Retakan dan Rekahan (3)


Tak bisa kumengerti
saat kita duduk bersama di meja ini
berbicara tentang sesuatu yang jelas
kuakui sebagai keretakan epistemologi
diantara kita
sedang senja belum juga berakhir
dan semua yang kulalui merah
perlahan memudar menjadi hijau
dalam mangkuk-mangkuk penuh
dan torehan-torehan yang naik bersama
nyanyian berterbangan..

Lamat-lamat kumengerti
bukan yang dibibir yang kupercaya hadir
atau suara-suara yang mendendangkan kehadiran
dan dalam angan-angan yang hilang
tak kulihat penuh di bundaran mata
bagaikan sumur yang dalam berongga
dan kosong
ia membawamu ke sebuah padang datar
dimana langit menjadi batas
dan kesetiap penjuru hanya ada langit dan padang datar
aku menuju ke tanah tanpa ujung
tanpa ujung, apa yang hendak kucari?

Dan kepergian tidak selalu meninggalkan luka
dalam dirinya kutemukan retakan
yang kulihat sebagai keredupan yang mencoba bersinar
dengan susah payah, dengan perjuangan
sudah lama kunanti saat ini
dapatkah kucing menjelma harimau
atau cihuahua berganti srigala?
padahal bukan itu yang diinginkan dunia
hanya lamunan dan igauan yang kembali lagi
kedalam tidur.
Kenapa juga kita mengingkarinya?

Dan tanyakan semua tentang langit
juga pokok-pokok trembesi yang takzim
atau kontur bumi yang memanjang luas
adakah yang hilang dari mereka?
Atau memang semua telah menjadi nyata
bahwa kita manusia hanyalah hamba
dari yang kunamakan sebagai ilusi-ilusi indah
tentang pahlawan dan ubermansch
ilusi dalam ilusi, apa yang lebih ilusius
dari ilusi semacam ini?
kulihat retakan dan rekahan
kulihat jalan dan bukaan
kulihat lurus
Kulihat luas
kulihat terang
kulihat Tuhan.

Bekasi 25 Oktober 2008



Tidak ada komentar:

Posting Komentar