Migrasi ke Maverick Meerkat

Interface XBMC Media Center yang memukau


Akhirnya saya kembali menggunakan Linux, setelah beberapa bulan sebelumnya menggunakan 7 dan XP secara berurutan. Seperti biasa proses instalasi sistem operasai bebas ini berjalan lancar, yang membuat lama hanyalah rutinitas backup data dari partisi windows ke partisi kosong yang terdapat di harddisk yang sama, Hitachi 250 GB. Guna mentransfer semua file yang berada di akun XP yang mencapai jumlah hampir 60-an GB, XP memerlukan waktu semalaman. Itu pun sempat tertunda, karena ada beberapa file terenkripsi yang gagal dipindahkan. Baru di pagi harinya, setelah tertidur kurang dari 4 jam, saya memulai instalasi Ubuntu 10.10 melalui CD instalasi yg telah saya download jauh hari sebelumnya.

Tidak ada masalah dalam instalasi yg lumayan cepat itu, kecuali pada saat memutuskan apa yg akan di-mount pada partisi baru yg telah dibuat. Saya sempat ragu apakah akan me-mount /home ataukah / saja, sebelum akhirnya memutuskan me-mount / dan menyisakan ruang 2GB untuk swap. Setelah selesai, giliran mencoba sejumlah fungsi dasar, ternyata Maverick masih belum bisa memainkan koleksi MP3 milik saya. Maka saya pun langsung melakukan update sekaligus memasang repository restricted secara online. Satu hal yang patut diacungkan jempol adalah, proses pemasangan modem yang sangat mudah, semudah saya menggunakan fungsi scan di printer Photosmart saya: semuanya tinggal colok ke USB laptop, dan biarkan Ubuntu menangani sisanya secara otomatis, plug and play!

Kemudahan berinteraksi dengan hardware inilah yang membuat saya berani untuk menggunakan Linux kembali. Pengalaman yang saya dapatkan dari kompatibilitas hardware, bahkan sangat jauh berbeda dari pengalaman saat memakai 7 dan XP yang selalu bermasalah dengan driver bawaan, sehingga harus mencari driver pengganti di web. Untuk poin ini, saya memberikan salut kepada para pengembang Ubuntu yang telah membuat sebuah OS yang sangat bersahabat dan dapat berfungsi baik dengan hardware-hardware yang saya miliki.

Sleek and simple, I love it!
Chromium, saudara kandung dari Chrome, memberikan pengalaman berselancar yang lebih mengasyikkan daripada browser bawaan, Firefox.

Tentu saja ada sejumlah kekurangan minor dari Ubuntu 10.10 yang saya gunakan, tapi itu lebih terkait dengan familiaritas kita dengan UI (user interface) yang digunakan. Semisal kebingungan saya dengan keberadaan icon bahasa yang tidak saya jumpai di panel atas. Bagi saya yang sering menulis dalam bahasa Arab, keberadaan icon tersebut tentu sangat penting, karena memudahkan saya untuk berganti mode pengetikan dari US ke Arabic, selain tentunya berguna untuk melihat layout keyboard virtual beraksara Arab, yang sampai saat ini tidak saya hafal.

Selain minutia yang kerap membuat stress ini, menggunakan Maverick ternyata sangat menyenangkan. Syaratnya sederhana, anda harus terhubung terus dengan internet. Sejumlah aplikasi, macam Empathy yang menjadi client messenging bahkan membuat saya merasa tengah mencoba sebuah gadget modern tanpa harus kehilangan kinerja, karena telah terintegrasi dengan baik ke sistem. Sedangkan Media Center XBMC berfungsi dengan sangat baik dan mengubah laptop Thinkpad saya menjadi pusat hiburan yang memukau. Untuk berselancar di internet, saya jauh lebih suka menggunakan Chromium daripada Firefox yang bagi saya agak lambat dan masih memiliki sejumlah bug.

Satu hal yang masih membuat saya penasaran hingga saat ini adalah, menunggu tanggal rilis GNOME3 bulan depan, yang akan membawa interface yang lebih atraktif dan modern di laptop saya. Meski tampilan GNOME 2.32 yang saya gunakan saat ini sudah lumayan bagus dan tidak membosankan dibanding XP bahkan 7 dengan Aero-nya. Tertarik mencoba? Bisa kok mengunduh gratis ISO Maverick Meerkat di situs Ubuntu. Welcome back to open source community!

2 komentar:

  1. Dual OS atau Single OS di laptop?

    BalasHapus
  2. Single OS. Kalau dual boot, saya ga pernah kaffah deh. :)

    BalasHapus