Reli ke Selatan Jawa Tengah (2)


Hampir pukul 08.00, kami sudah bersiap melanjutkan perjalanan ke kawasan wisata sebelah utara Purwokerto. Hawa pagi yang segar dan suasana minggu yang santai rupanya membuat perut menjadi lapar. Kami meninggalkan penginapan lima menit kemudian, menuju stadion olah raga Satria. Bukan untuk jalanjalan santai atau berjogging ria, tapi mencicipi jajanan khas yang ada di sana, lontong dengan kuah opornya.

Ke Baturraden


Tigapuluh menit menikmati santapan pagi, diselingi obrolan ringan dan foto di sana sini, baru perjalanan dimulai kembali. Kami menuju Baturraden, sebuah resor dan lokawisata empatbelas kilometer sebelah utara Purwokerto. Dari pusat kota, tinggal mengikuti sebuah jalan lurus yang menanjak. Papan petunjuk jalan cukup informatif memberitakan letak kawasan wisata tersebut. Beraspal lumayan bagus, suasananya mengingatkan saya dengan jalur utama menuju Magelang atau jalanan menanjak dari Malang ke Batu. Dan memang, posisi Baturraden dalam pemikiran orang Purwokerto mirip seperti Batu bagi masyarakat Malang.

Sebuah gapura khas tempat wisata menyambut kami. Beberapa orang petugas datang memberi karcis masuk, tujuhribu limaratus rupiah perorang. Lumayan terjangkau bila dibandingkan dengan karcis masuk Dufan yang lebih dari tujuhpuluhribu rupiah itu. Tapi apa yang mau diperbandingkan antara Dufan dan Baturraden? Pandangan saya terarah kepada brosur wisata berisi tempattempat menarik dari kawasan ini. Pancuran tujuh, pancuran tiga, Curug ceheng dan sejumlah sarana wisata lainnya. Tapi yang begitu tertanam dalam pikiran saya adalah istilah lokawisata. Kenapa pengelola kawasan ini menamakannya demikian? Loka, dunia. Wisata, tahu sendiri kan. Lokawisata, dunia wisata? Iseng saya buka KBBI online, ternyata tidak ada istilah lokawisata. Terpaksa, saya harus puas dengan istilah bentukan saya sendiri. Lokawisata, sebuah tempat atau dunia untuk berwisata dan bertamasya. Kata dunia, dengan demikian menandakan sebuah tempat yang unik, sebuah sanctuary yang membuat kita memasuki dunia baru yang berbeda dari dunia keseharian.

Dan dua kilometer dari gerbang utama, kendaraan yang kami tumpangi terengahengah mendaki bukit yang curam. Anehnya, tidak seperti kawasan pegunungan yang membuat jalan berkelok menyisir tepi bukit, jalan di Baturraden ini dibuat lurus. Hasilnya, empatpuluhlima derajat kemiringan, membuat punggung melekat erat di bangku kendaraan. Perasaan ini, dan usaha yang lumayan berat menembus ketinggian, serasa seorang pembantu yang berjalan tergopohgopoh ke rumah majikannya. Apa mungkin karena itu ia dinamakan Baturraden? Batur, pembantu. Dan Raden, sebuah gelar kebangsawanan. Baturraden, babunya bangsawan.

Mungkin sedikit berbeda dari versi asli cerita ini. Dalam situs resminya Baturraden, dijelaskan asal muasal daerah Baturraden yang berawal dari sebuah kisah cinta terlarang antara pembantu dan tuannya. Seorang gamel atau penjaga kuda (kok persis ya seperti kata gamel dalam bahasa Ibrani atau jamal dalam bahasa Arab yang berarti unta) jatuh cinta kepada putri seorang adipati. Karena perbedaan kelas dan kekayaan, tentu sang ayah tidak setuju, dan memutuskun untuk mengusir mereka berdua. Keduanya lalu pergi ke tempat yang kini dinamakan sebagai Baturraden. Tidak ada yang mistik dalam cerita tersebut dan tidak ada yang wah untuk diceritakan. Karenanya ada versi kedua yang agak panjang dan dipenuhi bumbu cerita yang menakjubkan yang juga melibatkan seorang tokoh penyebar agama Islam di tanah air, Syekh Maulana Maghribi. Berbeda dari kisah pertama, kisah kedua ini lebih menekankan sebuah kepatuhan murid kepada gurunya. Haji Datuk Rusuludi, si murid itu rupanya begitu taat membantu sang guru yang tengah mengobati penyakit kulitnya di pancuran tujuh. Dari sanalah kemudian nama Baturraden terbentuk, sebagai gambaran ketaatan sang pembantu.

Dua Dunia







Bila kita bandingkan kedua cerita tersebut, sepertinya telah terjadi penafsiran kembali sejarah Baturraden. Dalam versi pertama, citra yang ditimbulkan olehnya adalah negatif. Baturraden di artikan sebagai tempat pelarian pasangan yang tidak mendapat restu orang tua. Dan sepertinya, institusi pernikahan tidak hadir di sini. Sebaliknya, dalam versi kedua penekanan yang dalam terhadap sosok syekh Maulana Maghribi, menandakan sebuah fase etis, dimana agama menjadi kesadaran baru dalam kehidupan masyarakat Purwokerto. Pembantu tidak lagi digambarkan sebagai sosok sensual yang memperdaya, tapi lebih kepada teladan moral yang taat kepada atasannya.

Banyak sekali implikasi dalam hipotesis ini. Baik yang menggambarkan watak asli orang setempat, hubungan antara penguasa dan rakyatnya, serta fungsi agama dalam struktur kemasyarakatan orangorang Purwokerto. Terlepas dari spekulasi pemikiran saya yang lari kemanamana, kunjungan ke lokawisata Baturraden benarbenar membuat saya masuk kedalam sebuah dunia baru yang berbeda dari keseharian. For good or bad, lokawisata ini memang menyajikan sebuah pemandangan yang indah.

***

 

Dari tempat parkir, kami berjalan menuju gerbang masuk utama. Hawa sejuk gunung Selamet menyambut kami semua. Suasana begitu ramai. Para wisatawan yang kebanyakan wisatawan dalam negeri memenuhi tempattempat rekreasi. Ayunan, tempat bermain anakanak, kereta mini, dan berbagai wahana permainan yang biasa ditemukan di pasar malam tampak hadir di sini. Suasananya mengingatkan saya dengan tempat wisata Bantimurung di Sulawesi Selatan. Meski, dari segi keindahan, Baturraden jauh lebih unggul. Riam air yang mengalir jernih di antara batu vulkanik sebesar rumah, kontur tanah yang berundakundak serta aroma pegunungan yang menyegarkan, adalah sajian pertama saat kita memasuki gerbang tersebut.

Sejumlah keluarga tampak menggelar tikar, bercengkrama riuh rendah, persis seperti yang saya lihat semalam di alunalun kota Purwokerto yang padat oleh pengunjung. Sejumlah pedagang asongan juga hadir di tengahtengah mereka. Benarbenar kombinasi yang aneh antara suasana untuk hiatus dengan keramaian ruang keluarga. Atau bisa dibilang, sebuah taman rekreasi keluarga di sebuah ruang liar yang telah ditaklukkan.

Karena ingin menikmati kesendirian, saya berpisah dari rombongan. Mengambil gambar sejumlah scene menarik, bereksperimen dengan kamera prosumer, atau mengambil jalur tracking yang tak kalah menantang. Anehnya, setiap kali saya mengambil gambar dengan mode landscape, tidak satupun gambar menarik yang sanggup saya ambil. Gabungan yang janggal antara warnawarni manusia dan keindahan alam yang permai memberi pilihan yang sulit dalam menentukan corak fotografi yang ingin saya hadirkan. Apalagi, satusatunya tempat yang paling pas untuk memotret lanskap juga terganggu oleh keramaian, jadilah saya mengambil gambar dalam mode portrait. Sesuatu yang aneh dilakukan untuk mengabadikan wilayah pegunungan. Dan memang, kalau diperhatikan lebih seksama, kawasan ini telah mencapai titik tertinggi untuk direkayasa dengan bangunanbangunan artifisial buatan manusia. Benarbenar tidak perawan.

Karena jengah dengan segala keramaian, saya pun menuju ke tempat yang jauh lebih tinggi. Di atas sana ada pancuran tiga dan tujuh. Dua kolam pemandian air hangat yang memiliki kandungan belerang yang tinggi. Jalan ke sana lumayan curam, meski jalur pendakian yang ada tertata dengan baik. Anak tangganya memang licin, tapi rail lis pagar yang kokoh, membuat perjalanan mendaki menjadi aman. Baru beberapa meter, nafas saya sudah tersengalsengal. Topografi di atas yang dipenuhi tebing dan rerimbunan pohon yang teduh membuat suasana begitu hening dan senyap. Kontras dengan hirukpikuk di bawah sana, Baturraden ternyata menyajikan dua dunia yang benarbenar berbeda.

Menunggu

Sesampai di Pancuran 3, gemericik air merebak. Ini adalah tempat pemandian air hangat yang pertama. Bilik bilik pemandian berkerak kuning, mungkin karena kandungan sulfur atau belerang yang tinggi. Beberapa penyedia layanan pijat terlihat dudukduduk di sana. Sebagian pengunjung tampak mandi dibawah pancuran air gunung yang menyegarkan.

Tibatiba handphone saya berdering. Rupanya Yusra menelpon mengabarkan bahwa mereka kini tengah mendaki ke arah pancuran tujuh. Katanya tidak terlalu jauh dari pancuran tiga. Dengan segera saya pun mendaki menyusul mereka. Kali ini, benarbenar tidak ada manusia sama sekali. Jalan setapak memang terlihat jelas, tapi suasana senyap. Hanya ada kicauan burung dan aroma hutan yang menenangkan. Maksud hati ingin segera ke pancuran tersebut, tapi karena saya tidak mengenal medan yang ternyata lumayan terjal dan kondisi badan yang jauh dari bugar karena tengah menempuh perjalanan panjang. Maka kuputuskan untuk turun dan menunggu mereka di bawah.

Lagi, sepertinya kejadian waktu di Bromo terluang kembali, saya salah kostum. Untuk wisata alam seperti ini, seharusnya mengenakan celana kargo atau celana khusus pendakian serta sepatu hiking. Nyatanya saya malah mengenakan jeans dan boot. benarbenar paduan yang salah, karena kalau mau lebih nyaman malah pakai celana pendek dan sendal khusus pendakian. Apalagi corak wisata yang berhubungan dengan air, semestinya membawa pakaian salinan serta handuk untuk mengeringkan badan. Jadilah hanya berjalanjalan saja di wilayah bawah mengabadikan beberapa gambar yang menarik.


 


Ada yang menarik di pancuran 3. Ternyata di sana ada sebuah petilasan, yang kemungkinan digunakan orangorang setempat untuk bertapa atau mengharap berkah. Saya tidak masuk ke petilasan tersebut, hanya mengambil gambar sebentar dan kemudian turun ke pintu masuk untuk bersihbersih dan shalat Zuhur. Sambil menunggu di pelataran masjid, saya mencoba sedikit panganan yang dijajakan pedagang kakilima. Sepiring pecel plus tempe mendoan dan teh hangat. Benarbenar pengusir penat yang pas. Apalagi, rintik hujan sudah membasahi kawasan wisata. Tempat yang bersih dan kering benarbenar sebuah kemewahan yang nikmat.

Mengejar Malam

Hampir dua jam lebih saya menunggu. Sekitar pukul tiga sore, kawankawan baru kembali. Muka mereka lusuh. Maklum, lelah mendaki sejauh tiga kilometer lebih. Yang mengesalkan, sebenarnya jalur ke arah pancuran tujuh bisa ditempuh dengan kendaraan. Tapi karena rasa penasaran dan percaya diri yang tinggi malah ditempuh dengan jalan kaki. Sebenarnya yang saya khawatirkan adalah kondisi Yusra yang menjadi supir kami. Wah, kalau dia kecapekan siapa juga yang bakal menyetir mobil. Tidak mungkin kan bermalam kembali di sini. Maka setelah beristirahat sebentar, kami pun segera bergegas mengejar malam menuju Jakarta.

Rutenya masih sama. Dari Purwokerto menuju Wangon, tanpa melewati Cilacap. Kemudian ke Lumbir, melalui daerah perbukitan yang berkelokkelok di Karangpucung, melewati Tasikmalaya ke arah Ciaro dan Rancaekek serta berhenti sebentar di Bandung sekedar mengisi perut yang kelaparan, kemudian menekan pedal gas hingga pol di Tol Cipularang dan Jakarta - Cikampek. Pukul 01.05 dinihari baru sampai di Jakarta.

Benarbenar perjalanan yang melelahkan sekaligus menyegarkan. Setidaknya, Baturraden telah memberi pemandangan yang berbeda dan mengasyikkan.

45 Menit di Pengadilan

Akhir bulan kemarin, saya benarbenar apes. Kena tilang oleh polisi yang sedang bergentayangan. Bukan masalah berat sih, tapi berhubung reputasi tidak pernah kena tilang selama lima tahun dan kebetulan izin mengemudi saya bakal habis masa berlakunya Juni tahun ini, peristiwa tilang kemarin benarbenar bikin saya senewen. Bukan karena itu pelanggaran kecil yang menurut saya hanya kesalahpahaman biasa, tapi karena saat proses penilangan itu sendiri yang membuat saya tidak puas.

Awalnya, saya berencana pergi ke RS Harapan Kita, mengantar berkas penting untuk bos saya yang telah menunggu di sana. Dari bilangan Kuningan tidak ada masalah meski harus terseret arus hingga ke arah blok M, tapi akhirnya bisa kembali lagi ke Gatot Soebroto dengan putarputar melalui jalan kecil Kebayoran Baru (Pliis deh, dua kilometer lebih tidak ada putaran. Mana di Mampang Perempatan tidak bisa langsung belok ke kanan lagi). Dari Gatsoe ke arah Semanggi, lurus ke Senayan menyeberangi Slipi dan sampailah di junction Tomang.

Dahulu saya sudah pernah berkunjung ke rumah sakit tersebut. Letaknya di sebelah kanan jalan, yang berarti harus mencari putaran untuk bisa ke sana. Tapi karena lupa letak rumah sakit tadi, jadilah saya harus memperhatikan gedunggedung di seberang jalan S. Parman. Rupanya tanpa saya sadari, saya telah sampai di persimpangan Tomang yang, ampun deh, ada 6 pilihan jalur! Paling kanan sepertinya fly over, paling kiri fly over juga. Berarti tinggal empat pilihan di depan mata. Tapi yang mana? Papan petunjuk arah sudah terlewat dan sekarang saya harus menebak. Apakah Harkit sudah dilewati apa belum. Kalau belum berarti saya harus ambil jalur ketiga yang lurus itu. Tapi bagaimana bila sudah terlewati. Kalau pun saya lurus, di depan pasti ada putaran. Sedang, bila saya berputar balik dan terbukti belum melewati Harkit, berarti saya harus putar arah di Slipi yang berarti satu kilometer lebih dari tempat saya berada. Lagi juga, untuk berputar balik saya harus menerobos kendaraan yang berjalan kencang di lajur paling kanan. Bagi saya hal tersebut sangat riskan. Maklum, posisi saya berada di bahu jalan sebelah kiri.

Kebetulan, saya melihat kendaraan patroli polisi tengah diparkir di bahu jalan jalur 3. Dengan niat baik saya hampiri kedua polisi yang berjaga di sana dan menanyakan letak RS. Harapan kita. Seorang menunjukkan dan menyuruh saya untuk berputar di jalur 5. Setelah berterimakasih, dengan sembrono saya malah melawan arus menuju lajur berputar yang terlewat beberapa meter di belakang. Maklum, biker. Rupanya, tanpa saya sadari, sepasang mata tengah mengintai gerakgerik saya tadi. Jadilah beberapa meter selepas putaran saya diberhentikan dengan paksa oleh polisi yang mengintai tadi. Dan mulailah prosedur penilangan di mulai. pemeriksaan suratsurat berkendara, kondisi motor dan baru ke delik tuntutan.

"kenapa kamu masuk jalan tol?" Kata si polisi dengan nada menuduh, yang langsung saja saya tolak.
"Saya tidak masuk jalan tol. Saya hanya bertanya ke polisi yang berada di sana kemana arah RS. Harapan Kita."
"Tapi saya lihat kamu masuk jalan tol." masih tetap menuduh.
"Jalan tol yang mana maksud bapak, saya tidak merasa masuk ke jalan tol kok".
"lho, saya jelasjelas melihat anda ke jalan tol".
"Itu pendapat versi bapak. Versi saya berbeda. Saya hanya bertanya ke polisi yang kebetulan di lajur nomor 3 itu."
Sungguh, saya tidak tahu kalau lajur nomor tiga itu adalah lajur tol. Dan setelah saya lewat sekali lagi saat ke pengadilan negeri, ternyata ada satu lajur yang terpisah dari nomer 3, katakan itu nomer 2, yang memang menuju ke jalan tol. Ruparupanya si polisi melihat saya seolaholah dari lajur nomer 2 itu. Dan inilah yang menurut saya titik salah pahamnya.
"Oke sekarang kita pake versi siapa?" Katanya memancing.
"Kita bandingkan saja".
Mendengar ucapan saya itu rupanya si polisi ini naik pitam. Ia kemudian malah menceramahi saya segala.
"Sebenarnya saya ingin menolong kamu. Kalau kamu mengakui kesalahan kamu tadi, hukumannya tidak akan berat. Tapi karena kamu tetap bersikeras ya sudah saya tulis surat tilang saja. Denda tilang masuk tol itu mahal lho. 100 ribu rupiah. Sekarang gimana, mau saya tolong apa tidak?"
"Menolong itu apa?" Aku malah memancing lagi
"berapa uang di dompetmu?"
Saya ambil dompet dan buka lebarlebar di depan hidungnya.
"jadi berapa? 20?" Kupikir dia bakal marah dan benar saja. Ia melihat SIM saya dan kembali mengarahkan pandangannya ke saya.
"saya ini sudah jadi polisi saat kamu belum lahir. Nih, lihat tanggal lahir saya di KTP" Ia buka dompetnya menunjukkan kartu tersebut dengan nada intimidasi. Entah kenapa ia melakukan itu, apa ia terintimidasi juga dengan perawakan saya.
"Kalau bicara tidak usah berbelatbelit. Jadi gimana?" Katanya kembali memojokkan
Karena sudah tahu niatan buruk polisi ini, giliran saya yang naik pitam. Benarbenar busuk pikirku, dan yah begitulah kalau saya marah, bahkan menatapnya saja sudah tidak sudi lagi.
"Terserah!" kataku. Entah hendak menuduh saya masuk tol kah, menyusuri tol Jagorawi hingga Cikampek kah, atau menyebabkan kemacetan panjang, saya sudah benarbenar tidak peduli lagi dengan tuntutannya itu.
Dan polisi ini yang tidak saya ingat namanya, melihatnya saja sudah tidak sudi apalagi mengingat namanya muak sekali, mulai menulis surat tilang sambil bla bla bla berbicara yang tidak ada satu pun masuk dalam ingatan saya.
"17 April, di Pengadilan Negeri Jakarta Barat"
Setelah peristiwa tadi, benarbenar dongkol rasanya. Saya jadi membenci hampir setiap polisi lalu lintas yang bertugas. Busuk sekali mereka mengharapkan uang sogok, kerjaannya cuma menjebak orang saja demi keuntungan dirinya sendiri. Rakus!

Yang terus membuat saya dongkol adalah sebuah pertanyaan mengusik. Kenapa saya bisa kalah adu argumentasi dengan polisi? Kupikirpikir sekali lagi, mungkin akibat terbawa emosi, akhirnya bicara saya hampir tidak dapat diterima oleh mereka. Atau mungkin memang niatan mereka yang berbeda. Tapi kemungkinan kedua ini jelas pengaruh eksternal yang tidak mungkin saya rubah dan karenanya saya cenderung percaya pada kemungkinan pertama.

Kalau begitu saat sidang nanti saya akan buat pembelaan dengan argumentasi yang canggih, alibialibi yang tak terbantahkan, bahkan kalaupun harus dikonfrontasi dengan polisi yang menilang saya, akan saya buat dia diam seribu bahasa. Jika ia menuntut saya dengan satu pasal, giliran saya menuntutnya kembali dengan tiga pasal tambahan, termasuk mencoreng citra kepolisian, melakukan pungli dan intimidasi serta merongrong supremasi sipil yang berbasis hukum. Hei, itukan sebuah tuntutan yang serius. Masa bodoh pikirku.

Pagi ini, lewat duapuluh hari, setelah menyiapkan uang sebesar 300 ribu untuk jagajaga, saya berangkat ke Pengadilan Negeri Jakarta Barat di Slipi. Jalanan macet dan kupikir tidak akan sampai tepat waktu dari jadwal sidang yang tertulis pukul 08.00. Tapi untuk apa buruburu kupikir. Yang dibutuhkan saat ini hanyalah ketenangan berpikir untuk meramu argumentasi dengan logis di hadapan hakim, melatih vokal agar keluar dengan bulat dan berbobot serta sikap yang pas. Akhirnya setelah dua jam berkendara, tibalah di gedung pengadilan sekitar kam 09.00.

Gedung pengadilan ini ramai. Ratusan orang berjubel memenuhi tiga ruangan sidang. Setelah menyerahkan kertas tilang, saya dipersilahkan masuk ke ruang nomer 3. Di sana ruangan juga telah penuh oleh para pengemudi seperti saya. Samarsamar terdengar suara pembelaan para terdakwa yang sesekali diiringi derai tawa para pengunjung. Berdesakdesakkan kulihat majelis itu. Seorang hakim pria bertubuh besar, di dampingi tiga orang pembantu di kanan kirinya. Mukanya tidak serius, bicaranya juga bersahabat dan dengan lancar mengalirkan joke lucu kepada para terdakwa. Tiga menit di ruang sidang, semangat balas dendam saya mencair. Saya malah menikmati proses pengadilan yang penuh guyon itu.

Benarbenar tidak ada pelanggaran serius. Kebanyakan karena melanggar rambu lalu lintas yang bagi sebagian peserta sidang akibat perubahan lampu hijau ke merah yang terlalu cepat. Si hakim dengan cerdas menimpali pembicaraan peserta dengan mengatakan itu sebagai mencuri buntut dan lagi apes saja ketemu polisi. Dan tertawalah seisi ruangan. Pelajar yang sudah tidak pake helm melanggar rambu lalu lintas dan berjalan melawan arah; tukang ojek yang mencuri buntut; perantau yang salah masuk ke jalan verbodden; supir angkot yang ngetem lama; Metromini yang tiga supirnya tidak punya SIM sama sekali hingga supir truk yang salah jalan. Benarbenar pengadilan kampung, ramai dan hidup.

Sekarang giliran saya.
"Himawan Pridityo. Susah sekali namamu dieja"

"Iya pak"
"Hmmm jauhjauh dari Bekasi cuma untuk ditilang. Kenapa?"
"Di perempatan sana karena tidak tahu arah RS. Harapan Kita saya bertanya kepada polisi sekitar perempatan.  Kata mereka saya harus putar arah dan kebetulan bertemu dengan polisi yang langsung menilang saya".
Di sini argumentasi saya melunak dan mulai menyesuaikan dengan keadaan yang ada.
"yah, itu namanya lagi kurang beruntung saja. 35 ribu!"
Tigapuluhlimaribu rupiah. Wajarlah menurutku, dan langsung aku setujui sambil tersenyum.
"Namanya juga lagi apes pak. :D"
Hampir 35 menit menunggu dan tidak sampai 2 menit sidang, langsung menuju kasir di lantai satu membayar denda tilang dan kembali pulang. Benarbenar tidak bisa dipercaya dan mirip sekali dengan sidangsidang mahkamah bahasa di Gontor dulu, bahkan lebih santai.

Dalam perjalanan kutersenyum. Dendam kesumatku tadi, ah kenapa juga aku begitu sentimentil. Hukum pada akhirnya sama seperti permainan yang kita mainkan setiap hari. Catur, sepak bola, monopoli. It's just a game, so why so serious. Namun, terlepas dari serius atau tidak perbuatan kita, ternyata ada satu hal yang saya pelajari sampai siang hari ini. Kita harus melek. Bukan saja melek abjad, teknologi, tapi juga harus melek polisi, hukum, pengadilan dan kenyataan bahwa bagaimanapun begitulah bangsa kita. Tidak bisa dipungkiri dan dinafikkan. Mungkin pula sudah saatnya harus ada kitab hukum perdata, KUHP, peraturan lalulintas serta undangundang pajak di rak buku saya, agar tidak ada lagi ketidaktahuan tadi. Bayangkan hanya 35 ribu saja! Coba kalau termakan hasutan polisi tadi. Serta, undangundang perkawinan, kalau saya sudah nikah nanti. :D









Radix

Saya masih ingat ciri pemikiran filosofis waktu kuliah dulu. Berurutan, logis, historis, konseptual dan radix. Radix atau radikal, memiliki makna yang sama dengan akar. Sebuah pemikiran filosofis haruslah memiliki dasar yang kuat dan mampu menembus permasalahan dasar yang dihadapi tanpa terkendala sekalipun dengan rimba kenyataan yang menyesatkan. Jadi alihalih disibukkan oleh halhal remeh, yang harus dilakukan dalam berpikir secara filosofis adalah menelaah kembali konsep dasar segala suatu, mempertanyakan yang lazim dan mengkritisi yang established, untuk kemudian membangun kembali dari puingpuing dekonstruksi itu sebuah bangunan pemikiran yang jauh lebih solid dan utuh.

Kalau dicermati, cara berpikir seperti ini menyerupai pula pola berpikir kaum fundamentalis dan ekstrimis yang karena exposure media sering kita identifikasi sebagai kaum radikal. Mungkin saja hal tersebut ada benarnya, toh awal mula gerakan radikal dalam sebuah kelompok keagamaan atau politik juga bermula dari beberapa pertanyaan filosofis. Pertanyaanpertanyaan tentang ketimpangan sosial, diskriminasi hingga idealideal masa lalu yang membanggakan selalu ditemukan dalam diskusidiskusi gerakan fundamentalis. Lalu apa yang membedakan sebuah radix filsofis dari radix fundamentalis?

Kepentingan. Mungkin itulah yang menjadi dasar pembeda dua pemikiran radix tersebut. Selalu ada kepentingan ideologis dalam pola pikir fundamentalis. Ideologi bagi sebuah gerakan adalah nyawa dan ruh yang wajib ada. Dalam radix filosofis, kepentingan yang hadir adalah sebuah kepentingan untuk mencari tahu yang benar. Tapi benar versi siapa? justru itulah yang dicari. Kita mencari kebenaran dan mempertanyakan kembali apa kebenaran itu. Mencincang idiomidiomnya, mengurai semantik dan semiotikanya, mencocokkan pada fakta historis dan membuka selubung ideologis yang menyelimuti. Filsafat selalu bergulat dengan ketelanjangan dan kesejatian.

Ada joke lucu tentang apa yang dilakukan mahasiswa filsafat seusai kuliah. Kalau lulusan fakultas lain akan menjawab sesuai pelajaran yang telah mereka kuasai, macam mahasiswa teknik sipil yang akan mengaplikasikan ilmunya pada jembatan, gedunggdeung dan perumahan, lantas mahasiswa filsafat hanya akan menjawab aku tidak tahu. Aku tidak tahu yang diambil dari katakata Socrates adalah sebuah pengakuan terindah betapa isuisu filosofis tidak pernah terpecahkan meski sudah lebih dari 2500 tahun berselang. Kesejatian itu, ketelanjangan itu, tidak pernah beranjak dari catatan kaki Plato dalam karyakarya kunonya. Dan diakui atau tidak, disinilah inovasi renaissance berakhir di jurang kekosongan.

Sekarang ada pertanyaan, lalu apa gunanya filsafat? Bukankah itu hanya omong kosong belaka, sejenis kerancuan grammatik dan semantik? Lagi juga filsafat tidak pernah bisa memberi makan orang lapar. well, that's right! Ia memang bukan utilitas berguna macam analisis program di industri IT, ia hanyalah sebuah api dalam sekam, yang menyalanyala dan membakar. Ia seperti inti bumi yang panas dan cair yang memberikan kita gravitasi dan terus menerus memperbaharui keseimbangan ekosistem bumi. Ia hanyalah awal, inti dari rasionalitas masyarakat modern yang semakin lama semakin tertutup oleh lapisan magma yang membeku dan berevolusi menjadi tanah pengetahuan yang gembur dan siap untuk ditanami. Tapi dia ada teman, jauh dibawah kita. Dasar segala suatu. Sebuah radix.

***


Kupikir sudah berapa lama aku hidup dan hampir tidak pernah mengerjakan sesuatu yang radix sama sekali. Terakhir kali, kalau tidak salah, saat mulai masuk ke Gontor. Terusterang, itu adalah saatsaat dimana semangat saya berada dalam titik tertinggi. Hasilnya juga memuaskan, bisa lompat dua kelas langsung, masuk kedalam fast lane dan agak established meski harus dibayar dengan berat badan yang anjlok drastis. Setelah itu, semuanya berjalan sebagaimana yang saya prediksi. Datar dan tanpa guncangan yang berarti. Baru sekarang tiga tahun terakhir, saya memasuki dilema. Saat semua beban tertumpu jadi satu, dan berbagai kepentingan berseliweran di kepala saya, kembali muncul pertanyaanpertanyaan radix itu. Mau kemana? apa yang kamu tuju? Siapa yang harus kau puaskan? Apa yang harus aku lakukan?

Kupikir ini nature. Tapi setelah kukaji lagi, semakin lama menundanunda, maka semakin tidak nature-lah tindakan yang kulakukan. Mungkin karena terlalu nyaman, akhirnya keberanianku hilang sudah, tumpul oleh kepentingan yang menggoda. Ah, mungkin aku memerlukan sebuah perubahan radikal. Sebuah crack yang entah kemana akan membawaku pergi. Sebuah ranah kosong yang hanya aku seorang yang berbicara di dalamnya. Sebuah ethos!

I just wanna fly and let God be my guidance.

An Unfairly Tales

When I was child, my futures and what should I do there always come in to my consideration. I thought, it was a regular school attending, six day a week, from seven to twelve. And when I've been completing this regular task of elementary school, I'd come in to junior and senior high school in which spent six years class attending likes SD. Afterward, I'd go to university, taking subject about five years regular class. It's differed from elementary and high school experiences, but the form was same. You came in to the class, learned something there and back to home. This was what we said as a platform to prepare for the future, make your live wonderful and prosperous.

My mind then chasing, what should I do after finishing my college? I'd go work surely. I'd go from eight to five daily, five day a week, having wages so I can buy a house, transportation, watching TV, playing video games or going to vacation. Meanwhile, as I grew older, I'd getting married with someone. A beautiful lady, a gorgeous girl, making wonderful live day by day, and I'd baby. Raising a brand new family, kids, neighborhood, a new cycle begins, as we're getting older, live in an old manor house. Kids then has their own life likes we were. Separate to make their own family, and finally live again like before. Alone, like we felt lonely. Elderly was a time for reflection before we pass away.

Just like that? Was everything runs automatically in sequences? Likes if you're finishing SD, you'd go to junior high school, or when you works you'd getting married? Wow, the reality was different. I never go to junior high school, I was going to Pondok. The college I've learned in never to attend daily, and for three years work, I still can't have a house! Even I work harder, I never have my dream house with my current jobs. Life wasn't like a fairy tale. It almost like an unfairly tales, with unresolved happy endings. Or, does it has no ends at all?

Sometimes I consider this megalomaniac kind of life. I'd be a great ruler, a Cesar. Having a vast land of kingdoms, stretching from Asia across Europe, conquest many nations, and my name written in golden ink over historians book shelves. Ok, it doesn't make sense. But, consider the great tycoon I wannabe. Having tons of factory, worker, living up much poor family, donated a sum large of money to humanitarians programs, life in modest and serenity. Huh, looks like a prince Buddha, and I myself was'nt a richman nor the happy one. And a woman in my eyes never come into a complete form of one. It just shadow in dark night or film noir. Only repetition of a face tryin' to touch and wonderful to hold. The story runs, but I do still never knew where will I go.

The life purposes I've built at beginning of year, I do still have no faith in it. If so, how do I run it? Empty and hollow. Is this an adult crisis? What a wonderful if I knew it since I was kid, years before I grew up and facing it blatantly. Is thera a God? If so, why doesn't He help me? Or, maybe He only a fairy tale too, told to child? But, you know, there was'nt a fairy tales, it only an unfairly tales, never to told. Unless you're an adult, and knew what should you do. And I don't.

Fai'l wa Mafu'l

Siapapun yang pernah belajar bahasa Arab, akan mengerti judul posting ini. Fai'l adalah subjek dan mafu'l adalah objek. Relasi keduanya adalah relasi antara pelaku dan korban. Ia adalah relasi ontologis karena mengisyaratkan keberadaan dirinya melalui serangkaian tindakan yang saling terkait. si Fai'l ada karena dialah pelaku sebuah tindakan, sebaliknya mafu'l ada karena ia merupakan korban. Meski demikian, suatu ketika si Mafu'l ini juga bisa bertindak sebagai Fai'l yang kemudian melahirkan korban baru yang akan menggantikan dirinya. kita menamakan hal tersebut sebagai mata rantai keburukan. Contoh paling gamblang bangsa Israel. Dahulu mereka adalah korban kekerasan kaum Nazi, sekarang mereka adalah pelaku kekerasan terhadap bangsa Palestina. Bisa dikatakan, semua hal buruk itu menular. Entah melalui memori pribadi maupun memori kolektif. Pengalaman masa kecil yang traumatis, relationship yang buruk, sering menimbulkan pemikiran bawah sadar yang berpotensi membuat diri kita membalas dendam.

Tapi bagaimana kita mendata pemikiran bawah sadar kita itu? Mungkin beberapa hukum milik Dorothy Law Nolte bisa menjadi checklist tingkat kesadaran kita.

If a child lives with criticism, he learns to condemn.
If a child lives with hostility, he learns to fight.
If a child lives with fear, he learns to be apprehensive.
If a child lives with pity, he learns to feel sorry for himself.
If a child lives with ridicule, he learns to shy.
If a child lives with jealously, he learns what envy is.
If a child lives with shame, he learns to fight.
If a child lives with encouragement, he learns to be confident.
If a child lives with tolerance, he learns to be patient.
If a child lives with praise, he learns to appreciate.
If a child lives with acceptance, he learns to love.
If a child lives with approval, he learns to like himself.
If a child lives with recognition, he learns that it is good to have a goal.
If a child lives with sharing, he learns about generosity.
If a child lives with honesty and fairness, he learns what truth and justice are.
If a child lives with security, he learns to have faith in himself and those around him.
If a child lives with friendliness, he learns that the world is a nice place in which to live.
If you lives with serenity, your child will live with peace of mind.
With what is your child living?

(Dorothy Law Nolte)
Silahkan ganti kata child dengan diri kita sendiri. Kirakira kita korban dari apa ya?


An Untold Story

Tetralogy in beginning
like sculptures on wall
deepened harshly, polished firmly
and it flows underneaths mind like codes

Just like every plot
the four has a start
from the coolest insight onto
the heat of passion rejuvenates

And in beginning there always heart
trembling whispering but annoying
like skin in changeable movement
to let or not let be

Like my heart before you
...
..
.

The second should be sparkling
but
dry as bone
lone likes grave

seems I've go so far away
in the middle of desert
waiting for illusion
of your present

on this desk
where an old beggar
fled away to his fantasy
like Alice in wonderland

since you've been there
when I saw you at the time
when we met
staring,
deeply...

And the rule of attraction
dancing on the sky
sang the melody of love
but they're nothing

only little dots
in my eyes
and reluctant to be seen
shy and gone

So I guess this was fata morgana


***


Tetralogy on last chapters
was a synthesis
blends, amalgams and fuses
likes boiled crab ala carte

there always coincidence
amidst of chatterer
like bla bla bla
and you

likes you
all at once
when you cited from the tongue
of my dearest friends

that once upon time
a misery
overwhelming your state of
being

let my image
laid in hole of your heart
and face haunted
like little sweet dreams

Maybe it was untold story
of yours
but they never knew the untold story
of mine

and you too...

was there a physical presence of love?
like a feeling sublimated and transformed
into wax statue of Madame Tussand
FYI, I'll make it for you

Finally, there was no
an untold story about us
it only a late story to be told
or a never late story never told