At Midst of Java (3)

Tak sampai ujung kujelajahi kompleks istana itu, hanya Siti Hinggil dan alunalun Utara saja. Perlahan udara mendung mulai menutupi langit yang kusam. rintik hujan mulai meretas tanah kering dan jalanjalan depan masjid yang berubah menjadi basah. Sudah pukul 14.05, dan sebentar lagi acara pembuka di hotel telah menanti. Setelah mencegat taksi, kami pun kembali menuju Sheraton, melewati jalan berbeda dari yang ditempuh sebelumnya.

Dan hujan semakin deras dan lebat, sama seperti perilaku supir yang kupikir tidak terlalu bisa menyembunyikan emosinya kepada penumpang. Mungkin harinya sedang buruk pikirku, mendelik sebentar kearahnya sekedar menegaskan saya mendengarkan anda dan tolong jangan buat kedua perempuan di kursi belakang tidak nyaman. Karena tak ingin terlihat buruk akibat ucapannya yang tendesius, akhirnya juga kulayani pembicaraannya.

"Dari mana mas?"

"Jakarta"

"Penumpang asal Jakarta itu kadang tidak mau mengerti. Sudah saya bilang ini adalah jalan alternatif ke tempat yang ia tuju. Tapi begitu melihat kemacetan malah menuduh saya memperalat kebodohannya"

"mungkin salah paham kecil"

"Jadi kita mengambil rute yang mana?"

"terserah bapak sajalah"

"Saya tidak mau seperti yang dahulu itu lho. Disalahkan kalau ternyata rute yang dilalui lebih jauh dan lama. Saya tidak mau dibilang menipu"

"saya percaya saja deh"

Dan ia masih juga menggerutu sambil berbuat kesalahankesalahan kecil dalam mengemudi. Melanggar marka, menerobos lampu merah atau melaju kencang di ruas jalan yang menurut saya sedang padat oleh becak dan pengendara motor. Benarbenar salah memilih taksi, dan menurut saya ini pengalaman pertama bertemu supir taksi yang rada kurang ajar. Tapi kenapa harus di Jogja?


Tiga hari empat malam saya menginap di kota ini. Hanya temboktembok hotel yang menemani jamjam sibuk di pagi hingga sore. Malamnya ajakan makan malam dari para bos menyeret saya jauh ke tempat yang tidak saya mengerti. Tidak ada yang baru, hanya bebek goreng dan sambal super pedas yang disajikan. Malam berikutnya kembali lagi ke Malioboro, entah apa lagi yang kucari. Menelpon rumah saudara yang tidak pernah diangkat, berbasahbasah ria dan berjalan tak tentu arah hingga penat dan kembali lagi ke kamar menumpang bus carteran panitia. Baru di malam terakhir gala dinner.

--------

UNDANGAN GALA DINNER

Costum Code : Abang dan None Betawi

Tempat di Ballroom

Pukul 18.00

(harap datang tepat waktu!)

---------

Ratusan orang dari berbagai daerah berikut busana adat masingmasing mulai memenuhi koridor depan Ballroom. Dan memang sudah dari sananya, kalau ada kumpulkumpul seperti ini ramai dan bergerombol ke sesama area. Kostum perempuan lumayan modis. Kebaya warnawarni dan terlihat cantikcantik. Pintar sekali mereka berdandan pikirku. Dan yang parah, kostum pria wilayah Jabodetabek: Kaos oblong, sandal jepit, sarung, peci, plus celana batik. Astaga, lebih mirip tukang sayur nih. Benarbenar gak sebanding! Hihihihi..

Telat tigapuluhmenit dari jadwal, kami mulai masuk ke ruangan utama. Itupun dengan beberapa kekeliruan posisi duduk. Setelah sambutan dan sedikit blablabla, barulah sajian utama dimulai. Pagelaran wayang orang. Temanya, sebuah misi menyelamatkan Shinta yang dilakoni oleh Hanoman dari cengkraman Rahwana. Alur cerita seumpama misi penyelamatan perusahaan di saat krisis. Para tenaga lapangan disimbolkan oleh Hanoman, Perusahaan sebagai Shinta dan Rahwana and the gank adalah krisis ekonomi dan kompetitor. Cukup sederhana untuk diingat.

Beberapa orang berkostum garang naik panggung. Wajah mereka seram, gigi besar tumbuh memanjang melewati senyum yang aneh dan jenggot hitam lebat bertengger mengelilingi dagu dan pipi mereka. Langkah lebar menggambarkan kecongkakan yang dalam dan sambil tertawatawa membanggakan keberadaan sebagai seorang penjahat, berkumpul dibawah komandan sang Rahwana. Kontras dengan tampilan para begundal ini, Rama dan Shinta ditampilkan dalam sosok klimis, rupawan dan cantik. Di sini, penonton dibawa kedalam realitas simbol yang jelas, bahwa kebaikan selalu identik dengan kecantikan dan kebenaran. Sedangkan lawannya, keburukan, merupakan relasi simbolik antara kejelekan dan kejahatan. Tidak ada ironi dalam kisah ini, hanya stereotip yang menegaskan bahwa kebaikan adalah sesuatu yang benar dan indah.

Tapi tokoh utama pembebasan Shinta dari hutan terlarang adalah seekor monyet putih nan cerdas yang bernama Hanoman. Betapapun ia seekor monyet, tapi keputihan bulubulunya dan kerapihan pakaiannya, kembali mengingatkan kita kepada struktur baik dan buruk yang telah ada dalam pembedaan antara Rama - Shinta dengan Rahwana. Hanoman adalah raja. Raja para kera. Setinggi apapun jabatan itu, kosmologi Jawa tidak pernah memandangnya lebih tinggi dari manusia. Bahkan untuk seorang raja yang kredibilitasnya dipertanyakan karena tak mampu menjaga istrinya dari agresi Rahwana, Hanoman hanyalah bawahan.



Shinta digambarkan sebagai seorang ratu yang berwibawa. Pada adegan penculikan yang melibatkan Rahwana, sang ratu menampilkan sejumlah gerakan anggun yang gemulai. Lekukan tangan yang menghadap keatas sambil mengarahkan telapak tangan ke arah lawan bicaranya, atau menyilangkan sebelah tangan yang memegang seledang sutra dengan ujung jarinya, tampak seperti ungkapan halus mengenai penolakan. Dan dari sejumlah gerakan pendekatan yang dilakukan Rahwana, istri Rama ini berusaha menjaga jarak dengan raksasa jahat itu. Mengingatkan saya akan gambaran umum wanita Jawa yang telah beristri yang berusaha tampil diplomatis.

Keanggunan Shinta secara linear juga dipasangkan dengan dandanan Rama yang bagi saya terlalu kemayu untuk seorang pria. Bukan saja karena ia tidak terjun langsung membebaskan istrinya, tapi malah mengutus Hanoman memulai pekerjaan kotor itu. Seorang bangsawan jelas tidak mungkin melakukan pekerjaanpekerjaan para tentara. Hanya, ketika misi Hanoman diambang kegagalan, ia tibatiba berubah menjadi sosok pahlawan yang dengan mudahnya mampu mengalahkan para begundal itu dengan anggun. Saya jadi bertanya, apa mungkin kisah ini digunakan untuk melegitimasi kekuasaan para raja? Betapapun tersingkirnya mereka dari kehidupan seharihari, tapi keberadaan mereka tetap dibutuhkan. Dan raja adalah sosok hero sesungguhnya, karena selain menjadi korban ia juga seorang penyelamat. Penyelamat sejati, karena hanya ialah jua yang mampu mengalahkan musuh. 

Baik Hanoman maupun Rahwana and gang adalah tokohtokoh yang jauh membumi daripada kelas bangsawan. Cara mereka berjalan sama seperti manusia umumnya meski sifat kecongkakan ditonjolkan begitu dalam. Meskipun begitu, sikap membumi ini hilang saat berhadapan dengan keluarga raja. Mereka mendadak jauh lebih lembut dan beradab. Bahkan seorang Rahwana pun berlaku sopan di hadapan Shinta. Seakan, perbedaan kelas itu mengakar dalam struktur kejiwaan masyarakat Jawa. Kelas bawah tidak akan pernah bisa menyatu dengan kelas atas dan keterbagian dua dunia ini adalah sebuah nasib yang tidak akan pernah bisa dilanggar, bahkan oleh satu pengecualian sekalipun.

Dan layaknya sinetron masa kini, kisah penculikan pun berakhir bahagia. Shinta kembali lagi kepada Rama, dan Rahwana berhasil dikalahkan oleh Hanoman. Kebenaran akan selalu menang dari kejahatan. Keburukan tidak akan pernah menang dari keindahan dan atas akan selalu menang dari bawah. Sebuah struktur hegemonik yang tidak pernah berubah.



Sungguh, belum pernah saya begitu menikmati pagelaran wayang orang seperti ini. Sejak ia muncul di layar kaca atau acara lain, saya selalu memiliki pretensi negatif terhadap seni tanah air ini. Tapi di sini, saya begitu mengapresiasi dengan baik, meskipun tidak dikemas terlalu serius. Alunan gamelan, gerakangerakan ritmis dan terpola, atau kareografi yang unik serasa membawa saya kedalam kumparan kejawaan yang mistis penuh unggahungguh dan introspektif. I fall at midst of Java.

Entah tigapuluh atau empatpuluhlima menit pagelaran itu berlangsung, dan mulailah sajian makan malam dihidangkan. Dua baris pelayan menyebar kedalam ruangan membawa nampannampan hidangan yang tersaji rapih. Kental dengan nuansa barat dan oriental berstandar internasional. Garpu, sendok, piring, pisau diletakkan berurutan seakan membawa kita ke realitas Rama Shinta yang aristokrat itu. Sayang sekali, ternyata selera saya jauh lebih rendah. Bayangan Rahwana yang urakan dan Hanoman yang tersubordinat seakan membawa saya ke selera pinggir jalan yang tidak resmi dan santai. Dan disini, saat makanan menjadi sebuah etiket penuh basabasi, saya hampirhampir tidak percaya bahwa yang ada dihadapan saya mampu menghilangkan rasa lapar dan memberi rasa kenyang. Dan semua menjadi hambar, sehambar kehidupan para priyayi yang berkutat dalam keagungan dan kepurapuraan.

Apa mungkin perasaan ini yang menghampiri saya saat berjalanjalan di trotoar Malioboro, melihat isi Vredeburg, mengejek alunalun utara yang kotor. Seakan saya seorang bangsawan Belanda di masa kolonial yang menganggap rendah bangsabangsa Timur. Seorang outsider yang tidak mau mengerti tanah jajahannya. Sebuah perasaan terasing yang mungkin dialami perantauperantau Jawa di Jakarta. Perbedaan kultur, adat istiadat dan kengganan menyebut kota sebagai kampung halaman.

Kota yang kutinggali
Kini tak ramah lagi
Orang orang yang lewat
Beri senyumpun enggan

Disini aku lahir
Disini aku besar
Disini aku merasa
Bodoh

....

(Kota II by Iwan fals)

6 komentar:

  1. beruntung sekali dirimu masih bisa menikmati sajian budaya itu, sementara banyak anak muda yg sudah tidak mempedulikannya...

    suka atau tidak, kesantunan jogja telah tergerus oleh zaman, dan celakanya hal itu dibawa oleh para perantau kota, terutama jakarta, yg bersikap layaknya turis asing... :(

    BalasHapus
  2. I miss "wayang" so much. Terakhir menyaksikannya 12 th yang lalu, ketika peringatan 70 th PMDG di "maidan ahdlor" dengan dalang ki Manteb Sudarsono.
    Dulu, ketika sinetron belum merajai dunia pertelevisian, wayang menjadi salah satu tontonan yang banyak dinikmati masyarakat desaku. Semalam suntuk rela dilalui, duduk manis di bawah pohon pisang sembari mengunyak kacang rebus hangat. Dunia perwayangan sarat dengan nilai-nilai filosofis yang bisa dijadikan sebuah tuntunan, namun sayang penuh dengan mistik.
    Kini, wayang hanya sebuah simbol masyarakat jawa. "orkes dangdut ngebor" lebih sering diundang memeriahkan acara hajatan. Lagian, generasi muda jawa sudah ga' ngeh dengan bahasa penghantarnya :)
    Welcome to Jawa wan! insan jawa insan khoir, la madza-madza koq didoroba. heleh!

    BalasHapus
  3. @hendri: yup, seru jg nonton wayang waktu itu. Tp smp sekarang masih gak ngerti bagaimana Sunan Kalijaga mengasimilasi kesenian wayang u mentransmisikan nilai2 Islam. Aselinya kan wayang itu cerita2 Hindu. Islam Jawa emang agak rumit bagi ana yg muslim Minang :)

    BalasHapus
  4. salahnya pak ga ketemuan sama diriku..lumayan kan daripada sunyi sepi sendiri di hotel...
    btw, kayaknya rasa makanan itu bukan masalah selera rendah atau tinggi tapi mungkin masalah suasana hati..
    btw juga, di milis kuliner yang saya ikuti, masakan hotel bukan kategori makanan yang sangat maknyuss..malah dinilai cenderung membosankan. beberapa waktu yang lalu saya juga ada acara di sherathon dan ternyata memang masakannya..biasa aja

    BalasHapus
  5. hmmm HP bisa membaca jauh yang menjadi latar cerita dan budaya yang tersaji. Saya setuju banget dengan pemikiran itu. Tapi memang cerita Ramayana itu bukan cerita asli Indonesia kan?

    BTW yang buat saya tertawa adalah kalimat bahwa cowok cowoknya lebih mirip tukang sayur. geliii...
    abisnya kostum abang dan none sih.

    EM

    BalasHapus
  6. @ Uda Vizon, saya menyebutnya sebagai kebetulan. Kebetulan saya di Jogja, kebetulan pula saya berjumpa dengan peninggalan budaya, dan kebetulan pula otak saya yang beropini ini berspekulasi tentang wayang. Mengenai kesantunan Jogja, mau tidak mau kita akan menghadapi persoalan itu. Bagi saya yang demikian seperti sebuah resiko semata. Macam pekerjaan, resiko menjadi sebuah pusat adalah kemajemukan dan akulturasi budaya. entah itu buruk atau baik, semuanya tergantung kepada masyarakat Jogja sendiri.

    @ Hendri & Sonny, Budaya dan agama memang seringkali berkaitan satu sama lain. Islam, karena termasuk agama barat, hambatan psikologis menjadi bagian dari masyarakat timur harus dipecahkan. Di sinilah wayang hadir sebagai sebuah solusi. Sayang sekali, budaya berkembang. Apa yang dulu dianggap solusi kini menjadi kuno dan tidak terpakai. Kedepan kita butuh lebih daripada wayang dan sebuah strategi kebudayaan yang lebih utuh. Apa mau mengislamkan 'orkes dangdut ngebor'?

    @ Hesty, iya tuh. Namanya juga hotel, dan namanya juga kerja, bukan piknik. :D *mengutip salah satu bos kalau sedang ngomel Heeee..

    @ Emiko, wah banyak sekali tanggapannya. Sepertinya harus satusatu saya uraikan. Untuk yang ketiga ini, sengaja mengambil background sebagai orang luar. Dan tentu saja pengamatan saya sebatas yang saya ketahui sebagai sebuah alternatif dari pemikiran mainstream. Dan meskipun Ramayana bukan cerita asli Indonesia, mendarahdagingnya cerita itu dalam budaya Jawa menjelaskan, betapa wayang sebagai sebuah panggung merupakan representasi alam pikiran orang Jawa. Dalam konteks ini, gerakan, busana, dan mimik adalah aspekaspek yang selalu kita temui dalam kehidupan seharihari. Jadi boleh dikatakan, kritik terhadap wayang merupakan kritik terhadap budaya Jawa.

    Akan tetapi, sebagaimana dijelaskan oleh Hendri, budaya yang saya kritik ternyata budaya kuno yang telah tergantikan. Apa dengan demikian kritik saya relevan? Sampai batasbatas tertentu, seperti saat berbicara mengenai Kraton, dan pola pikir terdalam yang sulit untuk berubah, saya rasa 'pewayangan' masyarakat Jawa masih dapat diterima sebagai simblisme resmi yang belum tergantikan. Dan sebagai budaya tanding, mungkin tulisan ini juga bisa dianggap sebagai kritik dari budaya baru teradap budaya lama. Tentu saja, karena saya juga orang Jawa yang menolak menjadi Jawa.

    BalasHapus