“...khalaqa laKUM min anfusiKUM azwajan, liTaskunUU ilaihaa, wa ja'ala bainaKUM mawaddatan...

Kum–kata ganti orang kedua maskulin, pertama dan kedua kembali kepada siapa? Waw–jamak kembali kpd siapa? Dan kum ketiga kembali kepada siapa? Tata bahasa Arab tdklah sesederhana yg ada dalam Al-Nahwu al-Wadhih.

Anyhow, senang bisa membaca pikiran sampean. Saya sendiri lebih suka memahami ayat seperti dipahami saat ia diturunkan, lalu mengambil pesan yg diusungnya. Kerangka ayat itu sendiri bisa jadi tdk kita butuhkan. Coz, apa pun yg dikatakan oleh sebuah ayat, baik mitos maupun teori ilmiah, semua itu digunakan untuk menyampaikan sebuah pesan, bukan semata-mata untuk membuktikan kebenaran mitos atau teori ilmiah itu sendiri. Dan mitos atau teori ilmiah yg digunakan tidak lepas dari apa yang berkembang & diyakini oleh komunitas di mana ayat tersebut diturunkan.”

Kembali saya tutup diskusi menarik ini dengan pernyataan mengenai sifat pengetahuan yang ada saat ini, dan bagaimana kita memperlakukan sebuah episteme. “Sifat pengetahuan masa kita jauh berbeda dari masa Rasul. Kebenaran yg ada terbatas dan temporal. Jadi semua yg saya kemukakan hanyalah hipotesis belaka. Ia ada untuk memberikan pemahaman atas sesuatu dalam kerangka logis epistemik. Tidak lebih dari itu. Kalau dia persisten, mungkin nilainya dapat naik menjadi level teori. Tapi kalau tidak, tentu akan ada banyak perbaikan seputar metodologi, dan sudut pandang.”

After Match
Delapan hari kemudian, HH kedua muncul kembali dengan komentar baru di thread yang sama. Katanya, “Akhi, saya setuju dengan akhuna MM, nafs dalam ayat itu bukan berarti perempuan yang satu, tapi karena kata nafs memang bersifat muannats; sama seperti syams–matahari, maka biarpun bentuk katanya mudzakkar, tapi karakternya muannats.

Kalaupun benar bahwa Adam dan Isa itu lahir tanpa ayah, pertanyaan fundamental saya, bagaimana cara Allah menciptakan ibu pertama yang melahirkan Adam itu? Keluar dari guci? Nongol tiba-tiba dari balik pohon? Maaf, creatio ex nihilo tidak pernah masuk dalam logika saya…selamanya!”

Ah, ternyata untuk sebuah perkara yang semestinya mendasar ini, banyak sekali persimpangan pendapat, dan paham yang ada. Dan ternyata iman bukanlah sesuatu yang built in. Dan seperti inilah tantangan agama di abad 21. Klaim-klaimnya bukan lagi yang paling benar, dan harus rela berbagi dengan otoritas lain, macam ilmu atau mungkin juga filsafat. Dan begitulah, mungkin seorang ulama dikemudian hari juga harus mumpuni berbagai macam ilmu pengetahuan, selain tentunya menguasai bahasa Al-Quran.

Selang beberapa menit kemudian saya pun menjawab, pertanyaan HH secara ilustratif. “itu jauh lebih mudah menjawabnya. Bukankah para hominid telah ada. Bisa saja ibu yang melahirkan itu salah satu dari manusia purba. Dan anak yang dilahirkan ibu tadi memiliki karakter biologis yang lebih maju dan revolusioner daripada inangnya. Tapi, seperti yang dikemukakan oleh MM, pendapat saya ini sangat spekulatif, walaupun kebalikannya juga sama-sama spekulatif pula. Dan ayat tentang nafs itu adalah ambigu–mutasyabihat, jadi tidak ada jaminan tafsir atasnya valid.”

Wa Allah A'lam bi al-shawwab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar