At The End of Civilization


Minggu pagi berangkat ke Kota Tua di bilangan Stasiun Kota Jakarta Utara. Udara masih sangat sejuk. kereta yang membawaku berderu keras beradu dengan angin membuat telinga pekak. Maklumlah, kereta buatan dalam negeri. Setiba di tempat tujuan hari mulai panas. Sisa-sisa air seni menguap tipis, meninggalkan bau yang teramat pekat. jalan-jalan mulai ramai oleh manusia berlalu-lalang, dari bajunya kurasa mereka habis berolah raga. Dan jadilah pengembaraan saya kedalam labirin kota tua ini dimulai.

Kata yang paling tepat untuk menggambarkan situs sejarah ini hanya satu kata, kotor. Tua dan kotor tepatnya. Bangunannya lapuk dan tanpa penghuni, hanya gelandangan yang mengisi. di depan guvernoorkantoor, lebih parah lagi. tampak sisa-sisa resepsi bertebaran mengganggu pemandangan. Saya jadi bingung, apa sebenarnya yang mau saya ungkapkan, apalagi banyak sekali fotografer yang sibuk mencari gambar. Jadilah pagi itu pertunjukkan kesemerawutan dimulai. karena bingung, ya saya foto ujung-ujung langit untuk menggambarkan betapa sepi dan merananya sisa-sisa kolonialisme itu.

Pukul sembilan lewat Museum Fatahillah dibuka. Dan dengan seremoni sebentar dari mantan orang nomor satu Jakarta, museum pun dibuka untuk umum. Saat itu memang dalam masa perayaan sumpah pemuda, jadi beruntung juga bisa memasuki markas besar Hindia Belanda itu di hari Minggu. Yang sebenarnya, saat masuk, saya hanya terkesima dengan patung Hermes yang indah itu. Begitu anggun dan menawan seakan berusaha terbang keangkasa menjemput wahyu. Di depannya sebuah meriam kuno siap menembak. Lantai-lantai gedung tersebut dari kayu yang amat tebal, jadi berjalan di atasnya seperti bergoyang-goyang. Yang juga menarik adalah, lukisan governoor Jendral Deandels yang membuat jalan pos Anyer - Panarukan. Menurut Pram, orang ini sangat bengis dan jahat, hingga tega membunuh ribuan nyawa dan mempekerjakan orang-orang secara rodi untuk menyatukan pulau Jawa dan membangun jalur pos itu. Wajah orang bengis ini begitu manis, hingga kau tidak akan percaya kalau tangannya itu berlumuran darah. Jadi ingat ungkapan Hirata tentang Napoleon, sebagai pembunuh berdarah dingin yang tampan.

Raden Inten
IMG_0544 IMG_0558

Awalnya, saya terlebih dahulu pergi ke jembatan Kota Intan sekitar lima ratus meter ke utara, melewati terminal Kota Tua yang becek dan berjalan menelusuri Kali Besar yang saat itu tengah direhab. Dari jargo-jargon Pemda Jakarta mengenai revitalisasi Kota Tua saya tidak melihat hal yang membanggakan di era Sutiyoso. Material bangunan yang bertimbunan seakan menjawab betapa lambannya kita berhadapan dengan usia. Jembatan Kota Intan sendiri merupakan jenis jembatan gantung yang dapat diangkat untuk keperluan keluar masuk kapal era penjajahan. Bahan dasarnya kayu, dan karena faktor usia, ia tidak lagi digunakan. pintu masuk bagian timur, digembok dan sekeliling situs ini dikitari pagar. Sementara di bagian barat, sebuah taman kecil dipadati ibu-ibu yang tengah mengadakan senam pagi di pelatarannya. Hampir tidak ada tempat bernapas di sini. Kepadatan penduduk, lalu lintas yang ramai dan jembatan kereta, saya jadi bertanya, dimanakah letak yang tepat untuk menikmati peninggalan bersejarah ini? Akhirnya, karena tidak ketemu jawaban yang pas, kembali lagi ke governoorkantoor.

Sebuah selentingan ide muncul tiba-tiba di benakku saat menunggu museum fatahillah dibuka. Seorang yang entah juru kampanye atau apa, berkoar-koar lewat mikrofon agar orang-orang berkumpul di depan museum. Maksudnya mungkin mengumumkan secara besar-besaran bahwa museum saat itu tengah dibuka gratis untuk umum dan mengajak masyarakat luas berpartisipasi. Yang saya sayangkan, cara orang tersebut mengajak, persis seperti para penguasa tempo doeloe. Caranya berkata seolah ia merupakan agen kekuasaan yang sangat kuat. Ia lupa, bahwa orang-orang yang ia suruh berkumpul itu adalah orang-orang bebas yang tidak tunduk kepada apa-apa. Rupanya kekuasaan itu manis dan semua yang ada di sana, termasuk Sutiyoso yang disambut bak orang besar itu, begitu menikmati atmosfer kesemuan tadi. Mungkin karena itulah para politikus sering bicara tentang menghormati jasa pahlawan yang tak lain eufisme menghormati jasa kekuasaan. Sejarah selalu menjadi sejarah kekuasaan dan orang yang memiliki kekuasaanlah yang akan memiliki sejarah. Dan di sini, sejarah dan kekuasaan tidak lagi terpisahkan.

IMG_0593 IMG_0541Hermes
IMG_0579 IMG_0557

Memasuki Stadthuis, bangunan berlantai tiga ini dulunya merupakan balai kota masa VOC dan selesai dibangun tahun 1710 oleh gubernur jenderal Van Hoorn. Bagian dalam sederhana, seperti memasuki kantor kelurahan saja. Ruang-ruang kantor telah berubah fungsinya menjadi ruang pameran, pintu-pintu dilepas agar para pengunjung leluasa menjelajahi ruang display yang dipenuhi berbagai macam memorabilia masa lalu. Kursi, meja, lemari, gerabah, meja pertemuan yang besar, lukisan, patung, semua dipajang begitu saja, tanpa ilustrasi bagaimana dahulu ruang-ruang ini terlihat. Jadi teringat dengan diorama proklamasi atau pembantaian para jenderal di lubang buaya yang dibuat sedetil-detilnya, di sini tidak ada. Mungkin pemerintah masih setengah hati dengan bangunan ini. Maklum, gedung ini tidak ada kaitannya dengan kelanggengan kekuasaan. Intinya, buat apa repot-repot.

Di lantai teratas, saya terkesima dengan sebuah lukisan dengan media papan kayu yang lebar dan besar, menggambarkan pengadilan raja Sulaeman yang terkenal itu. Dari bentuk pakaian tokoh-tokoh yang ada, lukisan ini berciri romawi kuno. Yang membuat menarik, bukan lukisan yang tampak sederhana dan murahan itu, tapi kenyataan bahwa selama masa kolonial, saya pikir Belanda telah membuat sebuah jenis kebudayaan yang berbeda dari semangat romawi kuno. Setidaknya, bangunan mereka pada umumnya lebih berciri khas negri Belanda, kecuali bangunan-bangunan besar yang mulai memakai kolom ala Greeco-Romawi di bagian depannya. Melihat lukisan ini, saya jadi sadar betapa peradaban mereka masih berada di bawah bayang-bayang kerajaan terkuat di Eropa itu. Dan kita, dengan lugunya menganggap negara kecil di Eropa Barat Daya itu sebagai sebuah negara besar, hingga mau dijajah selama 350 tahun! - Oh, terima kasih Sukarno atas bahasa bombastisnya.

Di halaman belakang, terdapat dua benda yang terkenal: meriam si jagur dan patung Hermes. Saya sendiri heran mengapa masyarakat banyak membicarakan meriam tua itu, karena menurut saya itu hanyalah sebuah meriam besar biasa. Tepat dihadapan meriam ini berdiri sebuah patung perunggu Hermes yang anggun. sambil memegang tongkat, ia menjukurkan tangannya ke langit hendak menerima wahyu. Bagi yang percaya dengan konspirasi Yahudi, tongkat Hermes itu merupakan lambang brotherhood of Snake, sebuah perkumpulan rahasia Yahudi yang ekstrim. Terlepas dari hal tersebut, yang pasti saya sangat menikmati keanggunan patung ini.

IMG_0627 IMG_0629 IMG_0552 IMG_0525

Setelah cukup melihat-lihat isi museum, saya putuskan melanjutkan perjalanan menuju monas. Sebenarnya ingin cerita juga hasil pencarian saya di sana, tapi karena tidak ada yang menarik, langsung saja melompat pulang ke stasiun Jakarta Kota. Ups, stasiun ini menarik juga. Lengkungan langit-langitnya begitu indah, dan arsitektur masa lalunya bagus. Sayang, sama seperti nasib benda-benda lain di Republik ini, semuanya tidak terawat, penuh vandalisasi, dan kehilangan auranya. Beginilah hidup di akhir peradaban. Sambil menikmati kenyamanan kereta AC ekonomi Jakarta - Bekasi, saya pulang dengan penuh rasa suka cita. Para penjajah itu, mereka orang-orang luhur rupanya. Termasuk kereta bekas buatan Jepang ini yang begitu halus, empuk, nyaman dan beradab. Berbeda 180 derajat dengan yang saya tumpangi tadi pagi. Ah, itukan cuma buatan INKA, yang ini beda. Apa mungkin saya tidak nasionalis?

Seandai saja kita mempu memelihara peninggalan tadi, menghadirkan setiap lekuk dalam ekspresinya yang asli, mungkin kita akan merasakan betapa manisnya dijajah. Tapi kitakan orang bebas, orang merdeka, sehingga semua yang membelenggu kita dari masa lalu yang kelam tak lebih dari sampah yang harus dilepaskan. Dan begitulah perilaku kita, bahkan kepada penerus-penerus para penjajah itu. Lepas, terbang, dan tinggi seperti Hermes, dan tak pernah lagi menjejak di bumi.
Ah, seandainya aku lahir saat itu.
Dan aku bukan orang Indonesia.
Ah, tidak.
Bangsku ini memang lucu dan aneh.

Menengok Kebelakang


Mungkin bukan kesembronoan belaka yang membawaku menuju tanah Ciputat, ada berlipat tradisi dan kenangan yang menyeretku ke sana. Aku ingin sebuah kontinuum antara aku yang lalu, yang masih berpeci dan tak pernah tahu apa itu "backstreet" dengan aku di masa datang yang sering kugambarkan dengan hingarbingar intelektualitas. Kulihat di sana guruku yang pertama, Cak Nur, menghabiskan sarjananya di IAIN. Jadi kupikir, kenapa tidak saya pergi ke sana. Saat itu, sebelum kukenal luas, ketertarikan terhadap intelektualitas hanya sebagian saja yang kuingat. Bahwa kumencintai kerumitan, hanyalah sebuah awal dari pengembaraan. Dan memang ia begitu menggugah, seperti kabut misteri yang teronggok tanpa daya hendak dicumbu. Dan jurnal-jurnal Islamika yang masih terasa di hidungku, baris-baris hurufnya yang tersusun rapih, beralaskan lembaran kertas putih yang cukup tebal, tanpa ukiran, tanpa manik-manik. Ia begitu indah dipandang, begitu sederhana, laksana arsitektur minimalis. Aku terpikat.

Barangkali juga ketertarikan saya terhadap jurnal-jurnal itu tak lebih dari kesadaran estetik semata, tapi justru disitulah saya menemukan dunia yang lain. Dunia yang membawaku ke alam imajinasi, apa yang terdapat dibalik keindahan itu? Adakah ia pikiran-pikiran teragung yang begitu rupawan? Apakah, apakahku ini sebuah keharusan? Lalu mulai kubaca, kunikmati, dan kutelusuri. Kadang kutaktahu, kadang kutakmengerti, tapi tak pernah jua kubertanya. Karena aku hanya ingin membacanya, menikmatinya, dan mengagumi setiap detilnya, kuingin memeluknya. Dan malam-malam dingin di tanah perdikan itu kulihat ia membukakan pintunya untukku, menyapaku dengan penuh kecemerlangan. Aku gembira. Besoknya, kumengerti dan kupaham apa yang hendak ia katakan padaku. Kusadar, ada jalan yang menantiku di sana.

Kala itu 1999, Suharto telah tumbang, dan sebuah buku terselip rapih dibawah tumpukan kertas absen serta buku teks matematika untuk SMP. Aku antusias sekali mengajar. Anak-anak ini, memang bukan tandingan mereka yang duduk di kelas B atau C di Gontor pusat. Mereka hanya santri kacangan yang tersingkir dari pusaran pusat yang terus menggurita. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka saat tangan-tanganku menggambar bidang-bidang persegi di papan hitam. Mereka mengantuk. "Ustadz, tolong ceritakan sesuatu. Saya sudah pusing belajar!" rengek seorang. Kuhanya tersenyum. Sesuatu? Apakah sesuatu yang menarik? tanyaku. "iya" jawab mereka. Lalu kuambil buku itu dan duduk dihadapan anak-anak ingusan ini. Kataku, apa itu Ada? Dan semua seakan sublim ke samudera waktu. Diam-diam kutersenyum ke balik Dunia Sophie, pikirku, selamat datang di dunia filsafat.

Semua yang tampak dari jauh selalu indah, bahkan gedung-gedung IAIN itu kupikir begitu elok dan angkuh. Tapi setelah masuk hanya kelapukan yang kutemui. Ruang kuliah yang kotor, mahasiswa yang memakai baju kampungan, dan bangku-bangku kayu itu. Apa benar Cak Nur lahir di sini? Geli juga membayangkan perasaan saya saat itu. Tapi dimana lagi  kuliah dengan uang tigaratusribuan per semester. Ah, Filsafat. Aku hanyalah mahasiswa kacangan di sini. Di sini, di kampus kacangan, yang takkan pernah dipandang orang sebagai kampus. Dari kemegahan Gontor yang perdikan, aku tiba di IAIN yang kampungan. Aku shock culturiil.

Retakan dan Rekahan (3)


Tak bisa kumengerti
saat kita duduk bersama di meja ini
berbicara tentang sesuatu yang jelas
kuakui sebagai keretakan epistemologi
diantara kita
sedang senja belum juga berakhir
dan semua yang kulalui merah
perlahan memudar menjadi hijau
dalam mangkuk-mangkuk penuh
dan torehan-torehan yang naik bersama
nyanyian berterbangan..

Lamat-lamat kumengerti
bukan yang dibibir yang kupercaya hadir
atau suara-suara yang mendendangkan kehadiran
dan dalam angan-angan yang hilang
tak kulihat penuh di bundaran mata
bagaikan sumur yang dalam berongga
dan kosong
ia membawamu ke sebuah padang datar
dimana langit menjadi batas
dan kesetiap penjuru hanya ada langit dan padang datar
aku menuju ke tanah tanpa ujung
tanpa ujung, apa yang hendak kucari?

Dan kepergian tidak selalu meninggalkan luka
dalam dirinya kutemukan retakan
yang kulihat sebagai keredupan yang mencoba bersinar
dengan susah payah, dengan perjuangan
sudah lama kunanti saat ini
dapatkah kucing menjelma harimau
atau cihuahua berganti srigala?
padahal bukan itu yang diinginkan dunia
hanya lamunan dan igauan yang kembali lagi
kedalam tidur.
Kenapa juga kita mengingkarinya?

Dan tanyakan semua tentang langit
juga pokok-pokok trembesi yang takzim
atau kontur bumi yang memanjang luas
adakah yang hilang dari mereka?
Atau memang semua telah menjadi nyata
bahwa kita manusia hanyalah hamba
dari yang kunamakan sebagai ilusi-ilusi indah
tentang pahlawan dan ubermansch
ilusi dalam ilusi, apa yang lebih ilusius
dari ilusi semacam ini?
kulihat retakan dan rekahan
kulihat jalan dan bukaan
kulihat lurus
Kulihat luas
kulihat terang
kulihat Tuhan.

Bekasi 25 Oktober 2008



Retakan Rekahan (2)


Untuk sesuatu yang kita namakan obsesi,
untuk sesuatu yang kita tahu itu semu
tak cukupkah jiwa ini berlari terengah-engah
menemui sang zaman yang tertoreh di atas ketamakan
menantikan sebuah  kepuasan yang entah dimana ia berujung
dan sulur-sulur itu merayap menantimu
memangsamu bulat-bulat,
meremukkan seluruh harga diri yang kau bangun
dari usia yang mulai melapuk dan berlembar-lembar kegetiran
ia menerjangmu..
menjamahmu..
meninggalkan kekosongan

Kalau kau tahu gelapnya malam
takkan segelap hati yang menghitam
memohon pagi datang dan senyum hangat mentari
yang menyapu wajahmu dengan kelembutan abadi
bahkan seribu tahun takkan kulupakan pancaran itu
tak satupun bersama tetes embun yang semerbak
membasahi hatimu dengan cahaya
membasuhnya bersih
Dan kejernihan datang bersama waktu
dan waktu,
waktu ini

Kala kutemukan ada
yang membuatku melihat dalam terang
tentang manusia, keserakahan, dan ilusi
dalam gambit-gambit purba
seluruh makna jiwa sejarah
kataku: terimakasih
dan mata mereka meradang
jawabku: terimakasih
dan lagu sumbang bersiulan
senyumku: terimakasih
lalu mereka hilang
meninggalkan gerakan pelan tanpa suara
rupa-rupa yang tak lagi kukenali
dan kegelisahan yang menjalar, bukan lagi halang
tubuh-tubuh itu hanya sebuah tubuh
tanpa makna

Dan semua kembali ke makamnya
dimana biru adalah biru
dan meja bukan kursi
tapi yang kulihat hadir
kini hilang dalam gugusan senja
yang tak pernah bisa untuk kembali





Retakan Rekahan

Akhirnya retakan rekahan itu datang
sama seperti dahulu,
lalu,
dan lampau..
berulang yang kesekian kali
mengejarku tanpa ampun
keseluruh penjuru akal budi
dan beban yang menggantung hebat

Otakku bisu,
wajahku beku
lidahku nyinyir
dan mataku terpejam
Tapi ia lewat tanpa permisi
bagaikan aliran darah yang menerobos
masuk ke bilik kanan jantung
Aku tersedak

retakan rekahan keberadaan
retakan rekahan kesunyian
retakan rekahan kegelisahan
retakan rekahan kegetiran
retakan rekahan kemarahan
retakan rekahan hitam, galap dan malam

Dan kini ku meringkuk
tunduk,
terasing di pojokan
tanganku berjamahan
tumitku melesak kedalam
jiwaku mengerdil
Aku membiru...


Ada Apa Setelah Dunia Terlipat?

Sebuah Dunia yang Dilipat: Realitas Kebudayaan Menjelang Milenium Ketiga dan Matinya Postmodernisme Sebuah Dunia yang Dilipat: Realitas Kebudayaan Menjelang Milenium Ketiga dan Matinya Postmodernisme by Yasraf Amir Piliang


My review


Dari awal kuliah filsafat, saya sudah punya nih buku. Saya mencoba mencernanya, tapi tidak bisa. Kurasa yang membuat orang bingung, bukanlah pemaparannya, tapi kesatuan buku itu sendiri yang tidak tercermin di dalamnya. Dan memang, Dunia yang Dilipat, merupakan kumpulan artikel dari si pengarang, bukannya buku utuh. Akhirnya saya mencoba membaca sebagai artikel lepas yang tidak terkait antara satu bab dengan bab lainnya, dan ternyata berhasil. Pemaparan Piliang memang bagus, ia berusaha menggambarkan realitas kontemporer dari sudut pandang post-modernisme, berikut komponennya semacam Kristeva, Baudrillard dan Barthez. Tapi, penjelasannya mengenai realitas yang membumi, seperti berulang-ulang. Saya sendiri, setiap kali mencoba beranjak dari satu bab ke bab lainnya serasa mengalami de'ja vu. Bertemu dengan sejumlah realitas yang ditafsirkan secara berbeda dari sudut pandang yang berbeda pula. Barangkali, ini sebuah metode jitu bagaimana menggambarkan realitas masa kini yang mirip dengan simptom schizofrenia, sejenis kegilaan mengakut yang membuat kita merasa menyukai sesuatu yang tidak memiliki dasar kepentingan apapun dalam diri kita, selain kesenangan. Dan saya rasa, saya senang pada buku tersebut.



Kini setelah delapan tahun, saya kembali membaca. Kutemui kembali kecemerlangan gaya sang pengarang. Tapi saat ia menyebutkan disket, mikroprosesor, kulihat ia semakin menua dan lapuk. Ternyata, kecepatan realitas mempresentasikan dirinya tidak dapat ditandingi oleh proyeksi-proyeksi dan konstruk-konstruk yang ada dalam buku tersebut. Dunia semakin tidak terpahami, termasuk orang-orang yang ada di dalama dunia maya semacam milis, forum diskusi dan jejaring sosial yang semakin tenggelam dalam realitas semu. Dan semua semakin berbaur hingga terasa sulit membedakan antara yang nyata dan tidak nyata. Seandainya, sumber penghasilan saya berasal dari komputer juga, tentu akan lebih sulit bagi saya untuk membedakan realitas. Tapi apa yang kita lihat di luar kehidupan jejaring ini pun tidak lantas berbeda. Kekerasan dalam bentuk verbal di posting milis, selalu identik dengan kekerasan dalam bentuk fisik di jalanan. Semuanya satu, yang ada dalam pikiran kita. Itulah yang akan menjelaskan tindakan yang kita buat.



Kupikir, setelah Nietzsche mengumumkan kematian Tuhan dan kaum posmo mengumumkan kematian pengarang, ragam tindakan manusia secara sistematis telah dikuasai jejak-jejak pemikiran mereka sendiri. Cara kita bertindak nyaris mengikuti isu. Dari sebuah isu yang dilontarkan, bentuk-bentuk tanggapan yang ada akan selalu sama, menyerupai bentuk ideologi yang kita anut. Yang lain barangkali hanya ekspresi saja, dan itu memang variatif. Dari tahap-tahap kesadaran saya mulai dari monotheis, theis, atheis, dan kembali lagi ke monotheis, memberikan pengalaman yang berbeda-beda dalam melihat Dunia yang Dilipat. Seandainya Piliang menggunakan variable, mungkin saya akan lebih menghargai, tapi itu justru membuat buku ini menyerupai buku teks matematika. Dan keputusan sang penulis menggunakan penanda yang ada pada masanya, memang sebuah pilihan, meskipun itu menyeret ia kembali ke suatu titik dipenghujung abad 20, dimana industri teknologi baru mulai bertumbuh.



Hei, dunia masih berkembang. Kita tidak akan tahu apa dibalik peristiwa-peristiwa terkontemporer. Mungkin dunia sudah dilipat, tapi jelas ia semakin melebur dan rata. Rata, ya semuanya semakin rata. Rata dan dangkal. Siapkan bahtera! :P


View all my reviews.

On Musashi (1)


 Musashi


My review


rating: 4 of 5 stars
Pertama kali melihat buku ini, kira-kira 2 tahun yang lalu. Ia begitu tebal, dan terusterang itu membuat saya terprovokasi untuk membacanya. Dalam benak saya apa gerangan Gramedia menerbitkan buku yang begitu tebal seperti ini, apa buku ini bagus dan terkenal? Perasaan itu mengemuka, tapi tidak cukup menggerakkan saya untuk membeli. Kemudian, beberapa bulan terakhir, di blog teman saya ada sebuah tulisan mengenai Musashi, kupikir, betapa hebatkah tokoh ini dan bila benar demikian, apakah saya layak untuk mengetahuinya? Akhirnya, penentuan itu tiba. Dua hari yang lalu, di Trimedia Kuningan, saya putuskan untuk memiliki karya Eiji Yoshikawa tersebut. Peristiwanya sendiri agak dramatis sih, dari harga semula 190 ribuan, tapi karena kesalahan label harga, malah dikasih harga 155 ribu. Lumayanlah, dan setelah menamatkannya dalam kurun waktu dua hari tiga malam, sepertinya saya tidak menyesal mengeluarkan uang tadi.


Satu yang semestinya dipahami para pembaca adalah buku ini fiksi, walaupun Musashi sendiri merupakan tokoh historis. Meskipun demikian, kehandalah Eiji Yoshikawa dalam meramu cerita begitu kaya akan informasi dan fakta yang terjadi saat itu, sehingga tidak sulit membawa angan kita memasuki dunia keshogunan Tokugawa 400 tahun silam. Dan kekuatan tokoh-tokohnya begitu terasa tanpa membosankan sepanjang 1200-an halamannya. Semua bermula saat Musashi yang saat itu masih dipanggil Takezo bersama Matahaci, bangkit dari sisa-sisa kekalahan di perang sekigahara. Keduanya, bertemu dengan ibu anak, Oko dan Akemi. Dari sini, nasib kedua orang tersebut benar-benar terpisahkan. Takezo dengan segala kepahitan hidupnya, bertemu dengan Takuan, yang memberinya sebuah pencerahan untuk mengikuti jalan pedang dan menjalani takdirnya sebagai samurai sejati. Adapun Matahaci, tenggelam dalam nafsu birahi dengan Oko dan hidup terluntang-lantung tanpa tujuan.


Kegalutan Matahachi itu membuatnya memutuskan pertunangan dengan Otsu. Otsu yang patah hati menemukan tambatan hatinya pada Musashi. Sayangnya, kala itu ia sudah berketetapan hati hidup mengikuti jalan pedang, dan penantian Otsu yang tiga tahunpun berlalu sia-sia. Meskipun demikian, cinta Otsu benar-benar murni, dan ia pun berusaha mencari Musashi seantero Jepang. Dalam pengembaraannya, Musashi mengangkat murid pertamanya, Jotaro, yang selama perjalanan hampir tidak pernah diajarkan ilmu pedang, tapi jotaro sangat menghormati gurunya tersebut. Sementara itu Osugi, ibu Matahaci yang kecewa calon menantunya lari bersama Musashi, menjadi berang dan mulai mengobarkan perang pribadinya kepada ronin tersebut.


Musashi sangat tertarik dengan kesempurnaan, dan ia berusaha menemui para master ilmu beladiri untuk menguji kemampuannya tadi. Pada masa itu, hal ini sangatlah wajar, meskipun duel-duel penting antar dua samurai sering berakhir pada kematian dan mengakibatkan tradisi balas dendam, tapi hal tersebut diterima sebagai jalan pedang. Duel penting pertama Musashi saat berhadapan dengan perguruan Yoshioka. Ia berhasil mengalahkan seijuro, pemimpin perguruan tersebut. Pristiwa tadi membuat namanya terkenal. Bagi para murid Yoshioka, kekalahan ini merupakan tamparan besar dan mereka kembali menantang Musashi bertanding pada dua duel lanjutan. Jarak antara pertemuan pertamanya dengan perguruan Yoshioka hingga pertempuran terakhir di Ichijoji, menyatukan musuh-musuh Musashi. Yang paling besar adalah Sasaki Kojiro, seorang samurai berdarah dingin, yang ambisius dan iri dengan kemasyhuran nama Musashi. Bersama Osugi yang dendam kesumat, mereka berkampanye negatif terhadap Musashi, sehingga pengangkatannya menjadi pemimpin dojo shogun dibatalkan.


Jalinan cerita semakin rumit ketika permusuhan kedua pihak mulai melibatkan friksi-friksi politik yang tengah mengalami masa psywar. Untuk mencegah kerusuhan yang lebih parah, Musashi menyetujui tantangan Kojiro untuk berduel. Dalam duel singkat yang sangat terkenal di Ganryujima, Musashi berhasil mengalahkan Sasaki Kojiro dan membuktikan kemampuan dirinya tersebut.

***

Buku eiji Yoshikawa ini memang tidak mengisahkan keseluruhan masa hidup Musashi, ia hanya memuat fragmen antara umur 19 hingga 29 tahun. Sebuah masa pencarian jati diri dan pembangunan karakter. Ceritanya mengalir lancar, dengan menggambarkan detil suasana batin setiap tokoh dengan baik. Penggunaan tanda petik pada sebuah statment seseorang yang lalu menghilang kepada deskripsi subjektif orang tersebut, dan tiba-tiba muncul dalam bentuk orang lain, sering mengecoh pembaca untuk membedakan pendapat siapa yang tengah diutarakan oleh si penulis. Namun, dari lontar pendapat yang cerdas antar tokoh, suasana mengambang tersebut terasa menempatkan kita pada sebuah pemahaman, yang bahkan tidak akan terungkap di dunia nyata. Akhirnya, realitas semakin sumir, meski terdapat keengganan dari Yoshikawa sendiri untuk membawa pembacaan Musashi kepada surealisme. Dapat dipahami, karena novel ini merupakan jenis novel koran yang kemudian dibukukan.

Unsur cinta merupakan sebuah side story yang menarik. Dalam Musashi, ia dibenturkan dengan cara hidup yang dianut tokoh-tokohnya. Seperti keengganan Musashi menerima cinta tulus Otsu, karena ia hendak menempuh jalan yang memaksanya menyingkirkan cinta. Bahkan, setelah ia benar-benar tersiksa, Musashi tetap tidak jelas mengungkapkan perasaannya tersebut. Di lain pihak, plot-plot baru saling muncul tidak secara liniar dan dipertemukan secara kebetulan pada pertemuan-pertemuan tanpa sengaja antar para tokoh, mirip cerita-cerita silat macam Wiro Sableng. Dengan demikian pencampuran tokoh-tokoh historis dengan fiktif berjalan sempurna tanpa ada perasaan janggal, apakah tokoh ini nyata atau rekaan. Mungkin yang membuat saya curiga adalah kesamaan plot antara Musashi dengan film animasi Samurai X. Mulai dari kehadiran wanita, murid-murid belia, hingga lawan dan kawan. Apa memang, bentuk cerita saga hampir sama? Atau mungkin saya lebih dahulu kenal samurai X daripada Musashi, padahal buku tersebut terbit pertama kali diakhir tahun 1930-an, sehingga pembacaannya membuat pandangan saya soal originalitas terganggu? Dibalik itu semua, penghabisan cerita yang terasa menggantung dan cara sang penulis menggambarkan momen-momen penting seperti pencerahan Takezo, atau kesadaran diri Osugi, dan scene duel, terasa tidak proporsional dengan cerita yang melatarinya. Mungkin memang bukan itu penekanan yang diinginkan sang penulis, yang bagi saya justru terletak pada semangat yang hendak dituju.

Dalam sebuah kata pengantar J.B Kristianto, buku Musashi ini memecahkan rekor penjualan sebanyak 120 juta di Jepang. sebuah angka yang fantastik, mengingat penduduk Jepang yang menurut Kristianto kurang dari angka tersebut. Hal ini dapat diterjemahkan betapa kemasyhuran Musashi telah melekat di hati setiap orang Jepang.




View all my reviews.

City of Water


Don't comment!
Just see how bad those photographs taken
from city of water, which never respected her potentials
as the citizen translated their stand by soil not soul
and rural system stood on slum by banks of what we called today as "junkyard" river.

See and don't judge!
When smiles raised under ruins of civilizations
and hopes remained by heart of infants
"Just" see, how much lover loved river
when it has the soul again.

IMG_0469
"my own world"


IMG_0466
"Naked Pleasure"

IMG_0463
"Under shadow of Twilight"


IMG_0462
"Mesopotamia"

Friendship at The Age of Friendster


I saw that figure once more,
I thought nothing about her
Then my cursor moved to another
a chick with jilbab and casual t shirt
looked nice in simple style

I thought I was dream
for I saw nothing about picture
a girl with smiling face and glasses
Then my mind came to past
looked nice in dementia

look firmly at this profile
a lady who break my heart to its root
then I realized  with my mind
for I saw nothing about idea
I thought I was daydream

I saw,
I thought,

Then
a chick, a girl,
a lady

Look!
This was friendship at the age of
Friendster


Sights of Overture


I didn't know, why I loved railway so much.
It's like a kind of amazing to see
A consist, loco, track, junction, lever
and people, their stories were unpredictable

In mountainous roads,
its gigantic steel run along valleys
making a romantic depict of dragon
and train, they look fabulous

In metropolis, train was a live
its capacity were high up
and smell arouse around the wall
still there were sweats on air

those only part of my thousands love
to the extraordinary creature
I've never forgot
...


Ephemeral felicity



If path so straight I'll be arrived forwith



Doesn't life like wheel, and it was hard like steel?



Escapade



At world's end

Morning Calm


At every ray of morning sun
I saw alchemist masterpieces
turning a plain beauty onto spark
of golden reminiscence

And world drawn into variations
of colorfully wondered nature
in cyan, magenta, yellow and key
right now it was nuanced

If woman perceived a bloom
as loveliness and adorableness
I worshiped this morning calm
as a moment of contentment and serenity

IMG_0351
Heaven


IMG_0354
Don't shy!


IMG_0348
Division of Labor


IMG_0355
Literal Scout


IMG_0350
Wealth