Inspiring Quote

"The future is not a result of choices among alternative paths offered by the present, but a place that is created -- created first in the mind and will, created next in activity."

"The future is not some place we are going to, but one we are creating. the paths are not to be found, but made, and the activity of making them, changes both the maker and the destination."

-- John Schaar, Futurist

Thank to Sonny for providing this quote at his Flickr. I myself never knew John Schaar is, but I think he is a good man.

Reuni Nasional Gontor

Pukul 9.43 tiba di Jakarta Convension Center bilangan Senayan, guna menghadiri Silaturrahim Nasional PM Gontor. Sedikit terlambat, maklum lagi kena detensi oleh bos di kantor. Hehhe.. padahal kemarin dipuji-puji tuh gara-gara growth sales rumah sakit yang lumayan tinggi, ternyata nasib manusia bisa berubah dalam hitungan menit ya. Gak sangka! Sonny sudah sms terus, ruparupanya dia gatal ingin mencoba memakai foto digital saya. Berlagak seperti wartawan lagi, Lintang, Lintang! :P Sampai di sana, ramai sekali. Waktu masuk dapat selebaran dari sponsor, plus jenang Mubarok yang sepertinya usaha milik seorang alumnus. KH. Syukri Zarkasyi sudah berapi-api ceramah mengenai Pondok dan lika-likunya. Tidak ada yang berubah tuh darinya, baik gaya bicara, cara penyampaian, dan selling skill yang kadang-kadang begitu personal. Cocok sih indoktrinasi macam begitu di pondok. Di sini, siapa yang tahu?

IMG_2144
IMG_2132IMG_2121
IMG_2108
IMG_2097
IMG_2099

Bukan Gontor namanya kalau tidak mengundang tokoh-tokoh nasional, semacam Din Syamsuddin yang merupakan ketua PP Muhammadiyah sekaligus alumnus Gontor, juga menteri Pendidikan Bambang Sudibyo, serta menteri Perumahan rakyat (siapa yah namanya, tapi pas berpapasan di pintu masuk, kok mukanya mirip MS Kaban) serta yang paling ditunggu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Jadi ingat waktu nyantri, setiap kedatangan tamu penting, seluruh santri dijajar bahumembahu dari jalan masuk Pondok hingga ke gedung pertemuan membuat pagar betis. Kalau cuma menunggu 10 - 15 menit sih gak apa-apa, tapi kalau lebih dari itu? Jadilah terpanggang terik matahari, sedikit gosong dan betis pegel-pegel. Yang paling heboh itu waktu kunjungan B.J. Habibie dan Panglima TNI. Habibie tuh nyentrik, ke pondok aja pake naik helikopter, dua lagi. Satu diparkir di lapangan bola belakang gedung Indonesia, satu lagi terletak 1,5 km di luar area pondok. Para santri pada bengong waktu lihat tuh benda mendarat, mirip orang kampung. Hei, belum lihat helikopter mendarat kan? Kalau panglima TNI, Dua panser sudah siap sehari sebelumnya terparkir di samping rumah KH. Syukri Zarkasyi. Presiden? Kayaknya Habibie lagi, tapi kesibukan sudah mulai sehari sebelum kedatangan. Paspamres menyisir area BPPM (Balai Pertemuan Pondok Modern) dan mencicipi makanan yang hendak disajikan. Repot juga punya tamu penting yah, yang pasti dapat jatah libur dadakan kalau ada tamu terhormat macam itu. Horee..

Sekarang giliran bertemu dengan kawan-kawan lama. Banyak juga yang tidak saya kenal, tapi ketika dua deret kursi penuh oleh kawan seangkatan, asyik juga yah, serasa kembali ke masa lalu. Ruparupanya mereka banyak yang sudah berkeluarga, bahkan ada yang sudah punya dua anak. Dan jadilah gua sama Sonny shigor abadi yang bengang-bengong, dasar jomblo! Ada yang jadi caleg dari PPP, ada yang jadi kiyai, ada yang pulang dari Yaman jadi sesepuh, banyak yang jadi guru, kerja di asuransi, atau PJTKI, ada juga yang masih "pengacara". Beda-beda yah nasib orang. Eh, Furqon mau nikah tuh bulan depan. Selamat deh, satu lagi shigor tulen yang akhirnya menikah. Suasananya benar-benar cair, hingga berisik sekali jadinya, waktu lihat ke panggung kelihatannya pimpinan Pondok geleng-geleng kepala melihat kelakuan alumninya. Maaf ustadz gak biasanya sih kumpul-kumpul seperti ini. Karena terlalu antusias, malah jadi lupa foto-foto. Tuh, masak gua difoto pas sedang membalikkan badan. Curang juga nih Sonny, padahal gua foto lu punya aksen ok banget tuh.

IMG_2138
IMG_2148
IMG_2130
IMG_2140
IMG_2149

Setelah makan siang dan shalat Dzuhur, akhirnya pulang lagi kerumah. Huh, reunian yang ramai. Tapi sepertinya saya kok malah ga terlalu menikmati ya. Daripada pusing menjawab pertanyaan tadi atawa menunggu SBY datang, mending juga pulang ke rumah. Cukuplah mereka tahu, bahwa saya datang dan nama saya tercantum di database alumni. Klik sini untuk melihat reportase langsung Sonny Ayo Gontor, terus maju!

Ghost in Mechine

Karena cinta hanya ada di pikiran, maka ia dapat terungkap dalam maya, seperti chatting, jejaring sosial atau bahkan blog. Sayangnya hasrat selalu berbentuk materi. Ia hadir, menguasai, mencemburui dan berselingkuh. Hasrat butuh tubuh, tapi cinta tidak. Karenanya, seorang Rabiah mampu mencinta dan pendeta dipaksa berselibat, agar hanya mencinta bukan menghasrat. Sayangnya, yang maya telah menjadi materi. Makanya hasrat menguasai cinta, dan ia kini hadir dalam Facebook, Friendster dan Blog. Yang luhur tergantikan dengan yang dangkal, sama seperti realitas ini, yang tergantikan seutuhnya oleh simulacrum internet. Terima kasih web 2.0, kau telah menghadirkan kembali Descartes dengan dualitas rasionalisnya. Mungkin suatu saat akan muncul sebuah mitos. Mitos dalam maya, sama seperti Ghost in Mechine.

Pilgrimage

IMG_2009

Akhirnya aku kembali lagi ke sini, tempat dimana dahulu kupernah merasakan sentuhan-sentuhannya. Delapan tahun yang lalu, saat aroma itu melayang di benakku. Cat baru, campuran yang unik dari keringat anak-anak yang tumbuh dan remaja, wc yang kering kerontang meninggalkan kerak kuning membatu, adrenalin, rasa tertekan dan terasing. Ia telah menciptakan segalanya, dan itulah salah satu alasanku kembali. Kuingin menghirupnya sekali lagi. Tapi memang bukan Gontor namanya, bila kau tidak menemukan hal baru di sana. Saat pertumbuhan berjalan melambat di daerah sekitar, pondok ini berjalan begitu cepat. Gedung-gedung meninggi begitu pesat, menyesakkan nafasku. Lalu lalang yang berkelebat, keriuhan yang menyingkirkan, semuanya berlomba menarikku kedalam keheningan. Ah, pondok yang damai, ataukah pondok yang sunyi?

Matahari telah meninggi, usai melihat-lihat ISID, kupergi menuju Gontor I. Kendaraan umum nyaris tidak adak ada, beruntung sekali bertemu dengan angkot yang bersedia mengantarkanku ke pondok. Padahal ku sudah berniat untuk jalan kaki saja, seandainya tidak ada kendaraan yang lewat. Ruas jalan yang kulalui masih tetap sama seperti dahulu, sepi dan didominasi oleh kendaraan pribadi dan motor. Setelah krisis moneter tahun 1997, sepertinya motor menjadi mode angkutan primadona, Tak terkecuali Ponorogo. Di jalan masuk, pagar-pagar bercat biru masih terpajang rapih. Kalau tidak salah, warna biru itu merupakan peninggalan marhalah kami, cuma yang satu ini terlihat jauh lebih gelap dibanding yang dahulu. Bisa saja sudah dicat ulang atau itu memang jenis warna yang berbeda dari yang ada dipikiranku, karena menurutku warna biru yang lalu itu sedikit norak sedang yang ini lebih universal, dongker.

Umbul-umbul terpasang kiri-kanan jalan, publikasi, yah inilah ciri khas warga Gontor, meski hanya berlangsung di area pondok saja, tapi itu sudah memberi kesan akan adanya sebuah acara wah yang tengah digelar. Namanya PG, Panggung Gembira. Perhelatan akbar generasi 683 di bidang kreatif dan seni. Panggungnya saja megah sekali dan ada sponsor segala. Wah, wah, kapitalis sejati. Begitu turun dari kendaraan ku segera pergi ke bagian penerimaan tamu. Suasana ramai sekali. Mobil-mobil dari berbagai daerah memadati lapangan Basket di halaman depan gedung. Yah inilah yang kurasakan pertama kali dan yang selalu kurasakan seperti itu saat kuberkunjung ke Bagian penerimaan tamu. Pertunjukan, show up, pamer. Entah apa yang mereka pertontonkan, tapi itu adalah tempat yang sangat emosional, dan tentunya berbagai embel yang melekat adalah bagian dari unjuk ego. Kataku dalam hati, untung tak ada yang harus kupamerkan di sini. Aku orang bebas tau. Tapi karena begitu ramai, tak urung jua kumengeluh. Ah, lebih baik keliling saja cari gambar.

IMG_1906
IMG_1873
IMG_1889
IMG_1875
IMG_1863IMG_1867
IMG_1908
IMG_1878
IMG_1870

Menyusuri gedung Indonesia, langkahku berlanjut ke gedung pertemuan. Bilik-bilik sudah terpasang sekeliling, pertanda bakal ada persiapan besar-besaran. Ratusan santri kelas enam begitu sibuk mengatur dan merancang koreografi panggung. Tampak beberapa guru senior memberikan pengarahan kepada tenaga kerja gratisan itu. Hei, tebak dengan siapa saya bertemu di sana. Khairul Umam dan Ahsan Sidqi. Dua makhluk itu masih bertahan rupanya. Khairul Umam masih dengan senyuman yang gak pernah putus, sudah menikah dia dan baru saja menyelesaikan masternya di bidang ekonomi Islam. Uh, kalah telak saya! Ada pula Ahsan Sidqi yang menjadi super sibuk. Kataku, "masih betah rupanya". Kata mereka, "lebih susah keluar daripada masuk pondok". Kataku dalam hati, lumayan ternyata kebebasan itu mahal. Tidak jauh-jauhlah perbedaan kita. Hhh... Satu surprise lagi, ternyata ustadz Tauhid hendak menikahkan putrinya. Aku tertawa dalam hati, guru aneh nan ajaib itu. Apa kuat tuh menantu punya mertua kayak begitu. Halaah, tapi dia mesam-mesem saja waktu kusalami. Yaah, waktu telah berubah rupanya.

Jumlah santri yang mencapai hingga empat ribuan orang, Gontor telah mencapai kapasitas maksimalnya sebagai sebuah lembaga. Aku sendiri selalu geleng-geleng melihat statistik itu, bukankah empat ribu santri adalah jumlah yang tidak masuk akal?! Bagaimana mungkin kita mengharapkan sebuah pendidikan yang bermutu dengan jumlah yang begitu banyaknya. Lagi pula disiplin tampaknya bukan lagi tradisi yang ketat. Dahulu saat masih menyantri di sana, hanya sekitar 2500-an saja, dan dengan disiplin yang ketat, seperti penggunaan pukulan dan rotan, ternyata kualitas yang diharapkan tidaklah terlalu tinggi. Paling tidak, saya sendiri yang merasakan hal tersebut. Dan sekarang, saat jenis hukuman semakin sama, dan jumlah orang yang ditangani semakin banyak, apa yang mau diharapkan?! Bahasa Arab dan Inggris yang belepotan? Atau rasa bangga yang sampai batas tertentu terlihat konyol? Ah, aku selalu sinis kalau bicara mengenai hal itu. Apa mungkin karena perasaan yang begitu dalam? Entahlah, Gontor selalu memiliki iramanya sendiri, selalu berbicara dengan logikanya sendiri, selalu berbeda.

Barangkali itu juga yang ditularkan Gontor padaku, seorang idealis yang hampir-hampir tidak bisa dipengaruhi. Bercita-cita tinggi dan dalam banyak hal moderat. Aku seperti melihat bayanganku di sana. Tertatih-tatih, bergelut dengan buku, tak peduli mau apa aku kelak dengan ilmu-ilmu yang marketabless. Dan segala kebencianku kepadanya tak lain dari kebencian kepada diri sendiri. Dari rumpun shigor yang sangat lugu, kemudian berkembang hingga kini, terlalu banyak jejak yang ia tinggalkan dalam diri, tak peduli seberapapun kuatnya aku berusaha menolak dan menghapusnya. Kadang-kadang ia menyeruak begitu saja, dalam cara-cara tertentu yang Gontory. Dan aku berusaha lepas, mencoba mengingkari, menjadi antitesis, sebuah rasa benci yang tak lain hanyalah sebuah sisi berbeda dari kerinduan yang dalam. Aku hilang di dalamnya, aku lebur, aku fana. Aku bukan siapa-siapa di sini. Aku hanya seorang santri yang lugu, sama seperti dahulu tiga belas tahun yang lalu. Aku bukan aku.

Dalam kekaburan yang meliputi, kudaki tangga besi itu. Sebuah tempat yang selalu kutahu. Disinilah awal penafikan itu, sebuah tempat akan kesadaran penuh. Tempat pertama kali kuberkenalan dengan weltanschaaung, tempat ITQAN. Ah, tak perlulah kau bandingkan tempat ini dengan kerasnya perdebatan di luar sana antara JIL dan counterpartnya, atau kepongahan intelektual yang meraja di bilik-bilik universitas dan jurnal-jurnal ilmiah. Ia hanya sebuah lingkungan kecil yang indah. Tempatku pertama kali mengetik, membuat tulisan yang penuh dengan corat-coret type-x, tempatku pertama kali berjalan dengan pikiran sendiri. Tempatku merdeka. Wajah-wajah yang sama seperti ku, pandangan yang lurus, semangat yang agung. Biarlah ia berjalan begitu, tak ingin jua ku campur tangan. Kelak juga mereka akan belajar menemukan cara mereka sendiri untuk berada. Welcome to ITQAN.

IMG_1868
IMG_1916IMG_1914
IMG_1919
IMG_1915IMG_1921

Selepas Maghrib, perhelatan pun berlangsung. Sebuah panggung berukuran raksasa tergelar megah. Riuh rendah orang berjubelan memasuki arena, saat di mana azan kemudian berkumandang. Yah, begitulah pondok, sangat fleksibel. Dalam situasi seperti ini memerintahkan santri pergi ke masjid sangat tidak praktis, jadi mereka shalat di kamar masing-masing. Setengah jam kemudian, tiga orang MC maju kedepan membuka perhelatan, dalam suasana atraktif disertai lantunan ayat suci, Kiyai Hasan Abdullah Sahal membuka Panggung Gembira. Dan pesta pun dimulai. Sebuah paduan suara yang indah bergema, menyanyikan lagu-lagu mars pondok. Sesudah itu, pembacaan puisi disertai deklamasi mengalir bernas. Penghayatan yang bagus dan ekpresi yang pas. Inilah sebuah pesta santri. Pesta yang akhir-akhir ini terlihat slapstik dan dangkal, di sini adalah sebuah penghayatan, sebuah eksistensi, sebuah etos. Dalam keramaian kudapat merasakan semangat itu dan dalam keramaian pula aku kagum.

IMG_1962
IMG_1954
IMG_1978IMG_1987
IMG_1953IMG_1979
IMG_1994
IMG_1971
IMG_2003


IMG_2008
IMG_2015
IMG_1999

Dan kepergian ini akan selalu berupa cerita tentang diriku sendiri, tentang sebuah geneology pemikiran, sebuah kepribadian dan pandangan hidup yang penuh corak dan berliku. Dan Gontor bagiku akan selalu demikian, tertanam jauh di sana. Sesuatu yang tak akan pernah mampu aku rubah. Ia adalah sebuah struktur, sebuah organisme yang menolak segala bentuk intervensi. Dan karena itulah juga kenapa aku tidak pernah mau mengunjungi para kiyai. Ah, biarlah kita berjalan beriringan, dengan jalur yang semakin membeda. Selamat tinggal gontor, aku tak kan pernah menyesal pernah berguru padamu.

Oh Pondokku tempat naung kita
dari kecil sehingga dewasa
rasa batin damai dan sentosa
dilindungi Allah ta'ala

Oh pondokku engkau berjasa
pada ibuku Indonesia

Tiap pagi dan petang
kita beramai sembahyang
mengabdi pada Allah ta'ala
di dalam kalbu kita

Wahai pondok tempatku
laksana ibu kandungku
nan kasih serta sayang padaku

Oh pondokku.......
I....bu....ku.............

Perdjalanan Pandjang Seboeah Boekoe

IMG_2065


Awalnja hanya perkenalan biasa di Facebook. Dia mengomentari statoes saia dan saia pun menanjakan apa ia poenja saoedara di Soerakarta, karena wadjahnja mirip sekali dengan boskoe yang berasal dari sana. Setelah itoe, kami sama-sama terlibat pembitjaraan jang intens lewat JM. Saat koeoetarakan maksoed saia oentoek pergi ke Gontor bersama Sonnj, entah kenapa tiba-tiba terbesit ide untuk bertemoe langsoeng dengannja di Malang. Diapoen setoedjoe, dan sebagai oleh-oleh, saia tanjakan boekoe apa yang hendak ia pindjam dari saia. Achirnja disepakati boekoe Malaikat & Iblis karangan Dan Brown. Maka moelailah perdjalanan pandjang saia bersama boekoe terseboet.

Alkisah, Sonnj tidak djadi pergi karena kantongnja lagi tjekak gara-gara habis mengoendoeh laptop boelat-boelat. Please dah Son, gadji 10 juta masak habis boewat beli laptop seharga 5 djoetaan itu, Tjeleron lagi! Sisanja kemana?! Oleh karena itoelah akhirnja saia pergi sendirian sadja bersama Malaikat & Iblis ke Gontor. Sesampai di Kampoeng nan Damai itoe, betapa terkedjoetnja saia, mendapati kepadatan jang loear biasa. Otoboes diparkir di halaman sampai penoeh, roeang-roeang padat dengan tamoe jang berdjoebelan. Jah, di masa-masa seperti ini kiranja ia tidak dapat diseboet sebagai Kampoeng Damai. Dan saia poen bergerak mendjaoeh mentjari gambar bersama camera saia.

Hari poen gelap, dan atjara Panggoeng Gembira segera dimoelai. Laoetan manoesia meloeber hingga ke tangga-tangga masdjid. Karena tiada dapat masoek, djadi hanja dipinggiran sadja saia memotret. Ternjata, masih tetap soesah. Saia segera madju ke depan, tapi maloe dengan para oestadz jang memandangi saia sedemikian roepa. Hhh.., saia benar-benar terbawa atmosfer sebagai seorang santri katjoengan. Karena lelah, maka setelah episode drama berbahasa Arab, segera sadja mengambil kaki seriboe ke tempat jang tenang. Saat itoelah, kami bertelponan untuk jang ketiga kalinja. Soearanja merdoe, contras sekali dengan spiker pengeras jang membahana. Saia djadi menikmati setiap perbintjangan itoe dan hanjoet ke dalamnya. Tidak ada jang roemit. Ini semoea tentang seboeah pertemoean di era web 2.0. Ringan dan dangkal, tapi djuga penoeh dengan kehormatan dan ketenangan jang menarik. Atawa menoeroet bahatsa Sonnj, adalah seboeah perbintjaraan antara simple girl and complex boy. Dan saia memerankan complex boy saat itoe. Jah, saia menikmatinja benar-benar. Tidak selamanja jang dangkal itoe djelek kan.

Poekoel 2 dini hari, hawa dingin menyengat di masdjid. Dengan tergopoh-gopoh, saia pun kembali ke roeang tamoe jang padat sekali. Sebentar sadja tidoer di sana, sehabis solat subuh, dan mandi, antri joega toeh! Maka atas recomendasi kawan, saia pun pergi menudju Malang pada djam 7.00. Menoempang seboeah otoboes travel. Charioel Oemam, nama kawan saia itoe. Dia dan istrinja mengabdi ke pondok, sama-sama master dan baroe sadja menikah delapan boelan jang laloe. Kedoea Soeami istri ini adalah benar-benar prodoect original pondok.

Dahoeloe saia pernah ke Malang, tapi hanja sepintas laloe. Membenarkan alat tjetak telpon jang roesak. Saat itoe, saia masih mengabdi di Kediri, dan perdjalanan saia ke Malang melewati daerah perboekitan Batoe jang sedjoek itoe. Kali ini, joeroesan jang ditoedjoe melewati dataran kering Toeloeng Agoeng, Trenggalek dan Blitar, kemoedian memasoeki Malang dari arah selatan. Roegi djoega sjih, tidak dapat melihat pemandangan jang indah. Tapi itu sebeloem saia tahoe bahwa si sopir koerang strategis dalam mengambil kepoetoesan.

Saia pergi bersama rombongan para goeroe jang hendak penataran di daerah Batoe. Loetjoenja, mereka malah beloem tahoe, tempat menginap. Djadilah, di siang hari nan sedjoek itu, pak sopir diboewat pontang-panting mentjari hotel. Jang memboeat hati saia goesar, adalah, si sopir ini boekannja mengantar dahoeloe mereka jang tinggal di Malang, tatapi malah pergi ke Batoe, padahal Kami soedah masoek Malang. Saia diboewat kesel djadinja. Boekan sadja waktoe jang ditempoeh lebih lama, tapi djoega soedah capai rasanja menoenggoe toek bersoea. Saat di Batoe, perasaan saia moelai tenang. Hawa dingin nan sedjoek membelai wadjah dan hati saia, pelan-pelan kusjukuri kebodohan si sopir. Wah, ini kan toer gratijst namanja. Hhhh... Maka kami poen dibawanja poetar-poetar ke arah selecta dan pemandian air hangat. Hemm.. asjik djuga Batoe.

Inilah pertemoewan kami djang pertama. ketika sebuah lot kosong tak berpenghoeni jang semestinja meroepakan tempat di mana kami bakal bertemoe, memboewat saia tiba-tiba dilanda rasa panik. Djangan-djangan, nona ini hanja njonja-njonja tjentil jang utsil sadja. Boekankah anonimousity meroepakan hal jang wadjar saat ini, dan seboeah copy darat adalah seboeh perdjoempaan jang penoeh resiko. Saia djadi heran sendiri, apa gerangan jang memboewat hati saia tergerak pergi djaoeh-djaoeh ke tempat jang tidak saia mengerti sama sekali. Seakan-akan ada perasaan aneh jang menarik saia ke sana, bertemoe seseorang jang sama sekali belom pernah saia liat, belom saia kenal, paling tidak doewa minggoe jang laloe. Dan sekarang saia ada di sini, penoeh keterasingan.

Dengan refleks saia pentjet nomor telponnja. "Halo.. kamoe ada di mana?" Kata saia, "di sini mas," kata nona itoe diseberang, dan saia liat perempoean berkoedoeng moentjoel dari balik pagar. Achirnja, dia njata. setidaknja akoe bisa melihat wadjahnja jang manis itoe, tersenjoem kepadakoe. Sebelumnja, saia membajangkan postoer nona ini tinggi dan ramping, makloem sadja soeka berenang dan basket. Tapi saat kami bertatapan moeka, ia hanja sedjengkal dibawahkoe. Sjukurlah, saia kok merasa tidak pas dengan perempoean jang lebih tinggi dari saia. Apa karena ego laki-laki? Entahlah, tapi dalam hati saia moelai menjoekainja.

Toejoewan pertama jang kami toedjo adalah Bakso Cak Man, makloem kami sama-sama kelaparan. Dengan berbontjengan motor koemoelai mengelilingi kota Malang. Banjak sekali jang kami bitjarakan, jang kalo saia tjatat moengkin baroe selesai besok hari, tapi koe enjoy. Seoesai dari sana, saia diperkenalkan dengan beberapa shahabat karibnja jang ada di pemeran kompoeter. Roepa-roepanja ia meroepakan satoe-satoenja perempoewan selama koeliyah di Technik electro, djadi kehadirannja benar-benar mereka toenggoe. Wah, hebat djuga djadi idola. Hhhh.. Seoesai solat Asar, kami pergi nonton. Tapi terlebih dahoeloe berkoendjoeng ke Gramedia, liat-liat boekoe di sana. Baroe saia tahoe, ternjata dia soeka sekali tjicklit. Hihihi.. itoe kan buku jang tidak pernah saia batja. Girly, katakoe, dan ia tertawa, maka kami poen tertawa. Laloe pergi ke rak jang tidak pernah saia kundjungi, tentang koedoeng, hal-hal perempoewan, ampoeen.. tapi saia soeka kok. Djoega boekoe sahabat penanja jang saat itoe beloem ada di Malang. Jah, sore hari jang tjeria, dan kulirik wadjahnja jang penuh ketjeriaan itoe.

Teroes terang sadja, kalo tiada orang jang adjak saia, apalagi perempoewan manis matjam kamoe, tentoenja pilem Si Djago Merah djadi prioritas terachir oentoek saia liat. Dari scenario jang asal-asalan, aloer tjerita dan penokohan jang tidak koewat, hingga cinematografy jang pas-pasan, pantas bila saia beri nilai itoe pilem 4 dari 10. Oeoeh.. oentoeng djuga nontonnja berdoewa. Dan koemoelai menikmati setiap kedangkalan jang ada. Pilem djelek, tak apalah. Katanja akoe terlaloe serioes. Oh, ja! Saia djadi teringat oedjaran kawan perempoean saia di Makassar jang berbitjara hal seroepa. Bila doewa perempoewan berbitjara hal jang sama, dan tidak saling kenal, besar kemoengkinan hal itoe benar. Djadi, apa moengkin saia terlaloe serioes?! Ah, seandainja sadja keserioesan tadi bisa mengangkat gadjikoe. Tapi darimoe koebenar-benar bisa mengenal arti jang berbeda tentang hidoep ini.

Oesai pergi menonton, kami mentjari penginapan oentoek saia. Dapat satoe, dan ia pergi kembali ke tempat kostnja. Di kamar, saia lelah sekali dan langsoeng djatoeh tertidoer.

***

Keesokan hari, koetelpon dia oentoek sarapan di hotel. Djam 8-an kami berangkat ke kampoesnja goena mengoeroes ijazah dan wisoeda. Dan setelah ke tempat servis Samsoeng kami poen pergi menoedjoe Batoe. Meski mendoeng, tapi tidak ada hudjan. Hawa goenoeng begitoe sedjuknja, memberi kesegaran jang nikmat. Entah djaloer mana jang ia pilih, tapi kami segera meneloesoeri lereng berbukit, dan djalan jang berkelok-kelok. Dari atas, tampak Batoe berikoet villa-villa berserakan di bawah sana, indah sekali dilihat. Motor kami teroes manandjak, hingga di seboeah pinggiran lereng, kami beristirahat memandang bentangan alam jang begitoe loeas di bawah. Mentari sinarnja menerobos masoek ke tjelah-tjelah awan jang hitam, sambil menikmati djagoeng, pisang dan roti bakar, kami berbitjara tentang segala hal. Soenggoeh seboeh pertemoewan dengan pribadi jang menarik.

Hari kemoedian hoedjan, djalanan litjin. Berlomba basah kami menoeroeni lagi lereng-lereng itoe. Beberapa kali terpaksa menedoeh karena air benar-benar tiada bersahabat. Malang, Batoe, hudjan, basah. Semoea seakan teredoeksi oleh waktoe. Saat technology mempertemoekan doewa orang jang tidak saling mengenal, apakah ini masa depan? Dari kata-kata di katja, hingga perdjoempaan njata. Akoe njata, kamu njata, dan boenga-boenga jang koekirimkan tak lain dari digit-digit di dunia maja. Kita benar-benar prodoeksi djaman. Dan dioejoeng siang itoe saat hudjan terus mengedjar kepoelangan kami, koeharap itoe tiada. Moengkin di belakang sana ada blangwir jang menjemprotkan airnja kepada kita terus menerus, katakoe penoeh tjanda, dan kamoe tertawa, akoepoen djoega.

Jah begitoelah, saat boekoe boekan lagi seboeh boekoe tapi lebih dari itoe, dan di depan station Koe tatap dia, boekankah kamoe maoe naik kereta api, moengkin kita bisa pergi bersama di awal tahoen depan? Dan kaoe bilang kita berdoea, pasti tidak akan ada bosan. Ja, kita berdoea pasti tidak akan ada bosan. Hanja seboeah djabatan tangan, tak lebih dari itoe. Laloe koepergi bersama Kereta jang sore itoe pergi meninggalkan Malang.

P.S.
Tahun depan. I always miss you!



 

Macondo, Melquiades dan Buendia

Seratus Tahun Kesunyian by Gabriel García Márquez

One Hundred Years of Solitude

My review


rating: 4 of 5 stars
Pertama kali membaca novel ini, hampir-hampir saya tidak bisa dibuat tidur olehnya. Cara Marquez menulis dengan menghapus garis batas antara yang nyata dengan yang fiksi, menghadirkan mitos dalam keseharian, laksana membawa saya ke masa kanak-kanak dengan berjuta larangan yang kadang begitu menakutkan dan nyata. Dengan hantu-hantu yang bersedih hati, permadani terbang, kutukan dan totem, gadis cantik yang diangkat kelangit bersama bunga-bunga, wabah insomnia yang merajalela hingga semua orang harus menempelkan label kepada setiap benda agar tetap ingat nama benda tersebut, nenek tua yang hidup lama hingga badannya mengecil sebesar fetus, sampai kelahiran bayi berbuntut babi hasil hubungan Ursula Remedios dan keponakannya. Semua berjalan lancar dengan bahasa yang jelas dan sangat mudah dimengerti. Tapi justru inilah yang memberi kekuatan tersendiri dalam Seratus Tahun Kesunyian, ibarat sebuah rasionalisasi akan mitos, kita dibawa ke sebuah dunia yang benar-benar asing, Macondo, tempat semua keanehan tadi berlangsung.

Jose Arcadio Buendia dan istrinya Ursula Iguaran adalah awal mula trah Buendia. Mereka dihormati sebagai pendiri desa kecil nun terpencil Macondo dan otomatis keturunan mereka mendapat kehormatan serupa. Jose Arcadio Buendia memiliki kegilaan yang sangat terhadap kemajuan dan peradaban, hingga terobsesi dengan teknik-teknik alchemist dan rela menukar apa saja demi pengetahuan yang didapat dari Melquiades, seorang gipsi yang arwahnya melarut kedalam cairan kimia dan menulis sebuah ramalan mengenai trah Buendia dan nasib-nasib mereka. Sementara, kedua anak lelakinya, Jose Arcadio dan Aureliano Buendia, berakhir dengan tragis. Jose Arcadio yang mendapatkan pengalaman seksual pertamanya dengan seorang peramal Pilar Ternera, yang melahirkan Arcadio dan anak hasil hubungannya dengan Aureliano Buendia: Aureliano Jose, harus menanggung kematian ditangan istrinya sendiri Rebecca, yang lalu gila dan kembali memakan tanah. Adapun Aureliano Buendia yang kelak menjadi seorang kolonel dan pemimpin oposisi dihukum mati dihadapan regu tembak. Sedang ketujuh belas putra Aureliano hasil hubungannya dengan perempuan yang ia temui semasa 32 kali perang dan tidak satupun yang ia menangi, satu persatu mati terbunuh oleh pasukan pemerintah. Dengan demikian, hanya keturunan Arcadio saja yang bertahan mengisi perjalanan hidup trah Buendia.

Selain kedua kakak beradik tadi, adapula Amaranta si bungsu, yang bersaing mendapatkan seorang Pietro Crespi, pembuat piano, dengan Rebecca, anak pungutan di keluarga Buendia, yang menikahi kakaknya. Kenyataan bahwa kedua wanita ini memiliki pesona kecantikan yang agung, tidak menghalangi kegilaan mengakut pada trah Buendia. Bahkan tatkala hati Amaranta telah berpaling dan membuat Pietro Crespi bunuh diri karena cintanya ditampik, ia menghabiskan hidupnya dengan melajang dan mengasuh Remedios si Cantik yang terus berlari-lari telanjang di dalam rumah hingga besar. Di tengah itu semua Ursula menjadi penghubung utama antara yang lalu dengan yang akan datang. Ia menjadi ibu dari semuanya, bahkan tatkala matanya membuta ia masih hafal setiap lekuk rumah dan kelakuan para penghuninya, dan sejarah berulang kembali katanya, saat melihat kebodohan yang dilakukan oleh cucu buyutnya sama seperti yang dulu dilakukan oleh anak-anaknya sendiri.

Dan memang, nama-nama dalam Seratus Tahun Kesunyian selalu berulang, Seperti Aureliano Segundo yang merupakan anak dari Arcadio dan Jose Arcadio yang merupakan anak dari Aureliano Segundo. Dalam halaman-halaman yang kadang membekukan waktu dan berakselerasi begitu cepatnya, saya seperti terjebak dalam labirin nama yang membingungkan. Semua terus berulang hingga enam generasi silih berganti. Lalu semuanya menghilang, menyisakan rumah kediaman trah Buendia yang menjadi saksi terakhir, yang reyot oleh pasukan semut merah dan memakan keturunan terakhir penghuninya, sibayi berbuntut babi, Aureliano. Tepat pada saat ayahnya, yang juga bernama Aureliano, selesai membaca ramalan terakhir Melquiades dan ia pun terbang tersapu angin bersama Macondo, hilang tertelan bumi. Tulis Marquez, “dan bahwa semua yang tertulis di sana adalah sesuatu yang tidak bisa terulang, sejak dahulu kala dan untuk selama-lamanya, karena ras-ras manusia yang dikutuk selama seratus tahun kesunyian tak punya kesempatan kedua di muka bumi ini.

Tokoh-tokoh dalam Macondo adalah orang-orang yang penuh bakat dan keistimewaan. Jose Arcadio Buendia dan Jose Arcadio adalah orang-orang yang memiliki kekuatan besar yang sanggup merobohkan kuda dengan hanya menarik kupingnya. Adapun Aureliano Buendia memiliki kemampuan telekinetik dan mampu melihat masa depan sedangkan Aureliano kedua adalah seorang jenius yang mengetahui segalanya. para wanita dalam trah itu, selalu memiliki tingkat kecantikan yang membunuh. Tak ada seorangpun pria yang tak tergoda melihat keluguan Remedios, bahkan burung-burung pun mati saat melihat wajahnya, kemenawanan Amaranta, atau si ibu besar Ursula Inguara yang memiliki kharisma yang hebat. Mereka berjuang dengan gagah berani melawan takdir mereka dengan kepercayaan diri yang tinggi, meskipun hasil dari itu semua adalah keabsurdan serta ketragisan.

Dapat dibilang Seratus Tahun Kesunyian adalah sebuah pengalaman pribadi sang pengarang yang tinggal di Kolumbia, Amerika Selatan. Selama lebih dari lima ratus tahun, daerah itu selalu terkoyak oleh perang-perang tanpa akhir. Ia menjadi begitu terkucil dari pergaulan dunia, saat para diktator silih berganti mengisi tampuk kekuasaan dan tak ada yang lebih baik satu dari yang lain. Semua seperti berulang kembali, sama kata Ursula. Dan kegaiban yang menjelma, mengingatkan saya akan desa-desa di Jawa yang penuh dengan mitologi, perjalanan trah Buendia pada akhirnya sama seperti cerita dewa-dewa Yunani dan India. Yah, inilah sebuah fiksi masa kini tentang sejarah manusia, kemanusiaan dan perjalanan nasib yang kadang-kadang menyimpang, penuh gairah dan kegilaan, serta tak pernah terduga. Dalam sudut yang berbeda, Marquez menawarkan sebuah lensa untuk melihat itu semua, dan kita akan keluar dari novel ini seperti bangun dari mimpi panjang.


View all my reviews.

Mimpi

IMG_1661

What should man to do on his dream? It's just clouds in mind or darkened heart waiting for initialization?

Kata mimpi sekarang telah sinonim dengan cita-cita. Hirata dalam Tetraloginya menjelaskan semua itu dengan penuh semangat. Mimpi adalah sesuatu yang ingin kita raih, sebuah realm yang berada di dalam hipotalamus kita; sebuah framing, blueprint atau bahkan sebuah rumusan matematika yang berbicara pada kita kapan  harus melakukan sesuatu, kapan kita harus  meninggalkannya; sebuah konsep yang menunggu hendak disentuh, sebuah gambaran abstrak yang merindu akan sentuhan kanvas; sebuah idea. Bermimpilah dan Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu, katanya dramatik. Dan demikianlah, dua konsep abstrak ini bertemu. Mimpi dan Tuhan. Tuhan, kalau kau percaya, adalah konsep abstrak kedua yang mengikuti mimpi. Bermimpilah, kita manusia bermimpi dan Tuhan, kita ciptakan konsep kedua, sebuah super konsep yang mampu mewujudkan konsep pertama, akan memeluk mimpi-mimpimu. Tuhan bersamamu, Tuhan Ada karena mu, Tuhan mewujud mimpi-mimpi. Lalu siapa yang menciptakan Tuhan?

Absurd! Kalau kau manusia beriman, tentu akan menjauhi penggalan-penggalan ini dan berlindung kepadaNya dari godaan liberalisme terkutuk, jenis doa baru yang semakin populer akhir-akhir ini. Toh, Kenyataannya demikian. Tuhan, izinkanku mengalahkan Takezo dan membangun kembali citra keluarga kami yang terpuruk, kata Osugi penuh harap. Tuhan, engkau Ada karena kamu harus mengada. Bagaimana Engkau Ada kalau Engkau tiada. Tuhan, mimpi-mimpiku, harapanku, bila mereka lenyap, maka lenyaplah NamaMu. Tuhan, tolong kalahkan Musashi. Teganya mereka, kata Saidiman, teganya mensubordinasi Tuhan. Bagiamana mungkin mensubordinasi Zat yang berada di luar kategori logika! Yang berada di luar batas-batas dunia, kata Wittgenstein, seperti menabur garam di lautan. Kata Kautsar Azhari Noer, itu hanya Tuhan yang diadakan bukan Tuhan yang sebenarnya. Kata Zen, sia-sia saja. Karena ia tak terucap, tak terjangkau, tak terpikirkan. Ia jauh! Melebihi batas-batas kemampuan kita para mortal. Makanya, ketika cintanya pergi menghilang Nietszche dengan tertatih-tatih membawa godam besar, pergi ke hadapan tuhan. Tuhan, katanya, engkau telah mati. Braaak.. dan demikianlah, kita manusia kehilangan konsep kedua.

Dengan kematian tuhan, kita manusia menempuh jalan baru. Sebuah dunia di mana mimpi adalah mimpi yang terus bergerak bersama waktu. Tiada lagi yang akan memeluk mimpi kita, tiada lagi dewa perang yang mampu membunuh Takezo. Tiada lagi harapan. Dan masyarakat borjuis akan segera mewabah seperti Black Death yang membunuh hingga sepertiga populasi Eropa. Kita butuh pedang baru, kita butuh senjata baru, kita butuh revolusi! Sayangnya, Marx tidak pernah berguru kepada Napoleon dan ia pun mati di atas meja kerjanya. Mimpinya hanya kumpulan tulisan saja. Di era web 2.0, mungkin yang ditinggalkan Marx hanya blog dan para komentator setia yang riuh rendah merayakan kembalinya sang Mesiah. Lalu mereka menciptakan milist, isinya kesan-kesan anda saat tuhan tiada lagi, kemudian berubah, apa yang kita lakukan setelah Marx? Maka bermunculanlah para eksistensialis dengan Sartre sebagai Juru-nya. Hidup adalah ekspresi, mana ekspresimu! Lupakanlah bangunan-bangunan konyol komunisme, kita hidup untuk berekspresi. Eksistensi mendahului esensi, ekspresi adalah eksistensi, ekspresi lebih penting dari segalanya. Tak peduli apakah masyarakat tanpa kelas akan terwujud, yang penting ekspresi masyarakat tersebut yang harus ada. Dan perayaan pun dimulai, saat tubuh menguap besar-besaran, dan gelombang hippies mewabah. Manusia mulai kehilangan auranya, ia dieksploitasi luar dalam. Ketelanjangan bukan lagi sesuatu yang diminati, logika menggelinding lebih jauh. Kita menuju ekstrim baru, dengan Foucault dinobatkan sebagai juru bicaranya. Aku bukan strukturalis!, teriaknya dalam-dalam. Maka mulailah gelombang post-modernisme. Anti struktur, anti moral, anti logika, anti hukum. Lalu ia mati oleh AIDS, yang merupakan keharusan logis dari homoseksualitas Foucault. Sang raja terbunuh oleh struktur! Filsafat terburai. Era filsuf agung telah usai, diganti oleh generasi-generasi aneh yang mati karena libido.

Libidonomic, kata Piliang. Ekonomi yang digerakkan oleh libido. Lihat saja ke mall, parade sudah dimulai. Dari gang-gang sempit hingga Yahya Zaini, dari fast food hingga obat penurun LDL dan Tg. Batas antara ide dan realitas semakin menipis. Mimpi mulai mengkristal, dan Tuhan telah kembali. Ia hadir dalam pengajian, dalam rukyah, dalam Amrozi. Maka mulailah jilbab mewabah, karena terlalu besar kekuatan kembali ke Tuhan ini, bahkan pelacur pun mulai memakai jilbab. Yah, batas antara Tuhan dan Libido semakin bias. Tuhan adalah libido dan libido adalah tuhan. Senyum Osugi semakin berkembang, dan Bush membantai rakyat Irak. Katanya, itu poros setan, anti-Christ. Ternyata, baik theis maupun atheis, sama-sama  terbunuh oleh libido. Bahkan seorang lesbian semacam Irsyad Manjipun mengaku seorang muslim, dan syekh Puji menikah dengan Lutfiana Ulfa. Aku jadi bertanya-tanya, inikah mimpi?
Apa mungkin kegilaan kita pada surga tak lebih dari sekedar barter untuk menahan libido di kemudian hari? Bahkan mimpi-mimpi manusia mengenai surga selalu tampil dalam bentuk yang paling erotik. Bejana-bejana kristal, anggur, wanita-wanita, baju-baju bagus. Itukah gambaran surga? Kata Hirata, bermimpilah dan Tuhan akan memeluk mimpimu. Percayalah akan mimpi, percayalah akan surga, percayalah akan erotika dan libido, dan Tuhan akan mewujudkannya padamu. Oh, Rabiah, kasiaan deh lu.

Sayangnya, Rabiah benar dalam satu hal, ia percaya dengan cinta. Kedengarannya klise. Tapi memang, konsep kita tentang cinta sudah sedemikian parah dan rusak. Orang-orang merayakan Valentine sebagai sebuah perayaan cinta, padahal itu tak lain dari sekedar perayaan erotika dan libido. Merchandise berlomba-lomba mendesain arti cinta, anak-anak SMU berparade dengan cinta, layar kaca sesak oleh cinta, tapi kemanakah ia? Ia hilang, dan hanya Rabiah seorang yang berhasil menyulingnya menjadi sebuah ekstrak yang ia percaya hingga mati. Ia mati dalam keadaan perawan, karena cintanya yang begitu besar terhadap Tuhan. Bila libido dan erotika berada di kaki langit bagian Barat, maka cinta itu berada di Timur. Ia seperti cahaya fajar yang menyinari bumi dari kegelapan. Memberikan kehangatan dan ketakjuban. Cinta itu memberi, sama seperti mimpi, prokreasi bukan rekreasi dan repetisi-repetisi tanpa henti dari siklus mode di dunia hiperrealitas. Ia adalah originalitas, sebuah penemuan, sebuah pengungkapan, sebuah kesadaran dan kejujuran. Sebuah etos.

"O Allah! If I worship You for fear of Hell, burn me in Hell,
and if I worship You in hope of Paradise, exclude me from Paradise.
But if I worship You for Your Own sake,
grudge me not Your everlasting Beauty.”
Rabiah al-Adawiyah

Morning Session

IMG_1710 IMG_1730 IMG_1732 IMG_1716 IMG_1746

Sabtu pagi yang cerah. Habis berkalang lumpur dan debu di alur pembuatan banjir Kanal Timur Jakarta, rasanya tertarik juga bergabung melihat kegiatan mingguan anak-anak di Pabrik. Yup, saia pun memutuskan bertandang ke sana.

Tumben-tumben juga datang main futsal, karena pada jam 8-an pagi kalau tidak di atas tempat tidur, ya berjalan-jalan di dunia maya. Sibuk bales komen-komen usil di milist, atau kasih pertanyaan susah di blog tetangga. Hehehe.. Tapi pagi ini agak beda. Beda ya. Beda banget! Jadi semangat aja. Gak tahu juga kenapa. Yah, banyak yang tidak bisa di katakan daripada dirasakan. Dan jadilah pergi menuju Pasar Rebo. Uh, nih kan Sabtu, kenapa masih Rebo!

IMG_1773 IMG_1766 IMG_1764IMG_1747

Seperti biasa, semua terlambat! Bolanya absen. Yang bawa sedikit pusing. Eh, sakit tenggorokan. Cuma anak-anak Timur dan bosnya yang rajin. Hohoho, salah pilih hari deh. Dan semuanya berjalan lambat. Lambat, lambat dan bosenin! Sampe Samson beli bola baru dan, mulailah semuanya.

Tapi tunggu dulu, kok cuma, satu, dua, tiga,... wah kurang satu nih. terpaksa deh saya masuk. Menggelikan! Semua berkostum dan bercelana olah raga. Dan Saia, geek, man in blue! Jeans biru, kaos Niaspan biru, motor juga biru. Ya iyalah.. orang niat pergi hunting foto saja dan jalan-jalan di JCC lihat pameran buku. Eh, malah jagain gawang bos-bos. Bosen deh. Mana becek lagi! Yang tadi itu, meskipun berkalang debu dan lumpur, tapi tidak seperti sekarang. swampthing!

IMG_1751 IMG_1752 IMG_1753

Tapi oke juga deh. Semuanya asyik. berbecek-becek ria. kotor amit-amit, pake pakean macam ini ke tempat macam senayan, bisa dicekal sama satpam nanti.

3-3, 5-5, kayaknya mulai menang deh. Yah.. makan-makan jadinya. Ditraktir tuh sama bos yang fotonya paling bawah. He...

IMG_1770 IMG_1755 IMG_1771

Dasar juga! Ternyata fotoku tiada. Ya, saia kan fotografernya. Tapi nyesel juga gak ada yang ambil foto saia.

Heran juga, kok gaya bahasa saia jadi berubah nih. Lebih girly, jumpalitan, aneh! Wah, nanti tak bahas di blog shigor dah. Apa karena Freud, atawa faktor emansipasi aneh yang belakangan muncul, or sindrom-sindrom alam bawah sadar ya. Tidak seperti Himawan biasanya yang serius and njlimet. Saia sendiri juga bingung. Posting yang aneh nih. Ya sudah, nikmati aja!