Attention!

Once, an oracle came to me. He said, "At this time you have to deal with your own hurt feelings - either you are reminded of old wounds by some incident, or a sore point is disturbed again. Maybe you feel a little weak and are conscious of a certain aversion to handling the usual everyday interchanges - a feeling as if you were coming down with flu. If you now have the need to be alone, then that is what you should really do. If you make too many demands on yourself or if you are not left in peace, you may become hurtful to others - for example, your children if you are a parent - as a result of a certain indifference. Fortunately, this influence lasts at most half a day".

I don't really know what he meant, for the oracle went out just like he popped in without notice, but from the description he gave, I guess he had a good kind of degree in psychology and discursive analysis. :p

Off


Who knows the story of heart. Even for those who think that they can read your mind”

No mind. It just talk, or chat. Whether you use your tongue, or put fingers on tuts to type. And it shows there, on the screen, and through the space that begin to disappear in remote place. A place you never come to. Somewhere in other direction of sun, certain coordinates of global positioning system. Other, you never meet. Just typing, and responses.”

How do you do?”
Nice to talk with you”
ttyl”

Its likely of our conversation yesterday. Stuck in speech that give you crazy iconic emoticon.”
So, tell me the wizard of this technology.”

On messenger, I pronounce it like the messenger of God. Or if you mind, the messenger of your heart”
No sound to speak. No gesture to watch. No face to see the smile that embedded on your texts.”
It just data”

Ouch, then I must be fall in love with this crazy words. Only words!”

Still, there are sentences that represent ideas”

what's that?”

Hmm... no idea”

crazy!”

lucky to you.”

OMG!”
Feeling sleepy”

yes I do”

Good night”

Gutten nacht”

sweet dream”

you too”

:)”

Migrasi ke Maverick Meerkat

Interface XBMC Media Center yang memukau


Akhirnya saya kembali menggunakan Linux, setelah beberapa bulan sebelumnya menggunakan 7 dan XP secara berurutan. Seperti biasa proses instalasi sistem operasai bebas ini berjalan lancar, yang membuat lama hanyalah rutinitas backup data dari partisi windows ke partisi kosong yang terdapat di harddisk yang sama, Hitachi 250 GB. Guna mentransfer semua file yang berada di akun XP yang mencapai jumlah hampir 60-an GB, XP memerlukan waktu semalaman. Itu pun sempat tertunda, karena ada beberapa file terenkripsi yang gagal dipindahkan. Baru di pagi harinya, setelah tertidur kurang dari 4 jam, saya memulai instalasi Ubuntu 10.10 melalui CD instalasi yg telah saya download jauh hari sebelumnya.

Tidak ada masalah dalam instalasi yg lumayan cepat itu, kecuali pada saat memutuskan apa yg akan di-mount pada partisi baru yg telah dibuat. Saya sempat ragu apakah akan me-mount /home ataukah / saja, sebelum akhirnya memutuskan me-mount / dan menyisakan ruang 2GB untuk swap. Setelah selesai, giliran mencoba sejumlah fungsi dasar, ternyata Maverick masih belum bisa memainkan koleksi MP3 milik saya. Maka saya pun langsung melakukan update sekaligus memasang repository restricted secara online. Satu hal yang patut diacungkan jempol adalah, proses pemasangan modem yang sangat mudah, semudah saya menggunakan fungsi scan di printer Photosmart saya: semuanya tinggal colok ke USB laptop, dan biarkan Ubuntu menangani sisanya secara otomatis, plug and play!

Kemudahan berinteraksi dengan hardware inilah yang membuat saya berani untuk menggunakan Linux kembali. Pengalaman yang saya dapatkan dari kompatibilitas hardware, bahkan sangat jauh berbeda dari pengalaman saat memakai 7 dan XP yang selalu bermasalah dengan driver bawaan, sehingga harus mencari driver pengganti di web. Untuk poin ini, saya memberikan salut kepada para pengembang Ubuntu yang telah membuat sebuah OS yang sangat bersahabat dan dapat berfungsi baik dengan hardware-hardware yang saya miliki.

Sleek and simple, I love it!
Chromium, saudara kandung dari Chrome, memberikan pengalaman berselancar yang lebih mengasyikkan daripada browser bawaan, Firefox.

Tentu saja ada sejumlah kekurangan minor dari Ubuntu 10.10 yang saya gunakan, tapi itu lebih terkait dengan familiaritas kita dengan UI (user interface) yang digunakan. Semisal kebingungan saya dengan keberadaan icon bahasa yang tidak saya jumpai di panel atas. Bagi saya yang sering menulis dalam bahasa Arab, keberadaan icon tersebut tentu sangat penting, karena memudahkan saya untuk berganti mode pengetikan dari US ke Arabic, selain tentunya berguna untuk melihat layout keyboard virtual beraksara Arab, yang sampai saat ini tidak saya hafal.

Selain minutia yang kerap membuat stress ini, menggunakan Maverick ternyata sangat menyenangkan. Syaratnya sederhana, anda harus terhubung terus dengan internet. Sejumlah aplikasi, macam Empathy yang menjadi client messenging bahkan membuat saya merasa tengah mencoba sebuah gadget modern tanpa harus kehilangan kinerja, karena telah terintegrasi dengan baik ke sistem. Sedangkan Media Center XBMC berfungsi dengan sangat baik dan mengubah laptop Thinkpad saya menjadi pusat hiburan yang memukau. Untuk berselancar di internet, saya jauh lebih suka menggunakan Chromium daripada Firefox yang bagi saya agak lambat dan masih memiliki sejumlah bug.

Satu hal yang masih membuat saya penasaran hingga saat ini adalah, menunggu tanggal rilis GNOME3 bulan depan, yang akan membawa interface yang lebih atraktif dan modern di laptop saya. Meski tampilan GNOME 2.32 yang saya gunakan saat ini sudah lumayan bagus dan tidak membosankan dibanding XP bahkan 7 dengan Aero-nya. Tertarik mencoba? Bisa kok mengunduh gratis ISO Maverick Meerkat di situs Ubuntu. Welcome back to open source community!

Laptop Riset

Pojok perpustakaan digital yang memuat buku-buku tentang Wittgenstein
Kalau ada yang bertanya, apa sebenarnya yang saya banggakan dari laptop saya, maka jawaban yang dapat saya berikan adalah, bahwa laptop tersebut adalah sebuah laptop riset. Tentu yang saya maksud sebagai riset di sini bukanlah riset fisika atau kimia yang bertalian dengan rumus-rumus dan software yang berhubungan dengan simulasi maupun perhitungan berat dan massa jenis. Akan tetapi, sebuah lingkungan kerja yang lebih mirip sebuah perpustakaan mungil, tempatmenyimpan dokumen-dokumen penting, sekaligus perangkat lunak penunjang yang memudahkan saya dalam meneliti bidang yang saya minati, filsafat, bahasa dan Al-Quran.

Sebagai seorang heavy user komputer, ide untuk menjadikan pc atau laptop sebagai sebuah perpustakaan mungil tempat saya meneliti bidang yang saya minati itu sebenarnya datang terlambat. Hal tersebut dikarenakan, sejak pertama kali memiliki pc, hal yang paling saya minati adalah soal komputer itu sendiri, entah software maupun hardware. Keinginan untuk mengetahui apa yang dapat kita lakukan dari sebuah mesin, seperti memforsir seluruh tenaga, atau membuatnya menjadi mesin yang serba hebat benar-benar memicu hasrat mengetahui yang teramat besar. Rasa ingin tahu itu kemudian mendapatkan sarananya lewat pengetahuan yang saya dapatkan dari membaca majalah-majalah komputer. Sudah sangat mafhum, jika majalah komputer yang rata-rata bersampul luks itu, macam Chip dan PC Media selalu menyertakan CD dan DVD yang berisi beragam aplikasi. Dari konten bawaan majalah inilah saya terjerat pada keasyikan untuk melakukan percobaan yang seringkali tidak memiliki tujuan yang jelas, macam gonta-ganti OS, maupun mencoba-coba berbagai software yang tidak lebih dari derivasi software tertentu yang sudah sangat familiar.

Puncak segala rasa ingin tahu itu adalah, obsesi saya yang sangat tinggi terhadap permainan komputer. Beberapa game terkenal, macam Dungeon & Siege, Max Payne, Civilization III, Medal of Honor Allied Assault, hingga Return to Castle Wolfenstein dan Doom, pernah menjadi penghuni setia di dua pc saya yang telah almarhum. Dampak yang paling nyata dari obsesi gila ini adalah pendeknya masa hidup komputer yang saya gunakan. Pada PC pertama yang hanya mengandalkan grafik onboard, kerusakan yg muncul adalah kegagalan booting di BIOS. Sedang pada PC kedua, meski sampai saat ini masih digunakan untuk aplikasi ringan oleh sepupu saya, namun ia telah memakan korban empat buah kartu VGA berbeda merek dan jenis, serta tiga buah catu daya. Diantara komponen yang kerap mengalami kerusakan tapi selalu diperbaiki kembali adalah monitor 15” SPC yang dapat saya definisikan sebagai komponen komputer tertua milik saya yang masih tetap bertahan, 9 tahun!

Sebenarnya game pula yang menjauhkan diri saya dari elaborasi komputer yang lebih dalam. Tatkala internet mulai merambah masuk ke Indonesia, saya masih tetap bersikeras untuk mempertahankan PC sebagai sarana bermain dan bukan menjelajah dunia maya, termasuk seni yang berhubungan dengannya, macam web authoring dan desain grafik. Terus terang, saya cukup menyesal karena tidak mendalami kedua seni tersebut saat kemampuan komputer saya masih prima. Walhasil, saat mulai berkenalan dengan kehidupan era internet, saya laksana orang baru yang tidak tahu sama sekali akan seluk beluk ilmu komputer. 

Kesadaran akan keterlenaan ini muncul tatkala dua teman saya berbicara dengan serius mengenai beberapa aplikasi web.  Saya yang tidak mengetahui dan hampir tidak pernah mendalami dua seni esensial itu merasa bahwa setelah tujuh tahun memiliki PC ternyata tidak ada kegunaan yang benar-benar saya dapatkan darinya. Tentu sampai saat itu saya telah menggunakan komputer sebagai alat bantu dalam menulis skripsi dan makalah-makalah kuliah. Tapi, jika hanya mengidentikkan fungsi komputer dengan kerja dasar itu, maka apa bedanya ia dengan mesin ketik? Lagi, familiaritas seseorang dengan komputer tidak serta merta membuatnya lancar mengetik sepuluh jari. Untuk hal ini saya masih percaya jika perkenalan saya dengan mesin ketiklah yang sangat membantu saya dalam menguasai seni mengetik itu.

Sejak saat itu, mulailah saya mendalami aplikasi standar seni web dan desain grafis, macam bergaul dengan CSS blog, serta mempelajari photoshop. Sayangnya, kemampuan otak saya dalam menguasai kedua bidang tadi semakin berkurang. Saya memang bisa melakukan sejumlah prosedur standar yang teramat dasar, tapi tidak pernah sekalipun menguasainya, dan harus melakukan semuanya dalam waktu yang sangat lama. Ketidakberdayaan ini pula yang kadang membuat saya menyesal, kenapa tidak sejak dahulu saya mempelajarinya, sama seperti kemampuan matematika dan logika saya yang tidak pernah maju dan menjadi penghambat utama saya dalam mempelajari filsafat bahasa yang sangat memerlukan keahlian matematika dan logika yang mumpuni. Akhirnya saya menyimpulkan, bahwa saya mungkin tidak akan banyak menggunakan aplikasi-aplikasi strategis itu di komputer saya. Jika demikian, akan saya jadikan apa mesin yang saya miliki ini? Jawaban dari pertanyaan tersebut, tiba-tiba muncul tatkala saya berkunjung ke kantor seorang kawan, yang kebetulan bekerja sebagai peneliti muda di UI. Dari dialah, saya berkenalan kembali dengan dunia yang telah lama saya lupakan, dunia buku.
Tampilan kamus Lisanul Arab dalam bentuk PDF, dan dalam insert tampilan Edward William Lane's Arabic-English Lexicon dalam format DJVU

interface dari Calibre, salah satu ebook management software yang bagus. Calibre mendukung sejumlah format ebook, termasuk konversi menjadi format mobile epub.

Yang saya maksud dengan buku-buku itu adalah ebook yang sampai saat ini menjadi teman setia saya di laptop. Memang bukan buku legal karena saya mendapatkannya secara gratis, tapi dari penampilannya yang hampir tidak ada bedanya dengan buku fisik, dengan kualitas tampilan yang tinggi dan format yang membuat kita yakin jika file tersebut dapat kita samakan dengan referensi standar, maka saya cukup berani untuk meredefinisikan laptop saya yang baru sebagai sebuah perpustakaan mini yang menjadi tempat saya meriset dan merumuskan ide-ide baru. Dan mulailah saya mengunduh buku-buku digital ini yang mayoritas dalam bahasa Inggris dari situs favorit yang dikenalkan oleh kawan saya si peneliti muda itu. Tema-tema favorit, seperti karya-karya dan pembahasan tentang filsuf analitik, kajian agama, sejarah, teknologi, dan bahasa, terus saya kumpulkan hingga tidak terasa folder ebook saya telah mencapai besaran 17 GB! Dan tatkala saya klasifikasi dengan Calibre, setidaknya tercatat sekitar 1756 buah item ebook yg saya miliki. Jumlah yang sangat fantastis, karena jumlah buku fisik yang saya miliki bahkan tidak mencapai angka seribu buah. Hebatnya, semuanya boleh dibilang gratis (jika tidak menghitung ongkos pengunduhannya).

Well, apa saya sudah bahagia dengan koleksi ebook tersebut? Ternyata tidak. Imbasnya, saya juga menginstal aplikasi pembantu, macam dua buah ensiklopedia digital, Quran dan Bible digital, hingga kamus filsafat yang semi-digital. Itu pun saya merasa masih ada yg kurang, karena belum menemukan software yang memadai untuk membaca koleksi kutub al-sittah secara digital. Ada ide?

Teman yang Menyelamatkan

Beberapa waktu lalu, saya pernah mengumpat di wall FB saya tentang perilaku tetangga yang kerap membuat kegaduhan dan sangat mengganggu ketentraman lingkungan. Cara mereka melampiaskan emosi dengan makian dan teriakan yang terdengar hingga satu RT jelas membuat saya yang baru saja pulang dari kerja dan hendak melepas lelah dengan tenang merasa tidak nyaman. Sebagai pelampiasan unek-unek saya pun membuat sebuah status yang menurut pendapat beberapa orang terkesan rasial. Kenapa? Karena saya mencantumkan di dalam tulisan padat dan singkat itu identitas suku dan agama si tetangga yang telah membuat saya kesal. Hasilnya, seorang teman di FB yang merasa memiliki identitas yang sama dengan si “neighbourhood from hell” itu, merasa keberatan dengan pernyataan saya, dan meminta saya untuk menghapus atau merevisi tulisan saya itu.

Tentu saja saya berusaha mempertahankan pendapat saya, meski pada beberapa frase memang saya akui ada kesan rasial yang terkandung, entah eksplisit ataupun implisit. Dan saya sudah sampaikan bahwa saya tidak keberatan untuk menghapus frase-frase yang tampak rasial itu, meski secara umum saya tetap mempertahankan pendapat saya dengan menyatakan bahwa “dia”lah sebenarnya yang menjadi permasalahan, dan seandainya si tetangga ini tidak ada, sudah barangkali tidak muncul statement tersebut bukan? Parahnya, saya membuat blunder perilaku, dengan menganggap bahwa korban sesungguhnya dari state of affair itu adalah diri saya, yang merasa kehilangan waktu berharga untuk bersantai dan melepas lelah, alih-alih justru dipaksa pendengar setia caci maki yang membuat tensi darah naik. Pun, di media yang berbeda alam, saya juga didesak untuk mempertanggungjawabkan tulisan saya. Jadilah, sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Yang menjadi pertanyaan kemudian, kenapa orang sebegitu sensitif dengan identitas, padahal saya memiliki maksud tertentu dengan pencantuman identitas rasial tersebut? Yang paling utama adalah, saya mengharapkan bantuan dari orang yang memiliki identitas entah rasial maupun religius serupa dengan si tetangga tadi untuk membantu menyelesaikan permasalahan yang saya hadapi. Pemahaman tentang perilaku kultural dan agama sudah barang tentu akan sangat menolong dalam memecahkan problem sosial masyarakat. Bagaimana kita memberitahu seseorang untuk tidak berperilaku yang mengganggu melalui cara-cara yang diterima oleh kultur dan budayanya, akan lebih efektif daripada menggunakan cara-cara kita sendiri yang boleh jadi tidak diterima oleh orang tersebut. Dalam hal ini, identitas akan benar-benar menjalani fungsinya sebagai model pengenalan, ketimbang simbol-simbol sentimental yang lebih mementingkan perbedaan daripada persamaan.

Mungkin orang dapat mengkritisi, kenapa harus diungkapkan identitas primordial? Terlebih, pada saat saya melontarkan pernyataan tersebut, memang masih ada bayang-bayang sentimen rasial dan agama di daerah saya yang kebetulan masih berhubungan dengan identitas si tetangga tersebut. Yang barangkali, dalam hemat saya, membuat pikiran teman saya di FB itu terasosiasi dengan pandangan miring akan suku dan agamanya. Dan tebak, semua orang mungkin akan bertindak sepertinya, balik mengecam dan mempertanyakan ketulusan dalam hubungan antar ras dan umat beragama. Persis seperti kecaman Demokrat kepada partai koalisi yang dianggap telah berkhianat dan tidak tulus dengan janji-janji yang pernah diproklamirkan bersama. :) Jadi, kembali lagi ke pertanyaan sebelumnya, kenapa orang begitu sensitif dengan identitas primordialnya? Apa hal tersebut juga berhubungan dengan stigma sosial dan stereotipe masyarakat? Apa ketika saya berbicara tentang tetangga saya secara spesifik dengan menyebutkan identitas primordialnya, kemudian orang dapat mensahkan atau bahkan mengiyakan segala stereortipe yang melekat pada identitas suku dan agama yang dimaksud. Seperti ungkapan bahwa orang Jawa itu “munafik”, berbicara lembut di depan tapi pandangan pribadinya tetap keras diibelakang? Jawabnya sederhana, belum tentu.

Tatkala saya berbicara tentang karakter seseorang, sebenarnya saya berbicara secara kasuistik tentang orang tertentu dengan kasus partikular yang spesifik. Dalam hal ini, kejengkelan saya kepada si tetangga itu bisa ditafsirkan sebagai sebuah ketidak puasan pada wujud partikular yang kebetulan memiliki relasi keanggotaan dengan pemikiran stereotipe yang jauh lebih universal tapi tidak memiliki rujukan sama sekali. Saya menulis tidak memiliki rujukan, karena ketika anda bicara tentang sebuah entitas yang hanya diwakili oleh sebuah stereotipe sebenarnya anda tidak berbicara tentang siapa-siapa, tapi hanya berhubungan dengan asosiasi yang ada di dalam benak anda semata. Stereotipe bagaimanapun memudahkan kita untuk berkomunikasi dengan seseorang. Ia adalah sebuah entry point yang dapat ditinggalkan begitu saja tatkala kita telah ter-involve dengan seorang secara partikular. Ia hanya berguna saat kita tidak mengenal orang yang dimaksud dengan baik, dan hanya berfungsi sebagai petunjuk kasar yang memudahkan kita untuk bersosialisasi.

Saya sendiri tidak menganggap stereotipe sebagai sebuah hal yang negatif, karena sikap saya terhadapnya bukanlah untuk menjustifikasi pandangan umum, melainkan untuk membuat asosiasi pribadi mengenai identitas primordial sebuah kelompok. Yang saya maksud, ketika kita belum mengenal sesorang, stereotipe muncul terlebih dahulu sebagai early warning system. Tapi ketika kita mulai mengenal anggota sebuah kelompok lebih dalam, pandangan kita terhadap mereka secara partikular juga berkontribusi terhadap asosiasi stereotipe yang ada dalam pikiran kita. Maka seiring dengan luasnya pergaulan kita, maka semakin spesifik pula stereotipe yang terbentuk. Pada awalnya, stereotipe yang kita kenal hanya berkaitan dengan suku atau provinsi tertentu, kemudian seiring dengan pengenalan kita terhadap anggota dari setiap kelompok, maka stereotipe semakin mengecil hingga mencakup wilayah yang jauh lebih kecil, macam kota, kelurahan, atau bahkan RT dan tetangga. Ia akhirnya berubah menjadi pandangan yang jauh lebih jinak tentang tipologi manusia, karena semuanya telah melebur dalam universal bernama kemanusiaan.

Tapi apa yang berkontribusi bagi perubahan gradasi stereotipe itu? Well, saya menyebutnya dengan sederhana sebagai teman yang menyelamatkan. Maksud saya, persahabatan anda dengan seorang anggota sebuah suku akan membantu anda untuk memberikan bargaining yang positif bagi stereotipe negatif tentang suku tersebut. Saya ambil contoh, stereotipe negatif terhadap suku Madura sebagai suku dengan perangai kasar, dalam benak saya mulai mengalami revisi tatkala saya memiliki satu dua teman dari Madura yang berperilaku sebaliknya. Hal serupa juga muncul pada asosiasi saya terhadap komunitas peranakan Cina, suku Padang, bahkan Batak sekalipun. Yang mana dalam setiap komunitas tadi, saya memiliki seorang teman baik, atau setidaknya orang yang saya kenal dengan baik dan pengalaman berinteraksi dengan baik, untuk memberikan pandangan berimbang atas asosiasi negatif yang kerap muncul. Dengan kata lain, teman andalah yang sesungguhnya menyelamatkan imagi tentang kelompok mana anda berasal, meski itu tidak berarti hubungan anda dengannya akan selalu baik. Setidaknya, tatkala muncul sebuah pandangan umum negatif tentang sebuah kelompok, anda bisa dengan mudah memberikan pengecualian dengan menyebutkan nama-nama spesifik yang menetralisir pandangan buruk yang ada.

Faktualitas dapat menegasikan yang logis, meski yang logis tidak dapat menegasikan yang faktual.