Mimpi

IMG_1661

What should man to do on his dream? It's just clouds in mind or darkened heart waiting for initialization?

Kata mimpi sekarang telah sinonim dengan cita-cita. Hirata dalam Tetraloginya menjelaskan semua itu dengan penuh semangat. Mimpi adalah sesuatu yang ingin kita raih, sebuah realm yang berada di dalam hipotalamus kita; sebuah framing, blueprint atau bahkan sebuah rumusan matematika yang berbicara pada kita kapan  harus melakukan sesuatu, kapan kita harus  meninggalkannya; sebuah konsep yang menunggu hendak disentuh, sebuah gambaran abstrak yang merindu akan sentuhan kanvas; sebuah idea. Bermimpilah dan Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu, katanya dramatik. Dan demikianlah, dua konsep abstrak ini bertemu. Mimpi dan Tuhan. Tuhan, kalau kau percaya, adalah konsep abstrak kedua yang mengikuti mimpi. Bermimpilah, kita manusia bermimpi dan Tuhan, kita ciptakan konsep kedua, sebuah super konsep yang mampu mewujudkan konsep pertama, akan memeluk mimpi-mimpimu. Tuhan bersamamu, Tuhan Ada karena mu, Tuhan mewujud mimpi-mimpi. Lalu siapa yang menciptakan Tuhan?

Absurd! Kalau kau manusia beriman, tentu akan menjauhi penggalan-penggalan ini dan berlindung kepadaNya dari godaan liberalisme terkutuk, jenis doa baru yang semakin populer akhir-akhir ini. Toh, Kenyataannya demikian. Tuhan, izinkanku mengalahkan Takezo dan membangun kembali citra keluarga kami yang terpuruk, kata Osugi penuh harap. Tuhan, engkau Ada karena kamu harus mengada. Bagaimana Engkau Ada kalau Engkau tiada. Tuhan, mimpi-mimpiku, harapanku, bila mereka lenyap, maka lenyaplah NamaMu. Tuhan, tolong kalahkan Musashi. Teganya mereka, kata Saidiman, teganya mensubordinasi Tuhan. Bagiamana mungkin mensubordinasi Zat yang berada di luar kategori logika! Yang berada di luar batas-batas dunia, kata Wittgenstein, seperti menabur garam di lautan. Kata Kautsar Azhari Noer, itu hanya Tuhan yang diadakan bukan Tuhan yang sebenarnya. Kata Zen, sia-sia saja. Karena ia tak terucap, tak terjangkau, tak terpikirkan. Ia jauh! Melebihi batas-batas kemampuan kita para mortal. Makanya, ketika cintanya pergi menghilang Nietszche dengan tertatih-tatih membawa godam besar, pergi ke hadapan tuhan. Tuhan, katanya, engkau telah mati. Braaak.. dan demikianlah, kita manusia kehilangan konsep kedua.

Dengan kematian tuhan, kita manusia menempuh jalan baru. Sebuah dunia di mana mimpi adalah mimpi yang terus bergerak bersama waktu. Tiada lagi yang akan memeluk mimpi kita, tiada lagi dewa perang yang mampu membunuh Takezo. Tiada lagi harapan. Dan masyarakat borjuis akan segera mewabah seperti Black Death yang membunuh hingga sepertiga populasi Eropa. Kita butuh pedang baru, kita butuh senjata baru, kita butuh revolusi! Sayangnya, Marx tidak pernah berguru kepada Napoleon dan ia pun mati di atas meja kerjanya. Mimpinya hanya kumpulan tulisan saja. Di era web 2.0, mungkin yang ditinggalkan Marx hanya blog dan para komentator setia yang riuh rendah merayakan kembalinya sang Mesiah. Lalu mereka menciptakan milist, isinya kesan-kesan anda saat tuhan tiada lagi, kemudian berubah, apa yang kita lakukan setelah Marx? Maka bermunculanlah para eksistensialis dengan Sartre sebagai Juru-nya. Hidup adalah ekspresi, mana ekspresimu! Lupakanlah bangunan-bangunan konyol komunisme, kita hidup untuk berekspresi. Eksistensi mendahului esensi, ekspresi adalah eksistensi, ekspresi lebih penting dari segalanya. Tak peduli apakah masyarakat tanpa kelas akan terwujud, yang penting ekspresi masyarakat tersebut yang harus ada. Dan perayaan pun dimulai, saat tubuh menguap besar-besaran, dan gelombang hippies mewabah. Manusia mulai kehilangan auranya, ia dieksploitasi luar dalam. Ketelanjangan bukan lagi sesuatu yang diminati, logika menggelinding lebih jauh. Kita menuju ekstrim baru, dengan Foucault dinobatkan sebagai juru bicaranya. Aku bukan strukturalis!, teriaknya dalam-dalam. Maka mulailah gelombang post-modernisme. Anti struktur, anti moral, anti logika, anti hukum. Lalu ia mati oleh AIDS, yang merupakan keharusan logis dari homoseksualitas Foucault. Sang raja terbunuh oleh struktur! Filsafat terburai. Era filsuf agung telah usai, diganti oleh generasi-generasi aneh yang mati karena libido.

Libidonomic, kata Piliang. Ekonomi yang digerakkan oleh libido. Lihat saja ke mall, parade sudah dimulai. Dari gang-gang sempit hingga Yahya Zaini, dari fast food hingga obat penurun LDL dan Tg. Batas antara ide dan realitas semakin menipis. Mimpi mulai mengkristal, dan Tuhan telah kembali. Ia hadir dalam pengajian, dalam rukyah, dalam Amrozi. Maka mulailah jilbab mewabah, karena terlalu besar kekuatan kembali ke Tuhan ini, bahkan pelacur pun mulai memakai jilbab. Yah, batas antara Tuhan dan Libido semakin bias. Tuhan adalah libido dan libido adalah tuhan. Senyum Osugi semakin berkembang, dan Bush membantai rakyat Irak. Katanya, itu poros setan, anti-Christ. Ternyata, baik theis maupun atheis, sama-sama  terbunuh oleh libido. Bahkan seorang lesbian semacam Irsyad Manjipun mengaku seorang muslim, dan syekh Puji menikah dengan Lutfiana Ulfa. Aku jadi bertanya-tanya, inikah mimpi?
Apa mungkin kegilaan kita pada surga tak lebih dari sekedar barter untuk menahan libido di kemudian hari? Bahkan mimpi-mimpi manusia mengenai surga selalu tampil dalam bentuk yang paling erotik. Bejana-bejana kristal, anggur, wanita-wanita, baju-baju bagus. Itukah gambaran surga? Kata Hirata, bermimpilah dan Tuhan akan memeluk mimpimu. Percayalah akan mimpi, percayalah akan surga, percayalah akan erotika dan libido, dan Tuhan akan mewujudkannya padamu. Oh, Rabiah, kasiaan deh lu.

Sayangnya, Rabiah benar dalam satu hal, ia percaya dengan cinta. Kedengarannya klise. Tapi memang, konsep kita tentang cinta sudah sedemikian parah dan rusak. Orang-orang merayakan Valentine sebagai sebuah perayaan cinta, padahal itu tak lain dari sekedar perayaan erotika dan libido. Merchandise berlomba-lomba mendesain arti cinta, anak-anak SMU berparade dengan cinta, layar kaca sesak oleh cinta, tapi kemanakah ia? Ia hilang, dan hanya Rabiah seorang yang berhasil menyulingnya menjadi sebuah ekstrak yang ia percaya hingga mati. Ia mati dalam keadaan perawan, karena cintanya yang begitu besar terhadap Tuhan. Bila libido dan erotika berada di kaki langit bagian Barat, maka cinta itu berada di Timur. Ia seperti cahaya fajar yang menyinari bumi dari kegelapan. Memberikan kehangatan dan ketakjuban. Cinta itu memberi, sama seperti mimpi, prokreasi bukan rekreasi dan repetisi-repetisi tanpa henti dari siklus mode di dunia hiperrealitas. Ia adalah originalitas, sebuah penemuan, sebuah pengungkapan, sebuah kesadaran dan kejujuran. Sebuah etos.

"O Allah! If I worship You for fear of Hell, burn me in Hell,
and if I worship You in hope of Paradise, exclude me from Paradise.
But if I worship You for Your Own sake,
grudge me not Your everlasting Beauty.”
Rabiah al-Adawiyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar