OpenSUSE, Mandriva & GNOME

From Drop Box
Seminggu lebih saya berkutat dengan kesibukan baru, mencoba sistem operasi Linux Mandriva Free 2009.1. Saat kuliah dulu, saya sempat pula memakai Linux sebagai OS bagi komputer lawas saya (Athlon XP 2000+) tapi berhubung kesulitan mengakses informasi di internet, maklum saja saat itu lumayan susah mendapatkan Warnet dengan jaringan yang bagus di sekitar rumah, ditambah keterbatasan media storage (hanya punya floppy disk 3,5) terpaksa niat menceburkan diri ke dalamnya diurungkan. Kalau tidak salah, Linux pertama yang saya pakai saat itu adalah Mandrake 10.0, kelak merek ini tenggelam dan kemudian bertransformasi menjadi Mandriva dengan seri terakhir yang sekarang terinstall di komputer saya.

Awalnya, saya hanya iseng membeli majalah Info Linux edisi Mei yang memuat OpenSUSE 11.1 sebagai cover story. Yang membuat saya excited, ternyata distro tersebut juga disertakan dalam bundel majalah: satu DVD instalasi dan DVD lain yang memuat repository dan program-program tambahan. Karena penasaran, langsung saja saya install kedalam hardisk yang juga telah terinstall Windows XP. Proses instalasi lancar, tapi hasil yang saya dapat ternyata tidak memuaskan. Alasan yang utama adalah, ketidakmampuan OS ini memutar file mp3. Usut punya usut, karena persoalan lisensi, mp3 itu ternyata bukan jenis file terbuka sehingga membutuhkan lisensi khusus, jenis file ini tidak dapat langsung dimainkan. Tapi setelah saya baca ulang petunjuk instalasi di majalah, akhirnya bisa juga membuat Amarok memainkan koleksi mp3 kesayangan, meski membutuhkan waktu lebih dari 3 jam!

Alasan kedua adalah, ternyata performa OpenSUSE 11.1 sangat tidak bersahabat dengan spesifikasi komputer lawas. Berkali-kali komputer hang dan proses pemunculan program juga memakan waktu yang cukup lama. Saya mengira barangkali karena belum optimalnya driver yang ada. Tapi setelah saya mencoba Mandriva 2009.1, dan ternyata berjalan stabil, namun kalah telak dalam eksekusi program-program 3D, saya pikir ini mungkin disebabkan interface KDE 4 yang digunakan kedua distro tersebut. Sayangnya, saya terlanjur menganggap OpenSUSE 11.1 tidak stabil, sehingga langsung saya format ulang harddisk, termasuk di dalamnya instalasi Windows XP yang 'tidak bersalah'.

Memang sih tidak seharusnya saya menghapus XP, tetapi dikarenakan bootloader GRUB Linux yang keras kepala, terpaksa ia juga harus dilibas. Kalau tidak salah, saya langsung menginstall bootloader ini di MBR Windows sehingga XP tidak dapat diboot. Padahal dengan sedikit kejelian, hanya menginstall GRUB di first sector, tidak perlu kerja dua kali. Setelah kejadian itu dan karena takut harddisk saya rusak, maka saya beli harddisk IDE baru. Setelah menginstall XP di WDC yang baru dan Open SUSE 11.1 di Seagate lama, ternyata problem bukan hilang, tapi bertambah. Seagete tidak ter-mount, dan kinerja komputer langsung drop. Karena panik, saya mengira ada crash antara kedua harddisk tersebut, atau paling tidak ada salah satu di antara keduanya yg tidak kompatibel. Langsung saja saya bongkar semua instalasi, dan memasang kembali. Saya bahkan harus mengistall image BIOS baru untuk mengatasi masalah ini. Namun masalah belum dapat terselesaikan.

Kebetulan, saat itu edisi terbaru InfoLINUX telah keluar. Saat saya lihat cover-nya, ternyata Mandriva 2009.1. Langsung saya beli majalah tersebut, dan langsung saya install-kan Mandriva baru ini dual boot dengan Windows XP. Hasilnya bagus. OS dapat berjalan lancar dan tanpa lag seperti OpenSUSE 11.1. Maka mulailah eksplorasi saya kedalam Linux dimulai. Langkah pertama, baca instruksi di majalah yang sangat tidak informatif, meski signifikan. Kedua, mendownload ebook mengenai Linux yang bisa didapatkan cuma-cuma di gigapedia.com. Salah satu buku favorit saya adalah Linux for Dummies dan Mastering Linux second edition, keduanya dalam format PDF. Ketiga, mau tidak mau harus membiasakan diri dengan interface Linux yang berbeda dengan Windows.

Bisa dikatakan, dunia Linux sangat berbeda dari Windows. Saya seperti mendapatkan pengalaman komputer yang baru, meski harus diakui, yang bisa saya lakukan di Linux saat ini masih sangat terbatas. Hanya menggunakan OpenOffice sebagai ganti MS Office, mendengarkan koleksi MP3 dengan Amarok dan Rythmbox, atau menjelajah storage lewat program file manager non-Windows Explorer. Hal yang paling menarik justru ketika berhadapan dengan mode teks. Dalam lingkungan Windows, boleh dibilang sangat jarang sekali masuk kedalam mode teks, tapi di Linux, mode ini berkembang sangat pesat. Saya bahkan mendapatkan keasyikkan tersendiri saat keluar dari XWindow dan mulai bekerja dalam mode teks yang 'njelimet' tapi excited!

Hal lain yang juga berbeda adalah, game. Saya sempat frustasi, karena tidak menemukan game yang asik sebagai ganti Sims 2 dan Civilization 4 yang ada di Windows. Setelah menjelajahi buku-buku petunjuk, website Linux, dan forum-forum online, ternyata semuanya bersumber dari ketidaktersediaan driver yang pas buat kartu grafis. Hal tersebut bukan dikarenakan ketidakmampuan si pembuat Linux untuk menghasilkan driver yang tepat, tapi karena ketidakmauan vendor kartu grafis untuk memberikan source code produk mereka kepada publik. Sebagaimana diketahui, salah satu ide dibuatnya Linux adalah keterbukaan. Tidak ada yang disembunyikan dalam Linux, pengguna Linux bahkan dapat merekayasa sendiri kernel dan sistem operasi mereka, tentu saja bila mereka paham. Sesuatu yang tidak mungkin kita temukan dalam produk-produk Redmond.

Rupanya juga kerahasiaan dua vendor raksasa ATi dan Nvidia, berkaitan dengan usaha mendukung dominasi Microsoft di pasar desktop. Tapi apa mau dikata, setelah menghabiskan berjam-jam duduk di hadapan PC untuk mengatasi masalah tersebut, akhirnya saya download driver Geforce FX 5200 dari situs Nvidia dan menginstall-nya di KDE 4. Usaha pertama gagal, kedua berhasil, ketiga tidak puas. Ternyata, driver resmi ini tidak dapat berjalan lancar di atas KDE 4. Setelah googling, saya mendapat keluhan serupa dari berbagai pengguna Mandriva 2009.1, salah satu opsi yang ada adalah menggunakan GNOME sebagai interface Xwindow.

GNOME, GNU Network Object Environment, adalah sejenis antarmuka grafis bagi Linux selain KDE, Xface, WDM, dll. Sistem Linux yang canggih itu sebenarnya dapat berjalan tanpa antarmuka grafis apa-apa, hal ini dikarenakan sistem kernel yang terpisah dari sistem grafisnya, jadi apabila ada kerusakan pada software grafis, maka hal tersebut tidak berpengaruh secara mendalam kepada sistem utama. Berbeda dengan Windows yang sistemnya satu. Tapi, jaman sekarang, siapa sih orang yang menggunakan komputer hanya dalam mode teks selain geek yang terobsesi dengan binary program seperti pada film Matrix?! Maka dengan berat hati, saya pun migrasi dari desktop KDE 4 yang sangat menawan itu.

Kesan pertama dari GNOME adalah, perasaan janggal, karena seakan saya kembali ke masa Windows 98. Kesan ini tidak berlangsung lama, karena langsung familiar dengan tool-tool baru yang menurut saya terasa ringat dan powerful. Maka setelah menginstall kembali driver Nvidia, kinerja 3D dapat berjalan lancar. Setidaknya, saat saya bandingkan penggunaan game Open Arena di kedua desktop, terasa sekali perbedaannya. Dalam GNOME, game tersebut dapat bejalan dengan FPS yang memuaskan.

Well, meskipun saat ini masih dual boot dengan Windows XP, ternyata saya menemukan kecintaan terhadap Linux di Mandriva 2009.1 dengan GNOME sebagai interface-nya. Saat ini saya sudah instalasikan juga wine untuk menjalankan program windows di Linux, meskipun belum optimal saat eksekusi program dan Virtualbox yang tidak mampu untuk berjalan di atas GNOME, setidaknya saya sudah bisa online kembali melalui Linux dan menuliskan artikel ini di blog.

Welcome GNOME, viva Linux!!

5 komentar:

  1. lebih bagus pake ubuntu 9.04 dukungan grafisnya lebih oke. Ringan diinstall. Sekarang gw total pk Ubuntu kecuali kadang2 pake Windows via SUN VirtualBox OSE (gak perlu restart u pk WinXP!). Tool BATCH EDITING di ACDSee belum ada di linux.

    Alamat rumah lu Jl Mahoni III no. 1 BJI kan? Gw lu, kirim ke email gw almt lu, ntar gw kirim CD Ubuntu 9.04 amd64 u athlonXP lu plus tutorial komplit. Gw juga mo ngirim ke Hendri BA. Udah lama janji tp baru sempet hehehe..

    Btw, kalo kelamaan lo minta kirimin sama HQ Ubuntu (UK) via TNT. Caranya daftar di https://shipit.ubuntu.com/.
    Kalo kelamaan jg lu bisa beli ke juragan kambing di http://juragan.kambing.ui.ac.id/
    Masih kelamaan juga, datang aja ke kantor juragan kambing di POSS-UI di UI Depok dg modal Rp 6.500,- pada jam kerja. Gak usah beli repo kalo lu bisa download file sebesar 20 MB langsung dari AthlonXP.

    Masih kelamaan juga ? Coba lu pake bakar file iso linuxmint di DVD Infolinux. LinuxMint gak perlu repository lagi.

    Sip !

    nih screenshoot ubuntu gw. Lihat grafisnya lebih ciamik.

    BalasHapus
  2. Dah gw kirim lewat email. Itu Athlon XP biasa, bukan yg 64bit. Di rumah sudah ada sih DVD repo Mandriva. Tapi kalo dibilang Ubuntu lebih ringan, nanti saya coba.

    BTW kemarin juga saya install Sidux di USB, tapi pas diinstall ke Harddisk, kayaknya masih perlu file tambahan. Bagusan mana Sidux sama Mint?

    BalasHapus
  3. Wah Bos! lulusan gontor memang hebat-hebat. HP Lulusan filsafat, HBA lulusan Syariah Finance, Sony... tapi ITnya oke, Gontor memang "mengajarkan kesungguhan" kata Ust. Hasan Abdullah Sahal saat gue ketemu 2007.

    BalasHapus
  4. @ Anonim, hanya hobi saja kok dan semua orang juga bisa seperti itu. :)

    @ Asep, ya betul. Naluri purba kita memang seperti itu.

    BalasHapus
  5. Ubuntu is the best deech.......untuk tambahan sistem requerment nya ada di blog saya

    BalasHapus