Laptop Riset

Pojok perpustakaan digital yang memuat buku-buku tentang Wittgenstein
Kalau ada yang bertanya, apa sebenarnya yang saya banggakan dari laptop saya, maka jawaban yang dapat saya berikan adalah, bahwa laptop tersebut adalah sebuah laptop riset. Tentu yang saya maksud sebagai riset di sini bukanlah riset fisika atau kimia yang bertalian dengan rumus-rumus dan software yang berhubungan dengan simulasi maupun perhitungan berat dan massa jenis. Akan tetapi, sebuah lingkungan kerja yang lebih mirip sebuah perpustakaan mungil, tempatmenyimpan dokumen-dokumen penting, sekaligus perangkat lunak penunjang yang memudahkan saya dalam meneliti bidang yang saya minati, filsafat, bahasa dan Al-Quran.

Sebagai seorang heavy user komputer, ide untuk menjadikan pc atau laptop sebagai sebuah perpustakaan mungil tempat saya meneliti bidang yang saya minati itu sebenarnya datang terlambat. Hal tersebut dikarenakan, sejak pertama kali memiliki pc, hal yang paling saya minati adalah soal komputer itu sendiri, entah software maupun hardware. Keinginan untuk mengetahui apa yang dapat kita lakukan dari sebuah mesin, seperti memforsir seluruh tenaga, atau membuatnya menjadi mesin yang serba hebat benar-benar memicu hasrat mengetahui yang teramat besar. Rasa ingin tahu itu kemudian mendapatkan sarananya lewat pengetahuan yang saya dapatkan dari membaca majalah-majalah komputer. Sudah sangat mafhum, jika majalah komputer yang rata-rata bersampul luks itu, macam Chip dan PC Media selalu menyertakan CD dan DVD yang berisi beragam aplikasi. Dari konten bawaan majalah inilah saya terjerat pada keasyikan untuk melakukan percobaan yang seringkali tidak memiliki tujuan yang jelas, macam gonta-ganti OS, maupun mencoba-coba berbagai software yang tidak lebih dari derivasi software tertentu yang sudah sangat familiar.

Puncak segala rasa ingin tahu itu adalah, obsesi saya yang sangat tinggi terhadap permainan komputer. Beberapa game terkenal, macam Dungeon & Siege, Max Payne, Civilization III, Medal of Honor Allied Assault, hingga Return to Castle Wolfenstein dan Doom, pernah menjadi penghuni setia di dua pc saya yang telah almarhum. Dampak yang paling nyata dari obsesi gila ini adalah pendeknya masa hidup komputer yang saya gunakan. Pada PC pertama yang hanya mengandalkan grafik onboard, kerusakan yg muncul adalah kegagalan booting di BIOS. Sedang pada PC kedua, meski sampai saat ini masih digunakan untuk aplikasi ringan oleh sepupu saya, namun ia telah memakan korban empat buah kartu VGA berbeda merek dan jenis, serta tiga buah catu daya. Diantara komponen yang kerap mengalami kerusakan tapi selalu diperbaiki kembali adalah monitor 15” SPC yang dapat saya definisikan sebagai komponen komputer tertua milik saya yang masih tetap bertahan, 9 tahun!

Sebenarnya game pula yang menjauhkan diri saya dari elaborasi komputer yang lebih dalam. Tatkala internet mulai merambah masuk ke Indonesia, saya masih tetap bersikeras untuk mempertahankan PC sebagai sarana bermain dan bukan menjelajah dunia maya, termasuk seni yang berhubungan dengannya, macam web authoring dan desain grafik. Terus terang, saya cukup menyesal karena tidak mendalami kedua seni tersebut saat kemampuan komputer saya masih prima. Walhasil, saat mulai berkenalan dengan kehidupan era internet, saya laksana orang baru yang tidak tahu sama sekali akan seluk beluk ilmu komputer. 

Kesadaran akan keterlenaan ini muncul tatkala dua teman saya berbicara dengan serius mengenai beberapa aplikasi web.  Saya yang tidak mengetahui dan hampir tidak pernah mendalami dua seni esensial itu merasa bahwa setelah tujuh tahun memiliki PC ternyata tidak ada kegunaan yang benar-benar saya dapatkan darinya. Tentu sampai saat itu saya telah menggunakan komputer sebagai alat bantu dalam menulis skripsi dan makalah-makalah kuliah. Tapi, jika hanya mengidentikkan fungsi komputer dengan kerja dasar itu, maka apa bedanya ia dengan mesin ketik? Lagi, familiaritas seseorang dengan komputer tidak serta merta membuatnya lancar mengetik sepuluh jari. Untuk hal ini saya masih percaya jika perkenalan saya dengan mesin ketiklah yang sangat membantu saya dalam menguasai seni mengetik itu.

Sejak saat itu, mulailah saya mendalami aplikasi standar seni web dan desain grafis, macam bergaul dengan CSS blog, serta mempelajari photoshop. Sayangnya, kemampuan otak saya dalam menguasai kedua bidang tadi semakin berkurang. Saya memang bisa melakukan sejumlah prosedur standar yang teramat dasar, tapi tidak pernah sekalipun menguasainya, dan harus melakukan semuanya dalam waktu yang sangat lama. Ketidakberdayaan ini pula yang kadang membuat saya menyesal, kenapa tidak sejak dahulu saya mempelajarinya, sama seperti kemampuan matematika dan logika saya yang tidak pernah maju dan menjadi penghambat utama saya dalam mempelajari filsafat bahasa yang sangat memerlukan keahlian matematika dan logika yang mumpuni. Akhirnya saya menyimpulkan, bahwa saya mungkin tidak akan banyak menggunakan aplikasi-aplikasi strategis itu di komputer saya. Jika demikian, akan saya jadikan apa mesin yang saya miliki ini? Jawaban dari pertanyaan tersebut, tiba-tiba muncul tatkala saya berkunjung ke kantor seorang kawan, yang kebetulan bekerja sebagai peneliti muda di UI. Dari dialah, saya berkenalan kembali dengan dunia yang telah lama saya lupakan, dunia buku.
Tampilan kamus Lisanul Arab dalam bentuk PDF, dan dalam insert tampilan Edward William Lane's Arabic-English Lexicon dalam format DJVU

interface dari Calibre, salah satu ebook management software yang bagus. Calibre mendukung sejumlah format ebook, termasuk konversi menjadi format mobile epub.

Yang saya maksud dengan buku-buku itu adalah ebook yang sampai saat ini menjadi teman setia saya di laptop. Memang bukan buku legal karena saya mendapatkannya secara gratis, tapi dari penampilannya yang hampir tidak ada bedanya dengan buku fisik, dengan kualitas tampilan yang tinggi dan format yang membuat kita yakin jika file tersebut dapat kita samakan dengan referensi standar, maka saya cukup berani untuk meredefinisikan laptop saya yang baru sebagai sebuah perpustakaan mini yang menjadi tempat saya meriset dan merumuskan ide-ide baru. Dan mulailah saya mengunduh buku-buku digital ini yang mayoritas dalam bahasa Inggris dari situs favorit yang dikenalkan oleh kawan saya si peneliti muda itu. Tema-tema favorit, seperti karya-karya dan pembahasan tentang filsuf analitik, kajian agama, sejarah, teknologi, dan bahasa, terus saya kumpulkan hingga tidak terasa folder ebook saya telah mencapai besaran 17 GB! Dan tatkala saya klasifikasi dengan Calibre, setidaknya tercatat sekitar 1756 buah item ebook yg saya miliki. Jumlah yang sangat fantastis, karena jumlah buku fisik yang saya miliki bahkan tidak mencapai angka seribu buah. Hebatnya, semuanya boleh dibilang gratis (jika tidak menghitung ongkos pengunduhannya).

Well, apa saya sudah bahagia dengan koleksi ebook tersebut? Ternyata tidak. Imbasnya, saya juga menginstal aplikasi pembantu, macam dua buah ensiklopedia digital, Quran dan Bible digital, hingga kamus filsafat yang semi-digital. Itu pun saya merasa masih ada yg kurang, karena belum menemukan software yang memadai untuk membaca koleksi kutub al-sittah secara digital. Ada ide?

3 komentar:

  1. kalo dijadikan pustaka, kira-kira sebanyak apa ya isi bukunya?

    BalasHapus
  2. mungkin lima rak buku tinggi, yg mentok sampai langit2 kamar. :)

    BalasHapus
  3. Mari jadikan laptop dan komputer anda menjadi Perpustakaan dengan Perpustakaan Digital v.8

    Dengan perpustakaan Digital v.8 meringkas file-file digital anda seperti file PDF, SWF, DJVU, JPG, BMP, GIF, ICO, PNG, DOC, XLS, PPT, HTML (MHT), TXT, FLV, MID, MP3, MP4, WAV DLL yang jumlahnya ratusan atau ribuan bahkan lebih menjadi satu atau beberapa file database saja.

    Dengan perpustakaan digital v.8 juga dapat melakukan pencarian yang kita simpan dalam database hanya dalam beberapa detik saja, sehingga waktu kerja kita lebih efesien dan praktis.

    Satu file Database dapat menampung maksimal 1 GB.

    http://ali-sabana.blogspot.com/2011/10/perpustakaan-digital-pribadi.html

    BalasHapus