Ugly is (only) Skin Deep

Konon, dalam ilmu perhewanan yang diturunkan oleh teori evolusi, ras binatang yang mampu berdiri tegak di atas dua kakinyalah yang bakal mampu menguasai dunia ini. Saat era Jura berlangsung, T-Rex dan kawanan karnivora lainnya yang mampu berdiri dengan tulang punggung yang tegak adalah penguasa-penguasa tak terkalahkan di dunia saat itu. Keberadaan mereka laksana raja yang tak mungkin ditaklukkan. Setelah ribuan tahun kenyang dengan gelar tersebut, ras mereka kemudian punah dan digantikan oleh mamalia yang lebih kecil. Maka munculah binatang seperti singa dan harimau sebagai penguasa-penguasa baru di dataran Afrika dan Asia. Tapi masa kejayaan para pemangsa ini tidak berlangsung lama, karena setelah itu mulai muncullah ras baru yang jauh lebih unggul, manusia.

Ada banyak yang menyangsikan kalau ras baru ini bersaudara jauh dengan monyet. Tentu saja tidak, bentuk monyet itu sudah sangat berbeda dari bentuk cro magnon yang tinggi besar, lagi pula monyet tidak mampu berdiri tegak seperti manusia. Sebenarnya ia jauh lebih menyerupai simpanse, dengan banyak koreksi di sana sini tentunya. Seperti raut muka yang semakin mulus mirip Zhang Zhi Yi, tangan yang lebih pendek karena sudah tidak digunakan bergelantungan di atas dahan lagi, jidat yang lebih besar seperti milik B. J. Habibie dan tentunya lekuk tubuh yang lebih aduhai karena rontoknya rambut-rambut tipis yang tumbuh di sekujur badan tanpa perlu waxing.

Kenapa sih, hanya ras yang mampu berdiri di atas dua kaki saja yang bisa menguasai dunia? Karena, dengan berdiri, ras tersebut mendapati kenyataan ada bagian tubuhnya yang menganggur. Yup, dahulu tangan digunakan hanya sebagai subordinasi dari kaki, atau paling banter, hanya digunakan dalam proses terkam menerkam saja. Ketika manusia pertama sudah bisa berjalan, ia menggunakan tangannya lebih kreatif dan efisien dari makhluk manapun sebelumnya. Melalui tangan ia menggerus batu-batu cadas yang lalu dijadikan sebagai kapak dan mata lembing untuk berburu rusa dan kijang. Tangan juga bisa digunakan membuat gerabah, kerajinan tangan, bersosialisasi, mengembangkan peradaban dan mengetik di atas keyboard. Intinya, peradaban manusia hampir mustahil muncul tanpa terpisahnya tugas-tugas tangani dari kaki.

Begitu hebatnya keberadaan tangan ini, sampai-sampai Tuhan menggambarkan diriNya sebagai bertangan, selain pula berwajah yang menggambarkan identitas. Manusia pun mengeksiskan dirinya sebagai agen peradaban tangan. Hampir seluruh peralatan cipta karya manusia bisa digunakan oleh tangan, bahkan berkat tangan pula kita mengenal alat-alat multitasking, seperti piring yang selain digunakan untuk tempat menaruh makanan juga bisa digunakan sebagai pengganti batu dalam perang rumah tangga. Dampak dari itu semua, lambat laun peradaban kaki mulai tergusur. Bila dahulu makhluk-makhluk daratan bersandar pada kekuatan dan kelincahan kaki untuk bertahan hidup, kini semuanya telah tergantikan oleh alat-alat ciptaan tangan. Mulai dari penemuan roda tiga ribu tahun lalu, yang berlanjut kepada pengembangan transportasi darat yang cepat dan canggih serta mencapai puncaknya di abad 21 dengan penemuan motor 4 tak 120 cc yang mampu meliuk-liuk di sela-sela kemacetan Jakarta dengan kecepatan hampir 40 km/jam!

Dalam bahasa Arab, kata kaki (rijl) memiliki akar kata yang sama dengan lak-laki (rijal). Tentu saja, saat itu hanya merekalah yang memiliki kaki yang kuat yang mampu bertahan hidup, apalagi kalau kaki ketiga dimasukkan kedalam definisi ini. Bahasa Indonesia bahkan mendahulukan fungsi kaki dari pada tangan dalam istilah ala gengster, kaki tangan, yang tentunya menyatakan bahwa kekuatan laki-laki itu terletak pada kakinya. Tapi sudahlah, sekarang sudah bukan lagi era “laki-laki”, dunia saat ini sudah semakin feminin. Kita mengenalnya lewat fenomena demokrasi, folk, mass rapid transit, media masa, American Idol, dan populer. Lho, apa maksudnya?

Bahasa-bahasa dunia yang mengenal pembedaan kata berdasarkan gender, dalam nama-nama yang berhubungan dengan angka genap, jamak, jumlah yang sangat besar atau bidang yang massif selalu menyandang gelar perempuan. Bumi, kapal, rakyat, tiga orang, umat, negara dan bangsa serta tanah air adalah perempuan. Sedangkan setiap singular, kecuali jika memang terbukti bahwa itu perempuan, adalah laki-laki. Makanya, para pemimpin zaman dahulu lebih menyukai sistem kerajaan dengan laki-laki sebagai raja. Tentu saja, karena dengan begitu melambangkan penyatuan, antara raja yang laki-laki dan rakyat yang perempuan atau Tuhan yang laki-laki yang ada di langit dengan bumi atau manusia sebagai wanitanya. Berbeda dengan saat ini, yang lebih mengedepankan kepemimpinan oleh rakyat, atau kedatangan revolusi industri yang kemudian membawa selera pasar dengan ciri khas handphone, motor dan mobil sejuta umat.

Disadari atau tidak, kemajuan industri telah menjadikan manusia dewasa ini jauh lebih serupa dibanding berabad-abad yang silam. Definisi kita akan kecantikan mulai diwakilkan oleh model-model iklan. Cara kita berpakaian pun serupa, bahkan alat  komunikasi kita pun nyaris sama: handphone, internet, televisi dan radio. Yang lebih parah, kini selera kita pun sama, selera pasar.  Dan dengan tumbuhnya globalisasi yang menjadikan bumi ini sebagai kampung besar, proses menuju femininisasi pun semakin cepat. Tidak percaya? Coba perhatikan pemilu kemarin, yang menurut kawan saya merepresentasikan bangsa kita sebagai bangsa perempuan. Betapa tidak, kita selalu menginginkan figur pemimpin yang ramah, murah senyum, ganteng, ngemong, dan sifat-sifat lain yang mirip pemilihan kontes Indonesian Idol.

Lalu, apa hubungan semua ini dengan judul posting di atas? Saya tidak bermaksud melupakan perbedaan antara wanita cantik dan jelek lho. Juga tidak menjiplak mentah-mentah iklan VW Beetle di era 60-an itu yang memiliki tag serupa. Hanya penasaran saja, mana yang lebih umum, orang cantik ataukah orang jelek? Kalau orang jelek jumlahnya lebih banyak dari orang cantik, tentu kita mendefinisikan seksi sebagai kecantikan yang sangat. Sayangnya, dengan begitu orang-orang berlomba membuat dirinya secantik mungkin, sehingga  pada titik tertentu, kecantikan kehilangan pamornya sebagai duta keseksian. Dengan demikian, tentu saja menjadi jelek jauh lebih seksi daripada menjadi cantik. Kenyataannya, kelompok yang berada di ujung kedua polaritas inilah yang jumlahnya jauh lebih sedikit dari mereka yang berada di tengah-tengah. Tapi karena menjadi cantik atau buruk hanya sebatas kulit semata, maka perbedaan antara seksi dan tidak seksilah yang seharusnya menjadi dagingnya.

So, what's the hell with sexiest?! Hmmm... To be sexy means to be different and in another way it to become masculine definitely. Seksi, eksotis, berbeda, maskulin dan laki-laki. Lawannya, tidak seksi, umum, dan perempuan. Ia sama dengan kembali dari dunia lengan dan alat-alat modern kepada dunia kaki yang penuh perjuangan dan daya tahan. Sama seperti melepaskan baju kantoran yang monoton dan berpindah ke koteka di pedalaman Papua. Sama seperti perubahan kita dari penonton menjadi yang ditonton. Dari pasif menjadi aktif, dan dari perempuan menjadi laki-laki.


***

Suatu ketika, saat bumi ditinggalkan oleh penghuninya, akibat kerusakan alam yang parah dan sebagian lagi oleh bencana nuklir yang menyapu habis seluruh manusia. Hanya tersisa satu makhluk jelek yang mampu bertahan. Percaya tidak, makhluk ini jugalah yang dulu pernah bertahan saat ras dinosaurus punah. Tidak pernah salah, kalau anda menebaknya sebagai kecoa. Well, isn't ugly only skin deep?! :D


2 komentar:

  1. wah jadi kita lebih baik berlomba jelek supaya bisa bertahan seperti kecoak ya...

    Saya ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa.

    EM

    BalasHapus
  2. maksudnya, baik jelek maupun cantik itu semua hanya kosmetika dan kulit semata. Yang lebih penting justru dagingnya.

    BalasHapus