Teman yang Menyelamatkan

Beberapa waktu lalu, saya pernah mengumpat di wall FB saya tentang perilaku tetangga yang kerap membuat kegaduhan dan sangat mengganggu ketentraman lingkungan. Cara mereka melampiaskan emosi dengan makian dan teriakan yang terdengar hingga satu RT jelas membuat saya yang baru saja pulang dari kerja dan hendak melepas lelah dengan tenang merasa tidak nyaman. Sebagai pelampiasan unek-unek saya pun membuat sebuah status yang menurut pendapat beberapa orang terkesan rasial. Kenapa? Karena saya mencantumkan di dalam tulisan padat dan singkat itu identitas suku dan agama si tetangga yang telah membuat saya kesal. Hasilnya, seorang teman di FB yang merasa memiliki identitas yang sama dengan si “neighbourhood from hell” itu, merasa keberatan dengan pernyataan saya, dan meminta saya untuk menghapus atau merevisi tulisan saya itu.

Tentu saja saya berusaha mempertahankan pendapat saya, meski pada beberapa frase memang saya akui ada kesan rasial yang terkandung, entah eksplisit ataupun implisit. Dan saya sudah sampaikan bahwa saya tidak keberatan untuk menghapus frase-frase yang tampak rasial itu, meski secara umum saya tetap mempertahankan pendapat saya dengan menyatakan bahwa “dia”lah sebenarnya yang menjadi permasalahan, dan seandainya si tetangga ini tidak ada, sudah barangkali tidak muncul statement tersebut bukan? Parahnya, saya membuat blunder perilaku, dengan menganggap bahwa korban sesungguhnya dari state of affair itu adalah diri saya, yang merasa kehilangan waktu berharga untuk bersantai dan melepas lelah, alih-alih justru dipaksa pendengar setia caci maki yang membuat tensi darah naik. Pun, di media yang berbeda alam, saya juga didesak untuk mempertanggungjawabkan tulisan saya. Jadilah, sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Yang menjadi pertanyaan kemudian, kenapa orang sebegitu sensitif dengan identitas, padahal saya memiliki maksud tertentu dengan pencantuman identitas rasial tersebut? Yang paling utama adalah, saya mengharapkan bantuan dari orang yang memiliki identitas entah rasial maupun religius serupa dengan si tetangga tadi untuk membantu menyelesaikan permasalahan yang saya hadapi. Pemahaman tentang perilaku kultural dan agama sudah barang tentu akan sangat menolong dalam memecahkan problem sosial masyarakat. Bagaimana kita memberitahu seseorang untuk tidak berperilaku yang mengganggu melalui cara-cara yang diterima oleh kultur dan budayanya, akan lebih efektif daripada menggunakan cara-cara kita sendiri yang boleh jadi tidak diterima oleh orang tersebut. Dalam hal ini, identitas akan benar-benar menjalani fungsinya sebagai model pengenalan, ketimbang simbol-simbol sentimental yang lebih mementingkan perbedaan daripada persamaan.

Mungkin orang dapat mengkritisi, kenapa harus diungkapkan identitas primordial? Terlebih, pada saat saya melontarkan pernyataan tersebut, memang masih ada bayang-bayang sentimen rasial dan agama di daerah saya yang kebetulan masih berhubungan dengan identitas si tetangga tersebut. Yang barangkali, dalam hemat saya, membuat pikiran teman saya di FB itu terasosiasi dengan pandangan miring akan suku dan agamanya. Dan tebak, semua orang mungkin akan bertindak sepertinya, balik mengecam dan mempertanyakan ketulusan dalam hubungan antar ras dan umat beragama. Persis seperti kecaman Demokrat kepada partai koalisi yang dianggap telah berkhianat dan tidak tulus dengan janji-janji yang pernah diproklamirkan bersama. :) Jadi, kembali lagi ke pertanyaan sebelumnya, kenapa orang begitu sensitif dengan identitas primordialnya? Apa hal tersebut juga berhubungan dengan stigma sosial dan stereotipe masyarakat? Apa ketika saya berbicara tentang tetangga saya secara spesifik dengan menyebutkan identitas primordialnya, kemudian orang dapat mensahkan atau bahkan mengiyakan segala stereortipe yang melekat pada identitas suku dan agama yang dimaksud. Seperti ungkapan bahwa orang Jawa itu “munafik”, berbicara lembut di depan tapi pandangan pribadinya tetap keras diibelakang? Jawabnya sederhana, belum tentu.

Tatkala saya berbicara tentang karakter seseorang, sebenarnya saya berbicara secara kasuistik tentang orang tertentu dengan kasus partikular yang spesifik. Dalam hal ini, kejengkelan saya kepada si tetangga itu bisa ditafsirkan sebagai sebuah ketidak puasan pada wujud partikular yang kebetulan memiliki relasi keanggotaan dengan pemikiran stereotipe yang jauh lebih universal tapi tidak memiliki rujukan sama sekali. Saya menulis tidak memiliki rujukan, karena ketika anda bicara tentang sebuah entitas yang hanya diwakili oleh sebuah stereotipe sebenarnya anda tidak berbicara tentang siapa-siapa, tapi hanya berhubungan dengan asosiasi yang ada di dalam benak anda semata. Stereotipe bagaimanapun memudahkan kita untuk berkomunikasi dengan seseorang. Ia adalah sebuah entry point yang dapat ditinggalkan begitu saja tatkala kita telah ter-involve dengan seorang secara partikular. Ia hanya berguna saat kita tidak mengenal orang yang dimaksud dengan baik, dan hanya berfungsi sebagai petunjuk kasar yang memudahkan kita untuk bersosialisasi.

Saya sendiri tidak menganggap stereotipe sebagai sebuah hal yang negatif, karena sikap saya terhadapnya bukanlah untuk menjustifikasi pandangan umum, melainkan untuk membuat asosiasi pribadi mengenai identitas primordial sebuah kelompok. Yang saya maksud, ketika kita belum mengenal sesorang, stereotipe muncul terlebih dahulu sebagai early warning system. Tapi ketika kita mulai mengenal anggota sebuah kelompok lebih dalam, pandangan kita terhadap mereka secara partikular juga berkontribusi terhadap asosiasi stereotipe yang ada dalam pikiran kita. Maka seiring dengan luasnya pergaulan kita, maka semakin spesifik pula stereotipe yang terbentuk. Pada awalnya, stereotipe yang kita kenal hanya berkaitan dengan suku atau provinsi tertentu, kemudian seiring dengan pengenalan kita terhadap anggota dari setiap kelompok, maka stereotipe semakin mengecil hingga mencakup wilayah yang jauh lebih kecil, macam kota, kelurahan, atau bahkan RT dan tetangga. Ia akhirnya berubah menjadi pandangan yang jauh lebih jinak tentang tipologi manusia, karena semuanya telah melebur dalam universal bernama kemanusiaan.

Tapi apa yang berkontribusi bagi perubahan gradasi stereotipe itu? Well, saya menyebutnya dengan sederhana sebagai teman yang menyelamatkan. Maksud saya, persahabatan anda dengan seorang anggota sebuah suku akan membantu anda untuk memberikan bargaining yang positif bagi stereotipe negatif tentang suku tersebut. Saya ambil contoh, stereotipe negatif terhadap suku Madura sebagai suku dengan perangai kasar, dalam benak saya mulai mengalami revisi tatkala saya memiliki satu dua teman dari Madura yang berperilaku sebaliknya. Hal serupa juga muncul pada asosiasi saya terhadap komunitas peranakan Cina, suku Padang, bahkan Batak sekalipun. Yang mana dalam setiap komunitas tadi, saya memiliki seorang teman baik, atau setidaknya orang yang saya kenal dengan baik dan pengalaman berinteraksi dengan baik, untuk memberikan pandangan berimbang atas asosiasi negatif yang kerap muncul. Dengan kata lain, teman andalah yang sesungguhnya menyelamatkan imagi tentang kelompok mana anda berasal, meski itu tidak berarti hubungan anda dengannya akan selalu baik. Setidaknya, tatkala muncul sebuah pandangan umum negatif tentang sebuah kelompok, anda bisa dengan mudah memberikan pengecualian dengan menyebutkan nama-nama spesifik yang menetralisir pandangan buruk yang ada.

Faktualitas dapat menegasikan yang logis, meski yang logis tidak dapat menegasikan yang faktual.

2 komentar:

  1. masalahnya, kondisi setiap orang yang kan selalu berubah2, bisa jadi yang merasa satu suku dengan tetangga anda itu, sedang berada dalam kondisi yang tidak mengenakkan eh tau2 mbaca status temannya tidak mengenakkan, jadi semakin membuat harinya mem-bete-kan, sehingga muncullah komen2nya yang diketik tanpa disaring lagi hehehe ...

    BalasHapus