Memahami Narasi Al-Quran tentang Hari Raya (1)

Untuk hadits online dalam bahasa Indonesia
dapat dibuka di http://id.lidwa.com/app/ 
Berapa harga sebuah hari raya? Dalam dunia modern yang penuh dengan komodifikasi, pertanyaan yang mengemuka tentang makna hari raya memang pantas kita lontarkan. Mulai dari latar belakang ekonomi yang spektakuler; klaim dan otoritas; perpindahan manusia, barang dan jasa; hingga ingar bingar wacana di layar kaca dan dunia maya. Hari raya Idul Fitri jelas sebuah perayaan akbar yang menyita perhatian banyak pihak di negara ini. Bukan saja karena makna hari tersebut yang sangat penting bagi miliaran umat Islam (terutama di Indonesia), tapi juga keterputusan semantik term 'idul fithri dalam Quran.
Terdapat kontras yang tajam antara Idul Fitri sebagai sebuah fenomena sosial, dengan Idul Fitri sebagai fenomena kitab suci. Kita akan segera memahami keretakan epistemologis ini tatkala kita mencari ayat-ayat Quran yang berhubungan dengan kata 'id, atau setidaknya memuat tema tentang hari raya. Dari 63 kata 'wd, yang menjadi akar dari kata 'id dalam Quran, hanya ada satu ayat yang merujuk secara jelas makna literal kata tersebut, yakni Q. 5:114. Itupun tidak menandakan hubungan apa-apa dengan hari raya umat Islam, karena mengacu pada permintaan Isa agar Tuhan menjadikan peristiwa perjamuannya dengan para hawari sebagai festival, hari raya dan 'id, bagi para pengikutnya. Ketiadaan penyebutan kata 'id membawa masalah tersendiri dalam pendefinisian makna kata tersebut, apalagi jika kita benar-benar berhasrat untuk mengetahui geneologi perayaan Idul Fitri. Jika demikian, lalu darimana asal makna perayaan Idul Fitri sebagaimana kita persepsi saat ini?


Fitri vs. Fitrah
Mungkin terdengar berlebihan, tapi pengetahuan yang kita dapat tentang hari raya Idul Fitri justru berasal dari sumber-sumber ekstra-Quran, dalam hal ini al-sunnah. Konsep paling terkenal tentang Idul Fitri adalah ide bahwa hari tersebut merupakan hari di mana dosa-dosa umat Muslim diampuni oleh Tuhan sehingga dirinya benar-benar suci, sebagaimana saat ia dilahirkan pertama kali ke dunia ini. Idul Fitri dalam konsep ini dimaknai sebagai sebuah rite of passage, atau even yang menandai kemajuan status keimanan seseorang dari yang sebelumnya berlumuran dosa, menjadi lebih tersucikan dan tercerahkan. Multiplying effect dari konsep fithri sebagai fithrah sebagai kesucian adalah hadirnya institusi-institusi sosial pasca Ramadhan yang berkaitan dengan proses konsolidasi sosial, seperti sungkeman, mudik, dan Halal bihalal. Kehadiran institusi tersebut dapat diartikan sebagai penyucian dosa-dosa sosial, setelah sebelumnya dosa-dosa pribadi telah berhasil dibersihkan.

Memaknai Idul Fitri sebagai sebuah rite of passage merupakan ide yang secara natural dipahami oleh setiap komunitas di muka bumi ini. Mungkin karena penyamaan inilah, konsep pertama kita tentang Idul Fitri dapat dengan mudah diterima oleh bangsa-bangsa di luar Arab, dan sebagaimana kita saksikan bersama, hal tersebut diapresiasi dengan sangat tinggi di Indonesia yang sangat kental kultur kekeluargaannya. Meski demikian, penyamaan fithri dengan fithrah yang menjadi paradigma dasar even sosial itu ternyata bermasalah dengan semantik. Kata fitri dalam term Idul Fitri justru lebih dekat maknanya dengan berbuka daripada fitrah yang kerap dimaknai kesucian. Pendapat kedua ini setidaknya dikonfirmasi oleh sebuah hadits yang mendefinisikan shawm sebagai saat umat Muslim berpuasa dan Idul Fitri saat mereka berbuka, 'idul fithr berarti kembali berbuka.

Meretasnya konsep Idul Fitri kedua kita ini memberikan alternatif baru bagi persepsi kita mengenai hari raya. Dalam maknanya yang terluas, ia dapat dianggap sebagai sebuah dekonstruksi atas konsep pertama. Bahwa 'id tidak lebih dari peristiwa pembatalan puasa belaka tanpa embel-embel penebusan dosa sebagaimana dipahami sebelumnya, sudah lebih dari cukup untuk mendegradasi makna Idul Fitri dalam perspektif sosiologis. Dalam konsep ini, 'id tidak dipahami sebagai sebuah klimaks (dalam perspektif spiritualitas ia bahkan bahkan dapat diartikan sebagai anti-klimaks dari pencarian Laylatul Qadr di akhir Ramadhan), melainkan sebuah keterputusan dari proses panjang bernama Ramadhan yang berakhir bersamaan dengan kemunculan hilal di langit Syawwal. Efek terbesar yang muncul dari konsep kedua ini, tentu saja menemukan pengganti makna metafisis yang telah tertanam kuat dalam konsep pertama. Pertanyaan yang mengemuka adalah, apakah konsep kedua ini memiliki makna metafisis pengganti yang sebanding bagi makna metafisis yang telah terdekonstruksi? Untuk menjawab pertanyaan ini, mau tidak mau kita harus mengecek kembali konstruk Idul Fitri yang direpresentasikan oleh literatur hadits.

Dalam sebuah riwayat dijelaskan, tatkala umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri, Abu Bakr yang melihat beberapa orang remaja bersenang-senang menyanyi dengan rebana bertanya kepada Rasulullah perihal perilaku mereka tersebut. Jawaban yang diberikan oleh Nabi SAW ternyata berbeda dari perkiraan awal Abu Bakr yang memandang nyanyian para remaja itu sebagai teriakan-teriakan setan yang tidak pantas dilakukan pada hari raya. Rasulullah SAW pun menenangkan Abu Bakr dan menjelaskan bahwa Idul Fitri  adalah hari raya umat Islam, dan karena ia adalah hari raya, maka bersenang-senang pada hari tersebut bukanlah sesuatu yang tabu untuk dilakukan. Nabi SAW pun membiarkan sahabatnya untuk bersenang-senang pada hari tersebut. Dari laporan ini setidaknya kita dapat mengetahui bahwa apa yang dimaksud oleh Nabi SAW sebagai hari raya tidak jauh berbeda dari yang dipahami oleh umat beragama lainnya. Yakni sebuah festival dan perayaan dimana semua orang turut bersuka cita di dalamnya. Sebagai sebuah perayaan, maka perilaku yang lazimnya dianggap "hedonis dan sekuler" pun diperbolehkan untuk dilakukan pada hari tersebut, seperti menyanyikan lagu-lagu jahiliyah dan menabuh rebana.

Tentu saja persepsi Abu Bakr mengenai perilaku "hedonis dan sekuler" berbeda dari pemahaman kita saat ini yang telah terbiasa dengan lengkingan gitar elektrik, dan segala bentuk musik dan lagu yang melampaui imajinasi liar masa sahabat. Masalahnya adalah, apakah makna bersenang-senang seperti yang kita pahami saat ini masih dalam kerangka imajinasi al-sabiqun al-awwalun? Mungkin juga pertanyaan ini tidaklah tepat, karena definisi dari hari raya tidak serta merta ditentukan dengan rasio sekuler - tidak sekuler pada era Nabi dan era modern. Apa yang ingin saya tunjukkan adalah bahwa jika kita membandingkan konsep hari raya yang kita temukan dalam hadits-hadits Nabi dengan pemahaman mengenai hari raya dalam agama lainnya, maka kita akan menemukan fakta bahwa konsep hari raya dalam Islam jauh lebih sederhana dari yang semula kita sangka.

Sebagai perbandingan, konsep hari raya yang ada pada umat-umat di luar Islam senantiasa berkaitan dengan even-even tertentu dalam kehidupan figur utama agama tersebut. Misalnya perayaan Natal yang berhubungan dengan kelahiran Isa, atau perayaan passover yang berkaitan dengan peristiwa keluarnya Bani Israil dari Mesir. 'Id dalam konteks ini, kehilangan fitur-fitur utama yang membuatnya layak disebut sebagai sebuah hari raya, festival, melainkan hanya konsep turunan dari perayaan yang sesungguhnya, Ramadhan--sebagai bulan di mana Quran pertama kali diturunkan. Apabila fitur utama yang membuat 'id kehilangan status festivalnya absen, lalu fitur apa yang semestinya kita sematkan pada hari raya Idul Fitri? Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat ditemukan dalam karakter paling dasar dari Idul Fitri, yaitu shalat dan zakat.

Narasi dalam Shalat
Menyamakan shalat 'id dengan ritus misa dalam tradisi Kristen tentu bukan sesuatu yang bijak, karena pusat kesadaran dari kedua ritus tersebut sangat jauh berbeda. Namun menyimpulkan bahwa karakter shalat 'id tidak jauh berbeda dari karakter shalat Jumat, yang merupakan hari utama umat Islam sebagaimana Ahad bagi umat Kristen, memiliki banyak argumentasi yang dapat yakini. Terlepas dari jumlah takbir di setiap rakaat shalat 'id yang lebih banyak dari takbir di shalat Jumat, model kedua jenis shalat tersebut dapat dikatakan serupa. Hal ini setidaknya bisa dilihat dari jumlah rakaat yang hanya dua, serta keberadaan 2 khutbah di kedua shalat tadi.

Secara historis, perintah shalat Jumat maupun shalat 'id sama-sama turun pada periode Madinah, dengan shalat Jumat sebagai shalat yang pertama kali diwajibkan daripada shalat 'id. Meski turun lebih dahulu, tapi shalat Jumat memiliki sejarah formasi yang jauh lebih panjang. Dimulai dengan perubahan waktu khutbah dari semula dilakukan sebelum shalat menjadi setelahnya, hingga penambahan azan kedua yang baru dilakukan pada masa pemerintahan Utsman, boleh dikatakan shalat Jumat menjadi template bagi shalat 'id. Meski salinan dari shalat Jumat, tapi 'id merepresentasikan karakter shalat yang jauh lebih tua, yakni shalat fajr. Waktu shalat ini, yang berlangsung setelah matahari terbit, telah lama dikenal oleh penganut agama-agama lain sebagai waktu utama untuk berdoa. Terhitung agama Yahudi, Kristen, pagan Makkah, hingga agama-agama Timur, menganggap waktu tersebut sebagai prime time untuk memuji dan menyembah Tuhan.

Tentu kita bisa berspekulasi, apakah shalat 'id menandakan keterhubungan ajaran Islam dengan tradisi agama-agama tersebut atau tidak? Apapun jawabannya, satu hal yang bisa kita pahami bersama dari karakter shalat ini adalah, bahwa shalat 'id tidak lain dan tidak bukan merupakan festival keagamaan sesungguhnya yang dirayakan pada saat Idul Fitri dan Idul Adha. Hal ini bisa kita cerap dari partisipasi semua unsur masyarakat, hingga perempuan yg tengah haid dan yang dipingit, dalam pelaksanaan ibadah tersebut. Pelaksanaannya yang dilakukan di tanah lapang juga memperkuat hipotesis shalat 'id sebagai festival utama hari raya, meski ada yang menganggapnya sebagai bukti bahwa shalat 'id merepresentasikan struktur shalat yang jauh lebih tua. Namun jika diperhatikan kembali, penunjukkan tanah lapang sebagai tempat utama untuk shalat lebih karena faktor kepraktisan belaka.

Unsur berikutnya yang sangat menonjol dalam shalat 'id adalah isi dari shalat tersebut. Sementara kita tidak memiliki catatan tertulis mengenai khutbah Rasulullah SAW, terdapat banyak riwayat yang melaporkan tentang ayat Quran yang sering dibaca oleh Nabi setiap melaksanakan shalat 'id. Setidaknya ada dua surat yang menjadi favorit beliau untuk dibaca saat mengimami jamaah shalat 'id. Kedua surat tersebut adalah Qaf (Q. 50) dan al-Qamar (Q. 54). Kenapa hanya ada dua surat favorit yang kerap dibaca setiap shalat 'id? Apa pesan yang hendak disampaikan oleh keduanya? Adakah relasi kedua shalat tersebut dengan perintah berpuasa di bulan Ramadhan? Cara paling tepat untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah dengan menguak kandungan kedua surat tadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar