Ramadhan di Gontor


Kalau tidak salah, tiga kali saya ber-Ramadhan di Gontor. Pertama, saat menjadi santri baru sekitar tahun 94, kedua ketika masih kelas lima di tahun 98 dan terakhir sewaktu menjadi santri akhir pada 1999 awal. Dari ketiga kesempatan tadi, boleh dikatakan tidak ada yang berubah dalam hal suasana.Ramadhan di pondok, adalah masa-masa ketika tensi kehidupan menurun dan waktu seakan berhenti.Kontras dari hiruk pikuk puasa yang kita temukan di pusat-pusat perbelanjaan pada penghujung bulan, atau lantai-lantai masjid yang disesaki jamaah pada minggu-minggu awal Ramadhan, di Gontor bulan puasa adalah waktunya berlibur panjang.

Bumi
Semuanya dimulai saat ujian akhir yang berlangsung selama hampir sepuluh hari penuh, meski gaungnya telah terdengar sebulan sebelumnya. Lampu-lampu neon terpasang benderang di pusat-pusat keramaian, di lapangan basket, voli, sepak takraw, atau tempat-tempat di mana ribuan santri menggelar tikar duduk dengan tekun mempelajari pelajaran-pelajaran yang akan diujikan. Bagi orang yang belum mengerti mungkin akan mengira kerumunan bermandikan cahaya itu seperti pasar malam yang hingar bingar. Terbukti dari banyaknya tamu yang sangat menikmati pemandangan tersebut. Kalaupun saat ini saya menjadi mereka, terus terang saya juga akan sangat tertarik melihat bocah-bocah kecil lusuh yang sering kali memakai jaket tebal kebesaran berteriak-teriak menghafal mahfuzhot1 di tengah lapangan yang teramat terang. Kemudian riuh rendah itu berakhir, kalau tidak si santri cilik tadi jatuh tertidur kelelahan di atas tikarnya atau pergi bersama teman-temannya menyesaki kios kooperasi siswa yang baru buka tepat pukul 9:30 malam.

Masuk minggu ujian, semua aktivitas extra kulikuler berhenti. Rutinitas lari pagi setiap hari Minggu dan Jumat pun dibatalkan, sehingga semua pikiran tercurahkan hanya pada ujian semata. Inilah tepatnya ketika tingkat stress para santri mencapai puncaknya, yang kemudian berakhir dengan tenang pada saat lonceng tanda berakhirnya masa ujian berdentang. Seperti beban yang lepas, segalanya berjalan ringan. Sangat ringan sehingga kini pikiran semua orang tertuju kepada barisan puluhan bus yang datang membawa mereka ke daerah masing-masing. Mulai dari Aceh, Medan, Padang, Riau, Lampung dan Bangka, seluruh penjuru pulau Jawa dan Madura, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara bahkan Maluku, Timor dan Papua. Pondok pun menjelma menjadi terminal dadakan.

Saat itu, tujuh hari menjelang Ramadhan. Pondok kemudian menjadi sangat sunyi. Begitu sunyi hingga kita menganggap telah memasuki kota mati. Kamar-kamar di Rayon dipenuhi sampah dan debu yang menggunung. Beberapa mukim2 yang menempati kamar-kamar kosong tadi berubah bak raja-raja kecil. Beralaskan kasur kumal dan lemari-lemari kayu yang masih tersisa- karena semuanya telah dijejalkan tanpa peri kemanusiaan di kelas-kelas Komsol3- mereka membangun istana kecil mereka di sudut-sudut kamar. Tak ada yang mengurus selain bagian keamanan pusat yang setiap pagi dan sore berpatroli dengan sepeda ontel klimis kebanggaan mereka. Demikian pula bagian Kebersihan yang rajin bermain air menyirami lapangan agar debu-debu hilang.

Bagi santri kelas V yang in charge pada masa-masa itu, hari-hari pertama memasuki Ramadhan benar-benar surga. Sangat jarang memakai atribut lengkap- baju kantoran, ikat pinggang kulit, celana kain dan sepatu pantofel-, kecuali ketika pergi ke Masjid atau saat ustadz kolong masjid mengumpulkan mereka di gedung pertemuan4. Kemudian dari kesunyian itu perlahan-lahan watak pondok yang sebenarnya bangkit kembali. Rapat-rapat pembentukan Panitia Bulan Ramadhan dan pembahasan AD/ART OPPM mulai marak5. Para proletar6 menempati pos-pos baru yang sebelumnya tidak pernah mereka nikmati. Tepatnya semua santri kelas V terlibat dalam kesibukan baru mejadi panitia pembimbing bagi para calon pelajar yang ingin menghabiskan bulan Ramadhan di pondok.

Kelas VI memang masih bertahan hingga seminggu pertama Ramadhan, tapi mereka tidak mengambil bagian penting dalam kesibukan baru itu. Yang sebenarnya mereka tunggu hanyalah jadwal pemanggilan wisuda di bawah pohon ratapan, yang membawa mereka entah menangis terisak-isak karena gagal lulus atau bersorak gembira mendapat jatah mengabdi di tempat terpencil nun jauh di sana. Ada juga yang menggerutu karena terpaksa menghabiskan waktu mengabdinya di ISID7. Tahun
1999 saya berkesempatan mendapatkan momen tersebut dan dalam prosesi yang dramatis akhirnya ditempatkan sebagai staff pengajar di Darul Ma'rifat Gontor III Kediri. Lumayan, bukan keputusan yang buruk pikirku.

Langit
Pasca kepergian para fresh graduate yang mewariskan lemari-lemari pakaian yang lumayan banyak dan sejumlah tanda mata bagi almamater tercinta, barulah keheningan dan kekhusukan bulan suci tercipta. Saya lebih menyukai suasana malam hari yang terang dan hening. Melintasi barisan bangunan megah yang berangsur mulai terawat rapih, bau cat hijau lumut yang menjadi ciri khas pondok juga mulai terasa, sampah-sampah sisa kepulangan juga telah dibersihkan. Dua tiga santri kelas V yang berkerudungkan sarung meringkuk di balik ember kecil berisikan kopi atau sisa-sisa bungkus mie instan yang diseduh air setengah hangat, sebagian setengah tertidur yang lainnya dengan mata nanar memperhatikan keadaan sebagai tugas meronda pada malam itu. Hanya satu dua orang yang hilir mudik menuju masjid utama yang menjadi jantung kegiatan pondok.

Beberapa jam sebelumnya, kami shalat Tarawih berjamaah tepat seusai shalat Isya. Tidak ada ceramah, tidak ada kotak sumbangan yang berjalan melintasi shaf, dan tanpa ada protes berapa jumlah rakaat shalat Tarawih dilakukan. Yang menjadi imam saat itulah yang memutuskan apakah akan shalat dengan delapan rakaat ataukah dua puluh rakaat. Meski kebanyakan ustadz yang bertugas menjadi imam lebih menyukai yang pertama karena lebih ringkas. Kira-kira empat puluh lima menit kemudian shalat berakhir dan ditutup dengan ritual khas pondok. Pembacaan pengumuman dan kadang-kadang disertai jamuan daftar absensi untuk siswa kelas V. Konsepnya sama seperti razia di jalanan. Bagi yang ketahuan tidak shalat di masjid karena alasan yang tidak bisa diterima, keesokan harinya dengan mudah dapat terlihat berkeliaran dengan kepala tercukur tipis ala tentara. Atau kalau ustadz kolong masjid berbaik hati, mungkin cuma kena sabetan rotan di betis saja.

Selepas Tarawih, beberapa santri sibuk membaca al-Quran hingga satu jam berikutnya. Setelah itu masjid kembali lenggang hingga lampu utama dipadamkan dan sejumlah orang memilih tidur di beranda kanan dan kiri. Inilah saat yang tepat bagi mereka yang ingin mendekatkan diri kepada Tuhan. Gelap dan hening berpadu dengan temaram pantulan cahaya yang masuk melalui sela-sela jendela dan pintu yang terbuka lebar menebarkan perasaan tenang di ruang utama yang sangat luas itu. Dengan langit-langit tinggi lebih dari delapan meter dan hamparan lantai marmer yang dingin, kau akan merasa begitu kecil dihadapan sang pencipta. Sangat kecil hingga tak tahu kepada siapa lagi kau berpaling selain kepadaNya. Dinding hitam yang membeku, hembusan angin yang hilang, seakan tiada lagi batas antara kau dan Tuhanmu. Dan dalam setiap rakaat tahajud, hanya ada keintiman, hingga tak sadar betapa banyak air mata yang kau tumpahkan, mengalir tiada henti dan tak ingin jua kau hapus. Karena saat itu hanya ada kau dan Tuhanmu serta kegelapan yang memelukmu dengan lembut. Apakah kau tersenyum ataukah menangis terisak di tengah malam, hanya Ramadhan yang mampu meluluhkan setiap hati yang keras dan beku.

Pukul dua dini hari, lampu-lampu masjid kembali menyala. Qari duduk bersila di mihrab melantunkan ayat-ayat suci al-Quran dengan khidmat, pengucapannya pas dengan alunan nada yang tidak dibuat-buat. Apalagi yang begitu merdu di dunia ini selain kesahajaan membaca al-Quran di penghujung malam, terlebih jika itu diucapkan langsung dari mulut seseorang yang memang hendak membacanya, bukan rekaman kaset yang disetel keras-keras dan memekakkan telinga.

Maka waktu sahur pun tiba, diawali dengan lengkingan terompet yang terdengar seperti alarm tanda bahaya masa Perang Dunia II, Pondok kembali hidup. Orang-orang menenteng piring, sebagian memakai sarung, pergi menuju dapur umum yang menyajikan panganan sederhana untuk sahur. Sejam lebih sudah cukup untuk makan bekal puasa dan menunggu hingga hidangan tadi turun ke perut. Beberapa jam kemudian, azan subuh berkumandang dan jalanan mulai ramai oleh rombongan santri yang hendak pergi ke masjid. Ramai dan sepi, silih berganti. Seperti siang dan malam, bumi dan langit, seperti kehidupan.

***

Waktu-waktu ba'da subuh hingga fajar merekah biasanya diisi dengan membaca al-Quran kembali. Setelah selesai satu juz atau kalau rasa ngantuk menyerang biasanya saya tidur ayam di dinding masjid yang sejuk. Cukup setengah jam dan saya pun kembali terjaga pergi menuju tangga utama masjid jami menyaksikan cahaya mentari yang muncul di ufuk Timur. Pagi yang indah, itulah yang saya dapati pada setiap Ramadhan di Gontor.

catatan kecil

  1. Mahfuzhot, salah satu mata pelajaran yang diajarkan di pondok. Berisi ungkapan-ungkapan dalam bahasa Arab.
  2. Mukim, santri yunior kelas 1 s/d 4 yang memilih untuk tidak pulang ke rumah saat liburan sekolah.
  3. Komsol, Kompleks Solihin. Nama bangunan di Gontor dan dipergunakan sebagai ruang kelas.
  4. setelan untuk ke masjid biasanya terdiri dari baju, sarung dan ikat pinggang. Baju dimasukkan ke dalam sarung seperti baju kantoran sedangkan ikat pinggang digunakan untuk mengikat sarung agar tidak kendor
  5. OPPM, Organisasi Pelajar Pondok Modern yang mencakup seluruh bidang kehidupan santri termasuk dapur dan koperasi. Yang menjadi pengurus adalah santri kelas V mulai pertengahan semester dan berakhir pada semester kedua tahun berikutnya. Pada bulan Ramadhan, mereka melakukan rapat pembahasan AD/ ART organisasi untuk tahun berjalan.
  6. proletar (slank), sebutan bagi mereka yang tidak mendapat jatah sebagai pengurus OPPM maupun manajer rayon.
  7. ISID, Institut Studi Islam Darussalam, Sekolah tinggi yang dibina oleh Badan Wakaf Gontor.
  8. Gambar Masjid Jami Gontor diambil di sini: http://anawidiyati.wordpress.com


3 komentar:

  1. Om Im,
    Jadi pengen deh melihat kesana...

    BalasHapus
  2. Ulasan yang sangat menyentuh wan, gw berkaca2 mengenang suasana 10 tahun yang lalu. Sweet memory menjadi "penguasa" di GBS bareng Chicko, Paijo, Dawami, Jasril, Abda'ul umam cs.

    Meskipun ketika menjadi calon pelajar gw sempat mukim, tapi ramadhan pada saat kelas V dan VI sangat BEDA.

    BalasHapus
  3. Great!!!
    Membaca artikel ini membawaku Mengenang kembali masa di Gontor, menitikkan air mata seakan ingin kembali dalam suasana tempoe dulu di Gontor. Terima Kasih Gontor,kau telah menjadi bagian dalam sejarah hidupku, Terima Kasih kau telah menanamkan makna2 nilai kehidupan, memberikan ketenangan dalam setiap langkah menjalani kehidupan yang sementara ini......

    BalasHapus