Harga Sebuah Komputer

HP Pavilion Slimline s5710f PC (Black)Suatu ketika datang seorang pembeli ke sebuah toko komputer. Si pembeli ini adalah seorang awam dalam dunia teknologi informatika, dan tidak mengetahui sama sekali seluk beluk komponen yang membangun sebuah PC . Satu-satunya hal yang ia ketahui hanyalah satu set komputer desktop yang berada di atas meja kerjanya di kantor. Di komputer tersebut, terdapat beragam aplikasi. Mulai dari yang berhubungan dengan pekerjaannya sehari-hari, seperti Ms. Office, browser IE, hingga pemutar video digital Windows Media Player. Ia tidak tahu sama sekali bagaimana aplikasi tersebut bisa berada di dalam komputer kerjanya, tidak juga tahu siapa yang menginstall dan bagaimana mendapatkan program tadi jika suatu saat terjadi kegagalan sistem. Hingga anaknya yang baru masuk SMP meminta untuk dibelikan sebuah komputer sebagai alat bantu belajar di sekolah.

Si pembeli yang tidak tahu sama sekali akan dunia komputer kemudian bertanya ke kawan-kawannya yang tergolong 'melek teknologi'. Berdasarkan informasi yang didapat dari kawannya, si pembeli ini menyimpulkan bahwa dengan uang sebanyak 3,5 juta rupiah ia sudah bisa memilki sebuah komputer desktop yang berfungsi layaknya PC di kantor. Ia juga memperoleh sebuah daftar belanja berisi komponen-komponen yang bisa dibeli dan dirakit sesampainya di toko komputer. Dalam daftar belanja tersebut tercatat sejumlah komponen untuk merakit komputer dengan rincian sebagai berikut:

AMD Athlon II X3 440 (Box)                
Mb AMD AM3ECS IC890GXM              
Memory DDR3                                    
Harddisk 250Gb                                  
DVDRW                                              
Casing                                                
Keyboard                                            
Mouse                                                  
Monitor LCD 15.6"                                

Ketika rincian komponen tersebut ditanyakan ke penjaga toko, si pembeli komputer ini mendapatkan harga total sebanyak Rp. 3.484.000,- tidak meleset jauh dari estimasi yang telah ia ketahui dari kawannya di kantor. Si pembeli ini tentu saja setuju dengan harga yang ditawarkan oleh pihak toko yang segera merakit komponen-komponen tersebut agar menjadi sebuah PC.

Tampaknya, si pembeli komputer ini bukan tipe pelanggan yang banyak bertanya, dan si penjaga toko juga tidak ambil pusing dengan diamnya customer mereka. Maka tatkala proses perakitan selesai dan semua barang yang telah dibeli dimasukkan kedalam kardus-kardus besar untuk dipaket, si pembeli yang merasa puas dengan barang belanjaannya mengakhiri transaksi jual beli dengan pembayaran tunai yang telah disetujui bersama. Kisah sukses ini berakhir bahagia di benak penjaga toko, lain halnya dengan si pembeli yang baru menyadari kekeliruan saat ia tiba di rumah membongkar paket PC rakitan yang telah ia beli beberapa jam sebelumnya.

Meski tidak memahami seluk beluk komputer, si pembeli ini tampaknya sudah familiar dengan proses pemasangan PC. Ia berpegang pada prinsip paling sederhana, pasangkan segala suatu sesuai tempat dan bentuk ya. Kabel tenaga dengan power supply, mouse dan keyboard di soket PS2, kabel monitor di colokan VGA, serta kabel power PC dan monitor di soket listrik yang tertanam di dinding rumahnya. Proses penggabungan pun selesai. kini tiba saatnya menyalakan komputer tersebut untuk pertama kalinya di rumah.

Semuanya berjalan dengan baik. Lampu on menyala sekali menunjukkan proses booting yang normal. Bunyi kipas pendingin di belakang casing yang telah berputar penuh, suara putaran hardisk dan bunyi beep singkat. Di layar komputer, tampak sekilas  logo BIOS dan manufaktur pembuat motherboard menyala sekali, untuk kemudian hilang berganti warna hitam pekat yang menyelimuti seluruh layar. Hanya tanda strip putih kecil di pojok kiri atas berkedip lama tanpa berhenti. Semenit dua menit si pembeli ini menunggu adanya perubahan di layar monitornya, tapi semakin lama ia menunggu, semakin habis pula kesabarannya. Kini 30 menit setelah PC tersebut ia nyalakan untuk pertama kalinya, dan tanda-tanda "kehidupan" rupanya belum juga muncul.

Reaksi pertama si pembeli setelah frustasi awal itu adalah menghubungi kawannya yang ia anggap memahami komputer. Setelah tanya jawab singkat, barulah diketahui jika komputer yang baru dirakit tersebut belum terinstall satupun Sistem Operasi didalamnya. Karena tidak mengerti, si pembeli ini kemudian bertanya berapa harga sebuah sistem operasi seperti yang ada di kantornya itu. Ia juga bertanya tentang harga software-software yang lazim digunakan, seperti paket Office dan PDF. Kawannya yang polos itu kemudian memberinya angka yang fantastis, 5,4 juta rupiah! Jumlah total dari paket perangkat lunak yang baru saja ia utarakan. Tentu saja, si pembeli ini merasa terkejut, ia tidak menyangka jika harga komputer yang "sebenarnya" jauh melebihi estimasi harga yang ia kira. Lebih jauh lagi, harga software yang biasa ia beli 1.5 kali lebih mahal dari harga hardware yang baru saja ia beli. Bagaimana mungkin harga sekeping CD dan DVD bisa jauh lebih mahal dari harga satu set komputer baru yang masih klimis?

Merasa tidak puas dengan informasi harga yang diberikan si kawan, pembeli ini kembali bertanya, adakah solusi yang lebih murah daripada harus membayar uang tambahan sebesar 5,4 juta rupiah? Sebagai orang Indonesia yang baik, kawan si pembeli kemudian menawarkan dua buah alternatif kepada kawan baiknya itu. Solusi pertama adalah tawaran untuk membeli DVD perangkat lunak bajakan seharga hanya 105 ribu rupiah di sebuah toko yang khusus menjual software-software bajakan. Sedangkan solusi kedua, adalah tawaran untuk menggunakan perangkat lunak gratis yang berbeda dari perangkat lunak yang ia kenal selama ini. Dari kedua solusi yang ditawarkan kepadanya, si pembeli yang tidak terlalu curious dengan komputer lebih memilih solusi pertama, yang meskipun bertentangan dengan hukum di negeri ini (tapi tidak dengan moral dan kebiasaan) namun, membuatnya merasa feel home dengan komputer yang ia kenal selama ini di kantornya.

Jika anda si pembeli tersebut, manakah dari tiga kemungkinan yang akan anda pilih. Membeli software asli dengan harga 1.5 kali lebih mahal dari harga komputer yang baru anda rakit, atau menggunakan solusi pertama yang jauh lebih murah tapi melanggar hukum, atau menggunakan solusi terakhir yang tidak memakan biaya apa-apa? Apapun jawaban yang anda berikan, setiap pilihan yang diputuskan akan mempengaruhi seberapa mahal harga sebuah komputer yang anda pilih. Jadi, seberapa mahalkah harga komputer di rumah anda?

keterangan:
  1. harga perangkat lunak dan keras, disimulasikan dari sini
  2. Gambar komputer diambil dari sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar