Al-Quran dan Perempuan Pertama (2)

Sejenak diskusi terhenti, hanya sebentar, sebelum dilanjutkan oleh dua HH. HH pertama, menganggap bahwa diskusi ini beyond the truth. Saya tidak terlalu mengerti dengan maksudnya tersebut, barangkali ia hanya ingin mengungkapkan, bahwa kebenaran di sini, hasil produksi diskusi yang cukup intens, atau barangkali karena multidisipliner, tapi tetap tidak dapat dimengerti dengan jelas. Adapun HH kedua, memulai dengan pernyataan tendesius, seputar keberadaan manusia pertama yang dikenal baik dalam tradisi Islam maupun Judeo-Kristen sebagai Adam. Ia pun berkomentar.

“Itu hadist akhi, tapi tetap diragukan kebenarannya. Yang pasti, jika pun hadits itu benar, tetap bisa dikritik lewat fakta ilmiah, atau kita harus melihat hadits itu dalam perspektif alegorisme. Jangankan soal tulang rusuk, ayat yang mengatakan Adam manusia pertama di al-Qur'an juga tidak ada!” Dengan jelas HH memposisikan diri sebagai kampiun sains dengan berusaha menolak fakta agama. Lebih lanjut, ia menerangkan, “Gini hari masih ngomongin Adam manusia pertama?” Sayang sekali, tidak ada usaha untuk menjelaskan statement tadi oleh HH.

Tentang Adam
Maka saya pun mengambil inisiatif untuk memulai diskusi panjang lagi. Dan saya tulis di bagian komentar: “Wah memulai provokasi nih. Hehehe... Tentang Adam sebagai manusia pertama, harus diberi definisi yg jelas dulu. Apakah manusia, insan, yg dimaksud Al-Quran mencakup hominid atau tidak. Dari ayat yg ada, seperti kemampuan berbicara, tampaknya definisi insan di sini tidak mencakup hominid, yg meliputi Neanderthal, Cro-Magnon dsb, melainkan manusia modern saja. Dengan demikian, kalau ada yg bertanya apakah Adam manusia pertama, jawaban yg tepat adalah, ia insan pertama, tapi bukan basyar pertama. Kenapa? Karena kata basyar secara bebas, dapat diatributkan baik kepada hominid maupun manusia modern. Dengan kata lain, basyar itu genera, sedang insan adalah spesies.

Tentang Q. 4:1, ternyata ada fakta Quran yg menarik. Nafsun wahidah–Jiwa yang satu, itu benar-benar perempuan, bukan laki-laki! Silahkan perhatikan perubahan fa'il maf'ul–subjek objek, pada Q. 7:189. Coba tanya, yg mengandung itu nafsun wahidah ataukah zawj? Kalau tata bahasa Quran konsekuen dgn pengatributan seks zawj dan nafs wahidah, maka tentulah yg mengandung itu nafsun wahidah. Jadi bisa disebut, insan pertama itu perempuan bukan laki-laki. 

Tapi bagaimana Tuhan menciptakan Adam? Pada Q. 3:59 dijelaskan bahwa penciptaan Adam itu seperti Isa. Keduanya sama2 dikandung oleh perempuan yg tidak disentuh laki2. Dan ini lebih masuk akal, jika dikaitkan dgn tugas yg diemban Adam: khalifah. Lupakan bentuk ideologis kata khalifah dan pahami secara lingustik saja, yakni pengganti. Timbul pertanyaan, siapa atau apa, yg digantikan Adam? Jawabnya simpel, basyar pra-Adam, yakni para manusia purba yg tidak pernah berevolusi jadi manusia modern.”

Di sini, saya mengikuti hipotesis Abd al-Shabur Syahin, yang menafsirkan Adam sebagai bapak insan dan bukan bapak basyar. Mengetahui, jawaban saya, MM pun menimpali.

“Saya punya beberapa pertanyaan (untuk menguji bahasa Arab sampean, hehe...).

  1. Ada tidak bentuk mudzakkar, maskulin, dari kata nafs? Mungkinkah misalnya ayat itu berbunyi: ... khalaqakum min nafsin WAHID wakhalaqa minHU zawjataHU?
  2. Kata zawj itu berarti suami, atau istri, atau bisa suami bisa istri?
  3. Kenapa digunakan kata khaliifah, bukan khaliif, padahal merujuk kepada Adam yang jelas laki-laki?

Dalam hati, saya sudah menyangka akan ada pertanyaan seperti ini, dan saya mengira bahwa hipotesis saya tersebut memang tidak dibangun diatas fondasi tata bahasa yang lazim. Karenanya, saya kembalikan pertanyaan MM, untuk mengetahui, adakah fakta kebahasaan baru yang tidak saya ketahui.

“Oke, saya baca Jalalayn yang linguistics minded itu. Tapi coba, apa bisa dijelaskan secara tata bahasa perubahan bentuk dari mudzakkar ke muannats–feminin, pada Q. 7:189? Atau siapa sebenarnya yg hamil dan menghamili pada ayat tersebut?”

Tentang pertanyaan soal khalifah, saya belum dapat menjawabnya. Namun, di detik-detik kemudian, tiba-tiba saya mendapat intuisi berkenaan dengan denotasi dari kata khalifah, maka saya tambahkan bahwa, “Tentang khalifah, itu merujuk kepada ummat. Yakni ummat Adam menggantikan ummat basyar pra-Adam. Pada kata ja'ala–membuat, bukannya kata itu khas Adam, Ja'il khalifah. Sedang khalaqa–menciptakan, dinisbahkan kepada basyar, khaliq basyar.”

Apa itu nafs wahidah?
Rupanya MM telah menemukan jawaban yang telah ia tanyakan kepada saya. Maka tulisnya, “Biar saya jawab sendiri pertanyaan saya.
  • Kata nafs yg berarti jiwa/ruh di-mana2 selalu muannats dan selalu menggunakan kata ganti & kata kerja muannats, meskipun yg dimaksud adalah jiwa seorang laki2, seperti dlm Q 7:159.
  • Kata zawj bisa berarti suami atau istri. zawj al-mar'ati ba'luhaa wa zawj al-rajul imra'atuhu (Lisan al-‘Arab, IV, 430). Yang dimaksud dalam Q. 7:159 adalah istri.
  • Kenapa kata khaliifah? Karena kata ini hanya digunakan utk mudzakkar (LA, III, 185). Kata khalif jarang, atau mungkin malah tak pernah dipakai. Jadi tidak perlu repot-repot merujukkannya pada umat Adam.
 Penjelasan perubahan bentuk kata kerja dan kata ganti dlm QS 7:189 adalah sebagai berikut.
  1. ...khalaqakum min nafsin waahidah, wa khalaqa minHAA (kembali kpd nafs).
  2. ...zawjaHAA (kembali nafs).
  3. ...liyaskuna (kembali kepada shohib al-nafs). Peralihan seperti ini biasa dalam bahasa Arab. Seperti pada kata ummah yg kadang diganti dg hiya–kata ganti orang ketiga feminin, dan kadang diganti dengan hum–kata ganti orang ketiga jamak maskulin. Hiya merujuk pada bentuk katanya yang muannats, dan hum merujuk pada orang-orang yang ada di dalamnya. Peralihan ini justru menunjukkan bahwa nafs pertama itu laki-laki.
  4. ...ilayHAA (kembali pada zawj).
 Ini sangat jelas bagi yg mengerti bahasa Arab. Dan saat turun, ayat ini dipahami demikian. Jadi biar begitu adanya. Kenapa kita hrs membenturkannya dg penemuan ilmiah tentang asal-usul manusia? Kalo temuannya berbeda apa ayatnya harus dipahami berbeda juga?

Tentu saja, saya memahami, maksud dari MM, tapi karena kejanggalan kata ganti, yang seakan tidak logis itu, jika nafs wahidah ditafsirkan sebagai laki-laki, maka saya pun memberikan pendapat yang berbeda dari cara penafsiran MM. “Saya memahaminya dari tata bahasa yg sangat sederhana. Prinsip saya, bahasa Quran itu spesifik dan saling berkorelasi satu dgn lainnya.

Pada Q. 7:189, penafsirannya seperti ini:
  1. Insan dari nafs wahidah (N).
  2. Zawj (Z) diciptakan dari N.
  3. Agar Z yaskun ila–menetap ke, N.
  4. Maka, ketika Z tagasyya–membuahi, N.
  5. N hamil
Hal serupa juga berlaku pada Q. 4:1 yg bahkan lebih mudah untuk dimengerti. Tidak ada kaidah kebahasaan yg dilanggar di sini, muannats tetap muannats, dan mudzakkar tetap mudzakkar.

Mengenai kebiasaan memanggil sesuatu dgn perempuan–feminin, saya kira itu ideologis. Dalam bahasa Inggris misalnya, kapal, bumi, dan semua yg berbentuk masif atau sangat banyak selalu disebut sebagai perempuan. Dalam bahasa Arab, matahari itu perempuan, sedang bulan laki-laki.

Tafsir itu berkembang sesuai zaman. Hanya teks yg tidak berubah. Dan Al-Quran memiliki kelenturan yg luar biasa, karena mampu mengadaptasi pemikiran yang benar-benar berbeda tanpa merombak teks.”

Tampaknya, model penalaran saya memiliki fondasi logika yang kuat, sehingga MM melanjutkan diskusi kepada case study yang lain. Ia pun berusaha menggunakan teori saya dalam menerangkan ayat tentang nafs dibagian lain dari Al-Quran. “Bagaimana dengan Q. 30:21?” tanyanya.

“...khalaqa laKUM min anfusiKUM azwajan, liTaskunUU ilaihaa, wa ja'ala bainaKUM mawaddatan...

Kum–kata ganti orang kedua maskulin, pertama dan kedua kembali kepada siapa? Waw–jamak kembali kpd siapa? Dan kum ketiga kembali kepada siapa? Tata bahasa Arab tdklah sesederhana yg ada dalam Al-Nahwu al-Wadhih.

Anyhow, senang bisa membaca pikiran sampean. Saya sendiri lebih suka memahami ayat seperti dipahami saat ia diturunkan, lalu mengambil pesan yg diusungnya. Kerangka ayat itu sendiri bisa jadi tdk kita butuhkan. Coz, apa pun yg dikatakan oleh sebuah ayat, baik mitos maupun teori ilmiah, semua itu digunakan untuk menyampaikan sebuah pesan, bukan semata-mata untuk membuktikan kebenaran mitos atau teori ilmiah itu sendiri. Dan mitos atau teori ilmiah yg digunakan tidak lepas dari apa yang berkembang & diyakini oleh komunitas di mana ayat tersebut diturunkan.”

Kembali saya tutup diskusi menarik ini dengan pernyataan mengenai sifat pengetahuan yang ada saat ini, dan bagaimana kita memperlakukan sebuah episteme. “Sifat pengetahuan masa kita jauh berbeda dari masa Rasul. Kebenaran yg ada terbatas dan temporal. Jadi semua yg saya kemukakan hanyalah hipotesis belaka. Ia ada untuk memberikan pemahaman atas sesuatu dalam kerangka logis epistemik. Tidak lebih dari itu. Kalau dia persisten, mungkin nilainya dapat naik menjadi level teori. Tapi kalau tidak, tentu akan ada banyak perbaikan seputar metodologi, dan sudut pandang.”

After Match
Delapan hari kemudian, HH kedua muncul kembali dengan komentar baru di thread yang sama. Katanya, “Akhi, saya setuju dengan akhuna MM, nafs dalam ayat itu bukan berarti perempuan yang satu, tapi karena kata nafs memang bersifat muannats; sama seperti syams–matahari, maka biarpun bentuk katanya mudzakkar, tapi karakternya muannats.

Kalaupun benar bahwa Adam dan Isa itu lahir tanpa ayah, pertanyaan fundamental saya, bagaimana cara Allah menciptakan ibu pertama yang melahirkan Adam itu? Keluar dari guci? Nongol tiba-tiba dari balik pohon? Maaf, creatio ex nihilo tidak pernah masuk dalam logika saya…selamanya!”

Ah, ternyata untuk sebuah perkara yang semestinya mendasar ini, banyak sekali persimpangan pendapat, dan paham yang ada. Dan ternyata iman bukanlah sesuatu yang built in. Dan seperti inilah tantangan agama di abad 21. Klaim-klaimnya bukan lagi yang paling benar, dan harus rela berbagi dengan otoritas lain, macam ilmu atau mungkin juga filsafat. Dan begitulah, mungkin seorang ulama dikemudian hari juga harus mumpuni berbagai macam ilmu pengetahuan, selain tentunya menguasai bahasa Al-Quran.

Selang beberapa menit kemudian saya pun menjawab, pertanyaan HH secara ilustratif. “itu jauh lebih mudah menjawabnya. Bukankah para hominid telah ada. Bisa saja ibu yang melahirkan itu salah satu dari manusia purba. Dan anak yang dilahirkan ibu tadi memiliki karakter biologis yang lebih maju dan revolusioner daripada inangnya. Tapi, seperti yang dikemukakan oleh MM, pendapat saya ini sangat spekulatif, walaupun kebalikannya juga sama-sama spekulatif pula. Dan ayat tentang nafs itu adalah ambigu–mutasyabihat, jadi tidak ada jaminan tafsir atasnya valid.”

Wa Allah A'lam bi al-shawwab.

Al-Quran dan Perempuan Pertama (1)

Terkadang, media jejaring sosial macam Facebook, dapat digunakan sebagai wadah diskusi on line yang sangat menarik. Saya sudah beberapa kali bereksperimentasi, baik di wall saya sendiri maupun wall orang lain, berkenaan dengan hal tersebut. Dan hasilnya, entah pahit ataupun manis, memberikan kesan yang dalam daripada sekedar “pamer” kondisi belaka. Kali ini, saya akan memaparkan transkrip diskusi yang kebetulan terjadi di wall saya berkaitan dengan “mitologi” mengenai asal muasal wanita pertama, atau biasa dipanggil dengan Hawwa dalam tradisi Islam. Diskusi ini diikuti sekitar delapan orang, tiga hanya memberikan pernyataan suka dengan status yang saya buat, dengan demikian kedudukan mereka hanya sebagai pemirsa saja, sedangkan tiga orang lainnya, meski ikut memberikan komentar, namun tidak aktif dalam diskusi. Adapun dua tokoh utama dalam diskusi tersebut adalah saya sendiri dan seorang sarjana muslim berbakat lulusan universitas Al-Azhar, Kairo. Agar lebih fokus kepada jalannya diskusi, maka saya hanya akan menampilkan inisial nama-nama pemberi komentar saja. Berikut transkrip yang ada.

Semuanya berawal dari pernyataan provokatif di status saya. Di sana saya menulis bahwa, “Perasaan tidak ada ayat Al-Quran yg menyatakan perempuan berasal dari rusuk laki2. Satu2nya referensi tentang hal ini berasal dari Perjanjian Lama, Genesis 2:21.”

Rupanya, pernyataan tersebut mengundang beberapa teman saya untuk memberi komentar. Orang pertama yang langsung menyanggah pernyataan tersebut adalah MM yang menjadi eksponen utama dalam perdebatan dengan saya sepanjang tema ini. Menurut MM, pendapat bahwa perempuan berasal dari tulang rusuk laki-laki memang tidak ada dalam Al-Quran, melainkan di hadits. Ia pun mengutip sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim:

استوصوا بالنساء خيرا فإن المرأة خلقت من ضلع أعوج وإن أعوج ما في الضلع أعلاه

Hadits tersebut, jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, kira-kira berbunyi, “Berbicaralah kepada perempuan dengan baik, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Maka jika dibengkokkan lagi tulang rusuk tersebut, maka ia akan patah.” diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.


Metodologi dan Cara Pandang
Menanggapi hadits ini, saya pun menjawab bahwa:  “saya ragu dengan keaslian hadits itu. Pertama, karena kebenarannya tidak dapat di tashdiq dgn worldview Al-Quran. Padahal ucapan Nabi selalu berkolerasi dgn ayat Al-Quran. Kedua, karena pemikiran ini telah tersebar luas dan menjadi kepercayaan umum di Levant, syam, Syiria, Palestina, yg telah menjadi pusat Yahudi dan Kristen pra-Islam. Ketiga, kalaupun hadits itu benar dari Nabi, maka ia tidak memiliki konsekuensi teologis apa2. Itu hanya pemikiran beliau semata yg tidak ada hubungannya dengan wahyu.”

MM pun mengemukakan pendapatnya soal tanggapan saya tersebut, sambil berusaha mempertahankan keaslian hadits tadi. Ia menulis

  1.  “Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Di kalangan muslim Sunni, sebuah hadits dianggap sangat sahih kalau diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

  1. 2.      bahwa muatan hadits ini sudah dikenal dalam tradisi agama-agama sebelumnya, itu tidak ada hubungannya dengan ke-sahihan, validitas,  hadits. Islam kan tidak menghapuskan segala hal dari agama2 terdahulu, tapi mengambil sebagian, meluruskan sebagian yang lain, dan mendatangkan hal-hal baru yang belum pernah ada.

  1. 3.      Bagi saya hadis ini adalah sebuah kiasan yang sangat indah. Kalau dipahami dengan cara yang baik, ia akan melahirkan sikap yang sangat baik pula terhadap kaum perempuan. Tapi memang teks agama itu seperti pisau tajam; bisa untuk membunuh orang lain atau membunuh diri sendiri, bisa untuk mengerjakan hal-hal baik, dan bisa juga disimpan di lemari kalau tidak dibutuhkan.”
Atas tanggapan tersebut, saya kemudian menyampaikan kritik terhadap metodologi periwayatan sebuah hadits . “Kadang nama besar bisa menyesatkan. Salah satu kelemahan sistem isnad, ia hanya bergantung kepada kredibilitas sang periwayat. Padahal yg hendak dibuktikan adalah kebenaran sebuah perkataan, bukan pribadi seseorang. Ambil contoh, A si pembohong, suatu ketika melihat pasukan musuh hendak datang menyerbu. A pun mengabarkan penglihatannya kepada masyarakat kota. Tapi karena ia telah dikenal sebagai pembohong, maka tidak ada yg mempercayainya. Sejam kemudian, pasukan musuh datang dan menghancurkan kota tersebut. Hanya A dan orang2 yg percaya padanya yg selamat, karena 30 menit sebelumnya telah lari keluar kota menyelamatkan diri. Analogi A ini bisa juga dibalik, dengan kasus seorang yg baik dan jujur, tapi salah dalam memberikan sebuah penilaian.

Jadi, bagaimana memverifikasi soal ini? Jawaban yg pas, mestinya kembali kepada analisis teks Al-Quran. Apa posisi sebuah riwayat dimata Al-Quran? Apakah ia berfungsi sebagai penjelas, tafsir, atau implikasi logis dari ayat2 yg berkaitan. Jika posisinya jelas, maka dapat dibilang bahwa ia sesuai dgn worldview Al-Quran. Tapi jika tidak, maka antara bertentangan dgnnya, atau tidak berhubungan sama sekali.

Mengenai hadits tadi, adakah hadits lain, atau ayat Al-Quran yg mendukung klaim dan konsekuensi logis yg mungkin ada?”

Sepertinya MM berniat menjawab tantangan saya berkenaan dengan ayat Al-Quran yang menyokong kebenaran hadits tersebut. Ia pun menjawab dengan humor ringan bahwa pendapat saya ini dapat menyebabkan saya dituduh sebagai anti hadits. Dan ia menerangkan bahwa, “Dalam Al-Quran ada ayat membolehkan poligami (4:3) dan ayat yang memberi perempuan setengah warisan laki-laki (4:11). Ada juga ayat2 perbudakan yang mengizinkan laki2 untuk menyetubuhi budak2 perempuannya, berapa pun banyaknya. Menurut sampean ayat2 ini bertentangan dengan worldview Al-Quran ga? Kalo ya, berarti kita juga perlu meragukan kebenarannya karena bertentangan dengan worldviewnya sendiri.

Kalo menurut saya, teks-teks ini muncul karena kondisi sosio-kultural saat itu mengizinkan atau bahkan mengharuskannya untuk muncul. Jadi kita tidak bisa membenturkannya dengan worldview Al-Quran untuk menverifikasi kebenarannya. Biarlah verifikasi teks tetap menggunakan metode yang sudah ada. Tinggal bagaimana kita memahami muatan teks2 tersebut; pertama, sesuai dengan sosio-kultural saat itu, dan kedua, sesuai dengan kondisi kekinian kita.

Di mata saya, hadis di atas tak lebih berisi anjuran kepada kaum laki2 agar memperlakukan perempuan dengan baik dan lembut. Ibarat memperlakukan tulang yang bengkok. Kita harus meluruskannya, tapi tidak boleh mematahkannya. Serba salah memang, tapi itulah tantangan laki2. Kalau kita meluruskannya dengan cara paksa, maka ia akan patah. Tapi kalo kita biarkan saja, maka ia akan tetap bengkok. Begitu disebutkan dalam kelanjutan hadis ini.

Bagi yang sudah menikah dan memiliki istri yang cengeng, rewel, ingin ini itu, gampang cemburuan, suka ngiri sama tetangga, dll. tentu tidaklah sulit memahami hadis ini.”

Di tengah perdebatan, sesosok Kelinci masuk meramaikan suasana. Ia berkata, “Gua juga pernah baca hadits itu. Dan sempat heran kalau Bukhari-Muslim yg ngriwayatin. Solusi teologis MM bisa diterima. Analisis teks Al-Quran untuk mengkonfirmasi kebenaran hadits amat spekulatif. Metode isnad –metode penyampaian sebuah teks hadits, memperkecil ruang penyelewengan. Tidak heran hadits yg sampai ke generasi kita amat sedikit. Ilmu hadis adalah cabang ilmu yang paling mapan meski masih mungkin dilakukan kritik hadist terhadap generasi paska Bukhari cs. Contohnya, tante gua nulis disertasi bahwa banyak masalah dalam metode Al-Albani. Nah, konskuensi teologisnya terhadap mazhab Wahabi amat besar”.

Berkenaan dengan hal ini, saya pun menjawab, “Apa hubungan antara tulang rusuk dgn poligami dan hukum waris? Yg satu bicara tentang etika, sedang lainnya tentang ontologi, yakni bagaimana perempuan pertama ada. Bahkan kalaupun sifat perempuan seperti tulang rusuk, bukan berarti ia memang berasal dari tulang rusuk bukan.

Tentang kebenaran klaim hadits ini, saya kira tidak jauh beda dgn kata2 mutiara. Coba, apakah nilai kebenaran hadits tadi sama atau lebih tinggi dari adagium man jadda wajada, atau man shabara zhafira. Kita mencari pembenaran dari teks, dan mendeduksi kebenaran darinya.

Anti hadits? Enggaklah. Memangnya Al-Quran mengajarkan cara shalat. Ini semua, tentang bagaimana kita memahami sebuah naskah keagamaan. Lagi yg benar2 dipelihara Tuhan dari kesalahan cuma Al-Quran, bukan yg lain.”

“Kelinci, makanya saya memberi sebuah clue dgn ayat Perjanjian Lama di atas. Jadi, kalaupun hadits tadi benar, maka ia hanya mengkonfirmasi kebenaran Perjanjian Lama, tapi kebenarannya tidak dikonfirmasi sama sekali oleh Al-Quran.

Analisis logis tidak spekulatif. Kecuali memang ada pembuktian yg benar2 valid. Coba bandingkan dengan definisi halal, haram, sunnah, mandub dalam ushul fiqh, yg jauh lebih sulit untuk dirumuskan.”


Analisis Teks
Pendapat saya kembali mengundang perdebatan yang lebih seru. Kali ini, diskusi mulai mengarah kepada analisis teks hadits yang bersangkutan. Sementara MM menerima kebenaran hadits tersebut sambil menafsirkannya sebagai alegori, maka saya mamandangnya dalam kacamata literal yang tentunya tidak memiliki kaitan dengan satupun ayat Al-Quran. Maka MM pun membuka pembicaraan dengan pernyataan bahwa, “Hadits ini jg soal etika, mas. Ga ada hubungannya dg ontologi. Ga ada hubungannya dengan asal usul perempuan. Ini hanya kiasan, majaz. Majaz adalah sesuatu yang biasa dalam teks-teks agama. Cuma memang penganut agama sering salah memahaminya dan terjebak dlm makna tekstualnya.”

Agar mendapat perbandingan yang pas, dengan denotasi dari hadits tadi, maka saya pun memaparkan kutipan dari Perjanjian Lama yang memiliki makna yang serupa dengan hadits tadi. “Makna tekstual, maksudnya makna lahiriah? Bukankah itu sudah ada dalam Perjanjian Lama. "Maka didatangkan Tuhan atas Adam itu tidur yg lelap, lalu ia tertidur. Maka diambil Tuhan sebilah tulang rusuknya, lalu ditutupkan-Nya pula tempat itu dgn daging. Maka dari pada tulang yg telah dikeluarkan-Nya dari Adam itu diperbuat Tuhan seorang perempuan, lalu dibawa-Nya akan dia kepada Adam."

Ayat di atas, jelas proposisi ontologis. Sekarang bandingkan dgn hadits tadi yg merupakan proposisi etis. Jika kita bertanya, alasan sebuah tindakan etis, maka jawabnya adalah proposisi ontologis. Kalau kita menganggap yg ontologis itu perumpamaan, maka alasan apa yg digunakan untuk membenarkan sebuah tindakan etis? Bukankah itu jauh spekulatif? Tidak ada yg dibuktikan oleh hadits tadi, kecuali proposisi ontologis Perjanjian Lama. Dengan kata lain, ia tidak berbicara mengenai perempuan dalam konteks Al-Quran, tapi menggunakan kacamata Genesis.”
Menanggapi jawaban saya, MM menggerutu. “Dalam kaca mata filsafat, perkara yg mudah kok jadi ruwet gini ya, hehe...

Bagi saya, inti hadis ini ada pada kalimat pertamanya, "Perlakukanlah perempuan dg baik." Kalimat ini diulang lg diakhir hadis setelah Nabi mengkiyaskan perempuan dg tulang rusuk yg bengkok itu. Jadi kenapa kita mmperdebatkan tulang rusuknya, kayak Bani Isaril aja, hehe...”

Saya kemudian mencoba menjelaskan kerumitan makna ini dengan analisis semiotik ala Barthes. “Hahaha... Kenapa tidak mengiaskan dgn ranting pohon, busur panah, atau tongkat toya? Coba klausul kedua diganti: perlakukan perempuan dgn baik, karena mereka seperti busur panah/ ranting/ tongkat, kira2 proposisi itu bermakna ataukah tidak? Ia bermakna karena mengingatkan kita dgn mitos yg semestinya tidak ada. Kalau dalam semiotik dinamakan, penjangkaran, anchoring. Masalahnya, jangkar dalam hadits tadi salah tempat dan itu baru dapat disadari lewat sejumlah analisis yg rumit. :)”

Dan MM menyambung dengan pandangan tentang posisi Perjanjian Lama dalam kacamata Al-Quran. “Sy kira anchornya ga salah tempat, mas. Coz, mitos itu dikenal oleh Nabi & para sahabatnya, meski mereka ga pernah baca Genesis atau kitab lainnya. Generasi pertama Islam mengenal yg namanya Israiliyat, yaitu kisah-kisah yg bersumber dari Bani Israil yg dituturkan secara verbal. Oleh Islam, Israiliyat ini sebagian ditolak dan dianggap telah diselewengkan–di-tahrif. Contohnya, kisah Isa anak Tuhan, penyaliban Isa, dll. Sebagian lagi diafirmasi & diadopsi dalam Al-Quran & Al-Hadits. Ingat, dua per tiga Al-Quran berisi kisah2 yg semua ada dalam Bible. Dan sebagian yang lain lagi didiamkan, tidak disalahkan dan tidak juga dibenarkan.

Jadi mitos tulang rusuk itu dikenal. Hanya saja, yang diafirmasi Al-Quran adalah bahwa Hawwa diciptakan dari sebagian dari (tubuh) Adam. Terserah mo dipahami secara hakiki atau majazi. Bagi saya semua majazi, krn Tuhan gak perlu bahan untuk menciptakan makhluk-Nya, hehe...”

Al-Quran dan Judaica
Komentar MM membuat saya teringat dengan penelitian saya terhadap kisah para Nabi dalam tradisi Islam dan Judeo-Kristen. Di sini, saya menyampaikan sejumlah case study berkenaan dengan perbedaan sudut pandang antara Islam dan tradisi Judeo-Kristen soal karakter para nabi dan rasul. “Cerita Biblikal memang menempati posisi yg besar dalam Al-Quran, tapi bukan berarti kandungannya sama atau serupa. Bible misalnya berbicara tentang Nuh dan Luth, tapi karakter 2 tokoh tersebut dalam Al-Quran dan Bible, saling bertolak belakang. Quran tidak pernah menyebut nama2 perempuan, kecuali Maryam. Pada kasus penyembelihan, Quran juga tidak menyebut siapa nama anak Ibrahim yg dikorbankan, tanya kenapa? Dua kitab ini sama2 berbicara tentang beberapa kejadian, tapi dgn worldview yg benar2 berbeda, sehingga memiliki konsekuensi logis yg berbeda pula.

I wonder, bagaimana jika kisah tulang rusuk Adam itu bagian dari tahrif, apa kita harus memaknai secara majazi?

Tentang Isa, itu bukan termasuk Israiliyat.”

Dan kembali terjadi perbedaan sudut pandang soal definisi Israiliyat. Menurut MM, “Israiliyat mencakup semua kisah yg bersumber dr Bani Israil, termasuk kisah Isa karena dia bagian dari Bani Israil. Dan seperti yang saya katakan, sikap Islam (Al-Quran & Al-Hadis) terhadap Israiliyat ada tiga. (1) Membenarkan. Kadang cuma garis besarnya saja yg dibenarkan, tapi detil-detilnya dikoreksi karena sudah dirubah oleh Bani Israil. (2) Menolak, kadang secara keseluruhan & kadang detil-detilnya saja. (3) Mendiamkan, tidak menerima & tidak menolak.

Menurut saya, mitos tulang rusuk itu termasuk yg dibenarkan secara garis besar, bukan cuma dlm hadis di atas tapi juga dalam Al-Quran, Q. 4:1. Sementara detil-detilnya seperti yg ada dalam Bible tidak dikomentari. Kenapa? Karena tidak dibutuhkan. Al-Quran menggunakan mitos sebagai alat untuk menyampaikan pesan, bkn semata-semata untuk membuktikan kebenaran atau kesalahan mitos tsb.

Jadi, tidak ada yang mengherankan bahwa Nabi mengiyaskan perempuan dengan tulang rusuk. Dan hadits ini sama sekali tidak bertentangan dengan worldview Al-Quran. Setidaknya itu menurut saya.

It was very nice talking 2 u :) Hope meet u again sometime. Best regard 4 Kelinci Alice yg entah udah lari kemana, hehe...”

Dan diskusi bagian pertama pun saya tutup, “Yeah, nice too. Even if I have different point of view on both matters.

Al-Quran dan Perbudakan

Ada yang bertanya, bagaimanakah kiranya pandangan Islam terhadap perbudakan? Pertama kali mendengar pertanyaan ini, tiba-tiba terbesit dalam pikiran saya, sebuah pertanyaan besar, kenapa gerangan orang tersebut bertanya tentang perbudakan. Bukankah pada saat ini, setidaknya saya pribadi, perbudakan telah lama ditinggalkan dan telah menjadi idiom abad kesembilan belas, dimana pasar budak terakhir di Kairo ditutup. Atau barangkali, yang dimaksud oleh si penanya adalah konsep perbudakan modern yang didefinisikan oleh ILO, yakni woman trafficking, forced labour, sex slavery, yang memiliki konsep berbeda dari perbudakan kuno yang telah kita kenal. Tapi menganggap bahwa kita mengenal dengan jelas apa itu perbudakan, sama seperti mereka-reka fakta sejarah yang telah terhapus dari ingatan kita hampir 150 tahun yang lalu. Benar, kita mengerti penjajahan, para pekerja rodi zaman Jepang, dan berbagai bentuk penindasan yang menimpa TKW kita di luar negeri, namun pengertian itu bukanlah awal yang mudah untuk mengerti apa itu perbudakan, dan secara khusus, apa pandangan Islam tentang perbudakan.

Konsep Dasar
Saya pun mengawali pencarian ini dari term-term budak dan perbudakan yang terdapat dalam Al-Quran. Kata pertama yang muncul di benak saya adalah kata ‘abd, yang berarti budak atau hamba. Namun, makna kata ini terkadang berkelindan dengan posisi manusia di mata Tuhan, yang jamak dipanggil hamba pula. Memang terdapat beberapa ayat yang menggunakan kata ‘abd untuk budak manusia seperti dalam Q. 16:75, namun secara keseluruhan, ‘abd  jelas bukanlah kata yg dimaksud. Term selanjutnya, yang banyak ditemukan dalam Al-Quran, lima belas kali, adalah frase ma malakat aymanuku/  aymanuhum/ aymanuhunna/ yaminuka. Apabila diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia maka frase ini bermakna, orang-orang yang dimiliki tangan kananmu, atau mereka yang hak-haknya kita miliki. Kata selanjutnya yang juga penting bagi konsep budak dalam Al-Quran, adalah riqab, di Q. 9:60. Secara harfiah riqab bermakna punggung leher, atau lebih tepat orang-orang yang mengalami kesulitan yang berat, seakan-seakan kesulitan tersebut mencekik leher orang yg bersangkutan. Bagi banyak ulama, kata tersebut dapat diartikan sebagai budak, sedang alternatif lain adalah tawanan perang, atau mereka yang bernasib malang akibat memiliki hutang yang tidak sanggup ia bayar. Dua hal terakhir merupakan prasyarat perbudakan di masa lalu dan mungkin saat ini,  yakni perbudakan akibat perang dan hutang.

Selain ketiga term tadi, terdapat term lainnya yang sangat minor, semacam fatayat pada Q. 4:25, yang bermakna pelayan perempuan, atau pembantu perempuan dan posisinya setara dengan ma malakat aymanukum. Al-Quran juga menggunakan kata rajul yang berarti laki-laki pada Q. 16:76, untuk menyebut budak, dan ad’iyat yang lebih pas disebut anak adopsi pada Q. 33:4. Yang menarik, meskipun term untuk budak ini memiliki variasi kosa kata dan makna yang luas, akan tetapi kita tidak menemukan satupun frase “perbudakan”, ‘ubudiyyah atau riqq dalam Al-Quran.

Ekonomi Budak
Baiklah, mari kita mulai diskusi kita dengan konsep ma malakat ayman/ yamin. Secara umum konsep perbudakan sangat erat kaitannya dengan konsep perekonomian. Al-Quran mengakui bahwa kondisi sosial manusia antara satu dan lainnya berbeda. Beberapa ada yang dilebihkan dalam soal harta kekayaan, sedang lainnya ada yg kurang. Beberapa ada yang hidup sebagai orang bebas, sedang lainnya jatuh kedalam perbudakan. Agar ketimpangan ini berkurang, maka dianjurkan agar harta kekayaan tidak berputar diantara orang-orang kaya semata. Maka Tuhan pun mewajibkan orang-orang berpunya untuk ber-zakat kepada orang-orang terdekatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, serta mereka yang sedang dalam perjalanan. Selain zakat, juga ada shadaqat yang harus dikeluarkan bagi orang-orang faqir, miskin, mereka yang memungut shadaqat, orang yang baru masuk Islam, riqab, orang yang berhutang, mereka yang berjuang di jalan Allah, serta mereka yang dalam perjalanan. Dan sebagaimana zakat, maka shadaqat pun wajib, Q. 9:60. 

Orang-orang yang menjadi obyek zakat dan shadaqat tadi dapat didefinisikan sebagai golongan masyarakat marjinal. Mereka berada dalam himpitan ekonomi, dan sangat membutuhkan pertolongan dari golongan berpunya. Diluar kategori ini, terdapat kategori lain yang mestinya juga patut diperhatikan, tapi karena posisi mereka yang berada didalam rumah tangga orang-orang kaya, dan semestinya kehidupan meraka ada yang menanggung, maka konsep zakat dan shadaqat tidak dapat menjangkaunya. Kategori ini dinamakan sebagai ma malakat ayman/ yamin, atau biasa disebut sebagai budak.

Pada masa Islam, perbudakan adalah sebuah institusi sosial yang tidak bisa dihapuskan. Ia telah diterima secara luas sebagai fakta sosial, dimana ada orang-orang tertentu yang memasrahkan penghidupan dirinya kepada orang lain, entah secara sukarela maupun karena paksaan. Secara yuridis, kedudukan para budak sama seperti benda, dapat dimiliki, diperdagangkan, dan diwariskan, dan Islam pun sangat mendukung konsep kepemilikan individu. Tapi secara natural, para budak ini sama seperti tuan yang memilikinya. Mereka adalah manusia yang memiliki hati nurani dan pikiran. Maka, agar ketimpangan definitif ini teratasi dan agar konsep pemerataan rizqi dan harta kekayaan dapat menjangkau golongan budak tersebut, maka Al-Quran pun mengatur hubungan antara seorang budak dengan tuannya.

Setidaknya terdapat dua hak yang diatur Al-Quran atas diri seorang budak, yakni hak legal dan seksual. Tentang hak legal, Al-Quran memberikan kewajiban atas para pemilik budak untuk memperlakukan budak mereka dengan baik, memberikan sebagian rizqi dan harta yang dimiliki kepada mereka, serta memperkenankan transaksi kebebasan jika si pemilik tahu bahwa kebebasan lebih baik bagi mereka. Adapun hak seksual, maka seorang pemilik budak dipernankan untuk menyalurkan keinginan seksual mereka terhadap budak yang mereka miliki—tentu saja selama dalam koridor heteroseksualitas, Q. 23:5-6. Hubungan seksual antara seorang tuan dan budaknya ini tidaklah dikategorikan sebagai tindakan zina, melainkan kedudukannya sama seperti dalam pernikahan. Nabi sendiri melakukan hubungan seksual dengan seorang budak perempuannya yang bernama Maria Qibthiyyah, dan yang bersangkutan dikemudian hari juga diberi gelar sebagai umm al-mu’minin.

Meskipun seorang tuan diperkenankan untuk melakukan hubungan seksual dengan budaknya, bukan berarti eksploitasi seksual atas budak wanita diperkanankan. Al-Quran bahkan melarang seorang pemilik budak untuk melacurkan budak wanitanya.  Dalam surat 24:32-33 Al-Quran memberikan gambaran yang jelas mengenai situasi ini sekaligus posisi Al-Quran dalam memandang institusi pernikahan.

Dan nikahkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.
Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian (kebebasan), hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu. Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu.(Q. 24:32-33)
Al-Quran dan Pembebasan Budak
Sangat menarik, ternyata tidak ada ayat Al-Quran yang menyuruh kita untuk membebaskan ma malakat ayman/ yamin. Sebaliknya, jika ada inisiatif diantara budak dari jenis ini yang ingin memerdekakan diri, maka mereka diperkenankan untuk mengajukan kontrak perjanjian kebebasan dengan tuannya. Isi dari kontrak tersebut sangatlah beragam, dan amat tergantung kepada kompromi kedua belah pihak. Diluar kategori ma malakat ayman/ yamin, konsep pembebasan budak sangat terkait erat dengan riqab.

Sebagaimana tersebut di awal artikel, kata riqab biasanya merujuk kepada orang-orang yang diperkirakan akan jatuh ke lembah perbudakan, atau budak-budak baru dari tawanan perang dan akibat hutang yang sebelumnya adalah orang-orang yang bebas. Orang jenis ini tentunya sangat menderita, karena belum terbiasa dengan konsep ekonomi perbudakan. Oleh karena itu, riqab menjadi salah satu kelompok yang berhak menerima zakat dan shadaqah. Selain itu, berbeda dengan ma malakat ayman/ yamin, inisiatif pembebasan riqab dapat datang dari luar, bukan dirinya sendiri. Al-Quran bahkan mengkategorikan usaha pembebasan riqab (fakk raqabah) sebagai salah satu perbuatan yang teramat sukar untuk dikerjakan, sama seperti memberi makan kerabat yang yatim dan orang-orang yang teramat miskin  pada saat kelaparan, Q. 90:13-16.

Karena kadar kesusahan dalam pembebasan riqab, maka Al-Quran menjadikan usaha pembebasan mereka sebagai denda bagi mereka yang enggan memberi nafkah batin dan menggauli istrinya, zhihar, Q. 58:3; mereka yang melanggar sumpah, Q. 5:89; dan sebagai hukuman karena telah membunuh seorang muslim, Q. 4:92.

Implikasi Zaman Modern
Dari konsep pembebasan budak di atas, kita mungkin bertanya, kenapa Al-Quran membedakan antara cara pembebasan ma malakat ayman/ yamin dengan riqab? Di sini, penulis berspekulasi, bahwa ma malakat ayman/ yamin sejatinya adalah orang-orang yang terlahir secara natural sebagai budak. Dalam kacamata modern, pendapat ini tentu saja janggal, tapi coba bayangkan dua ribu tahun yang lalu, saat perbudakan telah menjadi sebuah institusi sosial. Karena terbiasa hidup dari orang lain, para budak natural ini kadang kehilangan kemampuan untuk dapat hidup dengan mandiri di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, satu-satunya solusi bagi kemanusiaan mereka adalah anjuran Tuhan untuk memperlakukan mereka dengan baik sebagaimana penulis ketengahkan di awal tulisan ini.

Berbeda dari ma malakat ayman/ yamin, maka riqab bukanlah budak secara natural. Dan karena mereka tidak terbiasa menjadi budak, maka orang-orang jenis inilah yang dianjurkan untuk dibebaskan oleh agama. Di masa kini, ketika perbudakan telah dihapus secara global, bisa dipastikan bahwa budak dari jenis ma malakat ayman/ yamin, sudah tidak ada lagi. Namun demikian, bukan berarti anjuran untuk membebaskan budak sudah selesai. Para korban trafficking, sex slavery, serta forced labour, yang dibayar sangat rendah, bisa dikategorikan sebagai riqab. Mereka semestinya berhak atas zakat dan shadaqah. Dan karena mereka bukan budak dalam kategori ma malakat ayman/ yamin, maka mestinya tuan mereka tidak lagi berhak atas tubuh mereka.

Wa Allah A'lam bi al-shawwab.