Eksploitasi

Melihat tayangan televisi tiga hari terakhir, wacana paling menarik yang tengah berkembang adalah musibah runtuhnya waduk situ Gintung di Tangerang. Puluhan nyawa melayang dan ratusan orang masih dalam pencarian hingga saat ini. Dari berita di layar kaca, bantuan sudah mulai berdatangan sejak hari pertama. Organisasiorganisasi masyarakat, partai dan lembagalembaga terkait bencana semacam PMI dan SAR juga telah melakukan tugasnya dengan sigap. Tidak ketinggalan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turut bertandang ke lokasi musibah tersebut, meski harus menggunakan sepeda motor. Para pemuka agama, artis dan masyarakat sekitar yang berempati memadati juga tempat kejadian. Semuanya disempurnakan oleh kamerakamera industri pers yang terarah lekatlekat duapuluhempat jam sehari, menayangkan adegan demi adegan, membuka drama demi drama tentang seorang bapak yang kehilangan seluruh anggota keluarganya, ibu yang menangisi kematian putrinya, dan berbagai kisah heroik yang sangat mengharukan lainnya. Bisa dibilang, tiada satu jam pun terlewat tanpa laporan kondisi terkini live dari stasiun kesayangan anda.

Semasa kuliah di UIN, saya sering main ke tempat kos kawan saya yang kebetulan berjarak limaratus meter dari kampus UMJ. Biasanya naik angkot dari depan gapura kampus dan berhenti di gerbang kampus Muhammadiyah tersebut. Dari jalan raya kami menuruni jalanan kampus yang lumayan curam, melandai sebentar kemudian naik lagi hingga ke gedung fakultas hukum, baru kemudian jalan kembali datar. Karena medannya yang naik turun, saya mengira kawasan tersebut adalah daerah perbukitan. Dan saya mengamini pemikiran tadi hingga waduk situ Gintung runtuh. Awal mulanya hanya penasaran ingin melihat situ Gintung dari udara, saya pun mengakses Google map. Dari sana terlihat jelas, betapa daerah yang terkena air bah, tak lain merupakan DAS dari sungai yang dibendung oleh waduk Gintung itu. Hal ini menjelaskan kondisi medan sekitar kampus yang naik turun itu, dan yang sebenarnya saya alami saat melewati area kampus adalah saya melalui bekas aliran sungai yang telah mengering dan berubah fungsi menjadi areal pemukiman padat penduduk.

Dari informasi yang saya cerap, situ Gintung merupakan waduk peninggalan zaman kolonial Belanda. Dibangun medio 1930-an dengan membendung dua aliran anak sungai. Tujuannya sebagai sarana irigasi bagi areal persawahan di sekitarnya. Dalam perjalanannya, ia mulai berubah fungsi menjadi tempat rekreasi dan pelesiran. Ada restoran, tempat memancing bahkan town house dengan lake view-nya. Zaman berubah, Jakarta mengalami ledakan penduduk. Areal persawahan yang terdapat di sekitar DAS bendungan situ mulai beralih fungsi menjadi pemukiman yang padat. Rumah, tempat ibadah, kos, universitas dan perumahan mulai dibangun di atasnya. Berbeda dengan areal persawahan, pemukiman penduduk memerlukan air sumur. Mereka bukan lagi menerima tapi mengambil. Sama seperti restoran, tempat memancing dan perumahan mewah. Mereka mengambil tapi lupa memberi, memberi perhatian yang serius kepada waduk yang memungkinkan kelangsungan hidup mereka. Memberi perawatan yang setimpal dan menjaganya. Nyatanya, hanya ada eksploitasi bukan reservasi. Dan ketika umur waduk telah uzur, tidak ada yang menyangka bahwa selama ini mereka hidup di atas lahan yang sangat rapuh oleh bencana.

Saya tidak menyukai kata eksploitasi, meskipun diakui atau tidak, sangat dekat sekali dengan kehidupan seharihari. Contohnya, handphone saya ini, sepeda motor, bahkan komputer. Kadang saya paksa mereka sampai batas maksimal, memberinya sedikit perhatian buat perawatan. Mengambil segala keuntungan darinya hingga suatu ketika saat barangbarang tersebut rusak, yang ada hanyalah rasa bingung bagaimana cara saya mendapatkan penggantinya. Yang menarik, dalam ensiklopedia Encarta, ada banyak term yang berkaitan dengan kata tersebut, dan yang paling penting berkenaan dengan teori Marx mengenai pertentangan kelas. Upah buruh dan ongkos produksi selalu lebih rendah dari nilai produk. Hasilnya selalu ada perimbangan kekayaan yang selalu jomplang. Antara pemilik modal dan kaum pekerja. Meskipun dibantah oleh kalangan ekonom orthodox, setidaknya pemikiran Marx mengenai eksploitasi menyiratkan satu hal: Munculnya ketidakseimbangan dan dialektika baru.

Eksploitasi sendiri bukan hak prerogatif bidang ekonomi dan politik semata. Dalam bidangbidang yang lain, kita juga menemukan hal tersebut. Entah itu sosial, budaya bahkan seksual. Dalam ranah pengetahuan, eksploitasi terhadap suatu bidang membuka kemunculan cabangcabang ilmu yang baru. Semakin dalam eksploitasi dilakukan semakin jauh juga ia dari realitas akal sehat. Makanya kita mendapati fisika yang semakin abstrak dan hampirhampir tidak bisa dicerap oleh indera materi kita. Di sini, ketidakseimbangan yang muncul adalah antara realitas inderawi dengan realitas mikroskopik. Nalar keduanya benarbenar berbeda, demikian pula hukumhukum yang melingkupinya. Sama seperti eksploitasi dibidang sosial dan budaya yang melahirkan realitasrealitas baru macam komunitas underground, hippies dan punk. Eksploitasi besarbesaran masyarakat Barat terhadap tubuh juga melahirkan revolusi seksual. Entah karena sudah bosan dengan tubuh lawan jenis, mereka malah menyukai sesama jenis. Maka lahirlah gay, lesbian, dan AIDS.

Dan sepertinya, musibah situ Gintung terjadi bukan saja oleh eksploitasi tanpa sadar. Di mata kita sendiri mereka juga menjadi korban eksploitasi sadar oleh media. Pengumbaran besarbesaran terhadap para korban, isak tangis, dramadrama yang memilukan diiringi lagulagu bertema religi. Yang menjadi korban, bukan hanya mereka yang terkena musibah, tapi juga para pemirsa yang secara tidak sadar dibawa ke alam pertunjukkan yang benarbenar berbeda. Kita dibuat seolaholah musibah itu karena kita kurang percaya kepada Tuhan. Padahal, semuanya jelas kesalahan kita jua. Tuhan di sini menjadi penyebab, atau dewa yang murka karena tidak mendapatkan sesembahan yang sepatutnya. Maka berbondongbondong mereka menuju ke dalam Masjid menggelar istighosah dan doa bersama, seakanakan doa adalah cara instan mengatasi musibah. Pemerintah puas karena tidak perlu mengeluarkan dana yang besar untuk penyidikan. Lempar tanggungjawab antar pemerintah daerah pun mencair. Ini adalah musibah, jadi tidak ada yang salah di sini dan tidak ada yang patut dipersalahkan. Masyarakat kembali tenang, pemerintah adem ayem, dan kesalahan serupa di masa mendatang tak perlu dirisaukan lagi. Tinggal melakukan kunjungan singkat, berempati, berbasabasi, tebar pesona dan semuanya akan beres di majelis pengajian.

Saya takut, janganjangan kita juga telah mengeksploitasi agama?!

Melihat Anna di Indonesia

Anna Karenina (Enriched Classics)Siapa yang tidak kenal Anna, Anna Karenina. Novel masyhur karya Leo Tolstoy, Novelis dan sastrawan terbesar Rusia. Sebenarnya pula, siapa yang tahu? Toh, saya juga baru membaca karya besar ini beberapa hari yang lalu. Meski sudah lama saya tahu ada novel besar karya Tolstoy yang bernama Anna itu, nyatanya pula saya baru bisa membacanya, mengetahui isinya dan memahami kebesarannya dalam hitungan hari. Jadi, sah juga kalau saya katakan siapa yang tahu? Karena kita manusia memang terbiasa untuk tahu, purapura tahu. Menganggap segalanya ada sebagaimana dia ada, tanpa bermaksud mengetahui bagaimana ia ada dan mengapa ia ada. Jadi, siapa yang tahu bahwa ada kekacauan di rumah Oblonskii. Oblonskii, siapa pula itu?

Dan kupikir begitupun Anna. Wanita jelita yang menarik perhatian Vronskii. Tapi ia sudah bersuami, beranak delapan tahun. Siapa sangka, wanita anggun dari kalangan ningrat bisa selingkuh dengan seorang kadet muda yang sedang berencana menikahi gadis impiannya. Hanya sekilas tatap dan lantai dansa segera membuka rahasiarahasia itu. Duh, kasihan Kitty, Vronsky datang untuk berkata tidak. Padahal ia baru saja berkata tidak pada pria lain yang memujanya, Konstantin Levin. Siapa tahu bahwa kenyataan sering berjalan di luar kendali kita. Padahal, setiap hari kita berhadapan dengannya, berharap mereka mampu mengikuti alur pikiran dan kemauan kita. Nyatanya, kita tidak benarbenar tahu bukan. Dan Kitty pun menangis tersedusedu, pecah sudah telur di tangan dan burung merpati di atas dahan sana, pergi hilang entah di mana.

Sebenarnya juga tidak ada yang salah dengan istri Karenin itu. Suaminya orang terpandang, hartanya berlimpah dan ia hidup dalam suasana kebangsawanan dan kekayaan yang melingkupi. Dan keluarga, sembilan tahun mereka menikah. Bisakah itu dijadikan jaminan bahwa setelah sembilan tahun tidak ada keretakan? Ah, ternyata ia malah memilih kesejatian. Mungkin kamu akan bilang bahwa ia bukan wanita terpuji. Tapi dari sekian pembaca Anna Karenina, tak satupun yang tidak bersimpati padanya. Bahkan bagi mereka yang menganggap moralitas sebagai tujuan hidup ini. Ah, kenapa pula ia bunuh diri? Kata Koeslah Ananta Toer, si penerjamah novel, tapi bukan kami. Ia memang salah, tapi bukan kami yang harus menghukumnya. Ia terlalu baik untuk dihukum. Hidup memang sukar bagi mereka yang berhadapan dengan individu berkarakter kuat.

Anna Karenina (1935)
Anna Karenina DVD (1935)
Teringat Anna, teringat pula tanah air tempat kutinggal. Jakarta tempat aku mencari nafkah. Siapa yang tidak kenal Jakarta? Gedunggedung tinggi, orangorang berdasi, mall dan restoran mewah. Sebenarnya pula, siapa yang tahu Jakarta? Perkampungan kumuh, gerobakgerobak makanan, pegawaipegawai bergaji rendah. Mereka yang keluar dari gedunggedung tinggi dan bergerak kebawah, ke seputar tendatenda prasmanan itu. Coba jelaskan, bagaimana mungkin ada gerobak di pusat bisnis Indonesia ini? Bagaimana bisa arsitekur kontemporer bergaya minimalis yang efisien dan canggih, bersanding dengan arsitektur purba peninggalan Majapahit? Kau bilang itu karena jurang yang lebar antara yang atas dan yang bawah, mereka yang berpenghasilan ratusan juta rupiah dengan mereka yang hidup 200 ribu rupiah perbulan. Bagiku, ia seperti Anna. Anna yang rapuh.

Dan kerapuhan bukan saja sebatas mata memandang. Tapi di relungrelungnya yang tergenang kala musim penghujan. Intrusi air laut yang sudah mencapai kawasan Kuningan, jalanjalan protokol yang bergelombang dan berlubang, pilihanpilihan aneh di layar kaca, angkaangka penjualan yang disulap tinggi, pengeluaranpengeluaran tidak resmi, catut menyatut, pak 'ogah', tukang ojek. Terlalu banyak yang kita sebut itu megah dan indah, padahal rapuh dan rusak, menunggu untuk jatuh. Dan kita yang hidup di kota metropolitan ini, hanya mampu berhitung. 2012 Jakarta macet total, 2015 Jakarta tenggelam total. Ah, siapa pula yang peduli. Paling kita hanya berujar, itulah hukuman bagi mereka yang rakus dan egois. Hanya hidup menunggu hukuman dari Tuhan.

Tapi sungguh, tidak ada yang mampu menyaingi Nyonya Karenin ini. Paling tidak para pejabat bangsa kita. Yang mampu kembali kepada kesejatian dirinya sendiri. Mengatakan, lambat laun kepalsuan ini bakal terungkap. Dan semua yang kita lakukan tak lain dari menundanunda waktu saja. Bahwa Alexei Alexandrovich Karenin hanyalah boneka pemerintah sahaja. Dan pelarian ini, meskipun itu salah, tapi inilah sikap yang jujur. Karena bukan seperti itu kita hidup, juga bukan seperti itulah kita memilih. Sayang, kita hanya melihat apa yang ingin kita lihat dan pada halhal tertentu dimana kita tidak benarbenar mengetahui, kita memilih untuk 'tahu', meski tidak benarbenar tahu. Dan Anna pun memilih mati dihadapan lokomotif yang melaju kencang. Sayang, andai ia punya pilihan yang lain, pilihan ketiga. Sayang sekali, karena kita tidak tahu apakah pilihan itu, atau adakah pilihan itu. Sayang sekali, karena sampai saat ini, saya masih saja melihatnya. Melihat Anna di Indonesia.

At Midst of Java (3)

Tak sampai ujung kujelajahi kompleks istana itu, hanya Siti Hinggil dan alunalun Utara saja. Perlahan udara mendung mulai menutupi langit yang kusam. rintik hujan mulai meretas tanah kering dan jalanjalan depan masjid yang berubah menjadi basah. Sudah pukul 14.05, dan sebentar lagi acara pembuka di hotel telah menanti. Setelah mencegat taksi, kami pun kembali menuju Sheraton, melewati jalan berbeda dari yang ditempuh sebelumnya.

Dan hujan semakin deras dan lebat, sama seperti perilaku supir yang kupikir tidak terlalu bisa menyembunyikan emosinya kepada penumpang. Mungkin harinya sedang buruk pikirku, mendelik sebentar kearahnya sekedar menegaskan saya mendengarkan anda dan tolong jangan buat kedua perempuan di kursi belakang tidak nyaman. Karena tak ingin terlihat buruk akibat ucapannya yang tendesius, akhirnya juga kulayani pembicaraannya.

"Dari mana mas?"

"Jakarta"

"Penumpang asal Jakarta itu kadang tidak mau mengerti. Sudah saya bilang ini adalah jalan alternatif ke tempat yang ia tuju. Tapi begitu melihat kemacetan malah menuduh saya memperalat kebodohannya"

"mungkin salah paham kecil"

"Jadi kita mengambil rute yang mana?"

"terserah bapak sajalah"

"Saya tidak mau seperti yang dahulu itu lho. Disalahkan kalau ternyata rute yang dilalui lebih jauh dan lama. Saya tidak mau dibilang menipu"

"saya percaya saja deh"

Dan ia masih juga menggerutu sambil berbuat kesalahankesalahan kecil dalam mengemudi. Melanggar marka, menerobos lampu merah atau melaju kencang di ruas jalan yang menurut saya sedang padat oleh becak dan pengendara motor. Benarbenar salah memilih taksi, dan menurut saya ini pengalaman pertama bertemu supir taksi yang rada kurang ajar. Tapi kenapa harus di Jogja?


Tiga hari empat malam saya menginap di kota ini. Hanya temboktembok hotel yang menemani jamjam sibuk di pagi hingga sore. Malamnya ajakan makan malam dari para bos menyeret saya jauh ke tempat yang tidak saya mengerti. Tidak ada yang baru, hanya bebek goreng dan sambal super pedas yang disajikan. Malam berikutnya kembali lagi ke Malioboro, entah apa lagi yang kucari. Menelpon rumah saudara yang tidak pernah diangkat, berbasahbasah ria dan berjalan tak tentu arah hingga penat dan kembali lagi ke kamar menumpang bus carteran panitia. Baru di malam terakhir gala dinner.

--------

UNDANGAN GALA DINNER

Costum Code : Abang dan None Betawi

Tempat di Ballroom

Pukul 18.00

(harap datang tepat waktu!)

---------

Ratusan orang dari berbagai daerah berikut busana adat masingmasing mulai memenuhi koridor depan Ballroom. Dan memang sudah dari sananya, kalau ada kumpulkumpul seperti ini ramai dan bergerombol ke sesama area. Kostum perempuan lumayan modis. Kebaya warnawarni dan terlihat cantikcantik. Pintar sekali mereka berdandan pikirku. Dan yang parah, kostum pria wilayah Jabodetabek: Kaos oblong, sandal jepit, sarung, peci, plus celana batik. Astaga, lebih mirip tukang sayur nih. Benarbenar gak sebanding! Hihihihi..

Telat tigapuluhmenit dari jadwal, kami mulai masuk ke ruangan utama. Itupun dengan beberapa kekeliruan posisi duduk. Setelah sambutan dan sedikit blablabla, barulah sajian utama dimulai. Pagelaran wayang orang. Temanya, sebuah misi menyelamatkan Shinta yang dilakoni oleh Hanoman dari cengkraman Rahwana. Alur cerita seumpama misi penyelamatan perusahaan di saat krisis. Para tenaga lapangan disimbolkan oleh Hanoman, Perusahaan sebagai Shinta dan Rahwana and the gank adalah krisis ekonomi dan kompetitor. Cukup sederhana untuk diingat.

Beberapa orang berkostum garang naik panggung. Wajah mereka seram, gigi besar tumbuh memanjang melewati senyum yang aneh dan jenggot hitam lebat bertengger mengelilingi dagu dan pipi mereka. Langkah lebar menggambarkan kecongkakan yang dalam dan sambil tertawatawa membanggakan keberadaan sebagai seorang penjahat, berkumpul dibawah komandan sang Rahwana. Kontras dengan tampilan para begundal ini, Rama dan Shinta ditampilkan dalam sosok klimis, rupawan dan cantik. Di sini, penonton dibawa kedalam realitas simbol yang jelas, bahwa kebaikan selalu identik dengan kecantikan dan kebenaran. Sedangkan lawannya, keburukan, merupakan relasi simbolik antara kejelekan dan kejahatan. Tidak ada ironi dalam kisah ini, hanya stereotip yang menegaskan bahwa kebaikan adalah sesuatu yang benar dan indah.

Tapi tokoh utama pembebasan Shinta dari hutan terlarang adalah seekor monyet putih nan cerdas yang bernama Hanoman. Betapapun ia seekor monyet, tapi keputihan bulubulunya dan kerapihan pakaiannya, kembali mengingatkan kita kepada struktur baik dan buruk yang telah ada dalam pembedaan antara Rama - Shinta dengan Rahwana. Hanoman adalah raja. Raja para kera. Setinggi apapun jabatan itu, kosmologi Jawa tidak pernah memandangnya lebih tinggi dari manusia. Bahkan untuk seorang raja yang kredibilitasnya dipertanyakan karena tak mampu menjaga istrinya dari agresi Rahwana, Hanoman hanyalah bawahan.



Shinta digambarkan sebagai seorang ratu yang berwibawa. Pada adegan penculikan yang melibatkan Rahwana, sang ratu menampilkan sejumlah gerakan anggun yang gemulai. Lekukan tangan yang menghadap keatas sambil mengarahkan telapak tangan ke arah lawan bicaranya, atau menyilangkan sebelah tangan yang memegang seledang sutra dengan ujung jarinya, tampak seperti ungkapan halus mengenai penolakan. Dan dari sejumlah gerakan pendekatan yang dilakukan Rahwana, istri Rama ini berusaha menjaga jarak dengan raksasa jahat itu. Mengingatkan saya akan gambaran umum wanita Jawa yang telah beristri yang berusaha tampil diplomatis.

Keanggunan Shinta secara linear juga dipasangkan dengan dandanan Rama yang bagi saya terlalu kemayu untuk seorang pria. Bukan saja karena ia tidak terjun langsung membebaskan istrinya, tapi malah mengutus Hanoman memulai pekerjaan kotor itu. Seorang bangsawan jelas tidak mungkin melakukan pekerjaanpekerjaan para tentara. Hanya, ketika misi Hanoman diambang kegagalan, ia tibatiba berubah menjadi sosok pahlawan yang dengan mudahnya mampu mengalahkan para begundal itu dengan anggun. Saya jadi bertanya, apa mungkin kisah ini digunakan untuk melegitimasi kekuasaan para raja? Betapapun tersingkirnya mereka dari kehidupan seharihari, tapi keberadaan mereka tetap dibutuhkan. Dan raja adalah sosok hero sesungguhnya, karena selain menjadi korban ia juga seorang penyelamat. Penyelamat sejati, karena hanya ialah jua yang mampu mengalahkan musuh. 

Baik Hanoman maupun Rahwana and gang adalah tokohtokoh yang jauh membumi daripada kelas bangsawan. Cara mereka berjalan sama seperti manusia umumnya meski sifat kecongkakan ditonjolkan begitu dalam. Meskipun begitu, sikap membumi ini hilang saat berhadapan dengan keluarga raja. Mereka mendadak jauh lebih lembut dan beradab. Bahkan seorang Rahwana pun berlaku sopan di hadapan Shinta. Seakan, perbedaan kelas itu mengakar dalam struktur kejiwaan masyarakat Jawa. Kelas bawah tidak akan pernah bisa menyatu dengan kelas atas dan keterbagian dua dunia ini adalah sebuah nasib yang tidak akan pernah bisa dilanggar, bahkan oleh satu pengecualian sekalipun.

Dan layaknya sinetron masa kini, kisah penculikan pun berakhir bahagia. Shinta kembali lagi kepada Rama, dan Rahwana berhasil dikalahkan oleh Hanoman. Kebenaran akan selalu menang dari kejahatan. Keburukan tidak akan pernah menang dari keindahan dan atas akan selalu menang dari bawah. Sebuah struktur hegemonik yang tidak pernah berubah.



Sungguh, belum pernah saya begitu menikmati pagelaran wayang orang seperti ini. Sejak ia muncul di layar kaca atau acara lain, saya selalu memiliki pretensi negatif terhadap seni tanah air ini. Tapi di sini, saya begitu mengapresiasi dengan baik, meskipun tidak dikemas terlalu serius. Alunan gamelan, gerakangerakan ritmis dan terpola, atau kareografi yang unik serasa membawa saya kedalam kumparan kejawaan yang mistis penuh unggahungguh dan introspektif. I fall at midst of Java.

Entah tigapuluh atau empatpuluhlima menit pagelaran itu berlangsung, dan mulailah sajian makan malam dihidangkan. Dua baris pelayan menyebar kedalam ruangan membawa nampannampan hidangan yang tersaji rapih. Kental dengan nuansa barat dan oriental berstandar internasional. Garpu, sendok, piring, pisau diletakkan berurutan seakan membawa kita ke realitas Rama Shinta yang aristokrat itu. Sayang sekali, ternyata selera saya jauh lebih rendah. Bayangan Rahwana yang urakan dan Hanoman yang tersubordinat seakan membawa saya ke selera pinggir jalan yang tidak resmi dan santai. Dan disini, saat makanan menjadi sebuah etiket penuh basabasi, saya hampirhampir tidak percaya bahwa yang ada dihadapan saya mampu menghilangkan rasa lapar dan memberi rasa kenyang. Dan semua menjadi hambar, sehambar kehidupan para priyayi yang berkutat dalam keagungan dan kepurapuraan.

Apa mungkin perasaan ini yang menghampiri saya saat berjalanjalan di trotoar Malioboro, melihat isi Vredeburg, mengejek alunalun utara yang kotor. Seakan saya seorang bangsawan Belanda di masa kolonial yang menganggap rendah bangsabangsa Timur. Seorang outsider yang tidak mau mengerti tanah jajahannya. Sebuah perasaan terasing yang mungkin dialami perantauperantau Jawa di Jakarta. Perbedaan kultur, adat istiadat dan kengganan menyebut kota sebagai kampung halaman.

Kota yang kutinggali
Kini tak ramah lagi
Orang orang yang lewat
Beri senyumpun enggan

Disini aku lahir
Disini aku besar
Disini aku merasa
Bodoh

....

(Kota II by Iwan fals)

Api dan Cahaya (2)

Entah kenapa Descartes membagi kita menjadi dua
Tubuh dan roh, yang jasmani dan rohani.
Padahal mereka adalah satu,
laksana mesin dan baterai.
Tapi apalah baterai
bukankah ia juga materi
yang keluar darinya listrik yang menyetrum
bisa kau gambarkan, seperti apakah ia?

Atau jarumjarum akupuntur dan totokan maut
para ahli kungfu di negeri bambu itu.
yang menjadikan manusia mesin berjalan
bukankah para dokter juga begitu.
Cinta hanyalah hormonhormon yang menggila
yang pecah dan menjalar ke pembuluh darahmu
membuai kita dengan lamunan memabukkan
menenggelamkan diri pada pandangan yang membekukan

Dokter, tolong resepkan anti oxytocin
biar darahku bersih dari lamunan dan feromon
berikan juga beta blocker dan dopamin
agar dadaku tiada bergetar saat bersua dengannya.
Ah, tahu apa kau tentang cinta
kau bilang itu di hati
tapi hati, hati, jantungkah?
Atau liver?

Katamu di dada kirimu
menggebu gebu, bergetar getar
menarik dan memompa,
berliterliter cairan kehidupan
Kenapa juga tak kau sebut itu jantung
apa karena ia lebih mekanis daripada hati?
hingga harus kau tambahkan ia dibelakang menjadi
oh, jantung hati

dan dua otak yang kanan dan kiri
Emosioniil dan rasioniil
jantung dan lambung ada di kiri
dan terhubung ke otak kanan
*bener ga sih? (1)
Hati adalah otak
otak adalah hati
ia hanya sebagian fungsi otak
yang beraneka dan aneh

Makanya,
lahum qulubun ya'qiluuna biha (2)
wa ma yadzakkaru illa ulul albab (3)
akal di hati dan ingatan di lubb
Maka kuingat, qalb itu tidak stabil
dan lubb itu inti.
tapi, inti yang banyak?
Bukankah qalb dan lubb seperti hormon dan selsel kelabu otak?

Kita bisa merubah hormon
tapi mereka juga bisa merubah diri kita
maka itu,
inna Allah la yughayyiru ma bi qaumin hatta yughayyiruu ma bianfusihim (4)
wa ma tasya'uuna illa an yasya'a Allah (5)
karena,
wa nahnu aqrabu ilaihi min hablin warid (6)

Tapi apa itu yang lebih dekat dari urat syaraf?
yang mampu mendikte perbuatan kita
dan mempolakan setiap tindakan dan fikiran kita
apa itu sebuah cetak biru?
Semacam DNA (7)? Bukankah ia menjadi warisan kita?
Diturunkan oleh orangtua kepada anaknya.
Ternyata juga Tuhan bertindak melalui itu.
Melalui DNA.

Akhirnya kutahu dualisme itu tiada
sama seperti kaburnya perbedaan antara akal dan hati
dan bahwa perdebatan Qadariyah versus Jabariyah
hanya berhenti di tataran fisiologis (8) semata
Kita bisa mempengaruhi sekaligus terpengaruhi
bebas, sekaligus terbelenggu.




Catatan Kecil


  1. Sebenarnya juga jantung dikontrol baik oleh sistem simpatis dan parasimpatis. Ia bekerja di alam bawah sadar kita sekaligus di alam sadar, karena kita juga bisa mengontrol ritme jantung. Kebetulan sistem simpatis ini tertrigger oleh halhal yang bersifat emosionil, yang dalam banyak hal memang diatur oleh sistem otak bagian kanan. Sama seperti jantung, lambung juga terpengaruh. Makanya juga kalau stress, kita sering berdebar debar dan menderita sakit maag.
  2. "... mereka memiliki hati dapat berakal (menyimpulkan) dengannya..." Q.S. 22: 46
  3. "... dan tidak ada yang mampu mengingat kecuali orang yang memiliki lubb yang banyak" Q.S. 2 : 269
  4. "... sesungguhnya Allah tidak akan merubah sebuah kaum sampai mereka merubah diri mereka sendiri..." Q.S. 13:11
  5. 'Kamu tidak menghendaki, tapi Allah lah yang menghendaki'' Q.S. 76:30
  6. "...dan kami lebih dekat dariny dibanding urat syaraf" Q.S. 50:16
  7. Mengenai DNA dan pengaruhnya kepada kondisi kejiwaan dan fisik seseorang bisa dibaca Genom karangan Matt Ridley. Sudah diterbitkan oleh Gramedia.
  8. Hipotesis saya hingga saat ini bahwa ayatayat jabariyah dan qadariyah lebih mengacu kepada kondisi psikologis seseorang yang mau tidak mau juga terpengaruhi kondisi fisik-nya.

At Midst of Java (2)

Pukul 7.00. Warna putih awan yang meliputi pesawat dari angkasa Jakarta, perlahan mulai pudar. Pandangan jernih terlihat dari balik jendela penumpang: waduk jatiluhur, gunung Ciremai dan daerah perbukitan Purwokerto. Mungkin sepuluh menit lagi kami sudah tiba di atas Jogja. Di ufuk timur, cahaya pagi sudah memantul dari sudut kaca. Hari yang cerah. Setidaknya, warna emas mentari pagi ini bisa menghapus suasana subuh yang teramuk badai. Berangkat jam tiga pagi dari rumah di Bekasi, taksi yang kami tumpangi sudah basah kuyup oleh genangan air dan hujan yang tumpah begitu deras. Dan pagi yang benarbenar dingin di ruang tunggu keberangkatan Mandala benarbenar membuat penerbangan pagi itu lumayan berat.

Hampir tigapuluh menit di langit Jogja, tapi pesawat yang kami tumpangi belum juga menunjukkan tandatanda akan mendarat. Tujuh kali kuhitung, ia hanya berputarputar saja. Apakah begini, prosedur pendaratan di Adisucipto? Apa mungkin ada sesuatu yang terjadi di bawah sana, yang membuat pesawat harus antri untuk mendarat? Entahlah, dari yang kutahu, memang runaway Adisucipto tidaklah panjang. Itupun, saya ketahui dari reportase televisi saat kecelakaan Garuda beberapa waktu yang lalu. Dan saat momen pendaratan tiba, saya seperti meluncur ketengahtengah kota yang ramai. Mall, jalan layang, hotel dan gedunggedung pendek, kemudian menyentuh landasan dengan mulus dan berhenti dengan cepat. Ternyata Airbus itu jauh lebih empuk dan tidak terlalu berisik dibandingkan Boeing.

Dan jogja jauh lebih tenang daripada Jakarta, meski saat itu aku tengah berada di kawasan ramai kota. Atau mungkin, temboktembok benteng yang tebal itu menjadi sebuah peredam suara yang baik. Saat kau masuk kedalamnya tiada yang lain kecuali sunyi. Beberapa penggemar fotografi warawiri bersama kamera profesional mereka, Nikkon D40, bahkan masih ada yang menggunakan klise. Di Vredeburg, waktu benarbenar telah berhenti. Dan kukira juga bukan hanya di sana, tapi hampir satu kilo sebelah selatan, di sebuah pendopo besar.

Katanya, waktu melambat di daerahdaerah pinggiran, semacam gunung, ngarai dan lembah. Dan ia berjalan cepat saat kau tiba di pusatpusat waktu. Kota, pasar, dan terminal. Saat ia menjadi uang dan bergelimang dengan cepat bak air. Waktu adalah pergerakan jarum di atas jam tangan, digit angka di papan keberangkatan dan kedatangan, struk parkir kendaraan, batas akhir serta segala sesuatu yang membuat kita tidak nyaman. Karena memang demikianlah ia ada, meregresi dan mempercepat, menghegemoni dan melumpuhkan. Tapi di benteng ini dan pendopo besar itu, ia hadir begitu saja tanpa ada yang peduli. Apa mungkin karena ia tidak lagi menjadi pusat? Waktu telah dilumpuhkan di Jogja.






Melewati monumen Serangan Umum Satu Maret, kami menyeberangi perempatan besar menuju gerbang masuk Kraton. Sebuah gapura putih bergaya kolonial dengan emblem Jawa yang unik. Di depannya terdapat lapangan luas yang kotor. Dari Google Map, saya tahu, namanya alunalun Kraton Utara. Tanahnya berwarna coklat berdebu dan sepertinya rumput enggan tumbuh di sana. Di beberapa bagian tampak persiapan karnival dan pasar malam tengah dibangun. Tendatenda kusam, besibesi beraneka warna, bianglala, komidi putar, dan segala suatu yang mengingatkan saya akan pesta rakyat. Entah apa yang ada dibenak siempunya pendopo besar di seberang alunalun ini, tapi saya merasa tidak nyaman dengan pemandangan yang ada di mata saya. Bangunan agung, sebuah simbol kekuasaan, bukankah seharusnya ia menjauh sedikit dari hiruk pikuk ini? Coba bandingkan dengan situasi di depan Benteng tadi. Kenapa pula tidak ada kewibawaan yang hadir?!

Dan saat kuberdiri di depan pagar besinya yang tinggi, kumasih belum sadar, tentang arti kraton. Suasananya sungguh tak elok. Ia memang indah, berisi ukiran khas Jawa yang memikat. Hanya saja ada yang kosong di sana. Kotor, kumuh, kurang terawat, dan dipenuhi sejumlah guide yang mengejarngejar bak calo, meski dengan tutur kata yang ramah. Aku jadi ragu, apa benar saya mengunjungi kraton, atau barangkali saya yang salah tempat!? Untuk memastikan, kami pun pergi ke loket membeli karcis masuk. Tidak mahal memang, tapi tatkala masuk ke dalam kompleksnya, saya malah bertanyatanya, apa yang saya lihat di sini. Sebuah pertunjukkan masa lalu, sisasisa kebesaran dan keagungan, atau sebuah tontonan belaka? Saya merasa tengah berkunjung ke kediaman jendral besar yang telah dicampakkan di masa tuanya.

Karena tidak terlalu paham mengenai sejarah Kraton, berikut saya comot sedikit tulisan dari situs www.yogyes.com:


Sejarah Kraton Yogyakarta

Setelah Perjanjian Giyanti, Pangeran Mangkubumi diberi wilayah Yogyakarta. Untuk menjalankan pemerintahannya, Pangeran Mangkubumi membangun sebuah istana pada tahun 1755 di wilayah Hutan Beringan. Tanah ini dinilai cukup baik karena diapit dua sungai, sehingga terlindung dari kemungkinan banjir. Raja pertama di Kesultanan Yogyakarta adalah Pangeran Mangkubumi dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono I (HB I).

Penamaan dan Makna Tata Letak

Karaton, Keraton atau Kraton, berasal dari kata ka-ratu-an, yang berarti tempat tinggal ratu/raja. Sedang arti lebih luas, diuraikan secara sederhana, bahwa seluruh struktur dan bangunan wilayah Kraton mengandung arti berkaitan dengan pandangan hidup Jawa yang essensial, yakni Sangkan Paraning Dumadi (dari mana asalnya manusia dan kemana akhirnya manusia setelah mati).



Garis besarnya, wilayah Kraton memanjang 5 km ke arah selatan hingga Krapyak dan 2 km ke utara berakhir di Tugu. Pada garis ini terdapat garis linier dualisme terbalik, sehingga bisa dibaca secara simbolik filosofis. Dari arah selatan ke utara, sebagai lahirnya manusia dari tempat tinggi ke alam fana, dan sebaliknya sebagai proses kembalinya manusia ke sisi Dumadi (Tuhan dalam pandangan Jawa). Sedangkan Kraton sebagai jasmani dengan raja sebagai lambang jiwa sejati yang hadir ke dalam badan jasmani.



Kraton menuju Tugu juga diartikan sebagai jalan hidup yang penuh godaan. Pasar Beringharjo melambangkan godaan wanita. Sedangkan godaan akan kekuasaan dilambangkan lewat Gedung Kepatihan. Keduanya terletak di sebelah kanan. Jalan lurus itu sendiri sebagai lambing manusia yang dekat dengan Pencipta (Sankan Paraning Dumadi).



Secara sederhana, Tugu perlambangan Lingga (laki-laki) dan Krapyak sebagai Yoni (perempuan). Dan Kraton sebagai jasmani yang berasal dari keduanya.

Makna Tata Ruang Kraton Yogyakarta

Setelah diguncang gempa tahun 1867, Kraton mengalami kerusakan berat. Pada masa HB VII tahun 1889, bangunan tersebut dipugar. Meski tata letaknya masih dipertahankan, namun bentuk bangunan diubah seperti yang terlihat sekarang



Tugu dan Bangsal Manguntur Tangkil atau Bangsal Kencana (tempat singgasana raja), terletak dalam garis lurus, ini mengandung arti, ketika Sultan duduk di singgasananya dan memandang ke arah Tugu, maka beliau akan selalu mengingat rakyatnya (manunggaling kawula gusti).

Tatanan Kraton sama seperti Kraton Dinasti Mataram pada umumnya. Bangsal Kencana yang menjadi tempat raja memerintah, menyatu dengan Bangsal Prabayeksa sebagai tempat menyimpan senjata-senjata pusaka Kraton (di ruangan ini terdapat lampu minyak Kyai Wiji, yang selalu dijaga abdi dalem agar tidak padam), berfungsi sebagai pusat. Bangsal tersebut dilingkupi oleh pelataran Kedhaton, sehingga untuk mencapai pusat, harus melewati halaman yang berlapis-lapis menyerupai rangkaian bewa (ombak) di atas lautan.



Tatanan spasial Kraton ini sangat mirip dengan konstelasi gunung dan dataran Jambu Dwipa, yang dipandang sebagai benua pusatnya jagad raya.



Dari utara ke selatan area Kraton berturut-turut terdapat Alun-Alun Utara, Siti Hinggil Utara, Kemandhungan Utara, Srimanganti, Kedhaton, Kemagangan, Kemandhungan Selatan, Siti Hinggil Selatan dan Alun-Alun Selatan (pelataran yang terlindung dinding tinggi).



Sedangkan pintu yang harus dilalui untuk sampai ke masing-masing tempat berjumlah sembilan, disebut Regol. Dari utara terdapat gerbang, pangurukan, tarub agung, brajanala, srimanganti, kemagangan, gadhung mlati, kemandhungan dan gading.



Brongtodiningrat memandang penting bilangan ini, sebagai bilangan tertinggi yang menggambarkan kesempurnaan. Hal ini terkait dengan sembilan lubang dalam diri manusia yang lazim disebut babahan hawa sanga.

Kesakralan setiap bangunan Kraton, diindikasikan dari frekuensi serta intensitas kegiatan Sultan pada tempat tersebut.



Alun-Alun, Pagelaran, dan Siti Hinggil, pada tempat ini Sultan hanya hadir tiga kali dalam setahun, yakni pada saat Pisowan Ageng Grebeg Maulud, Sawal dan Besar. Serta kesempatan yang sangat insidental yang sangat khusus misal pada saat penobatan Sultan dan Penobatan Putra Mahkota atau Pangeran Adipati Anom.



Kraton Yogyakarta memanglah bangunan tua, pernah rusak dan dipugar. Dilihat sekilas seperti bangunan Kraton umumnya. Tetapi bila kita mendalami Kraton Yogyakarta, yang merupakan contoh terbesar dan terindah dengan makna simbolis, sebuah filosofi kehidupan, hakikat seorang manusia, bagaimana alam bekerja dan manusia menjalani hidupnya dan berbagai perlambangan eksistensi kehidupan terpendam di dalamnya. (YogYES.COM)





Ah, membaca narasi tentang sejarah Kraton tadi, saya malah teringat dengan manusia Jawa yang sering saya jumpai setiap hari. Mungkin juga saya. katakata tentang simetri, keselarasan, alam dan pria wanita. Bukankah itu sebuah pernyataan tentang kesempurnaan. Suatu kata yang ternyata menjadi tujuan dan filosofi hidup orang Jawa. Seperti filosofi Burung Garuda dengan jumlah sekiansekian, memiliki arti sekiansekian. Perlambang dan tandatanda, menjadi sebuah unjuk kecerdasan, dan pemaknaan. Sayangnya, ia hanya bermakna untuk dirinya sendiri. Kalau tidak, untuk apa kesempurnaan itu dibangun? Apa ia bisa mengalahkan ketidaksempurnaan yang mencolok di depan matanya sendiri? Dan dalam abadabadnya yang silam, ia hanya hadir dalam kesempurnaannya yang sangat terpinggirkan. Belum pernah ia memberontak kepada Belanda. Diponegoro? Apa benar ia putra mahkota yang diinginkan Kraton? Coba jawab, kenapa universitas terkenal di sana mengambil nama seorang patih dari kerajaan di tepi sungai Brantas, Jawa Timur? Apa kaum cendikia mereka tidak percaya diri dengan sejarah kerajaannya sendiri?

Dan seperti ukiranukiran cemerlang di atas fasadfasad kayu yang indah itu, kesempurnaan Kraton, kupikir berdiri di atas dasar yang sangat rapuh. Ia hanya sebuah kesempurnaan yang tidak bisa memberi dan terlalu lemah untuk berbuat suatu kepada dunia. Menjadi tertutup dan tinggal di balik keagungan dan kebesaran yang begitu menjebak. Atau, inikah nasib sebuah kerajaan boneka? Anakanak rajawali yang tumbuh besar menjadi burung pipit. Kita telah terbonsai oleh sesuatu yang kita namakan dengan kesempurnaan dan keagungan.
`

At Midst of Java (1)

Ada banyak orang yang merasa nyaman dengan identitas mereka, merayakan kehidupan dan menikmatinya. Tapi ada juga yang tidak nyaman dengan apa yang kita sebut sebagai warisan itu, baik genetik, budaya maupun kepercayaan. Beragam faktor yang menyebabkan ketidaknyamanan tersebut, tapi pada umumnya kesenjangan yang lebar antara gambaran diri yang ada di kepala dengan realitas keseharianlah yang menjadi faktor kunci pencetus itu semua. Ada banyak juga kisah kuno di tanah air yang menggambarkan hal tersebut. Seperti kisah Malin Kundang yang mengalami krisis identitas akibat jurang kekayaan yang dalam antara ia dan ibunya. Alhasil, muncullah alienasi dalam diri si Malin yang sayang sekali berujung pada sebuah malapetaka. Well, kehidupan memang tidak selalu memberikan kita pengalaman yang manis. Padahal, bila kita kaji sekali lagi asal muasal krisis identitas, bukankah itu bermuara dari keinginan kita menuju kepada sesuatu yang jauh lebih baik?

Pada lakon Kabayan Saba Kota yang diperankan oleh Didi Petet pada dasawarsa yang lalu, solusi yang muncul adalah kepulangan kita kepada jatidiri masa lalu. Kebaharuan tidak lagi mampu dikompromi dan transformasi yang diharapkan malah berujung tragis. Hal serupa juga digunakan oleh pemerintah untuk mencegah laju urbanisasi. Desa yang nyaman dan tentram selalu digambarkan sebagai jatidiri para perantau itu. Sayang sekali, eksposure pemerintah gagal. Pertama, karena orang jarang yang kembali ke desa mereka. Kedua, alihalih memberikan identitas kekotaan yang pas, para perantau ini malah mempertahankan identitas desa mereka yang dalam banyak hal tidak cocok dengan kultur masyarakat kota. Dan kita lihat bagaimana akhirnya kedesaan mengimbas kekotaan. Kebiasaan membakar sampah, membuang makanan di jalan, menyiram jalan dengan air hingga kebiasaan bergerombol bila terjadi sesuatu. Imbasnya, kota tidak lagi dipandang sebagai tempat tinggal, namun lebih kepada tempat mencari nafkah dan bekerja. Makanya kita lihat arus lalu lintas yang begitu liar dan kencang. Because they aren't feel at home in their city.

The big village! Jakarta is one big village not a city. Saya kira saya setuju dengan ungkapan tadi. Kita telah kehilangan budaya kota yang seharusnya kita bina dan bangun. Dan mereka yang tumbuh dan berkembang dalam sebuah kota, pada akhirnya juga merasa terasing dengan perilaku para warganya sendiri. Jadilah sekatsekat sosial yang jelas membentengi kita dari memandang kota sebagai sebuah kesatuan sosial. Tentu saja kita bertanyatanya, identitas macam apa yang hendak kita suarakan di masa datang. Desakah, kotakah? Inklusif atau eksklusif? individual atau komunal? Banyak sekali pilihan, konsekuensi bahkan hukumanhukuman sosial yang menanti. Tentu saja, kita hidup dalam kemajemukan yang sangat. Bahkan untuk sesuatu yang kita anggap homogen, kemajemukan itu tetap ada. Our distinctive individuality.

***

From At Midst of Java


'di bandara bersama Agus'


Bulan Januari kemarin, saya berkesempatan berkunjung lagi ke Jogjakarta. Kali ini untuk urusan pekerjaan. Akibat agenda yang padat, keinginan berjalanjalan ke sekujur kota agak terbatasi. Jadilah pagi di hari pertama, bersama rekanrekan kerja menyusuri sepanjang Malioboro, menikmati suasana yang ada. Stasiun Tugu, pasar Beringharjo, lapaklapak kaki lima, benteng Vredeburg, hingga Keraton. Ini pengalaman saya yang pertama. Mungkin dahulu waktu kecil pernah, tapi hampir tidak ada sama sekali bayangan masa lalu yang tertanam di memori saya. Kalaupun ada, pasti itu bukan sebuah pengalaman yang benarbenar menarik. Maka kali ini saya biarkan pikiran saya out of the box untuk merasakan sensasi tersebut.

Lumayan jauh dari tempat saya menginap di Sheraton. Butuh waktu kurang lebih 30 menit untuk menuju malioboro, atau sekitar 30-an ribu rupiah menggunakan taksi. Kenapa malioboro? Apalagi kalau bukan lagu Kla Project yang terkenal itu. Jogjakarta identik dengan Malioboro sama seperti Paris dengan Menara Eiffel-nya. Simbol kota selalu menarik untuk dikunjungi. Jalanan saat itu lancar, memang tidak santai, tapi jauh lebih tertib dari Jakarta. Beberapa sarana kendaraan massal sudah dibangun, seperti Trans Jogja yang berhenti di haltehalte khusus meniru proyek Trans Jakarta. Menggunakan bus 3/4, ia mirip Kopaja atau Metromini, tapi sudah menggunakan AC. Saya tidak melihat pembatas jalan dari beton seperti yang sering dijumpai di lajur busway, hanya markamarka jalan yang tergambar di atas apal yang mulus itu. Baguslah pikirku, karena dengan begitu malah jauh lebih humanis dan aman.

Sayang sekali, selama di Jogja, belum sekalipun naik bus tersebut. Karena kami lebih sering jalan berombongan, maka lebih banyak naik taksi atau pada acaraacara tertentu ikut di atas bus carteran yang dipesan khusus oleh panitia. Ah, seandainya saya kekota ini sendirian, tentu lebih suka berjalanjalan keliling sesuka hati. Membiarkan tersesat di rimba loronglorong dan jalanjalannya yang beraroma Jawa, beristirahat di masjid terdekat serta mengambil gambar dengan leluasa. Makanya, begitu turun di dedepan mall dengan suka cita, saya langkahkan kaki sepanjang koridor Malioboro.

Oh, ternyata ini jalan terkenal itu. Membentang lurus dari stasiun Tugu melewati beratusratus kios dan lapak, penuh sesak oleh deretan motor dan becak, lalulintas yang merayap khas pusatpusat perbelanjaan, penjual makanan, restoranrestoran kecil, barang cinderamata, kerajinan perak. Semua ada di Malioboro. Tapi suasana yang kudapat ternyata tak jauh berbeda dari saat berjalanjalan di Glodok atau Mangga Dua. Yah pasar di manamana selalu sama. Kecuali saat masuk Beringharjo yang lumayan bersih untuk ukuran pasar tradisional, atau pusat sejarah di Benteng vredeburg yang tepat berseberangan dengan istana negara itu. Malioboro berakhir di sebuah perempatan besar yang memisahkan jantung perekonomian dengan pusat kekuasaan.



Setelah sarapan soto di sebuah rumah makan, kami berpencar mencari kegiatan masingmasing. Karena tidak memiliki pengalaman belanja pakaian di pasar macam ini, akhirnya malah mengikuti jejak kawan perempuan saya. Maaf, saya hampir tidak tertarik sama sekali membeli barangbarang yang dijual di Beringharjo. Terlalu eksotis mungkin. Atau memang karena tujuan saya di sana hanya jalanjalan, bukan belanja. Ada sih pesanan daster dari ibu saya, tapi sungguh, belum pernah sekalipun berbelanja pakaian wanita. Makanya saya meminta tolong mereka berdua sebagai pemandu. Payahnya, mereka tidak bisa jadi pemandu yang baik. Ya sudah, daripada pusing menentukan pilihan, lebih baik melanjutkan perjalan saja menuju keraton.

Udara panas, terik sekali. Beberapa tukang becak menawarkan jasa berkeliling dengan harga yang sangat murah. Karena tidak terbiasa, dan dalam banyak hal saya termasuk orang yang sangat anti becak, jadilah kembali menelusuri emperan pertokoan. Melewati taman rindang, mataku tertuju kepada bangunan yang saling berhadapan dengan tepat. Sebuah benteng di sebelah kiri dan sebuah istana berarsitektur kolonial di kanan. Dari literatur, mungkin dahulu merupakan istana negara. Adapun benteng di sebelah kiri yang kini menjadi museum adalah benteng Vredeburg. Bekas peninggalan VOC dan merupakan salah satu hasil dari perjanjian Giyanti 13 Pebruari 1755.

Bayangkan, sejak pertengahan abad 16, moncong senapan Belanda sudah berada di jantung kekuasaan orangorang Jawa. Kalau saya tidak salah, seabad sebelum perjanjian tersebut, yang membelah Mataram menjadi dua, muncul seorang raja Jawa yang besar. Namanya Sultan Agung. Ia memang haus kekuasaan, berusaha menganeksasi Banten dan menjadi satusatunya raja yang berdaulat. Tapi sejarah bangsa kita mengingatnya sebagai penguasa lokal yang berani menyerbu Batavia dengan korban ribuan tentara di pihaknya. Saya ingat deskripsi Vlekke dalam Nusantara yang menggambarkan kekalahan tersebut akibat disentri dan putusnya jalur perbekalan beras di daerah Cirebon hasil kerjasama VOC dan sejumlah penguasa lokal yang anti Mataram. Akibat kekalahan tersebut, sang sultan kemudian menghabisi hampir delapan ratus orang anak buahnya yang setia.

Setelah terpecah menjadi dua kubu, Mataram yang lemah tak ubahnya seperti kerajaan boneka. Dua ratus tahun setelah perjanjian ditandatangani, muncullah pemimpin baru, Pangeran Diponegoro, yang mengobarkan perang Jawa. Dalam catatan sejarah, inilah perang yang paling menguras perbendaharaan Belanda. Pertama, karena percobaan sistem liberal pada tanah pertanian Jawa gagal. Akibatnya, terjadi penurunan ekspor ke Amsterdarm. Di Jawa sendiri, kegagalan sistem ini jauh lebih parah, karena menyebabkan peristiwa kelaparan yang membunuh ribuan orang. Selain itu, kekalahan Belanda dalam perang dengan Napoleon juga membutuhkan dana yang banyak dan pemerintahan Hindia Belanda diambang kebangkrutan. Karena situasi ini, mereka hampir enggan berperang dengan sang pangeran. Tapi setelah terdesak keadaan, barulah mereka mengumumkan perang terbuka. Kirakira sekitar dua ribu serdadu kulit putih yang tewas. Adapun angka sedadu kulit berwarna yang bekerja di pihak Belanda yang tewas jauh lebih banyak. Diponegoro sendiri berhasil ditangkap berkat bantuan serdadu Ambon, kapten Jongker.

Patut diingat, bahwa tentara Hindia Belanda sebagian besar justru terdiri atas penduduk lokal dan asing, macam orangorang Maluku, Manado, Madura dan bahkan juga India dan Jawa. Alasannya sederhana, dana yang dibutuhkan untuk menggaji prajurit kulit putih jauh lebih mahal. Saya kemudian jadi teringat diskusi dengan bos saya yang mengatakan bahwa pada saat perang Aceh, di awal abad 20, kebanyakan prajurit Hindia Belanda adalah orang Jawa. Mungkin atas dasar tersebut, ia mengambil kesimpulan bahwa itulah alasan terjadinya permusuhan rasial di sana. Saya tidak sepenuhnya setuju, karena memang banyak etnis yang tergabung dalam ekspedisi tersebut. Dan memang, entah sebelum VOC datang, negara-suku-kerajaan di tanah air saling bersaing satu sama lain. Ambil contoh, antara kepulauan Maluku bagian utara dengan selatan, atau antara raja raja Minangkabau dengan Batak, dsb.

Tentu saja, kehadiran Belanda tidak serta merta merubah peta perebutan kekuasaan menjadi Belanda vis a vis pribumi. Tapi bisa menjadi permusuhan segitiga di mana antara satu pihak dengan pihak lainnya saling berperang dan bisa juga saling membantu. Pada Mataram, keinginan menaklukkan kotakota pesisir, membuat mereka bekerjasama dengan Belanda untuk memerangi Surabaya. Pada Jongker, setelah menjadi penakluk sejumlah pemberontak, ia malah diasingkan. Lihat, betapa historiografi negara kita yang begitu rumit itu. Dan proses penjelmaan common enemy tak lain dari sebuah proses dialektis panjang hingga hanya ada satu pemenang dalam perebutan kekuasaan di nusantara ini, yakni Belanda.

Penasaran, saya pun masuk ke dalam Benteng Vredeburg dan melihat peninggalan yang ada. Diorama, maket, bentuk Benteng yang simetris serta jajaran lampu taman yang menggoda. Dan karena ini perjalanan bersama, jadinya juga fotofoto individu yang terambil. Jadi wajar kalau yang masuk sejumlah muka narsis he. Oh ya, Vredeburg itu artinya benteng perdamaian. Kirakira apa ya kaitan antara kata perdamaian dengan terpecahnya negara Mataram itu.

Gontor dan Hogwart

Beberapa hari lalu, seorang teman di Facebook mengirimkan sebuah email. Yang membuat saya bingung adalah subject surat elektronik tadi, saudara dua kali. Entah apa yang dia maksud dengan kalimat saudara dua kali ini. Apa mungkin ia masih bersaudara dengan saya? Setelah membaca baris pertama, saya jadi tersenyum. Oh, ternyata itu. Sama-sama khirrij Gontor, juga khirrij ITQAN". Kami samasama alumnus Gontor dan ITQAN.

Menyenangkan sekali bertemu dengan orang yang senasib dan senostalgia. Meski dilihat dari rentang waktu yang ada, jelas ia adalah senior saya. Dia lulus 1991 dan saya baru menyelesaikan studi di Gontor tahun 1999. Jadi ada rentang delapan tahun, ditambah tiga tahun, karena ia masuk kelas akselerasi untuk anakanak lulusan SMP. Berarti selisih umur kami lebih kurang sebelas tahun. Dan dalam bahasa gontory, mungkin saya harus memanggilnya dengan antum atau ustadz. Tapi dalam surat balasan, saya memanggilnya dengan Abang saja. Mungkin karena saudara dua kali itu ya. He...

Dia menyukai gaya tulisan saya mengenai Gontor yang saya gali secara filosofis, dan mengabarkan sedikit tentang pengalamannya yang serupa dengan saya saat kenaikan dari kelas V B ke kelas VI C. Sama seperti saya, sebuah kejenuhan dan keinginan untuk drop out. Untung saja ia bisa menanganinya dengan baik dan berhasil menamatkan sekolah di Gontor. Di penghujung surat, ia menawarkan, apakah saya tertarik membaca naskah novelnya. Wow, benarbenar kejutan pikirku. Membaca novel yang secara terangterangan ditulis alumnus. Tentu saja saya berminat. Maka kubalas suratnya, dan ia pun membalas dengan mengirimkan lampiran naskah novel-nya yang hendak terbit. Sebuah kisah mengenai hidup, perjalanan dan sekolah.

Sayang sekali, saya belum sempat membaca novelnya itu sampai akhir. File PDF-nya sendiri sudah saya simpan di ponsel saya agar dapat melihatnya kala senggang, namun berhubung kesibukan kerja yang lumayan melelahkan, jadilah hanya beberapa fragmen saja yang ada di kepala saya. Untuk menebusnya, sore ini saya berusaha membaca seluruh tulisannya tersebut. Ternyata juga belum selesai, padahal ia telah meminta saya memberikan kritik atas tulisannya tersebut. Mungkin saya harus membiasakan diri membaca di atas layar daripada di atas kertas. Huh.. maaf ya.

Secara ringkas, novelnya tersebut berbicara tentang perjalanan lima orang sekawan yang kebetulan dipertemukan oleh nasib di sebuah pondok Madani. Mereka memiliki latar budaya dan suku yang berbedabeda. Ada yang berasal dari Madura, Padang, Medan dan Jakarta. Bila melihat awal kisah yang dibuka oleh sightview gedung VOA di Washington DC, semestinya novel ini memiliki happy ending yang memuaskan. Kelima orang itu berhasil mengejar citacita mereka, mengembara ke penjuru dunia, mulai dari Mesir, Inggris hingga Amerika, dan bertemu di Trafalgar Square. London. Benarbenar impian yang jadi nyata.

Lalu, apanya yang menarik? Kalau hendak melihat novel baru ini dari kacamata Laskar Pelangi, yang memiliki kekuatan pada cara penyampaiannya yang unik dan dramatis, seharusnya profil tokohtokoh dalam novel ini haruslah kuat. Ini penting guna memberi arti bagi pencapaian di Trafalgar Square itu. Entah mereka benarbenar berjuang keras mengejar impiannya itu, atau juga drama yang dimunculkan pada setiap fragmen. Kenapa juga saya menyebut fragmen, padahal belum semuanya saya baca. Entahlah, menyebut lima orang tokoh utama, cara yang pas ya menceritakan setiap cerita dari sudut pandang setiap orang. Tapi bisa juga si pengarang menuturkannya dari sudut pandang tokoh utama. Apapun itu, yang jelas Pondok Madani haruslah sesuatu yang unik sehingga memberikan pengalaman baru bagi pembaca.

Ah, kenapa juga Pondok Madani? Apakah itu berkaitan dengan pandangan ideologis sang pengarang? Saya kok jadi teringat dengan kata peradaban yang diusung oleh Nurcholis Madjid. Kenapa bukan Pondok Damai, Darussalam, atau bahkan dengan terusterang berbicara Pondok Gontor. Apa ada yang salah dengan Gontor. Gontor, pondok modern. Aha, modernitas. Apa mungkin, Gontor di alam bawah sadar kita telah terasosiasikan kedalam bentuk kata tertentu? Sebuah ranah keagamaan yang harus 'rikuh' saat berbicara mengenai pencapaianpencapaian duniawi. Mungkin hanya pengarang jua yang tahu.

Berbicara mengenai rikuh atau malumalu itu, saya malah teringat dengan novel J. K. Rowling yang terkenal itu, Harry Potter. Bila mau dibandingkan, ternyata Gontor itu mirip dengan Hogwart! Pertama jelas, ia seperti benteng yang ketat. Tidak ada yang boleh keluar masuk tanpa izin. Semua kegiatan berlangsung di tempat yang ituitu juga, hampir tidak bersentuhan dengan dunia luar, dan memakai pakaian atribut dan kemampuan khusus. Saya sendiri kadang memiliki perasaan tertentu apakah seseorang ini pernah mondok di Gontor atau tidak. Untuk membuktikannya mudah, ajak saja berbicara bahasa gontory. Dengan demikian kita bisa membedakan antara muggle dan penyantri. Hihihi...

Lalu apa hubungannya dengan malumalu itu? Ternyata juga, banyak alumni Gontor yang malumalu menunjukkan identitas mereka kepada masyarakat umum. Kenapa juga begitu, apa mungkin hal tadi malah membuat kita merasa terbatasi. Mungkin. Pengalaman saya, kadang menimbulkan sebuah mispersepsi atau pertanyaan yang berbelitbelit. Sekolah di pesantren kok kerja macam ini? Kamu lebih pantas jadi guru, ustadz atau dosen. Bahkan, sebenarnya tujuan hidup kamu apa sih? Astaga, benarbenar ribet. Kita telah terkotakkotak, dan bagi mereka yang tak sengaja keluar dari kotaknya, harus siapsiap menjawab pertanyaan bertubitubi tadi. Kebetulan, siempunya novel ternyata juga bagian dari mereka yang keluar dari kotaknya itu. Jadi...

Daripada pusing, lebih baik,

natamanna fi ma'hadina alladzi yasiru fi qulubina..
min salathah rohah, mudabbir baqoyat, jaros wa jaryu ma'an, ila iqab syadid min qism a'mn wa mahkamah lail..


Gak mengerti kan? Sudah saya bilang anda itu muggle!

Suyuk!!