Radix

Saya masih ingat ciri pemikiran filosofis waktu kuliah dulu. Berurutan, logis, historis, konseptual dan radix. Radix atau radikal, memiliki makna yang sama dengan akar. Sebuah pemikiran filosofis haruslah memiliki dasar yang kuat dan mampu menembus permasalahan dasar yang dihadapi tanpa terkendala sekalipun dengan rimba kenyataan yang menyesatkan. Jadi alihalih disibukkan oleh halhal remeh, yang harus dilakukan dalam berpikir secara filosofis adalah menelaah kembali konsep dasar segala suatu, mempertanyakan yang lazim dan mengkritisi yang established, untuk kemudian membangun kembali dari puingpuing dekonstruksi itu sebuah bangunan pemikiran yang jauh lebih solid dan utuh.

Kalau dicermati, cara berpikir seperti ini menyerupai pula pola berpikir kaum fundamentalis dan ekstrimis yang karena exposure media sering kita identifikasi sebagai kaum radikal. Mungkin saja hal tersebut ada benarnya, toh awal mula gerakan radikal dalam sebuah kelompok keagamaan atau politik juga bermula dari beberapa pertanyaan filosofis. Pertanyaanpertanyaan tentang ketimpangan sosial, diskriminasi hingga idealideal masa lalu yang membanggakan selalu ditemukan dalam diskusidiskusi gerakan fundamentalis. Lalu apa yang membedakan sebuah radix filsofis dari radix fundamentalis?

Kepentingan. Mungkin itulah yang menjadi dasar pembeda dua pemikiran radix tersebut. Selalu ada kepentingan ideologis dalam pola pikir fundamentalis. Ideologi bagi sebuah gerakan adalah nyawa dan ruh yang wajib ada. Dalam radix filosofis, kepentingan yang hadir adalah sebuah kepentingan untuk mencari tahu yang benar. Tapi benar versi siapa? justru itulah yang dicari. Kita mencari kebenaran dan mempertanyakan kembali apa kebenaran itu. Mencincang idiomidiomnya, mengurai semantik dan semiotikanya, mencocokkan pada fakta historis dan membuka selubung ideologis yang menyelimuti. Filsafat selalu bergulat dengan ketelanjangan dan kesejatian.

Ada joke lucu tentang apa yang dilakukan mahasiswa filsafat seusai kuliah. Kalau lulusan fakultas lain akan menjawab sesuai pelajaran yang telah mereka kuasai, macam mahasiswa teknik sipil yang akan mengaplikasikan ilmunya pada jembatan, gedunggdeung dan perumahan, lantas mahasiswa filsafat hanya akan menjawab aku tidak tahu. Aku tidak tahu yang diambil dari katakata Socrates adalah sebuah pengakuan terindah betapa isuisu filosofis tidak pernah terpecahkan meski sudah lebih dari 2500 tahun berselang. Kesejatian itu, ketelanjangan itu, tidak pernah beranjak dari catatan kaki Plato dalam karyakarya kunonya. Dan diakui atau tidak, disinilah inovasi renaissance berakhir di jurang kekosongan.

Sekarang ada pertanyaan, lalu apa gunanya filsafat? Bukankah itu hanya omong kosong belaka, sejenis kerancuan grammatik dan semantik? Lagi juga filsafat tidak pernah bisa memberi makan orang lapar. well, that's right! Ia memang bukan utilitas berguna macam analisis program di industri IT, ia hanyalah sebuah api dalam sekam, yang menyalanyala dan membakar. Ia seperti inti bumi yang panas dan cair yang memberikan kita gravitasi dan terus menerus memperbaharui keseimbangan ekosistem bumi. Ia hanyalah awal, inti dari rasionalitas masyarakat modern yang semakin lama semakin tertutup oleh lapisan magma yang membeku dan berevolusi menjadi tanah pengetahuan yang gembur dan siap untuk ditanami. Tapi dia ada teman, jauh dibawah kita. Dasar segala suatu. Sebuah radix.

***


Kupikir sudah berapa lama aku hidup dan hampir tidak pernah mengerjakan sesuatu yang radix sama sekali. Terakhir kali, kalau tidak salah, saat mulai masuk ke Gontor. Terusterang, itu adalah saatsaat dimana semangat saya berada dalam titik tertinggi. Hasilnya juga memuaskan, bisa lompat dua kelas langsung, masuk kedalam fast lane dan agak established meski harus dibayar dengan berat badan yang anjlok drastis. Setelah itu, semuanya berjalan sebagaimana yang saya prediksi. Datar dan tanpa guncangan yang berarti. Baru sekarang tiga tahun terakhir, saya memasuki dilema. Saat semua beban tertumpu jadi satu, dan berbagai kepentingan berseliweran di kepala saya, kembali muncul pertanyaanpertanyaan radix itu. Mau kemana? apa yang kamu tuju? Siapa yang harus kau puaskan? Apa yang harus aku lakukan?

Kupikir ini nature. Tapi setelah kukaji lagi, semakin lama menundanunda, maka semakin tidak nature-lah tindakan yang kulakukan. Mungkin karena terlalu nyaman, akhirnya keberanianku hilang sudah, tumpul oleh kepentingan yang menggoda. Ah, mungkin aku memerlukan sebuah perubahan radikal. Sebuah crack yang entah kemana akan membawaku pergi. Sebuah ranah kosong yang hanya aku seorang yang berbicara di dalamnya. Sebuah ethos!

I just wanna fly and let God be my guidance.

3 komentar:

  1. masalahnya, radikalitas terlanjur diasosiasikan dengan ekstrimitas :)

    BalasHapus
  2. @ Sonny, benar sekali. Radikal itu justru pemikiran yang mendalam dan penuh perhitungan.

    @ Alia, sepertinya begitu. Jadi pegawai kerah warnawarni kadang menumpulkan pemikiran. :D

    BalasHapus