Selip Bahasa (1)

Masuknya Islam ke tanah air tidak hanya meninggalkan jejak keberagamaan dan kebahasaan yang kuat.  Seperti penyerapan kata-kata dalam bahasa Arab ke dalam khazanah bahasa Indonesia, tapi juga beberapa pergeseran makna dan pembentukan arti yang baru yang terkadang memiliki pengertian yang berbeda saat diterapkan dalam lingkup agama, terlebih al-Quran. Berikut beberapa selip bahasa yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Fitnah
Dalam bahasa agama tidak sebagaimana yang kita artikan dengan tuduhan yang dibuat-buat. Fitnah di sini lebih dekat artinya kepada suatu keadaan yang tidak jelas, gamang, sehingga kita tidak bisa menarik sebuah kesimpulan baik atau buruk, salah atau benar. Kegamangan tadi bisa disebabkan oleh tarik ulur kepentingan dalam diri manusia yang seringkali digambarkan sebagai entitas yang sangat subjektif. Ayat al-Quran yang begitu populer berkenaan dengan kata fitnah terdapat dalam Q.S. (2:191)
 “dan perangilah (qatalu) di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, tapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas {190} dan bunuhlah mereka dimanapun kalian menemukannya juga usirlah mereka sebagaimana mereka mengusir kalian dan fitnah lebih hebat (efeknya) daripada pembunuhan dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjid al-Haram hingga mereka memerangimu di dalamnya. Dan jika  mereka berbuat demikian, maka bunuhlah mereka, demikianlah balasan orang-orang kafir {191}”
Pada terjemahan al-Quran dalam bahasa Indonesia kita mendapatkan frase “fitnah lebih kejam daripada pembunuhan”. Di sini kita terbawa kepada pemaknaan harfiah dari kata pembunuhan, dan stereotip bahasa dari kata fitnah. Padahal kalau kita mau membaca lebih cermat konteks dari ayat tadi, tentu akan ada arti intrinsik yang melampaui kata fitnah dan qital. Sebagaimana kita ketahui bersama, agama memiliki berbagai macam fungsi. Salah satu fungsi agama adalah penjelas dan pembeda antara baik dan buruk. Bahasa Quran-nya al-Furqan. Qital, entah dalam arti perang atau pembunuhan, merupakan sebuah batas paling akhir dimana kita tidak mungkin lagi menemukan negosiasi di dalamnya. Ia merupakan titik puncak segala perdebatan dan polemik dalam suatu komunitas. Dalam perang, kita bisa membedakan mana lawan dan mana kawan dan dalam batas tertentu mana yang baik dan mana yang buruk. Berbeda dari qital, fitnah berada dalam domain yang berbeda. Ia adalah pre-kondisi bagi qital, sebuah keadaan mental yang penuh dengan intrik dan kepentingan. Dengan demikian, kata kuncinya adalah identifikasi. Fitnah adalah keadaan penuh kesamaran identitas, sedangkan qital adalah keadaan yang sangat jelas dan gamblang.

Setidaknya ada beberapa hal yang termasuk kedalam kategori fitnah. Pertama, yang berkaitan dengan hubungan emosional seperti anak dan keluarga. Kedua, berkaitan dengan ambisi kita untuk menguasai harta benda. Ketiga, berkaitan dengan situasi sosial dan politik. Seluruh kategori ini memiliki kesamaan, yakni lebih menonjolnya fungsi emosi daripada rasio. Yang menarik, al-Quran tidak hanya mengalamatkan fitnah kepada orang-orang zalim dan kafir semata, tapi juga kepada orang-orang beriman. Mungkin itulah mengapa kata ini terdapat dalam 30 ayat yang berbeda untuk menggambarkan  macam-macam fitnah dalam sejarah kehidupan manusia.            
| untuk menjembatani makna fitnah ke dalam bahasa Indonesia, dalam beberapa bagian al-Quran kita akan menemukan kata ujian sebagai sinonim dari fitnah.

Kaffah
Sering kita dengar dalam khotbah Jumat sebagai ajakan dari khotib untuk tidak mencomot yang 'enak-enak' saja dari agama. Biasanya mereka menggunakan argumentasi syariah sebagai landasan bahwa Islam itu merupakan paket lengkap yang akan mencederai keimanan kita seandainya seluruh isi paket tersebut tidak kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Awal mula pemikiran ini, terletak pada cara kita memaknai kata kaffah – secara harfiah berarti seluruhnya – dalam  Q.S. (2:208).           
“wahai orang-orang beriman, masuklah kalian semua ke dalam Islam seluruhnya (kaffah) dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata.”
Para khatib mengatributkan kata kaffah kepada 'Islam' bukannya kepada term 'orang-orang beriman' yang datang di awal frase. Hal ini menimbulkan anggapan bahwa kebanyakan umat Islam belum dan tidak tulus dalam menjalankan seluruh ajaran agamanya. Padahal, apabila kita mengatributkan kata kaffah tadi kepada kaum beriman, maka akan didapatkan arti yang jauh berbeda. Untuk memahaminya sebaiknya kita memahami dahulu konsep keimanan dalam Islam.

Beriman disimbolkan dengan pengakuan bahwa hanya ada satu Tuhan dan Muhammad utusanNya. Ini merupakan konsep formal dari iman. Kenapa begitu? Karena ternyata ada konsep non-formal dari keimanan. Yang saya maksud adalah para Ahli Kitab, Yahudi dan Nasrani. Banyak ulama yang memandang bahwa Ahli Kitab itu adalah orang-orang kafir, karena mereka mengingkari keesaan Tuhan atau setidaknya kerasulan Muhammad. Meskipun demikian, saya cenderung berpegang pada Q.S. (3:199-200)
“Sesungguhnya sebagian dari Ahli Kitab ada yang beriman kepada Allah dan beriman atas apa yang diturunkan kepada kalian (Kaum Muslim) dan kepada mereka. (Mereka beribadah dengan) khusyu kepada Allah serta tidak membeli ayat-ayat Allah dengan harga yang murah. Mereka akan mendapatkan balasan setimpal dari Tuhan mereka, sesungguhnya Allah Maha cepat pertimbangannya {199} wahai orang-orang yang beriman bersabarlah, jadilah orang   yang sabar, dan bersatulah serta bertakwalah kepada Allah semoga kalian beruntung {200}”
Sayang sekali meskipun al-Quran sudah menyatakan kemungkinan tersebut, kita tetap tidak tahu siapa diantara mereka yang berpotensi memiliki iman, dan siapa juga yang benar-benar kafir. Karenanya dalam hukum Islam kalangan Ahli Kitab ini menempati posisi yang unik di antara beriman dan kafir. Umat Islam pun diperbolehkan untuk menikah dengan Ahli Kitab ini dan memakan makanan mereka. Lalu, apa hubungan kata kaffah dengan Ahli Kitab? Penafsiran yang paling masuk akal dari Q.S. (2: 208) adalah seruan kepada Ahli Kitab, yang memiliki secercah iman, untuk masuk ke dalam Islam. Tentu saja hal ini selaras dengan konsep strata keimanan yang diawali oleh iman, kemudian Islam dan yang terakhir ihsan.

Ghafur
Rahim, Aziz, dan berbagai nama Tuhan yang lain. Kadangkala kita merasa bahwa dengan menggunakan nama-nama tadi kita menjadi umat Islam yang baik. Padahal, jika kita lupa menambahkan kata abdu di depan nama-nama tadi konotasinya akan berbeda. Bahkan bukan tidak mungkin jatuh dalam syirik, karena itu adalah nama Tuhan dan hei bukankah kita ini hambanya, abdun. So, jangan lupa menambahkan kata tadi didepan nama-nama Tuhan.

UmatNya?
Saya menemukan istilah ini dalam lirik lagu yang terkenal dan dengan latah banyak orang yang mengekspresikan keimanan mereka dengan mengklaim sebagai Umat Tuhan, termasuk di dalamnya Umat Islam. Well, kata umat sendiri memiliki akar kata yang sama dengan kata ibu, umm. Dan memang pada mulanya kata umat identik dengan kata suku atau tribe, yang merupakan sekumpulan orang yang memiliki asal-usul keturunan yang sama, satu ibu. Ketika Islam datang, Nabi merevolusi kata ini, dari semula yang berdasarkan ikatan darah menjadi sebuah ikatan berdasarkan keimanan. Meskipun demikian, bukan berarti hal tersebut melegitimasi penggunaan frase Umat Tuhan. Karena, meskipun arti umat telah bergeser, tetapi Nabi tidak pernah mengatakan bahwa Umat Islam adalah Umat Tuhan. Beliau bahkan menegaskan bahwa Umat Islam adalah umatnya, Umat Nabi, Umat Muhammad. Penggunaan frase Umat Tuhan, bagi saya sama seperti mengatakan bahwa kita ini adalah anak-anak Tuhan, yang tentu saja bertentangan dengan konsep keimanan dalam Islam.  

Bersambung.....

1 komentar: