Retakan Rekahan (2)


Untuk sesuatu yang kita namakan obsesi,
untuk sesuatu yang kita tahu itu semu
tak cukupkah jiwa ini berlari terengah-engah
menemui sang zaman yang tertoreh di atas ketamakan
menantikan sebuah  kepuasan yang entah dimana ia berujung
dan sulur-sulur itu merayap menantimu
memangsamu bulat-bulat,
meremukkan seluruh harga diri yang kau bangun
dari usia yang mulai melapuk dan berlembar-lembar kegetiran
ia menerjangmu..
menjamahmu..
meninggalkan kekosongan

Kalau kau tahu gelapnya malam
takkan segelap hati yang menghitam
memohon pagi datang dan senyum hangat mentari
yang menyapu wajahmu dengan kelembutan abadi
bahkan seribu tahun takkan kulupakan pancaran itu
tak satupun bersama tetes embun yang semerbak
membasahi hatimu dengan cahaya
membasuhnya bersih
Dan kejernihan datang bersama waktu
dan waktu,
waktu ini

Kala kutemukan ada
yang membuatku melihat dalam terang
tentang manusia, keserakahan, dan ilusi
dalam gambit-gambit purba
seluruh makna jiwa sejarah
kataku: terimakasih
dan mata mereka meradang
jawabku: terimakasih
dan lagu sumbang bersiulan
senyumku: terimakasih
lalu mereka hilang
meninggalkan gerakan pelan tanpa suara
rupa-rupa yang tak lagi kukenali
dan kegelisahan yang menjalar, bukan lagi halang
tubuh-tubuh itu hanya sebuah tubuh
tanpa makna

Dan semua kembali ke makamnya
dimana biru adalah biru
dan meja bukan kursi
tapi yang kulihat hadir
kini hilang dalam gugusan senja
yang tak pernah bisa untuk kembali





Tidak ada komentar:

Posting Komentar