Robohnya Masjid Kami

Saya punya kebiasaan khusus untuk mencatat mimpi-mimpi tertentu yang saya anggap penting dalam hidup saya. Beberapa tahun yang lalu, saat sedang depresi ringan, tak terhitung sejumlah mimpi-mimpi aneh yang saya alami dan kemudian saya catat dan saya coba untuk pahami. Beberapa memang dalam bentuk metaphor yang kadang tidak masuk akal lainnya dalam bentuk yang sederhana. Sangat sederhana, hingga saya tidak yakin apakah penafsiran saya tentangnya mencukupi ataukah tidak.

Tentu ada banyak cara menafsirkan mimpi-mimpi yang kita alami. Kita bisa saja membeli buku tafsir mimpi yang sering dijual di toko buku atau dijajakan diemperan jalan, membaca isinya dan? Well, saya malah berpendapat kok tafsirnya tidak logis? Mimpi digigit ular misalnya, sering diartikan sebagai mimpi bakal bertemu jodoh. Tapi bagi orang yang sadar dalam mimpinya, tentu saja ia tidak akan membiarkan dirinya digigit ular bukan. Setidaknya, dia akan mengambil sapu, tongkat atau benda-benda lain yang bisa digunakan sebagai pertahanan diri untuk mencegah ular tadi agar tidak menggigitnya. Cara lain yang lebih efektif adalah berlari menjauh dari ular tersebut. Intinya, tidak ada yang mau digigit ular bahkan kalaupun tahu bahwa ternyata ular itu adalah jodohnya.

Cara lain yang biasa digunakan untuk menafsirkan mimpi adalah menggunakan metode psikologis. Embah psikologi, Freud bahkan menulis sebuah buku khusus tentang mimpi, The Interpretation of Dream. Tentu kita akan menemukan jejak pemikiran Freud dalam cara ia menafsirkan mimpi yang melulu soal seksualitas dan represi. Sebagai contoh, ketika kita bermimpi memegang balon, Freud menafsirkannya sebagai mimpi hendak memegang -maaf- payudara. Baginya, semua impuls dan gejolak pemikiran seseorang sesungguhnya tidak pernah terlepas dari Id, libido dan seks. Namun, yang menarik dari metode penafsiran mimpi ala Freud ini adalah ia bersifat logis, memiliki dasar pemikiran yang jelas dan runut sehingga kita bisa melacak sejauh mana kebenaran hipotesis tafsir mimpi yang kita artikan.

Beruntung, studi terhadap mimpi cukup banyak. Beberapa lembaga atau individu yang tertarik akan urusan ini pun telah banyak mendokumentasikan hasil penelitian mereka. Baik yang masih bersifat pseudo scientific hingga yang benar-benar rigid dan tidak punya nilai apa-apa selain angka-angka statistik dan hipotesis yang telah usang. Bila tertarik, mungkin bisa mengunjungi situs http://www.dreammoods.com. Di sana terdapat sebuah forum diskusi sekaligus dokumentasi berbagai macam mimpi berikut tafsirnya, serta sebuah kamus mimpi online.

Tentu saja, kita tidak bisa percaya hasil kerja mereka seratus persen. Mimpi kadang terlalu bersifat umum sehingga semua orang bisa memahaminya. Kadang juga bersifat kultural, agama, tingkat pendidikan sesorang hingga personal. Intinya, hanya orang yang mengalami mimpi saja yang bisa mengerti mimpi itu dengan sejelas-jelasnya. Adapun orang lain hanya berfungsi sebagai fasilitator dan pemberi jalan agar si 'pemimpi' ini lebih terbuka terhadap terhadap pemahamannya sendiri.

Ambil contoh, mimpi yang saya alami seminggu sebelum saya berpisah dengan pacar saya. Isinya bahkan berkaitan dengan Hari Raya Kurban. Tatkala harus memilih domba mana yang harus saya sembelih, tentu saya akan memilih domba yang gemuk. Tapi begitu dikurbankan, domba itu malah berubah wujud menjadi sosok mantan pacar saya itu Tentu saja saya sangat terkejut, meskipun dalam hati kecil saya paham, bahwa mimpi ini merupakan sebuah isyarat perpisahan. Tentang bagaimana bentuk hubungan antara kami berdua, saya kira hanya saya dan dia saja yang mengetahuinya dan tentu saja itu bukan untuk konsumsi umum.

Tapi bagi orang lain yang mengerti, tentu akan muncul pemikiran yang jelas. Bisa saja orang ini jauh lebih luas pengetahuannya daripada saya, sehingga bisa memahami mimpi lebih dalam daripada pemahaman saya tentang mimpi tersebut. Di sini, akhirnya saya menyadari, bahwa membaca mimpi itu mirip sekali dengan mempelajari semiotika, ilmu tentang tanda. Semuanya terdiri dari sign, signifier dan signification seperti kata Saussure. Sama ketika kita membaca isyarat-isyarat samar diantara para calo. Tidak ada yang mau mengakui adanya isyarat tersebut, meskipun ia ada. Dan karena itulah justru keberadaannya menjadi ada dan mencurigakan. Yang berbeda, mimpi adalah sebuah sistem pemikiran tertutup yang beroperasi berdasarkan pengalaman pribadi kita, entah disadari ataupun tidak.

Kebetulan, pagi ini, setelah shalat shubuh, saya mengalami mimpi yang menarik. Saya pergi ke sebuah daerah yang menurut saya dikuasai oleh orang-orang yang rusak moralya. Beberapa bahkan mengendarai sepeda motor sambil bertelanjang badan. Saya pun berhenti di sebuah masjid yang berada di dalam lingkungan pesantren. Suasana di sini amat berbeda, semua orang berpakaian putih dan hanya sibuk mengaji. Ketika waktu shalat tiba, terjadilah gempa. Anehnya, orang-orang ini menganggap itu hanyalah gempa biasa. Mereka melanjutkan kegiatan mereka tanpa terusik apa-apa. Saya yang merasa ada yang tidak benar dengan tiang-tiang masjid yang mulai limbung berusaha sesegera mungkin keluar dari masjid dua lantai tersebut. Benar saja, masjid itu langsung roboh begitu saya sudah berada di halaman terbuka.

Di sebelah masjid yang roboh ini, ada sebuah masjid lagi. Jamaah masjid ini jauh lebih kacau dari jamaah masjid yang roboh tadi. Pakaian mereka tidak seragam, banyak yang malah bercanda ketika shalat, lantainya teramat kotor dan bahkan imamnya tidak benar cara shalatnya. Saya sengaja pergi ke masjid yang masih berdiri ini mengabarkan kejadian di masjid sebelahnya, karena saya tengah dalam perjalanan dan tidak memiliki waktu atau tenaga untuk menolong korban yang berjatuhan di masjid yang roboh. Ternyata mereka tidak tanggap merespon. Ketika waktu shalat tiba, baru dua mayat, laki-laki dan perempuan yang dibawa ke masjid untuk dishalatkan. Itupun, dengan cara shalat jenazah yang aneh dan tidak benar.

Saat bangun, tiba-tiba saya teringat cerpen A.A. Navis berjudul Robohnya Surau Kami. Isi cerpen ini tentang seorang Haji yang tidak peduli dengan masyarakatnya lagi. Ia hanya mengejar akherat untuk dirinya sendiri. Alhasil, ketika kiamat ia malah ditegur malaikat atas pilihannya tersebut. Ah, apa mungkin saya adalah Haji itu? Atau mungkin saya disindir karena sikap apatis saya dan sikap saya yang tidak berdaya memperbaiki sesuatu yang seharusnya tanggung jawab saya? Entahlah, apapun itu, setidaknya mimpi ini memberi saya inspirasi untuk lebih responsif dan bertanggung jawab.

Ma baqiya min l-nubuwwah illa l-hilm l-shalih, tidak ada yang tersisa dari kenabian /wahyu selain mimpi yang benar/ shalih/ relevan – hadist.

Senja

Terlalu jauh, terlalu jauh. Apa yang kau lakukan ketika semuanya terasa begitu jauh dari yang kau kira. Tentang mimpi-mimpi yang menyeret kita ke kegelapan malam yang pekat. Membutakan pandangan kita tentang arah yang mesti dituju. Kesanakah? Kekirikah? Aku bahkan tidak tahu mana bagian yang kiri dan yang kanan.

Semua tentang berlalunya waktu yang pongah untuk kita lalui. Dalam kecemburuan-kecemburuan yang tinggi. Tak pernah kulihat langit setinggi ini sebelumnya. Saat kutatap tiang bendera yang menusuknya begitu lunglai. Ia kehilangan ketinggian untuk menggapai samudera biru di atas sana. Atau kekerdilan yang kurasa saat ini, meratakan jiwaku bersama tanah yang ambruk ke haribaan bumi.

Terlalu jauhkah? Bukankah langkahku pelan menapak batas cakrawala yang kian lama kian hilang tertelan tembok langit. Dan diujung bumi ini, ketika deburan samudera mengarah ke bawah kaki-kakiku yang lunglai. Aku masih terus bertanya. Terlalu jauhkah untuk kutuju?

Apa sebenarnya yang kaupikirkan tentang kematian? Apakah itu sebuah lanjutan dari jalan tanpa ujung ini. Dan seandainya ku terjun ke bawah tebing curam di bawahku, karang dan ombak menelan melumpuhkan persendian-persendianku yang remuk oleh tarikan gravitasi. Menghanyutkan tubuh yang membusuk bersama air laut. Dan santapan-santapan sore yang terpermai bagi burung-burung laut dan kawanan ikan di samudera ini. Hilangkah aku?

Tapi hilang bukan berarti berhenti. Pernahkah kau tersesat hingga memilih lebih baik hancur daripada lelah menggerogoti sekujur tubuh. Seperti tertelan di hamparan pasir yang luas, saat terik menusuk dalam ke jeroan tubuh, entah kemana ku akan pergi. Bersama kalajengking dan sapuan ular derik atau duri-duri tanpa gairah yang siap melumat tubuhmu ketika malam bangun menutup siang. Sungguh ku tak tahu.

Maka kuberjalan dalam gelap ini. Gulita menyamar menghardik langkah yang tertatih. “Ah, kau salah. Bukankah itu kubangan bagi para pecundang?” tapi aku memang pecundang. Jadi tak apalah bila kutidur sebentar bersama mereka di sana. “Tapi tidur bukanlah pilihan yang baik. Karena sejak lama, tak pernah kulihat mereka bangun dan bergegas pergi”. Mungkin kau benar.

Tapi kemana? Saat Tuhan menghilang dari pandangan, bisakah kuberharap sesuatu yang seharusnya kuharapkan. Atau, haruskah kutunggu Dia menjemput, menghukum dan memarahiku laksana perempuan itu. Yang menarik tubuhku ke dalam pelukannya yang hangat dan membuangku mentah-mentah kala pagi menggigil memangsa tubuh telanjangku. Ah, keberingasan malam.

Adakah?

“Siapa?”

Tuhan.

“Tidak tahu”.

Itu Lagi*

Ah, cinta. Kalau tidak salah, sudah cukup lama semenjak peristiwa akhir tahun lalu saya tidak menulis lagi tentang cinta di blog ini. Bila dibandingkan saat itu, terus terang pengalaman sekitar hampir dua bulan ini merupakan anti tesis. Sekarang, saya benar-benar mengalami cinta dalam arti sesungguhnya. Bukan sebatas khayalan atau pendapat pribadi yang bertepuk sebelah tangan, tapi sebuah chemistry yang begitu melenakan dan melarikan saya dari kenyataan sehari-hari.

Awalnya, semua hanyalah harapan-harapan yang kupanjatkan di kala Ramadhan, dan ternyata Tuhan memberi jalan. Kami memulainya oleh suatu peristiwa kecil yang tak kuduga sama sekali. Hati kami bertaut melalui al-Quran. Entah apa ini sebuah rekayasa agama, penyelewengan atau apalah, (bahasa kerennya komodifikasi Hehehe...) tapi katanya ia tertarik padaku saat kusuruh ia membuka suatu bagian dari Kitab Suci tersebut. Dan sejak itulah, entah berapa puluh lembar voucher, berton-ton kata cinta, malam-malam benderang bagaikan siang, kami mulai berpacaran.

Ah, barangkali ini cerita cinta biasa. Dan kupikir juga demikian, tapi bagiku cinta itu tak pernah menjadi biasa. Ia selalu menjadi luar biasa, bahkan tanpa harus kutuliskan kisah itu menjadi sebuah novel, atau kemandekanku dalam menulis, kegilaan kami yang seakan tidak pernah ingin dipisahkan, cinta bagiku selalu menjadi prioritas pertama. Ia menyingkirkan kebutuhan-kebutuhan lain hingga tak sadar, ternyata kita hidup di bawah langit yang biru yang mengatakan: "Hey, cinta juga butuh makanan". Sungguh aku terlena, meskipun sadar, bahwa cinta juga butuh pulsa.

Maka sebagaimana suasana cinta itu yang datang begitu cepat, kami pun mulai bertengkar lebih cepat pula. Entah siapa dahulu yang memulai, barangkali sikapku yang susah dimengerti, atau keinginannya untuk bebas, kami bertengkar dan kemudian baikan lagi. Bertengkar lagi, kemudian baikan lagi dan bertengkar lagi kemudian baikan lagi. Ah, kenapa bisa begitu? Padahal hanya pacaran saja lho, enggak bakal terbayang bila dahulu saya teringat dengan keinginan menikah tanpa pacaran. Apa jadinya? (atau gimana ya rasanya orang yang berpacaran lebih dari 5 tahun tanpa putus) Ah, untung juga di penghujung dua puluhan ini aku diberi kesempatan untuk mengalami hal tersebut. Rasanya harus berpikir lebih jernih saja agar rasa "mabok" itu pergi. Tapi bila tidak dimabok cinta lagi, apakah masih tetap mencinta?

Dan begitulah, ternyata mempertahankan suatu hubungan jauh lebih sulit daripada memulainya. Tak ayal, banyak sekali cerita tentang perpisahan sebuah cinta yang begitu menyakitkan. Bila begitu, layakkah kita menyakiti orang yang kita cintai entah untuk alasan apapun, bila yang kita inginkan adalah sebuah keutuhan. Ah cinta, semoga Tuhan masih mempercayakan kata itu padaku.


P.S.
*mengikuti lagunya Letto, "itu lagi, cinta lagi..."
Bukan tulisan serius, hanya curhat biasa saja.
Tulisan ini di muat pada malam sebelum ujian CPNS Depag esok hari di almamater saya yang kedua. Semoga bisa lulus.

Rhapsody Biru

Hening dan malam
Akankah air menetes jatuh
Dari ujung kelopak
Yg basah oleh hujan

Bertemu angin yg tega
Mengibar tudung yg lesu
Menunduk bersama wajah
Yg terpejam lesu

Bahwa kasih tak selamanya
Canda dan tawa
Tapi basah dan perih
Seperti bayi yg menangis, bahagia

Namun malam hanyalah hitam
Merangkum dalam kakinya
Bayang-bayang malu
Yang berdesir oleh lampu

Bukankah tangisan itu datang
Saat mendung menggelayut
Hitam dalam hati yang terdesak
Keluar, keluar, keluar!

Maka biarkanlah anak sungai itu
Berlarian di bawah gerimis
Hujan yang menyapu wajah
Basah, sedih dan sendiri

Mungkin ku tak mengerti
Alpa, abai dan tanpa hati
Mungkin hadirku hanya hinggapan
Kecil di nanti

Semisal air yang berlalu
Pergi tercerap selokan mampat
Dan perlahan menggenang, kemudian
Hilang kala hujan lunglai

Mungkin pula akulah sang bayi
Yang tak pernah tahu arti tangis dan tawa
Karena hanya ada gejolak yang membuatku begitu
Lalu hujan turun dan air matamu jatuh

Seumpama rhapsody yang menggelora
Merajamku dalam balutan bahagia
Menarik kalbuku ke dalam ekstase hampa
Dan menarik mata hatiku, menangis.

Bukan ungu yang membunuh
Atau putih yang membeku
Tapi biru yang menderu
Haru memburu

Bukan aku
Bukan kamu
Atau mereka
Tapi Dia, kau dan aku tahu.