Eksploitasi

Melihat tayangan televisi tiga hari terakhir, wacana paling menarik yang tengah berkembang adalah musibah runtuhnya waduk situ Gintung di Tangerang. Puluhan nyawa melayang dan ratusan orang masih dalam pencarian hingga saat ini. Dari berita di layar kaca, bantuan sudah mulai berdatangan sejak hari pertama. Organisasiorganisasi masyarakat, partai dan lembagalembaga terkait bencana semacam PMI dan SAR juga telah melakukan tugasnya dengan sigap. Tidak ketinggalan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turut bertandang ke lokasi musibah tersebut, meski harus menggunakan sepeda motor. Para pemuka agama, artis dan masyarakat sekitar yang berempati memadati juga tempat kejadian. Semuanya disempurnakan oleh kamerakamera industri pers yang terarah lekatlekat duapuluhempat jam sehari, menayangkan adegan demi adegan, membuka drama demi drama tentang seorang bapak yang kehilangan seluruh anggota keluarganya, ibu yang menangisi kematian putrinya, dan berbagai kisah heroik yang sangat mengharukan lainnya. Bisa dibilang, tiada satu jam pun terlewat tanpa laporan kondisi terkini live dari stasiun kesayangan anda.

Semasa kuliah di UIN, saya sering main ke tempat kos kawan saya yang kebetulan berjarak limaratus meter dari kampus UMJ. Biasanya naik angkot dari depan gapura kampus dan berhenti di gerbang kampus Muhammadiyah tersebut. Dari jalan raya kami menuruni jalanan kampus yang lumayan curam, melandai sebentar kemudian naik lagi hingga ke gedung fakultas hukum, baru kemudian jalan kembali datar. Karena medannya yang naik turun, saya mengira kawasan tersebut adalah daerah perbukitan. Dan saya mengamini pemikiran tadi hingga waduk situ Gintung runtuh. Awal mulanya hanya penasaran ingin melihat situ Gintung dari udara, saya pun mengakses Google map. Dari sana terlihat jelas, betapa daerah yang terkena air bah, tak lain merupakan DAS dari sungai yang dibendung oleh waduk Gintung itu. Hal ini menjelaskan kondisi medan sekitar kampus yang naik turun itu, dan yang sebenarnya saya alami saat melewati area kampus adalah saya melalui bekas aliran sungai yang telah mengering dan berubah fungsi menjadi areal pemukiman padat penduduk.

Dari informasi yang saya cerap, situ Gintung merupakan waduk peninggalan zaman kolonial Belanda. Dibangun medio 1930-an dengan membendung dua aliran anak sungai. Tujuannya sebagai sarana irigasi bagi areal persawahan di sekitarnya. Dalam perjalanannya, ia mulai berubah fungsi menjadi tempat rekreasi dan pelesiran. Ada restoran, tempat memancing bahkan town house dengan lake view-nya. Zaman berubah, Jakarta mengalami ledakan penduduk. Areal persawahan yang terdapat di sekitar DAS bendungan situ mulai beralih fungsi menjadi pemukiman yang padat. Rumah, tempat ibadah, kos, universitas dan perumahan mulai dibangun di atasnya. Berbeda dengan areal persawahan, pemukiman penduduk memerlukan air sumur. Mereka bukan lagi menerima tapi mengambil. Sama seperti restoran, tempat memancing dan perumahan mewah. Mereka mengambil tapi lupa memberi, memberi perhatian yang serius kepada waduk yang memungkinkan kelangsungan hidup mereka. Memberi perawatan yang setimpal dan menjaganya. Nyatanya, hanya ada eksploitasi bukan reservasi. Dan ketika umur waduk telah uzur, tidak ada yang menyangka bahwa selama ini mereka hidup di atas lahan yang sangat rapuh oleh bencana.

Saya tidak menyukai kata eksploitasi, meskipun diakui atau tidak, sangat dekat sekali dengan kehidupan seharihari. Contohnya, handphone saya ini, sepeda motor, bahkan komputer. Kadang saya paksa mereka sampai batas maksimal, memberinya sedikit perhatian buat perawatan. Mengambil segala keuntungan darinya hingga suatu ketika saat barangbarang tersebut rusak, yang ada hanyalah rasa bingung bagaimana cara saya mendapatkan penggantinya. Yang menarik, dalam ensiklopedia Encarta, ada banyak term yang berkaitan dengan kata tersebut, dan yang paling penting berkenaan dengan teori Marx mengenai pertentangan kelas. Upah buruh dan ongkos produksi selalu lebih rendah dari nilai produk. Hasilnya selalu ada perimbangan kekayaan yang selalu jomplang. Antara pemilik modal dan kaum pekerja. Meskipun dibantah oleh kalangan ekonom orthodox, setidaknya pemikiran Marx mengenai eksploitasi menyiratkan satu hal: Munculnya ketidakseimbangan dan dialektika baru.

Eksploitasi sendiri bukan hak prerogatif bidang ekonomi dan politik semata. Dalam bidangbidang yang lain, kita juga menemukan hal tersebut. Entah itu sosial, budaya bahkan seksual. Dalam ranah pengetahuan, eksploitasi terhadap suatu bidang membuka kemunculan cabangcabang ilmu yang baru. Semakin dalam eksploitasi dilakukan semakin jauh juga ia dari realitas akal sehat. Makanya kita mendapati fisika yang semakin abstrak dan hampirhampir tidak bisa dicerap oleh indera materi kita. Di sini, ketidakseimbangan yang muncul adalah antara realitas inderawi dengan realitas mikroskopik. Nalar keduanya benarbenar berbeda, demikian pula hukumhukum yang melingkupinya. Sama seperti eksploitasi dibidang sosial dan budaya yang melahirkan realitasrealitas baru macam komunitas underground, hippies dan punk. Eksploitasi besarbesaran masyarakat Barat terhadap tubuh juga melahirkan revolusi seksual. Entah karena sudah bosan dengan tubuh lawan jenis, mereka malah menyukai sesama jenis. Maka lahirlah gay, lesbian, dan AIDS.

Dan sepertinya, musibah situ Gintung terjadi bukan saja oleh eksploitasi tanpa sadar. Di mata kita sendiri mereka juga menjadi korban eksploitasi sadar oleh media. Pengumbaran besarbesaran terhadap para korban, isak tangis, dramadrama yang memilukan diiringi lagulagu bertema religi. Yang menjadi korban, bukan hanya mereka yang terkena musibah, tapi juga para pemirsa yang secara tidak sadar dibawa ke alam pertunjukkan yang benarbenar berbeda. Kita dibuat seolaholah musibah itu karena kita kurang percaya kepada Tuhan. Padahal, semuanya jelas kesalahan kita jua. Tuhan di sini menjadi penyebab, atau dewa yang murka karena tidak mendapatkan sesembahan yang sepatutnya. Maka berbondongbondong mereka menuju ke dalam Masjid menggelar istighosah dan doa bersama, seakanakan doa adalah cara instan mengatasi musibah. Pemerintah puas karena tidak perlu mengeluarkan dana yang besar untuk penyidikan. Lempar tanggungjawab antar pemerintah daerah pun mencair. Ini adalah musibah, jadi tidak ada yang salah di sini dan tidak ada yang patut dipersalahkan. Masyarakat kembali tenang, pemerintah adem ayem, dan kesalahan serupa di masa mendatang tak perlu dirisaukan lagi. Tinggal melakukan kunjungan singkat, berempati, berbasabasi, tebar pesona dan semuanya akan beres di majelis pengajian.

Saya takut, janganjangan kita juga telah mengeksploitasi agama?!

6 komentar:

  1. Hmm .. komodifikasi.

    Dan, maaf, bukan "stasiun kesayangan anda." Tak pernah merasa menyayangi stasiun tv manapun, heheheee ....

    BalasHapus
  2. masalahnya mungkin bukan istigotshnya. Kita tidak terbiasa untuk mengantisipasi potensi bencana. Gw sering lewat tepian Situ Gintung itu kalo mo menghindari macet di Ciputat Raya dan tembus ke Cirendeu Raya.

    Tidak pernah terpikirkan bahwa tepian itu bisa hancur. Mungkin masalahnya teknik rancang bangun yg kita kuasai kurang bagus atau kurang diterapkan dengan baik. Sama halnya dengan kasus mobil terjun bebas dari lantai parkiran

    BalasHapus
  3. posting yg bagus n menyentuh, tapi aku dag dig dug ser baca kalimat terakhirnya...

    jadi bener2 mikir apakah selama ini kita juga telah mengeksploitasi agama kita??

    *menghela napas panjang*

    BalasHapus
  4. jujur, saya sangat "gerah" melihat ekploitasi bencana ini di media tv. berlebihan sekali... apalagi bencana ini juga dijadikan sebagai ajang tebar pesona, entah itu oleh politisi maupun selebriti... hah!!!
    mengingatkanku dg bencana jogja tiga tahun lalu... :(

    hah!!! dadaku sesak setiap kali melihat ini...

    BalasHapus
  5. barusan gw baca Warta Kota. Sudah ada keluhan soal masalah Situ Gintung ke RW dan katanya udah disampaikan ke kelurahan. Walhi jg menduga adanya kelalaian. Urusannya bisa dibawa ke pidana.

    Kemarin gw nonton berita. Birokrat saling lempar tanggung jawab soal siapa yg seharusnya merawat Situ Gintung. Katanya sih karena aliran airnya menampung 2 provinsi jd seharusnya itu tanggungjawab pusat. Kebiasaan.. :(

    BalasHapus
  6. @ Mona, wah saya kurang mengerti malah dengan komodifikasi. Apa itu merujuk kepada peristiwa jebolnya tanggul ataukah bentuk penggunaan ideide agama?

    @ sonny, biasa memang kalau sudah sampai masalah tanggung jawab. Semua saling lempar.

    @ Oly, memang agama adalah doa, dan doa dimaksud untuk membantu sipendoa. Tapi ya, semasih dalam batasbatas kewajaran ga masalah kan. :D

    @ Uda Vizon, Selamat datang di negeri tontonan!

    BalasHapus