Menafsir Surat al-Fil: Sebuah Tinjauan Historis & Semantik (1)

Setiap pembacaan atas surat ke-105 dalam Quran ini benar-benar penuh intrik. Permasalahan yang utama adalah posisi surat Al-Fil yang berada di penghujung Quran membuat surat ini begitu populer. Bahkan sejak usia dini, hampir seluruh umat muslim telah hafal surat tersebut. Kisahnya yang imajinatif direproduksi terus menerus oleh guru agama, dan menjadi bagian dari pop culture yang terus dipahami demikian, bahkan hingga dewasa. Beberapa ada yang mempertanyakan historisitas kisah ini berdasarkan logika dewasa mereka, namun sebagian besar masih memegang makna yang mereka cerap saat kanak-kanak. Disparitas makna yang lebar inilah yang membuat setiap penafsiran terhadap surat Al-Fil bermasalah. Adakah burung Ababil? Bagaimana burung itu mencapai neraka dan membawa bebatuan dari sana? Haruskah kita memahami surat tersebut secara figuratif atau literal? Pertanyaan-pertanyaan sederhana tapi penting inilah yang membuat usaha untuk memaknai surat Al-Fil dalam nalar modern menjadi penuh tantangan. Namun sebelum kita beranjak kedalam diskusi menarik mengenai state of affair ayat tersebut, ada baiknya kita melakukan survey singkat atas wilayah geografis dimana semua kejadian ini bermula, Yaman.


Yaman dalam Quran
Wilayah yang dikenal sebagai Arabia Felix (Arab Sejahtera) ini bukanlah sesuatu yang asing dalam oikumene Quran. Setidaknya terdapat beberapa kejadian, nama tokoh dan tempat dalam Quran yang mengambil seting di daerah yang berada di ujung selatan dari jazirah Arab tersebut. Sebut saja kota Iram bangsa Ad, ratu Bilqis, negeri Saba, kaum Tubba', Ashhabul Ukhdud, hingga sayl 'arim. Dalam surat al-Quraysh (Q. 106) nama Yaman disebutkan secara simbolik sebagai tujuan perdagangan saudagar Makkah di musim dingin. Lebih dari itu, salah satu nama tuhan pra-Islam masyarakat Yaman, Al-Rahman, diabadikan sebagai salah satu al-Asma' al-Husna dalam Quran, menunjukkan familiaritas yang intim antara Quran dan wawasan geografis wilayah sekitar.

Dibandingkan dengan Hijaz yang kering kerontang, Yaman diberkati dengan kesuburan tanah yang membuat wilayah tersebut mampu mengembangkan kultur pertanian yang kuat dan menopang struktur masyarakat yang jauh lebih kompleks. Kekuatan agrikultur Yaman ini disokong oleh keberadaan dam Ma'rib yang dikenal sebagai salah satu keajaiban dunia kuno. Air dari dam ini mensuplai kebutuhan irigasi ladang-ladang sogrum dan perkebunan rempah-rempah serta tumbuhan wewangian. Berbagai produk hulu dan hilirnya seperti damar yang digunakan sebagai sesajen dalam pelbagai ritus keagamaan agama-agama purba inilah yang menjadi komoditas ekspor utama Yaman. Harganya yang naik berkali-kali lipat di pasar-pasar Jerussalem dan Roma membawa surplus perdagangan yang besar dan menarik kedatangan para saudagar untuk datang ke negeri tersebut. Dampak dari kemakmuran ini adalah rendahnya angka kriminalitas dan meningkatnya kemakmuran seantero negeri. Quran menggambarkan kemakmuran Yaman dengan istilah yang sangat akrab, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, Q. 34:15.

Rupanya, kemewahan yang dirasakan penduduk Yaman tidak bertahan abadi. Seiring dengan naiknya status agama Kristen menjadi agama resmi Romawi pada 325, lambat laun kebiasaan membakar dupa dalam ritus keagamaan semakin berkurang. Hal ini menyebabkan turunnya permintaan akan wewangian sehingga turut pula mempengaruhi stabilitas ekonomi negeri Yaman. Meski demikian, faktor utama yang memberikan andil lebih besar bagi merosotnya ekonomi kawasan adalah kerusakan dam Ma'rib. Sejak 449 bendungan tua ini telah berkali-kali mengalami kerusakan, dan meski telah diperbaiki berkali-kali pula, namun kondisinya tidak semaksimal masa jayanya. Faktor terakhir yang juga penting bagi perubahan iklim sosial politik wilayah tersebut adalah dari konversi kalangan elit Himyar, yang merupakan penguasa dominan Yaman sejak abad keempat, menjadi pemeluk agama Yahudi.

Ada banyak alasan, mengapa kaum Tubba' ini beralih memeluk agama Yahudi. Penyebab paling utama adalah, penegasan akan independensi kerajaan Himyar dari pengaruh asing. Perseteruan tanpa akhir antara dua kerajaan adidaya, Byzantium dan Sasaniyah, yang mewarisi perseteruan lama antara Romawi-Persia, menarik negara-negara sekitar kedalam poros permusuhan yang saling berlawanan. Posisi agama Kristen yang menjadi agama resmi Byzantium jelas merupakan opsi yang tidak menarik bagi penguasa Himyar, demikian pula Zoroasterianisme yang menjadi agama resmi kerajaan Sasaniyah. Dalam hal geopolitik, pilihan untuk memeluk agama Yahudi jelas sebuah keputusan yang tepat karena memelihara hubungan dagang dengan kedua kerajaa tersebut, selain tentunya akar semitik agama Yahudi yang membuatnya mampu diterima masyarakat Arab dengan mudah.

Sampai tahap ini, kita tidak melihat adanya ancaman bagi stabilitas keamanan regional. Lain halnya, jika kita melihatnya dari kacamata para pemeluk agama baru ini yang terancam oleh laju pertumbuhan agama Kristen.   Pada 340, salah satu kerajaan Kristen terdekat, Aksum, menginvansi Yaman untuk pertama kalinya dan menganeksasi salah satu kota utama di wilayah tersebut, Najran. Di kota ini, misi-misi Kristen berlangsung dengan gencar, dan berhasil mengkonversi penduduk lokal untuk memeluk agama tersebut. Agresivitas penyebaran agama Kristen inilah yang melatarbelakangi peristiwa utama yang menjadi titik balik kekuasaan di Yaman.

Prekuel Narasi
Sekitar tahun 518 raja terakhir dinasti Himyar, Dzu Nuwas (Yusuf Asar Ya'tsar), mengumumkan perang terhadap agama Kristen. Bersama bala tentaranya, ia menghancurkan benteng pertahanan Aksum di Zhafar dan membantai pemeluk agama Kristen di benteng tersebut, hal serupa juga ia lakukan di kota Najran. Setidaknya 20.000 pemeluk agama Kristen terbunuh dalam pembantaian itu. Peristiwa tersebut mengundang reaksi dari pihak Byzantium, namun karena letak geografis Yaman yang sangat jauh, membuat pengiriman ekspedisi militer menjadi sangat mahal dan penuh resiko. Sebagai alternatif, kaisar Byzantium Justin I, mengirim surat kepada raja Aksum untuk memerangi kerajaan Himyar dan melindungi umat Kristen di Yaman.

Kaleb, raja Aksum saat itu, yang berambisi menaklukkan Arabia, mengirimkan ekspedisi militer ke Himyar. Setelah melalui petempuran sengit, pasukan Ethiopia tersebut akhirnya berhasil menaklukkan Yaman dan mengakhiri kekeuasaan kerajaan Himyar untuk selamanya. Peristiwa besar ini direkam oleh Quran dalam surat al-Buruj (85):4-9. Dalam rangkaian ayat tersebut, Dzu Nuwas dan bala tentaranya digambarkan sebagai Ashhabul Ukhdud, orang-orang yang menggali parit panjang, yang digunakan sebagai tempat untuk mengeksekusi umat Kristen yang menolak keluar dari agamanya. Yang tidak kalah menarik adalah atribusi Quran kepada para penganut agama Kristen ini. Oleh Quran mereka digambarkan sebagai kaum yang beriman kepada Tuhan.

Dari sudut pandang teologis, penganut Kristen Najran berasal dari Gereja Timur. Doktrin utama mereka adalah Nestorianisme, yang percaya bahwa Isa memiliki dua esensi yang berbeda. Yakni esensi ketuhanan dan esensi manusia. Sedangkan bala tentara Aksum yang berasal dari Ethiopia, merupakan penganut Kristen Koptik. Doktrin ketuhanan mereka adalah miafisit yang menganggap bahwa Isa memiliki dua esensi yang saling menyatu dan tidak dapat dipisahkan, yakni esensi ketuhanan dan esensi kemanusiaan. Meski berbeda dalam soal konseptual tersebut, tapi kedua gereja ini sama-sama menganggap Isa sebagai anak Tuhan. Dikemudian hari, Nabi SAW melakukan perjanjian dengan Kristen Najran yang masih tersisa dan mewajibkan mereka untuk membayar jizyah.Perjanjian itu kemudian berakhir pada era Umar ibn Khattab yang diikuti dengan migrasi beberapa anggota komunitas keagamaan tersebut ke Kufah.

Setelah berhasil menaklukkan Yaman, Kaleb kemudian mengangkat seorang tokoh terkemuka Kristen Himyar, Esimiphaeus (Sumuafa' Asyawa) menjadi gubernur Yaman. Namun salah seorang jendral perangnya, Abrahah, tidak puas dengan keputusan raja dan melakukan kudeta terhadap Esimiphaeus. Mengetahui hal tersebut, Kaleb kemudian mengirimkan pasukan kedua yang dipimpin oleh Ariat untuk menyingkirkan Abrahah. Sayangnya, pasukan kedua ini gagal, sedang jendralnya pun terbunuh. Sejak saat itu, Abrahah mempermaklumkan dirinya sebagai raja (lebih tepat gubernur Aksum, viceroy) atas Yaman. Merasa tidak mampu menyingkirkan Abrahah, Kaleb pun mengakui kekuasaan jendral perangnya itu sembari mewajibkannya untuk membayar upeti tahunan ke Ethiopia.

Selama menjadi penguasa Yaman, Abrahah melakukan perbaikan di negeri itu. Ia memperbaiki dam Ma'rib untuk yang terakhir kalinya, menerima utusan dari kerajaan-kerajaan utama guna meningkatkan hubungan dagang, dan membangun sebuah katedral besar di San'a. Sebagaimana umat Kristen pada masanya, Abrahah juga berambisi untuk menyebarkan ajaran Kristen di seluruh penjuru jazirah Arabia. Ambisi keagamaannya inilah yang kemudian melatarbelakangi peristiwa penting yang menjadi tema dari surat al-Fil (105), ekspedisi untuk menghancurkan Ka'bah.

Ekspedisi Abrahah
Laporan tentang ekspedisi militer Abrahah ke Makkah terdokumentasikan dengan baik dalam catatan sejarah Thabari. Ia menggambarkan sentimen yang muncul di kalangan masyarakat Arab pagan yang setahap demi setahap mulai berubah menjadi semangat patriotisme untuk membela aset nasional mereka. Reaksi pertama yang muncul atas rencana penghancuran Makkah datang dari seorang Arab badui bernama Dzu Nufar yang menyerukan perlawanan terhadap bala tentara Abrahah. Tapi serangan sporadis Dzu Nufar itu dapat segera taklukkan oleh pasukan Abrahah. Ia pun ditangkap dan dijadikan tawanan setelah bertarung dengan gagah berani mewalan ratusan tentara yang mengepungnya.

Berbeda dengan Dzu Nufar, masyarakat Thaif yang tahu bahwa tujuan Abrahan yang sebenarnya adalah untuk menghancurkan Ka’bah dan bukan rumah mereka, bekerja sama dengan pasukan Aksum untuk menjadi penunjuk jalan ke Makkah. Ketika sampai di pinggiran kota Makkah, Abrahah mengirim sejumlah pasukan berkuda untuk menjarah berbagai kawanan  ternak milik suku Quraisy yang tengah merumput. Para utusan itu kembali dengan  sejumlah hewan ternak dan ratusan unta milik seorang tetua kota tersebut, Abdul Muthallib. Orang-orang Quraisy dan sejumlah penduduk Makkah awalnya berpikir untuk melawan dan mempertahankan kota mereka dari agresi Abrahah, tapi saat mereka  menyadari bahwa kekuatan mereka bukanlah tandingan bala tentara Aksum yang sangat besar itu mereka pun mengurungkan niat untuk berperang.

Agar tidak terjadi salah paham, Abrahah mengirimkan utusannya ke kota untuk mengundang para tetua Makkah, termasuk Abdul Muthallib dan putera-puteranya ke tenda Abrahah dan berbicara langsung kepada sang raja. Di perkemahan, Abrahah menerima Abdul Muthallib dengan baik dan mengembalikan unta-untanya yang telah dirampas. Dalam pertemuan tersebut, ia mengutarakan bahwa maksud kedatangannya itu bukanlah untuk berperang dengan penduduk Makkah akan tetapi hanya untuk menghancurkan Ka’bah semata. Karena niatnya sudah bulat, bahkan setelah Abdul Muthalib bernegosiasi untuk memberikan upeti tahunan berupa sepertiga hasil panen provinsi Tihamah kepada kerajaan Aksum, maka para perwakilan kota Makkah pun kembali pulang dengan hati  hampa. Mereka kemudian memerintahkan penduduk kota untuk mengungsi keluar dan merelakan Ka’bah dihancurkan oleh pasukan besar Abrahah.

Sampai poin ini, narasi mengenai penyerbuan Abrahah ke Makkah berubah menjadi penafsiran tentang surat al-Fil. Beberapa ada yang mengisahkannya secara dramatis dengan menggambarkan turunnya burung-burung dari langit membawa bebatuan terbakar dan melemparkannya ke pasukan Abrahah dengan detil dan penafsiran yang bermacam-macam. Dan beberapa ada yang menyebutkan merebaknya sebuah penyakit aneh diantara bala tentara tersebut sebagai penyebab kegagalan ekspedisi militer Abrahah. Yang patut diperhatikan adalah laporan mengenai kemunculan wabah cacar yang membinasakan pasukan Gajah itu. Sayangnya, tidak ada satupun laporan sejarah tadi yang dapat dibuktikan secara otentik. Pengetahuan yang kita dapat saat ini dari prasasti tentang Abrahah tidak menyebutkan bagaimana ekspedisi militer ke Makkah bisa gagal, sehingga pengetahuan tentang hal tersebut hanya bisa kita dapatkan dari tradisi semata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar