Berenang di Jaunty Jackalope


Hmm.. sepertinya saya sedang in love with Linux right now. Tiada hari dihabiskan tanpa mengotak-atik sistem operasi gratis ini. Ya, Linux apalagi Ubuntu, benar-benar free in both sense: free speech and free lunch. Beda memang cara saya mengotak-atik dari para ahli software yang menghabiskan berjam-jam di depan baris console berisi kode-kode rahasia ala Matrix, tapi lambat laun saya juga mulai mempelajari terminal text hitam putih tadi yang keberadaannya memang tidak bisa dipisahkan dari sistem Linux. Yang saya maksud di sini, adalah mencoba membangun sebuah sistem komputer lengkap dan stabil, yang dalam banyak hal hanya berurusan dengan proses install menginstall saja. Tapi hey, cara menginstall di Ubuntu jauh lebih rumit lho dari cara menginstall di lingkungan Windows. Memang ada aplikasi Synaptics yang powerfull atau model add remove biasa yang sangat informatif dan berisi ribuan aplikasi gratis. Tapi kadang-kadang dibutuhkan pula mode teks guna menginstall software yang tidak terdapat dalam katalog software bawaan. Jadilah terbiasa mengetik kode-kode khusus macam sudo su, sudo dpkg -i, sudo apt-get, atau yang lebih rumit, make install, ./, hehehe..

Ya, itulah baris-baris perintah yang paling saya hafal, selain tentunya cara berpindah dari satu direktori ke direktori lain, macam cd /home/himawan dan cd .. untuk naik satu direktori di atasnya. Tentang cara meng-copy, menghapus, atau membuat link benar-benar tidak ada yang masuk di kepala, karena saya sendiri lebih senang menggunakan mode grafis yang benar-benar nyaman. Tapi bukan berarti semudah yang kita lihat lho. Bagi yang belum mengenal konsep sistem administrasi ala server yang setiap penggunanya wajib menuliskan password saat melakukan tindakan administratif tentu akan merasa jengkel dengan Linux. Terlebih di lingkungan Ubuntu yang sedikit berbeda misalnya dari Mandriva yang benar-benar user friendly. Di Ubuntu, SELinux benar-benar ketat. Tapi itulah seninya, rumit tapi malah membuat saya semakin jatuh hati.

Yang paling bikin saya kelimpungan adalah saat mencoba membuat sebuah partisi khusus berisi file-file MP3, foto-foto berharga dan dokumen-dokumen penting yang bisa diakses oleh semua user di rumah. Karena terbawa kebiasaan menggunakan Windows yang membagi hardisk ke dalam dua partisi, c: untuk sistem dan d: untuk data, maka saya pun melakukan hal serupa pada Ubuntu. Tentunya saya juga membuat partisi khusus untuk root dan swap serta partisi tersendiri untuk home. Total ada empat partisi di hardisk yang lengkapnya terdiri dari 1 primary dan 3 logical. Setelah melakukan proses instalasi dengan mulus dan membuat tiga account user berbeda bagi setiap pemakai komputer di rumah, kini giliran memindahkan folder-folder berukuran raksasa dari mantan partisi d: ke partisi khusus dengan format filesystem ext.4 dan ternyata sukses.

Masalah utama muncul justru pada saat membuka isi folder tersebut dan melihat isinya, saya hampir tidak bisa membuka folder-folder tadi. Setelah melihat properties baru diketahui bahwa folder dan ribuan file di dalamnya merupakan milik root. Astaga, tentu saja saya tak bisa langsung membukanya. Tapi kenapa bisa begitu? Selidik punya selidik, sewaktu proses peng-copy-an saya masuk ke root sebagai administrator dan memindahkan file-file tadi dalam kapasitas root. Tentu saja sistem akan menganggap folder-folder tadi milik root bukan saya sebagai user sehingga tidak diperkenankan mengaksesnya. Nah, ini juga bedanya Windows dengan Linux, dalam Linux setiap file dan folder selalu mempunyai pemilik, owner. Hanya pemilik sah file dan folder tadi yang dengan mudah mengakses dan melakukan perubahan. Pengguna komputer lain tidak dapat mengakses apalagi merubah file-file tadi kecuali setelah si pemilik mengizinkan tindakan tersebut. Teknisnya, cukup merubah konfigurasi file akses dan sharing yang ada pada ribuan isi folder sebagai root, dan woila saya pun bisa mengakses koleksi tadi. Kata para pakar, model keamanan yang ketat macam inilah yang membuat Linux lebih tahan virus dan gangguan hacker.


Saya pikir ide membuat partisi untuk sharing data antar pengguna pada Linux mulai luruh di kepala. Sambil merubah izin akses dari kumpulan data tadi, saya memikirkan kembali model komputer desktop dengan multi-user berikut cara berbagi file secara efektif. Sayangnya saya tidak menemukan jawaban yang memuaskan. Satu-satunya prinsip yang saya ketahui mengenai akses data bersama ini, bahwa setiap pengguna hanya diperkenankan menulis dan menggunakan file yang berada pada direktori home mereka masing-masing. Bila begitu, berarti saya harus menaruh setiap file pribadi pada direktori home setiap user dan memberikan akses file sharing bagi seluruh pengguna PC. Agak merepotkan memang, tapi jauh lebih efektif daripada me-mount sebuah partisi setiap kali hendak mengakses file.

Maka dimulailah perombakan besar-besaran. Saya hapus seluruh partisi di hardisk, dan melakukan instalasi kembali sistem Linux secara utuh. Tidak seperti cara pertama, sekarang jumlah partisi yang saya buat jauh bervariasi. Direktori /boot, /var dan /usr saya buatkan partisi tersendiri. Karena kecil, /boot hanya saya beri jatah ½ GB, sedangkan /var dan /usr masing-masing 5GB. Kelak, saya mengkoreksi kembali pembagian ini, dengan memberikan /usr jatah partisi yang lebih luas daripada / hingga 10GB. Kedepan, apabila file di /usr ini terus membengkak, bukan tidak mungkin saya kasih jatah hingga 15GB. Dengan demikian ada enam partisi dalam hardisk ukuran 80GB yang saya gunakan  sepenuhnya untuk Linux. Lalu bagaimana dengan hardisk satunya? Well, saya tidak menginstall kembali Windows XP, jadi saya menggunakannya sebagai media backup semata. Hardisk tersebut tetap berada dalam casing tapi kabel IDE-nya saya cabut sehingga tidak dapat diakses.

Ringkas cerita, rencana B ini berhasil dieksekusi. Direktori musik memang saya tempatkan di direktori home saya, tapi aplikasi pemutar MP3 Rythmbox setiap user sudah saya seting untuk mengakses hanya data musik secara otomatis. Hardisk virtual berisi Windows XP juga telah saya masukkan ke dalam seting Virtual box setiap user dan semua orang mendapatkan kembali hak atas file mereka. Dengan demikian, jadilah sistem multi user yang stabil dan lancar. karena ini adalah PC keluarga maka saya sertakan pula software-software favorit:

  1. Accessoris: Tomboy Notes, sebagai penanda pesan di desktop, dan CHM Viewer untuk melihat ebook Harrisson's Principle of Internal Medicine yang ditulis dalam file .chm
  2. Education: Zekr (al-Quran digital bawaan Linux), Stellarium (simulasi astronomi dengan tampilan 3D yang indah), GCompris (kumpulan software pendidikan untuk balita, sangat bagus digunakan bagi yang memiliki anak atau saudara yang masih kecil), Kanagram (program anagram dan tebak kata), dan Ktouch untuk ibu saya yang hendak belajar mengetik.
  3. Games: Billiard GL, Brutal Chess (keduanya memiliki tampilan 3D yang menarik), simulasi pesawat terbang GL117  dan FlightGear, game RTS dengan grafik yang kasar Gest, serta clone SimsCity, Opencity dan Civilization II, FreeCol. Tidak ketinggalan, game balap Extreme Tux Racer serta Frozen Bubble yang addictive.
  4. Grafis: Dia, pengganti Ms. Visio untuk membuat bagan, GIMP, sebagai pengganti Photoshop, PDF editor untuk mengedit file .pdf serta Scribus untuk membuat layout majalah.
  5. Office: OpenOffice, Calibre, sebagai katalog ebook untuk perpustakaan digital, Disksearch untuk katalog koleksi CD dan DVD, Wammu yang berfungsi seperti Nokia PC Suite.
  6. Sound & Video: Audacity sebagai sound editor, Avidemux untuk video editing, ISO Master untuk mengotak-atik file .iso serta Rhytmbox dan VLC sebagai media player.
  7. System Tool: Virtualbox untuk menjalankan Windows XP secara virtual dan Unetbootin untuk menjalankan sistem operasi Live lewat USB Flash disk.

Tidak ketinggalan, Wine sebagai jembatan antara dunia Linux dan Windows. Yang paling mengejutkan dari daftar software tadi, semuanya bisa didapat dengan gratis! Atau setidaknya berharga sangat murah. Bayangkan, 6 buah DVD software lengkap hanya berharga 56 ribu Rupiah! Coba bandingkan dengan harga DVD software bajakan yang harganya mencapai 35 ribu rupiah perkeping (atau kalau mau, beli Windows XP + Ms. Office original yang harga total bisa digunakan untuk membeli satu buah PC standar lengkap berikut monitor), belum termasuk kepuasan secara moral dan etis karena tidak terlibat dalam kelompok bajak membajak software (lagi) kecuali file-file MP3. Hihihi...

Let's swim at Linux with Ubuntu!


Catatan kecil

Thank buat Sonny yang bermurah hati mengirimkan copy Ubuntu 9.04 sebanyak 2 DVD. Sayangnya saya juga sudah memiliki 3 paket software Ubuntu. Satu saya beli dari Kambing U.I., satu lagi didapat dari majalah Info Linux dan yang lain gratis dari pembuat Ubuntu, Canonical, di UK yang saya terima dalam jangka waktu 4 minggu setelah pendaftaran online! Apa ada yang berminat?


3 komentar:

  1. dah bro, cari kerja di bidang IT, bakat jg kali bro

    BalasHapus
  2. bakat yang terpendam van. :)

    BalasHapus
  3. Untuk tutorial Scribus yang berbahasa Indonesia, baik dalam bentuk PDF ataupun ODT, silakan kunjungi situs web saya di http://ademalsasa.co.cc. Terima kasih.

    Untuk yang punya blog: salam hangat dan jabat erat! Tetaplah berbagi ilmu, kawan!

    BalasHapus