Orgasme intelektual

Sudah kubilang, tinggalkan saja intelektualitas itu. Ini abad 21, intelektualitas cuma peninggalan tahun 90-an. Sekarang orang-orang lebih suka membicarakan hal-hal ringan semata, bukan teori-teori muluk para filsuf, yang kemudian dibajak dan didiskusikan dengan pop di lembaga-lembaga orang aneh.

Dangkal, kau tahu artinya?

Tak mengenyangkan dan menghilangkan rasa haus sama sekali. Hanya ada sihir Fesbuk yang berisi status-status bodoh. Ucapan orang-orang yang isinya hanya tetek bengek sialan belaka.

Kau tahu, betapa aku rindu

pada diskusi-diskusi hangat yang membuat nalar-nalar otakku berjalan. Dan kepuasan hatiku terhadap pertanyaan-pertanyaan tanpa ujung mengalir.

Di bumi yang artifisial dan penuh kepalsuan ini, di mana lagi bisa kudapatkan kedalaman, kemegahan, dan ketadabburan!

Yang memalingkanku dari batang tubuh ini. Yang hina, aneh dan keparat.

Aku butuh orgasme intelektual!

Selip Bahasa (1)

Masuknya Islam ke tanah air tidak hanya meninggalkan jejak keberagamaan dan kebahasaan yang kuat.  Seperti penyerapan kata-kata dalam bahasa Arab ke dalam khazanah bahasa Indonesia, tapi juga beberapa pergeseran makna dan pembentukan arti yang baru yang terkadang memiliki pengertian yang berbeda saat diterapkan dalam lingkup agama, terlebih al-Quran. Berikut beberapa selip bahasa yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Fitnah
Dalam bahasa agama tidak sebagaimana yang kita artikan dengan tuduhan yang dibuat-buat. Fitnah di sini lebih dekat artinya kepada suatu keadaan yang tidak jelas, gamang, sehingga kita tidak bisa menarik sebuah kesimpulan baik atau buruk, salah atau benar. Kegamangan tadi bisa disebabkan oleh tarik ulur kepentingan dalam diri manusia yang seringkali digambarkan sebagai entitas yang sangat subjektif. Ayat al-Quran yang begitu populer berkenaan dengan kata fitnah terdapat dalam Q.S. (2:191)
 “dan perangilah (qatalu) di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, tapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas {190} dan bunuhlah mereka dimanapun kalian menemukannya juga usirlah mereka sebagaimana mereka mengusir kalian dan fitnah lebih hebat (efeknya) daripada pembunuhan dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjid al-Haram hingga mereka memerangimu di dalamnya. Dan jika  mereka berbuat demikian, maka bunuhlah mereka, demikianlah balasan orang-orang kafir {191}”
Pada terjemahan al-Quran dalam bahasa Indonesia kita mendapatkan frase “fitnah lebih kejam daripada pembunuhan”. Di sini kita terbawa kepada pemaknaan harfiah dari kata pembunuhan, dan stereotip bahasa dari kata fitnah. Padahal kalau kita mau membaca lebih cermat konteks dari ayat tadi, tentu akan ada arti intrinsik yang melampaui kata fitnah dan qital. Sebagaimana kita ketahui bersama, agama memiliki berbagai macam fungsi. Salah satu fungsi agama adalah penjelas dan pembeda antara baik dan buruk. Bahasa Quran-nya al-Furqan. Qital, entah dalam arti perang atau pembunuhan, merupakan sebuah batas paling akhir dimana kita tidak mungkin lagi menemukan negosiasi di dalamnya. Ia merupakan titik puncak segala perdebatan dan polemik dalam suatu komunitas. Dalam perang, kita bisa membedakan mana lawan dan mana kawan dan dalam batas tertentu mana yang baik dan mana yang buruk. Berbeda dari qital, fitnah berada dalam domain yang berbeda. Ia adalah pre-kondisi bagi qital, sebuah keadaan mental yang penuh dengan intrik dan kepentingan. Dengan demikian, kata kuncinya adalah identifikasi. Fitnah adalah keadaan penuh kesamaran identitas, sedangkan qital adalah keadaan yang sangat jelas dan gamblang.

Setidaknya ada beberapa hal yang termasuk kedalam kategori fitnah. Pertama, yang berkaitan dengan hubungan emosional seperti anak dan keluarga. Kedua, berkaitan dengan ambisi kita untuk menguasai harta benda. Ketiga, berkaitan dengan situasi sosial dan politik. Seluruh kategori ini memiliki kesamaan, yakni lebih menonjolnya fungsi emosi daripada rasio. Yang menarik, al-Quran tidak hanya mengalamatkan fitnah kepada orang-orang zalim dan kafir semata, tapi juga kepada orang-orang beriman. Mungkin itulah mengapa kata ini terdapat dalam 30 ayat yang berbeda untuk menggambarkan  macam-macam fitnah dalam sejarah kehidupan manusia.            
| untuk menjembatani makna fitnah ke dalam bahasa Indonesia, dalam beberapa bagian al-Quran kita akan menemukan kata ujian sebagai sinonim dari fitnah.

Kaffah
Sering kita dengar dalam khotbah Jumat sebagai ajakan dari khotib untuk tidak mencomot yang 'enak-enak' saja dari agama. Biasanya mereka menggunakan argumentasi syariah sebagai landasan bahwa Islam itu merupakan paket lengkap yang akan mencederai keimanan kita seandainya seluruh isi paket tersebut tidak kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Awal mula pemikiran ini, terletak pada cara kita memaknai kata kaffah – secara harfiah berarti seluruhnya – dalam  Q.S. (2:208).           
“wahai orang-orang beriman, masuklah kalian semua ke dalam Islam seluruhnya (kaffah) dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata.”
Para khatib mengatributkan kata kaffah kepada 'Islam' bukannya kepada term 'orang-orang beriman' yang datang di awal frase. Hal ini menimbulkan anggapan bahwa kebanyakan umat Islam belum dan tidak tulus dalam menjalankan seluruh ajaran agamanya. Padahal, apabila kita mengatributkan kata kaffah tadi kepada kaum beriman, maka akan didapatkan arti yang jauh berbeda. Untuk memahaminya sebaiknya kita memahami dahulu konsep keimanan dalam Islam.

Beriman disimbolkan dengan pengakuan bahwa hanya ada satu Tuhan dan Muhammad utusanNya. Ini merupakan konsep formal dari iman. Kenapa begitu? Karena ternyata ada konsep non-formal dari keimanan. Yang saya maksud adalah para Ahli Kitab, Yahudi dan Nasrani. Banyak ulama yang memandang bahwa Ahli Kitab itu adalah orang-orang kafir, karena mereka mengingkari keesaan Tuhan atau setidaknya kerasulan Muhammad. Meskipun demikian, saya cenderung berpegang pada Q.S. (3:199-200)
“Sesungguhnya sebagian dari Ahli Kitab ada yang beriman kepada Allah dan beriman atas apa yang diturunkan kepada kalian (Kaum Muslim) dan kepada mereka. (Mereka beribadah dengan) khusyu kepada Allah serta tidak membeli ayat-ayat Allah dengan harga yang murah. Mereka akan mendapatkan balasan setimpal dari Tuhan mereka, sesungguhnya Allah Maha cepat pertimbangannya {199} wahai orang-orang yang beriman bersabarlah, jadilah orang   yang sabar, dan bersatulah serta bertakwalah kepada Allah semoga kalian beruntung {200}”
Sayang sekali meskipun al-Quran sudah menyatakan kemungkinan tersebut, kita tetap tidak tahu siapa diantara mereka yang berpotensi memiliki iman, dan siapa juga yang benar-benar kafir. Karenanya dalam hukum Islam kalangan Ahli Kitab ini menempati posisi yang unik di antara beriman dan kafir. Umat Islam pun diperbolehkan untuk menikah dengan Ahli Kitab ini dan memakan makanan mereka. Lalu, apa hubungan kata kaffah dengan Ahli Kitab? Penafsiran yang paling masuk akal dari Q.S. (2: 208) adalah seruan kepada Ahli Kitab, yang memiliki secercah iman, untuk masuk ke dalam Islam. Tentu saja hal ini selaras dengan konsep strata keimanan yang diawali oleh iman, kemudian Islam dan yang terakhir ihsan.

Ghafur
Rahim, Aziz, dan berbagai nama Tuhan yang lain. Kadangkala kita merasa bahwa dengan menggunakan nama-nama tadi kita menjadi umat Islam yang baik. Padahal, jika kita lupa menambahkan kata abdu di depan nama-nama tadi konotasinya akan berbeda. Bahkan bukan tidak mungkin jatuh dalam syirik, karena itu adalah nama Tuhan dan hei bukankah kita ini hambanya, abdun. So, jangan lupa menambahkan kata tadi didepan nama-nama Tuhan.

UmatNya?
Saya menemukan istilah ini dalam lirik lagu yang terkenal dan dengan latah banyak orang yang mengekspresikan keimanan mereka dengan mengklaim sebagai Umat Tuhan, termasuk di dalamnya Umat Islam. Well, kata umat sendiri memiliki akar kata yang sama dengan kata ibu, umm. Dan memang pada mulanya kata umat identik dengan kata suku atau tribe, yang merupakan sekumpulan orang yang memiliki asal-usul keturunan yang sama, satu ibu. Ketika Islam datang, Nabi merevolusi kata ini, dari semula yang berdasarkan ikatan darah menjadi sebuah ikatan berdasarkan keimanan. Meskipun demikian, bukan berarti hal tersebut melegitimasi penggunaan frase Umat Tuhan. Karena, meskipun arti umat telah bergeser, tetapi Nabi tidak pernah mengatakan bahwa Umat Islam adalah Umat Tuhan. Beliau bahkan menegaskan bahwa Umat Islam adalah umatnya, Umat Nabi, Umat Muhammad. Penggunaan frase Umat Tuhan, bagi saya sama seperti mengatakan bahwa kita ini adalah anak-anak Tuhan, yang tentu saja bertentangan dengan konsep keimanan dalam Islam.  

Bersambung.....

Aku oleh Aku: Memperingati Setahun Nge-Blog!

Pagi tadi saat sahur, entah kenapa saya jadi tergerak melihat-lihat posting lama di weblog. Mulai dari era pertama kali saya menuliskan kata-kata hingga dua hari yang lalu sebagai posting paling akhir. Dan tahu tidak, ternyata sudah setahun genap saya menulis di blog tercinta. Yup, tepatnya tanggal 26 Agustus 2008 saya mencoba memulai tradisi tulis menulis di jagat maya dan hari ini, pada tanggal yang sama, ternyata sudah satu revolusi rupanya. Selamat ulang bulan Dearest Mind of Honesty!

Aku
Apabila di hitung, sekurangnya ada 98 tulisan yang saya posting di blog, belum termasuk sejumlah post yang belum saya publish, mungkin ada sekitar 103 tulisan yang saya hasilkan dalam setahun ini. Bukan jumlah yang banyak, apalagi kalau dibandingkan dengan sejumlah weblog terkenal seperti Twilight Express dan The Bling of My Life, yang bisa menghasilkan minimal satu tulisan per dua hari. Belum lagi ditambah jumlah penggemar yang sangat banyak. Bisa dibilang saya hanyalah bagian terkecil dari galaksi blog di jagat maya yang sangat banyak itu.

Tentu saja, memiliki blog terkenal mungkin banyak dinanti semua blogger, apapun latar belakang dan cara dia menulis. Tapi memiliki sebuah blog dengan kepribadian yang unik bagi saya jauh lebih penting. Saya merasa hal tersebut pas dengan karakter diri saya, yang independen dan proud to my own world. Lagipula kita tidak mungkin bukan memuaskan semua orang. Dengan membangun sebuah imitasi diri kita sendiri, setidaknya ada satu orang yang mampu kita puaskan, diri kita.

Well, ini bukan masalah menjadi egois dan melupakan orang banyak. Keinginan untuk berbicara sesuai dengan 'selera pasar' kadangkala seperti membatasi kreativitas seseorang. Kita seperti terpenjara oleh sorotan ribuan mata yang melihat setiap detil pikiran kita. Padahal, bukankah salah satu tujuan membuat blog adalah agar kita merasa at home saat mencurahkan isi otak kita, menyuarakan uneg-uneg terpendam, bersuara lantang saat tak satu pun orang sudi membaca dan mendengar. Lebih dari itu semua, munculnya keheningan.

Saat hanya ada kau dan layar monitor yang luas itu, tanpa intimidasi dari liri-lirik lagu yang menggoda atau lalu lalang kendaraan yang menerobos masuk ke meja kerja. Mungkin hanya desiran  kipas angin kecil yang berjuang mengusir panas dari sirip-sirip heatsink. Saat itulah bahasa kita mengalir dan tangan kita bergerak merangkai kata dan kalimat. Meraih sekilas ide, inspirasi, wahyu, atau apapun isitilahnya untuk kemudian memadatkannya dalam struktur kalimat yang mudah dibaca dan dicerna. Keheningan, menginspirasikan keagungan dan ketenangan. Cerita mengalir dan gagasan-gagasan tumbuh dengan suburnya. Dari sanalah, muncul keasyikan tersendiri dalam berkreasi.

Oleh Aku
Posting pertama saya berjudul Totally Heavier, berkisah mengenai kegelisahan diri saya dalam memenuhi panggilan hati dengan kenyataan hidup yang saat itu saya alami. Saya tulis posting tersebut dalam bahasa Inggris yang amburadul. Editingnya pun juga terlihat setengah hati, tentu saja karena pada saat itu saya memang masih awam dengan kode-kode html. Posting kedua dan ketiga bahkan tampak lucu, karena terlihat seperti scrap status Facebook. Singkat dan padat, dan hanya menampilkan gambar semata. Baru pada akhir bulan, tulisan saya mulai berkembang seperti dalam Selamat Ramadhan dan My Statistics at Gontor.

Bulan September pun ternyata tidak terlalu bagus, di bulan ini saya berekspresi dengan puisi. Setidaknya terdapat Puisi Hujan yang saya tulis live ketika hujan deras mengguyur Jakarta, serta Ode Of Birth yang saya dedikasikan untuk seseorang yang belum saya buka kartunya hingga saat ini. Lirik kedua puisi itu bebas, tidak terikat ritme abab, hanya menekankan pada pengalaman subjektif belaka. Pada Ode of Birth saya malah bereksperimen dengan gugusan bintang dan konstelasi planet-planet yang saya lihat ketika menemukan software Planetarium yang bagus itu. Dalam arti tertentu, puisi ini juga dapat dimasukkan kedalam kategori puisi cinta. Hee..

Tiga  bulan terakhir di tahun 2008, ada beberapa kecenderungan utama dalam tema setiap posting yang saya tulis. Pertama adalah penggunaan fotografi sebagai mode utama dalam berekspresi. Kebetulan, saat itu saya baru saja membeli kamera digital yang pertama, sebuah prosumer Canon S5 IS. Jadi, masih dalam masa gatal untuk membidik dan mengabadikan gambar di sana-sini. Terbilang, Morning Calm, Sight of Overture, City of Water, serta At The End of Civilization yang merupakan posting dengan fitur fotografi yang menonjol. Untuk membuat keempat posting ini, saya membuka akun di Flickr sebagai web hosting bagi gambar-gambar yang saya upload ke internet.

Selain keempat posting tadi, beberapa posting juga memiliki fitur yang seimbang antara narasi teks dengan kekayaan angle foto macam Pilgrimage yang bercerita tentang kepulangan saya ke Gontor, demikian juga tiga seri Purnama di atas Bromo yang mengambil setting saat wisata ke Malang. Pola pengambilan foto dengan hunting di jalanan yang kemudian dirangkai dengan teks juga terdapat dalam Casablanca yang merupakan reportase jalanan saya yang pertama. Dalam posting ini, kalau tidak salah, beberapa kali saya harus memarkir kendaraan saya untuk mengambil gambaran hidup tentang ritme kehidupan di sepanjang Kasablangka dan terusannya.

Kecenderungan berikutnya pada masa-masa ini adalah pengungkapan kehidupan pribadi ke dalam sebuah tulisan. Termasuk, sejumlah affair yang bisa dinikmati dalam Perdjalanan Pandjang Seboeah Boekoe yang merupakan sebuah gambaran realistis mengenai diri saya. Demikian pula kisah putus cinta yang sendu sedan serta diramu dengan bahasa Filosofis yang njlimet dalam What If All About This Was Wrong. Lucu juga membaca kedua posting tersebut, terlebih yang terakhir karena baru kali itu saya mendapat komentar yang begitu banyak dan yah, bisa membuat saya tertawa di kemudian hari. Bukan karena peristiwa itu lucu, justru sebaliknya dan betapa saya sangat melankolis dalam menulis.

Sejumlah puisi pada tiga bulan terakhir tahun 2008 juga saya tulis, seperti trilogi Retakan dan Rekahan yang menggambarkan suasana batin saya di dunia kerja, juga lakon pendek Waktu yang Pudar. Pada saat itu, saya mencoba menulis sejumlah resensi buku dan film sebagaimana terdapat dalam dan On Musashi, Macondo, Melquiades dan Buendia. Tahun 2008 pun ditutup dengan sebuah deskripsi kering tentang tradisi pergantian tahun. Mungkin karena mental saya emotionally exhausted pada kala itu. :p

Aku yang Lain
Desember 2008 merupakan masa tersubur bagi saya dalam menulis. Sekitar 16 tulisan saya posting kala itu. Jumlah tersebut dua kali lipat jumlah posting tertinggi tahun 2009 yang sampai saat ini masih dipegang rekornya pada bulan Januari tahun ini, yakni sebanyak delapan buah tulisan.

Memasuki Tahun 2009 nuansa yang berbeda hadir dalam tulisan-tulisan yang saya. Gaya emosional yang meluap-luap perlahan sudah mulai saya tinggalkan, kecuali pada sejumlah tema yang memang membutuhkan gaya tersebut. Sebut saja Limbic dan Ramadhan di Gontor. Sebagai gantinya, saya saat ini lebih tertarik kepada gaya esai yang panjang, argumentatif meski sedikit deskriptif. Tulisan macam Eksploitasi, Gontor & Hogwart, Shake it Don't Stir, Dengerin Jazz dan Why People Having Sex after Funeral, merupakan tonggak-tonggak esai yang ingin saya coba perdalam.

Reportase perjalanan juga masih berlanjut, meski tidak semelodious Purnama di atas Bromo, macam At Midst of Java dan Reli ke Selatan Pulau Jawa yang hanya saya tulis bagian akhirnya saja. Adapun puisi, kini tampil lebih panjang dan beberapa mengambil tema filosofis. Yang berbeda mungkin pemuatan tulisan bertema teknologi dua bulan terakhir yang pada tahun sebelumnya masih malu-malu ingin saya muat. Hal yang sama juga terjadi pada, tulisan bergaya jurnalisme investigatif pada dwilogi Keep Your Hand Clean or Get Dirty serta 45 Menit di Pengadilan meski tidak secerdas tulisan para wartawan, tapi merupakan pengalaman pribadi saya saat masih bekerja sebagai Medical Representative perusahaan farmasi asing.

***

Bisa dikatakan, tulisan saya tumbuh seiring dengan kedewasaan dan pengalaman yang saya cerap selama ini. Hal-hal lain yang mempengaruhi, seperti semakin berkembangnya penggunaan Facebook sebagai media jejaring sosial dan ekspresi membuat kesuburan saya menerbitkan posting baru turut menurun. Tapi itu semua dapat ditebus dengan kualitas tulisan dan ekspresi yang menurut hemat saya turut mengalami peningkatan.

Akhirnya, terimakasih saya ucapkan kepada kawan-kawan dunia maya yang namanya tidak bisa disebutkan satu persatu di sini. Terimakasih, karena telah ikut menemani saya tumbuh dan berkembang di era digital saat ini. Hidup weblog!

Ramadhan di Gontor


Kalau tidak salah, tiga kali saya ber-Ramadhan di Gontor. Pertama, saat menjadi santri baru sekitar tahun 94, kedua ketika masih kelas lima di tahun 98 dan terakhir sewaktu menjadi santri akhir pada 1999 awal. Dari ketiga kesempatan tadi, boleh dikatakan tidak ada yang berubah dalam hal suasana.Ramadhan di pondok, adalah masa-masa ketika tensi kehidupan menurun dan waktu seakan berhenti.Kontras dari hiruk pikuk puasa yang kita temukan di pusat-pusat perbelanjaan pada penghujung bulan, atau lantai-lantai masjid yang disesaki jamaah pada minggu-minggu awal Ramadhan, di Gontor bulan puasa adalah waktunya berlibur panjang.

Bumi
Semuanya dimulai saat ujian akhir yang berlangsung selama hampir sepuluh hari penuh, meski gaungnya telah terdengar sebulan sebelumnya. Lampu-lampu neon terpasang benderang di pusat-pusat keramaian, di lapangan basket, voli, sepak takraw, atau tempat-tempat di mana ribuan santri menggelar tikar duduk dengan tekun mempelajari pelajaran-pelajaran yang akan diujikan. Bagi orang yang belum mengerti mungkin akan mengira kerumunan bermandikan cahaya itu seperti pasar malam yang hingar bingar. Terbukti dari banyaknya tamu yang sangat menikmati pemandangan tersebut. Kalaupun saat ini saya menjadi mereka, terus terang saya juga akan sangat tertarik melihat bocah-bocah kecil lusuh yang sering kali memakai jaket tebal kebesaran berteriak-teriak menghafal mahfuzhot1 di tengah lapangan yang teramat terang. Kemudian riuh rendah itu berakhir, kalau tidak si santri cilik tadi jatuh tertidur kelelahan di atas tikarnya atau pergi bersama teman-temannya menyesaki kios kooperasi siswa yang baru buka tepat pukul 9:30 malam.

Masuk minggu ujian, semua aktivitas extra kulikuler berhenti. Rutinitas lari pagi setiap hari Minggu dan Jumat pun dibatalkan, sehingga semua pikiran tercurahkan hanya pada ujian semata. Inilah tepatnya ketika tingkat stress para santri mencapai puncaknya, yang kemudian berakhir dengan tenang pada saat lonceng tanda berakhirnya masa ujian berdentang. Seperti beban yang lepas, segalanya berjalan ringan. Sangat ringan sehingga kini pikiran semua orang tertuju kepada barisan puluhan bus yang datang membawa mereka ke daerah masing-masing. Mulai dari Aceh, Medan, Padang, Riau, Lampung dan Bangka, seluruh penjuru pulau Jawa dan Madura, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara bahkan Maluku, Timor dan Papua. Pondok pun menjelma menjadi terminal dadakan.

Saat itu, tujuh hari menjelang Ramadhan. Pondok kemudian menjadi sangat sunyi. Begitu sunyi hingga kita menganggap telah memasuki kota mati. Kamar-kamar di Rayon dipenuhi sampah dan debu yang menggunung. Beberapa mukim2 yang menempati kamar-kamar kosong tadi berubah bak raja-raja kecil. Beralaskan kasur kumal dan lemari-lemari kayu yang masih tersisa- karena semuanya telah dijejalkan tanpa peri kemanusiaan di kelas-kelas Komsol3- mereka membangun istana kecil mereka di sudut-sudut kamar. Tak ada yang mengurus selain bagian keamanan pusat yang setiap pagi dan sore berpatroli dengan sepeda ontel klimis kebanggaan mereka. Demikian pula bagian Kebersihan yang rajin bermain air menyirami lapangan agar debu-debu hilang.

Bagi santri kelas V yang in charge pada masa-masa itu, hari-hari pertama memasuki Ramadhan benar-benar surga. Sangat jarang memakai atribut lengkap- baju kantoran, ikat pinggang kulit, celana kain dan sepatu pantofel-, kecuali ketika pergi ke Masjid atau saat ustadz kolong masjid mengumpulkan mereka di gedung pertemuan4. Kemudian dari kesunyian itu perlahan-lahan watak pondok yang sebenarnya bangkit kembali. Rapat-rapat pembentukan Panitia Bulan Ramadhan dan pembahasan AD/ART OPPM mulai marak5. Para proletar6 menempati pos-pos baru yang sebelumnya tidak pernah mereka nikmati. Tepatnya semua santri kelas V terlibat dalam kesibukan baru mejadi panitia pembimbing bagi para calon pelajar yang ingin menghabiskan bulan Ramadhan di pondok.

Kelas VI memang masih bertahan hingga seminggu pertama Ramadhan, tapi mereka tidak mengambil bagian penting dalam kesibukan baru itu. Yang sebenarnya mereka tunggu hanyalah jadwal pemanggilan wisuda di bawah pohon ratapan, yang membawa mereka entah menangis terisak-isak karena gagal lulus atau bersorak gembira mendapat jatah mengabdi di tempat terpencil nun jauh di sana. Ada juga yang menggerutu karena terpaksa menghabiskan waktu mengabdinya di ISID7. Tahun
1999 saya berkesempatan mendapatkan momen tersebut dan dalam prosesi yang dramatis akhirnya ditempatkan sebagai staff pengajar di Darul Ma'rifat Gontor III Kediri. Lumayan, bukan keputusan yang buruk pikirku.

Langit
Pasca kepergian para fresh graduate yang mewariskan lemari-lemari pakaian yang lumayan banyak dan sejumlah tanda mata bagi almamater tercinta, barulah keheningan dan kekhusukan bulan suci tercipta. Saya lebih menyukai suasana malam hari yang terang dan hening. Melintasi barisan bangunan megah yang berangsur mulai terawat rapih, bau cat hijau lumut yang menjadi ciri khas pondok juga mulai terasa, sampah-sampah sisa kepulangan juga telah dibersihkan. Dua tiga santri kelas V yang berkerudungkan sarung meringkuk di balik ember kecil berisikan kopi atau sisa-sisa bungkus mie instan yang diseduh air setengah hangat, sebagian setengah tertidur yang lainnya dengan mata nanar memperhatikan keadaan sebagai tugas meronda pada malam itu. Hanya satu dua orang yang hilir mudik menuju masjid utama yang menjadi jantung kegiatan pondok.

Beberapa jam sebelumnya, kami shalat Tarawih berjamaah tepat seusai shalat Isya. Tidak ada ceramah, tidak ada kotak sumbangan yang berjalan melintasi shaf, dan tanpa ada protes berapa jumlah rakaat shalat Tarawih dilakukan. Yang menjadi imam saat itulah yang memutuskan apakah akan shalat dengan delapan rakaat ataukah dua puluh rakaat. Meski kebanyakan ustadz yang bertugas menjadi imam lebih menyukai yang pertama karena lebih ringkas. Kira-kira empat puluh lima menit kemudian shalat berakhir dan ditutup dengan ritual khas pondok. Pembacaan pengumuman dan kadang-kadang disertai jamuan daftar absensi untuk siswa kelas V. Konsepnya sama seperti razia di jalanan. Bagi yang ketahuan tidak shalat di masjid karena alasan yang tidak bisa diterima, keesokan harinya dengan mudah dapat terlihat berkeliaran dengan kepala tercukur tipis ala tentara. Atau kalau ustadz kolong masjid berbaik hati, mungkin cuma kena sabetan rotan di betis saja.

Selepas Tarawih, beberapa santri sibuk membaca al-Quran hingga satu jam berikutnya. Setelah itu masjid kembali lenggang hingga lampu utama dipadamkan dan sejumlah orang memilih tidur di beranda kanan dan kiri. Inilah saat yang tepat bagi mereka yang ingin mendekatkan diri kepada Tuhan. Gelap dan hening berpadu dengan temaram pantulan cahaya yang masuk melalui sela-sela jendela dan pintu yang terbuka lebar menebarkan perasaan tenang di ruang utama yang sangat luas itu. Dengan langit-langit tinggi lebih dari delapan meter dan hamparan lantai marmer yang dingin, kau akan merasa begitu kecil dihadapan sang pencipta. Sangat kecil hingga tak tahu kepada siapa lagi kau berpaling selain kepadaNya. Dinding hitam yang membeku, hembusan angin yang hilang, seakan tiada lagi batas antara kau dan Tuhanmu. Dan dalam setiap rakaat tahajud, hanya ada keintiman, hingga tak sadar betapa banyak air mata yang kau tumpahkan, mengalir tiada henti dan tak ingin jua kau hapus. Karena saat itu hanya ada kau dan Tuhanmu serta kegelapan yang memelukmu dengan lembut. Apakah kau tersenyum ataukah menangis terisak di tengah malam, hanya Ramadhan yang mampu meluluhkan setiap hati yang keras dan beku.

Pukul dua dini hari, lampu-lampu masjid kembali menyala. Qari duduk bersila di mihrab melantunkan ayat-ayat suci al-Quran dengan khidmat, pengucapannya pas dengan alunan nada yang tidak dibuat-buat. Apalagi yang begitu merdu di dunia ini selain kesahajaan membaca al-Quran di penghujung malam, terlebih jika itu diucapkan langsung dari mulut seseorang yang memang hendak membacanya, bukan rekaman kaset yang disetel keras-keras dan memekakkan telinga.

Maka waktu sahur pun tiba, diawali dengan lengkingan terompet yang terdengar seperti alarm tanda bahaya masa Perang Dunia II, Pondok kembali hidup. Orang-orang menenteng piring, sebagian memakai sarung, pergi menuju dapur umum yang menyajikan panganan sederhana untuk sahur. Sejam lebih sudah cukup untuk makan bekal puasa dan menunggu hingga hidangan tadi turun ke perut. Beberapa jam kemudian, azan subuh berkumandang dan jalanan mulai ramai oleh rombongan santri yang hendak pergi ke masjid. Ramai dan sepi, silih berganti. Seperti siang dan malam, bumi dan langit, seperti kehidupan.

***

Waktu-waktu ba'da subuh hingga fajar merekah biasanya diisi dengan membaca al-Quran kembali. Setelah selesai satu juz atau kalau rasa ngantuk menyerang biasanya saya tidur ayam di dinding masjid yang sejuk. Cukup setengah jam dan saya pun kembali terjaga pergi menuju tangga utama masjid jami menyaksikan cahaya mentari yang muncul di ufuk Timur. Pagi yang indah, itulah yang saya dapati pada setiap Ramadhan di Gontor.

catatan kecil

  1. Mahfuzhot, salah satu mata pelajaran yang diajarkan di pondok. Berisi ungkapan-ungkapan dalam bahasa Arab.
  2. Mukim, santri yunior kelas 1 s/d 4 yang memilih untuk tidak pulang ke rumah saat liburan sekolah.
  3. Komsol, Kompleks Solihin. Nama bangunan di Gontor dan dipergunakan sebagai ruang kelas.
  4. setelan untuk ke masjid biasanya terdiri dari baju, sarung dan ikat pinggang. Baju dimasukkan ke dalam sarung seperti baju kantoran sedangkan ikat pinggang digunakan untuk mengikat sarung agar tidak kendor
  5. OPPM, Organisasi Pelajar Pondok Modern yang mencakup seluruh bidang kehidupan santri termasuk dapur dan koperasi. Yang menjadi pengurus adalah santri kelas V mulai pertengahan semester dan berakhir pada semester kedua tahun berikutnya. Pada bulan Ramadhan, mereka melakukan rapat pembahasan AD/ ART organisasi untuk tahun berjalan.
  6. proletar (slank), sebutan bagi mereka yang tidak mendapat jatah sebagai pengurus OPPM maupun manajer rayon.
  7. ISID, Institut Studi Islam Darussalam, Sekolah tinggi yang dibina oleh Badan Wakaf Gontor.
  8. Gambar Masjid Jami Gontor diambil di sini: http://anawidiyati.wordpress.com


Ugly is (only) Skin Deep

Konon, dalam ilmu perhewanan yang diturunkan oleh teori evolusi, ras binatang yang mampu berdiri tegak di atas dua kakinyalah yang bakal mampu menguasai dunia ini. Saat era Jura berlangsung, T-Rex dan kawanan karnivora lainnya yang mampu berdiri dengan tulang punggung yang tegak adalah penguasa-penguasa tak terkalahkan di dunia saat itu. Keberadaan mereka laksana raja yang tak mungkin ditaklukkan. Setelah ribuan tahun kenyang dengan gelar tersebut, ras mereka kemudian punah dan digantikan oleh mamalia yang lebih kecil. Maka munculah binatang seperti singa dan harimau sebagai penguasa-penguasa baru di dataran Afrika dan Asia. Tapi masa kejayaan para pemangsa ini tidak berlangsung lama, karena setelah itu mulai muncullah ras baru yang jauh lebih unggul, manusia.

Ada banyak yang menyangsikan kalau ras baru ini bersaudara jauh dengan monyet. Tentu saja tidak, bentuk monyet itu sudah sangat berbeda dari bentuk cro magnon yang tinggi besar, lagi pula monyet tidak mampu berdiri tegak seperti manusia. Sebenarnya ia jauh lebih menyerupai simpanse, dengan banyak koreksi di sana sini tentunya. Seperti raut muka yang semakin mulus mirip Zhang Zhi Yi, tangan yang lebih pendek karena sudah tidak digunakan bergelantungan di atas dahan lagi, jidat yang lebih besar seperti milik B. J. Habibie dan tentunya lekuk tubuh yang lebih aduhai karena rontoknya rambut-rambut tipis yang tumbuh di sekujur badan tanpa perlu waxing.

Kenapa sih, hanya ras yang mampu berdiri di atas dua kaki saja yang bisa menguasai dunia? Karena, dengan berdiri, ras tersebut mendapati kenyataan ada bagian tubuhnya yang menganggur. Yup, dahulu tangan digunakan hanya sebagai subordinasi dari kaki, atau paling banter, hanya digunakan dalam proses terkam menerkam saja. Ketika manusia pertama sudah bisa berjalan, ia menggunakan tangannya lebih kreatif dan efisien dari makhluk manapun sebelumnya. Melalui tangan ia menggerus batu-batu cadas yang lalu dijadikan sebagai kapak dan mata lembing untuk berburu rusa dan kijang. Tangan juga bisa digunakan membuat gerabah, kerajinan tangan, bersosialisasi, mengembangkan peradaban dan mengetik di atas keyboard. Intinya, peradaban manusia hampir mustahil muncul tanpa terpisahnya tugas-tugas tangani dari kaki.

Begitu hebatnya keberadaan tangan ini, sampai-sampai Tuhan menggambarkan diriNya sebagai bertangan, selain pula berwajah yang menggambarkan identitas. Manusia pun mengeksiskan dirinya sebagai agen peradaban tangan. Hampir seluruh peralatan cipta karya manusia bisa digunakan oleh tangan, bahkan berkat tangan pula kita mengenal alat-alat multitasking, seperti piring yang selain digunakan untuk tempat menaruh makanan juga bisa digunakan sebagai pengganti batu dalam perang rumah tangga. Dampak dari itu semua, lambat laun peradaban kaki mulai tergusur. Bila dahulu makhluk-makhluk daratan bersandar pada kekuatan dan kelincahan kaki untuk bertahan hidup, kini semuanya telah tergantikan oleh alat-alat ciptaan tangan. Mulai dari penemuan roda tiga ribu tahun lalu, yang berlanjut kepada pengembangan transportasi darat yang cepat dan canggih serta mencapai puncaknya di abad 21 dengan penemuan motor 4 tak 120 cc yang mampu meliuk-liuk di sela-sela kemacetan Jakarta dengan kecepatan hampir 40 km/jam!

Dalam bahasa Arab, kata kaki (rijl) memiliki akar kata yang sama dengan lak-laki (rijal). Tentu saja, saat itu hanya merekalah yang memiliki kaki yang kuat yang mampu bertahan hidup, apalagi kalau kaki ketiga dimasukkan kedalam definisi ini. Bahasa Indonesia bahkan mendahulukan fungsi kaki dari pada tangan dalam istilah ala gengster, kaki tangan, yang tentunya menyatakan bahwa kekuatan laki-laki itu terletak pada kakinya. Tapi sudahlah, sekarang sudah bukan lagi era “laki-laki”, dunia saat ini sudah semakin feminin. Kita mengenalnya lewat fenomena demokrasi, folk, mass rapid transit, media masa, American Idol, dan populer. Lho, apa maksudnya?

Bahasa-bahasa dunia yang mengenal pembedaan kata berdasarkan gender, dalam nama-nama yang berhubungan dengan angka genap, jamak, jumlah yang sangat besar atau bidang yang massif selalu menyandang gelar perempuan. Bumi, kapal, rakyat, tiga orang, umat, negara dan bangsa serta tanah air adalah perempuan. Sedangkan setiap singular, kecuali jika memang terbukti bahwa itu perempuan, adalah laki-laki. Makanya, para pemimpin zaman dahulu lebih menyukai sistem kerajaan dengan laki-laki sebagai raja. Tentu saja, karena dengan begitu melambangkan penyatuan, antara raja yang laki-laki dan rakyat yang perempuan atau Tuhan yang laki-laki yang ada di langit dengan bumi atau manusia sebagai wanitanya. Berbeda dengan saat ini, yang lebih mengedepankan kepemimpinan oleh rakyat, atau kedatangan revolusi industri yang kemudian membawa selera pasar dengan ciri khas handphone, motor dan mobil sejuta umat.

Disadari atau tidak, kemajuan industri telah menjadikan manusia dewasa ini jauh lebih serupa dibanding berabad-abad yang silam. Definisi kita akan kecantikan mulai diwakilkan oleh model-model iklan. Cara kita berpakaian pun serupa, bahkan alat  komunikasi kita pun nyaris sama: handphone, internet, televisi dan radio. Yang lebih parah, kini selera kita pun sama, selera pasar.  Dan dengan tumbuhnya globalisasi yang menjadikan bumi ini sebagai kampung besar, proses menuju femininisasi pun semakin cepat. Tidak percaya? Coba perhatikan pemilu kemarin, yang menurut kawan saya merepresentasikan bangsa kita sebagai bangsa perempuan. Betapa tidak, kita selalu menginginkan figur pemimpin yang ramah, murah senyum, ganteng, ngemong, dan sifat-sifat lain yang mirip pemilihan kontes Indonesian Idol.

Lalu, apa hubungan semua ini dengan judul posting di atas? Saya tidak bermaksud melupakan perbedaan antara wanita cantik dan jelek lho. Juga tidak menjiplak mentah-mentah iklan VW Beetle di era 60-an itu yang memiliki tag serupa. Hanya penasaran saja, mana yang lebih umum, orang cantik ataukah orang jelek? Kalau orang jelek jumlahnya lebih banyak dari orang cantik, tentu kita mendefinisikan seksi sebagai kecantikan yang sangat. Sayangnya, dengan begitu orang-orang berlomba membuat dirinya secantik mungkin, sehingga  pada titik tertentu, kecantikan kehilangan pamornya sebagai duta keseksian. Dengan demikian, tentu saja menjadi jelek jauh lebih seksi daripada menjadi cantik. Kenyataannya, kelompok yang berada di ujung kedua polaritas inilah yang jumlahnya jauh lebih sedikit dari mereka yang berada di tengah-tengah. Tapi karena menjadi cantik atau buruk hanya sebatas kulit semata, maka perbedaan antara seksi dan tidak seksilah yang seharusnya menjadi dagingnya.

So, what's the hell with sexiest?! Hmmm... To be sexy means to be different and in another way it to become masculine definitely. Seksi, eksotis, berbeda, maskulin dan laki-laki. Lawannya, tidak seksi, umum, dan perempuan. Ia sama dengan kembali dari dunia lengan dan alat-alat modern kepada dunia kaki yang penuh perjuangan dan daya tahan. Sama seperti melepaskan baju kantoran yang monoton dan berpindah ke koteka di pedalaman Papua. Sama seperti perubahan kita dari penonton menjadi yang ditonton. Dari pasif menjadi aktif, dan dari perempuan menjadi laki-laki.


***

Suatu ketika, saat bumi ditinggalkan oleh penghuninya, akibat kerusakan alam yang parah dan sebagian lagi oleh bencana nuklir yang menyapu habis seluruh manusia. Hanya tersisa satu makhluk jelek yang mampu bertahan. Percaya tidak, makhluk ini jugalah yang dulu pernah bertahan saat ras dinosaurus punah. Tidak pernah salah, kalau anda menebaknya sebagai kecoa. Well, isn't ugly only skin deep?! :D


Berenang di Jaunty Jackalope


Hmm.. sepertinya saya sedang in love with Linux right now. Tiada hari dihabiskan tanpa mengotak-atik sistem operasi gratis ini. Ya, Linux apalagi Ubuntu, benar-benar free in both sense: free speech and free lunch. Beda memang cara saya mengotak-atik dari para ahli software yang menghabiskan berjam-jam di depan baris console berisi kode-kode rahasia ala Matrix, tapi lambat laun saya juga mulai mempelajari terminal text hitam putih tadi yang keberadaannya memang tidak bisa dipisahkan dari sistem Linux. Yang saya maksud di sini, adalah mencoba membangun sebuah sistem komputer lengkap dan stabil, yang dalam banyak hal hanya berurusan dengan proses install menginstall saja. Tapi hey, cara menginstall di Ubuntu jauh lebih rumit lho dari cara menginstall di lingkungan Windows. Memang ada aplikasi Synaptics yang powerfull atau model add remove biasa yang sangat informatif dan berisi ribuan aplikasi gratis. Tapi kadang-kadang dibutuhkan pula mode teks guna menginstall software yang tidak terdapat dalam katalog software bawaan. Jadilah terbiasa mengetik kode-kode khusus macam sudo su, sudo dpkg -i, sudo apt-get, atau yang lebih rumit, make install, ./, hehehe..

Ya, itulah baris-baris perintah yang paling saya hafal, selain tentunya cara berpindah dari satu direktori ke direktori lain, macam cd /home/himawan dan cd .. untuk naik satu direktori di atasnya. Tentang cara meng-copy, menghapus, atau membuat link benar-benar tidak ada yang masuk di kepala, karena saya sendiri lebih senang menggunakan mode grafis yang benar-benar nyaman. Tapi bukan berarti semudah yang kita lihat lho. Bagi yang belum mengenal konsep sistem administrasi ala server yang setiap penggunanya wajib menuliskan password saat melakukan tindakan administratif tentu akan merasa jengkel dengan Linux. Terlebih di lingkungan Ubuntu yang sedikit berbeda misalnya dari Mandriva yang benar-benar user friendly. Di Ubuntu, SELinux benar-benar ketat. Tapi itulah seninya, rumit tapi malah membuat saya semakin jatuh hati.

Yang paling bikin saya kelimpungan adalah saat mencoba membuat sebuah partisi khusus berisi file-file MP3, foto-foto berharga dan dokumen-dokumen penting yang bisa diakses oleh semua user di rumah. Karena terbawa kebiasaan menggunakan Windows yang membagi hardisk ke dalam dua partisi, c: untuk sistem dan d: untuk data, maka saya pun melakukan hal serupa pada Ubuntu. Tentunya saya juga membuat partisi khusus untuk root dan swap serta partisi tersendiri untuk home. Total ada empat partisi di hardisk yang lengkapnya terdiri dari 1 primary dan 3 logical. Setelah melakukan proses instalasi dengan mulus dan membuat tiga account user berbeda bagi setiap pemakai komputer di rumah, kini giliran memindahkan folder-folder berukuran raksasa dari mantan partisi d: ke partisi khusus dengan format filesystem ext.4 dan ternyata sukses.

Masalah utama muncul justru pada saat membuka isi folder tersebut dan melihat isinya, saya hampir tidak bisa membuka folder-folder tadi. Setelah melihat properties baru diketahui bahwa folder dan ribuan file di dalamnya merupakan milik root. Astaga, tentu saja saya tak bisa langsung membukanya. Tapi kenapa bisa begitu? Selidik punya selidik, sewaktu proses peng-copy-an saya masuk ke root sebagai administrator dan memindahkan file-file tadi dalam kapasitas root. Tentu saja sistem akan menganggap folder-folder tadi milik root bukan saya sebagai user sehingga tidak diperkenankan mengaksesnya. Nah, ini juga bedanya Windows dengan Linux, dalam Linux setiap file dan folder selalu mempunyai pemilik, owner. Hanya pemilik sah file dan folder tadi yang dengan mudah mengakses dan melakukan perubahan. Pengguna komputer lain tidak dapat mengakses apalagi merubah file-file tadi kecuali setelah si pemilik mengizinkan tindakan tersebut. Teknisnya, cukup merubah konfigurasi file akses dan sharing yang ada pada ribuan isi folder sebagai root, dan woila saya pun bisa mengakses koleksi tadi. Kata para pakar, model keamanan yang ketat macam inilah yang membuat Linux lebih tahan virus dan gangguan hacker.


Saya pikir ide membuat partisi untuk sharing data antar pengguna pada Linux mulai luruh di kepala. Sambil merubah izin akses dari kumpulan data tadi, saya memikirkan kembali model komputer desktop dengan multi-user berikut cara berbagi file secara efektif. Sayangnya saya tidak menemukan jawaban yang memuaskan. Satu-satunya prinsip yang saya ketahui mengenai akses data bersama ini, bahwa setiap pengguna hanya diperkenankan menulis dan menggunakan file yang berada pada direktori home mereka masing-masing. Bila begitu, berarti saya harus menaruh setiap file pribadi pada direktori home setiap user dan memberikan akses file sharing bagi seluruh pengguna PC. Agak merepotkan memang, tapi jauh lebih efektif daripada me-mount sebuah partisi setiap kali hendak mengakses file.

Maka dimulailah perombakan besar-besaran. Saya hapus seluruh partisi di hardisk, dan melakukan instalasi kembali sistem Linux secara utuh. Tidak seperti cara pertama, sekarang jumlah partisi yang saya buat jauh bervariasi. Direktori /boot, /var dan /usr saya buatkan partisi tersendiri. Karena kecil, /boot hanya saya beri jatah ½ GB, sedangkan /var dan /usr masing-masing 5GB. Kelak, saya mengkoreksi kembali pembagian ini, dengan memberikan /usr jatah partisi yang lebih luas daripada / hingga 10GB. Kedepan, apabila file di /usr ini terus membengkak, bukan tidak mungkin saya kasih jatah hingga 15GB. Dengan demikian ada enam partisi dalam hardisk ukuran 80GB yang saya gunakan  sepenuhnya untuk Linux. Lalu bagaimana dengan hardisk satunya? Well, saya tidak menginstall kembali Windows XP, jadi saya menggunakannya sebagai media backup semata. Hardisk tersebut tetap berada dalam casing tapi kabel IDE-nya saya cabut sehingga tidak dapat diakses.

Ringkas cerita, rencana B ini berhasil dieksekusi. Direktori musik memang saya tempatkan di direktori home saya, tapi aplikasi pemutar MP3 Rythmbox setiap user sudah saya seting untuk mengakses hanya data musik secara otomatis. Hardisk virtual berisi Windows XP juga telah saya masukkan ke dalam seting Virtual box setiap user dan semua orang mendapatkan kembali hak atas file mereka. Dengan demikian, jadilah sistem multi user yang stabil dan lancar. karena ini adalah PC keluarga maka saya sertakan pula software-software favorit:

  1. Accessoris: Tomboy Notes, sebagai penanda pesan di desktop, dan CHM Viewer untuk melihat ebook Harrisson's Principle of Internal Medicine yang ditulis dalam file .chm
  2. Education: Zekr (al-Quran digital bawaan Linux), Stellarium (simulasi astronomi dengan tampilan 3D yang indah), GCompris (kumpulan software pendidikan untuk balita, sangat bagus digunakan bagi yang memiliki anak atau saudara yang masih kecil), Kanagram (program anagram dan tebak kata), dan Ktouch untuk ibu saya yang hendak belajar mengetik.
  3. Games: Billiard GL, Brutal Chess (keduanya memiliki tampilan 3D yang menarik), simulasi pesawat terbang GL117  dan FlightGear, game RTS dengan grafik yang kasar Gest, serta clone SimsCity, Opencity dan Civilization II, FreeCol. Tidak ketinggalan, game balap Extreme Tux Racer serta Frozen Bubble yang addictive.
  4. Grafis: Dia, pengganti Ms. Visio untuk membuat bagan, GIMP, sebagai pengganti Photoshop, PDF editor untuk mengedit file .pdf serta Scribus untuk membuat layout majalah.
  5. Office: OpenOffice, Calibre, sebagai katalog ebook untuk perpustakaan digital, Disksearch untuk katalog koleksi CD dan DVD, Wammu yang berfungsi seperti Nokia PC Suite.
  6. Sound & Video: Audacity sebagai sound editor, Avidemux untuk video editing, ISO Master untuk mengotak-atik file .iso serta Rhytmbox dan VLC sebagai media player.
  7. System Tool: Virtualbox untuk menjalankan Windows XP secara virtual dan Unetbootin untuk menjalankan sistem operasi Live lewat USB Flash disk.

Tidak ketinggalan, Wine sebagai jembatan antara dunia Linux dan Windows. Yang paling mengejutkan dari daftar software tadi, semuanya bisa didapat dengan gratis! Atau setidaknya berharga sangat murah. Bayangkan, 6 buah DVD software lengkap hanya berharga 56 ribu Rupiah! Coba bandingkan dengan harga DVD software bajakan yang harganya mencapai 35 ribu rupiah perkeping (atau kalau mau, beli Windows XP + Ms. Office original yang harga total bisa digunakan untuk membeli satu buah PC standar lengkap berikut monitor), belum termasuk kepuasan secara moral dan etis karena tidak terlibat dalam kelompok bajak membajak software (lagi) kecuali file-file MP3. Hihihi...

Let's swim at Linux with Ubuntu!


Catatan kecil

Thank buat Sonny yang bermurah hati mengirimkan copy Ubuntu 9.04 sebanyak 2 DVD. Sayangnya saya juga sudah memiliki 3 paket software Ubuntu. Satu saya beli dari Kambing U.I., satu lagi didapat dari majalah Info Linux dan yang lain gratis dari pembuat Ubuntu, Canonical, di UK yang saya terima dalam jangka waktu 4 minggu setelah pendaftaran online! Apa ada yang berminat?