At Midst of Java (2)

Pukul 7.00. Warna putih awan yang meliputi pesawat dari angkasa Jakarta, perlahan mulai pudar. Pandangan jernih terlihat dari balik jendela penumpang: waduk jatiluhur, gunung Ciremai dan daerah perbukitan Purwokerto. Mungkin sepuluh menit lagi kami sudah tiba di atas Jogja. Di ufuk timur, cahaya pagi sudah memantul dari sudut kaca. Hari yang cerah. Setidaknya, warna emas mentari pagi ini bisa menghapus suasana subuh yang teramuk badai. Berangkat jam tiga pagi dari rumah di Bekasi, taksi yang kami tumpangi sudah basah kuyup oleh genangan air dan hujan yang tumpah begitu deras. Dan pagi yang benarbenar dingin di ruang tunggu keberangkatan Mandala benarbenar membuat penerbangan pagi itu lumayan berat.

Hampir tigapuluh menit di langit Jogja, tapi pesawat yang kami tumpangi belum juga menunjukkan tandatanda akan mendarat. Tujuh kali kuhitung, ia hanya berputarputar saja. Apakah begini, prosedur pendaratan di Adisucipto? Apa mungkin ada sesuatu yang terjadi di bawah sana, yang membuat pesawat harus antri untuk mendarat? Entahlah, dari yang kutahu, memang runaway Adisucipto tidaklah panjang. Itupun, saya ketahui dari reportase televisi saat kecelakaan Garuda beberapa waktu yang lalu. Dan saat momen pendaratan tiba, saya seperti meluncur ketengahtengah kota yang ramai. Mall, jalan layang, hotel dan gedunggedung pendek, kemudian menyentuh landasan dengan mulus dan berhenti dengan cepat. Ternyata Airbus itu jauh lebih empuk dan tidak terlalu berisik dibandingkan Boeing.

Dan jogja jauh lebih tenang daripada Jakarta, meski saat itu aku tengah berada di kawasan ramai kota. Atau mungkin, temboktembok benteng yang tebal itu menjadi sebuah peredam suara yang baik. Saat kau masuk kedalamnya tiada yang lain kecuali sunyi. Beberapa penggemar fotografi warawiri bersama kamera profesional mereka, Nikkon D40, bahkan masih ada yang menggunakan klise. Di Vredeburg, waktu benarbenar telah berhenti. Dan kukira juga bukan hanya di sana, tapi hampir satu kilo sebelah selatan, di sebuah pendopo besar.

Katanya, waktu melambat di daerahdaerah pinggiran, semacam gunung, ngarai dan lembah. Dan ia berjalan cepat saat kau tiba di pusatpusat waktu. Kota, pasar, dan terminal. Saat ia menjadi uang dan bergelimang dengan cepat bak air. Waktu adalah pergerakan jarum di atas jam tangan, digit angka di papan keberangkatan dan kedatangan, struk parkir kendaraan, batas akhir serta segala sesuatu yang membuat kita tidak nyaman. Karena memang demikianlah ia ada, meregresi dan mempercepat, menghegemoni dan melumpuhkan. Tapi di benteng ini dan pendopo besar itu, ia hadir begitu saja tanpa ada yang peduli. Apa mungkin karena ia tidak lagi menjadi pusat? Waktu telah dilumpuhkan di Jogja.






Melewati monumen Serangan Umum Satu Maret, kami menyeberangi perempatan besar menuju gerbang masuk Kraton. Sebuah gapura putih bergaya kolonial dengan emblem Jawa yang unik. Di depannya terdapat lapangan luas yang kotor. Dari Google Map, saya tahu, namanya alunalun Kraton Utara. Tanahnya berwarna coklat berdebu dan sepertinya rumput enggan tumbuh di sana. Di beberapa bagian tampak persiapan karnival dan pasar malam tengah dibangun. Tendatenda kusam, besibesi beraneka warna, bianglala, komidi putar, dan segala suatu yang mengingatkan saya akan pesta rakyat. Entah apa yang ada dibenak siempunya pendopo besar di seberang alunalun ini, tapi saya merasa tidak nyaman dengan pemandangan yang ada di mata saya. Bangunan agung, sebuah simbol kekuasaan, bukankah seharusnya ia menjauh sedikit dari hiruk pikuk ini? Coba bandingkan dengan situasi di depan Benteng tadi. Kenapa pula tidak ada kewibawaan yang hadir?!

Dan saat kuberdiri di depan pagar besinya yang tinggi, kumasih belum sadar, tentang arti kraton. Suasananya sungguh tak elok. Ia memang indah, berisi ukiran khas Jawa yang memikat. Hanya saja ada yang kosong di sana. Kotor, kumuh, kurang terawat, dan dipenuhi sejumlah guide yang mengejarngejar bak calo, meski dengan tutur kata yang ramah. Aku jadi ragu, apa benar saya mengunjungi kraton, atau barangkali saya yang salah tempat!? Untuk memastikan, kami pun pergi ke loket membeli karcis masuk. Tidak mahal memang, tapi tatkala masuk ke dalam kompleksnya, saya malah bertanyatanya, apa yang saya lihat di sini. Sebuah pertunjukkan masa lalu, sisasisa kebesaran dan keagungan, atau sebuah tontonan belaka? Saya merasa tengah berkunjung ke kediaman jendral besar yang telah dicampakkan di masa tuanya.

Karena tidak terlalu paham mengenai sejarah Kraton, berikut saya comot sedikit tulisan dari situs www.yogyes.com:


Sejarah Kraton Yogyakarta

Setelah Perjanjian Giyanti, Pangeran Mangkubumi diberi wilayah Yogyakarta. Untuk menjalankan pemerintahannya, Pangeran Mangkubumi membangun sebuah istana pada tahun 1755 di wilayah Hutan Beringan. Tanah ini dinilai cukup baik karena diapit dua sungai, sehingga terlindung dari kemungkinan banjir. Raja pertama di Kesultanan Yogyakarta adalah Pangeran Mangkubumi dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono I (HB I).

Penamaan dan Makna Tata Letak

Karaton, Keraton atau Kraton, berasal dari kata ka-ratu-an, yang berarti tempat tinggal ratu/raja. Sedang arti lebih luas, diuraikan secara sederhana, bahwa seluruh struktur dan bangunan wilayah Kraton mengandung arti berkaitan dengan pandangan hidup Jawa yang essensial, yakni Sangkan Paraning Dumadi (dari mana asalnya manusia dan kemana akhirnya manusia setelah mati).



Garis besarnya, wilayah Kraton memanjang 5 km ke arah selatan hingga Krapyak dan 2 km ke utara berakhir di Tugu. Pada garis ini terdapat garis linier dualisme terbalik, sehingga bisa dibaca secara simbolik filosofis. Dari arah selatan ke utara, sebagai lahirnya manusia dari tempat tinggi ke alam fana, dan sebaliknya sebagai proses kembalinya manusia ke sisi Dumadi (Tuhan dalam pandangan Jawa). Sedangkan Kraton sebagai jasmani dengan raja sebagai lambang jiwa sejati yang hadir ke dalam badan jasmani.



Kraton menuju Tugu juga diartikan sebagai jalan hidup yang penuh godaan. Pasar Beringharjo melambangkan godaan wanita. Sedangkan godaan akan kekuasaan dilambangkan lewat Gedung Kepatihan. Keduanya terletak di sebelah kanan. Jalan lurus itu sendiri sebagai lambing manusia yang dekat dengan Pencipta (Sankan Paraning Dumadi).



Secara sederhana, Tugu perlambangan Lingga (laki-laki) dan Krapyak sebagai Yoni (perempuan). Dan Kraton sebagai jasmani yang berasal dari keduanya.

Makna Tata Ruang Kraton Yogyakarta

Setelah diguncang gempa tahun 1867, Kraton mengalami kerusakan berat. Pada masa HB VII tahun 1889, bangunan tersebut dipugar. Meski tata letaknya masih dipertahankan, namun bentuk bangunan diubah seperti yang terlihat sekarang



Tugu dan Bangsal Manguntur Tangkil atau Bangsal Kencana (tempat singgasana raja), terletak dalam garis lurus, ini mengandung arti, ketika Sultan duduk di singgasananya dan memandang ke arah Tugu, maka beliau akan selalu mengingat rakyatnya (manunggaling kawula gusti).

Tatanan Kraton sama seperti Kraton Dinasti Mataram pada umumnya. Bangsal Kencana yang menjadi tempat raja memerintah, menyatu dengan Bangsal Prabayeksa sebagai tempat menyimpan senjata-senjata pusaka Kraton (di ruangan ini terdapat lampu minyak Kyai Wiji, yang selalu dijaga abdi dalem agar tidak padam), berfungsi sebagai pusat. Bangsal tersebut dilingkupi oleh pelataran Kedhaton, sehingga untuk mencapai pusat, harus melewati halaman yang berlapis-lapis menyerupai rangkaian bewa (ombak) di atas lautan.



Tatanan spasial Kraton ini sangat mirip dengan konstelasi gunung dan dataran Jambu Dwipa, yang dipandang sebagai benua pusatnya jagad raya.



Dari utara ke selatan area Kraton berturut-turut terdapat Alun-Alun Utara, Siti Hinggil Utara, Kemandhungan Utara, Srimanganti, Kedhaton, Kemagangan, Kemandhungan Selatan, Siti Hinggil Selatan dan Alun-Alun Selatan (pelataran yang terlindung dinding tinggi).



Sedangkan pintu yang harus dilalui untuk sampai ke masing-masing tempat berjumlah sembilan, disebut Regol. Dari utara terdapat gerbang, pangurukan, tarub agung, brajanala, srimanganti, kemagangan, gadhung mlati, kemandhungan dan gading.



Brongtodiningrat memandang penting bilangan ini, sebagai bilangan tertinggi yang menggambarkan kesempurnaan. Hal ini terkait dengan sembilan lubang dalam diri manusia yang lazim disebut babahan hawa sanga.

Kesakralan setiap bangunan Kraton, diindikasikan dari frekuensi serta intensitas kegiatan Sultan pada tempat tersebut.



Alun-Alun, Pagelaran, dan Siti Hinggil, pada tempat ini Sultan hanya hadir tiga kali dalam setahun, yakni pada saat Pisowan Ageng Grebeg Maulud, Sawal dan Besar. Serta kesempatan yang sangat insidental yang sangat khusus misal pada saat penobatan Sultan dan Penobatan Putra Mahkota atau Pangeran Adipati Anom.



Kraton Yogyakarta memanglah bangunan tua, pernah rusak dan dipugar. Dilihat sekilas seperti bangunan Kraton umumnya. Tetapi bila kita mendalami Kraton Yogyakarta, yang merupakan contoh terbesar dan terindah dengan makna simbolis, sebuah filosofi kehidupan, hakikat seorang manusia, bagaimana alam bekerja dan manusia menjalani hidupnya dan berbagai perlambangan eksistensi kehidupan terpendam di dalamnya. (YogYES.COM)





Ah, membaca narasi tentang sejarah Kraton tadi, saya malah teringat dengan manusia Jawa yang sering saya jumpai setiap hari. Mungkin juga saya. katakata tentang simetri, keselarasan, alam dan pria wanita. Bukankah itu sebuah pernyataan tentang kesempurnaan. Suatu kata yang ternyata menjadi tujuan dan filosofi hidup orang Jawa. Seperti filosofi Burung Garuda dengan jumlah sekiansekian, memiliki arti sekiansekian. Perlambang dan tandatanda, menjadi sebuah unjuk kecerdasan, dan pemaknaan. Sayangnya, ia hanya bermakna untuk dirinya sendiri. Kalau tidak, untuk apa kesempurnaan itu dibangun? Apa ia bisa mengalahkan ketidaksempurnaan yang mencolok di depan matanya sendiri? Dan dalam abadabadnya yang silam, ia hanya hadir dalam kesempurnaannya yang sangat terpinggirkan. Belum pernah ia memberontak kepada Belanda. Diponegoro? Apa benar ia putra mahkota yang diinginkan Kraton? Coba jawab, kenapa universitas terkenal di sana mengambil nama seorang patih dari kerajaan di tepi sungai Brantas, Jawa Timur? Apa kaum cendikia mereka tidak percaya diri dengan sejarah kerajaannya sendiri?

Dan seperti ukiranukiran cemerlang di atas fasadfasad kayu yang indah itu, kesempurnaan Kraton, kupikir berdiri di atas dasar yang sangat rapuh. Ia hanya sebuah kesempurnaan yang tidak bisa memberi dan terlalu lemah untuk berbuat suatu kepada dunia. Menjadi tertutup dan tinggal di balik keagungan dan kebesaran yang begitu menjebak. Atau, inikah nasib sebuah kerajaan boneka? Anakanak rajawali yang tumbuh besar menjadi burung pipit. Kita telah terbonsai oleh sesuatu yang kita namakan dengan kesempurnaan dan keagungan.
`

5 komentar:

  1. mempelajari sejarah bukan soal menceritakan masa lalu, tapi soal bagaimana kita menginterpretasikannya di masa kini...

    kraton... setiap kali aku melewatinya atau bahkan sesekali mengantarkan tamu untuk mengunjunginya, aku hanya bisa menikmati tanpa mampu menghayati... dan aku yakin, itulah yg terjadi pada kebanyakan generasi kita...

    woiii.... ke jogja kok diam2 aja? ngontak kek... :)

    BalasHapus
  2. You know more about Jogja than I who lifes in Jogja....luar biasa..!!

    BalasHapus
  3. Setuju uda Vizon, sejarah bagi saya adalah kekinian sekaligus masa lalu. Karenanya saya selalu menggunakan sudut pandang pengalaman orang pertama agar mampu menampilkan kilasan sejarah yang jauh lebih personal. Mengenai Kraton Jogja, cuma itu yang bisa saya rasakan dalam tulisan saya ini. Apakah dengan demikian proses penghayatan yang diharapkan tidak maksimal, tentu saja para pelaku sejarah harus menganggapi hal tersebut dengan lebih serius. Introspeksi dan retrospeksi. Dan memang itulah yang harus dilakukan. Maaf nih ga sempat berkunjung ke Kweni. Lain kali ya, sepertinya mengasyikkan. :D

    Saya sendiri memang tidak terlalu memahami Jogja. Dari apa yang saudara Papavena tuliskan, saya malah malu kalau dibilang lebih tahu dari orang yang selama ini bermukim di sana. Apa ini berkaitan dengan riwayat singkat dari Kraton? Bukankah telah saya tulis bahwa itu adalah kutipan mentah semata dari situs yogyes. Apa yang saya tulis di sini, tak lain dari interpretasi saya belaka sebagai outsider terhadap kehidupan budaya dan sejarah Jogja.

    Dari apa yang saya tulis sebagai tanggapan dari komentar ini, saya hanya bisa bilang kepada Mona, mari berkunjung ke Jogja. Kamu pasti tidak akan pernah menyesal.

    BalasHapus
  4. Saya bukan orang Jawa, dan memang saya sudah 3 kali ke Kraton Yogya. Tapi kali terakhir kemarin kok rasa mistis kraton sudah hilang di hati saya. Kraton itu tak lebih dari tumpukan batu-batu saja. Padahal dulu waktu aku kecil ke sana, rasanya ada aura yang magis waktu masuk ke dalamnya.

    Entah saya yang sudah dewasa, atau kratonnya yang berubah?

    EM

    BalasHapus